CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH Episode 208


__ADS_3

SATU minggu lebih sudah Mona pergi meninggalkannya,semenjak Mona pergi entah beribu kali Banny menghubungi nomor gawai perempuan itu,jawabanya selalu sama tidak aktif,harapan terakhirnya adalah bertanya kepada kedua sahabatnya,tapi apa yang di dapatkan justru dirinya beradu argumen dengan salah satu sahabatnya Mona sehingga menyebabkan salah satu sahabat Mona tersebut kena ia pecat dari perusahaanya akibat dari sikapnya yang terlalu lancang terhadap dirinya,bukannya mendapat solusi jutru mendapat masalah baru,perusahaannya harus kehilangan staf terbaiknya,hal ini menjadi polemik baru yang tak berkesudahan.


Urusan kian rumit dan tak tahu harus apa yang di lakukan Banny,baginya mencari informasi tentang keberadaan Mona membuatnya frustasi.


Tak sampai disitu saja,kini dirinya di kejutkan dengan kehadiran sosok Arnetta yang terlibat di dalam permasalahannya,wanita cantik itu telah berani-beraninya ikut campur urusan pribadinya dengan cara mengadu ke sang Ayahnya,sungguh permasalahan ini kian rumit.


Belum juga ia menemukan keberadaan Mona justru kini ia di hadapkan dengan masalah baru.


Apa maksud dari Arnetta melakukan hal ini,apakah ini ada hubungannya dengan seseorang yang menjebak Mona,ataukah justru dialah yang telah menjebaknya ???


Banny menggeleng frustasi perasaanya kian pelik,jika benar dia yang menjebak lalu apa yang dikatakan salah satu sahabat Mona itu benar,jika dirinya tengah terjebak dalam perangkap seseorang,Apa kah mungkin Arnetta bersengkongkol dengan Sultan untuk memisahkan dirinya dengan Mona.


Ahhh bodoh ! bodoh sekali !!


Rutuknya di dalam hati kian geram,kenapa ia sebodoh itu membiarkan amarahnya menguasai dirinya.


Jika mengingat beberapa hari kebelakang sikap Arnetta begitu peduli terhadap dirinya,bahkan ia pun menghasut dirinya jika Mona diam-diam menghianatinya berbagai opini ia gencarkan untuk memperkeruh ke adaan,namun sayang dirinya terlanjur ke makan omongan gadis cantik itu sehingga dirinya membabi buta dalam bersikap.


Yaa sebelum kejadian dirinya mengusir Mona,tepatnya setelah ia menerima pesan misterius yang mengatas namakan Arash,Arnetta datang memperlihatkan foto-fotonya tersebut dan dia pun berkomentar hal-hal negatif tentangnya,hingga dirinya ikut berspekulasi Mona benar-benar telah menghianati.


Banny semakin di hantui rasa bersalah,kenapa ia begitu mudahnya mempercayai ucapannya Arnetta,selama ini gadis cantik itu bersikap baik kepadanya,namun kali ini ia baru menyadari jika gadis itu telah membuatnya buta akan pikirannya.Tapi....


Banny menepekuri dirinya menatap dengan perasaan sakit.


Terlambat ?? Benarkah ia terlambat untuk membuat Mona kembali ke sisinya ?


Banny semakin menatap depresi semua kesalahan ada pada dirinya.


Hancur namun ia tak mampu menangis.


Ia pun merasa sakit tapi tidak bisa berkata-kata.


Banny merasakannya saat ini ia hanya mampu menangis dalam diam.Menyadari ia telah kehilangan mutiara yang begitu berharga dalam hidupnya,bahkan Ayahnya sendiripun tidak bisa memaafkan kesalahannya yang di anggap patal baginya.


Ada banyak kenangan di Afartemen ini bersama Mona,gadis yang memiliki suara cempreng itu selalu memanggil dirinya dengan sebutan pria es balok,betapa tidak dirinya selalu bersikap dingin kepada gadis tersebut,membiarkannya selalu menangis akibat sikap bahkan perkataanya yang keras itu selalu membuat terluka hati gadis sederhana tersebut, kenapa ke indahan itu tergambar begitu jelas ketika Mona pergi darinya.


Kenapa kesempurnaan itu nampak nyata setelah gadis itu berlalu dari hidupnya.


Banny menarik napas panjang,kini penyesalan itu kian membelenggu dirinya.


Sayang,dimana dirimu sekarang ?


Banny meratap dengan perasaan kian terkikis perasaan salahnya.


Keujung dunia mana lagi aku harus mencarimu ??


kembali Banny membatin dengan perasaan campur aduk.


Runtuh sudah air mata Banny di atas kasur yang terasa dingin ia hanya mampu memeluk banyangan Mona dengan perasaan sesalnya.


penyesalan itu tak bisa mengembalikan semua perasaanya yang teramat dalam,menyesal telah mengusir Mona bahkan sampai hati ia menalaknya,kini semua itu tinggal lah cerita yang tak mampu ia memperbaiki segalanya dengan mudahnya dan perceraian itu telah di depan mata.


Yaa sepertinya perceraian kali ini akan berakhir dengan sebuah penyesalan yang terlahir dari sikap angkuhnya.


 


Banny terbangun dengan kepalanya yang terasa pusing dan juga badannya terasa sakit.Dia mendapati jika dirinya tertidur di atas sofa,menyadari ia tertidur sambil memeluk foto Mona yang tengah tersenyum manis,Banny pun segere meletakan kembali foto tersebut di atas meja lalu sejenak ia memandangi foto gadis tersebut,senyumannya begitu menawan namun kini hanya lah sebuah gambar yang tak mampu membuatnya tersenyum.


Entah jam berapa semalam matanya bisa terpejam,hampir dua pekan sudah ia tertidur tampa Mona di sampingnya,bukan waktu yang sebentar,rasanya terasa tersiksa sekali,meski Mona bukan tife seorang istri yang romantis atau pun lembut dalam memperlakukannya,namun perhatian perhatian kecilnya mampu membuatnya terasa nyaman.


Terhuyung Banny menginjakan kakinya di dapur,tenggorokannya terasa kering luar biasa,semalaman ia tidak minum,pikiran dan hatinya yang kacau membuatnya lupa makan dan minum padahal di kantor ia tidak ada makan hanya minum kopi beberapa teguk saat istirahat meeting itupun sang OB yang buatkan.


" Mas jangan lupa makan siang nya ya."

__ADS_1


" Mas jangan terlalu banyak minum kopi,gak bagus buat kesehata."


" Mas nanti pulang cepat ya,, aku buatkan nasi goreng kesukaan mas."


" Kangen mas😘 ."


Banny hanya tersenyum getir,pesan WA Mona beberapa minggu kebelakang menjadi pesan singkat terakhirnya yang di kirim Mona melalu WA,dan kini pesan singkat itu tak ada lagi memenuhi ponselnya.


Kadang pesan singkat itu di anggapnya angin lalu bahkan terkesan di abaikannya,namun kali ini terasa sangat manis ia baca berulang-ulang kembali,ada candu yang tak bisa ia obati.


Dua pekan sudah dia tidak mendapati pesan dari Mona Banny merasakan sepi hatinya.Perhatian atau hal-hal kecil yang biasa ia temukan dari perempuan sederhana itu di anggapnya lebay bahkan berlebihan namun kini di anggapnya menjadi sesuatu hal yang indah setelah ia merasa kehilangan sosoknya.


Rasanya perasaan ini kian begitu menderu terkadang setelah segalanya telah tiada dan berlalu.Ah,Banny menelan ludahnya yang terasa pahit,perutnya yang tak terisi dari kemarin terasa melilit dan perih.Dengan gontai ia mendekati meja makan,menatap datar ke atas meja makan tersebut,Banny tidak menemukan apapun di atas meja makan tersebut,yang ada hanya ada dua toples kecil berisikan selai coklat dan nanas kesukaanya.


Dengan sedikit lunglai Banny akhirnya berjalan menuju kulkas lalu membukanya dan mengamati isi kulkas tersebut.


Tak lama ia mengeluarkan beberapa macam sayuran untuk membuat nasi goreng.Tapi saat tangannya membuka tempat masak nasi elektronik,laki laki berwajah ganteng itu terlihat lesu,ia tidak menemukan nasi rupanya dia lupa jika selama ini ia tidak pernah memasak nasi.


Banny garuk-garuk kepala.Delivery?kelamaan.Akhirnya dia memutuskan makan mie instan saja tanpa telor.


Tanpa seorang Mona dapur ini rasanya kehilangan ruhnya.Jangankan masakan kesukaanya,bahan makanan pun tidak ada,belum sebulan Mona pergi dapur ini sudah seperti kuburan,tak ada teriakan manja dari seorang Mona bahkan teriakan menawari sebuah menu makanan untuk dirinya,ah rasanya hilang semua perasaan ini.


Banny menghela dengan perasaan berat.


Banny menyeringai pahit,betapa tidak ia ternyata membutuhkan kehadiran seorang Mona dalam kehidupannya.


Banny mengaduk mie instannya dengan hati gelisah,dimana dirimu Mona,bantin Banny dengan hati yang semakin resah,bahkan hal sekecil ini pun membuatnya merasa kelimpungan,bahkan untuk urusan perut saja ia merasa kerepotan.


Pagi ini Banny menghabiskan sarapan paginya hanya dengan sebungkus mie instan yang rasanya seperti mie biasanya berbeda ketika Mona yang membuatkan mie instan ini yang terasa sangat berbeda rasanya entah di tambahin resep apa oleh Mona sehingga rasanya tak seperti mie instan biasanya.


Dengan sigap Mona selalu menyiapkan segala sesuatunya akan kebutuhan dirinya di pagi hari,tak terkecuali segelas susu hangat yang selalu tersaji untuk membuatnya terasa vit di pagi hari,Mona selalu memaksanya untuk meminum habis susu tersebut bak anak kecil yang akan pergi sekolah.


Banny tersenyum pahit semua kenangannya begitu nyata di matanya.


Banny merasakan mual dan keringat dingin hingga bercucuran,matanya berkunang dan berputar.


Banny merebahkan tubuhnya di kursi berusaha mengatur napas agar sedikit tenang.Tangannya mengapai sesuatu di sampingya dengan tangan bergetar dia mengetik sesuatu di layar gawainya.


" ### Mona,dimana kamu ?? Kembalilah." pesan terkirim.


Sayang centang itu tetap satu dalam hitam menjelaga tak ada notifikasi pesan masuk.Gawainya sunyi sesunyi hatinya,Mona benar-benar tak berponsel nomornya tetap tidak aktif.


Banny menghela deyut nadinya terasa melemah merasakan pergerakan semakin hebat di dalam perutnya dan setelah itu ia pun tidak ingat apa-apa lagi seluruh tubuhnya terasa dingin dan kaku.


Samar-samar bias cahaya terang masuk kedalam kelopak matanya Banny,perlahan Banny membuka sedikit demi sedikit matanya lalu menatap kesekeliling ruangan yang begitu asing baginya.


Banny merasakan ada sesuatu benda yang menancap kuat di tangan kanannya,perlahan ia pun menoleh ke arah sisi tersebut.Benar saja sebuah infus terpasang di tangannya.Rupanya dia baru sadarkan diri setelah tadi ia merasakan sesuatu yang hebat di dalam perut serta kepalanya.


Kepalanya sedikit masih berdenyut dan itu membuatnya sedikit meringis merasakan sakit yang tak biasa.


Kenapa ia berada di rumah sakit,siapa yang membawa dirinya ke tempat ini ?


pertanyaan demi pertanyaan berseliweran di benaknya.


" Mas !" panggil suara lembut membuyarkan seluruh alam sadarnya di tengah rasa sakit yang menderanya.


Banny tersentak berusaha mengenali suara yang memanggil dirinya dan ia berharap jika suara itu adalah suara Mona.


"Mona !!" desisnya meringis.


Banny menggeserkan bola matanya ke arah suara yang memanggilnya.


Namun sayang apa yang di lihatnya tak sesuai dengan harapannya.Di lihatnya Arnetta tengah tersenyum lembut ke arahnya,ada guratan kecemasan yang begitu dalam di hatinya.

__ADS_1


Banny segera mengalihkan pandangannya setelah tau siapa yang memanggilnya,begitu kecewanya setelah tau siapa yang memanggil dirinya.


" Sukurlah mas sudah sadar kan diri." ucap Arnetta bangkit ia mencoba untuk lebih dekat dengan Banny,namun sayang belum juga sempat gadis itu melangkahkan kakinya Banny berucap sinis kepadanya.


" Untuk apa kamu kesini ?? " tanyanya dingin.


" Mas,aku kesini mau minta maaf atas semua kesalahan yang aku perbuat,jujur saja aku telah ikut campur dalam urusan pribadi mu mas." ujar Arnetta terlihat sedih.


Banny mendecih dengan membuang pandangannya ke arah yang lain.


" Heh,Maaf mu tidak bisa mengembalikan semua ke adaan ini." balas Banny dengan sedikit meringis.


" Tapi mas,aku lakukan semua ini karena....." ucap Arnetta tak lantas.


" Sudahlah Arnetta,mas tidak ingin mendengar semua alasanmu lagi apapun itu alasannya,mas harap kamu tidak perlu menemui mas lagi." pinta Banny sedikit meringis menahan rasa sakit di kepalanya yang belum reda.


Arnetta menggigit birbirnya.


" Tapi mas, " sergah Arnetta kembali.


" Mas harap ini adalah kesempatan terakhir kamu untuk bertemu denganku,jadi tolong jangan temui mas lagi." ujar Banny dengan suara berat.


" Aku benar-benar menyesal atas perbuatan ini mas,tolong maafkan aku." ucap Arnetta memohon dengan deraian air mata,ia menyesali perbuatannya.


" Penyesalanmu sudah tidak berarti." jawab Banny kian sinis.


Arnetta terlihat menyeka air matanya yang semakin luruh membasahi kedua pipinya,ia sangat mengenal betul akan sosok seorang Banny yang begitu tegas dan sampai hati jika telah bersikap,namun itu semua ia lakukan hanya demi untuk mendapatkan cintanya,namun Tuhan berkata lain,semua rencananya berakhir dengan menyedihkan.


" Tolong tinggalkan mas sendiri." ujar Banny dengan nada bicara semakin sadis.


" Mas,aku melakukan semua ini karena aku begitu sangat menginginkanmu mas,aku mencintaimu melebihi Mona yang hanya di jodohkan oleh Om Wiguna.Mas harus tau itu." pekik Arnetta terlihat terluka.


Banny menelan kuat ludahnya,rasa nyeri di kepalanya kian menjadi-jadi mendengar ocehan gadis cantik tersebut.


" Berhenti berbicara dan tolong tinggalkan tempat ini." gertaknya semakin sadis.


" Mas !!" hela Arnetta penuh permohonan.


Bola mata pria tampan itu menyalang mengusir gadis cantik itu dengan tatapan yang begitu galak,Arnetta terdiam merasakan perasaanya kian perih,kini pria yang sejak lama ia cintai dalam diam membencinya akibat ulahnya sendiri.


Banny terdiam menikmati setiap inci rasa nyeri di kepalanya.


Tak berapa lama seorang Dokter masuk ke ruangan tersebut lalu memeriksa kembali kondisinya Banny.Arnetta masih terdiam entah kenapa ia merasa kaku untuk menggerakan tubuhnya,ia tak ingin beranjak dar tempat itu sebum Banny benar-benar memaafkannya,rasa bersalah sekaligus malu kian memenjarakan hatinya.


" Dokter,saya kenapa Dok ?" tanya Banny menatap lelah ke arah Dokter yang tengah memeriksa keadaanya.


" Sepertinya anda keracunan makanan yang sudah kadaluarsa sehingga menyebabkan kondisi kesehatan anda terganggu,untung saja mbaknya segera membawa masnya ke rumah sakit secepatnya,hingga segera di tangani,karena efek dari makanan tersebut cukup serius menganggu kesehatan masnya ." jelas Dokter itu menegaskan.


Banny melirik ke arah Arnetta yang masih menatapnya dengan perasaan cemas,haruskan dia berhutang budi atas kebaikan Gadis cantik itu yang telah menyelamatkan nyawanya,tapi tidak !!


Kebaikan itu sirna dengan keburukan yang begitu nyata di matanya.


Banny menghela,ia baru sadar jika ia barus saja sudah memakan mie instan yang tadi pagi ia masak,apa mungkin mie itu sudah kadaluarsa ? Ia tak sempat memeriksa kondisi mie tersebut,rasa lapar mengalahkan segalanya.


Banny menatap lemah perasaannya benar-benar tak berdaya,ia butuh sosok Mona yang selalu menjaga kebersihan serta kesehatan makananya.


" Baiklah sepertinya kondisi masnya sudah mulai membaik,semoga cepat pulih,untuk sementara masnya harus banyak istirahat dan lebih menjaga lagi pola makannya lebih teliti dalam memilih makanan yang siap saji,dan satu hal lagi jangan terlalu banyak pikiran,di rileks kan saja ya." ujar Dokter itu tersenyum penuh arti.


" Saya permisi dulu." pamit Dokter ramah.


Banny hanya mengangguk dengan tersenyum pasi.


Jangan banyak pikiran ??? Tentu saja hal ini yang membuatnya berani memakan mie instan tanpa memperhatikan kondisi mienya tersebut. Batin Banny seraya menatap langkah Dokter meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Ahh klasik sekali,ia tak mampu menjaga kesehatannya hanya karena memikirkan sosok seorang Mona.


__ADS_2