CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 183


__ADS_3

MONA mengamati setiap inci perubahan di air mukanya sang suami,ia menatap dengan berbagai perasaan.


" Aku menolak untuk pertemuan itu !" Ucapnya tegas tanpa basa-basi lagi.


Sontak itu membuat Mona terkejut,ada apa dengan suaminya tersebut yang secara tiba-tiba menolak tegas permintaan rekan bisinisnya.


" Ada apa mas ?kenapa mas menolaknya,apa mas tau siapa seorang Wira sultan,pemilik perusahaanya besar mas,yang namanya begitu terkenal di berbagai bidang pekerjaan dan ini adalah kesempatan perusahan cabang kita mas untuk bekerja sama dengan perusahaan sekelas pak Sultan." Terang Mona dengan penuh penekanan.


" Siapapun itu Sultan,aku menolaknya untuk bekerja sama !!" Terdengar suara itu semakin berat.


Mona menatap penuh tanda tanya atas sikap yang telah di ambil begitu saja oleh Banny.


" Tapi kan ada alasannya mas,kenapa mas menolaknya,bahkan mas sendiri belum bertemu secara langsung dengan dia.Dan..... " Ucapan Mona menggantung kalimatnya tak lantas selesai.


" Apa pun itu yang menjadi keputusanku tidak bisa di rubah,tak terkecuali keputusanku untuk menolak kerja sama ini ! kamu batalkan saja kerja sama ini secepatnya!!" Tungkas Banny dengan lugas tanpa basa-basi.


Sontak itu membuat Mona semakin terperangah di buatnya.


" Tapi mas ??" Lagi-lagi Mona berusaha untuk mencoba untuk menyanggahnya.


Banny mengangkat wajahya menatap dengan sorot mata yang kuat.


" Ini tidak fer jika mas menyuruh membatalkan hubungan kerja ini tanpa alasan yang pasti. " Lagi-lagi Mona berusaha untuk mencari tau apa yg sebenarnya terjadi kepada Banny.


Banny menatap tajam dirinya,dengan sorot mata yang terlihat penuh emosi.Mona menarik napas lalu mencoba meredam perasaan gusarnya,baginya dia menaui sosok Banny seperti apa.


" Kita pulang !" Ajak Banny seraya berdiri.Sepertinya ia cukup beralasan jika harus berdebat dengan Mona hanya permasalahan masa lalu dirinya.


Mona terdiam membiarkan ucapan Banny keluar begitu saja.


Kenapa Banny menolak keras kerja sama ini,padahal dia sendiri belum bertemu dengan seorang Sultan.Ada apa ?apa yang sudah terjadi di antara Banny dengan sosok Sultan.


Entah kenapa pikiran Mona kian bercabang kemana-mana,tak hanya kali ini sebelumnya Banny juga pernah menolak pertemuan dengan sebuah perusahan besar lainya,bahkan menolaknya dengan tegas,dan kali ini pun melakukan hal yang sama.


Sultan...


Memang sebuah nama yang tidak asing di telinganya.Mona sendiri pernah mendengar hal itu dari mulut Banny sendiri jika Sultan adalah pengusaha muda yang kaya raya.Namun dirinya menyebutnya tidak sama sekali mengenalnya.


Banny sudah melangkah jauh meninggalkan Mona yang masih duduk dengan termenung,memikirkan hal yang sudah menjadi keputusan mutlak Banny untuk membatalkan kerja samanya yang selama ini ia rancang sedemikian rupa.


Mona menghela menatap langkah pria itu,namun entah kenapa ingatannya di ingatkan di sebuah pembicaraan ketika dia awal jumpa pertama kalinya dengan Kinaya,perempuan yang telah menjadi mantan kekasih suaminya tersebut.


Banny pernah menyebut seorang nama laki-laki dan mempertanyakan kabarnya.


Yaa.... Mona ingat jika Banny pernah bertanya tentang seorang Sultan.


Apakah ??


Mona terdiam menatap kosong,apakah semua ini ada hubungannya dengan masa lalu seoarang Banny.


Berkaca dari ke jadian hadirnya sosok Aras yang begitu kerasnya Banny menolak kehadirannya,hal itu pastinya ada alasan kuat kenapa dia melakukan hal itu.Dan nyatanya memang benar jika penolakanya itu ada hubungan erat dengan masalalunya dengan sang adik Aras.


Mungkin tak akan berbeda jauh juga dengan hal yang sedang terjadi saat ini,bagaimana begitu kerasnya Banny menolak kerja sama dengan perusahaan seorang pengusaha muda ternama,sudah di pastikan jika Banny memiliki hubungan yang tidak baik dia antara mereka.Hanya saja Banny berusaha untuk menyimpannya dengan rapih.


Mona menarik napas,menghepaskan segala rasa kepenasarannya lalu ia pun berdiri dan berjalan mengikuti langkah Banny yang sudah menjauh darinya.


********


Keresahan Mona sangat beralasan terhadap suaminya tersebut,akan sikapnya yang menolak keras kerja samanya dengan Sultan,dan itu memang beralasan sangat kuat.Rasanya tidak mungkin juga Banny akan melewatkan begitu saja kesempatan itu.


Namun Mona sadar ia tidak bisa memaksakan dirinya untuk tau akan alasan apa yang membuat Banny menolak keras akan hal itu,hanya saja hati kecilnya merujuk ke hal masa lalu antara Banny yang pernah patah hati atas kandasnya hubungan asmaranya tersebut.


Banny keluar dari kamar mandi dengan rambut terlihat masih basah,lalu menatap ke arah Mona yang masih terlihat menantap kosong ke arah meja makan yang hanya ada secangkir kopi panas dan sepotong roti.


" Kenapa kamu tidak sarapan ?" Tanya Banny begitu melintas di hadapan Mona.


Mona menoleh dengan enggan lalu mengalihkan kembali pandangannya ke arah yang lain


" Aku sarapan di kantor saja.Hari ini aku ada meting pagi.


Banny mengerakan kepalanya untuk menatap penuh ke arah Mona.


Mencoba menegaskan jawaban yang di lontarkan oleh istrinya tersebut.


" Jangan membuatku kesal atas jawabanmu Mona." Ucap Banny dengan suara datar.

__ADS_1


" Aku hanya tidak selera saja untuk sarapan pagi ini." Ucap Mona acuh.


Banny menghela menatap sikap Mona yang sedikit dingin kepadanya.


" Kamu masih mempersalahkan alasannku atas penolakan ku itu ? " Tanya Banny menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Mona.


" Tidak !" Jawabnya ketus,lalu Mona beranjak dari duduknya dan berniat untuk meninggalkan Banny yang mulai terlihat jengkel atas sikapnya.


Banny menghela lalu menarik napas pelan.


" Aku tau,kamu masih menyimpan perasaan kesal terhadapku atas apa yang menjadi keputusanku ini." Ucapnya dengan nada cukup pelan.


Mona menahan langkahnya lalu tertegun.


" Pemikiran kamu aku dapat menebaknya." Ucapnya lagi dengan nada lebih datar.


Kepala Mona menoleh namun tak lantas menatap ke arah pria berwajah dingin itu.


" Lantas ?jika aku mempertanyankan kembali apakah jawabannya akan berbeda. ? tentunya itu masih sama kan?dan sepertinya aku tidak perlu tau akan hal itu." Tegas Mona dengan nada jengkel.


Banny menghela napas panjang,perasaannya tiba-tiba merasa tersinggung dengan jawaban yang di lontarkan oleh istrinya tersebut.Rahang wajah pria tampan itu menguat menahan sesuatu yang sedang di tahanya.


" Aku tidak ingin berdebat denganmu Mona,ini terlalu pagi untuk membuat moodku kacau !" Ungkapnya dengan ketus.


" Sama sekali aku tidak mengangajak mas untuk berdebat.Hanya saja selera makanku hilang." Ucap Mona dengan penuh penekanan.


Seketika hening,suasana berubah menjadi kaku dan mereka pun menjadi seperti orang asing yang hanya saling terdiam.


" Aku berangkat duluan,ada hal yang harus aku bicarakan dengan Aras mengenai pembatalan kerja sama ini." Pamit Mona tanpa menengok lagi ke arah Banny.


" Sepagi ini kamu berangkat ke kantor hanya untuk membahas masalah ini?" Banny mulai meninggikan suaranya.


Mona menoleh ke arah Banny dengan sedikit tatapan kesal.


" Mas,mas tidak akan merasakan apa yang menjadi posisi ku saat ini,aku sudah bersusah payah mencoba untuk menarik simpatik pemilik perusahaan itu agar bisa berkerja sama dengan perusahaan kita.Dan mas menolaknya secara sepihak ! tentunya ini bukan hal yang mudah untuk aku katakan kepada pak sultan atas pembatalan kontrak ini yang secara tiba-tiba,pastinya aku harus menyiapkan alasan yang kuat mas untuk membicarakan semua ini. " Ujar Mona dengan sorot mata yang cukup serius menatap berbagai perasaan ke arah Banny.


Raut wahah tampan itu berubah,dan wajahnya Banny menyeringai sinis lalu menatap sepele ke arah Mona.


" Kamu rupanya terlalu baper Mona, hingga perasaanmu mulai di kuasai perasaan tidak enak,masalah ini sangat simpel,kamu hanya tinggal membatalkan saja,mudahkan?" Desisnya dengan sinis.


" Mas,mudah saja berkata seperti itu,tapi mas sendiri saja pun lemah dengan perasaan masa lalu mas sendiri,hingga tidak bisa bersikap profesional dalam menyikapi pekerjaan ini !" Bantah Mona dengan nada lebih kuat.


Sontak Banny tercekat dengan ucapan yang di alamatkan Mona terhadap dirinya.


Betapa tidak perkataan itu berhasil membuatnya tersinggung berat.


" Kenapa kamu menyangkut pautkan masalah ini dengan masalaluku ?" Tanyanya dengan sedikit geram.


" Tentu saja,dan aku sangat yakin jika di antara mas dan pak Sultan itu ada dendam yang belum terselesaikan." Tandasnya cukup tajam.


Banny mendecih..


" Tau apa kamu atas masalalu ku ?" Tantang Banny menatap Mona dengan penuh ancaman.


Mona menghela napas panjang,menatap penuh arti terhadap pria berparas tampan tersebut.Kali ini ia tidak ingin larut dalam kepenasarannya tentang masa lalu seorang Banny.


Dia sangat yakin jika Banny memiliki suatu hubungan yang erat dengan koleganya tersebut,Mona berusaha untuk bersikap lebih tenang walau perasaanya mulai di liputi rasa takut.


" Bisa saja kan,Mas telah mengenal terlebih dahulu siapa sosok pak Sultan itu sebenarnya,dan mas memiliki perasaan dendam,atau mungkin ada sesuatu hal yang mas tutupi selama ini terhadap pak Sultan." Lagi-lagi Mona berusaha untuk memancing amarah suaminya tersebut.


Bola mata Banny membulat saat ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut seorang Mona.


Banny mencoba untuk menelaah dari setiap ucapan istrinya tersebut yang mencurigai dirinya ada konflik hebat dengan seorang Sultan.


" Mona !! Aku harap kamu tidak perlu ikut campur dalam urusan masa laluku,dan aku ingatkan kembali untuk kamu agar kamu tidak membahas masalaluku dengan siapapun dan apa pun itu permasalahannya,MENGERTI !!" Ucap Banny seraya berdiri dan menatap tajam ke arah Mona.


Sorot matanya terlihat penuh kemarahan.


Mona terdiam menatap gamang ke arah sikap Banny yang mulai terlihat murka terhadap dirinya.


" Dan kamu tidak berhak juga mengusik akan masa laluku itu !!" Ucapnya lagi sambil berlalu.Mona menarik napas panjang merasakan ucapan pria itu menampar hatinya.


Dia menatap tak percaya jika Banny akan berkata keras kepada dirinya perihal masalalunya tersebut.


Jelas ini adalah ancaman bagi dirinya untuk tidak ikut campur atau mencari tau lagi alasan apa yang membuat Banny bersikap seperti itu.

__ADS_1


" Baiklah !!" Desisnya dengan mengangkat tinggi ke dua bahu mungilnya dengan perasaan berat.


-------------


MONA masih terdiam menatap kosong ruangan tempat ia melakukan meeting tadi, beberapa menit yang lalu ia telah melangsungkan meeting dengan beberapa staf yang cukup lumayan penting di cabang perusahaanya tersebut.Tak terkecuali Aras,yang sedari tadi yang masih duduk menemani mona dengan sibuk membolak-balikan beberapa Dokumen penting.


Pria itu menoleh ke arah Mona yang masih menatap hampa isi ruangan tersebut,sesaat dahinya mengernyit menatap heran atas sikap atasannya tersebut.


Tentu saja isi pemikiran Mona ini sedang tidak biasa,dan pastinya ucapan Banny yang tadi pagi tak bisa begitu saja hilang dari otak besarnya.


Dan hal itu imbas di acaranya meetting tadi,ketika meeting berlangsung Mona ada meralat beberapa kesalahan dalam ucapannya atas pembahasan materi yang sedang di bahasnya tersebut dan itu mampu mengacaukan isi pikirannya ,sehingga berhasil membuat Assistennya di buat heran dan penasaran atas sikapnya tersebut.


" Bu Mona !" Panggil Aras pelan dia masih duduk menatap dirinya.


Mona menggeserkan pandangannya lalu menatap Asistennya itu tanpa selera.


" Sepertinya bu Mona sedang ada masalah,saya perhatikan dari tadi bu Mona seperti hilang fokus." Ucap Aras menatap cemas.


Mona menarik napas panjang lalu tersenyum hambar,seoalah-olah ia sedang menutupi ke galauan hatinya.


" Entahlah !!" Jawabnya dengan tak pasti.


Kulit dahi pria itu mengerut membentuk sebuah pertanyaan yang cukup rumit.


" Saya akan membatalkan kerja sama dengan perusahaannya pak Sultan." Imbuhnya dengan nada berat.


Aras menghela dan selanjutnya menarik napas panjang atas keterkejutannya tersebut.


" Bu Mona ada masalah dengan pak Sultan ?" Tanya Aras dengan penuh selidik,heran campur was-was atas ucapan atasanya tersebut.


" Pak Banny meminta saya untuk membatalkan kontrak ini." Jawab Mona dengan perasaan campur aduk.


Lagi-lagi Aras terlihat menghela napas,dan ia pun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya dengan perasaan lemas.


Alasan itu sangat beralasan,bahkan jauh sebelum Mona menjelaskan akan sikap Banny Aras telah menebak jika Banny tidak mungkin memberi izin atas kerja sama tersebut dengan orang yang telah merampas cinta sucinya.


Dan rasanya ia tidak perlu kaget yang berlebihan atas informasi ini.


Mona menatap ke Aras dengan menatap penuh tuntutan.


" Aras,kamu mengetahui ada hubungan apa antara pak Banny dengan pak sultan ?" Tanya Mona penuh selidik.


Aras terlihat kikuk bahkan ragu untuk menjawab pertanyaan atasanya tersebut.


Mana mungkin dia harus menjawab dengan jujur atas siapa sebenarnya Sultan.


" Aku tau kamu adalah kakak dari Tania,mantan sari kekasihnya pak Banny. " Ujar Mona tandas.


Wajah pria itu memias merasakan keterkejutan yang begitu dalam,dan pada akhirnya Mona mengetahui siapa dirinya.


Aras terdiam,pernyataan Mona mampu membungkamnya.


" Aku hanya menduga jika pak Sultan memiliki hubungan yang tak biasa dengan pak Banny,sehingga pak Banny begitu kerasnya melarang kerja sama ini." Jelas lagi Mona dengan menatap serius.


Aras tetap terdiam,merasakan kebingungan yang begitu kuat di hatinya,tentu saja jika dia menjelaskan ini semua,itu artinya dia akan membuka semua masa lalunya seorang Banny.


" Aku...,aku tidak berhak menjelaskan ini semuanya bu Mona." Jawab Alan terbata.


Mona terhenyak mendengar ucapan Assistenya tersebut.


" Kenapa ??" Tanya Mona menggantung.


Tiba-tiba rasa ke ingin tahuannya meluap kembali.


Pria itu kini terdiam mencoba mencari alasan yang pas untuk tidak menceritakan hal yang di ketahuinya.


" Maaf bu Mon,saya tidak tahu apa-apa !" Jawabnya gamang.


" Kamu yakin tidak tau apa-apa akan permasalahan ini ?" Tanya lagi Mona dengan masih menatap tak percaya.


Aras mengangguk pelan dengan diringi senyuman yang tak pasti.


Mona menghela lalu menatapnya dengan berbagai tuduhan.


Rasanya tidak mungkin jika Aras tidak mengetahui hal apapun tentang Banny akan masalalunya.

__ADS_1


Namun dia sadar,dia tidak berhak untuk memaksa Aras untuk menjelaskan seperti apa yang sebenarnya terjadi antara Sultan dan Banny.


__ADS_2