CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 81


__ADS_3

MONA terlihat mengatur laju napasnya yang terlihat tersenggal-senggal setelah berlari kecil dari toilet menuju ruangannya.Sebelum memasuki ruangan Banny,Monapun sejenak merapihkan terlebih dahulu akan penampilannya.


Lalu Mona berjalan mendekati pintu sang Direktur Utama lalu di ketuknya pintu ruangan tersebut dengan lembut.


" Masuk !" Perintah Banny singkat, lalu Mona pun tanpa menunggu lama mendorong perlahan pintu itu hingga terbuka.


" Maaf pak,berkas-berkasnya sudah selesai di tandatangani ?" Tanya Mona seraya berjalan menuju meja Banny dengan ragu.


Banny tidak menjawab ia hanya menengokan wajahnya ke arah tumpukan berkas-berkas yang sudah di tandatanganinya itu.


lalu dengan gesit Mona segera bergerak menuju meja Banny hendak mengambil semua berkas tersebut.


SEET.....


Tiba-tiba tangan Banny menahan tangan Mona yang hendak mengambil tumpukan berkas-berkas tersebut.


Mona terperangah lalu menatap heran ke arah lengan pria itu yang menahan gerak tangannya.


" Mona ! apakah kamu tadi mendengar pembicaraanku dengan Kinaya ?" Tanya Banny menatap dingin.


Mona cukup terperangah atas pertanyaan yang di lontarkan sang bosnya terhadap dirinya.


" Maaf pak,pembicaraan yang mana ya ?" Tanya Mona berpura-pura heran.


" Jangan berpura-pura!saya yakin kamu mendengarkan semua pembicaraanku dengan Kinaya." Ucap lagi Banny kian menatap dalam Mona yang terlihat kebingungan.


" Tidak pak.Tidak sama sekali!saya tidak ada mendengar apapun tentang pembicaraan bapak dengan mbak kinaya." Ucap Mona berusaha mengelak.


" Yakin ?" Tanya Banny menyorot tajam sekertarisnya itu yang masih menatapnya ragu.


" Ya yakin pak." Jawab Mona dengan tersenyum kaku.


Lalu Banny melepaskan cekalannya itu dan pandangannya kembali ke arah layar laptopnya.


Mona berdiri dengan terlihat kebingungan lalu ia pun segera mengangkat perlahan tumpukan berkas-berkas laporan yang telah tersusun rapih di atas meja.


" Tolong nanti kamu ke ruang bu Silvi dan tanyakan laporan stok oknam hari ini,soalnya ada beberapa laporan yang kurang singkron dengan laporan yang di berikan pak Hendra." Titah Banny dengan penuh penekanan sebagai pengingat untuk Mona agar tidak lupa mampir ke ruangan bu Silvi.


" Baik pak,mmm..,ada lagi pak?" Tanya Mona dengan pelan.


" Tidak !." Jawab Banny pendek lalu Mona pun membungkuk untuk berpamitan dan berjalan dengan membawa setumpukan berkas-berkas tebal di tangannya.


Banny melirik dengan ujung mata memperhatikan langkah Mona yang terlihat begitu gesit dalam melaksanakan perintahnya.


Ia pun hanya tersenyum tipis seraya menggeleng kagum.


*********


Setibanya di depan pintu kaca yang bertuliskan Managger Mona muali mengetuk pintu,tak begitu lama asisten Managger bernama Stela membukakan pintu dan tersenyum hangat ke pada Mona.


" Bu Mona mau ketemu pak Hendra ya ?" Tanya Stela dengan ramah.Mona mengangguk pelan seraya tersenyum.


" Pak Hendra sudah pulang bu,Tapi beliau sudah menitip pesan sama aku untuk menyimpan baik semua berkas-berkas laporannya ini." Ucap Stela seraya membantu Mona untuk menerima semua berkas-berkas yang Mona sodorkan kepadanya.


" Thank's ya Stel." Ucap Mona dengan wajah lega.


" Kok kamu belum pulang sih Stel?" Tanya Mona menatap Stela yang berjalan menuju lemari tempat penyimpanan dokumen-dokumen penting perusahaan itu.

__ADS_1


" Kan aku di suruh pak Hendra,untuk menunggu dulu berkas-berkasnya.Soalnya pak Direktur pasti tak akan lama mendatangani berkas-berkas ini,jadi aku nunggu dulu sebelum pulang." Jelas Stela yang perlahan merapihkan semua berkas-berkas laporan itu dengan baik.


" Ya udah,aku balik ke ruangan aku dulu ya,soalnya hari ini aku lembur." Ucap Mona seraya membalikan badan dan berjalan menuju ke luar.


" Ok.Semangat ya bu Mona." Ucap Stela menyemangati Mona.


Mona hanya menoleh seraya mengangguk lagi.


Mona berjalan melewati lorong ruangan ia hendak menuju ruangan bu Silvi yang tak jauh dari ruangan pak Hendra.


Mona menatap denga lemas saat melihat ruangan bu Silvi sudah kosong dan ruangannya sudah gelap.


" Kok udah pada pulang sih,jam berapa ini ?" Tanya dengan menatap jam di tanganya.


Waktu sudah menunjukan pukul 16:45 menit,ternyata sudah tak terasa waktu sudah semakin sore.


Mona pun melangkah kembali lalu segera bergegas berjalan menuju lift yang tak jauh dari ruangannya bu Silvi.


Keadaan ruangan kantor sudah terlihat sangat sepi,karena sebagian staff lainya sudah meninggalkan kantor untuk menuju pulang,hanya ada beberapa staff bagian lapangan yang masih berlalu lalang dengan membawa beberapa barang-barang yang akan di serahkan kebagian jasa pengiriman.


Mona berjalan mendekati lift lalu menekan tanda panah untuk naik ke atas,sejenak ia menunggu di depan lift dengan sesekali menoleh ke arah belakangnya untuk memastikan ke adaan di sekitarnya.


Entah kenapa Mona merasa bulu kuduknya merinding jika kondisi ruangan kantor sudah terlihat sepi.


Mona menatap lift dengan berbagai persaanya ekspresi wajahnya terlihat begitu datar.


" Deuhh kok gue jadi parno begini sih,pas buka lift eh nongol nyai dasimah berambut panjang,ikkhh." Guman Mona seraya bergidik seraya mengusap-ngusap tengkuk dengan cemas.


Ting...,


Suara dentungan lift kembali terdengar dengan di ikuti pintu lift yang tebuka.


Manda berdiri dan menatap tajam ke arah Mona yang menahan langkahnya untuk memasuki lift.


" Yahh gue ketemu biangnya nyai dasimah ini mah."


Batin Mona seraya menatap lurus Manda yang tiada lain berada di dalam lift.


Mona memilih untuk mengabaikannya lalu berniat memasuki kapsul lift.


" Etss,Tunggu Mona sayang." Ucap Manda seraya menghadang Mona dengan berdiri di ambang pintu lift.


Mona mengernyit dan menatap sebal ke arah Manda.


" Ada apa ?" Tanya Mona membulatkan matanya dengan sempurna.


" Ada yang mau gue omongin." Ucap Manda seraya melipatkan tangannya di dada.


" Sorry gue sibuk !" Ucap Mona seraya bermaksud menerobos Manda yang berdiri menghadangnya.


Namun dengan sigap Manda segera menghalanginya.


pintu lift pun terutup dan berjalan kembali,Mona menghela seraya menatap tajam ke arah Manda


" Manda mau lo apa sih ?" Tanya Mona dengan nada mulai meninggi.


" Kan sudah gue bilang,ada yang mau gue omongin sama lo." Balas Manda dengan jutek.

__ADS_1


" Mau ngomong apa sih Man?oh jangan-jangan lo mau curhat ya sama gue ?secara sekarang lo kan gak punya teman buat curhat.Tapi sorry gue lagi kerja gak ada waktu buat ngedengerin curhatan lo itu." Ucap Mona mendilak kesal ke arah Manda.


Manda tersenyum sinis.


" Gue mau ngomong mengenai lo dengan pak Banny." Ucap Manda dengan penuh penekanan.


" Gue sama pak Banny ?" Tanya Mona mengernyitkan kedua alisnya lalu menatap aneh ke arah Manda.Sejenak Mona menatap panjang ke arah Manda yang berdiri dengan begitu angkuh tengah menatapinya.


Sepertinya mimpi buruk itu tak hanya sekedar datang dari kehadiran mantan kekasihnya bos saja,melainkan dengan kehadiran sang mantan sekertarisnya pun bisa terjadi.Pikir Mona membulatkan bola matanya.


" Maksud lo apa ?" Tanya balik Mona dengan kian tajam.


" Pak Banny akan ngelamar lo itu hanya untuk sandiwara saja bukan ?" Ujar perempuan itu dengan mengangkat tinggi dagunya.


Sontak Mona terhenyak lalu menatap dalam wajah Manda dengan penuh telisik.


Kenapa Manda bisa mengetahui hal itu,siapa yang telah memberi tahunya? seingat dia hanya Zeanu lah dan kedua sahabatnya itu yang mengetahui hal ini.


Mona tercekat lalu membulatkan bola matanya.


" Lo kaget ya ?" Tanya Manda dengan tersenyum penuh kemenangan.


" Lo bisa bayangkan jika seisi kantor ini mengetahui akan sandiwara lo itu dengan pak Banny,yang ternyata hanya seetingan doang,dan itu artinya lo akan siap-siap mendapat krisis kepercayaan dari seisi penghuni perusahaan ini termasuk pak Wiguna si pemilik perusahaan ini." Ucap Manda dengan bersemangat.Sementara Mona masih terdiam dengan perasaan yang tak menentu.


" Gue bisa sajakan membongkar masalah ini ?" Ucap lagi Manda dengan menatap semakin puas setelah melihat reaksi Mona yang tertekan.


" Itu bukan urusan lo." Jawab Mona ketus lalu ia menekan kembali tombol lift tanda panah naik.


" Jelas itu urusan gue,secara tidak hanya lo sajakan yang mengharapkan sosok seorang pak Banny,melainkan gue juga." Balas Manda menoleh Mona.


" Permisi !! bu Manda kok sama bu Mona belum pada pulang ?lembur ya ?" Tiba-tiba pak Eko security kantor melintas.


" Saya lembur pak Eko,soalnya pak Banny masih ada di ruangannya." Ucap Mona seraya menghadap ke pintu lift.


" Lah bu Manda lembur juga ?" Tanya pak Eko menatap Manda.


" Tidak pak,saya lagi ada perlu sesuatu sama bu Mona,yaa biasalah masalah perempuan." Ucap Manda dengan berlaga so cantik.


" Oh,tapi sebaiknya bu Manda segera ke luar soalnya saya mau mengunci beberapa ruangan serta pintu lobby." Jelas pak Eko seraya mengeluarkan beberapa anak buah kunci.


" Baiklah pak Eko, sebentar lagi saya akan keluar." Sela Manda pelan.


" Kalau begitu saya permisi dulu ya bu Mona,bu Manda,masih ada pengecekan beberapa ruang lainnya." Pamit pak Eko membungkuk hormat.


" Iya pak,silahkan." Balas Manda dengan tersenyum kaku.


ting,


Suara lift berbunyi kembali lalu pintunya pun terbuka, dengan cepat Mona segera melangkah masuk dan menekan tombol lift yang berada tepat di sampingnya.


" Mona urusan kita belum selesai." Ucap Manda setengah meneriaki Mona ketika melihat pintu lift mulai tertutup,lalu kapsul liftpun berjalan naik.


Mona menarik napas panjang akhirnya dia bisa menghindar dari Manda yang mulai menyerang kembali dirinya,dan sepertinya masalah baru akan segera di mulai entah kenapa Mona merasa panik serta gelisah mengetahui Manda akan permasalahan ini.


Bisa-bisanya Manda mengetahui akan sandiwaranya itu.


Mona menatap hening di dalam ruang kapsul lift itu dengan perasaan gelisah yang mulai menyergapi perasaanya.

__ADS_1


Apa yang menjadi ketakutannya selama ini perlahan pasti akan terjadi,bak sebuah bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.


__ADS_2