
PUKUL 02.00 WIB Banny terjaga dari tidurnya,Matanya menggerecap menatap jauh ke atas langit kamarnya,entah kenapa seketika rasa kantuknya lenyap dari pelupuk matanya hingga terjaga dan enggan untuk kembali tertidur.
Dan entah kenapa tiba-tiba saja ada sebuah perasaan gelisah berhasil menguasai hati dan pikiranya.
Banny mengusap lembut dahinya dan merasakan keresahannya semakin menjalar kuat di pikirannya.
Ada apa ini ?
Satu pertanyaan muncul di benaknya.Ada perasaan tak tenang kini sedang menyelimuti hatinya.Entahlah dia sendiri pun tak tau kenapa perasaan nya itu muncul secara tiba-tiba.
Perlahan Banny menyibakan selimutnya yang menutupi tubuhnya,lalu merubah posisi tidurnya menjadi terduduk dengan punggung bersandar pada headboard ranjang tempat tidurnya.
Dia mengusap wajahnya dengan frustasi,entah kenapa pikirannya sedang berada di ingatan yang lain.
Yaa....
Dia sedang memikirkan keadaan Arnetta,masih membekas di ingatannya, wajah cantik itu menatap dirinya dengan penuh luka,di saat kecelekaan itu menimpanya.
Banny paham betul jika gadis itu telah terluka hatinya atas sikapnya.Dan tentunya dia paham jika tak akan semudah itu Arnetta bisa berpaling darinya.
Namun waktu jua lah yang membukikan jika saat ini perasaannya telah tertambat pada hati gadis yang lain.
Dia memahami atas apa yang sebenarnya di rasakan oleh gadis cantik itu terhadap dirinya.
Kecewa....???
Yaa tentu saja Arnetta kecewa,bahkan kini ia benar-benar terluka atas kandasnya perasaan yang dimilikinya itu.
Semudah itu kah dirinya melupakan perasaan yang dahulu begitu indah dia berikan terhadap gadis cantik itu?
Tapi.....
Banny menggeleng lalu menatap langit kamarnya dengan perasaan yang tak menentu.Semua itu telah berlalu,semua telah berubah tak akan seindah dulu lagi.
Banny menangkup wajahnya dengan kedua tangannya hingga berakhir meremas kasar rambutnya.Kenapa rasa iba itu hinggap di hatinya dan sangat mengganggu pikirannya.
Rasa itu kini hadir kembali menggetarkan relung hatinya.Tak dapat di pungkiri jika Arnetta adalah salah satu perempuan yang pernah menaungi hatinya setelah kekecewaan itu menerpannya.
Kenapa??
Kenapa rasa itu harus muncul kembali di saat rasa cinta itu tumbuh besar terhadap Mona.Tak ingin dia melukai perasaan gadis itu.
Banny mendesah,lalu menoleh ke arah Mona yang terlelap dalam buaian mimpi indahnya.
Gadis sederhana itu kini telah seutuhnya menjadi miliknya.
Tidak....!!
Aku tidak akan membagi rasa ini.Tentunya ini akan melukai hatinya.
Aku tau betul bagaimana rasa sakit itu atas sebuah penghianatann cinta.
Banny semakin di landa perasaan gamang,perlahan Banny mengulurkan tangannya lalu membelai lembut kepala gadis itu.Ada beban yang tak bisa ia caritakan dalam hatinya jika ia tetap mengikuti perasaannya tersebut terhadap seorang Arnneta.
Tapi kenapa semakin dia berusaha menyingkirkan perasaan itu,semakin kuat bayangan gadis itu menampakan dirinya di renung hatinya.
Ahh....
Rasanya ini menjadi sebuah awal kedilemaaan dirinya atas perasaan lamanya yang terlupakan.
Banny menarik napas lalu menarik tanganya dan beranjak dari tempat tidurnya berniat untuk menuju balkon kamar afartemennya tersebut.
Disanalah dia menumpahkan pandangan yang cukup luas kehamparan sudut ibu kota.Angin malam begitu dingin menusuk ke tubuhnya yang hanya berbalutkan kaos oblong putih saja.
Beberapa kali ia mencoba mengalihkan perhatiannya sari sosok gadis itu namun semakin kuat bayangan itu bertandang di kepalanya.
Entahlah...
Saat ini ia benar benar merasa bimbang atas perasaanya tersebut.Ia tak tau harus berbuat apa untuk melupakan sosok Arnetta.
Gadis cantik itu nyaris kehilangan nyawanya hanya kerena dia merasa kecewa terhadap dirinya sekaligus terluka akan perasaan yang selama ini di pertahankannya kandas tak terbalaskan.
" Aku tidak bermaksud melukaimu Ane,maaf kan aku,karena sudah mencurahkan seluruh perasaan ini hanya untuk perempuan lain." Gumannya pelan seakan akan dia sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Banny menghela napas panjang lalu kembali menatap jauh ke lagit sana.
Dia tidak ingin begitu saja terjerat oleh rasa bersalahnya yang akan menimbulkan permasalahan baru yang tak di inginkan bersama Mona.
" Mas !!"
Panggil suara lembut dari belakang berhasil mengejutkannya.
Banny terrengah sesaat suara lembut itu menyadarkan dia dari lamunan panjangnya.
Banny membalikan badannya lalu menatap ke pemilik suara itu.
" Mas lagi ngapain ?apa mas tidak tidur,ini sudah jam dua pagi mas." Ucap Mona menatap dengan mata yang masih terlihat ngantuk.
" Hmm,,Huhhh.Aku tidak bisa tidur !" Ucapnya seraya memegangi tengkuknya dengan tak pasti.
Mona mengernyit lalu menatap dengan penuh selidik ke arah wajah pria tampan itu.
" Apakah mas ada masalah ?" Tanya Mona menatap cemas.
" Tidak !! " Jawabnya singkat.
" Lalu ?? " Kembali Mona bertanya dengan sorot mata kali ini lebih terlihat khawatir.
" Hanya sedikit insomia saja." Ucap Banny berkilah.
Mona mengangguk pelan dengan menatap tak pasti ke arah suaminya itu.Sepertinya dia tidak sepenuhnya mempercayai apa yang di katakan suaminya tersebut.
Mona menatap Banny semakin dalam,ia mencoba mengirimkan pesan melalui sorot mata dengan penuh berbagai keresahan di benaknya.
__ADS_1
" Sebaiknya kamu istirahat.Aku hanya sedikit perlu waktu saja untuk lebih rileks." Titah Banny menyuruh Mona untuk kembali tidur.
Mona hanya tersenyum hambar dengan raut wajah yang sulit di artikan.
" Mas !,besok aku berangkat lebih pagi,aku ada persentase di kantor pagi ini." Ucap Mona merapatkan tangannya ke tubuhnya.Rupanya angin malam itu cukup berhembus kencang.
" Kenapa sepagi itu ?kamu kan bisa datang lebih siang." Tanya Banny menatap intens.
" Aku sudah berjanji terhadap salah satu mitra kerjaku untuk melakukan persentasi ini lebih awal.Dikarenakan siang nanti aku ada pertemuan." Jelas Mona pelan.
" Kamu tidak ingin berangkat dengan ku ? " Tanya Banny menyela.
" Sepertinya tidak mas,aku tidak enak membangunkan mas sepagi itu.Tapi tenang saja,akan aku siapkan segala keperluan mas terlebih dahulu." Ucap Mona dengan air muka yang tak biasa.Ia tersenyum namun terlihat di paksakan.
" Kenapa kamu baru bilang sekarang jika ada persentase di kantormu ? " Tanya Banny mulai curiga.
" Tadi aku lupa bilang sama mas,kita sama sama capek jadi melupakan hal itu." Jawab Mona tersenyum.
" Aku akan bagun lebih pagi dan mengantar kamu kekantor." Sela Banny dengan menatap penuh makna.
" Tapi mas,..." Ucapan Mona menggantung.
" Aku kurang setuju jika kamu pergi ke kantor sendirian dan naik kendaraan umum di pagi hari." Ucap Banny seraya mendekati istrinya tersebut.
Mona menatap pria tampan itu yang kini sudah berada di hadapannya dengan sorot mata yang berbeda.
Mata gadis itu terlihat menyipit seolah memahami namun malas untuk mengomentari.
" Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu,jadi aku akan ikut berangkat pagi dan mengantar kamu ke kantor." Ucap Banny seraya menarik gadis itu kepelukannya.
Mona menatap heran,sikap yang di tunjukan Banny kali ini cukup membuatnya menaruh rasa curiga.
Dia selalu memiliki pandangan tersendiri atas perubahan sikap seseorang kepada dirinya.Dan ia selalu beranggapan setiap orang yang sedang menyembunyikan kesalahannya tentu saja orang tersebut akan bersikap manis seolah-olah sedang menutupi kesalahannya tersebut.
" Mas mengkhawatirkan ku? " Tanya Mona yang kini posisinya sudah saling berhadapan.
Banny menghela lalu tersenyum lembut yang berhasil membuat jantung Mona berdetak lebih keras saat melihat senyuman itu begitu tulus untuknya.
Banny menangkup kedua pipi Mona lalu di angkatnya sedikit lebih tinggi.
" Orang yang begitu mencintai seseorang itu, pastinya dia akan selalu mengkhawatirkan ke adaan orang yang di cintainya tersebut.Begitupun dengan ku.Aku sangat menghkawatirkan ke adaan kamu." Ucap Banny menatap begitu dalam.
" Bohong kamu mas,aku tau kamu sedang menyembunyikan perasaan kamu terhadap gadis itu." Seru Bantin Mona,ia sama sekali tak bernyali untuk mengatakannya.
" Jadi mas begitu mencintaiku ?" Tanya Mona lagi dengan tatapan polos seolah-olah ia sedang berusaha menyingkirkan tuduhannya tersebut.
" Sangat !!" Ucap Banny singkat.
Mona tersenyum rapuh.Meski dia tak yakin dengan apa yang di ucapkan pria tampan itu tapi entah kenapa perasannya seperti terbang melayang saat mendengar jawaban dari pria tampan itu cukup membuatnya terharu.
" Mas !" Panggil Mona lirih.Namun sebelum ke inginannya terlaksana untuk berbicara kembali pria tampan itu dengan sigap memeluk Mona dan mengecup pucuk kepala istrinya tersebut.
Banny hanya ingin meredam segala perasaan yang sedang di rasakan Mona terhadapnya.
Mona hanya patuh saat Banny menuntunnya keperaduan tak ada penolakan sedikitpun.
Mona membiarkan rasa keinginan tahuannya mengalir begitu saja.
_______
Cinta yang kokoh membuat Mona mengenyampingkan perasaan gundahnya yang muncul semenjak Banny bersikap sepeduli itu terhadap sekertarisnya tersebut.Ia tetap berusaha mendampingi pria tampan itu dengan hati yang terus menerus berbalutkan kegelisahan.
Menyiapkan segala keperluannya,memenuhi keperluan batinnya tanpa harus mengingat akan tuduhann perasaannya tersebut terhadap Arnetta.
Pagi ini seperti hari hari sebelumnya,sehari setelah mengetahui Banny mendatangi Arnetta yang mengalami kecelakaan Mona berusaha sekuat hatinya untuk tetap berpikir baik tentangnya,tak ingin isi kepalanya hanya di penuhi prasangka buruk yang akan menjadi problematika dalam hubungan rumah tangganya tersebut.
Benar saja pagi ini Mona bagun lebih pagi dari biasanya,seperti apa yang telah di katakan kepada Banny jika dia akan persentase di kantornya tersebut.
Di tengah keseriusannya dia menyiapkan sarapan untu Banny,tiba tiba saja terdengar suara maskulin di dekatnya.
" Buatkan aku roti bakar saja sayang !" Ucap Banny merangkul Mona dari belakang.
Mona menoleh wajah pria itu yang kini tengah berada di percis di atas pundaknya dan tangannya mendekap dengan hangat.
" Akan aku buatkan,tapi aku akan panaskan air dulu untuk buat kopi mu mas." Ucap Mona menghentikan kegiatannya lalu mengusap lembut tangan kekar yang melingkar di dadanya itu.
" Baiklah,sembari nunggu aku akan mandi dulu !" Ucap Banny melepaskan rangkulannya lalu berjalan meninggalkan Mona begitu saja.
Mona menarik napas panjang.Perasaannya begitu bahagia bisa di miliki oleh pria tampan itu.Ada banyak perubahan yang di alami pria tampan itu terhadap dirinya,yaa ....kini pria itu lebih bersikap manis terhadapnya.Semoga saja ini bukan sandiwara,pikir Mona seraya mengoleskan selai nanas ke rotinya.
Mona menggeleng dengan tersenyum tak pasti.
Beberapa menit kemudian Banny berjalan mendekati Mona yang sudah siap menghidangkan sarapan pagi di meja makan.
Dengan balutan jas formal abu-abu metalik Banny terlihat begitu hansome.Hingga Mona nyaris tak berkedip memandang ka arah pria tampan itu.
Wajah tampannya begitu sangat mempesona hingga wajar saja,jika gadis sekelas Arnetta pun tak mampu menghindar dari perasaanya tersebut.
Banny duduk di kursi yang telah Mona siapkan dengan perhatiannya masih sibuk ke kancing lengan bajunya.
" Usai pulang kerja nanti aku akan singgah ke rumah nenek." Ucap Mona mengawali obrolan pendek untuk menemani sarapan paginya.
" Kamu ada perlu sesuatu sama nenek ?" Tanya Banny seraya memulai kegiayatan makannya.
" Hanya sekedar cerita saja.Dan memberi tau nenek jika kita tidak akan bercerai." Ucap Mona pelan.
Banny mengalihkan tatapannya ke arah wajah gadis itu dan menatap dingin.
" Nenek kamu mengetahui jika kita akan bercerai ?" Tanya nya sedikit kaget mendengar penuturan gadis itu.
" Tentu saja.Karena dari awal aku sudah cerita jika pernikahan ini hanyalah sandiwara saja." Ucap Mona sedikit ragu untuk mengatakan hal yang selama ini Banny tidak mengetahuinya.
" Oh my God !!,jadi selama ini nenek tahu jika kita hanya bersandiwara ??" Tanya Banny terlihat shok.
__ADS_1
" Kenapa ?Mas keberatan ?hanya nenek ku yang tau akan hal ini.dan....," Ucap Mona tak lantas ia menatap takut ke arah Banny yang menatapnya dingin sedari tadi.
" Dan siapa.?? " Tanya Banny kaku.
" Dan...,dan kedua sahabatku Mas." Ucap Mona seraya tertunduk mengunyah perlahan potongan roti yang ada di dalam mulutnya tersebut.
Banny menggeleng,namun sesaat kemudian dia terlihat menghela napas,ia tidak ingin mempersoalkan masalah itu,toh akhirnya perceraian itu tidak terjadi.Ia pun mengabaikan perasaannya tersebut.Dia tidak terlalu menginginkan hal ini di permasalahkan hingga menjadi masalah besar.
Di tengah asiknya mereka menyatap sarapan pagi,tiba-tiba terdengar suara nada dering panggilan terdengar begitu jelas,sehingga dapat mengalihkan antensinya keduanya.
" Ponsel mas berbunyi !" Ucap Mona menoleh ponsel Banny yang tergeletak begitu saja di atas nakas lemari.
" Siapa pagi-pagi gini menghubungi ku ?,kurasa pagi ini tak ada janji dengan klien ataupun lainnya." Ucap Banny masih terlihat asik menikmati sarapannya tersebut.
" Mungkin mas hari ini ada janji dan mas melupakannya ? " Tanya Mona.
" Kurasa tidak." Banny menggeleng dengan cepat.
" Tunggu,biar aku ambilkan ponsel mu mas !" Ucap Mona seraya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju nakas.
Mona meraih ponsel tersebut dan sebuah nama muncul di layar notifikasi ponsel suaminya tersebut.
Arnetta is calingg........
Dahi gadis itu berkerut,kedua alisnya terlihat terangkat tinggi.
Ada apa Arnetta memanggil Banny sepagi ini ?
Mona menatap ragu.
" Sayang..,siapa yang menghubungi ku sepagi ini ?" Tannya Banny menyeru.
Mona masih terdiam entah kenapa perasaan cemburunya itu kini menjadi rasa yang luar biasa besarnya mengganggu suasana hatinya.
" Siapa ?,kok tidak di jawab ?" Tanya Banny yang tak lama ikut menghampiri Mona.
" Sebaiknya Mas saja yang jawab " Balas Mona menyodorkan ponsel tersebut ke hadapan Banny dengan nada bicara yang tak biasa.
Banny menatap heran ke arah perubahan wajah istrinya tersebut dan tak lama Banny pun menerima ponselnya tersebut.
Dilihatnya Arnetta memanggil dirinya.
Sejadi jadi Perasaan nya pun berubah tak menentu.Belum saja Banny menjawab panggilan itu Mona terlebih dahulu telah meninggalkannya dengan begitu saja,lalu berjalan menuju meja makan dengan sikap yang dingin.
Meski dia berusaha untuk tenang namun Banny dapat melihat jelas akan reaksi dari perubahan sikap gadis itu yang begitu sangat berbeda.
Mona membiarkan Banny menerima telpon dari Arnetta,dan ia pun memilih melanjutkan kembali sarapannya dengan perasaan yang benar benar berubah kacau,tak dapat di pungkiri jika ia merasa cemburu.
Tak lama kemudian Banny menghampirinya dengan air muka tak kalah berbeda.
Tentu saja Mona sudah menebak jika gadis cantik itu menginginkan Banny di sampingnya pada saat ini.
" Mona aku antar kamu ke kantor sekarang,dan setelah itu aku akan kerumah sakit.Kondisi Arnetta memburuk." Jelas Banny dengan intonasi yang cukup menegangkan.
Benar saja,apa yang menjadi spekulasi Mona selama ini.Jika gadis itu benar-benar membutuhkan kehadiran Banny di sisinya.
Licik !!!
Batin Mona terlihat geram.
" Kenapa Arnetta ?" Tanya Mona menatap dingin.
" Aku tidak tau percis ke adaannya seperti apa,tapi om Wisnu papahnya Arnetta memintaku untuk segera kesana." Ucap Banny seraya meraih segelas air minum,dan mengantarkan kebibirnya.
Banny meraih sehelai tisu lalu si lapnya mulutnya itu dengan cepat.
Mona terdiam menatap dengan berbagai perasaan.
Dia melihat jelas jika Banny begitu mengkhawatirkan keadaan gadis cantik itu.
" Sebaiknya mas pergi saja sekarang." Ucap Mona menyuruh Banny untuk segera berangkat.
" Maksud kamu ? " Tanya Banny mengernyit lalu menghentikan aksinya mengancingkan baju jasnya tersebut.
" Aku bisa naik kendaraan umum mas." Ucapnya pelan namun begitu tajam makna ucapannya tersebut hingga membuat raut wajah pria itu terlihat terganggu.
Rahang tulang pipi pria tampan itu mengeras.
Sejenak ia terdiam menatapi gadis itu dengan sikap serbasalah.
" Tidak !! Aku tetap akan mengantarkan kamu terlebih dahulu ke kantor,dan yang mengantar kamu bukan orang lain !!" Jawab Banny tegas.Sorot matanya terlihat jengkel melihat sikap Mona yang semakin memperlihatkan dirinya akan ketidak sukaannya terhadap Arnetta meski sikap itu tidak di tunjukan secara langsung.
" Sepertinya Arnetta lebih membutuhkan mu saat ini mas." Ucap Mona dengan nada bicara penuh intonasi.
Banny menatap dalam ke arah wajah gadis itu.
Dia tau jika Mona melakukan hal itu hanya untuk menutupi rasa cemburunya.
" Kamu bersiap siaplah,dan jangan protes lagi !" Guman Banny seraya berjalan mendekati pintu apartemen tersebut.
Mona menarik napas menatap dengan perasaan yang meracau.
Kenapa Banny masih peduli terhadap gadis itu ?
Kenapa ??
Sayang Mona tidak mendapat jawaban yang pasti dari pertanyaanya tersebut.
Akhirnya dengan perasaan mengalah ia pun bergegas menyiapkan diri untuk segera menyusul Banny yang sudah ke luar dari afartemennya tersebut.
Keinginanya untuk menghindar dari perasaan cemburunya kini gagal.Dia tidak bisa menolak permintaan Banny untuk tidak pergi dengannya.
Di tambah perasaanya mulai di bakar rasa api cemburu yang baru saja menyala di hatinya.
__ADS_1
Tentu saja dalam hal ini ia tak pandai untuk menguasainya.Ia merupakan salah satu orang yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu itu.