
MONA mengambil duduk di sofa,lalu menyalakan tv dan matanya pun mulai fokus ke layar tv tersebut yang sedang menayangkan serial drama korea kesukaannya.Padahal sesungguhnya pikirannya sedang tak bersamanya.Matanya menatap layar pipih tersebut namun pikirannya melanglang buana ke hal yang lain,tepatnya ke hal kejadian beberapa jam yang lalu dimana ia harus merasakan kembali panas dinginnya perlakuan bosnya tersebut kepada dirinya.
Ada gelenyar aneh yang seketika menerjangnya, ketika ia mengingat kembali akan adegan tersebut,meski mulut dan otaknya menolak,tapi saat kejadian itu tubuhnya jelas merespon lain,menikmati setiap sentuhan lembut tangan pria itu yang menguasainya.
Ia sadar sepenuhnya,jika dirinya tidak menamfik akan perasaannya tersebut bahwa memang,sesungguhnya ia tidak bisa menyingkirkan perasaan terbesarnya terhadap pria tampan itu segala rasa di jiwanya, dan perhatian-nya itu selalu tertuju dengan tak terbantahkan lagi.
Mona,plis lo jangan berpikiran sejauh ini ! berharap pria tampan itu akan mencintainya dengan sepenuh hatinya.Plis jangan !!
Gadis itu membatin seraya mencoba terbangun dari lamunan halusinasinya.
" Apa yang sedang kamu pikirkan ?" Tiba-tiba suara bariton itu mengejutkannya.
Mona menoleh ke arah suara itu dengan perasaan terkejut.
" Tidak ada !" Jawabnya pelan.
Mona kembali menatap layar televisi itu lalu mencoba menonton kembali mengabaikan pria tampan itu yang mengambil duduk tepat di sampingnya.
Jantung gadis itu kembali berdebar seakan-akan riskan akan kehadiran pria itu yang malah memilih duduk tak jauh darinya.
Dan ia pun berhasil berspekulasi tentang kemungkinan pria tampan itu akan melakukan kembali hal yang tak di inginkannya.
" Aku lapar !" Ucap Banny seraya menatap layar televisi tersebut dan tangannya memegangi perutnya.
Mona terdiam dengan pandanganya tetap fokus ke layar televisi tersebut.
" Aku ingin makan,tapi aku takut gatal-gatal ku kambuh lagi,jika aku harus makan masakan itu lagi,sayang yah...,padahal cumi buatan kamu enak banget dan makan malam ku pun jadi berantakan gara-gara alergi kambuh." Ucap Banny dengan sedikit menekan nada bicaranya seolah-olah ia kecewa.lalu ia pun menoleh ke arah Mona yang masih menonton tv.
Mona masih terdiam dengan perasaan bersalah yang muncul ke permukaan,sehingga membuat acara makan malamnya berubah petaka.Sementara pria yang duduk di sampingnya itu masih mengelus-ngelus perutnya dengan penuh isyarat.
Mona berpikir cepat,mencoba mengingat-ngingat stok makanan yang masih ada.Dan pikirannya berhasil tertuju kepada mie instan.
" Tunggu sebentar ! akan saya buatkan mie instan untuk bapak,eu maksud saya Mas." Ucap Mona dengan terbata lalu dirinya menoleh ke arah wajah pria tampan itu dengan perasaan ragu.
" Yang penting makanan itu tidak membuatku gatal-gatal kembali." Ucap Banny menyeringah dengan sedikit lelocon.Mona menatap kaku saat pria itu menyindirnya secara halus.
" Saya rasa mie instan gak akan menyebabkan alergi,terkecuali mie itu kadaluarsa." Imbuh Mona dengan tersenyum hambar seraya beranjak dari tempat duduknya, melangkah menuju ruangan dapur tersebut.
Tak membutuhkan proses yang lama,beberapa menit kemudian Mona menyembul dari balik ruangan dapur tersebut dengan membawakan sepiring mie instan yang sudah matang dengan aroma yang begitu menggugah selera.Aroma wangi makanan ini begitu ngehas.
" Kenapa kamu bikin satu,apa kamu tidak lapar ? " Tanya Banny menatap gadis itu setelah di lihatnya Mona hanya membawa satu porsi mie instan.
" Tidak,saya sudah kenyang !" Jawab Mona dengan kembali duduk di samping pria tersebut.
" Kok kamu tahu jika aku lebih suka telornya di ceplok ketimbang di dadar ?" Ucap pria itu seraya mengaduk mie instan tersebut dengan penuh antusias.
" Itu hanya kebetulan saja." Ucap Mona seraya menonton kembali serial drama korea tersebut.
Entah kenapa tiba-tiba saja suananya berubah begitu hangat,lebih akrab dan terlihat sanyai tak seperti awal pertemuan serta pernikahan mereka,yang terkesan dingin dan kaku.
" Kamu suka nonton drama korea ?" Tanya Banny seraya ikut menonton acara tersebut.
" Saya suka nonton drama korea,karena alur ceritanya selalu penuh kejutan." Jawab Mona tanpa menoleh bosnya yang sedang asyik menikmati mie instan buatannya.
" Sudah berapa banyak part yang kamu tonton di drama korea ini ?" Tanya Banny seraya masih menikmati makananya.
" Ini baru part ke sepuluh." Jawabnya sedikit acuh dan tetap fokus ke tanyangan tersebut
" Aku tidak terlalu suka nonton drama korea,terlalu lebay bagi ku." Celoteh pria tampan itu dengan datar.
" Drama korea itu tidak lebay,justru saya sering belajar banyak hal dari drama korea tersebut,tetang sebuah perasaan dan seridaknya tahu arti sebuah kesetian dalam pengorbanan." Jelas gadis itu menoleh sekaligus menatap penuh arti wajah pria tampan tersebut.
Entah kenapa perkataan gadis itu seakan-akan di tunjukan kepadanya.
Sontak Banny yang sedang menikmati mie instan tersebut tiba-tiba saja tersedak dan membuatnya nyaris mengeluarkan semua makanan yang ada di mulutnya.Sejak kapan mie instan tersebut berubah tekstur sehingga lebih sulit untuk di cerna dan membuatnya merasa kesulitan untuk menelannya.
Mona terhenyak ketika melihat bosnya terganggu dengan apa yang di ucapkan-nya tersebut,wajahnya berubah pucat dan menatap bosnya dengan panik.Kesalahan apa lagi yang telah ia perbuat sehingga membuat pria itu mengalami hal yang buruk.
" Mas baik-baik saja ?" Tanya Mona menatap sedikit khawatir.
" Aku baik-baik saja." Ucap Banny seraya mengambil segelas air minum,lalu meminumnya hingga tandas.
Sesaat pria tampan itu pun terlihat menetralkan perasaanya yang terasa kacau,perlahan mengatur laju napasnya,dan seketika mie instan tersebut terlihat kurang berselera di penglihatannya tersebut.
Mona melirik ke arah piring tersebut yang di letakan kembali di atas meja dengan begitu saja dan mie instan tersebut masih tersisa cukup banyak.
" Mie gorengnya gak enak ya Mas ? " Tanya Mona menatap polos.
" Aku sudah kenyang ." Balas Banny seraya menyeka mulutnya dengan tisu,lalu ia pun perlahan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tersebut.
Mona kembali fokus ke layar televisi tersebut,dan pada saat itu pula drama korea tersebut sedang menampilkan sebuah adegan romantis.
Sesaat Mona membuang wajahnya dengan sengaja mengalihkan pandangannya kesisi yang lain,tepatnya adegan itu mengingatkan-nya kembali ke hal yang baru saja ia alami.
Banny tersenyum sinis,ketika melihat sikap sekertarisnya itu yang terlihat risih sendiri.
__ADS_1
Namun entah kenapa hal itu membuatnya kian penasaran atas sikap malu-malunya gadis itu,diam-diam ia pun membenarkan posisi duduknya dan sedikit menggeser duduknya lebih mendekat.
" Kenapa kamu tidak menontonya ?" Tanya Banny seraya memiringkan wajahnya mencoba menyimak raut wajah gadis tersebut dengan pasti.
Mona hanya bisa menelan air ludahnya seraya menghela napas, sesaat bosnya bersikap aneh lagi terhadapnya.Dari ujung matanya ia dapat melihat dengan jika pria itu sedang memiringkan kepalanya tepat di sampingnya.
" Tidak kenapa-napa." Jawab gadis itu mulai grogi.
Batin kecilnya meradang kesal atas sikap bosnya itu yang selalu membuatnya mengalami panas turun suhu tubuhnya.
Banny tersenyum sinis lalu menyandarkan kembali kepalanya di batalan sofa tersebut dengan tersenyum-senyum penuh arti.
Mona terdiam lalu meremas halus jari-jemarinya dengan merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya.
Fix pria tampan ini membuat segalanya kian naik,tekanan darah nya naik,tensiannya naik,hingga adrenalinnya pun ikut serta naik.
Mona mengatur lembut alur pernapasnya yang kian terasa menderu hebat.
" Apa Definisi kamu tengtang arti sebuah kesetian ?" Tanya Banny seraya menoleh gadis tersebut.
Gadis itu mengernyit,menampilkan kulit dahinya berkerut cantik.
Banny masih menatapnya menunggu jawaban darinya.
" Hmmm,,tergantung dari pandangan mana dulu kita mengartikan sebuah kesetiaan,dan dalam konteks apa?" Mona membalas tatapan pria itu dengan wajah ekspresif.
" Dalam Konteks sebuang hubungan pribadi bukan sebuah loyalitas." Jawab Banny singkat.
Mona terdiam,ia bingung harus menjawab apa,sendirinya saja belum pernah menjalin hubungan dengan seseorang sesetia itu,lalu bagaiamana bisa dia menghartikan hal itu dengan kenyataan yang jelas-jelas belum pernah ia jalani.
" Jadi menurut pandangan kamu ?" Desak Banny menatap lekat wajah gadis itu,sorot matanya terlihat seakan akan menembus hatinya yang terdalam.
Untuk sedikit menenangkan perasaanya Mona pun memilih menatap kembali layar tv tersebut,lalu berusaha mengusir rasa was was yang menyergapnya.Sesaat gadis itu menyibakan rambutnya yang tergerai,lalu rambutnya ditarik penuh ke bagian sisi pundaknya,dan itu berhasil membuatnya terlihat sangat manis.
Banny menatap lurus gadis itu entah kenapa pandangannya terasa candu jika melihat penampilan gadis yang mempesona,dan entah kenapa hal itu memunculkan rasa gairahnya yang luar biasa,Pria itu menatapnya kaku,dengan pikiran yang sudah terracuni oleh pesona gadis itu yang seolah-olah menangtang kembali adrenalinnya untuk melakukan hal di luar kendalinya.
Sebelum akhirnya ia menjawab Mona terlihat mengigit bibirnya merasakan bingung untuk menjawab pertanyaan bosnya tersebut.
" Menurut pandangan saya,setia itu adalah perasaan yang di tetapkan di dalam hati untuk seseorang,dan ketika kita sudah menetapkan perasaan itu,makan kita pun akan berani untuk berkomitmen.jadi ketika kita sudah saling mencintai pasti kita akan menjaga perasaan itu seutuhnya hingga kita berkomitmen untuk saling setia,memegang kuat komitmen tersebut apa pun itu permasalahannya.Karena aku yakin jika orang mampu berkomitmen dia akan setia. " Ungkap gadis itu menatap pria itu dengan telak.
" Seperti itu ?" Tanyanya dengan menatap remeh,seakan dirinya kurang puas dengan apa yang menjadi jawaban gadis itu.
" Itu Definisi saya tentang kesetiaan.Semua orang pasti mempunyai cara berbeda untuk mendefinisikannya." Imbuh Mona dengan tersenyum tipis.
Sesaat ekpresi wajah pria itu terlihat biasa-biasa saja,tak ada yang begitu spesial bagi dirinya atas penjelasan gadis tersebut,Banny pun hanya menaikan bahunya dengan acuh,lalu bibirnya membentuk sebuah cibiran,seolah-olah apa yang di ucapkan gadis itu terlalu melankolis.
" Lalu,bagaimana jika perasaan setia itu di hadapkan dengan sebuah Materi ?" Tanya Banny kian menatap gadis itu dengan tatapan ironi,seolah ia sedang mengambarkan masa lalunya,seperti ada sesuatu yang fatal menyakiti dirinya hingga membuatnya tak mempercayai akan sebuah kesetiaan.
" Maksud Mas ? " Mona mengernyit,alis tebalnya terlihat terangkat tinggi.
" Tahta dan Wanita,Wanita dengan materi dua sisi yang tak bisa di pisahkan dan itu berdampingan sangat erat,terkadang kesetiaan itu akan di uji dengan dua hal ,yaitu materi dan perasaan terhadap yang lain,bahkan kesetiaan itu perlahan memudar ketika wanita tersebut di hadapkan dengan iming-iming sebuah materi yang akan menjamin kehidupannya,dan ku rasa wanita akan selalu bersikap seperti itu jika ia di hadapkan dengan dua pilihan tersebut." Jelas Banny melirik dengan ujung matanya ,mencoba melihat akan reaksi gadis tersebut.
Mona sesaat terdiam mencoba mencerna apa yang di ungkapkan bosnya tersebut tentang sebuah kesetiaan,entah kenapa pernyataan bosnya tersebut mengingatkan dirinya akan kisah tragis bosnya yang patah hati di tiggal kekasihnya demi mengejar cinta pria lain yang lebih tajir darinya.
Sebelum ia menjawab Mona tersenyum tipis,lalu menatap wajah pria itu dengan penuh makna.
" Kita tidak bisa menyamaratakan semua wanita di belahan dunia ini memiliki karakter yang sama.Dan aku rasa tuduhan mas ini memang beralasan,yaa belajar dari pengalaman masa lalu yang telah menorehkan luka, di hati mas,tapi percayalah kita tidak akan jatuh dua kali di luka yang sama." Ucap Mona menatap lurus ke wajah pria tampan tersebut.
Banny mengangkat wajahnya menatap dalam wajah gadis itu.
" Saya tidak tergiur dengan materi yang bisa merendahkan harga diri saya,dan perlu Mas tahu,dan saya perlu tegaskan,saya melakukan semua ini bukan hanya untuk mengejar sebuah materi,tapi saya lakukan semua ini atas rasa hormat saya terhadap orang tua Mas." Ucap lagi gadis itu dengan penuh penekanan.
Ia menegaskan jika dirinya bersedia menikah dengan dirinya(Banny) bukan karena Banny seorang Direktur ataupun putra tunggal pemilik kekayaan seorang Wiguna, melainkan ia lakukan hanya untuk rasa hormatnya kepada sang Ayah pria tersebut,yang bagaimana telah banyak berhutang jasa kepadanya.
Tak ada sedikitpun tersbersit dari pikirannya untuk memanfaatkan situasi ini.Justru hal seperti ini lah yang ia sering takutkan jika perasaanya akan terbawa terlalu jauh dalam ikatan palsu tersebut.
Pria tampan itu terdiam,menatapi dirinya yang terasa kian kerdil di hadapan gadis itu,selama ini ia selalu memandang gadis itu hanya sebelah mata,seolah-olah menganggapnya budak yang segala sesuatunya bisa di bayar dengan sebuah materi.
" Maaf pak,sepertinya saya mulai ngantuk." Ucap Mona seraya berniat akan beranjak dari tempat duduknya.
Namun dengan cepat tangan pria itu meraih tangannya dan menahan keinginannya.
Mona kembali di buatnya tersentak setelah merasakan ada yang menahan tangangnya tersebut,jantungnya kembali berdebar dua kali lipat lebih cepat,sejadi-jadi perasaanya timbul rasa was-was yang meresahkan pikirannya.
" Duduk disini,dan temani saya." Ucap pria itu dengan suara datar.
Mona menghela lalu perlahan menempelkan kembali bokongnya di sofa tersebut.
" Maaf kan aku !" Ucap pria itu kembali meminta maaf kepada Mona dengan raut wajah kian berbeda.
" Untuk apa Mas meminta maaf ?" Tanya Mona menolehnya dengan gamang.
" Melibatkan perasaan kamu atas sandiwara ini." Ucapnya menatap tajam wajah gadis itu.
Yaa TUHAN,, kemana saja selama ini pak ?,setelah perasaan saya semenderita ini anda baru menyadarinya dan minta maaf..lalu apa kabar dengan hati ini,otak ini,dan air mata ini ??
__ADS_1
Rutuk gadis itu seraya terdiam dalam heningnya.
Mata gadis itu masih menyaksikan serial drama kore tersebut yang masih berlanjut akan ceritanya.
Drama korea itu sedang menampilkan adegan seorang pria yang terpisah di sebuah bendara,dan sang pria itu pun kebingungan untuk mencari kekasihnya tersebut.
" Kenapa dia lebay sekali,tinggal informasikan bisa saja kan, ridak perlu repot-repot seperti ini." Banny menyela seraya menatap penuh cemooh.
Mona menoleh ke arah bosnya yang terlihat sibuk mengomentari adegan drama tersebut.
Mona menggeleng dengan menatap sedikit keberatan atas komenanya bosnya tersebut.
" Karena pria itu sangat mencintai kekasihnya." Mona menyela.
" Heuuh,,terlalu berlebihan aku rasa,nanti juga bertemu lagi." Guman Banny mendecih pelan.
Mona menghela dengan lembut, entah kenapa bosnya berubah sentimen setelah melihat adegan serial drama korea tersebut,dan sikapnya berubah seperti netizen yang selalu aus dalam mengomentari kehidupan seseorang.
" Mas,Mas pernah gak sih merasakan sesuatu hal yang menakutkan dalam perasaan mas sendiri ?" Tanya Mona menoleh pria itu lalu menatapnya dengan tajam.
" Seperti apa ? " Balas Banny dengan acuh.
" Seperti rasa takut akan kehilangan seseorang ?" Balas Mona dengan tandas lalu menatap wajah pria itu dengan sekian rupa.
Wajah tampan itu menegang seolah perasaannya di hatam palu godam yang besar,dan pertanyaan gadis itu pun berhasil membuatnya salah tingah.
Apa yang di pertanyaakan gadis itu,adalah bukti kondisi dia saat ini yang sedang di rasakannya.
Banny terdiam lalu mengalihkan pandangannya ke hal yang lain,entah sejak kapan pandangan gadis itu di rasa sangat meresahkan perasannya.
Banny terdiam melipatkan bibirnya lalu mengelus lembut dagu lancipnya,di rasa ia tak bisa lagi berkomentar apapun jika ia harus jujur dengan perasaanya sendiri.
Mona melipatkan tangan di dadanya lalu memalingkan wajahnya dengan sedikit kesal atas sikap jaimnya bosnya tersebut,sampe ujan badai,angin topan pun pria ini di rasanya tak akan mengungkapkan perasaanya tersebut.
**********
Mona terbangun dari lelapnya ketika ia merasakan ada sesuatu yang menimpa tubuhnya. Setengah mengantuk, ia pun arahkan pandangan nya pada area perutnya yang terasa berat, dan
betapa terkejutnya dia begitu tahu ada yang melingkari perutnya dan lebih mengejutkan nya adalah, itu sebuah tangan pria dewasa yang sangat ia kenali sebagai boss nya sendiri, rasa kantuknya pun mendadak lenyap dan dengan cepat ia pun menyingkirkan lengan itu sebelum Sang pemilik tangan itu terbangun.
" Yaa TUHAN !! " Pekiknya nyaris tertahan
Mona dengan cepat langsung terbangun seraya menarik selimutnya untuk menutupin seluruh tubuhnya ia pun segera memeriksakan kondisi tubuhnya, di intipnya di balik selimut itu akan ke adaan tubuhnya.Ia menatap dengan panik memastikan tubuhnya masih mengenakan busana.
Mona terlihat shok setelah mendapati pria tampan itu tidur bersamanya dalam satu ranjang.
" Yaa TUHAN,,apa yang dilakuakan dia sama gue ??" Gumannya dengan nada panik.
" Mas !!" Panggilnya dengan suara gugup.Ia mencoba membagunkan bosnya dari tidurnya.
Banny menggeliat lalu ia terlihat membuka netranya dan melawan rasa kantuk yang masih menderanya.
" Ada apa ?" Tanyanya dengan bersikap malas.
" Mas,apa yang sudah mas lakukan kepada saya ?" Tanya Mona dengan wajah terlihat panik,wajahnya pucat pasi.
" Maksudnya apa sih ?" Tanya pria itu dalam ke adaan setengah sadar,mengusap-ngusap leher belakangnya dengan kasar.
" Kok Mas tidur di sini ?" Tanya Mona menatap penuh curiga.
Pria tampan itu menghentikan aksinya lalu memaksakan netranya untuk terbuka lebar.
Di lihatnya ia sedang berada percis di samping gadis itu.
" Aku ???" Tanya sendiri seraya mengucek kedua matanya,lalu berusaha mengumpulkan alam sadarnya yang belum terkumpul sempurna.
" Mas ???" Ucap Mona dengan sorot penuh tanya,dan raut wajahnya terlihat resah.
Banny menatap dirinya,lalu ia pun tersenyum ringan setelah mengingat kembali kenapa dirinya bisa berada dalam satu selimut dengan sekertarisnya itu.
" Tenang saja,aku tidak melakukan hal seperti apa yang kamu pikirkan,aku hanya kedinginan,karena ac nya yang terlalu kencang dan aku ikut tidur bersama mu.Demi TUHAN aku tidak ngapa-ngapain kamu." Ujarnya seraya menyibakan selimutnya lalu duduk di tepi ranjang.
Mona menatap punggung pria itu yang duduk membelakanginya dan ia pun sedikit merasa tenang setelah pria itu menjelaskan dirinya tidak melakukan hal yang ia takutkan.
" Meski pernikahan ini sah bagi kita,aku tidak akan mempergunakan kesempatan ini untuk sesuatu hal yang tidak aku inginkan,aku tidak akan menuntut hak itu." Ucapnya seraya beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Mona terdiam,menatap seluit bayangan pria itu yang menghilang di balik pintu kamar mandi tersebut.
Kepanikannya berhasil menimbulkan pikiran jelek di otaknya,bahkan pikiran buruk pun sudah sejauh itu menghantui dirinya,dia takut kehilapan bisa saja terjadi di antara dirinya dan bosnya tersebut.Tapi pada kenyataan nya pria tampan itu masih memperlakukan dirinya dengan sangat baik.
Perlahan ia pun menuruni ranjang tempat tidurnya dan berjalan menuju meja riasnya,di pandanginya dirinya dengan sedemikian rupa,tak ada yang aneh di seluruh penampilannya,lalu ia pun mengangkat tinggi rambutnya dan di ikatnya dengan sederhana,menatapi bayangan wajahnya di cermin,menapaki setiap inci bentuk wajahnya.
" Lo cantik kok Mona,dan lo berhak bahagia." Seru Mona memuji dirinya sendiri,jika di pikir-pikir bukan sebuah ketidak mungkinan jika dia sedikit merubah penampilannya lalu sedikit memperbaiki pempilannya,bukan kah dia perlu berkorban untuk membuat hati seorang Banny tertarik padanya.
Yaa siapa tahu dengan sedikit dia berpenampilan menarik bosnya itu berubah pikiran dan tidak menceraikannya.
__ADS_1
Bibir mungil gadis itu tersenyum simpul mengikuti ide gilanya yang muncul sesaat dirinya menyadari jika wajahnya tak jelek-jelek amat.
Bulu matanya yang letik,serta memiliki lesung pipi yang manis jika ia sedang tersenyum,Apa lagi mata bulatnya itu,karena mata besarnya yang bulat,tatapan Mona terlihat sangat polos dan itu berhasil membuat gemas sebagian orang yang memperhatikannya.Ia pun hanya tersenyum dengan penuh arti.