
" PERMISI pak Banny !" Ucap gadis bertubuh bulat itu terpogoh-pogoh setelah mengetuk pintu ruangan sang Direktur tersebut.
" Ada apa ?" Jawab suara berat Banny dengan posisi duduk membelakangi staf kantornya tersebut.
" Maaf pak,ada tamu yang ingin bertemu dengan bapak." Balas gadis itu dengan suara tertahan dan teratur.
" Suruh saja dia masuk !" Jawabnya dengan begitu acuh.
" Baik pak !" Sahut Amel si gadis bertubuh bulat itu seraya berjalan mundur lalu keluar ruangan bosnya tersebut,dan tak lama kemudian ia pun segera mempersilahkan seorang tamu untuk masuk ke ruangan bosnya tersebut.
tak lama seorang tamu pria berdiri tegak menatap lurus ke arah kursi yang di duduki oleh Banny.
" SELAMAT SIANG BANNY PRATAMA WIGUNA !!" sapanya seseorang itu dengan suara lantang menyapa di balik tubuhnya Banny yang masih dengan posisi duduknya.
Banny perlahan memutar kursi kerjanya lalu menghadap lurus ke arah pemilik suara tersebut.
Seorang pria dengan perawakan tinggi menjulang menatapnya dengan tersenyum penuh ke angkuhan.
Sontak kedua mata bola Banny terbeliak sesaat melihat siapa sosok pria tersebut.
Wajahnya yang terlihat biasa saja kini berubah drastis setelah melihat keberadaan pria tersebut,dan tatapannya seketika membeku.
" Apa kabar Bapak Banny Pratama Wiguna?" Tanya pria itu dengan menatap lurus ke arah Banny,dia berdiri dengan begitu sempurna raut wajahnya terlihat begitu santai dan sorot matanya berbinar-binar.
Sesaat Banny terdiam dirinya tidak langsung menjawab atas pertanyaan pria tersebut.
Pria itu menyeringah dengan tersenyum penuh cemooh setelah melihat reaksi Banny yang menyambutnya dengan dingin.
" Ada keperluan apa kamu datang ke sini ?" Tanya tegas Banny dengan sorot mata yang terlihat tidak suka.
Pria itu tersenyum lalu menelusupkan kedua tangannya di saku celananya tersebut.
" Santai saja !!anda tidak usah terlalu terlihat galak seperti itu.Well....,sudah sepuluh tahun kita tidak berjumpa,dan kali ini bukan sebuah kebetulan aku datang kekantormu untuk menemui anda. " Ucap pria itu begitu hangat.
Banny mengangkat tinggi rahang wajahnya.
" Aku tidak suka akan basa-basimu itu !!" Decih Banny nyaris tidak terdengar.
Lalu pria itupun tertawa pelan seraya menyunggingkan senyuman yang begitu sinis.
" Sepertinya anda masih menyimpan dendam terhadapku,padahal anda sudah menemukan pengganti dari mantan istriku itu." Balas pria itu semakin berani.
Sontak itu membuat Banny terlihat semakin tak nyaman.
" Katakan !! apa keperluan kamu datang ke kantorku ?" Lagi-lagi Banny terlihat tak sabar.
" Oh tenang sikit saja tuan Banny,jangan membuat ke adaan ini terasa tegang,kita bisa lebih sedikit santai and rilekss ok." Terang lagi pria itu mencoba menarik ulur keadaan yang mulai terasa menegang.
Banny menggeleng seraya menarik napas panjang berusaha untuk tidak terbawa amarahnya sendiri.
__ADS_1
" Sultan,aku rasa,aku tak ada keperluan apapun denganmu,jadi tolong bisa kamu katakan apa yang membuatmu datang ke kantorku ?" Ucap Banny dengan menatap kuat.
" Hahaa,,,hahaa..,Bany,Bany,kau tetap tidak berubah,kau masih membenciku atas kemenanganku mengambil hati seorang model cantik yang menjadi kekasihmu itu,tapi! aku sudah membuang jauh model pujaanmu itu,tak payahh rasanya aku mempertahankan perempuan yang di otaknya hanya ada uang saja." Jepas pria itu dengan menyeringai penuh kesombongan.
Banny menarik napas panjang,rasa amarahnya seketika muncul kepermukaan hatinya yang mulai tak tertahan lagi,sorot matanya terlihat menatap geram ke arah sosok pria tersebut.
" Mau mu apa ??" Tanya Banny dengan nada penuh penekanan.
Tulang rahangnya terlihat mengeras.
" Apakah kamu tidak mempersilahkan aku untuk duduk terlebih dahulu ?" Ujar pria itu mengalihkan pembicaraan hingga membuat Banny semakin muak di buatnya.
" Hentikan Sultan !! aku tidak suka dengan basa-basimu itu." Gertak Banny semakin geram.
" Ok!ok ! kurasa sepertinya kau mulai terganggu dengan ke hadiranku ini ?" Ucap Sultan dengan tersenyum puas setelah melihat lawan bicaranya mulai terlihat emosi.
" Of cause !!" Tandas Banny ketus.
" Baiklah,kedatang aku kesini hanya ingin mempertanyakan,Kenapa kamu tidak setuju jika istrimu bekerja sama dengan perusahaanku,bukankan ini adalah kesempatan emas,jika perusahaanmu itu dapat bekerja sama dengan perusahaan besar ku,karena kurasa hal itu bisa membuat famor perusahaanmu lebih tinggi lagi." Ucap Sultan dengan duduk di hadapan Banny meski Banny tidak mempersilahkannya.
" Aku tidak tertarik bekerja sama dengan orang yang memiliki hati perampok." Jawab Banny sengit.
Sultan mengernyitkan kulit dahinya lalu sejurus kemudian dia tertawa geli setelah melihat reaksi Banny terlihat begitu benci terhadap dirinya.
" Hah ?? Apa ??perampok ??apa aku terlihat sebandit itu ?,Banny,Banny,kau tidak bisa mempergunakan peluang bisnis kamu semaksimal mungkin,di luaran sana perusahaan lain begitu sangat ingin bekerja sama dengan perusahaanku,dan itu kesempatan itu bisa menjamin kesuksesaan yang begitu menjanjikan bagi perusahaan mereka,termasuk cabang perusahaan mu itu.Tapi kamu heh.." Desis Sultan penuh cemooh.
Banny menatap semakin sengit dia merasa begitu di sepelekan oleh seorang Sultan.
Sultan semakin tersenyum puas melihat Banny semakin terpancing emosinya.
" Logika kamu terlalu kerdil Banny,menyimpan semua dendam mu itu di hati." Jelas Sultan dengan mencibir.
" Aku tak perlu bekerja sama dengan kau pun perusahaan ku tetap berjalan dengan baik.lagi pula bagiku pantang memberi harapan kepada orang yang hanya bisa menikam dari belakang." Jelas Banny dengan nada penuh arti.
" Wooww !!, Menikam !!!,jujur saja masalalu tak payah di ungkit kembali,aku sudah melupakan semua itu,ini adalah perihal pekerjaan,aku akan bekerja sama dengan cabang perusahaan anda.Dan yang pasti cabang perusahaan itu bukan atas pimpinanmu." Ucap Sultan berusaha melobi pertahanannya Banny.
" Tapi kuasa izin perusahaan itu ada di tanganku,aku tidak akan pernah mengijinkan apapun itu atas kuasaku." Tegas Banny dengan intonasi yang cukup kuat.
Sultan menatap kaku,sepertinya Banny benar-benar belum bisa melupakan rasa sakitnya di masalalunya,sesaat Sultan terlihat sedang berpikir mencoba mencari cara agar Banny bersedia bekerja sama dengannya.
" Sudah paham kan jika kerjasama ini tidak akan pernah ada !" Ucap Banny dengan tegas.
Sultan terdiam dengan tatapan yang mulai terlihat pasrah.Banny belum bisa memaafkan apa yang menjadi kesalahannya di masa lalu.
" Jadi kamu benar-benar menolak atas kerja sama ini,apakah kamu tidak akan pernah menyesal atas keputusanmu itu ?" Lagi-lagi Sultan berusaha menggoyahkan pertahanan hatinya Banny.
Sorot mata Banny masih terlihat begitu penuh kebencian terhadap dirinya.
" Sekalipun TIDAK !!" Jawab Banny kerus dan lantang.
__ADS_1
" Ok,baiklah,aku hormati akan keputusanmu ini,yah walaupun ini sangat di sayangkan atas peluang yang begitu langka." Ungkap Sultan dengan tersenyum penuh cemooh.
" Kamu tidak perlu menyayangkan akan keputusanku ini,karena keputusanku ini adalah hal yang paling tepat yang harus aku lakukan.So pintu keluar masih terbuka,jadi tolong anda keluar dari ruangan ku ini sebelum aku menyeretmu keluar." Ancam Banny dengan sorot mata yang semakin galak.
Sultan menarik napas,ia tidak menyangka jika Banny masih membenci dirinya dan sebenci itukah Banny terhadap dirinya hingga belum bisa nerima kehadirannya.
Kisah masalalu yang tak bisa di hapus begitu saja dari jejak ingatannya.
Sultan tak mampu berbicara lagi ketika Banny mengusirnya dari ruangan kantornya,tak ingin suasana makin panas Sultan beranjak dari tempat duduknya.
" Satu hal yang perlu kau ingat,jangan melibatkan istriku dalam permasalahan ini." Ujar Banny menatap tajam Sultan.
Sultan berdiri menatap tak mengerti.Dia sadar ucapan Banny menyiratkan sebuah peringatan terhadap dirinya.
" Maksud kamu ???" Tanya Sultan dengan wajah tak mengerti.
Banny tersenyum tipis namun begitu sinis.
Kedua alis pria maskulin itu terangkat,perlahan dia pun mengerti akan tujuan dari ucapannya Banny.
" Heh,Kamu pikir aku akan mengulangi pertarungan itu,dimana dengan mudahnya aku bisa meluluhkan hati seorang perempuan mana pun,termasuk Kinaya.Tapi kurasa aku pun bisa perlahan mengambil hati istrimu,karena bagiku mudah sekali untuk mendapatkan hati seorang perempuan." Balas Sultan dengan penuh percaya diri.
Sontak perkataan Sultan mampu memancing kembali emosinya Banny yang mulai terlihat jelas di matanya.
Brak...... !!!!!
" B******N !!!!! " Gertak Banny dengan menggebrak keras meja kerjanya.
Sultan tertawa lebar melihat kemarahannya Banny benar-benar meluap.
" Untuk kali ini aku tidak akan membiarkan kamu merampas kembali kehidupanku !!" Ucap Banny tandas,napasnya terlihat naik turun,kedua tangannya terkepal kuat ia terlihat menahan amarah yang nyaris membutakan akal sehatnya.
" Aku yakin jika istrimu adalah perempuan cerdas yang jauh berbeda dengan seorang Kinaya,yang hanya mengandalkan kecantikannya demi sebuah kekayaan sedangkan istrimu itu begitu smart, serta begitu indenpenden.Dan aku rispek atas kinerja istrimu itu." Puji Sultan dengan penuh takjub.
Banny semakin geram mendengar pujian Sultan yang di layangkan untuk istrinya tersebut.Jelas kali ini Banny tidak ingin kehilangan perempuan yang dia cintai untuk yang kesekian kalinya.
" BEDEBAH !!!" Satu kata balasan dari Banny mampu membuat Sultan terkekeh.Dia berhasil membuat kembali Banny marah kepadanya.
" Keluar Atau ku panggilkan Security untuk menyeretmu keluar???" Tanya Banny dengan sorot mata penuh kebencian.
Sultan terkekeh dengan mengangkat kedua bahunya,dia merasa puas melihat Banny semakin kesal terhadap dirinya.
" KELUAR !! " Hardik kembali Banny dengan nada lebih tinggi.
Sultan masih berdiri tegak dengan gayanya yang begitu angkuh,sedikitpun ia tidak terganggu dengan gertakannya Banny.
Tanpa berkata apapun lagi Sultan segera melangkah berjalan keluar meninggalkan Banny dengan sisa-sisa kemarahannya.
Banny terlihat semakin ngos-ngosan mencoba menahan rasa amarahnya yang menyesakan ruang dadanya.Ia tidak menyangka jika Sultan seberani ini membuat dirinya marah,terlebih lagi ia teringat kembali kata-katanyanya Sultan yang begitu kagum memuji akan kelebihannya Mona.
__ADS_1
" Aaahhhh !!" Serunya dengan kesal,tangannya kembali menggebrak meja kerjanya dengan amarah yang kian tak tertahan lagi,rasa-rasanya dia ingin menonjok keras wajah seorang Sultan hingga babak belur.
Rahanya terlihat begitu kuat menahan emosinya yang kian tak terkendali.