
PRIA bertubuh gemulai tersebut mengemasi busana pesanan nya Banny dan menatanya dengan sangat rapih.
" Oya boskuh,besok acara nya jam berapa,biar tim make up aku datang ke lokasi acara." Ujar Yonce duduk di samping Banny.
" Sekitar jam sembilan." Jawab Banny pelan.
" Ok,nanti akuh akan mengirim tim make up sebelum acara tersebut di mulai." Ujar Yonce tesenyum penuh kebahagiaan.
" Say,itu gaunnya sudah pas ya,tinggal fitting gaun pernikahan saja " Seloroh Yonce dengan tersenyum penuh arti ke arah Mona.Yang di senyumin hanya menyeringah kaku tanpa ekspresi apapun setiap kali mendengar kata pernikahan.
Sesaat Banny menoleh ke arah Mona dengan tatapan tak pasti.
" Untuk masalah tempatnya,nanti boskuh sharelok saja ya,takut nya team make up aku nyasar.Soalnya sorry aku tidak bisa bantu rias nanti deh pas kalian nikah aku akan jadi team rias spesial kalian,ok bebs." Yonce mengerlingkan matanya ke arah Mona dengan genit,lagi-lagi Mona hanya terseyum pasi tampa ada sambutan ekspresi apa pun.
" Ok.Aku balik dulu nih,soalnya masih ada beberapa pekerjaan yang harus di rampungkan untuk acara besok." Terang Banny seraya bangkit dari duduknya dan menatap dalam Mona yang masih menatap polos dirinya.
" Ok lah,ingat boskuh jangan cape-cape.Soalnya besok lamaran jadi harus jaga kesehatan agar acaranya lancar jaya tidak ada hal buruk yang terajdi.Iya kan bebs." Tambah Yonce merangkul pundak Mona.
" Makasih ya mas Yon." Ucap Mona pelan.
" Sama-sama Mona sayang,kamu jaga kesehatan juga ya,beruntung kamu menjadi pilihannya terakhir my boskuh." Imbuh Yonce dengan tersenyum hangat.
Mona mengernyit saat pria bertulang lunak itu mengatakan kalimat keberuntungan.
Ahh....,andai saja ia tahu apa yang sebenarnya terjadi,mungkin dirinya tak seekspresif ini.Pikir Mona dengan perasaan gamang.
" Balik ya Yon." Sela Banny lagi dengan singkat.
" Hati-hati boskuh." Balas Yonce meng angguk pelan.
Banny berjalan melangkah keluar dari butik tersebut lalu menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pelaran butik tersebut.Beberapa custumer langgan setia butik Yonce mulai silih berdatangan untuk memesan aneka macam busana pesta.
Mobil sport berwarna metalic itu sudah melaju jauh meninggalkan pelataran butik tersebut,dan perlahan mobil tersebut pun berbelok menuju sebuah restoran yang terdekat dari jalan raya.
Mona mengernyit lembut lalu menoleh ke arah bosnya dengan wajah sedikit heran.
" Ini kan restoran pak." Sela nya pelan.
" Yang bilang ini rumah sakit siapa ?" Balas Banny acuh.
" Maksud saya,bapak mau makan siang ?" Tanya Mona dengan penuh penekaan.
" Yaa iyalah,saya lapar." Jawab Banny seraya mengehentikan laju kendaraanya lalu ia pun melepaskan safety beltnya.
" Tapi saya tidak lapar." Sela Mona cepat.
" Apa ??Kamu tidak lapar ?" Banny menoleh cepat sekertarisnya itu.
" Ya,saya tunggu di sini saja,bapak kalau mau makan,makan saja." Ucap Mona datar.
" Kamu harus ikut makan." Ujar Banny seraya melangkah keluar.lalu ia berjalan setengah berlari mengitari mobilnya menuju pintu mobil sebelah kiri.
Banny membukan pintu untuk gadis itu.
" Ayo!kita makan dulu." Ajak Banny setelah pintu mobilnya terbuk dan meminta Mona untuk segera turun dari mobilnya.
" Aku belum lapar pak,sungguh." Ucap Mona berusaha menolaknya.
Dengan tanpa bicara lagi Banny segera meraih tangan Mona tersebut dan menarik paksa keluar,Mona berusaha menepis tangan bosnya yang mencekal erat tangan nya,namun sepertinya tangan pria tinggi berbadan tegap itu sangat kuat mencekal tangan Mona sehingga ia tak bisa menepiskan nya.
Banny menarik tangan sekertarisny itu dengan kuat agar ia gadis itu segera keluar dari mobilnya.
Cekalan tangan Banny terasa kencang di tangan nya,sehingga mau tak mau ia pun menuruti ajakan bosnya tersebut.
__ADS_1
Mona yang keluar dengan setengah di tarik paksa oleh bosnya itu membuat tubuhnya repleks tersentak dari tempat duduknya seketika saja tubuh mungilnya nyaris tertarik kuat.
Tarikan tangan pria tinggi berbadan tegap itu cukup kuat hingga siapa menduga tubuh gadis tersebut mendorong kuat kepelukan pria tersebut.
Tak bisa di hindari lagi ,tubuh gadis itu pun masuk kedalam pelukan pria tersebut dan merekapun terlibat dalam satu adegan yang romantis sekaligus menebarkan bagi seorang Mona,ia kembali harus berada dalam pelukan pria dingin berwajah tampan tersebut.
Banny menatap dalam ke wajah gadis tersebut dalam keadaan tubuh mereka saling menempel erat.Tanganya melingkar di pinggang gadis tersebut,tangan nya kuat menahan agar tubuh Mona tidak terjatuh.Sementara tangan yang satunya masih menggengam erat tangan sang gadis itu.
Entahlah....,Banny selalu merasakan detakan jantung nya tak biasa ketika dekat dengan tubuh gadis tersebut.Bahkan ia tidak bisa menghindari bahasa tubuhnya saat tubuh gadis itu berada di pelukannya menghangtkan jiwa yang telah lama hampa.
Perasaan nya pun tidak bisa menolak ketika ia harus berhadapan dekat dengan wajah gadis teresebut,berbeda hal nya ketika dia sedang berhadapan dengan seorang Kinaya, sosok perempuan yang setidaknya pernah memberinya sebuah sentuhan hingga belayaan sayang terhadap dirinya,namun perlahan perasaan itu sepertinya mati rasa.
Tak ada lagi dirinya merasakan gairahan itu muncul ketika berada dekat dengan perempuan yang sudah menjadi mantan nya tersebut.
Banny masih menatap dalam wajah gadis tersebut dengan perasaan yang mulai memburu ke otak nakalnya.Setiap kali melihat ke dalam wajah gadis tersebut,selalu menimbulkan perasaan yang tak bisa ia gambarkan dengan cara apa pun.
Fix....,perasaan nya sudah tertuju terhadap gadis yang menjadi kekasih sandiwaran nya ini.
" Pak,lepaskan tidak enak di lihat orang." Mona meronta lalu menyadarkan tatapan lekat nya pria yang berwajah tampan itu,yang seolah-olah sudah terbaca olehnya bahasa tubuh nya akan kemana.
Jangan kan pria tersebut yang sibuk dengan pikirannya,gadis yang ada di pelukannya pun merasa heboh sendiri dengan pemikirannya yang meracau hebat di kepalanya.
Betapa tidak,adengan seperti ini tak hanya sekali dua kali terjadi,jadi wajar saja jika perasaan gadis tersebut berat harus mengubur dalam harapannya untuk menjadi kekasih sungguhannya.
Pura-pura bahagia itu perlu energi kawan,gimana bisa kuat jika adegan nya seperti ini membuatnya jantungnya melompat-lompat ke luaran sana.Pikir gadis itu membatin.
Mona melirik penuh isyarat ke arah beberapa orang yang melintas di sekitarnya agar bosnya itu segera melepaskan pelukan nya yang terasa erat di tubuhnya.
Beberapa orang yang melintas di hadapan mereka dengan saling menoleh ke arah mereka tersebut dengan tatapan-tatapan aneh.
Bak sebuah Adengan romantis romeo juliet dalam sebuah cerita.
Banny dengan repleks melepaskan tubuh gadis tersebut.lalu membenarkan lengan kemeja nya dengan salah tingkah.
Mona hanya terdiam seraya meringis kecil menahan sakit yang membekas akibat cekalan tangan bosnya tersebut.
Lalu Banny bergegas berjalan melangkah menuju restoran tersebut,selang beberapa lama Mona pun menyusul dengan perasaan yang tak menentu.
Adegan tersebut setidaknya mengacaukan kembali pertahanan perasaannya untuk tidak berharap lebih dari seorang pria yang mempunyai seribu sikap aneh di rasanya .
Mona menggeleng seraya menghempaskan jauh pandangan nya ke arah beberapa tamu yang sedang menikmati santapan makan siang di restoran tersebut.
**********
WAKTU sudah menunjukan pukul 19:00WIB,Mona baru tiba di rumahnya.
Dengan perasaan letih yang mendera tubuhnya ia berjalan gontai menuju pintu rumahnya lalu perlahan menyentuh gagang pintu rumahnya tersebut dengan perasaan resah menggelayuti pikirannya.Ia berharap sang nenek masih berada di dalam kamar dengan rutinitas berdo'a seperti biasanya.
Perlahan Mona memutar gagang pintu tersebut dan mendorongnya dengan hati-hati agar tidak terlalu mengeluarkan suara kencang,daun pintu itu pun tergerak dan terbuka ia pun melangkah memasukinya.
Baru saja badannya berada di ambang pintu,dengan hati-hati Mona melongo terlebih dahulu untuk memastikan ruangan tersebut tak ada sang nenek.
Ruangan itu sudah terlihat sepi lalu ia pun tak lupa menutup kembalu pintu nya dengan tersenyum lega,di rasa kondisi nya aman dan terkendali,lalu ia pun berjalan dengan tenang.
Tapi......
Baru saja ia hendak masuk ke kamarnya suara lembut itu mengejutkannya dan menahan langkahnya.
" Mona !" Panggil suara yang sangat ia kenali.
Mona menoleh lalu menatap pemilik suara itu.
" Nenek ???" Pekik nya dengan tersenyum kaku.
__ADS_1
" Nenek ingin bicara dengan kamu sebentar saja,boleh kan? Tanya nya dengan tersenyum hangat.
Mona menghela lalu mengangguk pelan.
" Ada apa nek ?" Tanyanya dengan menghampiri sang nenek.
" Ini masalah lamaran kamu besok." Jawab sang nenek seraya menuntun cucu nya tersebut menuju sopa.
" Oya nek.Maaf-in Mona ya,bukannya Mona tidak ingin melibatkan nenek dalam masalah ini,cuman Mona sama Banny sepakat untuk tidak membuat nenek repot.Jadi segala sesuatu nya biar Mona saja dan Banny yang urus." Jelasnya dengan suara parau,mencoba berkata bohong kepada sang neneknya tersebut.
Sang nenek tersenyum lembut,ia benar-benar bijak dalam menghadapi permasalahan nya itu.
" Nenek tidak akan mempersoalkan hal itu,nenek memberikan kebebasan dalam setiap urusan yang kamu hadapi,karena itu hak kamu sayang." Jelasnya dengan menatap lembut sang cucu.
Mona tersenyum tipis seraya menatap dalam sang nenek.
" Cuman nenek ingin bilang sama kamu,bahwa mama kamu harus di kasih tau masalah in." Terang sang nenek dengan suara lembut,karena dia paham berbicara dengan cucu perempuanya tersebut harus dengan hati-hati dan penuh kelembutan.
Mona teridam lalu menggigit bibir bawahnya dengan perasan mulai terasa penuh menyesakan ruang dadanya.
" Mona sayang,apa pun itu kesalahan yang telah mama perbuat,kita sebagai anaknya yang pernah di lahirkan nya harus bisa memaafkan kesalahan nya,karena tanpa adanya dia kamu juga tidak akan pernah ada di dunia ini." Jelas lagi perempaun renta itu mengelus lembut kepala sang cucunya.
Mona masih terdiam menatap sembilu ke arah ubin sana.
Ia membenarkan apa yang telah di sampaikan nenek nya tersebut,namun entah kenapa perasan nya masih asa yang mengganjal di hatinya.
Pikiran nya mulai tak terarahkan,bukannya iya tak ingin memaafkan kesalahan nya sang ibunya namun ia belum bisa menerima rasa egonya yang tak belum bisa menerima perlakuan dari orang tua nya tersebut.
Apa lagi ia harus memberi tahu masalah tentang lamarannya ini,tak mudah baginya jika harus melibatkan kehadiran sang ibu di acara nya tersebut, karena semua itu hanya semu belaka saja.
Ia tak ingin melibatkan seluruh anggota keluarganya dalam acara settingan ini,takut semua itu hanya akan menambah panjang polemik yang ia hadapi.
" Bagai mana sayang ?" Tanya sang nenek lirih.
Mona menggeleng lalu menatap sendu ke arah wajah sang nenek.
" Nek,bukannya Mona tidak memafkan kesalahan Mama,tapi untuk saat ini biarkan Mona larut dalam perasaan Mona sendiri,perasaan yang tengah membelenggu egonya Mona." Mona menatap kian dalam ke wajah lembut perempuan renta itu yang selalu ada untuk dirinya sekaligus orang yang selalu mengingatkan dirinya.
" Tapi sampai kapan kamu akan menahan ego itu sayang,kasian mama kamu,tak ada perasaan seorang ibu yang terputus dari hatinya untuk seorang anaknya.Tidak ada Mona sayang." Terang kembali sang nenek dengan sorot mata yang mulai berkaca-kaca.
Mona perlahan terisak ia di lema dengan perasaannya sendiri.
" Masih ada waktu untuk memberi tahu mama mu,sebelum momen ini berlalu,meskipun begitu mama mu harus tau akan moment bahagia mu ini." Ujar sang nenek berusaha membujuk cucunya.
Mona semakin terhimpit oleh rasa yang meneggelamkan jauh ke dasar kebimbangan nya.
Ingin rasanya ia berkata yang sesungguhnya jika lamaran nya besok hanya lah sandiwara saja,namun entah kenapa lidahnya kelu dan perasaan nya kaku,tak tega rasanya harus melihat akan raut wajah yang selalu membuatnya nyaman itu tersontak kaget hingga hatinya terluka.
Tak bisa ia bayangkan jika perempuan yang ada di hadapan ini akan mengetahui segala apa yang menjadi kebenarannya.Lalu apa yang akan di perbuatnya setelah ia semua nya tahu?
Ia hanya bisa berspekulasi dengan memastikan bahwa sang nenek akan kecewa berat terhadap dirinya,sehingga ia tidak akan pernah mempercayai nya lagi,dan bisa jadi sang nenek kecewa hingga waktu yang tak bisa di tentukan.
" Nenek,Mona mohon sama nenek,untuk kali ini saja,biarkan semua berjalan dengan begitu saja tanpa harus mama tahu." Ucap Mona mengiba.
Memohon agar sang nenek memahami perasaan nya tersebut.
Perempuan tua itu menghela dengan raut wajah yang berat.mencoba mempertimbangkan ke inginan sang cucunya itu.
Ia paham,bahkan tau percis akan perasaan cucu terkasihnya itu saat ini.Waktu 15 tahun bukan waktu yang sebentar harus memulihkan perasaan yang dalam dampak dari peristiwa perpisahan orang tuanya dan itu mengakibtakan trauma berat hingga ke fisikiaternya.
" Baik lah...!" Sela sang nenek dengan suara berat.
" Baiklah,untuk saat ini nenek masih memaklumi perasaan kamu itu.Tapi ingat ketika nanti hari pernikahan mu,kamu harus memberi tahu ya sama mama kamu." Jelas sang nenek memberi pertimbangan seraya merangkul hangat pundak sempitnya sang cucu.
__ADS_1
Mona hanya mengangguk pelan terseyum getir ke arah perempuan yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang menganti kan kasih seorang ibunnya.