
" Mona !!" Panggil seseorang menahan langkahnya.
Mona menoleh saat seseorang itu memanggil namanya,ia pun tersenyum begitu mengetahui siapa orang tersebut.Baru saja ia berniat ingin menyetop sebuah taksi pria berwajah karismatik itu langsung datang menghampirinya.
" Angkasa," Sapa Mona ramah.
" Dari mana kamu ?" Tanya Angkasa menatap penuh ke arah wajah gadis itu.
" Aku ?aku habis bertemu dengan sahabat-sahabat aku,dan sekarang aku mau pulang." Jelas Mona tersenyum manis.
" Aku antar ya !" Pinta Angkasa menatap semangat gadis itu.
" Apa ? kamu mau antar aku pulang ?" Tanya Mona menatap shok.
" Yaa ! kamu keberatan ?" Tanya Angkasa dengan penuh harapan jika Mona bersedia menerima twarannya.
" Hmmm" Mona terlihat resah menatap pria itu.
" Kebetulan aku juga arah pulang,dari pada kamu naik txsi kan lumayan kamu bisa numpang di kendaraan ku." Ujar pria itu dengan menatap cemerlang.
Mona semakin bingung untuk menolak permintaan pria itu.
Paria berkarismatik itu menatap dengan penuh selidik ke arah wajah gadis itu yang tengah menatapnya bingung.
" Aku tau,kamu pastinya lagi merasa tak enak hati jika pak Banny melihat kamu pulang bersama ku." Ucap Angkasa mencoba menebak isi pikiran gadis itu.
" Sepertinya begitu Kas,aku tidak ingin orang lain melihat keberadaan kita dan itu bisa memperburuk nama pak Banny di mata perusahaanya atas sikap ku ini." Ucap Mona dengan perasaan kian resah.
" Tapi apakah dia merasakan hal yang sama jika nama baiknya selalu kamu jaga,sedangkan dia sendiri sepertinya tak peduli akan hal itu." Ucapnya pelan.
" Maksud kamu ? " Mona mengeryit dengan tak paham.
" Sorii Mon,aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan kamu dengan suami kamu itu,tapi aku tidak ingin melihat kamu kecewa atau pun sakit atas semua apa yang di lakukan suami kamu di belakang kamu." Ucap Angkasa menatap serius.
Mona mengangkat wajahnya dan menatap kian dalam pria tersebut ia mencoba memahami perkataanya.
" Aku gak paham apa maksud dari perktaan kamu ?" Tanya Mona menatap intens pria itu.
" Tadi aku ke kantor suami kamu,dan tidak sengaja aku bertemu dia sedang bersama seorang perempuan di kantornya,namun secara pasti aku tidak mengenali perempuan tersebut, namun aku melihat dari bahasa tubuh perempuan itu jika ada sesuatu hal yang tak biasa di antara mereka. " Ungkap Angkasa seraya berjalan kecil mengkuti langkah Mona menuju sebuah halte.
Dekkk.....
Perasaan gadis itu terasa seperti ada benda berat yang menghantamnya entah itu palu godam atau sejenisnya,bisa jadi pasak bumi yang menghantam dengan kuat,setelah pernyataan pria itu mampu membuat pikirannya bercabang.
Benar saja prasangkanya tertuju kepada dua orang perempuan yang dekat dengan mantan bos sekaligus suaminya tersebut.
Apakah itu Kinaya ??atau kah Arnetta ???
Ahh rasanya kepalanya mulai terasa berat jika harus berpikir keras akan hal itu.
Biarlah dirinya tidak ingin terlalu jauh merasakan sesuatu hal yang membuatnya cemburu yang mengendalikan perasaanya itu.
" Mungkin itu sekertaris barunya pak Banny. " Balas Mona dengan tersenyum pasi,dengan bersaman apa yang di sampaikan Angkasa kepadanya setidaknya merubah drastis raut wajahnya.
Sekertaris baru ??
Tapi jika Arnetta menjadi sekertris barunya Banny ,kenapa kedua sahabatnya tidak memberi tahu ketika mereka bertemu tadi.
" Yang pasti itu bukan Kinaya." Gurau Angkasa dengan terkekeh.
Wajah gadis itu memerah menahan rasa malu yang tertahan.Mona melirikan matanya dengan kesal ketika Pria yang di hadapannya itu mampu menebak isi hatinya yang sedang bertanya-tanya akan sosok perempuan yang di maksudnya tersebut.
" Aku tidak berharap mendengar kembali nama perempuan itu." Ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
" Kenapa,apakah kamu tidak menyukai nama itu ? " Tanya Angkasa meledeknya.
" Tidak juga !aku rasa tidak ada hal yang harus tidak kusukai dari sosok perempuan itu. " Balas Mona dengan sikap datar.
" Aku tahu jika sebenarnya kamu merasa cemburu." Telisik Angkasa dengan tersenyum enteng.
Mona melirik membulatkan bola matanya dengan sempurna.
" Angkasa jangan memancing ku." Ucap Mona dengan mengerlingkan matanya sedikit manja namun sorot matanya terlihat memudar.
Angkasa tersenyum lembut saat melihat sikap gadis itu yang mampu membuat hatinya kian terasa berbeda atas perasaan yang kini sedang di rasakannya itu.
Andai saja gadis ini bisa di milikinya dengan begitu saja,mungkin ini adalah sesuatu hal yang sangat membahagiakan untuk dirinya.
" Aku suka melihat kamu ketika marah,ekspresi kamu lucu." Ucap kembali Angkasa dengan masih terkekeh memuji paras gadis itu.
" Lebay. !" Balas Mona dengan mengalihkan wajahnya ke arah yang lain.
" Ngomong-ngomong sepertinya ada yang berbeda dengan penampilan kamu hari ini ?" Ucap Angkasa seraya mengamati seluruh pempilan gadis itu.
" Jangan memperhatikan ku sedetail itu !" Guman Mona dengan sedikit menggerutu.
" Karena aku peduli akan ke adaan kamu." Ucap Angkasa melepaskan tatapannya dengan penuh arti sehingga berhasil membuat perasaan gadis itu menjadi dag dig dug tak karuan.
" Sudah sore,sepertinya aku harus cepat pulang." Mona mengalihkan pembicaraannya lalu berpura-pura melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Angkasa menghela,ia merasa di abaikan akan perasaanya tersebut,ia paham jika Mona merasa keberatan dengan atas perkataanya tersebut.
" Aku antar ya Mon !" Lagi-lagi Angkasa menawarkan dirinya untuk mengantarnya pulang.
Mona menoleh lalu menggeleng pelan.
" Maaf,bukannya aku menolak kebaikan kamu,tapi aku tidak bisa." Tolak Mona dengan tersenyum kaku.
" Lalu bagaimana dengan tawaran pekerjaanku itu ?" Tanya Angkasa mulai menatap serius ke arah gadis itu.
Wajah gadis itu terlihat semakin tertekan ketika pertanyaan pria itu mempertanyakan lagi kesediannya untuk bekerja di perusahannya tersebut.
Namun ia tidak segampang itu mau menerima tawaran pria itu,ia tetap masih memikirkan dan menjaga perasaan nya Banny.
Mona menghentikan langkah kecilnya lalu menatap dengan berbagai perasaan ke arah wajah pria itu yang tengah menanti jawabannya.
" Maaf kan aku Kas,aku belum bisa menerima pekerjaan kamu itu,makasih banyak atas tawarannya." Ujarnya singkat.
" Kenapa ? " Tanya pria itu menatap nanar.
" Ada sesuatu hal yang masih aku pertahankan." Suara gadis itu terdengar parau.
__ADS_1
" Apakah tentang perasaan kamu terhadap Banny ?" Tanya pria itu dengan tatapan nya mulai memudar.
Rasanya ia tak ingin mendengar jika gadis ini mulai mencintai pria yang menjalin status palsu dengannya.
" Bukan itu." Ucap Mona dengan cepat.
" Lalu ??? " Tanya Angkasa kian penasaran.
" Maaf,Ada sesuatu hal yang tak bisa aku jelaskan kepadamu." Ungkap Mona dengan sorot mata penuh permohonan maaf.
Angkasa menghela dalam merasakan hatinya terasa di himpit kuat oleh rasa kecewanya.
" Ya ya,aku mengerti itu." Ucap pria itu dengan raut wajag kecewa Angkasa mengangguk-anggukan kepalanya.Dirinya tak ingin lebih jauh memaksakan kehendak gadis tersebut.
" Aku minta maaf !" Ucap Mona dengan tersenyum kian hambar merasakaan perasaan kian tak menentu akan sikap yang di tunjukan pria berkarismatik itu terhadap dirinya.
" Mona !" Panggil lagi Angkasa menahan langkah gadis itu.Mona menoleh kembali dengan perasaan yang kian sulit di netralkan.
" Apakah aku masih bisa berharap lebih dari mu ?" Tanya pria itu dengan raut wajah kian tenggelam oleh perasaan yang kecewa.
Mona terdiam mendapati pertanyaan itu membuatnya semakin membeku.Tentu saja perasaan nya tak semudah itu terima dan berpaling dari rasa yang terdalam terhadap sosok Banny.
" Aku tidak ingin membuat kamu kecewa atas harapan yang tak bisa aku berikan ini." Ucapnya dengan nada penuh rasa sesal.
Angkasa kian tercenung menatap tak bergeming merasakan sesuatu hal yang meremas hatinya.Mungkin baginnya ini belumlah terlambat,namun bagaimana bisa jika hati gadis yang tengah ia cintai saat ini sedang menaruh perasaan terhadap pria yang kini menjadi suaminya tersebut.
Ahh rasanya hal ini membuat ia merasakan sesakit itu mencintai seorang gadis dalam ikatan pernikahan palsu.
" Maaf !!" Ucap gadis itu seraya berjalan mendekati sebuah taxsi yang baru saja di berhentikannya.
Angkasa menatap nanar siluet gadis itu yang menghilang di balik pintu taxsi tersebut.Gadis yang tengah menjadi bunga tidurnya kini terasa jauh dari harapannya.,kehadiran gadis itu mampu membuatnya terlenan.
Yaa meski ia telah bersuami namun ia yakin jika pernikahan sandiwaranya itu akan segera berakhir,berharap tak ada salahnya, jika memang takdir akan menyatukannya dan itu adalah anugrah yang terindah yang ia miliki.
***
Banny baru saja pulang dari kantornya dan tiba di afartemennya dengan mendapati suasana afatemennya tersebut terlihat sepi seperti tak ada penghuninya.Banny mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan tamu hingga dapur,namun netranya tidak mendapati sosok yang di carinya.Perasaanya pun mulai di liputi rasa cemas terhadap keberadaan sosok yang di carinya tersebut.
Banny berjalan memasuki kamarnya berharap sosok itu ada di dalam kamarnya dan berharap sosok itu baik-baik saja.Namun kenyatannya ia pun tidak menemukan sosok itu berada.
Banny menghela napas panjang lalu menatap dengan perasaan hampa,matanya melirik ke arah jam yang menempel di dinding kamaranya,haru sudah menunjukan pukul 18: 30 menit.
" Pergi kemana lagi perempuan itu,benar-benar tak betah di tempat ? "
Gerutunya dengan perasaan kesal.
Rasa cemas hingga berujungkan kekhawatiran kini merorong dirinya di saat Mona tidak ada di afartemennya saat dia pulang,hal ini menjadi kebiasaan buruk baginya.
Kemana lagi dia ?tak cukup kah dia membuatku kesal !!!
Pikirnya dengan perasaan lelah Banny berjalan gontai menuju ruangan tv.
Semenjak keributan kecil dua hari yang lalu Mona kini lebih sering menghindari dirinya bahkan terkesan lebih cuek dan jarang berbicara kepadanya membuat sedikitnya ia merasa terganggu dengan sikap istri sandiwaranya tersebut.
Meskipun gadis itu hanya lah istri sandiwaranya namun tetap saja ia merasa cemas jika kehadirannya tak terlihat oleh netranya.
Banny menghempaskan tubuhnya di sofa dengan perasaan yang kian bercabang akan keberadaan Mona.Banny menggeleng cepat mencoba mengusir bayangan Mona dari pikirannya,sejak kapan ia merasa begitu memperhatikan akan keadaan mantan sekertarisnya itu.
Suara langkah kaki terdengar dari ruangan depan dan itu dapat di pastikan jika suara langkah itu milik suara langkahnya Mona.
Mona baru saja masuk,ia hendak melewati Banny yang masih duduk santai di sofa tersebut.
" Dari mana saja kamu ?" Tanya Banny dengan menyipit,ia menatap Mona dari ujung kaki hingga kepala.
Jeans dan kemeja polos?make-up tipis ? dan itu bukan seperti Mona yang pernah ia kenal sebelumnya.Tatapan semakin takjub.
Mona berhenti dan menatap dingin pria itu yang masih menatap dengan berbagai perasaan.
" Bertemu dengan sahabat-sahabat ku." Jawabnya datar.
Mona teringat akan nasihat Amel untuk bisa bersikap lebih acuh terhadap pria yang kini tengah memperhatikan dirinya itu.
" Kamu masih istriku,setidaknya kamu memberi kabar jika akan pergi selama ini." Ujar Banny dengan menatap dingin.
Istri ?????
What ???dia menganggap gue istri ??? sejak kapan ??
Umpat Mona dalam batinnya,nyaris ia di buatnya terloncat mendengar ucapan pria tampan itu.
" Istri ???" Tanya Mona dengan menoleh tak pasti.
" Yaa untuk saat ini kamu masih istri sah aku,jadi kemana kamu pergi harus memberi tahu aku terlebih dahulu." Ucap Banny tandas.
" Saya rasa mas tidak perlu peduli akan ke adaan saya bagaiamana pun,secara saya hanya istri sandiwara mas saja." Ucap Mona dengan acuh.
" Tapi kita nikah secara resmi,jadi bagaimana pun aku berhak tahu kemana kamu pergi dan dengan siapa ?" Terangnya dengan suara mulai meninggi.
Mona terdiam merasakan hawa panas di wajahnya,berharap ia tak mau berdebat kembali dengan pria angkuh ini.
Namun ada hal yang menarik akan perhatiannya jika pria angkuh ini kini mulai posesif terhadap ke adaan dirinya.
" Aku peduli akan keadaan dirimu." Ucap Banny seraya beranjak dari tempat duduknya,lalu ia membuka kemejanya dengan menyisakan kaos putih oblong dan celana panjangnya di bagian bawah tubuhnya.Mona memalingkan wajahnya menatap ke arah yang lain.
Mona mengingat kembali akan ucapan ajaib pria itu terhadap dirinya jika pria angkuh itu peduli akan keadaan dirinya.
Sungguh kata itu ajaib bagi dirinya.
Dan entah kenapa perasannya tiba-tiba merasa berbeda seperti ada energi positif yang mengalir hebat di peredaran darahnya.
Namun ia pun dengan cepat segera menepis perasaanya tersebut,bahwasaannya ia harus tetap bersikap acuh meski sesungguhnya kata-kata ajaib itu mampu membuat dirinya terelena hingga melayang jauh.
" Maaf,sepertinya saya ingin beristrirahat. " Pinta Mona membalikan badannya berniat ingin meninggalkan pria itu tapi belum saja kakinya melangkah pria itu berkata kembali untuk menahan langkahnya.
" Aku belum selesai berbicara." Ucap Pria itu dengan menatap dingin.
Gadis itu mengurungkan niatnya untuk melangkahnya kakinya seraya terdiam dengan berbagai pikiran di benaknya.
Ada apa lagi ?,tidak kah bosan pria angkuh ini berdebat dengannya hingga dirinya merasa cukup malas harus meladeninya kekesalanya tersebut.
" Jadi alasan ini kamu ragu untuk menerima tawaran dari papah ku ?" Ujar pria itu seraya mencopot celana panjangnya hingga meninggalkan celana pendek di atas lutut.
__ADS_1
Mona terdiam mencoba mencerna pertanyaan pria itu namun tak sedikitpun dia tak tertarik untuk melihat keadaan pria itu.
" Apa maksudnya ?" Tanya Mona yang akhirnya menoleh juga ke arah pria itu dengan menyipitkan matanya.
" Angkasa meminta kamu untuk bekerja di perusahaannya,betulkah itu ?,atau jangan-jangan kamu akan bersedia menerima tawaran itu ?" Ujar Banny dengan nada yang nyaris sulit di bedakan antara bertanya dan menyimpulkan sebuah ucapan.
Mona terdiam,pikirannya semakin tak karuan.Jika harus dia mengambarkan isi otaknya dengan sebuah karya seni, maka apa yang saat ini ada di dalam isi kepalanya tersebut adalah gambaran benang kusut.
Mona menghela napas panjang kenapa pula Angkasa harus mengatakan hal itu kepada Banny,dan tentunya hal ini akan menjadi pembahasan yang berkepanjang bagi dirinya beserta mantan bosnya tersebut.
" Saya belum menerima tawaran itu. " Jawab Mona pendek.
" Tapi kamu sedang mempertimbangkan tawaran itu kan ?" Tanya Banny dengan manatap penuh curiga.
Mona masih belum bisa menjawab dengan pertanyaan yang dinlontarkan mantan bosnya tersebut.
" Apa pria itu mulai dekat dengan kamu? " Tanya lagi Banny dengan tersenyum namun tatapanya terasa dingin.
Gadis itu kembali menarik napas panjang,rasanya semenjak dirinya mengenal sosok Banny ia lebih sering belajar bagaimana cara menarik napas panjang dengan baik.Buktinya saja sekarang ini pun ia terus menerus menarik napas panjang mencoba untuk bisa terlihat lebih tenang dan setidaknya bisa mengurasi perasaan sesak yang meresahkan perasaannya.Tapi nyata nya itu sama sekali tak mengurangi rasa sesak di dadanya.
" Berhentilah untuk tidak berpikiran yang macam-'macam tentang saya." Elak Mona dengan perasaan kesal.
" Kenapa tidak ? Angkasa sosok pria mapan dan berkualitas tentunya ini akan menjadi salah satu alasan kamu kenapa ingin menggugat cerai aku secepatnya, agar kamu bisa bekerja dengan Angkasa.Bukan begitu ?" Ujar Banny dengan tersenyum semakin sinis.
Sontak pernyataan pria tampan itu terasa menuduh dirinya senaif itu.
Mona memejamkan matanya,merasakan emosinya kian tak tertahan.Seburuk itu kahh pikiran Banny terhadap dirinya tentang ke inginannya untuk menggugat cerai pria itu.
Lagi-lagi Mona harus meredam amarahnya tatkala ia di ingatkan dengan perkataan sahabatnya ,Amel agar dia harus tetap bersikap elegan.Meski darahnya sudah mendidih hingga mencapai 45°C.
Mona melipat dalam bibirnya ia berusaha untuk tidak terpancing akan amarahnya,ia hanya beranggapan jika pria di hadapanya ini merasa tidak suka jika dirinya dekat dengan pria lain tapi......
ataukah pria angkuh ini sedang cemburu ?
Ya sepertinya Mona melupakan sesuatu hal yang tak di sadarinya selama ini, jika pria yang kini ada di hadapannya ini sedang bersikap posesif terhadapnya.
Mona mengangkat wajahnya lalu menatap lepas pria itu mencoba melihat sorot mata yang tersirat dari tatapan pria tampan itu.
" Jika itu benar,lalu apa mas keberatan ?" Tanya Mona menatap sinis.
Mencoba memancing akan reaski pria itu.
Kali ini kesempatan pria itu yang menghela napas panjang merasakan sesak kian mendera dalam dadanya.
Tentu saja ia keberatan harus membiarkan gadis itu bekerja sama dengan Angkasa,karena dia tahu betul akan kinerja seorang Mona yang begitu kompeten dan profesional,terlebih dia tak rela jika harus melihat gadis yang di cintai itu harus menjadi milik orang lain.
Oh rupanya pria tampan berwajah dingin ini sedang merasakan percikan rasa cemburu yang mulai membutakan perasaanya tersebut.
" Hmm,aku,aku rasa,ak tidak keberatan sama sekali akan hal itu." Jawab Banny dengan terlihat gamang.
" Jika mas tidak keberatan kenapa harus bertanya akan hal itu kepada saya ?" Tanya Mona semakin bersemangat mencecar pria itu dengan segala pertanyaanya.
" Karena aku menginginkan kamu bekerja lagi dengan ku." Ucap Banny dengan mengalihkan pandangannya ke hal yang lain,yang dengan sengaja ia menyembunyikan perasaan cemburunya hadir di tengah-tengah sikap angkuhnya tersebut.
Mona tersenyum,dengan mendecih sinis.Entah kenapa ia melihat jika sikap mantan bosnya itu dirasa seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu namun merasa gengsi untuk mengungkapkannya.
Dasar pria angkuh,masih saja tahan harga !!!
Rutuk Mona dengan melirik kecil pria itu.
" Aku tidak ingin kehilangan fotensi kamu dalam perusahaan ini." Ucap pria itu dengan nada yang tak biasa.
Alasan bilang saja jika anda tidak ingin kehilanganku😜 !!
Kembali Mona membatin dengan perasaan jengkel atas kegensiaan yang di miliki manta bosnya itu yang sulit di singkirkan.
Mona masih terdiam dengan perasaan yang sulit di gambarkan entah kenapa hatinya terasa begitu berbeda seperti sedang mendapati angin segar yang menyejukan hatinya yang selama ini gersang.Ada rasa bahagia sekaligus was-was akan sikap ajaibnya pria tampan tersebut.
Ahh bilang jujur saja susah baget !!
Rutuk kembali Mona dalam batinya mengumpat keras atas sikap pria itu.
" Aku sedang bicara dengan kamu,kenapa kamu malah tersenyum-senyum sendiri,apakah ucapannku ada yang membuat kamu lucu ?" Tanya suara bariton pria itu mengejutkan Mona yang tengah tersenyum-tersenyum sendiri.
Mona segera mendunduk menyembunyikan senyuman kecilnya.
Hingga ia hanya bisa bersumpah jika kali ini pria tampan ini benar-benar terlihat seperti orang yang kehilangan arah.
Sementara Banny terlihat menatap jengkel gadis itu merasa di abaikan oleh gadis itu.
Mona mengulum senyuman kecilnya lalu berpura-pura kembali memasang ekspresi wajah acuh.
" Aku harap kamu mempertimbangkan lagi atas tawarannya Angkasa.Jangan kamu tolak atas tawaran papah ku." Jelas Banny seraya menatap ke arah Mona.
" Akan saya pertimbangkan lagi. " Balas Mona dengan singkat.
Namun sepertinya Banny belum puas akan jawaban gadis itu.
" Anggap saja aku yang meminta kepadamu untuk menerima tawaran papahku dan meminta kamu untuk tetap disini bersama ku,menunda ke inginanmu untuk mengugat cerai aku." Ucap Banny dengan nada bicara sedikit tertahan diujung kalimatnya.
Mona melongo ketika ucapan pria terakhir itu mampu menghipnotis dirinya hingga sulit untuk memahamiya.Namun dengan bersamaan ada gelenyer perasaan yang berubah derastis saat kalimat terakhir itu mampu membuatnya tenggelam dalam alunan kata-kata yang mampu membuatnya terngiang-ngiang di telinganya tersebut.
yaa kata ajaib itu mampu meresahkan jiwanya yang hampa.
Mona memandangi langkah pria itu yang memasuki kamar mandi dan meninggalkan dirinya yang tengah larut dalam perasaan yang sulit di ungkapkan dengan apa pun.
Stop Mona,jangan berpikir jauh ! kata-kata itu hanya akan menghentikan ke inginan lo itu !
Mona masih menatap kosong pintu kamar mandi tersebut yang menenggelamkan bayangan pria tampan itu.
Pikiran gadis itu berkelana kemana-mana,bertanya-tanya atas maksud dari ucapan pria tampan tersebut yang meminta dirinya untuk tetap bersama dirinya disini ??
Apa maksudnya ?
Tanya dengan heran,apakah pria tampan itu sudah berubah ?
Gadis itu berspekulasi tentang kemungkinan yang membuatnya Banny meminta dirinya tetap disini karena dia cemburu dengan Angkasa.Apa kah itu salah satu alasannya hingga otak pria itu sedikit bergeser ?
Mona tersenyum aneh namun ia kembali berpikir keras.
Tapi entahlah ia hanya bisa merasa kebingungan sendiri atas perubahan sikap pria angkuh tersebut.
__ADS_1