
MONA terlihat termenung seorang diri ia menatap kosong ruang kamar sahabatnya itu,terlalu lama ia tinggal bersama sahabatnya itu membuatnya merasa tak enak hati,ia tak mungkin akan terus tinggal bersama sahabatnya dalam jangka waktu yang lama,ada baiknya ia untuk berterus terang kepada neneknya jika pernikahannya akan segera berakhir,ia tidak ingin menanggung beban ini terlalu lama.
Mona menghela napas panjang,ia harus berani untuk mengambil keputusan ini,bersikap tegas atas sikap yang telah Banny tunjukan kepada dirinya,tak ada lagi harapan untuk bisa ia nantikan dari sosok pria yang ia cintai secara mati-matian,terkadang ada kalanya ia harus melepaskan segala sesuatu yang di miliki dari gengamannya walaupun itu menyakitkan tapi inilah takdir yang harus ia terima.
Seluruh pengorbanannya hilang tak berbekas,kini Mona hanya memiliki rasa penyesalan yang begitu amat dalam,satu-satunya kebodohan yang ia sesali adalah tentang perasaanya yang begitu dalam mencintai seorang Banny tapi nyatanya pria berwajah tampan itu mencintainya tak sedalam itu,pria itu tak ingin mendengarkan seluruh kebenaran yang terjadi,justru ia mempercayai sepenuhnya atas kejadian yang terjadi antara dirinya dengan seorang pria.
Sakit,jika mengingat perkataannya atas tuduhan yang begitu sadis terhadap dirinya hingga berakhir sebuah penalakan,yaa Banny sampai hati menalak dirinya secara membabi buta.
Hidup memang tak selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan,tapi hidup harus terus berjalan tanpa mau tahu dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kita.
Mona menelan panjang air liurnya,apapun yang terjadi tekadnya sudah bulat,tak ada alasan apapun untuk dirinya berpisah dengan Banny.
" Mon ,!!" suara panggilan membuyarkan lamunanya.
Mona menoleh lalu dengan cepat ia segera menyeka air matanya yang tak terasa mulai basah di pipi.
" Lo nangis lagi ?" tanya Amel seraya duduk di samping Mona.
Mona menggeleng dengan tersenyum rapuh.
" Mel,sepertinya gue harus segera mengundurkan diri dari perusahaan nya mas Banny." ujar Mona segera mengalihkan pembicaraan.
" Lo akan cari kerja yang lain.. ?" Amel menatap iba.
" Ya,gue gak mungkin akan terus bekerja di cabang perusahaan nya mas Banny,tak ada lagi yang harus gue pertahankan darinya,gue akan lepas semuanya." ucap Mona tersenyum kecut.
" Elo yakin ? " Amel memastikan dengan ragu,bagaimanapun juga ia menaui jika perasaan Mona begitu dalam mencintai Banny.
Mona menoleh sahabatnya tersebut,lalu mengangguk dengan penuh keyakinan,Amel menarik napas panjang lalu menatapnya dengan perasaan penuh sesak di dadanya.
Akhirnya Mona menyerah pada keadaan ini.
" Tak ada lagi hal yang harus gue pertahankan dari apa yang selama ini gue agungkan,gue akan memulai kehidupan baru tanpa ada bayang-bayang pria itu ,semoga saja keputusan ini adalah keputusan terbaik gue." ucap kembali Mona dengan di seringi senyuman hampa.
" Gue berharap seperti itu." balas Amel tersenyum getir,ia merasakan apa yang di rasakan sahabatnya tersebut.
" Hmm Besok gue mau pulang ke rumah nenek gue Mel sepertinya gue harus segera menjelaskan semua ini,gue tidak bisa memendam permasalah ini terlalu lama,gue tidak ingin berkorban apapun untuk orang lain yang nyatanya tak sungguh-sungguh mencintai gue." imbuh Mona menatap penuh sahabatnya.
" Jika itu yang terbaik,gue akan dukung.Gue akan selalu mensuport semua keputusan lo." ucap Amel tersenyum bijak.
" Makasih banyak ya Mel lo dan Tamara udah begitu baiknya sama gue hingga gue gak tau harus membalas apa buat lo berdua," ujar Mona dengan tersenyum tak berdaya,ada perasaan haru yang tak bisa ia ucapkan dengan sekedar kata-kata,kebaikan sahabatnya itu begitu besar di kehidupannya dan tak mudah memang ia mendapatkan sahabat sehebat kedua sahabatnya yang selalu ada untuk dirinya.
" Lo gak usah ngomong gitu,gue maupun Tamara tak hanya sekedar sahabat buat elo,melainkan lebih dari sahabat,apapun yang gua lakukan dan selama itu gua mampu gue pasti akan lakukan yang terbaik buat sahabat-sahabat gue." ujar Amel dengan sedikit melo.
Kali ini Mona melihat sosok Amel begitu melankolis,sosok yang selalu bersikap tegas bahkan sedikit arogan kini lenyap seketika,ia begitu terlihat rapuh.
Mona merangkulnya dengan hangat,Amel mengusap punggung Mona dengan lembut.
__ADS_1
" Makasih banyak yah mel." ucap Mona dengan suara mulai bergetar,ia terharu atas sikap sahabatnya tersebut.
Amel tak pernah berubah hingga saat ini.
Amel melepaskan pelukannya Mona dan tersenyum dengan perasaan tak biasa,matanya terlihat berkaca-kaca ia semakin tergugu dalam rengkuhan tangannya.
Mata Banny terpaku terhadap seseorang yang tengah berjibaku dengan pekerjaanya di salah satu ruangan terpenting di perusahaan cabang perusahaanya,di depan pintu yang bertulisan Manager Banny berdiri mematung dengan berbagai perasaan berkecambuk di hatinya,ia berharap di dalam ruangan tersebut Mona datang menyambut seperti biasanya.
Pria tampan berwajah dingin itu tengah merapihkan seluruh debaran dadanya ia berusaha mengumpulkan semua nyalinya untuk menemui Mona yang nyaris dua minggu ini tak ada kabar.
Dia akan datang menjemputnya dan memohon maaf atas kesalahannya selama ini
Banny membuka perlahan pintu ruangan tersebut,namun begitu daun pintu itu terbuka lebar di dapatinya Aras sang Asisten Mona tengah sibuk merapihkan beberapa lembaran map di atas meja milik Mona.
Aras terlihat terkesiap mendapati pintu ruangan tersebut terbuka begitu saja dan di lihatnya Banny tengah berdiri di ambang pintu dengan menatap dingin.
Aras terlihat menghentikan kegiayatannya dengan sikap sedikit gamang.
" Apa yang kau lakukan di ruangan ini ?" tanya Banny menatap beku.
" Gue hanya sedang merapihkan ruangan ini saja." balas Aras berusaha untuk lebih rileks
" Mona mana ? " tanya Banny sedikit lantang.
Aras terdiam menatap bingung.
" Sorry Bann,Mona sudah beberapa hari ini tidak ada di kantor,dia sudah mengundurkan diri dari perusahaan ini." jelas Aras terlihat ragu dalam menyampaikannya.
Banny tercengang mendengar pernyataan Aras mengenai Mona yang telah mengundurkan diri dari perusahaanya tanpa sepengetahuanya,tentu saja masalah ini adalah kuasanya,Mona tidak bisa mengambil keputusan sembarangan dalam hal pekerjaan ini,Banny menggeleng sepertinya ia tidak mempercayai ucapannya Aras.
" Jangan bermain cakap dengan ku,jelas saja kau sedang mengalikan semua alasanmu ini." gertak Banny mulai jengkel.
" Untuk apa gue mengalihkan permasalahan ini,Mona sudah tidak bekerja lagi di perusahaan ini,dan ini adalah surat pernyataan pengunduran dirinya dia." ucap Aras memperlihatkan sebuah amplop berwarna putih ke hadapan Banny.
" Kenapa kau tidak langsung menghubungi pihak perusahaan." cetus Banny mulai terlihat emosi.
" Mona meminta gue untuk tidak memberi tahu lo atas permasalahan ini,dan ia meninggalkan surat pengunduran ini untuk gue kasih kepada lo jika lo datang ke perusahaan ini." jelas Aras tenang.
" Di sini gue berwenang atas kekputusan-keputusan serta kebijakan-kebijakan perusahaan,jadi kau tidak berhak menngikuti perintahnya Mona,dia hanya sekedar manager di perusahaan ini." sergah Banny dengan ucapan sedikit kasar.
" Soryy Ban,gue tidak ingin memperkeruh masalah anatara lo dan Mona,tapi gua berusaha untuk menjaga perasaan Mona istri lo." jelas Aras berusaha untuk sedikit bersabar menghadapi sikap Banny yang terlanjur sudah membencinya.
Wajah pria tampan itu menyeringai sinis,sekalipun Aras berkata benar ia tak ingin mempercayainya.
" Tau apa kau atas permasalahan gue dengan Mona !" ujar Banny gusar.
Aras menarik napas panjang,perasaan dendam yang dimiliki Banny terhadapt dirinya kian terasa rumit,sukar untuk dirinya menjelaskan jika dirinya telah bertekad baik untuk memperbaiki kesalahannya di masa silam,tapi nyatanya Banny tetap membencinya hingga tidak memberi ruang untuk sebuah kata maaf di hatinya.
__ADS_1
" Gue akan memberi tahu lo yang sebenarnya tentang foto-foto itu." ujar Aras menatap dalam Banny.
Banny tersenyum sinis,ia menatap penuh cemooh ke arah pria berpenampilan nyentrik tersebut.
" Kau mengetahui semuanya,karena semua kericuhan ini justru kau yang buat,benarkan ?" tuduh Banny menatap begitu tajam.
Aras menggeleng menatap dengan berbagai perasaan.
" Kau tidak perlu berubah menjadi pahlawan kesiangan." cetus Banny cukup tajam
" Banny dengarkan gue plis !! yang mengirim semua foto-foto itu bukanlah gue.Gue sama sekali tidak tahu nomor Whatsapp lo,percayalah gue tidak ada niat untuk menghancurkan hubungan elo dengan Mona,semua kesalahan yang pernah gue perbuat gue akan menebusnya dengan pekerjaan gue saat ini." ujar Aras terlihat bersungguh-sungguh.
" Perlu lo ketahui,ketika insiden itu terjadi posisi gue berada tepat di belakang Mona,mana sempat gue foto-foto,sedangkan kedua tangan gue dalam keadaan membawa makanan dan minuman,ayolah percayalah! Gue tidak sejahat itu !" jelas Aras terlihat begitu yakin.
Banny terdiam,apa yang di katakan Aras sama percis dengan dikatakan Mona melalui surat yang di tinggalkanya,dan kebenaran itu pun di ungkap oleh Amel sahabatnya Mona.
Sejenak Banny terlihat termenung,pikirannya semakin rumit,ia mencoba mempertimbangkan kesaksian Aras tentang insiden kecil yang menyebabkan dirinya menalak Mona.
" Gue yakin,ini semua adalah jebakan,bisa saja ada seseorang yang tengah menjebak Mona istri lo Ban,semua media sosial menyoroti hal ini." jelas kembali Aras.
Banny menatap penuh laki-laki tersebut,apa yang di katakan Amel hampir sama dengan perkataan Aras.
" Kau pikir gue mempercayai omongan lo ? Sedangkan lo bersama Sultan berada di satu tempat,bisa jadi lo berdua yang melakukan jebakan ini." kembali Banny menuduh Aras dengan keji.
Aras menggeleng,berhadapan dengan seorang Banny bukan lah yang mudah,selain Banny memiliki karakteristik keras kepala,Banny juga memiliki sikap antipati,ia tidak mudah mempercayai ucapan seseorang.
Aras menghela napas panjang ia benar-benar harus ekstra bersabar menghadapi mahluk yang ada di hadapannya itu.
" Ok,perlu lo ketahui,jika hubungan gue dengan Sultan sudah tidak baik-baik saja,semenjak pernikahan Kinaya berakhir dengan Sultan hubungan gue pun dengannya merenggang hingga saat ini." jelas Aras detail.
Banny menatap tak percaya,apa yang di katakan Aras baginya hanya sebagian drama saja.
" Terserah elo tidak mempercayai apa yang gue katakan,tapi satu hal yang harus lo ingat,setiap manusia pasti akan memiliki sisi baiknya,semua bisa berubah kapan saja." ujar Aras pelan namun mampu menohok hatinya seorang Banny.
Banny terdiam dengan semua kekisruhan di dalam hatinya,isi kepalanya terasa penat.
Entah kenapa apa yang di sampaikan Aras sedikitnya mampu mengurangi krisis kepercayaan nya selama ini.
Banny tersadar jika selama ini ia telah terhasud oleh semua opini seorang gadis cantik yang selalu menahannya untuk mencari kebenaran,yaa siapa lagi kalau bukan Arnetta,perempuan itulah yang selalu diam-diam menahan hatinya untuk mencari sebuah kebenaran tentang istrinya.
" Ini surat pengunduran diri gue beserta Mona,gue harap elo tidak berburuk sangka lagi terhadap gue !" ujar Aras seraya mendaratkan dua amplop di atas meja yang ada di hadapan Banny.
Banny seketika terhentak mendengar Aras ikut mengundurkan diri dari cabang perusahaanya tersebut.
" Sorry Ban,keputusan yang gue ambil saat ini tidak ada sama sekali sangkut pautnya dengan permasalahan lo dengan Mona,jusru gue mengundurkan diri karena gue ingin menyelamatkan pernikahan lo dengan Mona,Mona tidak seburuk apa yang lo pikirkan,dia hanya korban jebakan" jelas Aras dengan nada bicara tak biasa,ia menekankan bahwa dirinya benar-benar tidak melakukan hal yang buruk terhadap hubungannya dengan Mona.
Banny menelan kuat slavinanya,ia menatap tak percaya sungguh ini adalah kesalahan yang tak di sadarinya,wajah tampannya terlihat layuh tak bereaksi menatap dengan perasaan rasa bersalah,selama ini ia benar-benar telah melakukan hal yang begitu bodoh.
__ADS_1
Aras berjalan melewatinya membiarkan Banny larut dalam kesalahan sekaligus penyesalan yang tiada artinya,seluruh denyut nadinya terasa terhenti,menghantarkan hatinya ke sebuah kehancuran yang tak pertepi,peluang untuk membawa kembali Mona kepelukannya sepertinya sangat lah tipis,ia sendiripun tak tau Mona berada di mana saat ini.