
ARNETTA memasuki ruangan kerja Banny tanpa mengentuk pintu terlebih dahulu.
" Mas!aku rasa mas sudah tahu jika pak Angkasa tidak ingin membatalkan kontrak kerja ini hanya melalui telepon saja.Saran aku mas lebih baik temui beliau dan bicarakan permasalahan ini secara baik-baik mas. " Ucap gadis itu nyelonong begitu saja,sehingga ia tidak mengetahui jika pada saat bersamaan Banny sedang berbicara seseuatu hal penting dengan Zeanu di ruangan kerjanya tersebut.
Sontak saja itu membuat perasaan pria tampan berwajah dingin itu tercekat dengan kedatangan Arnetta yang secara tiba-tiba ke ruangannya tersebut.
brakk......
Banny menggebrak meja di hadapannya cukup keras,Arnetta menatap Banny dengan tatapan shok.
" Sudah berulang kali aku katakan,mengetuk pintu terlebih dahulu jika kamu hendak masuk ke ruanganku !!" Ucap Banny dingin.
" Ma maaf mas." Ucap gadis cantik itu pelan.Menyadari akan kesalahan dirinya tersebut.
Zeanu menoleh ke arah gadis cantik itu yang terlihat ketakutan akan sikapnya Banny.
" Kenapa kamu selalu masuk dengan tanpa permisi,kamu pikir karena kamu sekertarsiku kamu seenaknya saja masuk keruanganku tanpa permisi?" Tanya Banny terlihat jengkel.
" Maaf kan aku mas! aku terburu-buru ingin segera menyampaikan pesannya pak Angkasa,soalnya pak Angkasa ada menghubungiku, dan beliau tetap meminta untuk melakukan pertemuan ini, dia meminta denda atas pembatal kontrak ini." Jelas Arnetta masih dalam ketakutannya.
Sontak raut wajah pria tampan itu berubah gusar mendengar penuturan sekertarisnya tersebut.
" Setidaknya kamu bisa menyambungkan pembicaraan itu melalui telepon kantor ?" Banny menatap tajam gadis itu.
" Pak Angkasa menolak akan hal itu." Balas Mona menatap ragu.Banny menggeleng tidak mengerti.
" Ini tidak bisa di biarkan !!" Umpatnya dengan menatap kesal.
" Tidak bisakah kamu hubungi kembali orang itu dan berbicara langsung terhadapku?" Tanya Banny menatap lurus sekertarisnya itu.
" Sudah saya jelaskan mas,tapi sepertinya pak Angkasa hanya ingin berbicara secara face to face dengan mas,jadi saran aku sebaiknya mas temui saja beliau dan.... " Ucapan gadis cantik itu menggantung.
" Cukup !!,itu adalah bagian dari urusan pribadiku,sebaiknya kamu hanya menyampaikan informasi saja,tanpa harus memberi usulan apapun kepada ku." Ujar Banny menatap tidak suka.
Arnetta melongo menatap bosnya itu dengan perasaan terintimidasi.
" Sudah !! tidak perlu membahas masalah ini sekarang !!" Ucap lagi Banny dengan penuh penekanan.
Sorot matanya terlihat meminta gadis itu untuk segera pergi dari hadapannya.
Arnetta meradang menatap dengan perasaan sedih.
" Ba baiklah,permisi !" Ucapnya sebelum akhirnya berlalu dari ruangan itu dengan tergesa gesa dan mata berkaca-kaca.
Zeanu yang sedari tadi duduk di hadapannya hanya bisa menggeleng dengan tertawa melihat perlakuan Banny terhadap sang sekertaris cantiknya itu.
" Apa yang elo tertawakan ?" Ucap Banny terlihat kesal setelah melihat reaksi Zeanu tertawa-tawa sendiri.
" Elo membuat sekertaris cantik elo itu merasa sakit hati kali ini.Seperti bukan elo saja." Ucap Zeanu menggeleng.
" Ck..,gue mempertahankannya karena dia anak sahabat papah gue,gue menghargai perasaan papahnya." Jelas Banny terlihat enggan untuk menjelaskan akan hal tersebut.
" Bukan karena perasaan masa lalu ? " Tanya Zeanu mengodanya.
Banny mendecih lalu menatap wajah sahabatnya itu dengan perasaan gusar.
" Perasaan itu sudah lama berakhir." Ucap Banny.
" Elo tidak membuat kesan yang baik untuk membuat wanita itu berpikir jika perasaan elo terhadapnya memang sudah berakhir Bos !" Ucap Zeanu menggoda sahabatnya itu.
Banny menarik nafas panjang.
" Itu bukan urusan lo,alasan gue memanggil elo kesini bukan membicarakan Arnetta tapi pekerjaan yang akan di tawarkan Om gue terhadap lo." Ucap Banny dengan terlihat wajah tampannya berubah sangat sebal.Zeanu mengangkat bahu dengan terkekeh.
" Kalau menurut gue Ban,sebaiknya elo menemui fatner kerja lo itu,Sekertaris elo itu tidak terlalu buruk memberikan sebuah usulan tadi ." Zeanu menimpali dan membenarkan ucapannya Arnetta.
" Sebenarnya elo ini sahabat pria itu atau sahabat gue ? " Tanya Banny menatap dingin Zeanu.
Zeanu menarik napas panjang,berurusan dengan Banny setiap harinya benar-benar membuat ubannya bertambah kian banyak.
Banny benar-benar berbakat membuat segala sesuatunya kian bertambah rumit.
" Kalau elo tidak suka akan pertemuan lo dengan fatner lo itu,elo bisa sewa tim pengacara untuk menemui fatner elo itu dan membicarakan perkara ini dengan baik,ini menyangkut nama perusahan elo juga Ban,gue rasa jika pihak Angkasa meminta naik banding atas pembatalan kontrak ini tentunya elo akan menganti rugi atas kontrak kerja lo itu." Jelas Zeanu berusaha memberi masukan.
" Pembatalan kontrak ini tidak terjadi secara sepihak,melainkan ini menjadi kesepakatan kedua belah pihak." Jawab Banny dengan nada sengit.
" lalu kenapa pihak Angkasa menuntut denda dari kerugian pembatalan kontrak ini ? " Tanya Zeanu penasaran.
" Akal dia saja itu,untuk membuat gue semakin marah,karena gue tau arah dan tujuan dia apa terhadap gue atas permintaan denda tersebut !" Ucap Banny yakin.
" Antisipasi saja tidak ada salahnya kan ?." Zeanu menimpali lagi.
Banny mendecih tidak suka.
" Gue tidak ingin di ribetkan dengan perkara seperti ini " Ucap Banny terlihat santai.Zeanu menggeleng
" Bukannya masalah ini sudah membuat hidup lo terasa ribet ?elo benar-benar aneh Banny!!"Guman Zeanu dongkol.
Banny menyoroti fatner kerja sekaligus sahabatnya itu dengan tajam.
Pria ini selalu saja membuatnya merasa kesal,tapi ia tidak bisa marah kepada Zeanu.Dia satu-satunya yang paham atas ke inginannya.
Zeanu menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat duduknya lalu menatap penuh sahabatnya itu.
" Kalau elo sudah memutuskan,apalah artinya saran gue." Ucapnya pasrah.
" Yang meminta saran elo siapa ?gue manggil elo kesini atas permintaan om gue bukan untuk di mintai saran.Payah !!" Gerutu Banny terdengar kesal.
" Ya ya,gue paham itu !" Ucap Zeanu mengangguk.
" Gimana elo sudah bersedia untuk menerima tawaran dari om gue ?" Tanya Banny mengalihkan pembicaraanya.Zeanu menatap intens pria itu dengan penuh pertimbangan.
" Setelah gue pertimbangkan dan menimbang nimbang.....," Ucap Zeanu penuh dengan gaya slengehannya namun perkataanya tidak tuntas setelah Banny segera memotongnya.
" Halahhh,,,,kelamaan elo Zean !!" Tepis Banny dengan mimik jengkel.
" Gue bersedia !!" Akhirnya Zeanu berkata dengan begitu mantap.
" Good job !!" Pekik Banny tersenyum lebar.
__ADS_1
" Gue pastikan elo tidak akan menyesal menerima tawaran pekerjaan ini." Ucap Banny mentap yakin.
Zeanu hanya mengangguk pelan dengan tersenyum simpul.
" Lusa om gue akan mengadakan pertemuan dengan elo untuk membahas masalah kontraknya." Ucap Banny.
" Atur saja,yang penting gue bisa dapat tender yang besar.Haaa haaa.." Gelak tawa Zeanu begitu renyah.
Banny ikut tertawa dengan raut wajah begitu semeringah.
" Ok no debat lagi,deal !!" Banny memastikan dengan senyuman yang mengembang.
" Deal !" Jawab Zeanu mantap dengan mengacungkan ibu jarinya ke aras.
" Omong-omong semalam gue tidak sengaja bertemu Mona,tepatnya di caffe." Ucap Zeanu menghentikan senyuman lebarnya.
Sesaat senyuman dari bibir pria tanpan itu menyurut lalu kemudian Banny terlihat mengangkat bahu acuh setelah Zeanu mengganti topik pembicaraan ke hal yang lain.
" Dia punya ke inginan kemana dia mau pergi,jadi gue tidak perlu melarangnya." Balasnya dingin.
Sekali lagi Zeanu hanya bisa menarik napas pasrah,seorang pria seperti Banny terkadang bisa menjadi sangat tidak berperasaan dan terkesan angkuh.
" Tapi gue lihat sepertinya dia sedang tertekan." Ucap Zeanu pelan.
" Gue tidak tahu semalam dia kembali ke afartemen jam berapa,dia marah meluapkan apa yang menjadi perasaanya dengan pergi keluar." Ujar Banny.
" Dan elo hanya diam saja ?" Tanya Zeanu dengan tandas.
" Gue hanya tidak ingin terlalu peduli kepadanya." Jawab Banny terlihat ragu.
" Comen lah man,kalian saling mencintai gak seharusnya saling mempertahankan keegoisan kalian.Dan saran gue, sebaiknya elo tidak perlu bercerai,karena gue yakin kalian itu sudah saling mencintai." Ujar Zeanu menatap penuh makna ke arah sahabatnya tersebut.
Banny terdiam dengan mengelus-ngelus lembut dagu lancipnya tersebut.Memahami atas apa yang di katakan sahabatnya itu.
Dia tahu itu !jika Mona memang benar-benar mencintainya.
" Sayang !gugatan cerai gue sedang di proses." Ucap Banny mlengos.Membuang jauh perasaanya yang terasa berat ia rasakan.
" Elo masih bisa membatalkannya Ban ?seperti halnya elo membatalkan kontrak lo dengan Angkasa.Percayalah jika elo bersi keras melakukan hal ini,tentunya gue yakin elo akan kehilangan dua-duanya.tak hanya saja perkerjaan lo yang hilang tapi perasaan elo juga gak akan pernah lo dapati kembali." Imbuh Zeanu dengan perasaan yang begitu dalam,ia tetap berusaha untuk membuat sahabatnya itu yakin akan perasaannya tersebut.
Banny membisu,sahabatnya itu memang berbakat dalam melobi perasaanya yang kini tengah menguap entah kemana.
" Gue memang mencintai Mona,sangat dan sangat mencintai nya." Ungkap pria tampan itu dengan lirih,suaranya nyaris tertahan.
" Nah !! itu adalah perasaan elo yang sesungguhnya,so apa yang lo tunggu ?nyatakan perasaan elo itu, atau lo hanya membiarkan Mona pergi begitu saja dari kehidupan lo ." Ujar Zeanu menyemangati sahabatnya itu.
Banny mengeraskan otot rahang pipinya menatap panjang ke arah wajah sahabatnya itu yang berupaya kuat menyatukan dirinya dengan Mona.
" Hey ! apa elo sudah merelakan perasaan elo itu,hingga begitu semangat mempromosikan gadis itu buat gue ?" Tanya Banny menyindir.
Zeanu tercekat lalu menatap sahabatnya itu dengan berbagai perasaan.
" Hey broo,gue tidak se naif itu,dan harus berapa kali lagi gue katakan akan perasaan gue ini terhadap Mona.Posisi gue sekarang itu sudah berubah menjadi seorang kakak,itu artinya apa yang gue lakukan kali ini tentunya hanya untuk menjaga segala bentuk perasaanya Mona." Jelas Zeanu dengan air muka tak biasa.
" Ahh,terlalu bijak hidup elo, elo sudah mulai terdengar percis seperti nenek gue." Banny terkekeh dengan penuh cemooh.
Zeanu melengos dengan ekspresi datar.
" Shittt !!,berani-beraninya elo membahas kembali perasaan itu." Guman Banny yang mampu tersindir dengan olokan sahabatnya itu.
Zeanu terkekeh melihat reaksi Banny yang cukup sentimen jika perasaan masa lalunya tersentuh kembali.
" Waktu elo gak banyak broo,sebelum hakim ketuk palu alangkah baiknya elo mencabut gugatan cerai lo itu." Ujar Zeanu menegaskan.
Banny menarik napaas,sepertinya dia perlu berpikir kembali akan keputusannya tersebut.
Banny mengangkat tinggi kedua alisnya lalu tersenyum penuh ironi terhadap sahabatnya tersebut.Zeanu mengangkat bahunya dengan ekspersi yang sulit di artikan.
_____________
Pukul 21:04 WIB.
BANNY memperhatikan Mona dari belakang tubuh Mona.Jantungnya berdetak lebih kencang.
Matanya menyapu ke bagian leher Mona yang jenjang,pundak mungilnya terlihat sedikit bertelanjang.Dan terasa sungguh begitu menggodanya.Meskipun kulitnya tak terlalu putih tapi ingin rasanya Banny mengecup leher Mona,menyusuri pundak mungilnya gadis itu dengan berbagai kecupan.
Banny mendekati Mona,kedua tangannya merangkul Mona dari belakang,tangannya melingkari bahu mungilnya dan perut Mona.
Di peluk erat bahu dan perut Mona,di benamkan wajah di tengkuk gadis itu,yang sedari tadi terasa mengundang untuk memberikan stempel kepemilikannya di area sana.
Bibir Banny menghisap pelan tengkuk Mona,membuat tubuh gadis itu di rasakannya menjadi bergetar hebat.
Bruukk...
Tiba - tiba suara hantaman benda keras terdengar keras menghantam lantai,dan itu berhasil membuat Banny terjaga dari mimpinya.
Banny terperanjat mendengar suara ribut tersebut.
Seketika kepalanya terasa berat ketika alam sadarnya belum sepenuhnya terkumpul sempurna.
Banny memijit pelan kepalanya lalu ia menatap ke arah dirinya yang masih tersandar di sofa.
Banny mengamati dirinya sendiri yang mendapati terbagun dari tidurnya dalam keadaan masih mengenakan pakaian lengkap.
Banny mengutuki dirinya sendiri setelah dia sadar atas adegan yang baru saja di lakukanya itu hanya mimpi belaka.
Banny menggeleng karena dia telah bermimpi mencium dan memeluk tubuh gadis itu.
Banny memijit kembali kepalanya yang terasa kian berdenyut hebat setelah suara keras tadi mampu membangukannya.Dengan rasa penasaran dia bangkit dari duduknya berniat ingin mencari asal sumber suara yang telah mengganggu mimpi manisnya tersebut.
Dengan tertatih-tatih dia melangkah menuju sebuah kamar dan di lihatnya Mona sedang mengemasi semua pakaiannya ke dalam sebuah koper.
Belum saja sirna rasa ketekejutannya,kali ini ia di bingungkan dengan pemandangan yang tak biasa.
Banny melihat Mona sedang bersiap siap untuk pergi.
Jam berapa ini ?dan mau kemana dia ?
Banny menoleh jam yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.Itu artinya dia cukup lama tertidur sehabis pulang kerja tadi sore.
Seharian ini Banny dan Mona nyaris melewatkan komunikasi di antara keduanya,aksi saling diam serta memberikan jarak di antara keduanya membuat mereka saling tidak mengetahui satu sama lain.
" Darimana saja,jam segini baru pulang " Tanya Banny menyelidik.
Mona yang tengah asik mengemasi barangnya tersebut kini antensinya terarah ke arah pria tampan itu yang berdiri di ujung pintu kamarnya.
Mona menghentikan kegiatannya lalu menatap pria tampan itu dengan sempurna.
" Maaf tadi ada sedikit pekerjaan di kantor,jadi pulangnya telat." Balas Mona sedikit acuh.
" Kita masih suami istri,seharusnya kamu mengabariku." Ucap Banny dengan nada tak biasa.
Mona melengos lalu mengalihkan kembali pandangannya ke arah yang lain.Sudut bibirnya yang mungil itu melengkungkan sebuah senyuman namun tatapannya tetap dingin.
" Sepertinya aku tidak perlu berpamitan akan hal itu mas,karena hanya dalam hitungan jam saja kita sudah tidak akan terikat apa-apa lagi." Ujar Mona datar.
" Apa yang kamu lakukan dengan barang-barang mu itu ?" Tanya Banny mengalihkan ucapannya ke arah sebuah koper.
" Aku akan kembali ke rumah nenekku." Ucap Mona seraya menutup koper bajunya tersebut.
Banny tercekat mendengar pernyataan gadis itu.
Apa maksudnya ??
Banny menilik gadis itu dengan seksama.
" Maaf mas,mulai besok aku tidak akan tinggal lagi disini." Ucapnya seraya berdiri.
Banny semakin terhenyak mendengar ucapan gadis itu.apa yang harus dia lakukan untuk menahan gadis itu untuk tidak pergi ?
" Kamu akan pergi ? " Tanyanya dengan ekspresi bodoh.
" Tentu saja." Jawab singkat Mona.
" Untuk apa ?" Tanyanya kian terlihat bingung.
" Karena aku sadar aku tidak mungkin mempertahankan perasaan ini." Mona melirik pria itu dengan dingin.
Banny menggeleng dengan perasaan campur aduk di benaknya.
" Ini sudah malam,tetaplah disini." Sergahnya pelan namun dapat di rasakan jika pria tampan itu dalam ke adaan resah.
" Memangnya mas mengkhawatirkan keadaan ku ?" Ucapnya.
Banny membeku,dia tidak menyangka jika Mona akan bertanya hal itu kepada dirinya.Tapi ada yang lebih membuatnya terkejut,tatapan itu.Yaa tatapan itu begitu tajam menusuk perasaanya.Tatapan yang selalu hangat memujanya kini di dapatinya tatapan datar dan dingin hingga membekukan perasaanya.
Banny memaksakan dirinya tertawa.
" Tampaknya aku tidak perlu mengkhawatirkan akan ke adaanmu,karena percuma saja jika aku khawatir hanya akan membuat kamu merasa teristimewa." Imbuhnya dengan penuh intonasi.
Pria ini benar benar tidak berperasaan sehingga membuatnya sedikit panas mendengar pernyataan pria tampan itu.Mona mendilak menatap dengan sudut matanya.
" Jangan khawatir,aku menaui siapa diri ini.Tidak seistimewa itu,dan seharusnya tidak perlu bertahan sebodoh ini." Ucap Mona cukup tajam perkataanya tersebut.
Banny mengerutkan dahinya,tanpa alasan yang jelas ia merasa sedikit tersinggung dengan kalimat yang barusan di ucapkan Mona.
Mona melangkah menuju nakas,di ambilnya sebuah map yang di berikan Banny semalam tadi.lalu ia pun berjalan kembali hendak melewati pria itu yang sedari tadi hanya mematung.Sebelum ia melangkah melewati nya Mona menyempatkan untuk memberikan map tersebut.
" Ini !!! sudah ku tanda tangani !" Ucap Mona dengan tenang.
Perasaan Banny kian tak menentu.Pandangannya tertuju penuh ke arah wajah gadis itu.
Benarkah Mona sudah mendata tangani surat gugatan perceraiannya itu ? batinya Banny.
Bola matanya tertumpu pada map yang masih tertahan di tangan gadis tersebut.
Banny masih bingung untuk menerima map tersebut.Keraguannya tiba tiba saja mendera dirinya.
Mona menghela napas panjang setelah melihat reaksi pria itu yang hanya mematung menatapnya dengan perasaan gamang.
" Mas tidak usah khawatir lagi,aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadap mas,apa lagi keinginan untuk mengajukan sebuah kompesasi,dan aku sudah mendatangi surat gugatan ini tanpa syarat." Ucap Mona tenang.Menatap pria tampan itu dengan ekspresinya datar.
" Apa ??"
Banny benar-benar tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulutnya Mona sendiri.
Gadis yang selalu bersikap polos itu,mana mungkin bisa bersikap setenang ini dalam menghadapi sikapnya.
Banny tertegun menatap map yang masih tergatung di udara,Mona masih menunggu.
Perlahan Banny menerima map tersebut.Bibir gadis itu tergerak membentuk sebuah senyuman yang sulit di artikan,senyuman yang penuh dengan kepalsuan akan perasaanya saat ini.
" Maaf mas,aku pamit !" Ucap Mona seraya melangkah melewati pria itu.
Tanpa di sadari Mona melangkah dengan tangisan yang tertahan,merasakan kekalutan hatinya yang menguasai dirinya.
" Mona !"
Panggil Banny menahan langkah gadis itu.
Sejenak Mona menghentikan langkahnya dengan hatinya cukup berdebar hebat.
Hening......
Sesaat hanya saling menahan berbagai perasaanya masing-masing.
Banny terlihat ingin mengatakan sesuatu,namun entah kenapa seperti ada sesuatu yang tersangkut di dalam tenggorokannya tersebut.
" Aku mencintai kamu."
Akhirnya ucapan itu terlontar dari mulutnya yang sekian lama tertahan di dadanya.
Ada yang berdesir hebat di seluruh peredaran darah membuat gadis itu terhenyak sekaligus tidak percaya mendengar akan kata ajaib yang di ucapkan pria tampan itu.
Mona menarik napas panjang sebelum akhirnya ia memejamkan matanya.Berusaha menahan perasaannya yang kian tak menentu, bercampur aduk hingga melahirkan perasaan yang begitu dasyat di hatinya.
Namun ada yang sakit di ujung hati yang paling dalam.Entah rasa sakit apa itu ?
__ADS_1
Yang jelas kata kata ajaib itu telah lama di nanti olehnya.
Mona membuka kembali matanya dan terasa ada buliran bening meniti di pipinya.Rasa haru dan gamang kian bercampur aduk di benaknya.