CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH Episode 203


__ADS_3

BANNY terheran-heran setelah menerima panggilan dari sang Ayah melalui telpon secara tiba-tiba dan sang Ayah pun memintanya untuk segera datang ke kediamannya.Berbagai pikiran terus merongrong isi kepalanya,mungkinkah sang Ayah telah mengetahui permasalahan rumit yang tengah ia hadapi bersama Mona ? Atau kah ada permasalahan yang lain?


Banny menggeleng prustasi,padahal saat ini ia tengah berusaha keras mencari keberadaan Mona dimana,hingga berbagai upaya ia tempuh tapi tidak membuahkan hasil.Ada pun ia memanggil kedua staf yang bernama Amel dan Tamara untuk bertanya perihal keberadaanya Mona,karena Banny yakin jika mereka tau akan keberadaan Mona karena mereka berdua orang yang paling dekat dengan Mona.


" Permisi pak,bapak memanggil kami ? " tanya Amel setelah mengetuk pintu,ia bertanya dengan sikap sopan.


Pintu sengaja terbuka dan Banny membiarkan hal itu.


Banny mengangguk lalu menyuruh kedua staff itu untuk segera masuk ke ruangannya.


" Maaf pak,ada apa bapak memanggil kami berdua ?" tanya Amel setibanya di dalam ruangan dengan sedikit penasaran,begitupun Tamara terlihat deg-degan di panggil kembali oleh atasannya,berbagai pertanyaan meliputi perasaan kedua gadis tersebut.


" Silahkan kalian duduk." suruh Banny mempersilahkan kedua staf itu untuk duduk di hadapannya.


Amel dan Tamara menuruti perintah bosnya tersebut.


Banny menatap bergantian ke arah dua gadis itu,Amel dan Tamara ikut saling menoleh satu salam lain dengan perasaan tak biasa.


" Saya ingin bertanya sesuatu pada kalian berdua perihal Mona,jadi tolong kalian jawab dengan jujur !" ucap Banny mengawali pembicaraanya dengan menatap dingin,sorot matanya terlihat beku dan nada bicaranya terdengar begitu kaku.


Kembali kedua gadis itu saling berpandangan dengan berbagai perasaan di benaknya masing-masing.


" Apa kalian tahu Mona sekarang berada dimana ?" tanya Banny langsung ke inti pembicaraan tanpa basa basi.


Air wajah salah satu staff wanita itu terlihat berubah,ekspresinya terlihat sentimen sepertinya ia enggan untuk menjawab pertanyaan dari atasannya tersebut.


Tamara hanya menggeleng tanpa mau membuka suara.


Banny menatap dua gadis itu secara bergantian sorot matanya terlihat begitu tajam.


" Apa kalian bisa jawab ?" tanya kembali Banny dengan nada suara tak biasa.


" Maaf pak, saya kurang tau." balas Amel akhirnya bersuara dengan membeti jawaban yang singkat dan terkesan masa bodoh,ia tak peduli jika bosnya kali ini sedang berusaha mencari tahu sahabatnya tersebut,akan tetapi baginya semua itu terlambat ia tak ingin memberi tahu sedikitpun tentang keberadaan Mona saat ini kepada laki-laki yang sudah tega mengusirnya.


Banny mengernyit menatap dengan sakartis.


" Kalian benar-benar tidak mengetahui kabar sahabat kalian ?bukannya kalian itu sahabat forevernya Mona heu??" sela Banny tersenyum ironis,senyumannya terkesan penuh cemooh.


Amel mengulas senyuman namun terkesan jutek.Ia berusaha untuk tidak terpancing dengan sikap bosnya yang terkesan sedang menyindir secara halus.


Sebelum menjawab Amel terlihat tersenyum tipis,ia berusaha menetralkan perasaanya untuk tetap tenang walau otaknya mulai terasa hangat dengan ucapan bosnya tersebut.


" Maaf pak,tidak selamanya kita bersahabat ini saling terbuka mengenai masalah pribadi masing-masing,adakalanya kita harus menyimpan rapat privasi kita sendiri." ujar Amel sedikit tandas,raut wajahnya terlihat begitu datar.


" Ohh gtu yaa ? " ujar Banny manggut-manggut namun nada bicaranya terkesan tak percaya,Tamara menoleh ke arah Amel dengan tetap membisu.


" Tapi kok bisa ya kalian begitu yakin jika sahabat kalian itu tidak melakukan hal yang bodoh,hingga menjadi gunjingan saat ini,memalukan.Beritanya hingga beredar saat ini,dan kalian begitu angkuh membela sahabat kalian itu,bahkan kalian mengatakan jika kalian lebih tahu segalanya tentang sahabat kalian itu,tapi nyata keberadaanya pun kalian tidak mengetahuinya,itu sangat lucu sekali bukan??." ujar Banny terkekeh dengan menyeringai sinis.


Alis gadis bertubuh padat itu mengkerut hebat,menatap dengan perasaan tak biasa,ucapan bosnya itu membuat perasaan tercambuk.

__ADS_1


Tamara menghela ia mulai khawatir akan kondisi emosional sahabatnya tersebut yang suka tak terkendali.


Amel membuang wajahnya dengan mengulas senyuman sinis lalu menatap kembali ke arah wajah bosnya tersebut menatap lurus dengan tatapan penuh kekesalan,ia berusaha untuk tetap menahan amarahnya yang mulai terasa di ubun-ubun perkataan dan sikap atasannya itu mampu membuat kupingnya terasa panas.


" Pak,meski kami bersahabat dekat,tapi bukan berarti kami harus tau masalah privasi masing-masing,tak selamanya kita harus berbagi cerita dalam hal yang sangat pribadi,apa lagi ini menyangkut perasaan seseorang yang begitu sensitif,dan sepertinya Mona perlu waktu untuk menenangkah pikiran serta perasaanya dalam permasalahan yang tengah di hadapinya,bahkan dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun,jadi wajar saja jika kami membiarkannya demi kenyamanan hatinya." ujar Amel dengan intonasi penuh penekanan di setiap kalimat yang di ucapkannya.


Bukannya mengerti akan maksud ucapan staffnya itu justru Banny malah tertawa lucu,dan menatap lepas stafnya tersebut.


Melihat sikap kurang baik bosnya tersebut Amel terlihat melipat bibirnya,kelakuan bosnya itu benar-benar membuatnya muak.


" Jadi sahabat kalian itu kini tengah terganggu sikisnya hingga tidak bisa di hubungi??,seharusnya kalian tidak membiarkan sahabat kalian itu sendirian loh,jika terjadi apa-apa dengan sahabat kalian itu saya harus menyalahkan siapa ? " ucap Banny dengan enteng.


Amel membukatkan bola matanya menatapnya dengan penuh rasa marah,di rasanya pria yang ada di hadapannya ini kini berubah menyebalkan di matanya.


Tamara lagi-lagi hanya mampu menarik napas panjang bibir mungilnya nampak berkomat kamit ia berdoa di dalam hatinya jika Amel mampu mengontrol emosinya.


" Sebenarnya saya ingin berbicara jujur pak !" ucap Amel dengan raut wajah kian masam.


Banny mengangkat dagu runcingnya lalu menatap dengan penuh ekspresi ke arah Amel.


" Berbicara jujur mengenai apa ? kamu mau jujur jika kamu menyesal melindungi sahabatmu itu,karena faktanya sahabat kamu itu memang bersalah telah berkhianat." ujar Banny dengan sikap angkuh.


Amel menggeleng sikap sok tahu bosnya itu semakin membuatnya murka.


" Jujur saja,saya merasa menyesal memiliki pimpinan perusahaan yang tidak memiliki hati serta perasaan,seharusnya bapak sebagai seorang pemimpin perusahaan sekaligus suami dari sahabat saya bisa lebih bersikap bijaksana dalam menghadapi persoalan ini bukan main hakim sendiri,saya katakan sekali lagi.Jika apa yang semala ini bapak tuduhkan terhadap Mona itu sangatlah tidak benar,ingat pak.Mona sahabat saya itu tidak melakukan sedikitpun perselingkuhan,ia hanya menjadi korban pak." tegas Amel dengan sedikit gusar.


" Kamu masih berkeyakinan jika Mona sebagai korban ?? Lalu kamu tau siapa yang menjadikan Mona korban? Kamu sejauh mana mengetahui hal ini,sedangkan kamu sendiri tidak tau keberadaan Mona saat ini,lantas saya harus percaya omong kosong kamu !!" tanya pria itu menatap begitu tajam nada bicaranya mulai terkesan meninggi.


Amel menelan ludah,keras kepala satu pria ini tak ada tandingannya tetap menuduh Mona menghianatinya.


" Saya yakin jika ada seseorang yang tidak menyukai keberadaan Mona di samping bapak,sehingga orang itu melakukan sesuatu hal untuk memisahkan bapak dengan Mona,percayalah pak." ujar Amel mencoba menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya terhadap bosnya tersebut,ia berharap pria itu mau mempercayainya.


Tapi lagi-lagi pria tampan berwajah dingin itu hanya tersenyum sinis,tatapannya semakin terlihat dingin.


" Adakah orang yang tidak suka atas hubunganku dengan Mona ? Kamu bisa tunjukan siapa dia?" ucap Banny melayangkan sebuah pertanyaan yang begitu rumit.


" Kenapa tidak jika orang itu menyukai Bapak,lantas orang itu berusaha mencari cara untuk memisahkan bapak dengan istri bapak sendiri." balas Amel tetap pada asumsinya.


" Dan kamu tau orang itu ??" tanya Banny tegas.


Amel menggeleng dengan bungkam.


" Heu,, Amel sepertinya kamu terlalu sering menonton drama korea hingga pikirannmu terlalu di dominasi lewat cerita-ceritanya.Berpikirlah secara reel tidak usah lebay seperti cerita drama korea." celoteh Banny nyaris tertawa lebar.


" Tapi setidaknya saya memiliki keyakinan jika sahabat saya itu tidak seburuk yang bapak kira." dalih Amel tegas.


" Lantas kamu menuduh orang lain untuk menutupi kesalahan sahabatmu itu !" kembali Banny berkilah.


Amel menggeleng dengan perasaan gemas,ia tak habis pikir dengan cara berpikir pria tersebut,rasanya ia sudah kehabisan akal untuk menjelaskannya.

__ADS_1


" Terserah bapak,tapi satu hal yang harus bapak igat jika Mona terbukti tak bersalah maka bapak akan menyesal dengan sikap bapak ini,tapi jika Mona memang terbukti bersalah maka saya siap untuk mempertaruhkan pekerjaan saya." ujar Amel dengan lantang


Banny kembali menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum penuh ke angkuhan.


" Kamu memang berkompeten,memiliki keberanian yang cukup luar biasa dalam mempertahankan reputasi sahabat kamu itu, saya akan mengapresiasikan nya,tapi sayang saya tidak butuh itu,yang saya butuhkan sekarang ini jawaban pasti kamu, tau atau tidaknya keberadaan Mona saat ini bukan pembelaan yang tak masuk akal." cetus Banny dengan raut wajah garang.


Rahang gadis manis itu menyembul stetmen pria tampan itu membuatnya semakin kelu.


" Saya tidak tahu keberadaan Mona." jawab Amel dengan cepat menimpali.


Tubuh pria itu terlihat menegak menatap penuh ancaman ke arah stafnya tersebut.


" Jadi kamu tidak tahu sama sekali tentang Mona ?" Banny mengulang pertanyaanya dengan suara cukup meninggi.


" Tidak !!" jawab Amel ketus.


Tamara terlihat pasrah melihat kondisi yang semakin memanas.


" Baiklah,jika nyatanya kamu berbohong atas jawabanmu itu maka saya tidak segan-segan untuk mengeluarkan kamu dari perusahaan ini sekarang juga,itu konsekwensinya." ucap Banny lantang.


Sontak Amel pun tercekat dari tempat duduknya tanpa berpikir panjang ia pun segera bangkit dari tempat duduknya matanya menyalang ke arah pria tersebut,kalimat pernyataan dari bosnya itu berhasil menyulut emosinya.


" Bapak tidak perlu mengancam saya untuk mengrluarkan saya dari perusahaan bapak ini,tanpa bapak minta pun saya akan keluar dari perusahaan ini sekarang juga." balas Amel tak kalah lantang,amarahnya mulai meluap-luap.


Tamara yang dari tadi terlihat harap-harap cemas kini wajahnya kian berubah pucat mendengar keputusan yang baru saja di ambil sahabatnya tersehut,sedari tadi ia berusaha mengeluarkan jampi-jampinya agar sahabatnya tidak bersikap anarkis,nyatanya sahabatnya itu memang bernyali dewa sehingga berani menangtang atasannya tersebut.


Wajah cantik Tamara melongo bercampur panik menatap tak percaya atas sikap yang telah di ambil Amel sahabatnya tersebut.


Tak jauh berbeda dengan Banny,mendengar pernyataan salah satu stafnya tersebut yang begitu lantang mengindahkan ancaman dirinya membuatnya sedikit terpana,sedikitpun ia tidak menyangka jika salah satu stafnya itu berani bersikap kepadanya.


Banny bangkit dari duduknya dan menatap garang ke arah wanita tersebut.


Sedikitpun Amel tak gentar,terlanjut muak rasanya atas sikap bosnya tersebut.


" Baiklah,mulai detik ini kamu saya pecat !!" balas Banny begitu tegas,matanya menatap nyalang ke arah gadis tersebut.


Tamara menarik napas panjang apa yang di takutkannya pun terjadi,sahabatnya di keluarkan dari perusahaan yang telah lama ia naungi.


Sesak di dadanya memenuhi ruang hatinya,kenapa semuanya menjadi kacau seperti ini ??


Tamara membatin dengan berbagai perasaan yang berkecambuk di hatinya,ia harus kehilangan sahabatnya kembali.


Tanpa berbicara kembali Amel segera beranjak dari tempat ia berdiri dengan emosi yang cukup menggila,rasa muak itu membuatnya hilang kendali,tak berapa lama Tamara berlari keluar mengejarnya dengan terpogoh-pogoh.


Dengan perasaan terpukul Banny mengebrak mejanya dengan penuh amarah,rasanya gadis itu telah begitu lancang mengambil keputusan yang membuatnya murka.


" Shiittt !!!" desis Banny dengan amarah tak terkendali.


Persoalan ini kian rumit,ia harus kehilangan staf terbaiknya di perusahaanya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2