
MONA perlahan lahan membuka gagang pintunya dan menjuurkan kepalanya kedalam ruangan Banny.
" Permisi Pak..!" Sapa Mona dengan tersenyum ragu ke arah Banny.
" Sudah siap ?"
" Maaf Pak !!Barusan pak surya mendadak ke rumah sakit Ia tidak bisa mengantarkan kita,di karenakan Anaknya masuk rumah sakit.."
" APA !! kok bisa mendadak seperti ini..?" Tanya Banny terlihat terkejut.
" Saya kurang paham juga pak soalnya ketika saya telpon dia sudah pulang ."
" Ok.Coba kamu telpon Ridwan dia lagi ada kerjaann tidak ?" Ucap Banny dengan terlihat gusar.
Monapun dengan cepat menghubungi sopir cadangannya dengan sigap.
" Gimana ??" tanya Banny menatap tajam
" Dia lagi keluar juga pak mengantarkan Pak menejer keluar soalnya ada pertemuan. " Ucap Mona dengan terlihat ketakutan ia merasa mulai menangkap sinyal sinyal menjengkelkan dari raut wajah sang Bosnya.
" Ok !! Kalo begitu kita berdua saja !! " Ucap Banny sembari berdiri lalu membetulkan kancing Jas bajunya Mona menunduk dengan suara Batinnya.
" Gawat... !! Semobil cuman berdua duhh nasib gue Gimana ini ??" Teriak batin Mona semakin menjadi jadi.
" Kenapa kamu masih diam saja, ?Ayo nanti keburu siang dan macet !! " Ucap Banny mendengus kesal kearah Mona yang terlihat masih bengong sendirian.
" Baik pak.baik ! " Ucap Mona dengan cepat cepat bergegas mengikuti langkah Banny.
Beberapa Menit kemudian Banny dan Mona sudah terlihat berada di dalam Mobilnya.
Mona terlihat duduk dengan pasrah di samping Banny yang sedari tadi diam tidak mengajaknya ngobrol.
" Id cart kamu mana ?" Tanya Banny iba tiba memecah kesunyian.
Mona sedikit terkejut tatkala Banny bertanya tentang Id cartnya.
" Maaf Pak sudah beberapa hari ini Id cart saya hilang saya lupa naro.."
" Saya paling tidak suka melihat orang yang teledor.."
" Tapi saya benar benar lupa pak, Bukan maksud untuk teledor.." Bantah Mona dengan sedikit merengut.
" Ambil di laci mobil saya !! lain kali jangan sampe terjatuh lagi.."
" Maksud bapak ?Bapak menemukan Idcart saya ??" tanya Mona dengan Menatap polos Banny di sampingya.
Banny menatap gusar ke arah Mona yang masih menatapnya.
" Id cart kamu terjatuh di mobil saya untung saya berbaik hati untuk menyimpannya tidak nyuruh kamu urus yang baru.." Ucap Banny dengan nada jutek.
" Aduhh !! Maksih banyak Pak.."Ucap Mona sumeringah dan diapun menatap lurus pandangannya ke arah jalanan.
Banny menoleh ke arah Mona dengan menatap acuh tak acuh seolah olah ia tidak mau kalo dirinya sedang mencuri curi pandangan ke arah sekertarisnya.Mona memang terlihat cabby dan menggemaskan pipinya yang bulat dan dagunya yang runcing memberikan kesan kecantikannya memang apa adanya. Jauh berbeda dengan penampilan sang Sekertaris lamanya.Lalu Banny tersenyum tipis menatap ke luar jalan seraya mengeleng geleng tak pasti.
lesung pipitnya menambah kecantikan yang tak bosan untuk di pandang Bulu mata yang lentik terlihat asli meski ada tambahan dengan maskara.selintas Mona memang terlihat mirip artis Prity zinta yang merupakan aktris dari bollywood.Kebayangkan cantiknya kaya gimana meski dia berdan dan dengan polos tanpa make up.
Dan Banny pun diam diam mengakui akan kecantikan Mona yang terkesan lebih Natural itu.
dengan memasang wajah kaku dan tegas Banny kembali menatap laju kendaraanya tanpa menoleh kembali Mona di sampingnya.
" Kenapa hari ini kamu tidak dandan lagi seperti kemaren ?" Tanya Banny dengan acuh.
Mona menoleh kearah Banny dengan terhenyak atas pertanyaan yang di lontarkan oleh sang Bosnya mengenai penampilannya yang kemaren.
" Hmmm...,Ribet pak saya tidak biasa berpenampilan kaya gitu!"Ucap Mona tertunduk.
" Hmm..,Lagian udah tau cantik apa adanya so so-an dandan ala selebritis." Guman Banny pelan namun cukup sampai ke telinga Mona.
" Maksud bapak ??" Tanya Mona melirik Banny penasaran.
Banny tersenyum sinis Ia hanya menggelengkan kepalanya dan menoleh dengan tatapan hampa.
" Kamu gak usah ingin terlihat cantik jika kamu sendiri tidak nyaman dengan berpenampilan seperti itu." Jelas Banny terlihat mulai agak ramah.
" Oh " Jawab Mona singkat Ia tidak mau memperpanjang urusannya,Ia bisa menebak kemana arah pembicaraan Banny pasti sang Bos akan menghina keadaannya.
__ADS_1
Banny menoleh lagi Mona yang hanya terdiam tanpa reaksi apapun.
SATU jam lebih perjalanannya cukup membuat Banny kelelahan menyetir sendiri mobilnya tanpa ada sang sopir yang mengendarai.Banny masih terlihat bersantai dan meluruskan otot otot pinggangnya yang terasa patah karena selama satu jam lebih mengendarai mobilnya.
Tak lama Zeanu yang datang dengan mengendarai motornya baru saja tiba.Dengan wajah tak kalah kuyu Ia menyempatakan diri untuk ke toilet dulu untuk cuci muka agar terlihat lebih segaran.
Banny dan Mona sudah siap sejenak ia masih menunggu Zeanu yang masih di toilet.
Lima menit lagi mereka akan menuju lokasi pembangunan cabang perusahaan barunya Banny PT MAHA KARYA LOGISTIC.
SETELAH peninjauan lokasi selesai Banny yang di temani Zeanu serta Mona menyempatkan untuk makan siang bersama sebelum memutuskan pulang.
Zeanu terlihat sangat antusias menggambarkan rancangan karyanya itu yang akan di Disainnya khusus untuk perusahaan anak cabang baru miliknya Banny.
" Berapa lama ini kira kira akan selesai..?" Tanya Banny sembari menyeruput secangkir kopi di cangkir kecil.
" Tidak terlalu buru buru juga kan lo menggunakan gedungnya ? Yaaa cukup setahun lebih beberapa bulan kedepan lah baru bisa selesai." Jawab Zeanu dengan menyuapkan stek kesukaanya kemulutnya.
" Gimana Mon dengan pengalaman pertama lo nemenin Bos lo keluar kota..?" Tanya Zeanu menatap lekat Mona.
" Hmmm... lumayan untuk pengalaman baru." Jawab Mona dengan sedikit ragu untuk tersenyum.perasaanya suka berubah kaku jika harus berhadapan dan satu meja dengan sang bosnya.
" Ban lo pulang langsung ke kantor ?"
" Yaap !! Sorean gue mau pulang cepat.Karena bokap minta di temenin buat cek kesehatan."
" Tumben lo mau nemenin Bokap..?"
" Gue rasa gue nemenin bokap gak ada salahnya kan, Gue khawatir dengan kesehatan bokap akhir akhir ini sedikit kurang bagus." Jelas Banny terlihat cemas.
Mona mendengar tentang kesehatan Pak Wiguna yang tak lain papahnya Banny merasa terkejut,Ingin rasanya ia bisa bertemu lagi dengan Pak Wiguna selaku Presdir dan seorang Rektor sewaktu ia masih kuliah dulu.Namun apalah daya ia tak bisa bertanya banyak tentang hal itu.
Mona hanya terdiam menyimak obrolan Banny dan Zeanu.
" Mon lo ko diam aja..?" Tanya Zeanu menatap penuh perhatian ke arah Mona
" Gue tidak apa apa !! " Jawab Mona tersenyum pasi seraya melirik ke arah Banny dengan kaku.
" Lo pulang sama siapa ?"
" Yaa gue lahh.." jawab Banny cepat,Sejenak Zeanu dan Mona saling menatap heran dengan nada suara Banny yang terkesan agak sewot.
" Maksud gue, Gue akan kekantor dulu anterin Mona dan nanti baru gue balik rumah " Ucap Banny menjelaskan ucapannya dengan terlihat gugup.
Zeanu tersenyum penuh curiga kearah Banny yang terlihat bersikap sedang menyakinkan dirinya untuk terlihat biasa biasa saja.Namun Zeanu cukup tau akan sikap Banny meski Banny menutupinya lalu Zeanu kembali menatap Banny seolah olah Ia mencium aroma keanehan didalam tatapan Banny ke arah Mona.
" Oh !! Kirain lo gak balik kantor lagi.dan gue pikir biar Mona balik sama gue aja " Sela Zeanu dengan masih menatap Banny dengan penuh curiga .
" Gue balik kantor lagi ko.." Ucap Banny dengan cepat cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.Ia benar benar tak mau Zeanu menatapnya dengan curiga.
Mona terdiam entah kenapa Dia merasakan ke anehan yang terlihat dari sorot mata Banny yang menatapnya terus sedari tadi.
Namun Mona mencoba untuk menepisnya dan membuang jauh jauh perasaan yang telah mengganggu pikirannya.
~ Setelah beberapa menit Zeanu dan Banny memutuskan untuk pulang Mona dan Banny kembali memasuki mobilnya.Dilihatnya jam sudah menunjukan jam 3 sore, Banny menghitung hitung waktu yang akan di tempuhnya selama perjalanan arah pulang agar dia tidak terlambat sampe kantor serta ke rumahnya.
Karena sore ini Ia sudah berjanji akan menemani sang papah untuk cek up kesehatnnya.
Dengan bergegas gegas dirinya memacu mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi.
TREELEENGGG ........TREELLLENGGG........
Ponsel Mona berdering nyaring dengan cepat Mona segera merogoh ponselnya agar Banny tidak merasa terganggu dengan suara nada dering panggilannya.Lalu Mona menatap penuh ke layar ponselnya dan alangkah terkejutnya Mona ketika melihat nama yang muncul di layar ponselnya.
" Nenek.."Pekik Ia pelan.Dengan cepat Ia pun mengangkat panggilan sang Nenek.
" Hallo Nek...!! " Sapa Mona dengan terlihat ragu lalu sesekali Ia menoleh ke arah Banny yang duduk tegap di balik kemudinya sembari tetap fokus ke arah jalan.
__ADS_1
" Hallo Mona !! Nenek sudah di BANDARA.Kamu jemput Nenek ya !! "Ucap Sang Nenek dari sebrang telepon dengan suara nyaring.
Sontak Mona hampir terloncat dari tempat duduknya ia syok mendengarnya.Ia tidak ingat akan janjinya Sang Nenek yang akan datang ke JAKARTA.
Ia pun mengingat ngingat tanggal dan hari kedatangan sang nenek.Dengan raut wajah yang terlihat linglung Ia mencoba menenangkan perasaannya yang mulai mengajaknya untuk perang.
" AAaaduhhh mmammpuss gue !!"Pekiknya sembari mengigit kuat kuat bibir bawahnya.
" Yang bener saja see Nek ?Kok mau ke jakarta tidak kasih kabar dulu sama Mona." Ucap Mona dengan masih terlihat panik.
" Segaja Nenek kasih kejutann buat kamu,Habisnya kamu belom ada keputusan juga soal perjodohan itu " Jelas Sang Nenek dari sebrang telepon.
" Aduhh Nek bisa gak see perjodohan itu di tunda dulu.." Ucap Mona sembari melirik Banny yang sedang diam diam ikut menyimaknya walaupun dengan acuh tak acuh.
" Tidak !! ini keputusan nenek " Ucap sang nenek tegas.
" Tapi Nek..., "Sela Mona menggantung...
TUUUUUUUUTT .........
Sambungan telpon terputus sontak membuat Mona semakin terlihat panik.
Banny yang sedari tadi diam diam memperhatikan Mona cukup penasaran dan tertarik dengan obrolan yang sebenarnya antara Mona dengan sang neneknya yang melalui sambungan telpon tadi.
Banny menoleh ke arah Mona yang sedang merasa gusar serta di liputi rasa kecemasan yang tesirat di raut wajahnya,Namun Banny kembali acuh dan tak mau peduli.
Mona semakin serba salah terlebih lebih sang Nenek sudah berada di BANDARA dengan tiba tiba tanpa ada pemberitahuan sebelomnya.
Mona terlihat meremas remas ujung baju blezeernya dengan ekpresi bingung seraya melipat dalam ujung bibir mungilnya.
" Hmm Pak.Saya boleh minta tolong !" Ucap Mona akhirnya memberanikan diri untuk berbicara dengan sang BOSnya.
" Ada apa ?" Tanya Banny dengan nada datar.
" Hmm...,Pak boleh saya minta tolong untuk antarkan saya ke BANDARA !" Ucap Mona dengan bimbang.
" APA !! Kamu pikir aku sopir kamu apa ?" Balas Banny dengan judes.
" Aduhhh....!!" Pekik Mona semakin frustasi.
" Yaa sudah Pak Kalo bapak tidak mau ngantarkan saya ke BANDARA saya turun di sini saja !!" Pinta Mona dengan cepat memegang gagang pintu mobil.
" Kamu gila kali ya saya nurunin kamu di tol ! Kamu ngapain mau ke BANDARA ??"
" Nenek saya baru datang dari SURABAYA dan Nenekku sudah tiba di BANDARA !"
" Ko gitu ?Memangnya Nenek kamu tidak ngasih kabar dulu kalo mau datang ? "Tanya Banny terlihat kesal.
" Bapak mau anter saya ke BANDARA tidak? kalo saya tau nenek saya mau datang mungkin bisa jadi saya tidak ikut ke pertemuan tadi.Yaa sudah kalo tidak mau nganyarin,Saya turun disini saja !"Ucap Mona menatap kesal ke arah BOSnya.
Banny sejenak berpikir untuk mengiyakan permintaan Mona
" Kamu mau telpon siapa ?" Tanya Banny dengan penasaran tatkala Mona terlihat mengeluarkan ponselnya lalu mengotak atik handphonenya.
" Saya mau minta tolong Pak Zeanu ."
" Buat apaan ?"
" Jemput saya dan minta tolong juga anterin saya ke BANDARA." Jelas Mona dengan cepat mencari cari no kontak Zeanu.
Sontak Banny merasa kesal dengan sikap Mona yang memilih meminta pertolongan kepada sahabatnya Zeanu.
" Yaa sudah saya antar ." Ucap Banny singkat.
Hati kecilnya tidak rela juga jika Mona harus dekat dengan Zeanu.
" Sungguh pak ??" Tanya Mona dengan raut wajah bahagia.
" Ya." Lagi lagi Banny menjawab singkat.
" Makasih ya pak.Maaf saya jadi ngerepotin." Ucap Mona mengangguk penuh hormat.Banny tidak menjawab Ia hanya tersenyum keki ke arah Mona sang sekertarisnya yang sudah berani meminta tolong untuk mengantarkan ia ke BANDARA.
__ADS_1
Dan ini hal pertama kalinya ia bisa menuruti kemauan sang bawahannya itu.