
MONA Terdiam masih sibuk dengan pikirannya entah apa yang sedang di rencanakan Bosnya untuk dirinya.
Mona masih menatap ke luar kaca jendela mobil sedangkan Banny masih tak bergeming dia tetap terus fokus ke laju kendaraannya.
" Kok bisa kamu di anterin pulang sama Zeanu ?" Akhirnya Banny bertanya dengan ekspresi wajah datar.
" Kita Gak sengaja ketemu pak." Jawab Mona dengan tak menoleh Banny sedikitpun.
" Jadi itu alesannya kenapa kamu ingin balik lagi ke kantor ?" Tanya Banny mulai memancing kesabaran Mona.
Mona hanya menoleh dengan tanpa selera ke arah Banny yang masih asik menyetir mobilnya.
" Bapak, Sebenarnya bapak mau ngajak saya kemana ?" Tanya Mona mengalihkan pembicaraan.
" Kerumah saya." Jawab Banny singkat.
" Mau ngapain see pak ?Saya sudah ada janji sama kedua sahabat saya sore ini." Ucap Mona dengan menatap jengkel ke arah Bosnya.
" Kan saya suruh bilang batalin."
" Yaa Ampun pak,memangnya gak bisa ya kerjaannya di lakukan esok hari ?"
" Ini bukan masalah pekerjaan ?"
" Lalu ??" Tanya Mona dengan ekspresi heran
" Sore ini kamu temenin saya untuk acara makan malam nanti bersama Papah saya."
" APA ??" Mona cukup terkejut mendengr apa yang telah di sampaikan Banny kepada dirinya dan ia pun berusaha memperjelas lagi pendengarannya dengan memiringkan posisi kepalanya dengan serta merta kedua alisnya beradu.
Mona benar benar belum bisa paham dengan maksud dan tujuan dari ucapan Banny.
" Maksud Bapak apa see ?Saya benar benar gak paham." Tanya ulang lagi Mona dengan begitu polos.
" Kamu diam saja dan ikutin saja perintah saya.Dan satu hal lagi kamu jangan banyak nanya lagi." Ucap Banny dengan nada bicara yang mulai terdengar meningggi.
Mona pun langsung terdiam ketika melihat Raut wajah Banny terlihat mulai menakutkan.Tatapannya lurus ke arah jalan dengan tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
Mona menarik napas panjang dia benar benar bingung dengan sikap sang bosnya yang susah di tebak akan arahnya kemana.
Ponsel Mona berdering nyaring membuyarkan semua lamunannya Mona terhenyak dan dengan cepat di rogohnya ponselnya yang ada di dalam tasnya lalu dengan cepat ia segera mengangkat teleponnya.
" Hallo !" Sapa Mona seraya melirik ke arah Banny.
" Mon !Lo dimana ?" Teriak Tamara dari sebrang telepon dengan suara cemprengnya.
" Tam.sorry Gue gak bisa datang sorry banget ya gue ada keperluan mendadak nih." Balas Mona dengan suara terbata bata.
__ADS_1
" Loh Kenapa see lo ?Ko tumben tumbenan lo gak bisa ?" Tanya Tamara dengan sedikit kecewa dari ujung telepon.
" Iya sorry banget yaa gue gak bisa dateng ni tiba tiba ada acara dadakan ?" ucap Mona seraya menoleh Banny yang terliat pura pura tidak memperdulikannya.
" Lo ada acara ya sama Zeanu ?" Tanya Tamara dengan suara cukup keras yang terpantul dari speaker ponselnya Mona sehingga mau tak mau Banny yang berada di sampingnya cukup jelas mendengar ucapannya Tamara.
" Enggak Bukan Tam." jawab Mona dengan cepat mengelak pertanyaan Tamara.Dia sadar Banny mendengar suara cemprengnya Tamara dengan jelas.
Mona tidak mau jika Banny salah paham terhadap dirinya.
Banny memang menyimak apa yang di bicarakan antara Tamara dan Mona namun ia lebih memilih untuk berpura pura tidak peduli akan hal itu padahal sesungguhnya ia merasa tidak nyaman ketika harus mendengar nama Zeanu kembali mereka sebut.
" Nanti gue jelasin deh yaa,Sorry banget." Ucap Mona dengan suara memelas.
" Payah lo." terdengar suara Tamara bernada kesal.Dan tak lama kemudian telepon pun di tutup oleh Tamara.
Mona terdiam ia mengigit sedikit ujung bibir bawahnya dengan pasrah.Dia hanya bisa ngebatin dalam hatinya atas sikap keras kepalanya sang Bosnya dan ia pun benar benar merasa tidak enak kepada kedua sahabatnya atas ketidak hadirannya.
Biasanya mereka yang selalu membatalkan acaranya namun kali ini Monalah yang membatalkan acaranya.
Banny sempat melirik ke raut wajah Mona yang terlihat kecewa namun entah kenapa ia merasa senang tidak ada rasa menyesal sedikitpun atas sikapnya itu dan hal itu ia sama sekali tidak mau ambil peduli.
Mobil berhenti di sebuah pelataran rumah yang sangat megah dan mewah Mona melongo dan menatap sangat takjub.matanya nyaris tak berkedip dengan apa yang dilihatnya.
" Yaa TUHAN !!" pekikiknya dengan penuh takjub mata bulatnya melirik lirik ke semua pelosok tempat itu dia hanya berpikiran hanya ada di sinetron sinetron dan cerita yang bisa melihat rumah semegah bak istana ini. Dan ternyata saat ini ia sedang berada di depan pelataran rumah yang sangat megah nyaris membuat Mona menatap tak percaya.
" Kamu harus berpura pura jadi pacar saya " Ucap Banny menatap dalam Mona.
" GLEKKK " Mona terkejut di tengah tengan perhatiannya yang masih tertuju kepada rumah mewah yang ada di hadapannya.
Nyaris saja Mona hampir tidak bisa menelan air liurnya sendiri dengan syok serta campur penasaran ia berusaha menelan air liurnya itu.
Tatapan Mona bergeser ke arah Banny yang sedang menatapnya lurus.
" Apa pak ?" Tanya Mona gelagapan.
" Kamu ikutin saja perintah saya.jangan banyak tanya." lagi lagi Banny berbicara tegas ke arah Mona.
Mona mengaga tanpa ekspresi lalu ia menatap Frutasi ke arah Banny dan seketika itu pula mulutnya terasa terkunci rapat.
" Tapi....," Sela Mona kemudian namun Ucapannya kembali menggantung ia benar benar kebingungan stengah matai rasanya seperti habis menikmati permainan roolcoster yang kepalanya terasa diputar putar dan detak jantungnya mendadak berdetak tak karuan laju di tambah dengan laju darahnya berdesir lebih cepat,Seketika suhu badanya menjadi panas dingin tidak karuan.
Banny membukakan pintu mobilnya lalu ia menarik tangan Mona untuk segera keluar dari mobilnya di saat Mona masih terlihat di landa frustasi berat.
alam sadar Mona tiba tiba melayang jauh entah kemana dan Mona pun hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang di perintahkan oleh Banny walaupun dirinya masih terlihat sibuk dengan pikirannya.
Seperti kerbau di cocok hidungnya Mona hanya pasrah dan mengikuti arah jalan Banny yang masih mencekal tangannya dengan erat untuk ikut masuk kedalam ruangan rumah mewahnya itu.
Banny berhenti di depan sebuah kamar lalu ia melepaskan cekalannya dan menoleh Mona yang masih terlihat kebingungan.
__ADS_1
" Kamu masuk dan ganti baju kamu!"
" Ganti baju pak ?'" Tanya lagi Mona dengan tak kalah terkejut.
" Saya sudah bilang ikutin saja apa yang saya perintahkan." Ucap Lagi Banny dengan nada bicara mulai jengkel melihat sikap Mona yang selalu bertanya terus.
Mona tidak lagi berbicara ia pun perlahan lahan memegang gagang pintu dan membukanya dengan ragu.
" Saya tidak suka orang lelet." Ucap Lagi Banny dengan jutek tatkala melihat Mona terlihat ragu ragu untuk masuk kedalam kamar yang sudah di siapkan Banny untuk dirinya.
Mona perlahan lahan memasuki ruangan kamar itu dan pandangannya di buat kembali takjub dan terpesona akan keindahan dan dekorsi yang ada di dalam ruangan itu.
Di dalam ruangan itu ada dua orang perempuan berdiri menunggunya dengan wajah ramah serta begitu hangat menyambutnya,Lalu mereka mempersilahkan Mona untuk segera menukar pakaiannnya.
Dengan perasaan semakin bingung dan bertanyq tanya Mona hanya mengikuti dengan pasrah perintah dari kedua perempuann itu Mona benar benar bingung harus berbicara apa ia hanya merasakan hal yang ada di halusinansinya ketika ia sedang berada dalam sebuah mimpi tentang seorang sinderela yang sedang berada di istana kerajaan.
Berkali kali ia mengucek ngucek matanya dan mencubit cubit kedua pipinya,ia merasakan sakit ketika dia mencubit pipinya sendiri akan tetapi ia masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi kepada dirinya saat ini.
kedua perempuan itu sedikitpun tidak banyak berbicara kepadanya mereka melakukan apa yang di perintahkan oleh sang Tuannya untuk melayani Mona.
Mona sendiripun ia tidak berani untuk membuka mulutnya walau hanya sekedar bertanya kepada mereka padahal bibirnya terasa gatal ini mengeluarkan suara.Namun ia hanya bisa mengikuti apa yang di perintahkan kedua perempuan itu.
Jangan kan bertanya untuk sekedar batukpun ia berusaha untuk menahannya.
Mona menyempatkan untuk menatap cermin yang berada di hadapannya ia melihat dirinya sudah berubah akan penampilannya, yang tadi hanya mengenakan kaos dan celana jeans kini ia mengenakan baju yang begitu cantik dan modis. celana kulot yang dipadukan dengan luaran cardy cantik membuat ia terlihat feminim.
Meski ia hanya mengenakan riasan yang natural namun Mona kali ini terlihat lebih cantik,lalu tak lama perempuan yang usianya tak jauh berbeda darinya menyodorkan sebuah sepatu yang berhak rendah kepada Mona perempuan itu tersenyum lembut dan menyuruh Mona untuk menukar sepatu yang sedang ia kenakan saat itu.
Mona berasa seorang putri raja yang sedang di layani oleh para pelayan pelayannnya.
Beberapa menit kemudian Mona keluar dari ruangan kamar itu sedangkan Banny berdiri menunggunya dengan santai ia berdiri tegap di hadapan pintu ruangan kamar itu.
" Pak !" Panggil Mona dengan ragu
Banny menoleh dan menatap lurus ke arah Mona yang berdiri di ambang pintu.Dari ujung kaki hingga kepala Banny memandangi tanpa sedikitpun di lewati.
kali ini Banny terlihat terpukau dengan penampilan Mona yang baru,Ia mengakui Mona memang terlihat semakin cantik ketika sudah di make over oleh para asistennya.
Mata Banny masih tertuju ke arah Mona yang masih menatanya dengan ragu ke arahnya.
" Ok !" Jawabnya sembari cepat meraih tangan Mona dan menariknya untuk mengikuti langkahnya kembali.
tanpa menolak Mona pun mengikutinya lalu Banny memasuki ruangan yang yang tak kalah lebih besar dan semakin mewah akan disainnya.
Di ruangan itu juga terdapat beberapa barang barang antik yang begitu membuat Mata Mona semakin terbelalak di buatnya.
Banny membuka perlahan lahan pintu yang berukiran kayu jati mewah itu dan ia pun perlahan lahan masuk ke ruangan itu dengan di temanin Mona di sampingnya.
" Pah !" Panggil Banny dengan lembut saat tiba di dalam ruangan itu.
Sang papah menoleh ke arah suara Banny yang memanggilnya.
Mona sangat terkejut ketika melihat sosok lelaki yang berada di kursi roda itu lalu laki laki itu menatapnya dengan sorot mata yang begitu hangat ke arah Banny dan dirinya.
__ADS_1
*Bersambung.