CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 86


__ADS_3

PAGI ini Mona sudah siap dengan aktivitasnya ia terlihat membuat secangkir teh hangat untuk dirinya serta sang neneknya yang pagi ini belum terlihat ada di dapur,Mona menatap pintu kamar sang nenek yang masih tertutup,Mona menatap cemas tak biasanya sang nenek bangun kesiangan namun ia berusaha untuk berpikir positif,mungkin sang nenek masih berdoa di dalam selepas sholat subuh tadi.


Mona duduk di kursi yang tak jauh dari meja makannya dan memilih untuk duduk di dekat jendela yang setengah terbuka menikmati udara segar yang menelusup masuk ke celah-celah tirai jendela itu.


Rasanya baru tadi malam ia pulang dari kantornya bersama sang bosnya itu,kini ia sudah bersiap untuk pergi ke kantornya dan bertemu kembali dengan bos juteknya itu,pagi begitu cepat menyapanya kembali.


Andai saja ia tidak ingat akan tanggung jawabnya sebagai seorang sekertaris bos jutek itu,mungkin hari ini ia akan memilih untuk ijin tidak masuk dan memilih beristirahat.


Merasakan pegal-pegal di kedua kakinya yang masih terasa nyeri seusai pertualanganya turun gedung,berjalan menuruni tangga darurat dari lantai lima hingga lantai groud floor.Bisa di bayangkan kaki segede apa jadinya begitu nyampai lantai ground floor.


Mona menghela lalu menyeruput kembali secangkir teh hangat dengan nikmat.


" Mona !Tumben sudah rapih ?" Tanya sang nenek menghampiri Mona yang sedang duduk sendiri di samping meja makan.


" Iya nek,semalaman Mona tidak bisa tidur ?" Balas Mona seraya meletakan secangkir teh hangat di meja.


" Loh kenapa ?" Tanya sang nenek dengan menarik pelan kursi.


" Oya? semalam kamu pulang jam berapa?soalnya dari habis sholat isya nenek ketiduran,hingga tak tau kamu pulang jam berapa." Ucap sang nenek seraya menatap secangkir teh yang belum di minum.


" Ini teh buat nenek ?" Tanya nenek Mona yang bernama Ibu Wira menatap lembut Mona.


" Itu Mona buatkan buat nenek." Ucap Mona seraya tersenyum simpul.


" Mona semalam pulang cukup larut malam,karena pekerjaan di kantor banyak sekali." Ucap Mona seraya menggerak-gerakan lehernya yang terasa pegal.


" Tetap jaga kesehatan yah !" Ucap Bu Wira mulai bangkit menuju salah satu lemari dan membukanya lalu mengambil sebuah toples yang berisi roti tawar serta mengambil salah satu toples kecil berisi selai nanas,Bu Wira pun mempersiapkan sarapan untuk cucu tersayangnya.


Mona menghembuskan napas lelah.Betapa tidak rutinitas ini membuatnya terasa jenuh.


" Kamu kenapa ?" Tanya sang nenek setelah melihat raut wajah cucunya itu yang tak bersemangat.


" Badan Mona rasanya pegal-pegal linu gitu nek." Ucap Mona pelan.Ia tidak mau menceritakan yang sesungguhnya yang telah terjadi kepada dirinya karena itu hanya membuat neneknya semakin cemas.


" Mungkin kamu kecapean,kan kamu habis sakit juga kemarin. !" Sela sang nenek seraya menyodorkan sepotong roti berselai nanas kesuakaanya Mona.


" Bisa jadi nek." Balas Mona dengan pendek.


" Jangan lupa minum vitamin,biar badan kamu vit lagi." Usul sang nenek dengan menatap lembut sang cucu.


Mona mengangguk pelan lalu menyeruput kembali teh hangatnya itu.


***********


MONA turun dari sebuah taxsi online lalu ia berjalan masuk melewati lobby gedung perkantoran.


" Mona !!" Panggil seseorang cukup keras.


Mona menoleh saat seseorang memanggil namanya. ia tersenyum simpul begitu mengetahui siapa yang memanggilnya itu.


" Zean !" Ucapnya sedikit heran.


Mona baru saja ia tiba di kantor, pria hangat itu menghampiri Mona dengan menyeringah.


" Ada apa lo ke kantor gue sepagi ini ?" Ucap Mona langsung bertanya.


" Gue mau nyulik lo !" Gurau Zeanu dengan tersenyum kecil.


" Gawat kalau lo nyulik gue karena lo bakalan rugi kalau nyulik gue." Balas Mona tak kalah lelucon.


" Kok rugi ?" Tanya Zeanu mengernyit.


" Porsi makan gue banyak,hii hii hii." Balas lagi Mona seraya cekikikan.


" Jangankan porsi makan lo,porsi buat biyaya hidup lo gue jabanin." Ucap Banny tak kalah hebat membalas leluconya Mona.


" Aihh pagi-pagi udah di gombalin gue." Balas Mona tersenyum tipis.


" Lo datang ya,ke acara ultah nyokap gue besok.Yang kemaren gue ada bilang juga sama lo." Ucap Zeanu menatap lurus Mona.


" Besok ya ?" Tanya Mona seraya berpikir.


" Lo udah ada janji ?" Tanya Zeanu menatap curiga.


" Enggak sih." Balas Mona ragu.


" Ayolah !sekalian gue perkenalkan lo ke keluarga besar gue." Ucap Zeanu dengan tersenyum penuh arti.


Mona menyipit lalu tersenyum kaku ke arah Zeanu.


" Memperkenalkan gue ?" Tanya Mona dengan pelan.


" Iya,gue ingin memperkenalkan lo dengan nyokap bokap gue,lo keberatan ya ?" Tanya Zeanu menatap resah ke arah Mona.


" Tidak juga,yaa suatu kehormatan juga gue bisa di kenalin dengan keluarga besar lo." Ucap Mona tersenyum tipis.

__ADS_1


" Yaa makanya lo hadir ya.Pliss !!" Ucap Zeanu berharap.


" Ok !!" Ucap Mona menyetujui setelah berpikir sejenak.


" Thank's ya Mon." Ucap Zeanu semeringah.


" Sama-sama,gue masuk dulu ya." Ucap Mona seraya melangkah.


Zeanu hanya mengacungkan kedua jempolnya dengan penuh rasa bahagia lalu ia pun menatap langkah Mona yang mulai memasuki ruang gedung perkatoran itu.


Mona melangkah berjalan memasuki pintu ruangan perkantorannya itu,namun baru saja ia tiba di dalam ruangan perkantoranny itu lift langsung terbuka lebar seakan-akan menyambut akan kedatangannya sehingga ia tak perlu repot berdiri lama menunggunya, dengan penuh rasa semangat Mona pun segera berlari kecil bermaksud ingin segera masuk kedalam lift itu.


Tapi


Sreettt.....


Tangannya tiba-tiba ada yang menyambarnya lalu menariknya lumayan kencang sehingga Mona tersentak kaget di buatnya.Dengan cepat ia menoleh ke arah si pemilik tangan yang sedang menarik tangannya itu.


" Amell !!lo bikin gue kaget aja sih" Ucap Mona membulatkan matanya dengan sempurna.


" Bentar dulu,gue ada perlu." Balas Amel singkat.


" Lift udah kebuka !" Balas Mona seraya menoleh ke arah lift yang sudah ada beberapa sttaf masuk.


" Lo lift kloter kedua saja." Balas Amel seraya menarik Mona untuk menuju ke ujung sudut ruangan.


Dengan pasrah Mona mengikuti langkah Amel.


" Lo ada apa sih?pagi-pagi udah ngehadang gue gini!" Tanya Mona tak sabar.


" Ada berita penting buat lo." Jawab Amel tak kalah cepat.


" Kan bisa nanti pas jam makan siang,gue sekarang buru-buru.Ruangan kantor pak Banny kayanya masih berantakan belum sempet gue rapihin sisa lembur semalam." Ujar Mona dengan memelankan suaranya.


" Beres-beres and bersih-bersih itu bagian Anak cleaning,lo rajin amat beresin ruangan Direktur.Lo sekertaris apa asisten rumah tangga?" Ejek Amel dengan terawa kecil.


Mona memutar bola matanya dengan malas.


" Lo semalam memangnya lembur sampe jam berapa ?" Tanya Amel malah mengalihkan pembicaraannya.


" Katanya lo ada berita penting,kok malah nanya lemburan gue?" Balas Mona mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


" Oh iya,nanti lemburannya bahas di jam makan siang ya." Ucap Amel cengengesan.


" Masalah mantan boskul itu loh, dan yang membocorkan masalah hubungan lo itu kayanya ada kaitannya dengan....," Ucap Amel menggantung lalu ia terlihat clingukan tengok kanan kiri lalu memelankan suaranya.


" Lalu ?" Tanya Mona kian penasaran.


" Sepertinya ada sangkut pautnya dengan cowok tanpa nama itu ?" Jelas Amel dengan ekspresi wajah yakin.


" Maksud lo Zeanu ?" Tanya Mona dengan menyipitkan matanya.


" Bisa jadi." Jawab Amel pasti.


Sejenak Mona berpikir lalu mencoba mepertimbangkan apa yang menjadi prasangka sahabatnya itu.


" Masa iya Zeanu sih ?gak mungkin banget." Tanya Mona menatap tak percaya ke arah sahabatnya itu.


Ting.....


Kembali terdengar dentingan suara lift terbuka lalu Mona menoleh ke arah lift itu dan seketika napasya tercekat saat melihat Banny sang bosnya itu sudah berada di dalam kapsul lift itu berdiri dengan sempurna, dan itu artinya bosnya itu akan segera menuju ruangannya.


" Mel,nanti ini kita bahas lagi." Ucap Mona dengan melangkah pergi.


" Bener ya,tar gue tunggu bareng Tamara di kantin." Teriak Amel cukup keras,Mona hanya memberi isyarat ok dengan ibu jari tanganya.


Tepat sebelum pintu lift itu kembali tertutup Mona segera berlari dan menelusupkan tangannya pada celah pintu lift tersebut agar pintu lift terbuka kembali.


Mona pun membungkuk melakukan permohonan maaf kepada beberapa orang yang berada di dalam lift itu karena harus menghentikan lift yang hampir tertutup.


Mona bergeser dan berdiri di samping sang bos yang memperhatikan nya dengan ekspresi dingin.


Mona pun menatap pantulan bayangan dirinya pada pintu lift.


Tap...


Mona mendapati pantulan bayangan sang bos yang tengah memperhatikan ke arahnya dengan seksama,Mona memilih menunduk lalu menatapi ubin latai lift itu dengan perasaan yang tak menentu.


Ting


Kapsul lift tehenti lalu terbuka di lantai tiga,empat orang yang berada di dalam sana segera keluar dan berpamitan kepada Banny dengan penuh hormat lalu Banny pun hanya mengangguk dengan penuh wibawa.Dan sisa lima orang termasuk dirinya bersama sang bos masih berada di dalam kapsul lift itu.


Ting


Kembali kapsul lift terbuka di lantai empat lalu tiga orang keluar lagi,dengan seperti biasa mereka berpamitan dengan penuh hormat kepada Banny, dan lagi-lagi Banny hanya mengangguk saja.

__ADS_1


Kapsul lift berjalan kembali menuju lantai lima.


Ting


Kapsul lift terbuka lebar dengan bersamaan Banny serta Mona melangkah keluar dari dalam kapsul lift itu,dan tak bisa di hindari lagi mereka pun bersenggolan satu salam lain.


Mona menoleh ke arah Banny dengan menatap risih,begitupun Banny menoleh ke arah Mona dengan tatapan mata elangnya.


Dua tatapan saling beradu,mengulang kembali perasaan yang membuat hati mereka berdebaran tak biasa.


Namun kali ini Mona dengan cepat menarik kembali langkahnya lalu memilih mundur kembali ke dalam kapsul lift itu dan mempersilahkan sang bos untuk keluar terlebih dahulu.


Mona beranggapan jika dirinya keseringan saling bertatapan dengan bosnya itu,maka itu hanya akan menimbulkan percikan-percikan rasa yang membuat dirinya kegeer-an saja,dan hal itu tentunya akan membuat ia semakin terjebak dalam tifu daya pesona sang bos yang sering sulit di hindari.


Banny menatap heran dengan mengernyitkan alis tebalnya saat melihat Mona memilih untuk menghindari tatapannya,ia menggeleng seraya melangkah keluar lalu tak lama di ikuti Mona sang sekertarisnya.


Mereka berpisah saat memasuki ruangannya masing- masing.


Setelah berada di ruangannya Mona langsung menyimpan tasnya setengah di lempar ke atas meja dengan kasar,lalu ia pun duduk terhempas kuat di kursinya.


Mona menatap kesal ke beberapa barang yang ada di atas meja kerjanya itu,Sampai kapan ia harus mengalami perasaan seperti ini?


Jika terus seperti ini maka perasaan itu akan sulit ia kendalikan.


Jika sang bos hanya berpura-pura kepadanya, lalu kenapa sang bosnya itu terkadang berubah baik kepada dirinya tanpa ia sadari,serta ada kalanya juga sang bosnya itu selalu memperlakukan dirinya dengan penuh kelembutan sehingga ia merasa kesulitan untuk mengartikannya akan sosok seorang Banny ini.


Namun terkadang bisa juga berubah menakutkan akan sikap diktatornya itu hingga sering membuatnya frustasi.


Mona menghela napas lalu mengetuk-ngetukan telunjuk jarinya kemeja dengan penuh penekanan di setiap ketukannya.


Kringg.....


Suara deringan pesawat telpon mengalihkan pikirannya hingga Mona pun terhenyak,lalu ia pun menatap sebal ke arah pesawat telpon itu yang sudah berhasil membuatnya terkejut.Di angkatnya gagang pesawat telepon itu dengan cepat dan di tempelkan di telinganya.


" Hallo !" Sapa Mona dengan malas.


" Mona tolong keruangan saya !!" Perintah Banny terdengar jelas dari sebrang telepon.


" Baik pak !" Balas Mona singkat.


Dahi Mona mengerut lalu bola matanya melirik malas keatas seakan-akan ia sedang berpikir keras,ada apa sepagi ini sang bos sudah memanggil keruangannya.


Pikir Mona seraya meletakan kembali gagang telepon itu,lalu ia pun segera pergi menuju ruangan sang bos.


Mona mengetuk pelan pintu yang bertuliskan Direktur Utama.Lalu tak lama suara berat menyuruhnya untuk masuk,Mona mendorong pelan gagang pintu itu dan melongokan kepalanya kedalam.


" Permisi pak,apa ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Mona setelah membuka lebar pintu ruangan itu.


" Kenapa ruangan saya belum di bersihkan ?" Tanya Banny yang masih berdiri menatap tajam ke arah kedatangan sekertarisnya.


Mona membagikan tatapannya ke seluruh ruangan bosnya itu dan sepertinya memang benar ruangan sang bosnya itu belum ada yang membersihkan.


" Biar saya saja yang membersihkannya pak." Sela Mona dengan cepat,pikirnya urusannya akan selesai jika ia yang melakukannya.


" Kamu sekertaris saya,bukan cleaning servis,kenapa mereka tidak bergerak cepat,apa saja kerja mereka ?" Ucap Banny dengan terlihat kesal.


Mona menatap cemas ke sang bos,kecemasan ia beralasan,ia cemas jika para pekerja cleaning service itu akan bernasib sama dengan pak Butong sang teknisi senior itu.


" Kalau begitu saya hubungi pihak cleaning servicenya pak." Ucap Mona menatap ragu ke arah bosnya.


" Tidak usah! biar saya saja yang langsung menghubungi pihak Cs dan memberi peringatan agar mereka bisa bekerja dengan penuh tanggung jawab,tidak lelet seperti ini." Ucap Banny seraya melangkah berniat untuk keluar namun Mona segera bergerak cepat menahan langkahnya.


" Tidak usah pak !maksud saya biar saya saja yang menghubungi mereka." Sergah Mona dengan menatap cemas,entah kenapa Mona merasa iba jika mereka harus kehilangan pekerjaanya hanya karena ke lalaian mereka dalam melaksanakan pekerjaanya.


Banny menatap tajam bercampur heran ke arah Mona yang sedang berusaha menahan langkahnya.


" Kenapa kamu bersi keras kamu yang akan menghubungi mereka ?" Tanya Banny dengan tatapan elangnya.


" Heuh....,Saya khawatir saja bapak akan memecat mereka,karena saya yakin mereka masih butuh pekerjaan ini." Ucap Mona seraya meremas jari-jarinya dengan resah.


Banny menyipitkan matanya lalu menatap dalam Mona,Mona tertunduk merasa tertekan akan tatapan bosnya itu.


" Jadi kamu belain mereka ?"Tanya Banny degan menatap dingin.


" Saya hanya kasihan saja melihat mereka,jika bapak memecatnya hanya karena mereka lalai membersihkan ruangan bapak ini itu artinya bapak akan menghilangkan mata pencaharian mereka,dan mereka pun akan jadi pengangguran." Jelas Mona yang terlihat gugup dan tak berani menatap sang bosnya itu.


Banny terdiam lalu mencoba mengkaji ulang akan pernyataanya sang sekertarisnya itu yang menahan keinginanya untuk memberi Sp terjadap anak-anak cleaning service.


Banny menatap gadis itu dengan berusaha menimbang ke putusannya.


" Baiklah,kali ini saya tolerin,tapi tidak dengan kedepannya.Sekarang kamu panggil mereka dan bersihkan ruangan saya ini,jangan sampai masih ada debu yang menempel di meja kerja saya." Ujar Banny tegas.


" Ba baik pak." Balas Mona dengan lega.


Banny melangkah keluar meninggalkan Mona yang terlihat menarik napas panjang,syukurlah ia masih bisa menyelamatkan para pekerja cleaning service itu, dan ia merasa bangga sudah dapat menghalangi keinginan sang bosnya itu untuk memberi pelajaran kepada para cleaning service dengan memecat satu persatu pekerja kebersihan itu.

__ADS_1


__ADS_2