CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 92


__ADS_3

Sebuah kado beraksen pita berwarna ungu itu masih tersimpan rapih di samping laptopnya Mona,ia masih belum mau membuka kado pemberian Zeanu tersebut.


Mona membiarkan kado tersebut masih terbungkus dan sepertinya ia tidak terlalu begitu penasaran akan isi dari bingkisan tersebut.


Mona mengambil gawainya setelah nada satu pesan berbunyi.


Mona menatapi layar itu dan sebuah pesan singkat dari Zeanu.


Zeanu : Mon,lo suka bajunya?"


Mona mengernyit lalu menatap kembali kebingkisan tersebut,rupanya Zeanu memberi sebuah baju untuknya isi dari bingkisan cantik itu.Mona memicingkan matanya ke arah bingkisan itu yang sedari tadi tak tesentuh olehnya.Tanpa sadar Mona mengulas senyuman lalu sejurus kemudian mengetik balasan untuk Zeanu.


Mona meraih bingkisan itu lalu ia pun mengeksekusi bingkisan cantik itu dengan tak sabar.


Sebuah dres tunik berwarna pich muda terlipat rapih di dalam kotak tersebut,lalu secerik kertas menempel di atas lipatan baju itu,Mona segera mengambil baju itu dan menempelkan di tubuhnya itu.


Ia tersenyum lembut seraya mematuti dirinya dan memantaskan baju itu di tubuhnya.


" Untuk apa Zean memberi gue baju ?" Tanya Mona berguman seraya memandangi gaun cantik itu.


Mona pun meraih gawainya dan memilih untuk menelpon langusng Zeanu agar tidak penasaran,selang beberada detik kemudian panggilannya tersambung.


" Hallo Zean !" Sapa Mona dengan ramah.


" Iya Mon.Gimana lo udah buka kado dari gue?lo suka bajunya ?" Tanya Zeanu dari sebrang telepon dengan suara ringan.


" Bagus,gue suka." Jawab Mona terdengar riang.


" By the way dalam rangka apa nih elo ngasih gue baju sebagus ini?" Tanya Mona tersenyum tipis.


" Besok lo pake ya! gue kasih buat acara besok,nyokap gue." Jelas Zeanu terdengar bahagia.


" Oh,jadi itu alasannya lo ngasih gue baju,tau,tau.Elo mau gue keliatan cantik yaa?haa...haa.." Ujarnya seraya tertawa renyah.


" Tidak seperti itu juga Mon,gue ingin lihat lo pake baju warna itu aja dan sepertinya warna itu cocok banget buat lo." Jelas Zeanu dari ujung telepon.


" Thak's ya." Balas Mona dengan suara lirih.


" Sama-sama,gue seneng kalau lo suka bajunya." Tambah lagi Zeanu terdengar semeringah.


" Gue suka,yaa udah gue lanjut kerja lagi ya,dah Zean!" Ucap Mona mengakhiri panggilannya.


Mona hanya menyeringah lembut lalu ia menatap penuh arti ke arah dress tunik cantik itu,entah kenapa Zeanu begitu sangat perhatian kepadanya,kelembutannya tak ayal membuat ia selalu berpikir panjang jika seorang perempuan mendaptakan lelaki seperti Zeanu tentu kebahagian akan di milikinya.


Mona menarik napas panjang lalu bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman yang penuh arti dan ia pun menggeleng pelan.


Mona menggerakan jari-jari tanganya di atas papan kyboard laptonya,ia berniat melanjutkan kembali pekerjaannya mata bulatnya pun menatap serius ke arah layar laptop tersebut, namun entah ada perasaan apa bola matanya itu membulat dengan kedua alisnya mengerut,ada sesuatu hal yang menarik hatinya untuk menggeserkan bola matanya ke arah ruangan lain.


Dan ruangan yang telah menarik hatinya itu adalah ruangan bosnya,perlahan bola matanya melirik lembut ke arah tersebut dan benar saja Mona menangkap sosok pria dingin berwajah tampan itu sedang berdiri tegak di balik dinding kaca seraya memperhatikannya.


Sontak Mona menggeser cepat bola matanya itu menatap kembali ke layar laptopnya.


Debaran-debaran itu kembali muncul menggetarkan perasaanya,sejauh ini ia sedang berusaha untuk menyingkirkan segala perasaan yang berhubungan dengan bosnya itu,tapi kini perasaan itu semakin bertaut di dalam hatinya.


Hening....


Sejenak Mona memejamkan kedua matanya lalu perlahan membuka nya kembali seraya menghempaskan jauh-jauh hembusan napasnya,sejujurnya ia ingin melupakan tatapan nya itu dan berusaha untuk tidak memperdulikannya lagi. Karena ia tahu jika ia terbawa akan perasaannya itu hanya akan menambah kian panjang permasalahan hatinya itu.


Namu sepertinya itu hanya sia-sia saja, tatapan mata elang sang bosnya itu membekas kembali sehingga tak bisa di alihkan dari netranya.


Mona menunduk dalam dan ia berusaha melenyapkan fikirannya yang mulai menggagalkan kembali pertahanan perasaanya itu.


**********


Cuaca hari terasa sangat panas langit pun terlihat membiru tanpa ada awan mengirinya.


Gadis pemilik lesung pipit itu sedang duduk menyendiri di sudut ruangan,tanpa di temani kedua sahabatnya yang ceriwis,hanya segelas es teh manis beserta cemilan stik kentang menemaninya kala ini.


Gadis berlesung pipit itu menatap kosong ke arah gelas tinggi yang berisi penuh es teh manis,lalu dengan raut wajah tak bersemangat ia hanya mengaduk-ngaduk minumannya menggunakan pipet dengan pikirannya masih bertaut dengan bosnya.


Suara langkah seseorang sedang menuju ke arah tempat duduknya.


" Mona!" Panggil seseorang itu dengan penuh penekanan.


Mona terdiam lalu menyimak jelas suara yang telah memanggilnya tersebut lalu seseorang itu pun berdiri dengan tak jauh dari hadapannya.


Mona menggeser pandangannya ke arah ujung kaki orang tersebut lalu perlahan menatap sepatu berhak tinggi itu dan pandangannya mulai bergeser ke arah lutut seseorang itu.


Hati kecilnya perlahan menerka akan sosok seseorang itu dan dugaanya ternyata benar.


Mona mendongkak lalu menatap lurus ke wajah sosok seorang perempuan itu yang tengah berdiri tepat hadapannya yang tiada lain adalah Manda.


" Gue boleh duduk disini?" Tanyanya menatap sinis ke arah Mona.


" Untuk apa ?" Jawab Mona menatap dingin Manda.


Kali ini ia bersikap cuek dengan menghindari tatapan sinisnya Manda.


" Untuk membicarakan kembali masalah cinta settingan lo itu,bolehkan gue duduk di sini?" Tanyanya lagi memaksa.

__ADS_1


Mona melengos mendengar permintan Manda.


Manda masih menunggu jawaban dari Mona yang sedari tadi hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan nya itu.


" Gue mau bicara lagi sama lo." Manda mendesak.


" Ada apa lagi sih Man?lo kan udah tau permasalahannya apa lagi yang mau di bahas sama gue?gue lagi malas berdebat." Ujar Mona seraya menyesap es teh manisnya.


" Sombongnya." Ujar Manda dengan mendecih sinis.


Mona mengalihkan pandangannya keluar kantin dengan melipat tangannya di atas dada.


" Mona,sebaiknya gue saranin lo akhiri sandiwara ini,sebelum gue bongkar masalah ini ke publik.Karena gue yakin lo akan sakit hati jika publik mengetahui jika elo itu hanya pacar settinganya pak Banny." Ucap Manda menggertak.


Mona menoleh cepat lalu menatap tajam ke arah Manda yang masih berdiri menatapnya sinis.


" Itu bukan urusan lo." Jawab Mona ketus.


" Ow !! itu bukan urusan gue?asal lo tahu saja semenjak lo jadi sekertaris pak Banny,rencana gue berantakan.Dan ingat !! lo adalah penyebab utama semua rencana gue berantakan." Tunjuk Manda dengan menatap beringas.


" Loh,apa hubungannya sama gue?apa jangan-jangan lo mau juga ya jadi pacar settingannya pak Banny?" Tanya Mona melirik sengit.


" Sayang yah,pak Banny lebih milih gue dari pada lo." Terang Mona menatap Manda penuh kemenangan.


Wajah Manda memerah setelah mendengar akan jawaban nya Mona yang di rasa cukup membuatnya geram.


" Heh !" Manda menggebrak meja dengan kasar.


Mona membulatkan matanya dengan sempurna setelah melihat sikap kasarnya Manda kepada dirinya.


" Dari dulu sampe sekarang gue tetap benci sama lo,dan gue juga akan tetap membenci lo.Asal elo tahu,elo itu cuman pacar settingannya pak Banny jadi lo gak usah bangga dulu,lo pikir settingan ini akan indah pada waktunya?elo salah.Ingat itu cuman kehaluan tingkat tinggi lo saja, ingat !! halu elo itu udah akut." Bola mata Manda semakin melotot lebar seperti hendak melompat dari tempatnya dengan nada bicaranya yang semakin meninggi.


Beberapa orang yang hadir di sana menoleh ke arah perdebatan mereka.


Dengan repleks Mona bangkit dari duduknya dengan mengangkat tinggi dagunya menatap tajam ke arah netranya Manda.


" Elo gak bisa gertak-gertak gue lagi.ingat! jabatan elo sekarang berada di bawah gue,sedikit lo buka mulut dan berani membuka masalah ini,maka gue gak akan segan-segan menyingkirkan lo dari persuhaan ini." Ancam Mona dengan mengarahkan telunjuknya ke wajah Manda.


Manda membelalakan kedua matanya membalas tatapan tajam Mona.


Mona berusaha mengatur laju napas yang tersenggal-senggal menahan amarah yang meluap dari dalam dadanya.


Manda menekan rahang pipi tirusnya itu dengan kuat-kuat,leher jenjangnya semakin meninggi.


" Dulu gue masih bisa ngalah dari lo,tapi sekarang sorry.Gue bukan Monalita yang dulu lo kenal lagi,yang sering mengalah demi lo,kali ini gue katakan sama lo,gue gak akan diam jika lo usik kehidupan gue lagi." Cetus Mona dengan amarahnya yang terus memburu.


Manda tak berkutik lagi setelah Mona mengancam akan menyingkirkan dirinya dari perusaahan,ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan kuat saat melihat sikap beraninya Mona melawan atas dirinya itu.


" Yaa !!" Jawab Mona pendek mata belonya semakin membulat.


Antesi beberapa orang yang hadir di sana ikut tertuju kepada mereka berdua,tatapannya masing-masing menatap heran melihat Manda dan Mona beradu mulut dengan sengit.


Mereka berdua saling bersikeras mempertahankan kebenarannya masing-masing.


" Mon,Mon!!" Panggil gadis bertumbuh mungil berponi pendek itu berlari kecil menyela mereka dan ia pu berniat ingin melerai pertengkaran mereka yang sedang berlangsung.


Tak lama di susul oleh si gadis berambut ikal yang turut serta melerai pertengkarannya Mona dengan Manda yang menjadi tontonan gratis banyak orang di kantin tersebut.


" Sudah,hentikan !! kalian gak malu apa adu mulut disini ?" Sergah Amel seraya berdiri di tengah mereka.


" Heh,kribo lo gak usah ikut campur urusan gue ya!" Pekik Manda mendelik hebat.


" Gue gak sudi juga kali ikut campur urusan lo,cuman gue gak setuju jika lo berdua berantem disini,ini namanya mengganggu kenyamanan umum,gak lihat apa,orang-orang terganggu gara-gara lo berdua ribut disini."


Jelas Amel dengan menatap tajam keduanya secara bergantian.


" Mau lo apa ?" Tanya Manda mengangkat tinggi dagunya seraya membusungkan dadanya lebih maju.


" Lo jangan ribut disini.!" Balas Amel dengan nada tinggi.


" Ini bukan urusan lo." Lagi-lagi jawab Manda ketus semakin membuat Amel menjadi naik pitam.


" Lo yaa.Kalau di kasih tau." Ucap Amel mendorong kuat tubuh jangkisnya Manda hingga terdorong jauh kebelakang.


Sontak Mona dan Tamara ikut shok melihat sikap aslinya Amel yang arogan.


" Mel,mel,tahan !!" Sergah Mona menarik tangan Amel yang merangsak maju untuk kembali mendorong tubuh Manda.


" Heh !,bisa gak lo gak kasar sama gue?" Seru Manda shok sekaligus emosi.


" Lo Mel,ini bukan melerai namanya, lo malah ngajak berantem juga." Sela Tamara menarik pergelangan Amel yang masih terlihat menahan amarahnya.


" Mel,tenang.Elo jangan kepancing,nanti repot urusannya jika pak Banny tau kita berantem." Pekik Mona setengah berbisik ke arah telinga Amel.


" Gue lama-lama gatel juga pengen nonjok pipi tirusnya dia itu." Ucap Amel berapi-api,ucapanya di tunjukan ke arah Manda yang tetlihat mulai ketakutan atas sikap kasarnya Amel.


" Tenang,Mel,tenang !" Sergah Tamara menenangkan kembali.


" Kalian semua Pengecut !!bisanya kalian main keroyokan !" Ucap Manda menjaga jarak.

__ADS_1


" Lo sendiri yang maksa kita untuk ngeroyok lo." Balas Amel seraya berjalan hendak mendekatinya lagi.


" Mel udah sih.." Sergah lagi Tamara seraya menarik kembali ujung bajunya Amel.


Wajah Manda merah padam,tatapan nya penuh ancaman ke arah Mona dan kedua sahabatnya itu.


" Lihat saja nanti,gue balas perlakuan lo bertiga." Cetus Manda dengan galak.


Manda pun berjalan mundur lalu memutar balik badannya melangkah pergi meninggalkan Mona dengan kedua sahabatanya,Tamara masih sibuk menenangkan Amel yang sudah tak sabar ingin menghajar habis tubuh idealnya Manda.


" Sono lo bawa pasukan lo semua !gue gak akan takut." Teriak lagi Amel dengan suara tak kalah tinggi.


Sisi seorang premannya keluar juga dari jiwa seorang Amel.


" Sudah Mel,lo teriak-teriak juga percuma si Manda gak bisa dengar dia udah pergi." Sela Tamara dengan panik mengelus-ngelus pundak Amel yang masih berguncang menahan emosinya.


" Geerrrrr,,.Alsi gue pengen ngejambak tu rambutnya." Sela Amel kesal ia terlihat meremas-remas kesepuluh jarinya itu dengan geram.


" Udah sih Mel,lo tenang diri dulu ya,gue mah serem kalau udah liat lo marah,tar etalase bu maryam pada melayang lagi." Sela Mona menentramkan perasaanya Amel.


Amel menarik napas lalu memengang dadanya yang terasa sesak.


" Gue yakin jika lo sampe berantem sama Manda terus ketahuan pak Banny,gak cuman si Manda aja yang kena,lo juga kelar." Sela Tamara membenarkan poni pendeknya.


" Tamara benar." Mona menambahkan.


" Habisnya gue udah lama nunggu moment seperti ini tuh buat nonjok habis muka juteknya tu orang,gue udah tahan-tahan selama ini atas perlakuan dia sama lo." Imbuh Amel dengan berapi-api.


" Udah Mel,gak enak tuh di liatin orang,tar mereka ngira kita ini cewek-cewek arogan." Tamara menenangkan Amel seraya duduk di sampingnya.


" kalian berdua dari mana ?" Tanya Mona mengalihkan pembicaraan.


Amel dan Tamara saling bertatapan lalu menghela napas.


" Tadi gue habis nganter Amel keluar kantor,ia pengen sate tumben-tumbenan nih orang mau ganti menu,pengen sate padang lagi." Jelas Tamara pelan.


" Lo nyariiin kita ya ?" Tanya lagi Tamara cepat.


" Gue pikir lo berdua masih marah sama gue?" Ucap Mona pelan.


" Ko marah ?emang lo salah apa ?Sampe kita marah sama lo?" Sela Amel menurunkan kembali lengan bajunya yang tadi sempat ia naikan.


" Yang masalah kemaren." Jawab Mona dengan ragu.


Amel dan Tamara saling bertatapan lalu tersenyum lembut ke arah Mona.


" Mon,gue gak akan ngelarang lo,apapun itu keputusan lo,cuman gue sebagai sahabat lo,tentunya mengharapkan yang terbaik buat lo.Karena gue gak mau lihat lo nangis."


Ucap Amel dengan nada berat.


" Gue tahu itu." Balas Mona dengan tertunduk.


" Jika lo kuat untuk kedepannya,gue hanya bisa mensuport lo dari belakang." Jelas Amel mengelus pundak sempitnya Mona.


" Samping Mel." Sela Tamara polos.


" Terserah lo,yang penting gue gak di atas." Balas Amel melengos.


" Di tindihin dong." Jawab lagi Tamara polos.


" Terserah lo." Balas Amel geram.


" Makasih ya,lo berdua udah mau suport gue." Mona menatap penuh arti ke arah kedua sahantanya itu.


" Jadi keputusan lo apa ?" Tanya Amel menatap resah.


Mona menghela lalu menatap ragu ke arah kedua sahabatnya.


Tamara menatap penuh harapan jika Mona bisa mengambil sebuah keputusan yang bijak dalam menanggapi permasalahan hatinya ini.


Amel menanti jawaban dengan cemas,apa yang menjadi pikiran Tamara selaras dengan pikirannya,ia berharap sama jika Mona mengambil keputusan yang tepat dan tidak mengorbankan perasaanya itu.


" Gue akan tetap menerima lamaran dan pernikahan nya pak Banny,tapi dengan mengajukan beberapa syarat." Jelas Mona dengan menarik napas panjang.


" Jadi ??" Tanya Amel menggantung dan menatap penuh selidik.


" Jadi,gue akan menerima permintaan nya pak Banny dengan beberapa syarat yang gue ajuin" Jelas Mona menatap lekat kedua sahabatnya itu.


" Apakah syarat itu berupa kompesasi setelah lo berdua cerai ?" Tanya Amel menyipitkan matanya.


" Bisa jadi !" Ucap Mona mengangguk.


Amel dan Tamara menggeleng pelan,lalu mereka mencoba menyelami raut wajahnya sahabatnya itu yang masih terlihat sembab,entah mendapatkan ide darimana sahabatnya tersebut sehingga berani mengajukan sebuah persyaratan kepada bosnya itu.


" Yakin pak bos akan menyetujuinya,secara dia seorang peminpin yang cerdas tak mudah di bodohin ataupun di manfaatin orang." Sela Tamara sedikit khawatir.


" Harus mau,biar gue gak rugi menjadi seorang janda dari pengusaha muda ternama Banny pratama wiguna,anak tungal dari seorang pengusaha terkaya." Ucap Mona dengan lantang.


Amel dan Tamara semakin frustasi menatap aksi dari sahabatnya itu,mereka berharap apa yang menjadi wancana Mona akan terlaksana dengan baik.

__ADS_1


" Doa terbaik buat lo Mon." Ucap mereka serempak.


Meski mereka tak yakin,tapi mereka berdua di paksa untuk yakin.


__ADS_2