
MONA menatap ke luar jendela kaca mobil wajahnya terlihat sembab dan matanya mulai berkaca-kaca.
Apa yang telah terjadi antara dia dan sang bosnya itu cukup membuat ia semakin gelisah kenapa tidak selama ia menjadi seorang wanita dewasa untuk yang pertama kalinya ini ia merasakan sebuah ciuman yang telah membuatnya panas dingin dirasakan sekujur tubuhnya.
Selintas dalam pikirannya hal itu sering ia lihat di adegan serial drama korea kesukaanya dan terkadang efek dari adegan itu ia selalu membayangkan jika hal itu akan terjadi kelak bersama seseorany yang paliny ia cintai.
Namun semua itu di luar perkiraanya tanpa ada ikatan apapun sang atasannya itu berani menorehkan sentuhan yang tak akan pernah ia lupakan begitu saja dalam hidupnya.
Yaa....,Ciuman pertamanya mengantarkan perasaan cintanya terhadap sang Bosnya itu sekaligus kekasih sandiwaranya.
Pak Surya sekilas memperhatikannya di balik kaca spion ia menatap heran ke arah Mona yang sedari tadi larut dalam perasaan yang tak menentu antara bahagia dan kecewa.
" Bu Mona baik-baik saja ?" Tanya pak Surya menatap dari kaca spionnya.
Dengan cepat Mona segera menyeka air mata yang mulai meleleh ke pipinya.
" Tidak apa-apa pak,Saya baik-baik saja." Jawab Mona memalingkan wajahnya keluar jendela mobil.
" Tapi wahah bu Mona pucat ?" Tanya pak Surya dengan penasaran.
" Saya hanya gak enak badan saja pak,Makanya saya meminta pulang cepat." Jawab Mona tersenyum pasi.
" Oalah memang cuaca sekarang lagi tidak bersahabat,Bentar panas bentar hujan bikin sakit itu." Ucap pak Surya seraya fokus ke jalanan.
" Iya pak." Jawab Mona singkat.
Perlahan lahan ia mengeluarkan tisu dari dalam tasnya lalu menyeka pipinya yang terasa basah meski ia mencoba melupakan kejadian yang sudah meninpanya namun entah kenapa perasaanya tidak bisa di alihkan dengan begitu saja.
Sentuhan bibir Banny telah membekas di dalam hati yang paling dalam baginya perlakuan sang bosnya itu sangat mengena di hatinya betapa tidak selama 27 tahun ia menjadi perempuan dewasa inilah pertama kalinya ia merasakan sebuah ciuman yang telah membuatnya merinding tak karua.
" Oya bu Mona selamat yaa." Ucap pak Surya tiba-tiba membuyarkan lamunanya yang sedang larut dalam sebuah rasa yang begitu indah.
Ciuman baginya adalah sesuatu yang tabu namun entah kenapa sektika kata-kata itu hilang dari memory otaknya.
" Eeh iya pak.Kenapa ?" Tanya Mona dengan gugup.
" Ah bu Mona ini dari tadi melamun mulu sudah gak sabar ya nunggu hari H ?" Goda pak Surya seraya tersenyum senyum lewat kaca spionnya.
" Hari H ? Maksud bapak ?" Tanya Mona mengerutkan kedua alisnya.
" Bu Mona,Bu Mona ini saking nervouse ya menghadapi hari lamaran sampe gak fokus.Tapi emang gitu see bu apa lagi kalau nanti hari pernikahannya tiba,Duhh deg deg ser gitu deh perasaan." Ucap pak Surya sembari tertawa tawa kecil.
Mona melongo ia baru paham apa yang di maksud oleh pak Surya tetang lamaran dirinya dengan sang bosnya itu.
" Ohh...,,Bapak ni bisa saja." Ucap Mona seraya berpura-pura mesem.
__ADS_1
" Bu Mon !Saya tidak menyangka banget loh ternyata Pak Banny diam-diam suka sama bu Mona !." Ucap pak Surya dengan terus pandanganya lurus ke jalanan.
Mona terdiam dia hanya ngebatin dengan berbagai perasaan yang berkecambuk di benaknya.
Mona menatap ke arah kaca spion ia menyimak wajah pak Surya yang sedari tadi mengajaknya ngobrol dan yang topik utama obrolannya malah membahas atasannya itu,Dan kenapa pula pak Surya harus membahasnya di saat perasaannya lagi tidak menentu.
" Saya sii sudah bisa menebak pas bu Mona di ajak makan siang bersama pak Banny feeling saya sudah yakin jika pak Banny ada sesuatunya sama bu Mona." Ujar lagi pak Surya tanpa beban ia tidak memperdulikan kondisi Mona yang sebenarnya saat ini.
"Yaa sama-sama lelaki tentunya saya paham akan bahasa tubuhnya pak Banny hehee..," Lanjut lagi pak Surya tekekeh ia tetap tidak memperdulikan Mona yang sedang merasakan perasaan yang rumit akan hal yang sedang hadapinya.
" Mudah-mudahan pak Banny sama bu Mona langgeng ya ! saya do'akan bu !!." Lagi lagi ujar pak Surya mendoakan hubungannya dengan sang pemilik perusahaan itu tetap bersatu.
Mona menyeringah dengan polos dan ia pun tersenyum hambar ke arah pak Surya dengan terpaksa.Lalu ia sejenak terdiam namun mulutnya dengan repleks mengamiinkan apa yanh di ucapan pak Surya.
" Aamiin pak.Do'akan saja." Balas Mona melirik pak surya dengan perasaan ganjil.
Sejenak hening pak Surya kembali fokus kejalanan sementara Mona pikirannya kembali melayang ke hal ciuman pertamanya itu yang ternyata sudah benar-benar membekas di perasaanya dan sulit ia lupakan.
Beberapa menit kemudian Mona meminta pak Surya untuk berhenti di tepi jalan ia memutuskan untuk turun dari mobil pak Surya tidak untuk masuk sampai ke halaman rumahnya lalu ia pun memilih untuk berjalan kaki.
Setelah Mona keluar dari mobil lalu pak Surya pun tak menunggu lama lagi ia segera langsung meninngalkan Mona dengan gesit melajukan kembali kendaraanya tanpa menghiraukan Mona yang masih menatapnya hingga mobilnya hilang di tikungan jalan.
Mona menarik napas panjang lalu perlahan-lahan ia berjalan menuju rumahnya.
Desahan itu,Sentuhan itu dan tarikan lembut itu benar-benar tak mau hilang dari indra perasanya entah kenapa ia merasakan hal yang luar biasa dengan apa yang telah Banny lakukan terhadapnya.
Mona membuka matanya lalu ia meraba bibirnya dengan membayangkan kembali adengan saat Banny mencium bibirnya itu.
" Oh MY GOD !!, Yaa TUHAN !!" Pekiknya dengan penuh penekanan.
" Mona !!" Tiba-tiba sang nenek memanggilnya dari luar kamar cukup keras.
Mona menoleh ke arah pintu dengan tatapan pasrah.
" Mona kamu sudah pulang ?" Tanya lagi sang nenek mengetuk kembali pintunya.
Dengan perasaan malas Mona pun bangkit lalu menghampirinya dan membuka kunci pintu kamaranya dengan perasaan malas.
" Iya nek." Ucap Mona seraya melongo dari balik pintu.
" Kamu baik baik saja ?" Tanya sang nenek menatap dalam Mona.
" Mona tidak enak badan nek." Ucap Mona seraya membuka pintu kamarnya dengan lebar.
" Kamu sakit ?" Tanya sang nenek dengan cemas lalu sang nenekpun menerobos masuk ke kamarnya.
__ADS_1
" Kamu demam ??" Tanya Sang nenek semakin cemas lalu ia pun menyentuh dahi Mona dengan balik punggung tangannya.
" Badan kamu anget !" Ucap sang nenek cemas.
" Mungkin Mona hanya kecapeann saja kali nek." Ucap Mona seraya duduk di tepi ranjang.
" Kamu minum vitamin dong,Udah tau kamu lagi sibuk persiapan lamaran kamu harusnya kamu tuh lebih peduli dengan kesehatan kamu." Ucap sang nenek menyimak serius wajah Mona yang terlihat memerah.
" Gak apa apa nek,Lagian tadi Mona udah di periksa dokter ko di kantor dan itu cuman kecapeann saja." Balas Mona tersenyum kaku ke arah sang nenek yang masih menatap cemas.
" Oalah !!Terus obatnya mana ?,Udah kamu minum ?" Tanya sang nenek penuh selidik.
" Yah nek...!!! Mona lupa obatnya masih di Kantor." Ucap Mona berpura pura kaget seraya menepuk jidatnya sendiri.
" Tuh kan kamu selalu teledor." Ucap sang nenek dengan mimik kesal.
" Lupa nek." Jawab Mona dengan wajah memelas.
" Telepon Banny !" Ucap sang nenek singkat ia meminta Mona untuk menelpon Banny.
" Hah ! Untuk apa nek ?" Tanya Mona heran dan bercampur kaget.
" Minta anterin obatnya ke sini !"
" Nek,Banny lagi kerja hari ini ia sangat sibuk."Ucap Mona berusaha untuk mengalihkan perhatian sang nenek.
" Kesehatan kamu lebih penting di banding pekerjaannya." Ucap sang nenek menatap lurus Mona.
" Nenek,Nanti aku minta Amel bawain nek."
" Banny itu calon suami kamu,Kenapa harus Amel yang nganterin obat kamu sii?" Ucap sang nenek mulai kesal lalu ia pun mencari-cari gawai Mona.
" Nenek saja yang nelpon!Mana Hp kamu ?" Tanya nenek kian tegas.
" Nenek,Banny lagi kerja.Oke oke !Nanti Mona yang akan bilang." Ucap Mona menenangkan kekhawatiran sang neneknya.
" Beneran ??" Tanya sang nenek penuh selidik.
" Iya nenek sayang." Ucap Mona seraya merangkul manja sang nenek.
" Ya sudah kamu istirahat saja dulu ya,Nenek akan buatin sop kesukaan kamu ya." Ujar sang nenek seraya berdiri.
" Makasih ya nek,Mona sayang nenek." Ucap Mona seraya merangkul hangat badan sang nenek.
Sang nenek tidak menjawab ia hanya mengelus-ngelus kepala Mona dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1