CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 138


__ADS_3

MOBIL metalic itu berhenti di pelataran rumah megah yang berpagarkan besi teralis nan mewah,sepasang manusia yang baru saja terikat dalam pernikahan itu hanya saling terdiam semenjak mobil itu meninggalkan hotel,tak ada pembicaraan yang berarti.Karena Mona pun tidak ingin memulainya,entahlah.Ia merasa percuma berbicara dengan Banny yang akan membuatnya semakin down jika berdebat,lagi pula ia bingung harus membahas apa juga dengan pria dingin itu.


Seorang security membukan pintu pagar mewah tersebut dengan terpogoh-pogoh selanjutnya sang security itu membungkukan badannya dengan penuh hormat ketika mobil milik Banny memasuki pelataran rumah megah tersebut.


Mobil metalic itu terhenti lalu dengan bersamaan Mona dan Banny keluar dari mobil tersebut.


Setibanya di depan pintu,Banny menoleh Mona yang berada tak jauh di belakangnya.


" Ingat ya Mona,kamu jangan bersikap cuek dan kamu harus jaga perasaan papah ku !" Ucap Banny sebelum ia memasuki rumahnya tersebut.


Mona hanya merespon dengan anggukan kepala selanjutnya ia pun mengambil posisi berdiri di samping pria tersebut.


Pria tampan itu meraih tangan gadis itu lalu seterusnya di gengam jari-jemarinya tanpa ragu,bersikap seolah-olah mereka pasangan pengantin baru yang penuh cinta.


Mona terhenyak menatap dengan berbagai perasaan ke arah tangan pria itu yang kini sedang menggenggam erat jari-jemarinya.


No baperr ! Rutuknya membatin.


Pintu terbuka seorang pempuan yang usianya terlihat masih muda tersenyum menyambut kedatangannya dengan penuh hormat.


" Silahkan masuk tuan Aden !" Sapa perempun itu menyambut hangat kedatangan sang majikannya.


" Makasih bi !" Jawab Banny seraya berjalan masuk.


Mona menyimak betul sosok perempuan itu,bukankah perempuan ini yang semalam tadi yang di lihat di ruang rias ?


Mona mencoba memperhatikan dengan seksama perempuan yang mengenakan baju bercelemek renda-renda tersebut.


" Bi Lilis, papah lagi ngapain ?" Tanya Banny menoleh ke asisten rumah tangga nya tersebut.


Fixs !itu adalah perempuan yang kemaren malam membicarakan dirinya dengan teman satu profesinya.


Mona baru mengetahui jika Asisten rumah tangga Banny tak hanya bi Yayah saja melainkan dua orang perempuan semalam yang ia lihat pun ikut mengurus rumah semegah ini.


" Papahnya tuan aden sedang sarapan,baru saja saya selesai menyiapkan sarapannya dan tuan bapak sedang di temani sama bi Yayah den." Balas perempuan itu dengan penuh hormat.


" Obatnya sudah di siapkan juga ?" Tanya pria itu seraya melangkah kembali dengan terus menggenggam tangannya Mona.


" Bi Yayah sudah menyiapkan nya den." Ucap perempuan itu dengan membungkuk penuh hormat.


Gadis itu berjalan di belakang Banny dengan langkah pasrah sedikitpun tak punya selera untuk menolak ajakan pria tampan itu, sementara asisten rumah tangga yang bernama Lilis itu mengikuti langkah mereka dengan tatapannya menatap penuh selidik ke arah bahasa tubuh pasangan pengantin baru tersebut.


" Pagi pah !" Sapa Banny begitu tiba di ruangan sang Ayahnya.


Pak Wiguna yang berada di ruangan makan itu menoleh ke arah kedatangan putranya tersebut lalu tak lama Banny menghampiri pria tua itu lalu mencium tangannya dengan penuh hormat, lalu di ikuti Mona melakukan hal yang sama.


" Pagi Banny ! " Jawabnya singkat.


" Kamu sudah sarapan? " Tanya nya dengan semeringah.


" Sudah pah !tadi Banny sarapan pagi di hottel." Jawab Banny seraya menarik kursi dan mempersilahkan Mona untuk duduk,tak lama ia pun duduk tak jauh dari istri sandiwaranya tersebut.


" Kamu Mona ?" Tanya pak Wiguna mengalihkan pandangannya ke arah menantunya tersebut dengan tersenyum lembut.


" Saya sudah sarapan juga pah." Balas Mona dengan tersenyum sekilas.


" Kalian mau di buatkan teh ?" Tanya pria bijaksana itu dengan hangat.Sebelum Banny menjawab ia menggeleng terlebih dahulu.


" No pah,thank's !" Jawab Banny singkat


" Oya kalian ada acara apa hari ini ? apa kalian beminat pergi untuk honeymoon ?" Tanya pak Wiguna menatap keduanya dengan perasaan bahagia.


Mona dan Banny saling berpandangan satu sama lain mendengar pertanyaan sang Ayah yang cukup menimbulkan perasaan gelisah di hati keduanya.


" Hmmm...,sepertinya untuk saat ini kita masih memending acara bulan madu kita pah,mungkin hingga bulan depan nanti,soalnya masih banyak pekerjaan yang harus Banny selesaikan." Imbuh pria tampan itu menatap lurus sang Ayah.


" Yaa seharusnya kamu luang kan waktu sebentar saja untuk liburan berdua,apa lagi kalian baru saja menikah,jadi butuh beberapa hari untuk menikmatinya,dan itu kan tidak ada salahnya kan Ban,kalian butuh refresing sekaligus bulan madu juga." Ujar sang Ayah dengan wajah semeringah,entahlah kebahagiaan yang tak terlukiskan bagi seorang Wiguna dapat melihat putra kesayangannya tersebut akhirnya bersedia menikah dengan gadis pilihannya.


Mona hanya terdiam menyimak semua obrolan sang mertua dengan berbagai perasaan yang kian bergejolak di hatinya.Sesaat Banny menoleh dengan tatapan yang sulit di artikan ke arah gadis itu yang sedari tadi hanya diam menyerahkan sepenuhnya semua jawabannya kepada dirinya.


" Gimana kalau papah pesanin tiket untuk liburan kalian ke Bali ?" Usul sang Ayah mengejutkan mereka.


" Tidak usah pah !! " Sergah Banny repleks menolak penawaran sang Ayahnya tersebut.


Pak Wiguna menatap heran atas penolakan putranya tersebut yang secara spontan.


" Kenapa ? " Tanya nya dengan heran.


" Banny belum bisa bulan madu untuk saat ini pah,kan Banny sudah bilang jika Banny saat ini masih banyak pekerjaan yang harus Banny selesain kan,nanti Banny akan pilih waktu yang tepat untuk hal itu pah." Terang Banny dengan berusaha setenang mungkin.


Sang Ayah mengangguk-ngangguk,jawaban yang di beri putranya masuk di logikanya.


" Baiklah,tapi ingat jangan menunda terlalu lama,soalnya papah tak sabar juga ingin segera menimbang cucu dari kamu !" Ucap pria berwajah tenang itu dengan intonasi penuh ke bahagiaan.


Banny melirik kecil ke arah gadis yang duduk di sampingnya,gadis itu terlihat menahan perasaan ketidak nyamanan nya tersebut.


Mona tertunduk di rasanya sebegitu besarnya harapan seorang pak Wiguna untuk dirinya agar segera mendapat momongan dari hasil pernikahan dirinya dengan bosnya tersebut,padahal kenyataannya perceraian sedang menanti dirinya.

__ADS_1


Mona menghela merasakan perasaannya kian di liputi rasa bersalah atas sandiwara nya ini,tidak kah sampai hati jika dirinya harus memupuskan harapan kebahagiaan seorang pria yang begitu tulus menyayangi dirinya.


Hal yang sama di rasakan oleh pria tampan itu,menatap dengan perasaan bimbang ke arah dirinya.


" Oya Ban,jadi kamu mau tinggal di afartemen saja dengan Mona ?" Tanya sang Ayah mengalihkan pembicaraan.


" Sepertinya begitu pah,Banny sama Mona mau langsung mandiri saja.Iyakan sayang." Ucap pria itu seraya mengelus pundak sang sekertarisnya itu dengan lembut.


Mona membulatkan matanya setelah tangan pria itu sudah berada di atas pundaknya.


" I iya ." Jawab Mona dengan tersenyum hambar.


" Kenapa kalian tidak memilih tinggal disini saja bersama papah?rumah ini terlalu megah jika hanya papah yang menghuninya." Jelas pak Wiguna menatap penuh arti.


Banny menoleh ke arah Mona yang kian tertegun menatap tak berarah.


" Tidak pah ,Banny sama Mona sudah memutuskan usai menikah kita tinggal di afartemen." Ucap Banny dengan berusaha tetap santai.


" Baiklah kalau itu kesepakatan kalian,papah tidak bisa melarang,papah hanya bisa mendoakan semoga kalian bisa saling menjaga dan saling mencintai." Ucap pak Wiguna seraya menyudahi sarapannya dan menatap lekat ke arah putranya tersebut dengan sorot mata penuh harapan besar jika pernikahan putranya tersebut benar-benar bahagia.


" Makasih do'anya pah,semoga kita menjadi pasangan yang paling bahagia dan Mas Banny bisa mencintai saya selamanya." Mona menyela seraya membalas genggaman suaminya tersebut,lalu menatapnya dengan penuh isyarat.


Banny tercekat lalu menatap dalam ke arah wajah gadis itu,entah kenapa ucapan sekertarisnya itu terasa begitu keras menyindir perasaanya.Ada makna yang tersirat dalam ucapan gadis itu yang berhasil membuatnya terpana.


" Papah yakin jika Banny adalah sosok pria yang bertanggung jawab,dan papah tahu percis putra papah ini seperti apa." Ujar pak Wiguna dengan tersenyum penuh arti ke arah putranya tersebut.


Banny memesem berusaha untuk tersenyum manis,padahal perkataan sekertarisnya itu berhasil membekas di hatinya.


" Semoga pah,dan saya berharap tidak akan kecewa atas takdir TUHAN ini. " Ucap kembali Mona dengan sengaja ucapannya itu di pertujukan kepada pria yang sedari tadi raut wajahnya mulai berubah.


Pria tampan di sampingnya Mona merasa tertohok atas pernyataan gadis itu,terlihat dari ekspresinya ia tersenyum canggung dan tidak nyaman.


Mona sendiri bersorak dalam hati,menertawakan betapa lucunya ekpresi wajah tampan bosnya tersebut,ini adalah kesempatan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya yang selama ini tertahan dan secara kebetulan obrolan ini menjurus ke arah perasaanya.


" Laki-laki baik akan tercipta hanya untuk perempuan baik,makanya dari itu papah bersyukur kalian tak hanya bersatu lewat perjodohan melainkan ada campur tangan TUHAN,karena papah yakin jika kalian saling menyayangi." Ujar pak Wiguna terdengar berat ucapannya.


" Semoga kita tidak terpisahkan,bukan begitu sayang ?" Ucap Mona dengan penuh penekanan.


Banny lagi-lagi hanya bisa tersenyum tipis menatap semakin down setelah melihat sikap sekertarisnya itu yang terasa berani menyindir dirinya.entah lah memiliki ide darimana gadis ini mampu berbicara seolah-olah dirinya saling mencintai.


Tatapan Mona kian pasti saat sorot mata pria itu kian menatapnya dengan penuh tanda tanya atas aksinya yang di luar perkiraanya tersebut.


" Oya bi,obat papah mana ?" Tanya Banny berpura-pura mengalihkan pembicaraan saat tatapan Mona berhasil membuyarkan pertahanan perasaanya tersebut.


Bi Yayah dengan sigap menyodorkan obat bersama air putih kehadapan majikannya tersebut.


" Makasih bi." Ucap pria bijaksana itu tersenyum.


" Sami-sami Tuan." Balas pembantunya itu mengangguk pelan.


" Oya Ban,bagaimana kalau malam ini kalian tidur di sini ?nanti jika kalian sudah pindah tentunya kalian akan jarang untuk main ke rumah ini lagi." Ucap pak Wiguna seusai minum obat menatap dalam sang putra tersebut.


Sontak Mona dan Banny terkejut ketika sang Ayah sekaligus mertuanya itu meminta mereka untuk bermalam di kediamannya.Mona dan Banny kembali saling berpandangan satu sama lain,sorot matanya terlihat saling menatap ragu.


" Kali ini saja ya !" Ucap pak Wiguna mengiba.


Banny menarik napas panjang lalu menghempaskannya dengan penuh pertimbangan.


" Baik lah !" Jawabnya singkat seusai berpikir panjang atas permintaan sang Ayahnya tersebut.


" Bi yayah tolong cek kembali kamar putra saya sudah di rapihkan apa belum ? " Ucap pak Wiguna menoleh pembatu seniornya itu.


" Sudah tuan.Kemaren sudah saya persiapkan semuanya." Jawab bi Yayah dengan sigap.


" Bi yayah sudah mempersiapkan semuanya ?" Tanya pak Wiguna menatap penuh isyarat.


Banny sedikit mengernyit atas sikap sang Ayahnya yang berbicara penuh isyarat ke arah pembantunya tersebut,seolah-olah mereka sedang menyiapkan sesuatu yang spesial untuk dirinya.


" Ada apa sih pah ? " Tanya Banny dengan penasaran.


" Gak ada apa -apa Ban,papah hanya menyiapkan tempat tidur buat kalian,pastinya dengan sangat spesial, karena papah senang kalian bisa bermalam di sini yaah walaupun itu cuman satu malam saja." Ujar sang Ayah menatap bahagia.


Kembali Banny menoleh Mona dengan perasaan yang kian tak menentu,sebegitu spesialnya sang Ayahnya memperlakukan dirinya beserta sekertarisnya itu hingga sang ayah terlihat begitu antusias akan pernikahan dirinya tersebut.


" Oh ya bi,saya mau ke kamar mandi sebentar,boleh saya minta di antarkan ?." Ucap Mona menoleh bi Yayah.


" Oh iya neng,silahkan." Balas bi Yayah bersedia.


" Permisi pah,saya ke kamar mandi dulu sebentar." Pamit Mona seraya beranjak.


Pak Wiguna hanya mengangguk penuh


Banny terdiam menatap gadis itu yang mengikuti langkah pembantu nya itu menuju ke kamar mandi.


" Banny !" Panggil sang Ayah menghentikan pandangannya.


" Iya pah ?" Ucap Banny menoleh sang Ayah.

__ADS_1


" Gimana dengan pekerjaan Mona ?"


" Sepertinya Banny tidak akan membatasi ruang gerak Mona untuk tetap bekerja pah.


" Tapi,alangkah baiknya jika Mona berhenti kerjanya dan fokus ke hidupaj kalian agar dia bisa program secepatnya.


Sontak Banny terhenyak mendengar usulan sang Ayahnya tersebut.


" Tapi pah,Banny masih membutuhkan Mona di perusahaan ini,karena Banny rasa dia sangat kompeten serta profesional,Banny belum kepikiran jika Banny harus mencari penggantinya Mona, dan sepertinya itu sangat sulit Banny temukan kriteria seperti Mona." Jelas Banny berusaha untuk menolak usul sang Ayahnya tersebut.


" Tapi peraturan perusahaan tidak bisa di langgar,sekalipun kamu Direktur perusahaan kamu wajib mengikuti peraturab yang ada,dan jika kamu menikah dengan salah satu staff perusahaan yaa resikonya salah satu harus di mutasi,bukan kah seperti itu aturan yang kamu buat sebelumnya.Jadi kamu harus konsekwen dengan segala pelaturan yang berlaku di perusahan papah." Jelas pak Wiguna menatap dengan tatapan sempurna.


Banny tertegun menatap tak berdaya,ia tak sampai hati juga harus menghentikan Mona dari perusahaan nya tersebut,hal ini akan membuat Mona semakin terintimidasi olehnya,tak hanya harus kehilangan perasaanya tentunya masa depannya pun akan terancam hilang dari kehidupannya tersebut,dilema kian meronrong perasaanya saat ia harus memilih pekerjaan gadis itu atau kah perasaanya.


" Jadi sebiaknya Mona berhenti dari pekerjaanya dan fokus ke hidupan rumah tangga kalian." Ujar kembali sang Ayah.


Banny menatap dalam resah ke sang Ayah dengan perasaan kian gamang tak terelakan.


" Akan Banny pikirkan kembali pah." Balas Banny dengan nada bicara semakin tertahan.


***********


Mona menatap sosok dirinya di dalam cermin bibirnya menyunggingkan senyuman yang khas.Wajahnya yang bulat dengan kulit wajah yang putih mulus,meski ia tak pernah menggunakan skincare mahal tapi dalam merawat kecantikan kulit Mona lebih sering menggunakan perawatan yang alami,dan alhasil kulit wajahnya terlihat bersih,jika ada lalat atau nyamuk kebetulan mendarat di pipinya tentunya akan kepelet karena mereka gagal landing di pipi glowingnya gadis tesebut.


Dia rasa dirinya tak sejelek apa yang ada di pikirannya,terkadang dirinya suka merasa insecure dengan ke adaan dirinya,padahal jika dirinya memiliki uang lebih dan perawatan wajahnya bisa jadi ia pun terlihat cantik.


" Lo memang cantik Mona,meski memang elo tak secantik Kinaya dan Arnetta,tapi setidaknya pria sekelas Zeanu dan Angkasa menaruh simpatik terhadap elo." Seru Mona memuji dirinya sendiri.


Jika di pikir-pikir,itu bukan sebuah kebohongan jika Mona mengatakan dirinya cantik,Mona memang memiliki faras yang manis,perlu di garis bawahi.Jika dirinya berparas wajah manis. bulu matanya yang lentik dengan lesung pipi menghiasi di kedua pipinya,membuat sangat manis jika ia tersenyum ,dan bersiap-siaplah semut serta serangga lain akan mengantri menggerumutinya hee heee....


Apa lagi mata belonya bulat sempurna,karena tatapan mata bulatnya membesar makan sorot matanya telihat begitu polos tak ayal bikin gemas setiap orang melihatnya.


Puas memperhatikan dirinya di cermin lalu ia pun mengedarkan pandangannya ke sekililingnya seraya mengikuti insting ketertarikannya atas surpice yang di buatkan mertuanya tersebut telah mendekorasi cantik kamarnya tersebut layaknya kamar pengantin.


Kamar itu luas untuk sekedar kamar tamu,interior yang ditawarkan juga lengkap dan menarik kalau di lihat megahnya rumah ini wajarlah kamar seluas ini.


Kamar yang di suguhkan dengan warna putih mendekati krem itu cukup memanjakan kamarnya.


Mona terlihat antusias saat melihat bunga mwar putih bertaburan di atas tempat tidurnya tersebut membuat dirinya ingin segera menjatuhkan tubuhnya tersebut di atas kasur empuk tersebut.


Mona perlahan berjalan mengitari tempat itu menyentuh lembut setiap kelopak bunga yang terhampar,seandainya ini adalah pernikahan yang sesungguhnya maka ini akan menjadi kebahagiaan tersendiri.


Mona terhentak saat telinganya mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.Namun setelahnya gadis itu di buat tercengang atas matanya menatap ke arah Banny yang baru saja dirinya selesai mandi,rambutnya yang basah serta acakan-acakan membuat pria itu terlihat lebih tampan dari biasanya.


Kata tampan saja tak cukup baginya untuk mendeskripsikannya.


Kali ini bosnya itu sangat,sangat dan sangat tampan dengan rahang yang tajam bulu jambang yang baru di cukur itu menjadikan pria itu semakin terlihat seksi,sorot matanya yang tajam nyaris menyerupai tatapan elang,sangat tajam sehingga di segani oleh lawan yang melihatnya.


Oh jangan lupakan tubuh atletisnya yang tercerak di baju oblong berwarna putih tersebut,membuat Mona tanpa sadar mengigit bibir bawahnya,akal sehatnya mulai tenggelam di bawah alam sadarnya.


Ahh rasanya ia tak mampu juga jika harus setiap hari bahkan setiap menit melihat pesona bosnya tersebut,bohong saja jika perasaanya bisa menolaknya.


Banny menatap aneh ke arah Mona yang masih menatapnya panjang.


" Apa yang kamu lihat ?" Tanya Banny dingin membuat Mona tersadar dari lamunan erotisnya.


" Ti tidak ada !" Ucapnya dengan pelan,entah kenapa ia mendadak gugup begini ?


Banny mengacak-ngacak kembali rambutnya dengan handuk lalu berjalan mendekati Mona.


Gadis itu kembali di buatnya gerogi saat pria tampan itu semakin mendekatinya.


" Akting kamu bagus,dan berhasil membuat papah semakin yakin jika kita saling mencintai." Masih dengan tatapan tajam Banny melanjutkan ucapannya.


Mona tersentak setelah Banny membahas sikapnya tadi siang terhadap dirinya.


" Bukan kah itu yang bapak minta,saya harus bersikap baik." Sergah Mona dengan cepat mengalihkan pandangannya.


" Tapi bukan berarti kamu memberikan opini jika kita saling mencintai."


Dekkk !!


Seperti ada benda keras menghantamnya.


" Jadi bapak keberatan ?" Ucap Mona memberanikan diri menatap kedalam mata pria tampan itu.


Sejenak Banny terdiam membalas tatapan gadis itu.Bola matanya terlihat berwarna coklat dan tatapannya sangat cermerlang.


" Saya hanya totalitas saja dalam sandiwara ini,jika saya tidak menimpali ucapan bapak anda,maka bersiaplah bapak anda akan bertanya-tanya dengan sikap dingin saya." Ucap gadis itu dengan tegas.


Banny menghela lalu mengalihkan pandangannya,apa yang di katakan sekertarisnya itu di rasa benar,ia selalu memintanya bersikap baik terhadap Ayahnya agar sandiwara ini terlihat lebih natural.


" Tapi aku mendengar apa yang kamu ucapkan itu sepertinya keluar dari apa yang sedang kamu rasakan." Ucap pria dengan tesenyum sinis.


Mona terdiam,tebakan bosnya tersebut mengena di hatinya rasanya ia memang mengakui hal itu,jika dirinya benar adanya berharap lebih dari sosok seorang Banny.


" Yaa fer-feran saja,jika perasaan itu sulit untuk di bohongi,dan saya paling benci jika harus berpaling dari perasaan diri sendiri,yaa tidak munafiklah jika perasaan saya cukup terbawa dengan sandiwara ini.Berani mengakui bukan hal yang memalukan bukan ?" Ujar gadis itu dengan penuh penekanan,perlahan ia pun menjauh dari pria tampan itu dan memilih duduk di tepi tempat tidur.

__ADS_1


Banny menghela menatap dengan perasaan yang tak bisa lagi di sebutkan dengan kata-kata,dan lagi-lagi ucapan gadis itu terasa kembali menohok ulu hatinya.Ya gadis ini berkali-kali membuatnya bungkam tak lagi bisa menjawab pernyataan sekertarisnya tersebut.


__ADS_2