
BANNY dengan penuh sikap wibawa ia pun segera memulai acara meetinngnya walaupun acaranya terlambat dari waktu yang sudah di tentukan namun Banny berusaha untuk bersikap profesional dalam menyikapi keterlambatan dirinya dengan waktu yang telah ia tentukan.
Dengan di dampingi Mona Banny menerangkan beberapa perkembangan yang sudah terjadi di perusahaannya dan kini ia merencanakan kembali akan segera membuka perusahaan anak cabang baru lagi yang sudah di realisasikan.
Berhubungan menyusulnya pembangunan anak cabang perusahann kini sedang berlangsung proses pembangunannya yang proses pengelolaanya merekrut Zeanu sebagai arsitekurnya.
Meskipun Mona hadir mendapingi sang Bosnya tapi entah kenapa pikirannya tidak lagi ada bersamanya pikiran serta perasaanya bercabang entah kemana ia merasa pikirannya saat ini sedang bertolak belakangan dengan atas apa yang sedang ia rasakan.
Zeanu menatap dalam ke arah Banny yang sedang memberikan beberapa ulasan.
Mona tertunduk dengan mengatupkan bibirnya dengan rapat entah kenapa pikirannya merasa terganggu dengan sikap dinginnnya Zeanu yang secara tiba-tiba terhadap dirinya padahal dia tahu betul bagaimana sikap sesungguhnya Zeanu terhadap dirinya.
Hingga ia selalu merasa nyaman ketika bertemu atau berada di samping Zeanu namun tidak dengan perasaan kali ini,Perlahan-lahan rasa nyaman itu lenyap saat Zeanu tau dirinya akan di lamar Banny.
Ini memang bukan keinginannya namun keadan yang memaksanya untuk bersandiwara cinta dengan sang Bos.
Dia mengankat wajahnya lalu menatap kembali ke arah Zeanu yang duduk di sebrangnya dan benar saja begitu Mona menatapnya tatapannya itu kian terasa berat untuk di alihkan.
TAP.......!!!
Zeanu pun tak sengaja menata ke arah Mona dan dia pun memperegoki Mona sedang menatap dalam ke wajahnya. sejenak merekapun hanya saling bertatapan dengan waktu yang cukup lama sehingga mau tak mau menarik perhatian Banny yang masih berbicara mengulas beberapa pembahasan didalam meetingnya itu.
Banny menghentikan perkataannya lalu ia menoleh ke arah Mona yang masih menatap dalam ke arah Zeanu.Entah rasa cemburu atau rasa tidak suka raut wajah Banny sontak berubah tidak senang terlebih-lebih Zeanu membalas hal yang sama dengan terus menatap Mona.
" EHEEM. !!" Banny mendehem cukup keras sehingga Mona dan Zeanu terhenyak dengan repleks Mona langsung tertunduk dalam.Sementara Zeanu berpura-pura membenarkan posisi duduknya dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
Seisi ruangan Meeting pun di buatnya cukup heran dengan sikap Banny yang secara tidak langsung terlihat merasa terganggu dengan sikap Sekertarisnya yang saling berpandangan dengan Zeanu patner kerjanya.
Beberapa staf yang cukup penting saling berpandangan dengan penuh tanya ke arah teman satu lainnya setelah melihat sikap cemburu sang Bosnya terhadap Sekertarisnya,Tidak terkecuali staf kepala Devisi Bu Ratih serta staf menejer perusaan pak Hendra mereka ikut memperhatikan gelagada sang atasan yang kurang senang dengan sika sekertarisnya itu.
" Sebelum saya mengakhiri meeting siang ini saya akan menyampaikan sebuah informasi penting dan itu mengenai sebuah undangan." Ucap Banny seraya menatap kaku ke arah Zeanu yang sedang memperhatikannya.
Seisi ruangan hening menatap penuh tanya ke arah Banny dengan berbagai pertanyaan yang tersirat di benaknya mereka.
" Dan informasi ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah perusahaan ini.Informasi ini mengenai masalah pribadi saya." Ucap Banny lagi-lagi mengalihkan pandangannya ke arah Mona yang masih tetap tertunduk kian dalam.
" Saya akan melamar sekertaris saya Mona." Ucap Banny singkat tanpa berbasa basi lagi.
Sontak seisi ruangan di buat terkejut bukan main dengan informasi yang telah di sampaikan Banny barusan.
Zeanu dan Mona pun ikut terhenyak dengan cepat mereka menatap dalam ke arah Banny yang masih membagikan pandanganya keseluruh staf-staf yang hadir di ruangan meeting itu idak terkecuali ibu Ratih serta pak Hendra yang ikut terkejut mendengar ucapannya Direktur mereka yang mengumunkan jika dirinya akan melamar sekertarisnya sendiri.
Mona terperangah ia tidak menyangka sedikitpun jika Banny akan mengumumkan hal lamaran dirinya di acara meeting tersebut ia hanya bisa ternganga dengan mata belonya yang melotot semakin membulat.
Zeanu menahan sesak di dadanya dengan cara membuang jauh pandangannya ke luar ruangan baginya informasi yang telah di sampaikan Banny sahabatnya itu hanya bisa mengusik perasaanya saja,Karena bagaimanapun juga ia masih berharap lebih dari seorang Mona meskipun Banny akan melamarnya karena dia tau lamaran Banny hanya bersifat sandiwara.
__ADS_1
Pemberitahuan itu merupakan kabar pahit untuk dirinya Zeanu sadar jika Banny melakukan hal semua itu atas kesengajaanya untuk membuatnya cemburu.
Bu Ratih serta pak Hendra saling bertatapan satu sama lain mereka tidak percaya dengan apa yang telah di sampaikan atasanya itu lalu merekapun menatap ke arah Mona yang masih terlihat syok.
" Hmm...,Dan acaranya akan di adakan minggu depan nanti Jadi saya informasikan disini untuk tidak lupa memberi tahu staf serta karyawan lainnya untuk hadir di acara lamaran saya nanti.Karena acara ini merupakan acara pravesi jadi saya berharap tidak ada hal pikiran buruk terhadap saya dan Sekertaris saya ini." Ucap Banny seraya menoleh ke arah Mona.
Mona terdiam tak bergeming dia hanya mencoba tersenyum walaupun terlihat sangat di paksakan namun berusaha tersenyum dengan etulus mungkin.
Sejenak beberapa staf yang hadir saling berpandangan tak percaya dengan apa yang mereka dengarnya itu sungguh hal ini ketidak mungkin yang nyata.Dan hal ini bisa-bisanya terjadi kepada seorang Direktur yang notaben kedudukannya pasti lebih jauh dari sang Sekertaris.
Lalu mereka terlihat mencoba menebak-nebak di balik informasi yang telah di sampaikan atasannya itu mereka berharap itu bukanlah sekedar setingan belaka dan mereka berpikiran positif atas apa yang menjadi tujuan sang Direkturnya untuk melamar sekertaris pribadinya itu.
Beberapa staf penting yang ikut hadir termasuk Bu ratih serta pak Hendra selaku ketua menejer masih berpikir keras serta menduga duga dengan raut wajah masih tidak percaya atas pilihan sang bosnya yang jatuh hati terhadap sekertarisnya itu.
" Lamaran ini tidak saya publikasikan jadi hanya orang-orang tertentu yang saya turut serta hadir di acara nanti." Ucap Banny seraya membagikan pandangannya keseluruh anggota yang hadir di acara meetingnya tersebut tidak terkecuali Zeanu yang sedari tadi terlihat tidak berminat untuk menyimaknya ia malah memilih untuk mengalihkan pandangannya ke hal yang lain.
Banny mengakhiri pembicaraanya dan ia menutup acara meetingnya dengan singkat.
Perlahan lahan beberapa staf mulai meninggalkan ruangan meeting dengan menyisakan beberapa pertanyaan yang mengganjal di benak mereka masing masing tentunya tentang keputusan sang Direkturnya yang akan melamar sang sekertarisnya secara mendadak.
Mereka terlihat berbisik-bisik dengan beberapa staf yang lainnya ketika meninggalkan ruangan meeting itu.
Zeanu merapihkan jasnya lalu berdiri dan berpamitan untuk meninggalkan Banny yang masih sibuk dengan beberapa Dokumen penting yang ada di hadapannya, sementara Mona terlihat sedang merapihkan handbagnya yang berisikan arsip-arsip penting lainnya.
" Ban !,Gue duluan ya." Ucap Zeanu menatap lurus Banny
" Kapan kapan saja.Gue ada urusan lagi dengan yang lain." Jawab Zeanu seraya melangkah dan menjingjing tas kopernya.
" OK." Jawab Banny singkat yang tersenyum kecut.
Zeanu melangkah keluar dengan perasaan yang cukup tegar ia tidak bisa berkata apa apa lagi selain memilih untuk pergi dan tidak ingin melihat kedekatan Banny dengan Mona.
Mona menarik napas panjang lalu ia menghela dalam ia merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan oleh Zeanu.
" Ehem !!" Banny mendehem lalu matanya melirik tajam ke arah Mona yang masih menatap ke arah Zeanu yang melangkah keluar.Dengan repleks Mona pun segera mengalihkan pandangannya ke gawainya.
" Schedule siang ini apa ?"
" Iya pak ?" Dengan spontan Mona berbalik bertanya kearah Banny.Dan Banny pun menatap tajam ke arah Mona yang melongo menatapnya ia beranggapan Mona mengabaikannya.
" Mona ! perlu kamu tahu,Saya paling tidak suka jika ada orang yang saya ajak berbicara tidak fokus." Balas Banny seraya membuang muka dengan kesal.
" Maaf pak saya lagi tidak fokus ." Ucap Mona dengan tertunduk.
" Kamu lagi memikirkan apa ?Perasaan Zeanu ?" Tanya Banny seraya berdiri dan perlahan lahan mendekat ke arah Mona yang masih duduk dengan sorot mata yang galak.
__ADS_1
" Maksud bapak ?" Tanya Mona megernyitkan matanya dan mendongkak kepalanya menatap aneh sang Bosnya yang menghampirinya.
" Sepertinya...,Saya perhatikan dari tadi selama meeting berlangsung kalian berdua saling tatap-tatapan terus,Ada apa ?" Tanya Banny semakin mendekat lalu ia pun menyandarkan pinggulnya di tepi meja yang berada di hadapan Mona.
Sontak sikap Banny membuat hati Mona kembali dag dig dug di buatnya bahkan menimbulkan rasa mulai tidak karuan kenapa tidak ? Banny selalu melakukan hal-hal yang sulit ditebak olehnya.
" Saya sama pak Zeanu tidak ada apa-apa pak." Jawab Mona terlihat mulai salah tingkah dan mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap ke arah wajah Banny.
" Kalo tidak ada apa-apa lalu kenapa kalian saling diam seolah olah kalian sedang menyembunyikan perasaan kalian masing masing ?" Tanya Banny dengan membungkukan badannya lalu kepalanya menghadang ke arah wajah Mona yang terlihat mulai menghindari tatapanya tak lama di pegangnya kedua tepi kursi Mona dengan kuat sehingga Mona terlihat semakin salah tingkah di buatnya.
Ada rasa gerogi yang melanda di saat wajah Banny mulai mendekat ke arah wajahnya.
" Bapak.Saya mohon jangan berpikiran hal buruk tentang saya dan Pak Zeanu." Balas Mona seraya memalingkan wajahnya lalu ia pun berniat untuk menghindari tatapan sang Bosnya yang semakin tajam menatapnya.
" Kenapa ?" Tanya Banny dengan menatap liar ke arah Mona yang seolah olah sikap groginya Mona menangtangnya untuk melakukan hal yang di luar kendalinya.
Mona mulai terlihat gelisah saat Banny semakin mendekat kearahnya namun Banny dengan sengaja ia terus menatap jauh kedalam wajahnya dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Mona.
Kali ini Banny benar-benar bersikap aneh kepada dirinya dengan cepat Mona pun memilih untuk segera berdiri dan bangkit dari tempat duduknya karena dirasa Banny sudah membuatnya ia semakin tak nyaman dengan sikapnya.
Mona berniat ingin menghindari perlakuannya atasanya itu yang mulai terasa risih baginya namun dengan tidak sengaja Mona mendorong mundur kursinya hingga keseimbangan dia pun oleng dan nyaris dia terjengkang ke belekang namun dengan sigap Banny meraih tangannya Mona dan menahan tubuh Mona dengan kedua tanganya untuk menahan agar tidak terjengkang dengan spontan Banny malah menarik tubuh Mona dan dengan cepat masuk kedalam pelukannya.
BLEEEPPP...
Tanpa di hindari lagi wajah Mona tersungkur di wajahnya Banny sehingga bibirnya mereka beradu menempel cukup kuat di bibirnya Banny.
Mona menggerenyep kaget dengan kejadian yang berlangsung dengan cepat sehingga bola matanya terbelalak lebar sementara itu tangan Banny melingkar di pinganngya mencengkram kuat,Bibir mungil itu masih menempel di bibir sang atasannya tanpa di hindari lagi. Dengan cepat Mona menarik bibirnya yang masih melekat di bibirnya sang Bosnya adegan itu benar-benar tidak terduga sebelumnya oleh Banny maupun Mona.
Dengan spontan Mona mendorong tubuh Banny yang masih mendekapnya erat namun usahanya sia sia
Pelukan sang atasannya itu malah semakin terasa kuat di tubuhnya.
Napasnya terasa menderu memburu setiap jengkal desahan yang terhempas dari bibirnya yang tertahan Mona membulatkan bola matanya menatap tajam ke arah wajah atasannya yang kian menatapnya penuh gairah.
Mona semakin salah tingkah saat Banny mulai menatapnya dengan penuh arti.
" Biarkan sandiwara ini menjadi kenyataan." Ucap Banny seraya terus menatap dalam ke wajah Mona yang mulai ke takutkan.
" Pak lepaskan !" Ronta Mona dengan berusaha melepaskan tangannya Banny yang masih merangkulnya dengan kuat.
" Kamu jujur ! Katakan apa yang kamu rasakan saat ini ?" Ucapnya lagi Banny dengan kian mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mona hingga jaraknya kian dekat.
" Pak ! Ini kantor jangan bersikap konyol." Sergah lagi Mona dengan terus berusaha lepas dari pelukannya ia mencoba menjauh dari jarak Banny yang kian dekat.
Banny teridam dia menatap dalam ke arah mata bulatnya Mona yang warnanya abu kecoklatan baginya sinar bola matanya itu setidaknya telah membuat dia merasa semakin bergairah perasaan itu kian menerjang adrenalinnya.
__ADS_1
Entah kenapa ia merasa gejolak napsunya membara setiap kali Mona menolak untuk membalas tatapannya seolah olah gairah cinta itu telah merasuk ke dalam jiwanya.
Yaaa...,Seorang Mona mampu membuatnya ia merasakan dasyatnya jatuh cinta lagi.