CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 50


__ADS_3

DIAM-diam Mona memperhatikan ke arah gerak gerik Banny dan Kinaya di dalam ruangan kerja Banny.Ruangan yang hanya tersekat dinding kaca.


Di sela-sela kesibukannya bekerja Mona menyempatkan diri untuk mencuri kembali ke arah ruangan Banny yang masih terlihat mereka mengobrol entah membicarakan masalah apa.


Entah kenapa ada ketidak sukaannya terhadap kehadiran Kinaya yang secara tiba-tiba datang ke kantor,Bahkan Mona merasa tidak suka jika Kinaya hadir kembali di kehidupanny sang Bosnya itu.


Dan perasaan itu bisa jadi perasaan cemburunya atau mungkin persaan yang hanya ketidak senangan saja.


Namun yang pasti Mona merasakan sesuatu hal yang lain ketika melihat gerak gerik Kinaya yang sedang berbicara berdua saja dengan sang Bosnya itu.


Di tatapnya kedua tangan yang masih bertumpu di kyboard laptopnya dengan tatapan penuh ragu Mona pun mencoba mengalihkan perasaanya yang semakin lama semakin mengganggu pikirannya dan di pandanginya kembali Banny yang sedang termenung seorang diri itu setelah Kinaya keluar dari ruanganya itu,Lalu Mona pun berpikir keras ia mencoba menebak isi dari lamunan sang Bosnya itu Mona menduga jika sang Bos masih menyukai mantannya.


Mona menggeleng seraya mengusir jauh perasaan buruk sangkanya itu terhadap Banny lalu ia pun menatap kembali laptopnya dengan tatapan frustasi tapi...,lagi-lagi pikiranya tidak bisa fokus pandangannya memaksa dia untuk beralih menatap kembali ke arah ruangan sang Bosnya dan Banny pun masih tetap dengan sikap yang sama termenung dengan tak bergeming.


" Hmm kaya tu bapake masih demen ama mantannya." Guman Mona dengan terus mengawasi sang Bosnya.


" Pleasee deh Mona lo jangan mikirin nasib dia dehh !Stop !! Jangan berharap banyak deh sama tu Bos ! Lo harus bisa ngaca.Ok!" Gumannya dengan nada stress.


Lalu ia pun kembali ke pekerjaanya dan memusatkan kembali semua daya pikirannya ke hal pekerjaannya.Tapi.....,


" Pyuhhhhh.....," Pekiknya dengan suara nada berat.


" Ampunn gue jadi gak konsen begini dehh,Hmmm....,," Gumannya lagi dengan nada jengkel.


Mona terkejut saat tombol panggilan mengejutkan lamunanya dan Monapun langsung menekan tombol panggilan itu.


" Iya pak ." Sahutnya setelah menerima panggilan dari Banny.


" Tolong keruangan saya." Ucap Banny singkat.


Mona terdiam lalu menoleh ke arah ruangan Banny dan saat itu pula Banny sedang menatapnya dari balik kaca ruangannya.


Sejenak Mona berpikir keras apakah sang bosnya dari tadi memperhatikan kelakuannya gilanya itu yang sedari tadi hanya bisa berbicata sendiri akibat gagal fokus.


Tanpa pikir panjang lagi Mona pun segera ke ruangan Banny dengan membawa beberapa arsip yang akan di serahkan ke Banny beberapa jam yang lalu tertunda di karenakan ada kedatangan Kinaya.


" Permisi pak !" Sapa Mona seraya menyembul dari balik pintu Banny hanya menggangguk pertanda mengijinkan Mona untuk masuk.


" Ini pak laporan hasil yang kemarin." Ucap Mona singkat lalu Mona bermaksud untuk segera kembali ke ruangannya namun langkahnya tertahan ketika Banny berdiri lalu mendekatinya.


" Saya belum selesai bicara kenapa kamu buru-buru mau keluar ?" Ucap Banny seraya duduk di ujung mejanya.


" Bapak cuman butuh ini kan ?" Tanya Mona seraya berbalik badan lagi menghadap ke arah Banny dengan menatapnya lugu.


"............" Banny tidak menjawab dia hanya menyungingkan senyuman sinisnya.


" Hmmm...,So tahu.!" Ucap Banny dengan sinis.


" Lalu..,Bapak ada perlu yang lain ?" Tanya Mona berusaha bersikap biasa saja.


" Saya ingin mengajak kamu sore ini untuk ke toko cincin."


" HEEUUH !!" Mona terkejut hampir saja matanya melotot lebar menatap Banny dengan tak percaya.


" Lamarannya akan saya adakan dalam 2 minggu ini " Ucap Banny menatap kaku ke arah Mona yang masih terlihat syok.


" Kenapa secepat ini pak ??" Tanya Mona dengan terbata-bata.


" Ini perintah saya jadi kamu tidak usah membatah lagi,Dan ini kan cuma hubungan sementara bukan hubungan resmi." Ucap Banny dengan sorot mata angkuh.


Ingin rasanya Mona berontak terhadap sikap angkuhnya sang Bosnya itu yang selalu memaksakan kehendaknya dan apabila ia memutuskan sesuatu selalu tanpa menenggang perasaanya.


Mona terdiam lalu ia kembali bingung setengah mati haruskan dia jujur tentang semua ini kepada sang neneknya ataukah melajutkan dengan menganggap tidak terjadi apa ?,Namun Mona berpikir kembali bukannya hal ini justru akan membuatnya sang nenek bahagia atas lamarannya Banny dan bisa membatalkan perjodohan neneknya.

__ADS_1


Mona mengerutkan keningnya seraya menatap pasrah ke arah Banny lalu ia pun hanya bisa berkata di dalam hatinya jika semua ini hanyalah sandiwara cinta yang pastinya akan ada akhir dari ceritanya ini lalu Dia menatap datar ke arah sang Bosnya yang membuat dia semakin merasakan Dilema yang tak berkesudahan.


" Baiklah. " Jawab Mona singkat dan pasrah lalu ia pun berpamitan untuk kembali ke ruangannya dengan membawa perasaan yang kian tertekan.


********


TRING......


Sebuah pesan masuk ke Wanya lalu dengan sikap tak berselera Mona membacanya.


Amel:"Mon gue di kantin kantor ,Nyusul ya !" Pesan singkat dari Amel.


Mona tidak membalasnya lalu dengan cepat dia bangkit dan menyusul ke kantin kantornya yang berada di lantai atas.


Mona mendapati Amel serta Tamara lagi asyik bercanda- canda dengan tanpa beban lalu Mona pun dengan loyo menghampiri mereka tanpa bersuara.


" Lemes amat Mon ??" Ucap Amel merasa aneh setelah melihat sikap Mona yang berubah tak seceria biasanya.


" Lo sakit " Tanya Tamara dengan cemas, Mona menggeleng raut wajahnya benar benar tidak berselera.


Amel dan Tamara saling bertatapan satu sama lain dengan raut wajahheran karena tidak biasanya Mona bersikap seperti itu yang mereka Tau Mona adalah sosok yang sangat ceria dimana pun ia berada serta kapanpun ia berada Mona selalu hangat di setiap perjumpaannya.


" Mon lo baik baik aja ?" Tanya lagi Amel mencoba memastikan ke adaanya.Mona tidak menjawab dia hanya tertunduk kian dalam.


Sontak membuat kedua sahabatnya terlihat panik dengan sikap diamnya sahabatnya itu.


" Heyyy lo kenapa see Mon ?Jangan bikin gue panik dan cemas." Tanya Amel mendadak cemas tingkat tinggi.


" Mel lo gak lagi ngecandain kita kan? Lo kan paling pinter ngeprank." Sela Tamara kian penasaran.


" Gue bingung !" Jawab Mona singkat.


" Bingung ??" Sela Amel dan Tamara kompak


" Kalian percaya gak kalau pak Banny mau ngelamar gue !" Ucap Mona dengan suara nyaris pelan.


JRENG JRENG........


" APA ????" Amel dan Tamara Nyaris berseru bersaman mata mereka pun terbelalak tal percaya dengan ucapan Mona barusan.


" Lo jangan halu !" Sela Amel cepat.


" Dan lo jangan bercanda,Lo di lamar cowok lain boleh lah gue percaya,Pak Banny yang ngelamar lo gue musrik percaya ama lo." Ucap Amel dengan masih ternganga nganga.


" Gue ceritain semuanya sama kalian biar lo berdua pada percaya." Ucap Mona dengan membagi pandangannya.


Amel dan Tamara saling pandangan lagi mereka rupanya benar-benar penasaran dengan apa yang akan Mona ceritakan.


Lantas Mona pun menceritakan apa yang sudah terjadi di antara dirinya dengan sang Bosnya,Tidak ada yang terlewatkan sama sekali semua dia ceritakan.


Amel dan Tamara benar benar tak percaya dengan semua cerita Mona mereka menyimak dengan penuh rasa keterkejutann.


" Jadi selama ini Pak Banny anak dari pak Wiguna Mon,Rektor di kampus kita dulu itu?" Tanya Amel dengan syok.


Mona mengangguk dengan perasaan tak menentu.


" YAA TUHAN,Jadi yang selama ini yang masukin gue kerja di sini bokapnya Paj Banny.Sumpah gue pikir yang punya perusahaan ini bukan pak Wiguna.Tapi lo ko gak cerita kalo Pak Banny anaknya Pak Wiguna." Ucap Amel nyerocos tak terkedali.


" Gue pikir gak sepenting itu juga gue kasih tau sama lo,Yaah yang penting gue sama lo udah bisa bekerja gue udah beruntung tapi kenapa sekarang malah jadi kaya gini ujungnya."


" Pantesan Pak wiguna dulu sama kamu baiknya setengah mati ternyata lo mau ada di jodohin sama anaknya." Ucap Amel dengan menatap dalam Mona.


" Beruntung sekali kalian di jodohkan?" Sela Tamara dengan memasang wajah terharu.

__ADS_1


" Tapi perjodohan itu hanya untuk sandiwara saja Mel Tam." Sela Mona membagi lagi pandangannya.


" Sandiwara ?? " Sela Amel dan Tamara bersamaan kembali.


Mona terdiam memandangi kedua sahabatnya dengan bergantian dan sorot matanya terlihat begitu terasa begitu berat.


" Maksud lo apa ??" Tanya Amel mengernyit.


" Pak Banny bersedia di jodohkan dengan gue tapi itu semua hanya untuk sandiwara saja Mel,Tam.Agar pak Wiguna merasa bahagia." Jelas Mona dengan nada sedih.


" Yahh kalo kaya gitu gagal beruntung donk." Sela Tamara dengan datar.


" Jadi perjodohan ini cuman sandiwara saja ?" Tanya Amel Tandas.


" Yaa.Secara Pak Banny juga gak mungkin suka sama gue kali Mel,Dia milih juga kali perempuan kaya gimana yang di cari." Ucap Mona dengan wajah sedih.


" Dan lo nerima perjodohan sandiwara ini ?"


" Pak Wiguna sudah banyak berbuat baik dalam kehidupan gue Mel dan seharusnya gue balas budi."


" Terus dengan nerima perjodohan ini lo lunas balas budi lo?? Lalu perasaan lo ?" Tanya Amel dengan menatap penuh khawatir ke arah Mona.


" Gue takut lo malah terluka Mon dengan perasaan lo sendiri." Ucap Amel dengan nada sedih.


Mona terdiam tidak mampu menatap ke arah Amel yang masih menatapnya dengan penuh kegamangan.


" Gue yakin lo akan merasa tertekan dengan sikap Pak Banny,Gue khawatir perasaan lo yang akan jadi taruhannya Mon." Ucap lagi Amel dengan semkin mengambang suaranya.


" Lo gak bisa nolak perjodohan ini ?"


" Gue bingung ! Disisi lain nenek gue juga akan menjodohkan gue jika gue gagal mendapatkan jodoh sendiri tapi disisi lain gue juga harus berhutang budi terhadap pak Wiguna papahnya pak Banny."


" Tapi sampai kapan perjodohan ini akan berakhir ?Gue yakin perjodohan ini akan berujung di pernikahan Mon.Dan pastinya lo akan terus bersandiwara dengan perasaan lo sendiri." Ucap lagi Amel dengan menatap penuh kecemasan.Ia meraskan apa yang sedang Mona rasakan.


" Duh gue kenapa jadi mules gini ya denger permaslahan lo Mon." Ucap Tamara dengan memegangi perutnya Amel mendilak melirik Tamara dengan lirikan kesal.


" Lo mules mending cari ****** dulu dahh daripada BAB di sini." Ucap Amel dengan memasang wajah keki.


" Rumit rumit...!!" Guman Tamara dengan masih memeganging perutnya.


" Lo pikirin lagi tentang perjodohan ini Mon,Kalau seandainya pak Banny ada perasaan sama lo itu masih bisa di pertimbangkan lagi tapi kalau sebaliknya gue takut lo hanya menderita doank." Ucap Amel dengan nada sedih.


" Sepertinya gue akan membiarkan perasaan ini gue korbankan demi kebahagian nenek gue dan balas budi gue." Ucap Mona dengan menahan napasnya lalu di hembuskannya kuat kuat.


Tamara dan Amel saling bertatapan dengan perasaan ikut merasa berat akan permasalahan yang sedang di hadapi Mona.


" Gue selalu mendukung lo apapun itu dan yang terpenting itu yang terbaik buat lo,Karena perjodohan ini hal pertama kalinya lo akan mengenal kata cinta meski lewat perjodohan ini,Yaa sukur-sukur Trisno jalaran kulino. "


" Apa itu ??" Tanya Tamara menoleh Amel dengan mimik wajah polos.


" Cinta karena terbiasa ." Jawab Amel menoleh Tamara.


" Terbiasa apa ?" Tanya lagi Tamara dengan santai.


" Terbiasa ketemu TAMARA !!" Jelas Amel mulai kesal.


" Lah kan Mona sama pak Banny udah sering ketemu Mel,Bisa jadi cinta juga tuh" Balas Tamara tanpa beban.


" TAMARA... !!" Pekik Amel mulai ambyar dengan pertahanan kesabarannya.


Mona tersenyum tipis melihat sikap kedua sahabatnya yang selalu ada warna ketika bersama karena yang satu tulalit dan yang satunya lagi tidak sabaran mereka saling melengkapi satu sama lain.


" Kalian berdua yang bisa bikin gue ketawa." Ucap Mona seraya merangkul keduanya.Amel dan Tamara membalas rangkulanya dengan tersenyum lebar walaupun Amel dan Tamara masih tetap adu argumen.

__ADS_1


__ADS_2