
ZEANU menanti di loby perkantoran,matanya menyapu keseluruh loby perkantoran tersebut,memperhatikan satu persatu para staff serta karyawan yang mulai keluar dari dalam ruangan perusahaan sahabatnya tersebut.
Tak lama ia pun menangkap sosok bayangan kedua perempuan yang sedari tadi di tungguinnya.
" Amel !!" panggilnya cukup lantang.
Amel dan Tamara menoleh ke arah Zeanu yang memanggilnya sehingga mereka menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
Zeanu berlari kecil menghampirimereka.
" Sorry gue ganggu waktu kalian." ucap Zeanu menatap penuh rasa permohonan maaf ke arah dua gadis tersebut.
Amel hanya tersenyum seraya mengangguk pelan.
" Ada perlu apa ya ?" tanya Amel menatap penuh rasa heran ke arah Zeanu yang terlihat begitu gelisah.
" Kalian tahu ke adaan Mona,dimana dia sekarang ?" tanya Zeanu dengan raut wajah sedih.
Amel dan Tamara saling bertatapan,mereka tau jika Zeanu masih memiliki perasaan yang sama terhadap Mona,meski sekarang mereka sudah terikat sebuah hubungan persodaraan.
Sejenak mereka hanya saling bertatapan dengan perasaan risau,mereka menjaga sepenuhnya akan perasaan Mona saat ini,mereka tahu jika Mona saat ini tidak ingin siapapun menemui dirinya.
Zeanu menatapnya dengan penuh harapan jika kedua sahabat Mona akan memberi tahu akan ke beradaannya Mona.
" ### Sorry,kita tidak tau dimana keberadaan Mona saat ini." ucap Tamara dengan ragu.
Zeanu menghela merasakan kekecewaan begitu dalam,tapi ia tidak mempercayai sepenuhnya akan ucapan sahabatnya Mona.
" Kalian yakin jika kalian tidak tahu tentang ke adaannya Mona saat ?" tanya lagi Zeanu memastikan.
Amel dan Tamara saling bertatapan lalu menggeleng secara bersamaan.
" Ayolah,gue tau kalian pasti tau dimana Mona sekarang ?" paksa Zeanu memelas.
" Hmm,sorry pak,kita benar-benar tidak tahu akan ke adaannya Mona." sela Amel menegaskan raut wajahnya terlihat datar.
" Demi apa ?? " tanya Zeanu menatap tajam.
" Demi kenyaman serta kondisi Mona saat ini,kita sengaja membiarkan Mona sendiri karena tidak ingin membuat dia terganggu dengan pertanyaan atau pernyataan yang dapat menyudutkan dirinya." jelas Amel tegas.
" Gue ingin bertemu dengan dia,dan gue perlu ngomong dengannya." ujar Zeanu tak kalah tegas.
" Untuk saat ini sepertinya Mona tidak bisa di ganggu." balas Amel semakin mengerucut.
__ADS_1
" Percayalah,gue hanya ingin memastikan jika dia baik-baik saja." bantah kembali Zeanu bersi keras.
" Percayalah,Mona baik baik saja pak." balas kembali Amel singkat.
Zeanu menarik napas panjang melihat sikap kedua sahabat Mona yang begitu keras dalam melindunginya.
" Maaf pak,kami permisi dulu." pamit Amel seraya menarik tangan Tamara untuk segera berjalan.
" Amel," panggil Zeanu dengan cepat.
Amel kembali menahan langkahnya lalu menoleh ke arah Zeanu dengan perasaan tak biasa.
" Yakin jika kalian tidak akan memberi tahu gue tentang dimana Mona saat ini ?" tanya Zeanu menatap kecewa.
Amel menggeleng dengan tersenyum hampa.Zeanu tersenyum getir melihat kenyaataan yang ada.
Zeanu menatap resah ke arah langkah dua gadis tersebut yang perlahan meninggalkannya.
Seminggu sudah Banny menjalani aktivitas yang begitu padat hingga sedikitnya mampu melupakan permasalahannya yang tengah terjadi di kehidupnya bersama Monà,kesibukannya mampu mengalihkan separuh perhatiannya ke pekerjaannya yang kini tengah mengadakan perluasan perusahaanya.
Dan pekerjaan ini cukup membuat dirinya merasa lelah. Ingin rasanya ia segera merebahkan tubuhnya yang terasa penat setelah seharian beraktivitas.
Setelah semiggu lamanya ia berjibaku dengan pekerjaannya kini waktunya ia untuk beristirahat sejenak,namun ia sangat bersyukur bisa terbantu dengan kehadiran Sekertarisnya itu yang selalu menyiapkan serta menyediakan segala keperluannya tidak terkecuali kebutuhan perutnya,Arnetta begitu istimewa memperlakukan dirinya,ia tidak lagi mempersoalkan perasaanya terhadap Mona,setidaknya Sekertarisnya itu kini lebih berperan penting dalam kehidupanya.
Suasana Hening,ruangan Apartemen itu terlihat lengang menyambut kedatangannya.Biasanya kemanapun dia pergi ataupun selama pergi selalu ada perhatian Mona yang selalu mengingatkannya,namun kali ini terasa sepi.Mona yang selalu sigap membantu hanya sekedar membukakan jasnya ataupun dasinya,tapi nyatanya kini wanita itu entah diamana berada ?
" Mas,jangan di taruh di situ sepatunya berantakan,tolong mas dasinya gantung di tempat biasa." teriakan kecil Mona terngiang di telinganya.Banny menepis bayangan itu,ia tidak ingin rindu akan sosok bawelnya seorang Mona.
Meski usia pernikahan mereka genap tiga bulan bukan berarti tidak memberi kesan yang begitu mendalam di antara mereka,ada banyak kenangan yang begitu berat untuk di lupakan begitu saja di hatinya bersama Mona.Meski pernikahan ini berawal dari sebuah perjodohan namun tidak menutup kemungkinan jika perasaan Banny telah terlahir besar untuk wanita itu,yaa dia tidak menepis jika Mona adalah salah satu perempuan yang mampu membuka hatinya untuk kembali merasakan jatuh cinta,meski tak sedalam itu tapi nyatanya sosok Mona lah yang mampu bertahta hingga saat ini.
Dengan cepat Banny menepis perasaan itu ia tak ingin terpedaya dengan perasaanya sendiri.
Dengan langkah gontai ia menaruh tasnya di atas tempat tidurnya,kamar ini terasa begitu kosong tak ada sekuntung bunga yang menghiasi meja riasnya Mona,suasana begitu benar-benar hampa.
Ketika dia hendak membuka kancing-kancing bajunya,entah kenapa telinganya terngiang sesuatu hal kembali.
" Jangan lupa mas bajunya di taruh di tempat cucian." suara cempreng Mona mengisi gendang telinganya.
Banny mencari-cari arah suara itu,namun rupanya dia tidak menemukan bayangan Mona dimanapun,Banny menghela napas panjang,ia mencoba merapihkan debaran hatinya,ada yang hilang dari deburan hatinya.
Mata Banny menyapu seluruh ruangan yang dia lewati,tidak ada yang berubah,tidak ada yang hilang,semua utuh pada tempatnya,Mona tidak membawa apapun dari Apartemennya,kening Banny berkerut,bukankah Mona bisa saja membawa pergi barang-barang berharganya jika Mona menginginkan itu semua,tapi nyatanya Mona hanya membawa pergi pakaiannya saja.
Jika benar Mona berselingkuh dengan Sultan hanya demi uang semata,apa Mona tidak tahu jika dirinya memiliki aset begitu banyak hingga mampu menghidupi Mona dengan kemewahan seumur hidupnya,jika itu benar Mona bukanlah perempuan bodoh yang tidak tau nilai uang miliyaran,Mona berkesempatan untuk mengambil uang sebanyak itu,hingga perhiasan yang pernah ia belikan untuknya,karena semua yang ada di Apartemen itu Mona yang pegang semua.
__ADS_1
Perlahan Banny membuka sebuah kotak yang terkunci dengan sebuah sandi,hanya dia dan Mona yang tahu akan sandi tersebut,mengurai dugaaan jika Mona akan membawa semua isi kotak tersebut yang tersimpan rapih.
Kening Banny berkerut halus ,ketika melihat seluruh perhiasan Mona masih utuh dan tak ada satupun yang hilang.Buku tabungan dan ATM yang biasa dia pegang juga rapih tersimpan di kotak yang sama.
Banny menggeleng,tak ada barang berharga satupun dia bawa,Mona benar-benar hanya membawa pakaiannya saja.
Banny bersandar di pinggiran dinding,matanya menatap nanar ke atas langit kamarnya,seribu tanya berkecambuk di dalam dadanya.
Semestinya Banny bahagia barang berharganya masih utuh,tapi kenyataanya tidak.
Ada gundah yang membersit di hatinya,lalu Mona hidup dengan cara apa ?? Tanpa uang,kemana dia pergi? Duh ...
Banny terasa sesak di dadanya,setiap kali ia mempertanyakan ke adaan Mona ke kantor cabang perusahaanya,maka jawabannya selalu nihil.
Dalam resah yang menampar jiwanya,tak sengaja Banny menangkap sebuah ponsel yang teronggok di samping perhiasan-perhiasanya tersebut,sepertinya Mona sengaja menyimpan ponsel tersebut di samping perhiasaanya agar Banny bisa melihatnya.Dengan rasa penasaran yang hebat Banny segera meraih ponsel tersebut lalu di amatinya ponsel tersebut yang dalam ke adaan mati,layar depannya terlihat retak seperti bekas terjatuh dari ketinggian yang cukup tinggi.
Banny memperhatikan dengan seksama ponsel tersebut.
Ia mencoba mengingat kembali kejadian seminggu yang lalu,ketika dia menghubungi nomor ponsel Mona namun tak bisa,ucapan Mona terngiang kembali ketika dia menjelaskan ponselnya mati.
Ada secerik kertas tersimpan di bawah ponsel tersebut,perlahan Banny mengambil secarik kertas tersebut.
[ Aku pergi atas mau mu mas,dan aku pun tak akan kembali atas mauku ]
Dada Banny terasa bergemuruh mendapati tulisan tersebut,sebuah kalimat yang begitu singkat namun begitu dalam akan maknanya.
[ Maafkan aku mas,aku tidak sempat menjelaskan semuanya,apa yang mas tuduhkan selama ini tentu saja tidak benar,aku tidak sama sekali melakukan hal yang mas tuduhkan kepadaku,kejadian itu benar-benar murni sebuah kecelakaan,aku sama sekali tidak mengenal Sultan,apa lagi sampai memiliki hubungan sejauh itu,percayalah mas,aku tidak sedang membela diri aku sendiri,hanya saja aku tetap tidak melakukan apa yang mas lihat selama ini.]
Banny menghela penjelasan yang mampu membuat dadanya terasa sesak,Banny kembali melanjutkan bacaan isi surat tersebut.
[ Aku sadar,aku tidak bisa mempertahankan perasaan ini,jika mas menalakku maka aku hanya bisa pasrah,aku tidak bisa mempertahankan semua apa yang sedang kupertahankan selama ini,aku tak sesempurna itu,tapi aku pun tak selemah itu,aku akan melepaskan semuanya.Mas tidak perlu khwatir jika aku harus menjelaskan semuanya terhadap Papahmu mas,aku sadar jika pernikahan ini tidak lah mungkin akan berakhir bahagia,karena aku tau dari awal mas hanya mencintaiku karena terpaksa,berbeda halnya dengan aku,yang tak pernah meragukan perasaanmu,itulah hal terbodoh yang pernah aku rasakan,menganggapmu mencintaiku setulus hatimu mas,]
Banny menghapus sudut matanya yang tak terasa basah,entah kenapa air mata itu datang tanpa di undang.
[ Setelah aku pergi aku akan mengurus surat pernyataan,bahwa siap menerima keputusan ceraimu mas,tapi aku tidak bisa hadir di persidangan nanti,aku percayakan semuanya kepadamu mas,jika perpisahan ini yang terbaik untuk kita,dan aku berharap perpisahan ini akan berakhir secara damai,jangan berpikir aku akan menuntut apapun darimu mas,aku tidak menginginkan hal itu.Satu hal saja aku mohon maafkan segala kesalahanku selama aku mendapingimu mas,terimakasih atas segala rasa yang telah kau beri walaupun hanya sesaat,tapi itu sangat berarti untukku.Mona]
Runtuh sudah ketegaran sang pria berwajah dingin tersebut,selama ini ia begitu membencinya namun kini penjelasan terakhir yang Mona buat telah menyadarkannya dari ketololan yang dia perbuat,Banny pun murka atas segala rasa yang membuatnya mampu bersikap egois dan telah menilai salah sosok Mona.
Sampai disini ia tersedu merasakan penyesalan yang tak berarti,lenyap sudah kemurkaan kepada sosok Mona.Dengan sisa keberaniannya ia menyimpan kembali secerik surat tersebut lalu menatap pasrah ke arah ponselnya Mona.
Banny tercenung dengan perasaan hancur,entah kenapa ucapan Zeanu serta salah satu sahabatnya Mona terngiang kembali,betapa bodoh dirinya mengabaikan ucapan mereka dalam mempertankan perasaan Mona terhadap dirinya,
Tega....
__ADS_1
Ya,dia adalah pria tersadis di sepanjang masa,menolak keras akan kenaran yang ada.