
AMEL mengangguk-anggukan kepalanya sepertinya ia memahami dari apa yang di ceritakan Mona,sementara Tamara hanya menarik napas panjang dengan perasaan penuh simpatik.
" Yang jadi pertanyaan gue,siapa orang yang ambil motoin kejadian itu,trus mengirimnya ke pak Bos,??" tanya Amel dengan bingung.
" Mas Banny bilang,jika Araslah yang mengirim semua foto-foto tersebut ke dia." jelas Mona pelan.
" Aras ??? Asisten kantor lo ?? memangnya dia punya nomor Wa pak bos ? " tanya Amel semakin penasaran.
Mona menggeleng pasrah,rasanya kepalanya terlalu sakit jika harus memikirkan hal itu.
" Atau jangan-jangan emang ada paparazi buat ngebuntutin elo,trus poto-poto itu sengaja dia ambil agar elo sama Boskul berpisah." sela Tamara membagi pandangan.
" Maksud elo ? " Amel menyeringah tak mengerti.
" Elo paham gak,jika semua ini ada sangkut pautnya dengan seseorang yang menyukai boskul,so ini adalah sebuah jebakan untuk memitnah Mona, seakan-akan kejadian ini nyata dan Mona melakukan perselingkuhan ?? " tungkas Tamara berupaya berasumsi.
Sejenak Amel berpikir,mencoba mencerna dari apa yang di sampaikan Tamara.
" Itu sih meurut opini gue." sela kembali Tamara dengan enteng.
" Tapi sejauh itu paparazinya mengetahui segala aktivitas si Mona hingga kepesta ??" tanya Amel menatap tak masuk akal.
" Orang jika sudah tidak suka,apapun akan di cari keberadaanya." ujar Tamara dengan pasti.
Mona menatap ke arah Tamara,matanya yang sudah bengkak terlihat masih basah.
" Sudahlah,kita pikirkan besok masalah ini,sebaiknya elo istirahat Mon,gue rasa elo butuh istirahat." sela Amel seraya mengusap-ngusap pundak Mona,memberi perhatian semaksimal mungkin,ia iba melihat ke adaan sahabatnya yang terlihat kuyu.
Mona terdiam dengan menyeka kembali air matanya,entah kenapa air mata itu seolah-olah tak mau berhenti keluar dari matanya.
" Mel,gak papa kan gue sementara ini tinggal dulu di tempat elo." ucap Mona parau.
" Lo mau tinggal selamanya disinipun gue gak akan keberatan Mon,percayalah gue tidak akan mempermasalahakannya." balas Amel tersenyum hangat.
" Tapi bentar lagi lo akan pindah Mel," ucap Mona dengan nada sedih.
" Ya kan gue pindah gak minggu ini,masih ada dua minggu lagi gue di Jakarta."
" Terus kalau lo pergi,gue ngadu ama siapa ?? " tanya Mona dengan polos.
" Ya elah Mon,gue emang bukan sahabat elo yee,tega bener gue gak di anggap." Tamara mendilak dengan perasaan keki.
Amel tekekeh melihat sikap Tamara.
" Bukan gitu Tam,maksud gue,kalau gue ada apa-apa gak mungkin gue lari ke rumah elo,disanakan ada ortu lo,gue gak mungkin ganggu orang tua elo dengan bermalam di tempat elo." jelas Mona.
" Yak elahh Mon,pintu rumah gue buat siapapun terbuka,tapi gak bisa bertamu malam malam juga sih," ucap Tamara seraya cengengesan.
" Yaa tempat yang paling ternyaman yaa Kontrakan gue." sambung Amel tersenyum lebar.Tamara berekspresi lain dengan membuang muka.
__ADS_1
" Udah yuk,gue ngantuk nih,lo istirahat Mon,gue takut kesiangan kerja, tar gue di mama mia show lagi ama pak bos,udah tau dia lagi emosi genting,liat anak buahnya kesiangan tar bisa-bisa gue kesambet omelannya." ujar Amel seraya berdiri.
" Lo tidur bareng Tamara aja,dia kan agak penakut." ucap kembali Amel seraya menguap.
Mona hanya mengangguk pelan,perasaanya belum bisa tenang hatinya lelah tak berkesudahan.
" Sudahlah,semua akan baik-baik saja,gue yakin pak Bos lagi kebawa emosi sehingga bersikap di luar kontrolnya." ujar Amel berusaha membesarkan hati Mona.
" Tapi enggak sampai nyerein gue Mel." Bantah Mona tak terima.
" Semua bisa terjadi ketika dalam ke adaan emosi." kembali Amel menekankan.
" Pasti ada solusinya Mon,jadi sekarang kita istirahat." ajak Tamara menarik tangan Mona yang enggan berdiri.
Dengan perasaan malas akhirnya Mona mengikuti ajakan kedua temannya walau hati dan perasaanya di situasi yang tak menentu.
----------------
Banny meremas kasar rambutnya ia menahan amarah yang tengah bergejolak di hatinya,betapa tidak gambar-gambar yang telah di kirim seseorang melalui ponselnya berhasil membuatnya murka.
Tanpa ingin mencari tahu lebih jelas atas kebenarannya justru Banny malah bertindak di luar batas,ia memilih mengambil keputusan benar-benar di luar kendalinya.
Mentalak Mona tanpa ampun hingga tega mengusirnya,baginya penghianatan adalah perbuatan yang tidak bisa di maafkan.Sulit baginya jika dirinya harus memaafkan kembali orang yang telah menghianatinya.
Banny terdiam dengan ego yang terus meguasai pikirannya,dirasa dia telah mengambil keputusan yang tepat mentalak bahkan mengusir Mona.
Entah kenapa bayangan Kinan seolah-olah muncul kembali seraya menertawakan dirinya.
Banny menatap frustasi,kenapa ia harus mendapati kembali cinta yang seperti ini,kembali di hianati ketika cinta itu bersemayang di hatinya,perasaan yang kian semakin dalam terhadap Mona.
Entah kenapa ia langsung mempercayai akan informasi yang di dapatinya tersebut,meski ia sendiri belum yakin akan kebenarannya.
Selintas ia teringat kata-kata Arneta sebelum ia memutuskan untuk pulang ke Apartemen ia sempat berbicara dengan Arnetta,gadis cantik itu tidak sengaja mengetahui kejadian tersebut dan alhasil gadis cantik tersebut tanpa di minta pendapat ia justru mengomentari permasalahan yang tengah terjadi.
( Jika perempuan mampu diam-diam menghianatimu mas,maka selamanga dia akan melakukan hal yang sama,bukankah kepercayaan itu sesuatu hal yang di butuhkan dalam sebuah hubungan,terlebih rumah tangga.) ujar Arnetta tandas.Entahh apa maksud dia berbicara seperti itu.
Banny masih ingat betul akan perkataan Gadis cantik tersebut.
Yaa Banny mendapati gambar-gambar tersebut tepat ketika meeting berlangsung,dan ketika itu Arnetta sang Sekertaris mengetahuinya secara pasti pesan singkat yang masuk ke ponselnya.
Banny menghela napas,rupanya ia membenarkan seluruh perkataan Sekertarisnya tersebut.
Banny bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mendekat ke arah kamarnya,ia memastikan jika Mona belum pergi dari Apartemennya selepas ia tinggalkan.
Pintu kamar terbuka dan diam-diam Banny berharap jika Mona tidak berani untuk pergi malam ini,namun nyatanya begitu ia melihat kedalam kamar suasana ruangan tersebut sepi,tak di dapatinya Mona di dalam kamar tersebut.
Banny mendekat ke lemari pakaiannya Mona lalu di bukanya daun pintu lemari tersebut,tak ada pakaian istrinya sehelai pun di dalam lemari tersebut,alat-alat kecantikannya pun terlihat kosong di atas meja riasnya.
Entah kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi gamang,mungkin kan Mona telah pergi ?? Lalu pergi kemana dia ??
Banny membatin seraya membagikan seluruh pandangannya ke seluruh ruangan tersebut.
__ADS_1
Banny mulai khawatir akan ke adaan Mona,akan tetap perasaan cemas itu tersingkirkan oleh sikap egoisnya yang kini berhasil menguasai pikirannya,ia tak ingin peduli dengan ke adaan istrinya tersebut,baginya penghianatan yang di lakukan Mona tak ubahnya seperti Kinaya,perempuan itu telah menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.
Tapi.....
Banny tercenung.
Tapi kenapa harus dengan Sultan ? Pria yang lima tahun lalu merampas cintanya kinaya darinya ???
Dan sekarang hal yang sama terulang.
Setega itukah Tuhan mengutuknya sehingga melibatkan kembali orang tersebut dalam kebahagiaanya?
Banny menggeleng,rasa nyeri di kepalanya terasa berdenyut keras.
Raut wajah pria tampan berwajah dingin itu kian murka.
Banny bertolak pinggang dengan sesekali meremas tengkuknya yang terasa pegal,kepalanya terasa berat dan entah kenapa dunianya kini berubah serumit ini?
Akan kah Sultan memiliki siasat lain untuk menghancurkan kembali kehidupannya? batin Banny kian meracau.
Untuk apa ??,
bukannya seharusnya yang merasa dendam itu dirinya bukan dia ??
Oh my GOD !!! Rutuk Banny menatap beci.Perasaannya kian campur aduk.
Dengan kasar ia menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk lalu terduduk dengan lemas,ke dua tangannya menangkup rapat wajahnya,amarah yang terbendung kian menyesakan dadanya.
Mona pergi sesuai perintahnya,ada penyesalan yang terselip di hatinya,namun ada amarah yang sedang membencinya.
" Aargggggg !!!" Teriak Banny seraya meracau,kesal marah serta cemas kian menjadi satu menjadikan amarahnya semakin berdinamika.
Ia meluapkan amarahnya dengan berteriak keras lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur tersebut,tubuh yang tegap itu terbaring dengan pasrah,tatapannya menerawang jauh ke langit kamarnya.
Biarlah untuk saat ini ia membiarkan dirinya larut dalam sebuah kekacauan yang tak terkendali.
BANNY meremas kasar rambutnya ia menahan amarah yang bergejolak di hatinya,betapa tidak gambar-gambar yang telah di kirim melalui ponselnya oleh seseorang dengan mengatas namakan Aras sang Asisten Mona berhasil membuatnya murka.
Tanpa ingin mencari tahu lebih jelas atas kebenarannya justru Banny malah mengambil keputusan di luar kendalinya.
Mentalak Mona tanpa ampun hingga tega mengusirnya,baginya penghianatan adalah perbuatan yang tidak bisa di maafkan.Sulit baginya jika dirinya harus memaafkan kembali orang yang telah menghianatinya.
Banny terdiam dengan ego yang terus meguasai pikirannya,dirasa dia telah mengambil keputusan yang tepat mentalak bahkan mengusir Mona.
Entah kenapa bayangan Kinan seolah-olah muncul kembali dengan menertawakan dirinya.
Banny menatap frustasi,kenapa ia harus mendapati kembali cinta yang seperti ini,kembali di hianati ketika cinta itu bersemayang di hatinya,perasaan yang kian semakin dalam terhadap Mona.
Entah kenapa ia langsung mempercayai akan informasi yang di dapatinya tersebut,meski ia sendiri belum yakin akan kebenarannya.
__ADS_1
Banny mengusap kasar wajahnya,cukup lama ia termenung memikirkan keputusan yang telah di ambilnya,meski ia tidak memperhatikan betul wajah Mona di saat ia