CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 137


__ADS_3

PAGI kembali menyapa,pria tampan itu dengan menggunakan piyama abu muda terlihat menggeliatkan tubuhnya lalu membuka perlahan matanya,setelah menimbulkan silau di matanya tersebut.Sinar mentari pagi itu mengintip manja di balik tirai jendela kamar hotelnya tersebut.dan tentu saja itu membuat pria tampan itu sangat terkejut setelah ia mengetahui malam telah berganti pagi.


Ia menoleh ke arah sang sekertarisnya itu yang masih terlelap dalam tidurnya dengan tanpa menggunakan selimut, pria tampan itu sesaat mengucek matanya dan di teruskan menguap dengan penuh rasa nikmat.


Perlahan pria tampan itu menyibakan selimutnya lalu terbangun mengubah posisinya menjadi duduk di tepi sofa seraya mengusap-ngusap perlahan wajahnya,rasanya malam itu begitu cepat berlalu sehingga tak sempat meninggalkan kesan apapun di antara dirinya dan gadis tersebut.


Banny menghela pendek lalu menoleh kembali ke arah Mona yang masih meringkuk di atas kasur tersebut.


Perasaannya berubah iba melihat keadaan gadis tersebut tertidur dengan membiarkan dirinya tanpa menggunakan penutup badan,padahal suhu di ruangan tersebut lumayan dingin.


Perlahan pria tampan itu mendekati sekertarisnya itu lalu menyelimutinya dengan sangat hati-hati ia merasa takut jika aksinya tersebut mengganggu tidurnya gadis tersebut.


Setelah menutup sempurna selimut itu ke seluruh tubuh Mona pria tampan itu mengedarkan pandangan nya keseluruh wajah gadis itu yang masih terlelap dalam mimpinya,bibir pria itu tergerak lalu tersenyum lembut meski ia sering bersikap abai terhadap gadis ini,namun hati kecilnya menyanjung penuh akan sosok gadis ini,perlahan ia pun membenarkan kembali bagian atas selimut tersebut.


Tap........


Pria itu melihat semakin dalam wajah gadis itu dan sesaat ia berpikir,betapa tidak gadis yang ada di hadapan nya itu begitu baik dan mau menuruti apa yang menjadi ke inginannya.Tentunya gadis ini telah mengorbankan perasaan nya untuk dirinya dan kebahagiaan orang tuanya.


Pria tampan itu sadar jika dirinya telah bersikap egois terhadap gadis yang tak berdosa ini,hingga betapa sampai hati dirinya membuat gadis ini harus mengalami nasib yang sama seperti apa yang telah menimpa orang tuanya.


Banny menarik napas dalam-dalam,rasanya tak sabar dirinya ingin mengusap kepala gadis itu serta mengecup lembut keningnya,namun entah kenapa perasaanya selalu tertahan jika ia harus melakukan apa yang menjadi kata hatinya.


Tepat tangan pria itu hendak mengusap lembut kepala gadis itu,dengan bersamaan gadis itu menggerakan tubuhnya seraya membuka perlahan matanyanya dan....


Mata gadis itu terbelalak di tengah-tengah rasa ngantuk yang masih mendera sehingga alam sadarnya belum menyatu dengan sempurna.


Gadis itu terkejut sekaligus was-was saat di dapati pria itu sedang menatap jelas wajahnya.


Sontak gadis itu langsung terbangun secara repleks menjauhkan dirinya dari wajah bosnya tersebut yang berada tepat di hadapannya.


Hal yang sama di rasakan Banny,ia pun ikut terkejut setelah melihat gadis itu tiba-tiba terbagun dan menatapnya dengan tatapan shok,seperti sedang melihat hal yang menakutkan dari wajahnya,tak hanya Mona yang terkejut Banny pun ikut terkejut saat gadis itu nyaris membuatnya terloncat dari tempat tidur itu.


Sesaat gadis itu mengintip kedalam selimutnya ia memastikan jika dia masih mengenakan piayama nya dengan sempurna.


Banny menggeleng setelah melihat sikap sekertarisnya itu yang seolah-olah mencurigai dirinya telah melakukan sesuatu di luar akal sehatnya.


" Apa yang sudah bapak lakukan kepada saya ?" Tanya Mona dengan menatap panik.


" Tenang Mona !! aku tidak melakukan apa pun terhadap kamu,aku hanya menyelimuti kamu agar kamu tidak kedinginan karena kamu tidur tanpa selimut." Jelas Banny seraya berdiri dan menjaga jarak dari gadis itu yang masih menatap curiga kepadanya.


" Tapi ???" Ucap gadis itu menggantung,lalu ia kembali memeriksa seluruh kancing piayama nya tersebut seolah-olah dirinya tidak mempercayai dengan apa yang di katakan bosnya tersebut.


" Kamu jangan berpikiran buruk tentang aku !aku tegaskan lagi jika aku tidak ngapa-ngapain kamu,paham !!" Ucap Banny mulai jengkel melihat kepolosan sekertarisnya tersebut yang berhasil memancing kekesalannya.


Mona menghela napas lega dengan masih tetap mendekap erat selimut tersebut yang menutupi seluruh tubuhnya.Dirasa apa yang di ucapkan bosnya tersebut benar adanya dan ia pun dapat merasakan jika dirinya baik-baik saja.


" Kamu tidak usah khawatir,aku tidak akan menyentuh kamu sedikit pun ." Ucap pria itu pelan seraya kedua tanganya tertahan di udara percis menyerupai gerakan sedang mendorong sesuatu.


Mona terdiam bola matanya melarak lirik penuh isyarat.


" Nanti siang kita kerumah papah !" Ucap Banny seraya mengubah posisi tangan nya bertolang pinggang di hadapan gadis itu yang masih menahan tubuhnya di balik selimut.

__ADS_1


" Jadi kamu bersiap-siaplah." Ucap Banny seraya menyambar handuknya dan berniat hendak ke kamar mandi.


" Tapi pak,apakah kita hari ini ada ke kantor?" Tanya Mona menyela dengan polos.


Banny yang hendak melangkah ke kamar mandi terhenti lalu menoleh kembali ke arah sekertarisnya itu.


" Mona,kamu lupa ?jika sekarang ini kita sedang bersandiwara jadi suami istri,mana mungkin kita langsung ke kantor nanti orang-orang di kantor bisa curiga terhadap kita." Jelas Banny dengan menatap tajam.


Gadis itu menepuk jidatanya dengan repleks.


" Oh iya,saya lupa pak jika saya sedang bersandiwara menjadi istrinya bapak." Ucap nya dengan ekpresi wajah sangat datar.Banny menggeleng dengan perasaan kesal setelah melihat sikap lugunya sang sekertarisnya itu yang selalu membuatanya kesal,ia pun melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi.


Mona terdiam seraya mengangkat tinggi bahunya dengan acuh lalu di susul dengan mengerucutkan bibirnya hingga membentuk segita sama kaki.Gadis itu mendesah pelan seraya mengingat kembali kejadian tadi dimana ia terbagun dari tidurnya di kejutkan dengan bosnya yang sedang menatap dirinya dengan lekat,al hasil pikiran itu menimbulkan berbagai pertanyaan yang cukup mengganggu pikirannya tersebut.


Ia menegaskan kembali keadaanya dengan meraba seluruh tubuhnya,meraskaan apakah ada yang terasa aneh di bagian badan tertentu?namun sepertinya ia merasa baik-baik saja tidak ada hal yang mencurigakan.


Tapi rasanya kepalanya itu terasa berdenyut kembali jika otaknya harus berpikir keras akan sikap pria tampan itu,ia rasa itu hanya kebetulan saja !namun sesaat setelah ia berpikir,barulah ia menyadari jika selimut itu ada di tubuhnya,seingat nya semalam itu ia tidur tidak menggunakan selimut di karenakan bosnya yang menggunakannya dan sekarang selimut itu berada pada dirinya,jadi itu artinya pria dingin berwajah tampan itu yang menyelimuti dirinya,apa yang di ucapkan bosnya benar jika bosnya tersebut memang berniat hanya ingin menyelimuti dia saja.


Gadis itu mengangguk-ngangukan kepala nya dengan penu arti dan perlahan bibirnya yang mengerucut itu mulai membentuk sebuah lengkungan manis.


Eh !!! Ia pun tersenyum tipis seraya berpikir kecil,jjika benar bosnya itu menyelimuti dirinya?dirasa pria dingin berwajah tampan itu bisa juga bersikap so sweet terhadap dirinya dengan sedikit memberi perhatian kecil,yaa walaupun itu hal yang sepele namun rasanya ada kebahagiaan tersendiri bagi seorang Mona di perlakukan sebegitu manisnya oleh bosnya yang diam-diam peduli terhadap dirinya.


Dengan cepat ia pun menyibakan selimutnya lalu entah kenapa seperti ada sebuah energi positif yang mendorong dirinya untuk kembali berharap jika pria tampan itu tak akan sejahat itu kepada dirinya.


Tepat gadis itu sedang melamun dengan bersamaan terdengar suara ketukan di pintu,Mona menoleh ke arah pintu tersebut dengan perasaan heran,siapa sepagi ini yang datang mengunjungi kamar hotelnya tersebut ?dan perlu apa ?


tanya nya semakin penasaran.


Sementara suara ketukan tersebut masih terdengar dengan cepat Mona pun segera bergegas menuju pintu tersebut lalu mengintip di salah satu lubang pintu yang terpasang di pintu tersebut.


" Pagi !!" Sapa seorang pelayan hotel tersenyum hangat di sertai membawakan hidangan untuk breakfast.


Mona membalas dengan anggukan lalu mempersilahkan pelayan hotel tersebut masuk.


Pelayan hotel itu dengan penuh hormat memasuki kamarnya dan tanpa menunggu perintah lagi si pelayan itu segera meletakan satu persatu hidangan breakfast tersebut di meja,dan tak lama si pelayan hotel tersebut pun berpamitan untuk keluar.


Mona memandangi hidangan breakfast tersebut hidup menjadi orang kaya begitu terjamin,menginap di sebuah hotel berbintang nan mewah merupakan sebuah ilusi yang tak terpikirkan olehnya,namun kini ilusi itu menjadi sebuah kenyataan yang sangat jauh tak terpikirkan.


Gadis itu menatapi satu persatu piring yang berisi hidangan,dan entah kenapa ia merasa ada keinginan untuk menyiapkan sarapan untuk pertama kalinya ia menjadi seorang isri.


Tapi.......


Gadis itu mengurungkan niatnya seketika, ia sadar jika dirinya bukan lah istri yang sesungguhnya untuk bosnya tersebut,melainkan hanya untuk bersandiwara.Ingat !!dia adalah seorang istri sandiwara bosnya tersebut dan tak lebih.


Mona menghela lalu menatap sedih ke arah makanan yang masih terhidang di meja.


" Mona,cepatlah sedikit,kamu siap-siap kita akan kerumah papah,dan setelah itu kita akan mempersiapkan barang-barang kita untuk pindah ke afartemen." Ujar Banny yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Mona menoleh ke arah bosnya tersebut dengan berbagai perasaan,sepertinya hal ini akan setiap hari di lihatnya dan di lakukannya.


Melihat pria itu bertelanjang dada dengan rambut basahnya dan hal itu sepertinya akan membuatnya terus menerus menikmati pesonanya pria tampan tersebut.

__ADS_1


Kenapa hatinya itu begitu mudah merasakan jatuh cinta terhadap pria itu hingga berkali-kali,sementara si pria tampan tersebut belum tentu juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.


" Kok kamu malah diam,kamu tidak mandi ?" Tanya Banny menoleh Mona yang masih mematung dengan berbagai pikiran di kepalanya.


" Saya merasa keberatan jika harus tinggal satu afartemen dengan bapak ?" Ucapnya dengan suara pelan.


Banny menoleh ke arah gadis itu lalu menghentikan tangannya yang sedang mengambil sebuah baju di sebuah koper kecil miliknya tersebut.


" Kenapa ?" Tanyanya dengan menatap tajam.


" Tidak kenapa napa pak,jika saya boleh berpendapat bagaimana bapak yang tinggal di afartemen sementara saya di rumah saya saja." Imbuh gadis itu dengan menatap ragu berharap bosnya tidak keberatan dengan usulnya tersebut.


" Aku sudah memberi tahu kamu jauh sebelum pernikahan ini terjadi,bahwa kita akan tinggal di afartemen sementara waktu sebelum akhirnya kita bercerai,lalu sekarang kamu merasa keberatan jika tinggal satu afartemen dengan aku.Kenapa keberatan ini baru kamu sampaikan sekarang ?" Tanya pria itu dengan intonasi yang tak biasa.


" Karena saya merasa,saya tidak nyaman jika harus tinggal berdua saja meski kita sudah menikah, karena semua ini hanya sandiwara saja kan pak ?" Ucap gadis itu bertanya dengan sorot mata yang dalam.


Banny terdiam lalu menatap sekertarisnya itu dengan berbagai perasaan yang serba salah antara kesal dan paham akan sikap gadis itu bercampur jadi satu.


" Kenapa ?apa kamu tidak nyaman tinggal bersama saya? " Tanya pria itu menatap semakin galak.


" Yaa !saya rasa bapak tidak perlu bertanya kenapa saya tidak merasa nyaman tinggal berdua dengan bapak,karena jawabannya tentu bapak akan merasakan bagaimana saya bisa tinggal satu atap dengan orang yang tidak saling mencintai,belum lagi saya harus melihat pemandangan hal seperti ini setiap harinya dan bapak juga akan melihat keseharian saya seperti apa,hingga hal yang tak pernah bapak lihat pun sebelumnya bapak akan melihatnya,dan hal itu saya rasa wajar saja jika saya merasa keberatan harus melihat apa yang tak pernah saya lihat sebelumnya. " Jelas Mona dengan bersikap lebih santai.


Banny tertegun mendengar penuturan sekertarisnya tersebut,dan sepertinya apa yang di ucapkan gadis itu benar,samaa sekali tak ada yang salah.Ia sadar betul jika gadis itu merasa tak nyaman haru tinggal satu atap dengan orang yang tidak saling mencintai.


" Jika kita tinggal terpisah lalu bagaimana tanggapan papah nanti,tentunya hal itu akan membuatnya kecewa. " Pria itu menyanggah.


" Ayah anda pasti akan merasakan kekecewaan itu,cepat atau lambat,pasti akan terjadi.jadi sebaiknya bapak tinggal di afartemen bapak dan saya tinggal di rumah saya seperti biasa nya saja,jika papah anda ingin bertemu baru kita ketemuan." Ucap gadis itu dengan enteng.


" Tidak bisa seperti itu Mona,jika tiba-tiba papah saya datang ke afartemen dan mendapati kamu tak ada di sana apa yang harus aku katakan terhadap papah ?Kamu jangan konyol,pokonya ikutin perintah ku,jangan banyak alasan lagi,saya malas jika pagi-pagi sudah berdebat dengan kamu !" Ucap Banny seraya menuju almari pakaian.


" Saya tidak bermaksud ingin mengajak debat anda,hanya saja saya tidak bisa bersandiwara dengan perasaan saya sendiri." Ujar Mona dengan tersenyum miris,lalu ia pun berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Banny yang tiba-tiba mematung akibat ucapannya tersebut.


Kata-kata sekertarisnya barusan itu mampu membuatnya terngiang-ngiang di telinganya.Dan diam-diam ia pun membenarkan apa yang di ucapkan sekertaris sekaligus istrinya tersebut,jika perasaan itu tidak bisa untuk di jadikan sandiwara.Namun ia tidak memiliki pilihan lain selain mempertahankan ke egoisannya untuk sebuah kegengsian nya semata.


Mona hanya butuh waktu setengah jam saja untuk kembali rapih sehabis mandi,hari ini ia terlihat sangat manis dengan mengenakan busana dres berwarna pich perpaduan renda putih di bagian dadanya,rambutnya dengan sengaja ia urai,cukup membuat pria tampan itu melihatnya dengan terheran-heran atas perubahan kecil pada penampilan gadis tersebut.


jika hari-hari biasa gadis itu selalu mengikat rapih rambutnya kali ini rambut lurusnya itu di biarkan tergerai menutupi sebagian bahunya.


Mona duduk berhadapan dengan bosnya yang terlebih dahulu menyantap breakfast.


Dengan kurang bersemangat gadis itu hanya mencicipi sekedarnya saja perasaan nya sedang di liputi perasaan kesal terhadap pria yang selalu bersikap diktator terhadapnya itu.


Selintas mata pria itu melirik ke arah wajah gadis itu yang terlihat sangat fress tanpa sentuhan make up sedikit pun di wajahnya, dan entah kenapa setiap kali ia melihat penampilan gadis itu seperti ini,ia selalu merasa senang.Baginya gadis yang sedang duduk di hadapannya itu terlihat cantik walau tanpa sentuhan make up.


Tepat ia sedang menatap lekat gadis itu,dengan bersamaan gadis itu menyuapkan sepotong roti ke dalam mulutnya dengan mengalihkan pandangannya ke wajah pria itu dan....


Tap !!!


Pandangan mereka pun saling bertemu mengunci satu sama lain.


Mona dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah yang lain agar tatapan itu tak menjadikan dirinya terlena.Detak jantungnya mulai berdekup kencang setiap kali pandangan itu bertemu.

__ADS_1


Mona menghentikan kegiayatan makannya lalu beranjak dari tempat duduknya dan memilih duduk di sofa seraya membenarkan tali sepatunya.


Banny menggeleng pelan melihat sikap sekertarisnya itu yang menghindarinya secara tidak langsung.


__ADS_2