CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 125


__ADS_3

MONA berjalan dengan tergesa-gesa menuju lorong ruang perkatorannya dan membawa beberapa berkas penting di dalam dekapannya.


Di tengah-tengah keseriusan langkahnya ia di kejutkan dengan suara seseorang yang berseru lantang kepadanya.


" Mona !" Panggil seseorang itu dengan suara nyaring.


Sesaat langkahnya melambat lalu menoleh ke arah suara yang memanggil dirinya.


Terlihat seorag gadis dengan perawakan cukup padat berlari kecil menghampirinya.


" Ada apa Mel ?" Tanya Mona menatap lurus ke arah Amel yang medatanginya.


" Sorry gue ganggu sebentar,ada yang mau gue tanyakan." Ucap Gadis itu seraya mengatur laju napasnya yang masih terlihat naik turun.


" Hal apa ?" Tanya Mona mengernyit.


" Gue masih penasaran dengan cewe yang di meeting tadi itu." Ungkap Amel menatap lurus sahabatnya.


" Arrneta ? " Tanya Mona menatap dengan berbagai perasaan.


" Yaa siaapa lagi kalau bukan dia,kok bisa-bisanya sih dia jadi staff bagian Admin di perusahaan ini ?memangnya dia siapanya pak Banny ?" Tanyanya dengan perasaan heran sekaligus penasaran.


" Elo nanya gue?terus gue nanya siapa ?" Tanya balik gadis itu melirikan bola matanya hingga membulat sempurna.


" Yaa barang kali elo di kasih tahu sama pak Banny siapa itu Arrneta." Sela Amel bernadakan pancingan.


" Pak Banny tidak ada memberi tahu gue tentang siapa itu Arnetta." Jawab Mona seraya meneruskan langkahnya.


" Kalau mereka masih ada hubungan keluarga seengganya pasti di perkenalkan oleh pak Banny saat meeting tadi.Tapi perasaan,pak Banny hanya memberi tahu jika tuh cewe resmi menggantikan posisi si Tora, itu saja yang di sampai kan tuh bos dan gue pasti akan berhubungan terus dengan tuh cewek." Ujar Amel berjalan dengan terus nyerocos.


Mona hanya menggeleng melihat kelakuan sikap sahabatnya itu.


" Yaa sudah sih,kalau memang bukan sodaranya pak Banny lalu untung nya buat kita apa ?" Tanya lagi Mona menatap Amel yang tengah kebingungan.


" Yaa siapa tahu mereka hanya teman biasa." Sela kembali Mona dengan tak mau peduli.


" Iya juga sih !.Tapi kalau gue perhatiin tuh cewek manja banget deh sama boskul,elo yakin gak sih jika tuh cewek hanya temen biasanya pak Banny? memangnya elo gak punya insting apa-apa gitu terhadap tuh cewek ?" Ucap Amel sekaligus bertanya heran kepada Mona.


Mona kembali menoleh Amel dengan raut wajah tanpa ekpresi.


" Meskipun Arnetta siapa-siapanya pak Banny,buat gue gak ada urusannya." Ucap Mona dengan raut wajah datar.


Amel menoleh cepat ke arah sahabatnya itu dengan reaksi wajah terkejut sekaligus heran atas sikap Mona yang terkesan abai akan perasaanya.


" Elo tidak cemburu lagi jika tuh bos deket sama cewek lain?" Tanya Amel menolehnya dengan heran.


Mona terhenti lalu menoleh ke arah sahabatnya itu dengan menatap penuh.


" Amel, mulai sekarang gue akan memposisi kan diri gue sebagai sekertaris dan tunangan palsunya pak Banny,tak lebih.Ingat ya gue hanya tunangan palsu." Ucap Mona mempertegas ucapannya dengan penuh penekanan.


Dan ia pun memberi pernyataan yang cukup membuat sahabatnya terkejut bukan main.


" Sejak kapan elo memposisikan diri elo itu sebagai sekertaris sekaligus tunangan palsunya tuh bos?,emang selama ini lo kemana aja ?kenapa baru sekarang elo memposisikan diri elo seperti itu?coba jika dari awal elo bersikap seperti itu gue yakin elo gak akan pernah ngalamin yang namanya patah hati secara sepihak" Jelas Amel dengan badannya ikut bergoyang-goyang penuh ekspresi.


Sesaat Mona berjalan dengan melambat lalu menoleh ke arah sahabatnya itu yang berbicara cukup pedas terhadap dirinya.


" Sejak gue berhenti berharap." Ucap Mona dengan penuh penekanan.Gadis bertubuh sintal itu tersenyum sinis lalu menatap dengan perasaan tak yakin jika sahabatnya itu mulai berhenti berharap.


" Gue gak yakin banget jika elo akan berhenti berharap,selangkah lagi kalian akan menikah dan gue yakin perasaan lo kian tumbuh besar terhadap tuh bos." Ujar Amelia dengan wajah menyeringai remeh.


Mona terdiam lalu menatap gadis sintal itu dengan perasaan jengkel.


Sosok Amelia selalu mampu menyelami isi hatinya serta apa yang menjadi pernyataanya selalu benar adanya.


" Kenapa sih otak elo itu mampu menyelami perasaan gue ?" Tanya Mona berbalik seraya menatap sahabatnya itu dengan perasaan gusar.


" Otak gue bukan hanya sekedar isi kepala doang,tentunya di otak gue ada pikiran yang tak bisa elo bohongin,apa pun itu caranya elo ngindar dengan atas apa yang lo rasakan,gue yakin jika ucapan dan perasaan lo berbading terbalik." Jelas Amelia menatap yakin sahabatnya.


Mona menghela lalu menarik napas panjang seterusnya tersenyum jambar,berhadapan dengan salah satu sahabatnya ini memang tak mudah berkelit atau pun menghindar,berbeda halnya dengan Tamara yang terkesan cuek dan istingnya lemah,mungkin dirasa otaknya hanya pajangan saja,Tamara cenderung malas berpikir serta daya ingatnya lambat.Syukurlah dia cantik jadi bisa mengimbangi otaknya yang selalu bersebrangan dengan farasnya.


" Terus gue harus apa ? " Tanya Mona kembali melangkah.


" Jika elo suka,elo wajib mempertahankan perasaan lo itu." Jawab Amelia dengan enteng.


Sontak Mona terhenyak lalu menatap kaget ke arah sahabatnya itu.


Entah setan apa yang sedang meraksuki sahabatnya itu sehingga sosok Amelia yang selalu bertolak belakang dengan perasaannya itu kini justru meminta dirinya untuk mempertahankan perasaanya kepada bosnya tersebut.


" Elo habis mangkal di mana Mel ? " Tanya Mona terheran-heran.


" Lah emang kenapa ?,ada yang salah dengan ucapan gue ?" Tanya gadis itu mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibirnya sendiri.


" Siapa tahu elo kesambet setan,hingga omongan elo sedikit aneh." Jawab Mona sedikit gusar.


" Mon,gue tahu ini cuman sekedar sandiwara,tapi tidak dengan perasaan lo sendiri.Dan gue berharap elo bisa menaklukan perasaan tuh bos." Jelas Amel berjalan dengan mencoba mensejajarkan langkahnya.


Mona semakin aneh melihat perubahan sikap sahabatnya itu yang dirasa cukup berbeda dengan sikap seorang Amelia yang sesungguhnya.


" Gue gak paham dengan apa yang elo ucapkan ?" Ucap Mona dengan tersenyum kaku,semakin pusing melihat ke anehan yang di citptakan oleh sahabatnya itu.


" Kok elo gak paham sih?gue ini mendukung elo sepenuhnya untuk mendapatkan hati tuh bos,karena gue yakin elo layak bahagia Mon bersama tuh bos." Ujar Amelia dengan nada serius.


Mona semakin shok menatapi sahabatnya itu,di pandanginya dengan lekat wajah sahabatnya itu,dia rasa tidak ada yang berubah dari wajahnya namun sepertinya kepala sahabatnya itu telah kepentok tiang listrik hingga eror begini.


" Elo perlu di rukiah,gue berniat mau berhenti berharap elo malah nyuport gue untuk terus maju,kenapa sih ?" Tanya Mona kian heran dengan sikap ajaib sahabatnya itu yang mendadak mendukung 100% dirinya dengan bosnya tersebut.


" Gue gak suka aja liat Arnneta dekat dengan bos gue,rasanya gue sakit hati banget liat mereka berduaan,kayanya tuh bos gak menghargai banget perasaan elo." Ucap Amel dengan raut wajahnya kian berubah sedih.


" Heyy !! Elo kenapa sih ?elo salah makan apa ??" Tanya Mona kian penasaran dan menatap lucu ke arah sahabatnya itu.


" Jadi itu alesannya elo ngedukung gue,karena elo cemburu liat Arnetta dekat dengan pak Banny.Amel,amel, gue pikir elo berubah ngedukung gue karena elo benar-benar setuju,tau-taunya elo jelause doang." Ucap Mona dengan tersenyum lucu melihat perubahan sikap sahabatnya yang ikut membela perasaanya.


" Serius lah Mon,gue lagi gak bercanda ini." Sergah Amelia dengan nada kesal.

__ADS_1


" Gue yakin elo lagi salah pake otak. " Mona menyela dengan tersenyum kian geli.


" Elo mau kemana ? " Tanya Amelia terhenti.


" Keruangan gue lah !pak Banny lagi ada surfei barang." Ucap Mona seraya berhenti di depan litf lalu menekan tombol panah arah naik.


" Elo gak ikut ?atau....jangan bilang kalau Arnetta yang nemenin pak Banny ?" Tanya Amel berguman sedikit sebal ketika harus menyebut nama Arnetta.


" Elo kenapa sih Mel,kok jadi posesif gitu deh,,pak Banny bersama pak Hendra,lagian admin masa iya tugasnya ikut surfei barang segala sih,lo bener-bener udah salah minum obat hari ini." Ucap Mona dengan menatap keki sang sahabatnya itu.


Amelia tertawa kecil ketika melihat sahabatnya benar-benar jengkel akan kelakuannya itu dan ia pun tersenyum puas berhasil membuat Mona terheran-heran atas sikapnya.


Gadis bertubuh sintal itu hanya tersenyum geli melihat langkah Mona yang mulai memasuki kapsul litf tersebut.


" Bye !!" Sebut Mona seraya melambaikan tangannya ke arah gadis itu tepat pintu lift itu hendak tertutup,Amel hanya tersenyum menyeringah seraya melakukan hal yang sama.


***********


Mona menghempaskan beberapa berkas laporan di atas meja kerjanya dengan sedikit kasar,lalu disusul dengan tubuhnya yang merebah di kusri kerjanya dengan perasaan pasrah.


Rasanya masih tergiang di telinganya akan ucapan sahabatnya itu yang mendukung sepenuhnya atas perasaan dirinya terhadap pria dingin berwajah tampan itu.


" Karena gue yakin elo layak bahagia."


Pernyataan itu melekat di dalam rungunya sehingga membekas.


Ia yakin jika Amelia adalah salah satu sahabatnya yang paling peduli terhadap masalah dirinya,bahkan ia merupakan orang pertama kalinya yang menolak keras diriya untuk menjalani sebuah sandiwara ini,tapi justru kali ini sahabatnya itu berubah 180 derajat mendukung dirinya,lalu ada apa ?


Mona menatap satu persatu berkas laporan tersebut dengan berbagai perasaan.


Apakah sebenarnya Amelia mengetahui siapa Arnetta itu sebenarnya sehingga ia menyuruh dirinya untuk memperjuangkan perasaanya.


Lalu....???


Ah rasanya pikiran Amelia memang sedang di butakan cemburu,ia yakin kehadiran Arnetta kurang berkenan di perasaan sahabatnya itu.


Mona mendesah pelan lalu mengerucutkan bibirnya membetuk segi tiga sama kaki.


Rasanya terlalu dini jika Amelia menuduh kehadiran Arnetta sebagai teman dekat bosnya itu sekaligus saingannya dalam mendapatkan hati seorang Banny.Lagi-lagi Mona menggeleng dengan perasaan frustasi.


memikirkan sosok Banny memang membuatnya setengah gila.


Tok,Tok,Tok.....


Suara ketukan di pintu mengejutkan sekaligus membuyarkan lamunannya Mona menoleh dengan resah ke arah suara ketukan itu.


" Ma masuk !" Ucap Mona dengan suara terbata.


Seorang pria menyembul dari balik pintu dengan tersenyum hangat kepadanya.


" Hai Mon !masih sibuk ya?" Tanya Pria itu mendekatinya.


Gadis itu menggeleng dengan tersenyum tipis.


" Ada apa elo manggil gue kesini ?jika Banny tahu gue ada di ruangan elo tar dia gak suka liat gue disini." Jelas Pria berwajah tenang itu seraya duduk di hadapan gadis itu.


" Haa...haa.. Abang,gak habis pikir gue akan jadi abang elo." Pria itu menambahi dengan tersenyum hambar.


" Itu takdir Zean." Sela Mona seraya tersenyum ringan.


" Kenapa takdir tidak menjadikan gue pacar lo. " Ucap Zeanu lelucon.


" Iss elo ya." Balas Mona melengos dengan manja.


" By the way,kenapa kita gak janjian di jam makan siang nanti ?" Tanya Zeanu mengusulkan.


" Gak ada waktu lagi deh Zean." Balas Mona pelan.


" Memangnya ada apa sih ? " Tanya Zeanu seraya membenarkan jasnya.


" Ini....,masalah pernikahan gue dengan pak Banny." Ucap Mona dengan datar.


" Lalu ? " Tanya Zeanu menatap riskan.


" Apa sebaiknya gue kasih tahu Mama tentang permasalahan ini ? " Tanya Mona dengan perasaan gamang.


Sejenak perasaan pria itu tertahan dengan menatap lurus gadis yang kini telah menjadi sosok sodara tirinya tersebut.Raut wajahnya berubah bingung saat pertanyaan itu cukup mendominasi isi pikirannya.


" Menerut elo gimana Zean?soalnya siang ini orang tua pak Banny akan mengadakan pertemuan untuk menentukan tanggal pernikahan gue sama pak Banny." Jelas Mona dengan nada cemas.


Zeanu terlihat ikut meresah atas apa yang sedang di rasakan oleh Mona,ia sendiri merasa bingung harus memberi solusi seperti apa akan pertimbangan ini.


" Gue bingung juga Mon.Soalnya pernikahan ini hanya sementara,jika Mama di kasih tahu maka ketika elo selesai bersandiwara Mama akan merasa kecewa dengan sandiwara pernikahan elo ini dan tentunya dengan adanya masalah ini,akan menjadi sebuah pikiran yang dalam atas kegagalan pernikahan elo nantinya ,yaa selaku orang tua wajar lah jika perasaan-nya akan terganggu dengan permasalahan ini, dan pastinya selaku orang tua,Mama sangat menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya." Jelas Zeanu dengan perasaan berat.


" Jadi menurut elo gue sebaiknya harus gimana ?,apa gue tidak usah melibatkan Mama dalam masalah ini ?" Tanya Mona menatap kian gamang.


Zeanu terdiam menatap serba salah sekaligus ikut bingung ke arah gadis tersebut.


" Apa sebaiknya sandiwara ini Mama gak perlu tahu,dan pernikahan elo pun Mama gak perlu tahu juga? " Ucap Zeanu bertanya dengan nada bingung.


" Tapi nenek gue udah tahu semuanya akan sandiwara ini." Sela Mona dengan suara kian melembut.


" Lalu ?" Tanya Zeanu menatap sekilas dengan perasaan tegang.


" Nenek ngerti akan perasaan gue jadi dia menanggapinya dengan positif,tapi gue gak yakin jika perasaan Mama bisa seperti nenek,entahlah Zean gue rasa otak gue buntu jika harus menghadapi masalah ini." Ucap Mona seraya memijit pelan kepalanya yang terasa berdenyut kian kuat.Di rasanya ia butuh obat buat pereda sakit untuk kepalanya yang kian terasa tertusuk.


Sesaat pria itu ikut memikirkan solusi untuk permasalahan sodara tirinya tersebut.


" Tapi sebaiknya Mama harus tahu elo menikah dan setidaknya ia akan melihatmu bahagia,meski pernikahan ini hanya sandiwara." Jelas Zeanu setelah sesaat berpikir cukup lama.


" Gue nikah hanya 30 hari Zean,itu artinya gue akan melukai perasaan Mama dengan waktu pernikahan gue yang singkat ini." Jelas Mona dengan perasaan kian putus asa.


" Akan gue pikirkan solusinya nanti,sekarang elo gak usah khawatir lo fokus saja dengan tugas lo untuk membalas kebaikan orang yang pernah menolong kehidupan elo,gue yakin elo mampu untuk menjalani semua ini." Ucap Zeanu menatap dalam ke arah gadis tersebut.

__ADS_1


Mona menatap lurus wajah pria itu yang selalu membuatnya nyaman sekaligus tenang jika berada di sisinya.


" Zean,makasih banyak ya,elo udah peduli sama gue." Ucap Mona seraya meraih tangan pria itu,lalu dengan perasaan haru ia mengelusnya dengan lembut.Gambaran di kepalanya ia serasa memiliki kakak kandung seorang laki-laki yang siap membelanya dan memperjuangkan dirinya meski kenyataanya mereka adalah sodara yang di pertemukan dalam ikatan tiri.


Zeanu menatapi tangan gadis itu yang bertumpu lembut di atas tangannya,rasanya ia ingin memeluk erat gadis itu dan memberi perlindungan lebih dari sebatas seorang kakak.


Namun semua itu hanya harapan semu saja yang ia miliki.


" Sama-sama Mon,selama gue mampu gue akan melakukan hal yang terbaik buat elo." Ucap Zeanu dengan tersenyum getir.


Merasakan antara perasaan yang bergejolak didadanya sekaligus perasaan cinta yang harus kian terpendam.


" Elo gak pernah tahu jika perasaan ini akan selalu ada untuk mu Mona,entah sampai kapan gue harus memendam perasaan ini?"


Ucap Zeanu membatin dalam perasaanya seraya menatap penuh perasaan ke arah gadis itu yang sedang tersenyum lembut ke arahnya.


" Eheeemm !!!" Tiba-tiba suara bariton itu berdehem hingga mengejutkan mereka.


Repleks Mona segera mengalihkan tangannya yang masih bertumpu di atas tangan Zeanu.


Mata pria itu menatap tajam ke arah gerakan cepat gadis itu.


" Hallo Ban. " Sapa Zeanu menoleh ke arah Banny yang sudah berada di ambang pintu dengan menatap dingin.


Lalu Zeanu lekas berdiri dan menatap Banny dengan berbagai perasaan.


" Hai Zean.Elo sudah lama disini ?" Tanyanya dengan mentap sedikit enggan.


" Lumayan. " Jawab Zeanu sedikit acuh.


" Ada hal penting yang sedang kalian bicarakan,apa gue ganggu kalian ?" Tanya Banny mengeserkan tatapan nya ke arah Mona yang terlihat menatapnya kaku.


" Tidak !elo sama sekali tidak mengganggu gue ataupun Mona." Jelas Zeanu seraya menoleh Mona yang tersenyum di paksakan.


" Sepertinya yang kalian sedang membicarakan hal penting sekali ?" Tanyanya dengan menatap sinis.


Entah kenapa perasaan gadis itu merasa resah setibanya bosnya itu berada di ruangannya ketika ia bersama dengan Zeanu.


" Yaa,jika di buat penting hal ini bisa menjadi hal yang enting, karena ini menyangkut perasaan orang tua Mona dalam permasalahan pernikahan sandiwara elo itu." Jelas Zeanu dengan tandas.


Suasana mulai terasa tegang ketika nada bicara Zeanu mulai terdengar penuh penekanan.Mona merasa kan kecemasan jika kedua pria itu mulai terlibat dalam satu argumen.


" Kenapa ?apakah pernikahan sandiwara gue ini merugikan banyak orang ? " Tanya pria dingin berwajah tampan itu bersikap angkuh kepada sahabatnya.


Sontak membuat Mona terlihat resah menyaksikannya.


Zeanu menghela melihat sikap angkuhnya seorang Banny.


Jelas sandiwara ini akan melibatkan perasaan beberapa orang termasuk sang ibu tirinya yang tak lain ibu kandung dari Mona,hati seoranng ibu yang mana akan kecewa jika mengetahui pernikahann anaknya hanya bertahan 30 hari saja.


Pria wajah tenang itu mendecih dan menatapnya sedikit sebal atas sikap sahabatnya itu yang menganggap remeh Tentu saja ini akan merugikan beberapa pihak.Dan omog kosong saja jika permasalahan ini tidak ada yang merasa di rug2ikan sekalipun itu bokap lo." Ucap Zeanu dengan menatap lurus pria yang menjadi sahabatnya itu.


Sesaat pria tampan berwajah dingin itu menatap angkuh ke arah sahabat sekaligus fatnernya.


" Yang merasa keberatan bokap gue apa elo ?" Tanya pria itu mengonfrontasi.


Mata bulat Zeanu menyipit ke arah pria itu dengan menatap perasaan tersinggug.


Ekpresi raut wajah datar itu berubah menjadi sangat tegas.


Nyali gadis yang tengah menyaksikan perdebatan kedua pria itu mulai ciut seperti cicitan seekor tikus.


Ini tidak bisa di diamkan,jika tidak pasti akan ada hati yang memanas.Pikiran gadis itu kian meracau setelah melihat air muka kedua pria itu saling menegang.


Keinginan gadis itu untuk menyudahi rasa tegang ini rasanya sia-sia,perasaan pria berwajah tenang itu sudah terlihat kesal atas pertanyaan sahabatnya itu yang berkesan buruk di hatinya.


" Jika gue memposisikan gue sebagai orang yang mencintai Mona,yaah gue sangat keberatan atas sandiwara ini,tapi posisi gue disini hanya sebatas sodara dia jadi jelas gue tidak berhak ikut campur urusan elo, tapi satu hal yang harus elo ketahui jikap persaan seseorang itu tidak untuk di permainkan." Jelas Zeanu dengan suara kian berat menatap amarah kepada pria tampan itu.


Mona terlihat semakin cemas menatapi sikap kedua pria yang saling sebelumnya saling bersahabat itu.


Namun semenjak munculnya permasalahan ini hubungan persahabatan mereka sedikit merenggang seperti ada jarak yang memisahkan antara mereka,hingga mereka terlihat lebih renggang tak seperti biasanya.


" Gue melakukan hal ini hanya untuk membahagiakan bokap gue,dan jika nantinya pernikahan ini gue berakhir maka itu artinya gue sudah melaksanakan kewajiban gue dalam mengabulkan permintaan bokap gue untuk menikah dengan gadis pilihannya.Jadi wajar jika gue rasa itu tidak ada yang harus gue rugikan sama sekali.Toh semua gue lakukan atas perintah bokap gue,bukan siapa-siapa.Jadi jika ada yang merasa di rugikan dengan apa yang gue lakukan gue rasa itu salah!karena gua rasa pernikahan ini fine-fine saja. " Imbuh pria itu dengan enteng.


Belum saja mulut pria itu tertutup rapat sebuah kepalan tangan melayang menghantam sudut bibirnya.


Bukkkkk !!!!


Pukulan keras itu menghantam kuat ujung sudut bibirnya,sontak Mona terhenyak atas sikap kasar yang di tunjukan Zeanu terhadap Banny sahabatnya.


" Elo laki-laki paling B*******k !!!" Seru pria itu menahan amarahnya yang kian membuncah.


Tubuh pria tegap itu sedikit terdorong atas pukulan kuat yang menghantam ujung sudut bibirnya.Matanya yang tajam kian membulat setelah Zeanu menghantam kuat wajahnya.


Banny terlihat meringis dengan memegangi ujung bibirnya tersebut.


" Kenapa elo tonjok gue,elo gak suka gue melakukan hal itu ?"


" B******n !!! ,lo semua ini akan fine-fine saja,elo keliru.Sudah jelas dengan adanya sandiwara ini elo sudah menorehkan perasaan yang dalam di hati perempuan ini." Ucap Zeanu terlihat geram.Jari telunjuknya lurus menunjuk ke arah Mona yang terlihat panik melihat kejadian yang begitu cepat tangan kekar itu melayang ke wajah pria tampan itu.


Banny menyeka darah segar yang keluar dari ujung sudut bibirnya dan menatap galak ke arah sahabatnya itu yang tiada ampun menonjok keras pipinya.


"Apa elo pikir setelah melakukan kekacauan dan buat masalah seperti ini elo akan bebas gitu aja hah?? Serius ban otak Lo terlalu dangkal kalau Lo pikir semua akan berakhir selesai dengan gitu aja. Pernah kepikiran gak gimana besar nya kecewa nya bokap Lo kalau sampe tahu putra kebanggaannya ternyata bohongin dia dengan berpura-pura nikah dan bersandiwara seolah-olah anak dan menantunya memiliki rumah tangga seperti selayaknya?...." Pria itu tak berniat menghakimi tapi Banny memang layak di perlakukan seperti itu


" Gue yakin bokap Lo akan kecewa dengan, dengan kelakuan bodoh lo ini ban !" Nafasnya tersengal menahan marah yang benar-benar terasa memuncak.


" Hentikan Zean !" Seru Mona dengan histeris lalu gadis itu mencoba melerai perkelahian kedua pria tersebut.


Banny mengangkat tinggi dagunya dan menatap tajam ke arah sahabatanya itu yang kini telah meninggalkan jejak luka di wajahnya dengan hantaman bogeman mentahnya.


Rasanya baru kali ini sang sahabatnya itu berani bersikap kasar terhadap dirinya.Pria tampan itu mengegerakan tulang rahangnya yang terasa kaku dan dari ujung sudut bibirnya pun masih mengeluarkan darah segar.


" Zean,plis,plis jangan ribut disini !kendalikan amarah lo." Ucap Mona dengan menghalangi tubuh Banny yang terus di incar oleh pria itu yang telah kehabisan akal untuk meladeninya.

__ADS_1


Zeanu menarik napas panjang lalu berusaha mengendalikan amarahnya yang kian meledak-ledak.


" Satu hal lagi,jangan pernah elo berpikiran gue akan merebut kembali hatinya Mona dan berhenti mempertanyakan perasaan gue,karena jika takdir TUHAN tidak menyatukan gue sebagai sodaranya tentu gue mencintai dia lebih dari apapun !" Ucap pria itu dengan tandas,sorot matanya masih terlihat bengis ke arah sahabatnya itu yang masih terlihat meringis.


__ADS_2