CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 85.


__ADS_3

MOBIL sport mewahnya Banny memasuki pelataran Restoran,perlahan Banny bergerak keluar dari mobilnya yang tak lama di ikuti oleh Mona.


Banny berjalan tanpa menghiraukan Mona yang tertatih-tatih berusaha mengejarnya.


Setelah mendapati tempat duduk yang strategis Banny pun segera memanggil seorang pelayan untuk memesan menu favoritnya.


Seorang pelayan datang membawakan buku meno lalu di sodorkannya kehadapan Banny,sesaat Banny memilih beberapa menu.


" Kamu mau pesan apa Mona ?" Tanya Banny menoleh Mona yang terlihat tidak bersemangat.


Mona hanya terdiam seraya menatap kosong ke ruangan Restoran itu yang tidak terlalu rame akan pengunjungnya.


Banny menatap penuh selidik ketika Mona hanya terdiam tak menghiraukannya.


" Mona !!" Panggilnya penuh penekanan.


" Iya pak." Jawab Mona terhenyak kaget.


" Kenapa kamu abaikan pertanyaan saya ?" Tanya Banny dengan suara mulai meninggi.


" Maaf pak,saya lagi bengong." Balas Mona meragu.


Banny menyodorkan buku menu itu ke hadapan Mona.


Mona pun tak lama memilih croinssant dan coffe latte hangat sebagai menu andalannya agar tidak membuat timbangan badannya naik meroket,karena terlalu seting makan malam bisa membuat badannya menjadi lebih semok,makanya ia begitu memperhatikan pola makannya untuk tetap menstabilkan berat badannya itu.


Semenjak berkarir menjadi seorang sekertaris Mona memperhatikan betul akan penampilannya itu.


Banny menggulungkan lengan kemejanya seraya menyapu ke seluruh ruangan itu dan Mona kembali menatap bingung ke arah tempat yang lain,Banny menyipitkan matanya mencoba menyelami isi pikrannya.


Hening.....!!


Hening lagi.....


Dan tetap Hening.


" Apa yang sedang kamu pikirkan ?" Tanya Banny akhirnya memberanikan diri untuk bertanya lebih peduli kepada sekertarisnya itu.


Mona mengalihkan pandangannya lalu mentap tanpa ekspresi kewajah pria dingin berwajah tampan yang ada di hadapannya itu.


" Tidak ada." Jawabnya pendek.


" Saya tidak suka dengan orang yang suka berbohong."


Ucap Banny tandas.


Mona mengerutkan kedua alisnya lalu bertanya sendiri,kenapa pria dingin ini peduli akan keadaanya bahkan ia terkesan ingin tahu dengan apa yang sedang di pikirkannya itu.


Mona menumpukan kedua tangannya di atas meja lalu menatap jauh ke luaran Restoran itu.


" Saya tahu,ada yang sedang kamu pikirkan ?" Ucapnya lagi dengan menatap kian tajam.


" Kok bapak bisa tahu saya sedang memikirkan seseuatu ?" Tanya Mona dengan sedikit penasaran,namun ia tetap berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja.


" Raut wajah kamu tidak bisa membohongi saya." Jawab Banny menyorot dalam sang sekertarisnya itu.


Sejenak Mona terdiam lalu mengalihkan pandangannya ke tumpuan tangannya dengan tanpa ekspresi.


" Apakah itu masalah pekerjaan ?" Tanya Banny menyelidikinya.


" Hmmm,," Mona terlihat ragu untuk mengatakannya.


Banny menatap kian penasaran lalu di simaknya baik-baik wajah lugu sang sekertarisnya itu.


" Ini masalah kedua mantan bapak." Ucap Mona terlepas begitu saja.


Banny mengernyit tajam ia terlihat merasa tak paham dengan apa yang di katakan oleh sekertarisnya itu,mantan yang mana yang di maksudnya itu?bisa-bisanya Mona mengatakan kedua mantan dirinya.


" Maksdu kamu apa ?mantan yang mana yang kamu maksud ?" Tanya Banny dengan heran.


" Mantan kekasih bapak,sama mantan sekertaris bapak.Mereka adalah orang-orang yang pernah dekat dengan bapak." Jelas Mona dengan begitu polosnya.


Entah Angin apa?tiba-tiba saja Banny tersenyum lebar saat mendengar penuturan Mona,setelah tau kedua mantan yang di maksdu Mona.Lalu ia pun menatap lucu ke arah Mona seraya menggeleng pelan dan ia kembali tertawa pelan saat melihat kepolosan dan kejujuran sekertarisnya itu.


Untuk yang kedua kalinya Mona melihat kembali senyuman manis dari bibir pria dingin itu,senyumannya lebih merekah dari sebelumnya.


Rasa-rasanya Mona seperti menemukan barang ajaib yang bisa membuatnya bahagia,ingin rasanya ia mengabadikan momen langka ini,jika bisa di hitung dengan jari maka senyuman manis sang bosnya itu dapat di hitugnya dengan dua jari saja,selangka itukah senyuman dari seorang Banny itu?


Mungkin jika terekam CCTV maka Mona akan terus memutar ulang hingga berkali-kali,karna melihat senyuman seseorang yang nyaris tak pernah tersenyum merupakan sebuah anugrah.


" Kok bapak malah tertawa." Tanya Mona dengan menatap heran.Dan suasana pun berubah menjadi terasa hangat dengan hadirnya senyuman manis sang bosnya itu yang membawa pengaruh fositif secara tidak langsung di hatinya Mona.

__ADS_1


" Lucu saja.Dan saya rasa kamu lebih cocok menjadi seorang stand up komedy,karena terkadang perkataan polos kamu itu menggelitik pendengaran saya." Ujar Banny yang masih tertawa kecil.


Mona mengerlingkan mata bulatnya ke arah bosnya itu,sejujurnya,bagi dirinya itu tak ada yang lucu tapi kenapa Banny malah menertawakan akan ucapannya itu.


" Tapi....," Sela Banny menggantung lalu menatap kembali ke arah Mona dengan memasang ekspresi datar.


" Tapi benar juga sih,mereka adalah mantan-mantan saya,Tapi yang jelas saya hanya memiliki satu mantan kekasih." Ucap Banny seraya menggeleng lucu.


Mona menarik kecut sudut bibirnya dan menatap risih sang bosnya itu.


Seorang pelayan datang membawakan pesannya Banny dan Mona,lalu meletakan satu-persatu di atas meja,menghentikan sejenak obrolan santai mereka,lalu si pelayan itupun mempersilahkan Banny dan Mona untuk menyatap pesanannya itu sebelum akhirnya seorang pelayan itu pergi.


Banny memindahkan steak danging kepiringnya lalu memotong kecil steak itu.


" Ada masalah apa kamu dengan Kinaya ?" Tanya Banny seraya menyuapkan potongan kecil steak daging itu kemulutnya.


" Mbak Kinaya mengetahui hubungan kita selama ini pak." Ucap Mona dengan nada serius.


Banny mengunyah dengan lambat lalu menatap dengan santai ke arah Mona,sedikitpun ia tidak sama sekali merasa terkejut,bahkan terkesan cuek dan tidak mau ambil pusing menanggapinya.


Mona menatap resah ke arah Banny yang hanya bersikap biasa saja tanpa merespon yang berlebihan.


Sekedar kata " HAAAH " pun.


" Kok bapak tidak terkejut ?" Tanya Mona menyipitkan matanya dengan heran.


" Hemm,saya sudah tau itu !" Balas Banny dengan santai lalu iapun menyuapkan kembali potongan steak dangin kemulutnya dengan begitu eleggan,layaknya makan seorang pangeran tampan.


" Bapak mengetahuinya ?" Tanya lagi Mona dengan melongo.


" Yaa,apa yang di bicarakan tadi siang bersama Kinaya di kantor,dia ada membahas permasalah itu." Jelas Banny terlihat semakin dingin.


Bibir mungil Mona membentuk hutup O dan ia pun baru paham dengan apa yang di lihatnya tadi siang hanya prasangka buruknya saja.Nyatanya Banny menolak keras akan ke inginan sang mantannya untuk kembali kepadanya.


Mona mengangguk-ngangguk pelan seolah-olah ia sedang menyimpulkan sendiri dengan apa yang telah di katakan oleh sang bosnya itu.


" Lalu masalah apa lagi tentang mantan yang kedua ?" Tanya Banny menatap lelucon.Mona mendilak manja.


" Bu Manda juga mengetahui hal yang sama." Ucap Mona pelan.


Lagi -lagi Banny hanya mengangkat kedua alisnya lalu menatap Mona dengan santai, ekspresi wajahnya tidak merasa terkejut ataupun resah di wajah dinginnya itu.


" Sepertinya bapak tidak terganggu dengan masalah ini ?" Tanya Mona menatap resah sang bosnya itu.


" Tapi,kalau mereka sampai berbicara ke hal layak pastinya akan menimbulkan keresahan pak,terutama akan kesehatanya papahnya anda jika tahu hal ini dari mereka itu bisa fatal." Jelas Mona dengan menatap semakin cemas ke arah sang bosnya itu.


" Mona,mereka tidak akan berpengaruh berat dalam hubungan sandiwara kita,dan jika hal itu terjadi pastinya papah lebih percaya dengan ucapan kita,ketimbang harus mempercayai omongannya mereka." Ucap Banny dengan menatap penuh seksama ke arah Mona.


Mona menyesap dalam minumannya lalu berusaha percayai dengan apa yang di sampaikan oleh bosnya itu,di pikirnya ada benarnya juga,yang punya kendali disini adalah bosnya tak perlu khawatir seharusnya jika sesuatu hal yang buruk terjadi di sandiwara cintanya mereka itu,tapi bagai mana dengan nenek ?Mona mengerutkan kedua alisnya.


" Lalu jika nenek saya tahu ?" Tanya lagi Mona dengan kaku.


" Kamu tidak usah cemas,sandiwara ini akan baik-baik saja.Karena saya pastikan dalam tiga bulan nanti urusan ini akan selesai tanpa ada huru hara." Jelas Banny menganggap enteng permasalah yang sedang di hadapinya itu.


Tapi tidak bagi seorang Mona,ini adalah beban yang begitu berat yang harus ia jalani bagaimana pun juga kisah ini cepat atau lambat akan berakhir,lalu apa yang harus di jelaskan terhadap sang neneknya itu,yang selama ini kebahagiannya hanya semu.


Mona menghela panjang lalu menatap lurus ke dalan wajah pria dingin itu.Seharusnya sedikit berkurang rasa gelisah di hatinya ini yang seharian tadi menyesakan dadanya,namun tetap saja malah seakan-akan semakin gelisah setelah melihat respon dari sang bosnya yang menganggap enteng permasalahnnya itu.


" Jadi,sebaiknya kamu tidak usah memikirkan hal itu lagi." Ucap Banny seraya menyeka mulutnya dengan tisu.


Mona masih menatap resah ke arah sang bosnya itu yang terlihat begitu santai.


" Kenapa? kamu masih bengong saja ?" Tanya Banny menatap lagi Mona yang kembali termenung.


" Kita ini hanya bersandiwara saja kan ?kerena sewaktu-waktu permainan ini akan berakhir." Ucap Banny seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan terlihat kekenyangan.


Mona terdiam,entah kenapa kalimat terakhir yang di ucapkan sang bosnya itu sedikitnya telah mematahkan semangatnya untuk berharap lebih dari seorang Banny.


Mona melipatkan bibirnya dalam-dalam lalu meletakan kembali pisau dan garfunya di atas piring,seketika selera makannya hilang setelah mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Banny.


" Kok berhenti makannya ?" Tanya Banny menatap heran Mona.


" Sudah kenyang." Jawab Mona singkat.


Entah kenapa ia merasa kecewa akan kalimat terakhir Banny yang menyatakan " kita hanya sandiwara saja" Rasa rasanya kalimat itu memupuskan harapannya.


" Please Mona,jangan berharap banyak dari bos lo itu,sudah jelas jika bos lo itu hanya memanfaatkan diri lo saja dalam sandiwara ini."


Hati kecilnya menyadarkan dia dari harapan yang semu.


Mona semakin tercenung.

__ADS_1


" Kenapa kamu berpikiran buruk tentang saya ?" Tanya Banny menatap tajam.


Mona terperangah saat ia menyadari jika bosnya itu mempunyai telepati.


" Bapak mendengarkan suara hati saya ?" Tanya Mona membulatkan bola matanya dengan sempurna.


Banny mendecih lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


" Tanpa kamu berbicara,saya sudah bisa menebak dengan apa yang ada di pikirannmu itu." Balas Banny menatap remeh ke arah Mona.


" Saya rasa bapak lebih cocok menggantikan seorang telepati Roy kiyosi yang bisa membaca pikiran orang." Ucap Mona dengan ekpresi datar.


Banny menyeringah kembali dengan mengangkat salah satu alisnya tinggi,ia tersenyum kembali saat menatap kepolosan sang sekertarisnya itu,dan ini adalah salah satu ciri khas seorang Mona yaitu selalu berbicara dengan tanpa ada perhitungan,bisa-bisanya ia di sandingkan dengan seorang Roy kiyosi.


Banny menggeleng menatap lucu ke arah sekertarisnya itu.


" Sebaiknya kita pulang.Sudah jam sembilan malam,takutnya nenek kamu cemas menunggu kamu belum pulang ." Ucap Banny seraya memanggil seorang pelayan untuk memintai struknya pesanannya.


Seorang pelayan menghampiri seraya membawakan nampan kecil berisi struk pesanan lalu seorang pelayan itu pun menyodorkannya ke arah Banny.


Banny mengecek nominal semua pesanany itu dan ia pun mengeluarkan tiga lembar uang ratusan ribu dari dalam dompetnya setelah itu meletakannya di atas nampan si pelayan itu.


" Kembalinya ambil saja." Ucap Banny singkat.


" Terimaksih banyak pak." Ucap si pelayan itu semeringah seraya membungkuk penuh hormat.


Mona memperhatikan sikap sang bosnya itu dengan seksama,di balik sikap angkuhya seorang Banny rupanya ada sisi sikap dermawannya.


..............


* perjalanan pulang*


BANNY membuka pintu mobil mewahnya lalu di susul Mona yang masuk dari pintu sebelah kiri.


Sebelum melajukan kemudinya Banny terlihat memasang lock safety beltnya.


Mona pun mengikuti percis dengan apa yang di lakukan bosnya itu.


Namun rupanya Mona merasa kesusahan untuk memasang lock safety beltnya itu.


Banny memperhatikan akan sikap sekertarisnya itu.


" Kenapa ?" Tanya Banny menatap dingin Mona.


" Safety beltnya susah sekali di tarik." Balas Mona seraya menarik kembali safety belt itu.


Banny pun memeriksanya dengan melongokan kepalanya ke arah sisi tempat duduk Mona.Dan benar saja tali dari safety belt itu tersangkut di bawah jok kursi.


Banny menariknya dengan hati-hati,Mona menegakan posisi duduknya dengan risih,ia merasa resah jika Banny akan menyetuh bagian badannya dengan tak sengaja.


Dan benar saja,apa yang ada di pikirannya Mona terjadi, dengan tak sengaja Banny menyenggol ujung D*** Mona yang menonjol.


Mona tercekat kaget setelah bagian yang sangat pribadinya itu tersenggol bosnya.


" Sorry !!" Ucap Banny seraya menarik badannya dengan cepat.


Mata belo Mona membulat sempurna,ketidak sengajaanya kali ini membuat ia merasa tidak nyaman.


" Sorry,saya tidak bermaksud melecehkan kamu." Pinta Banny dengan menatap sesal ke arah Mona.


Mona terdiam seraya membetulkan blezeernya.


Banny terlihat bersikap tidak enak hati akan kejadian kecil barusan yang membuat Mona merasa terganggu.


Mona terdiam ia menunjukan reaksi marahnya dengan memilih diam dan tidak menjawab permintaan maaf sang bosnya itu.


Monapun mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.Sementara Banny ia segera menjalankan laju kendaranya itu.


Malam yang gelap hanya di iringi deruan mesin mobil,


Banny bersama Mona masih dalam perjalanan melewati malam yang sepi,diam-diam Banny kembali melirik Mona yang masih terdiam mengabaikannya.


Banny menoleh dengan berbagai perasaan ketika melihat Mona hanya terdiam tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk mengajak bicara dirinya.


Banny kembali menatap lurus laju kemudinya dengan perasaan kian menerawang jauh.


Ada banyak hal yang sudah terjadi diantara mereka, setidaknya keduanya sudah saling mengakui akan perasaan masing masing. Dan harusnya itu bisa menjadi salah satu pertimbangan akan dibawa kemana sebenarnya hubungan sandiwara mereka.


Mona merasa sedikit skeptis. Tentu saja, bagaimana ia bisa yakin untuk menaruh harapan lebih pada Banny,jika pria itu masih saja bersikap dingin dan juga acuh.


Namun terkadang pria dingin ini bisa berubah dengan sikap menjadi sangat peduli kepada dirinya.

__ADS_1


Mona merasa hubungan ini tak sekedar hanya sandiwara saja,sudah cukup jauh mereka melibatkan perasaan yang lebih dari sekedar hanya sandiwara saja,dan bagi dirinya sandiwara ini bukan hanya sekedar lelucon yang hanya melibatkan perasaan tetapi juga akan melibatkan urusan keluarga hingga permalahan pekerjaanya.


__ADS_2