CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH epiosode 103


__ADS_3

WAJAH gadis bertubuh sintal itu terlihat tercenung menatapi dalam ubin lantai ruangan tersebut, sesekali ia meremas jari jemarinya dengan perasaan gelisah.


Gadis berponi pendek tersebut pun ikut termenung di sampingnya.


" Maaf-in gue ya Mon,gue gak ada maksud membuat acara lo berantakan,setadinya gue cuman berniat ingin melindungi lo dan menggagalkan niat buruk nya Manda,tapi sayang gue gak bisa tahan emosi ini." Ungkap Amel penuh rasa sesal.


Gadis manis itu menyesali perbuatannya karena betapa pun tidak Amel mengakui jika dirinya adalah sosok yang tak bisa menahan emosi,bahkan dengan sikapnya tersebut bisa menjadi boomerang dalam kehidupannya.


" Lo gak salah Mel,dan elo gak perlu minta maaf.Karena elo udah ngelindungin gue dari hal yang tidak di inginkan, justru gue yang seharusnya berterimakasih sama lo,lo udah peduli dengan masalah gue ini." Jelas Mona menatap sendu.


Amel menatap tanpa ekpresi lalu tertunduk.


" Yang gue takutkan itu bukan masalah acaranya tapi kerjaan lo,gue takut kerjaan lo berakhir dengan kejadian ini." Mona menjelaskan kekhawatiranya akan nasib pekerjaan sahabatnya tersebut.


" Gue pasrah." Ucap Amel pelan.


" Pak Banny akan memecat lo mel ?" Tanya Tamara dengan menatap sedih.


" Entahlah....." Jawab Amel resah.


" Tapi lo gak usah khawatir,nanti gue akan usahain biar pak Banny tidak memecat lo." Ucap Mona menatap pasti ke arah Amel.


Mona hanya terdiam lagi-lagi dengan tanpa ekspresi apapun,karena ia merasa ketakutannya kali ini sangat beralasan.


" Gue berharap lo gak kena sangsi apa pun atas perkara ini." Jelas Mona yang bergantian menenangkan hati sang sahabatnya tersebut.


Amel mengangguk pelan lalu menatap dengan perasaan pasrah.


" Kenapa lo ampe bisa nonjok tuh perempuan ?" Tanya Mona penasaran.


" Ceritanya panjang Mon,"Sela Tamara dengan cepat.


" Cerita saja !" Pinta Mona menoleh Tamara seraya mengangguk,yang di toleh hanya tersenyum tipis lalu menatap sekilas Amel yang masih tertegun.


Sebelum Tamara memulai ceritanya ia terlihat menarik napas,lalu Tamarapun mulai bercerita akan kronologi kejadian tersebut secara gamlang tak ada yang di lebihkan maupun di kurang-kurangin.


" Gitu Mon, makanya Amel gak terima jika kita itu di sebut perempuan receh oleh peremuan mulut sampah itu,udah gitu tuh perempuan laknat juga terlalu lancang,masa ngatain lo perempuan L***e,siapa yang gak emosi coba dengar sabahat kita di bilang peremouan seperti itu.Makanya Amel murka lah." Jelas Tamara dengan penuh emosi,poni pendeknya terlihat bergoyang-goyang menahan guncangan amarahanya.Lalu ia menoleh Amel yang ikut mendengarkan dengan berbagai perasaan.


" Manda memang sudah keterlaluan,lagian untuk apa sih dia ngebongkar masalah gue?Kepo banget urusan gue.Dia mau ngedapetin hati pak Banny apa ?gak mungkin." Jelas Mona membagi tatapannya.


" Ya namanya cinta mau di kata apa Mon,semua orang bisa melakukan apa pun demi cinta." Ujar Amel menatap datar Mona.Apa yang di katakan Amel mengingatkan dia kepada perempuan yang nekad mengakhiri hidupnya demi mendapatkan cinta seorang pria.


Sejenak Mona terdiam mengingat kembali kelakuan konyol perempuan tersebut.


Sejenak Mona terdiam menatap kosong.


" Mon kok lo malah bengong ?" Tanya Amel menyenggol tubuh Mona.


" Ehh !!sorry gue jadi kepikiran sesuatu." Balas Amel tersenyum hambar.


" Kepikiran apa ?" Tanya Amel penasaran.


" Apa yang lo katakan benar semua,jika orang sudah cinta selalu ada cara buat mengambil hati perasaan yang di cintainya,tapi usaha Manda buat ngedapetin perhatian pak Banny akan sia-sia kerena pak Banny kayanya akan balikan lagi dengan mantan nya itu." Jelas Mona dengan menatap ringkih kedua sahabatnya.


" APA ?? balikan ??" Tanya keduanya serentak.


Mona mengangguk lalu kedua sahabatnya itu saling bertatapan shok.


" Lo tau darimana ?" Tanya Amel menyela.


" Kemaren si mantan nya itu nekad mau bunuh diri,dan gue nyaksiin langsung kejadian tersebut." Jelasnya lagi dengan memelankan suaranya.


" Hah ??maksud lo ?" Tanya lagi Amel semakin tak paham dengan apa yang di katakan Mona.


" Kinaya mencoba bunuh diri kalau pak Banny tidak menemuinya,terus ia meminta pak Banny menerima kembali cinta nya dia." Ucap Mona pelan.


" Terus ?? " Tanya Amel semakin penasaran.


" Yaa....,mungkin selesai sandiwara ini mereka akan jadian lagi." Jelas Mona dengan raut wajah berat.


" Yaa ampun Mona...,gue rasa elo gak usah nikah sama tuh bos,enak banget tuh cewek main ancam-ancam saja, dia pikir sandiwara ini gak melibatkan sebuah perasaan apa ?" Ucap Amel terlihat mulai gusar.


" Sabar Mel,sabar !!" Tamara mengelus-ngelus pundaknya Amel.


" Ini yang gue takutkan Tam,sahabat gue belum tentu dia bisa move setelah sandiwara ini,sementara itu bos enak-enakan sama mantannya,di kira hati sahabat gue ini terbuat dari beton apa ??" Kembali Amel menggerutu dengan kesal.


" Kok move on sih Mel ?" Sela Mona dengan menatap polos.


" Iya dong !gue yakin jika elo udah jatuh hati sama tuh bos." Tungkas Amel melirik dengan perasaan kesal ke arah Mona.


Mona terdiam lalu tertunduk apa yang menjadi dugaan sahabatnya itu benar.Tamara menatap tak enak hati kepada kedua sahabatnya itu,ia tak ingin Amel dan Mona kembali bersi tegang.


ia sudah paham akan sosok seorang Amel tersebut,gaya bicaranya yang gak bisa basa-basi itu selalu berbicara apa adanya, tak pernah mau tahu perasaan orang lai.


Sementara Mona orangnya selalu menjaga perasaan orang,meski terlihat gamreng namun ia sosok yang sensitif.

__ADS_1


" Ini tuh yang gue khawatirkan Mon." Pekik Amel seraya mengigit kecil kepalan tangannya itu.Sikap nya mulai agresif.


" Sudah Mel,lo jangan emosi dulu kita tau posisinya Mona itu serba salah." Sergah Tamara berusaha menenangkan Amel.


" Tau gue Tam posisi Mona seperti apa,tapi gue yakin jika ada cara untuk membalas kebaikan pak Wiguna itu tidak dengan cara ini,pasti ada cara lain Tam,tidak dengan mengorbankan perasaan lo Mon." Terang Amel mulai tersulut emosinya.


" Meski pun gue gak mengalami hal seperti ini,tapi gue ngerasain banget akan posisi lo Mon." Ucap lagi Amel dengan air muka yang sudah berubah.


Hidungnya mulai memerah menahan sesuatu yang memaksa untuk keluar dari matanya.


Bukanlah Amel jika ia tidak bisa menyimpan rapat perasaanya tersebut,dan ia pun berusaha menahannya agar terlihat tegar.


" Sebaiknya lo harus mempertimbangkan kembali masalah ini Mon,sebelum kata 'SAH' menghancurkan masa depan lo." Ungkap Amel menoleh Mona dengan tatapan cemas.


" Kok 'SAH' sih Mel?memangnya kata ' SAH' bisa ngancurin masa depan si Mona?" Tamara bertanya dengan polos.


Mata bulat Amel melirik ke atas dengan perasaan jengkel.


Sempat-sempatnya Tamara berlaga polos dalam keadaan genting seperti ini.


" Maksud gue SAH nikah TAMARA." Jelas Amel dengan penuh penekanan.Matanya nyaris melompat menatap jengkel Tamara.


" Oh !!" Balas Tamara dengan ekspresi tak bersalah.


" Huuuuuhhh !" Amel menarik napas panjang.


kejengkelan-nya terasa membuncah di ubun-ubun nya,melihat wajah polos Tamara yang semakin bloon.


Amel meremas unjung bajunya seraya melempar senyuman kecut ketika Tamara membalasnya hanya dengan senyuman inosen.


" YAA AMPUN....,stresss gue !! punya sabahat gini amat yah ?" Batin Amel seraya menatap sebal Tamara.


" Kok lo jadi ngeliatin gue ?,gue cantik ya?" Tanya Tamara mengedip-ngedipkan matanya seraya membenarkan poni pendeknya tersebut.


" Bodo amat." Cetus Mona muak.


" Sorry ya,gara-gara gue kalian jadi ribet gini." Ucap Mona dengan suara lirih.


Amel menoleh ke arah Mona dengan perasaan yang tak menentu.


" Tidak Mon,kita hanya ingin yang terbaik saja buat lo,karena gue maupun Tamara pasti tidak mengingkan hal yang buruk terjadi sama lo." Terang Amel dengan sendu.


" Ok,thank's atas suportnya,gue gak tau kalau hidup gue tanpa kalian." Ucap Mona dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Jangan mewek,gue gak suka liat lo mewek." Balas Amel merangkul pundak Mona yang telanjang.


Amel tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang rapih,namun kedua matanya melotot tajam ke arah Tamara.


Tamara mengernyit setelah melihat ekspresi aneh sang sahabatnya yang tersenyum aneh kepadanya.


" Kenapa Mel ?,ekspresi lo aneh,lo senyum-senyum aja tapu mulesnya gak usah di tahan" Ucap Tamara datar.


" Gue mau makan lo.PUAS LO !!" Jawab Amel galak,habis cara untuk menghadapi sikap sahabatnya itu.


Entahlah lugu dan bloon beda tipis rupanya.Pikir Amel seraya menggelang frustasi,cukup emosinya terkuras atas permasalahan Mona,tapi tidak dengan urusan kepolosan sahabatnya tersebut.


" Nyebut gue Tam,berursuan sama lo." Gumanya dengan nada pasrah.


" Istigfar Mel,bukan nyebut,lo mau nyebut apaan emang ?" Balas lagi Tamara kian menjengkelkan Amel yang sudah spaneng.


Mona tersenyum tipis melihat aksi lucu kedua sahabatnya tersebut.


Amel melirik jutek Tamara,dengan mengangkat kedua jarinya tanda damai, Tamara merespon lirikan juteknya Amel.


Seseorang melangkah mendekatinya dan menatap ke arah mereka.


" Mona !!" Tiba-tiba suara lembut memanggilnya.


Hampir bersamaan Mona beserta kedua sahabatnya itu menoleh ke arah suara yang memanggil salah satu nama di antara mereka.Di lihatnya seorang pria bepakaian rapih dan berparas menawan berdiri di belakangnya.


" Zean." Pekik Mona dengan tertahan.


" Gue mau bicara sesuatu sama lo !" Ucapnya singkat.


Kedua sahabatnya dan dirinya saling berpandangan dengan terheran-heran.


" Ada apa?" Tanya Mona menatap kembali Zeanu.


Zeanu mengalihkan pandangan-nya ke arah kedua sahabatnya tersebut,ia memberi kode agar kedua sahabatnya itu meninggalkan mereka.


Mona mengangguk pelan dan menoleh ke arah kedua sahabatnya.


" Mel,Tam,sorry gue perlu ngomong berdua sama Zean." Ungkap Mona meminta ijin kepada kedua sahabatnya untuk meninggalkan dirinya bersama Zeanu.


" Ok !" Jawab Amel mengangguk,namun tatapannya begitu panjang mengarah kepada pria yang tak kalah tampan dari bosnya tersebut.

__ADS_1


Amel dan Tamara segera beranjak lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.


Mona mengalihkan pandanganyan ke wajah pria yang ada di hadapannya setelah kedua sahabatnya menghilang dari tempat tersebut.


" Ada apa ya ?" Tanya Mona dengan kaku.


" Sorry gue ganggu waktu lo." Ucap Zeanu tak kalah kaku.


" Gak apa-apa Zean,lagian gue gak lagi sibuk kok." Balas Mona menatap canggung.


" Sorry ya,gue mau bahas sesuatu dengan lo." Ucapnya dengan ragu.


" Masalah apa ?" Tanya Mona menatap resah.


" Ini masalah Mama lo Mon." Ucap Zean pendek.


Sontak raut wajah Mona berubah ketika mendengar Zeanu menyebut orang tuanya.


" Kenapa lagi sih ?" Tanya Mona datar.


" Gue memang gak ada hak untuk ikut campur masalah ini tapi lo harus tahu,jika mama lo itu sangat menyayangi lo Mon dan dia sangat berharap lo bisa memaafkan kesalahannya." Jelas Zeanu mencoba membuka mata hatinya Mona.


Gadis itu hanya terdiam dengan berbagai perasaan yang di rasanya.


" Gue tau,gue gak ada hak untuk menyelesaikan masalah lo dengan orang tua lo,tapi orang tua lo adalah orang tua gue juga yang sudah gue anggap orang tua kandung gue sendiri Mon.Karena dengan kehadiran Mama lo di kehidupan Ayah gue,setidaknya ia mampu mengubah segalanya.


Makanya gue sayang juga sama Mama lo,meski dia hanya orang tua sambung gue." Ungkap Zeanu dengan raut wajah mendalam.


Mona masih terdiam mengabaikan segala rasa yang menyesakan dadanya.


" Mona lo dengar gue ?" Tanya Zeanu menoleh Mona.


Namun Mona hanya tetap terdiam,akam tetapi matanya mulai terlihat berkaca-kaca seolah-olah mewakilkan perasaanya tersebut.


Setiap kali membahas masalah orang tuanya entah kenapa rasanya air matanya itu tak bisa tertahan,dan tiba-tiba saja keluar dengan sesuka hati tanpa harus di minta.Gadis itu mendongkak menatap langit-langit ruangan tersebut berupaya agar air matanya itu tak jatuh di pipinya,dirinya berharap kali ini ia tidak untuk menangis lagi.


Namun sayang,hatinya terlalu rapuh sehingga dengan mudahnya ia tersentuh dengan kata-kata yang di ucapkan oleh seorang pria yang selalu membuatnya nyaman.


Tenggorokan nya terasa semakin kering kerontang sehingga membuatnya kesulitan untuk berbicara.


" Mon,please !!kali ini saja maafkan kesalahan Mama mu ini,kasih kesempatan untuk Mama mu memperbaiki kesalahannya itu.Karena kesalahan yang telah ia perbuat tak sebanding dengan pengorbanan-nya ketika melahirkan lo kedunia Mon." Terang kembali Zeanu menatap nanar.


Sontak Mona tersentak dengan kata-kata yang di lontarkan pria tersebut,betapa tidak kata-kata itu seperti sebuah tamparan keras untuk dirinya.


Mona hanya bisa menggigit ujung bibir bawahnya, tanpa disadari air matanya kembali mengalir deras di pipinya.


Ada yang sakit namun tidak berdarah saat kalimat itu menghujam ke dalam hatinya.


Memang benar adanya,jika tak akan pernah ada yang bisa menggantikan seorang ibu di kehidupan anaknya,sekalipun anaknya tersebut di telantarkan begitu saja oleh orang tuanya,namun mereka tetap dalam satu ikatan yang kuat kondisi itu tak akan terputuskan.


Darah itu lebih kental daripada air sekalipun darah tercampur air,maka darah itu akan tetap merah tak akan berubah.


Seperti itulah hubungan orang tua dengan anaknya,darah yang mengalir di tubuhnya itu ada darah bukti seorang ibu yang pernah melahirkan dirinya dengan segala perjuangan-nya.


Itu bukti dari seoran ibu yang pengorbanan nya tak akan tergantikan dengan kebaikan siapa pun,sekali pun seseorang yang telat merawat hidupnya.Sosok ibu akan tetap ada dalam kehidupan nya walau terpisah tapi ikatan batin itu takan pernah terputus.


Mona menghela sesak di dadanya kian menghimpit pernapasannya dengan pasrah ia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu terisak lembut.


Sepertinya apa yang di katakan Zeanu sedikitnya merubah perasaanya yang membatu.


Zeanu menatap iba terhadapb gadis yang duduk tak jauh darinya itu.


Dengan perasaan gamang ia mencoba merangkul pundak gadis tersebut dengan penuh kelembutan dan ia berusaha memberikan rasa tenang serta nyaman terhadap gadis tersebut.


" Sorry banget Mon,gue tidak ada maksud ikut campur urusan lo,tapi gue berhak untuk menolong keadaan Mama lo yang berharap banyak atas segala bentuk kesalahan-nya lo bisa memaafkan." Jelas Zeanu dengan suara parau.


Mona masih terisak,larut dalam kesedihannya tersebut.


Ia tak mampu betkata apapun selain hanya terisak.


Zeanu menatapnya dengan perasaan iba, rasanya ia tak tega harus melihat keadaan gadis yang pernah mengisi ruang relung hatinya itu menangis sedalam ini.


Perlahan di tariknya tubuh gadis tersebut kedalam pelukannya itu ,mencoba memberikan rasa nyaman di hatinya.Dengan penuh kelembutan tangan Zeanu mengusap-ngusap tangan gadis tersebut dengan ringkih.


" Menangis lah jika itu bisa buat lo merasa plong ." Ucapnya dengan merangkul hangat tubuh gadis tersebut.


Pria berwajah tampan itu kini memposisikan dirinya sebagai seorang kaka,perasaan sayang-nya itu mulai berubah arah menjadi perasaan layaknya seorang kaka yang akan melindunginya kepada seorang adik perempuannya.


Meski awalnya sulit melakukannya namun ia yakin jika ia mampu mengubah perasaan nya tersebut.


Dari ujung ruang yang lain sepasang mata menatapnya dengan berbagai alasan,mencoba untuk tidak mengartikan kesalah pahaman dari apa yang di lihatnya tersebut.


Pandangan-nya menatap jauh menerawang ke arah mereka,Mona dan Zenanu yang sedang larut dalam tangisan duka.


Meski tak tau percis apa yang sedang mereka bicarakan,namun sorot mata pria tersebut penuh dengan ketidak sukaan lebih percisnya ke rasa cemburu ketika melihat bahasa tubuh mereka.

__ADS_1


Tangan itu mengepal menahan sesuatu yang sesak di dalam dadanya ia berupaya untuk tidak gegabah dalam menanggapi perasaan-nya tersebut.


__ADS_2