
BANNY baru saja akan memulai makan malamnya,ia memilih untuk makan malam terlebih dahulu tanpa menunggu Mona,namun ketika dia hendak menyuapkan makanannya ke mulut sesaat ia melihat Mona memasuki ruang makan,penampilannya sangat santai dengan kaos polos putih kebesaran dan celana pendek berwarna senada.Rambutnya yang sedikit basah nampak di biarkan terurai.Wajanhnya tidak di hiasi make up sama sekali.
Kinan mengambil tempat duduk di meja makan dan memulai ritual makanannya dalam diam.Ia bahkan tidak menatap Banny sama sekali.
Banny mengernyit mendapati perubahan baru dalam sikap Mona kali ini.
Di awal pernikahan mereka meski dalam kondisi saling canngung di antara satu sama lain,namun Mona masih memperlakukan dirinya layaknya seorang suami.Namun kali ini Mona terlihat bersikap lain terhadap dirinya.
Banny tidak bisa tidak untuk meliriknya.Sikap acuhnya gadis itu diam-diam menarik perhatiannya.
Sesaat mereka hanya saling terdiam hening menikmati santapan makan malamnya masing-masing.
" Aku sudah mempersiapkan gugatan perceraian kita. " Ucap Banny membuka keheningan di antara keduanya.
Mona menatapnya sejenak sebelum akhirnya kembali sibuk dengan makanannya tersebut.Ia berusaha untuk bersikap biasa biasa saja.
" Tapi aku ingin perceraian ini tidak di ketahui oleh papahku." Ucap Banny,Ia kini berusaha menatap wajah Mona.Iris mata yang hitam,bibir merah yang alami yang sebenarnya tidak perlu memerlukan bantuan lipstik.Kulit putih yang halus dan bersih terawat,selama ini ia tidak pernah benar-benar sedetail itu memperhatikan Mona seperti ini.
Banny tersenyum sinis.
Mona tercekat mendengar ucapan pria tampan itu.
Yang benar saja perceraian ini tanpa harus di ketahui oleh mertuanya tersebut.Bagaimana bisa ??
Pikir Mona menatap intens wajah pria itu.
" Bagaimana bisa papah tidak perlu mengetahui hal ini ?" Tanya Mona tak mengerti.
" Kita akan bercerai secara diam-diam !" Jawab Banny datar.
" Tentu saja itu tidak bisa mas,saya keberatan." Tolak Mona dengan enggan menatap wajah pria itu.
" Kenapa harus keberatan ?" Tanya Banny menatap sinis.
" Kali ini papah perlu tahu akan perceraian kita,agar kita tidak perlu melakukan sandiwara apapun lagi di hadapan papah." Ujar Mona dengan masih tak peduli dengan tatapan pria itu yang terus menyoroti dirinya.
" Oh,rupanya kamu sudah benar-benar ingin terlepas begitu saja dari urusan ini." Sindir Banny dengan menyuapkan sepotong daging ke mulutnya.
" Tentu saja !karena aku tidak ingin terus berada di situasi yang menyakitkan seperti ini.Mencintai dalam kepura puraan." Jelas Mona dengan tersenyum namun ekspresinya terlihat dingin.
Banny membalasnya dengan tersenyum sinis,memperlihatkan sisi keangkuhannya.
" Heuh,,mencintai dalam kepura puraan ??" Desisnya dengan begitu sinis.
" Jadi selama ini kamu mencintai dalam ke pura puraan ? " Tanyanya dengan penuh cemooh.
Banny menatap Mona dengan pandangan menyelidik.Mona mengangkat wajahnya lalu menatap tajam pria yang ada di hadapannya.
" Yaa,dan aku menyesal telah melakukan hal itu." Jawabnya dengan penuh penekanan.
Dahi pria tampan itu mengernyit lalu menatap gadis itu dengan penuh tanya.
" Menyesal telah melibatkan sebuah perasaan di dalam sandiwara pernikahan ini.Dan aku merasa telah menjadi wanita yang paling tolol yang berharap akan sandiwara ini berakhir seperti cerita sang cinderela,dan nyatanya sama sekali tidak !!." Ujar Mona dengan nada bicara penuh penekanan.
Banny tersenyum seraya menggeleng pelan.
" Kamu lupa ?jika aku pernah memintamu untuk perasaan ini,namun kau mengabaikan permintaan ini dengan alasan menyakinkan perasaan kamu.Tapi aku tau perasaan kamu itu tak pernah ada untuk ku kan ?" Tanya pria itu dengan mulai terlihat menahan amarahnya.
Mona membisu,entah harus di mulai dari mana ia menjelaskan tentang perasaannya tersebut,terlebih Banny masih bersikukuh mempertahankan keyakinannya, baginya kebenaran seperti apapun selalu di tolaknya.
Sesaat Mona terdiam,tak ingin berlama lama berdebat dengan pria itu ia pun berniat ingin menyudahi kegiatan makannya dan perlu menenangkan perasaanya tersebut.
" Maaf mas sepertinya aku ingin segera istirahat." Pamit Mona seraya menghentikan kegiatan makannya,lalu menyeka mulutnya dengan sehelai tisu.
" Aku sedang berbicara dengan kamu Mona!" Sergah Banny menahan Mona yang hendak beranjak pergi dari tempat duduknya tersebut.Banny benar- benar terganggu dengan sikap Mona yang terkesan selalu menghindar dari setiap pembahasan permasalahannya tersebut.
Banny berdiri dan melangkah ke arah Mona,dan menarik gadis itu hingga berdiri menghadapnya.
" Jangan mengabaikan ku !!" Ucap Banny marah.
" Jangan sentuh aku !!" Pekik Mona seraya menepis pegangan pria tampan tersebut.Banny menatap panjang wajah gadis itu.
Sampai kapan wanita ini akan terus menghindarinya dan mempertahankan ke egoisannya tersebut.
Banny mencengkram kedua bahu mungilnya Mona.
" Jangan bersikap seolah-olah kamu ingin menghidari ku,selesaikan permasalahan ini hingga tuntas,hingga aku bisa terlepas dari kepura pura ini." Rahang hansel mengeras.
Mona mendorong tubuh Banny menjauh.
" Kubilang jangan sentuh aku !" Ucapnya keras,sorot matanya terlihat kesal.
Banny terdiam.Ia menatap Mona bingung,sejak kapan gadis ini mulai melakukan perlawan kasar seperti itu terhadap dirinya.
" Memangnya mas saja yang ingin segera terlepas,aku pun !!" Gertaknya dengan terlihat gusar.
Mona berbalik meninggalkan Banny dengan begitu saja.
Banny tak puas dengan sikapnya,ia pun mengejarnya lalu mencengkram pergelangan tangan Mona.
Kali ini seberapa kuat Mona memberontak,ia tetap tidak bisa melepaskan diri.
" Kenapa kau bersikap seperti ini ?" Banny membentak.
" Lepaskan aku mas !" Mona memberontak.
" Sudah aku katakan jika aku sedang berbicara jangan pernah meninggalkan aku dalam perdebatan ini,aku bisa saja melakukan hal yang lebih kasar dari ini." Rahang Banny mengeras,wajahnya memerah.
" Kalau begitu lepaskan tanganku dulu,maka aku akan katakan alasan ku kenapa ragu menerima perasaanmu itu mas." Kinan merasakan pergelangannya berdenyut sakit.
Banny terdiam,sorot mata Mona membuatnya membeku.Cengkramannya pun melemah.Mona segera menepis tangan pria itu lalu mengurut pelan pergelangan tangannya yang masih terasa sakit.
__ADS_1
" Aku hanya memastikan apa yang mas katakan ke padaku itu benar atau tidak ?Atau hanya sandiwara saja untuk kepentingan perusahaan mas sendiri.Aku sadar aku hanya perempuan bodoh yang hanya bisa di peralat dengan tanpa perasaan." Tuturnya dengan nada yang tak biasa.Raut wajahnya terlihat berbeda.
" Aku tidak pernah main-main dengan persoalan perasaanku ini." Teriak Banny cukup tinggi.
" Mas tidak pernah main-main dengan perasaan mas sendiri tetapi mas tidak pernah bisa menerima penjelasaan ku saat aku ingin menjelaskan tentang Angkasa." Ucap Mona dengan menatap tajam pria itu.
Mona masih terlihat tenang,ia berusaha untuk mengontrol emosinya.
" Aku berkeyakinan jika keraguan kamu sangat beralasan atas penolakan perasaan ku ini, dan ternyata benar kan?kamu akan memilih perjodohan itu." Tegas Banny dengan nada bicara lantang.
Mona menggeleng pelan dengan persaan yang sulit ia artikan lagi.Pria itu tetap pada keyakinannya atas tuduhan terhadap dirinya.
Kecurigaan Banny benar benar tidak beralasankan.
" Tidak sama sekali mas,dan aku sudah mempertimbangkan ini semua dengan sungguh sungguh. Aku tidak pernah berniat sedikit pun menerima perjodohan itu !ya memang adanya pak Angkasa datang ke rumah nenek dan meminta kembali perjodohan itu,tapi aku sama sekali tidak ingin menerimanya mas,karena....," Mona menjeda ucapannya,ia merasakan kerongkongannya terasa mengering dan itu membuat terasa begitu serak.
Banny menatap dengang penuh rasa penasaran.
" Karena apa ?" Tanyanya menuntut sebuah jawaban.
" Karena,karena aku hanya ingin menerima perasaanmu saja mas !" Pekik Mona dengan membuang jauh wajanya,membenamkan perasaan yang terdalamnya.
Entah kenapa kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya tersebut.
Mona pun berlari meninggalkan Banny yang terpaku menatap kepergiannya.Tak lama bunyi pintu kamar Mona di banting terdengar begitu keras.
Banny tertegun tanpa bisa menahan gadis itu menjauh darinya.Banny menghela napas dengan begitu dalam,merasakan seluruh jantungnya berdekup kencang setelah dirinya mengetahui pasti Mona benar-benar mencintainya.
Pria tampan itu menyapu wajahnya dengan tangan.Apa ini ? Kenapa ia sangat terganggu dengan kalimat terkahir yang di ucapkan Mona kepadanya.
Jadi selama ini ??
Banny sejenak berpikir.Dia keliru dengan dugaanya selama ini dan dia benar-benar telah salah paham.
Banny mendudukkan kembali tubuhnya di kursi,matanya menyapu semua hidangan yang tersaji di meja makan tersebut.
Kalimat Mona yang terakhir kalinya di ucapkan masih terngiang jelas di telinganya dan mampu meluluhkan perasaanya.
Selama ini dia terlalu egois masih mempertahankan yang menjadi prasangkanya terhadap Mona selama ini.
Banny lagi-lagi hanya bisa mengusap wajahnya dengan perasaan frustasi.Harus dari mana dia memperbaiki hubungann ini ?
Semua persiapan perceraiannya telah di urus sedemikian rupa.
Ah.........!!!
Banny terlihat membatin.
________
MONA Masih enggan untuk beranjak dari perasaan malasnya,ia menyendiri di keheningan malam seraya menatap jauh ke ujung langit sana.
Meski dia yakin mampu dalam melewatinya,namun terkadang dia tidak bisa menepis jika dirinya tidak akan mampu setegar itu.
Rapuhh ???
Tentu saja,ia merasa rapuh menghadapi permasalahan hebat ini.
Tidak dapat di pungkiri separuh hatinya telah terbalut rasa sayang terhadap pria itu,meski terkadang dia selalu berpikir ini adalah bukan akhir segalanya,dia masih mampu berjalan melewati hidup ini tanpa kehadiran seorang pria.
Yaa...comen Mona !! Lo yakin bisa !! ini adalah sebagian dari sandiwara hidup jangan terlalu di buatnya baper !!!
Seru lirih sang bantin berusaha menyemangati gadis itu.
Mona menggeleng,rasanya tidak semudah itu.Ini adalah masalah hati tentunya melupakan masalah ini tak semudah membalikan telapak tangan.Sebagian besar hatinya sudah terlibat jauh dari sandiwara ini.
Perih !!!
Tentu saja akan terasa di hatinya ketika perceraian itu benar-benar akan terjadi dan tentunya ini akan menjadi sebuah ujian terberat bagi mentalnya.
Tak terasa lelehan bening itu mengalir deras di kedua pipinya,entah linangan yang keberapa kalinya ini ia menangisi ulah pria tampan itu.
Mona menghela lalu meredam perasaanya yang kian memaksanya untuk menangis memuntahkan kekalutan hatinya.
Patah hati adalah situasi dimana perasaan yang di rasakan tulus mencintai namun tak terbalaskan.
Sesaat Mona membiarkan dirinya larut dalam goresan luka di hatinya.Namun ia tersenyum getir sesaat ia mengingat akan perkataan yang telah ia ucapkan kepada Banny tentang perasaanya tersebut.Setidaknya sedikit berkurang perasaan yang menganjal selama ini,apa yang di pendamnya selama ini terlepas begitu saja.
Mona berharap Banny bisa mempertimbangkan kembali keputusannya untuk menceraikan dirinya.Tak ingin kehilangan rasa itu ia memberanikan diri memberi pernyataan yang pasti akan perasaanya tersebut.
Mona menarik napas panjang lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh pelosok tempat itu.Sunyi tanpa ada yang bisa menemaninya atau pun mengganggu dirinya.
Mona kembali menarik napas panjang berusaha menetralkan perasaanya.Tak ingin rasanya dia larut dalam kesedihan ini.
Tangan kanannya menopang kuat dagunya dengan pandangan begitu kosong.
Di tengah perasaan galaunya tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunannya.
" Mona !" Panggil seseorang itu menyadarkannya.
Mona menolehkan kepalanya ke arah sumber suara tersebut.
Dilihatnya seorang pria tengah berdiri menatapnya dengan berpagai perasaan.
" Zean !" Pekiknya dengan bergegas menyeka air matanya yang tak terasa sudah membasahi kedua pipinya.
" Lo menangis ? " Tanya pria itu menatapnya dengan seksama.
" Tidak! Hanya sedikit kelilipan saja." Ucapnya berbohong.
" Elo tidak mungkin bisa membohongin gue." Ucap Zeanu seraya duduk di samping gadis itu.
__ADS_1
Mona tersenyum rapuh dengan mencoba menahan perasaanya yang kian terpuruk di dalam hatinya.
Entah kenapa dengan kehadiran pria itu justru makin memperburuk suasana hatinya.
" Hikss !!"
Bahu gadis itu terguncang ketika menahan isak tangisnya yang tertahan.
" Dia akan tetap menceraikan gue Zean." Ratapnya dengan berusaha tegar.
" Gue tau itu." Ucap Zeanu menatap pilu.
" Dia tidak pernah mau mendengar alasan ku." Ungkap Mona lirih.
" Gue kenal siapa Banny,dan gue masih berkeyakinan jika dia masih menyayangi lo Mon." Imbuh Zeanu tetap menyakinkan perasaan gadis itu.
" Jangan menghibur gue,gue tau perasaanya sudah berubah." Balasnya dengan menatap nanar.
" Jangan melibatkan prasangka buruk dalam pikiran lo itu,karena itu hanya akan memperburuk perasaan lo sendiri Mon." Ucap Zeanu menolak akan dugaan gadis itu.
" Gue hanya mencoba untuk tidak berharap apapun lagi darinya Zean,dan melepaskan adalah hal yang terbaik untuk saat ini." Ungkapnya dengan terlihat menahan kesedihannya.
" Gue mohon elo jangan berputus asa Mon,gue sangat mengerti akan perasaan lo saat ini,tapi gue sebagai seorang kakak..," Zeanu menjeda ucapannya dengan sekuat tenanga ia berusaha memposisikan diriya sebagai seorang kakak.
Mona menatap dengan penasaran sesaat pria itu menjeda ucapannnya.
" Sebagai seorang kakak gue akan berusaha melakukan yang terbaik buat elo dan juga Banny.Sahabat gue." Ucap Zeanu dengan tersenyum pahit,mengulang ucapannya menjadi kalimat yang sempurna.
Mona hanya tersenyum pasi dengan perasaan terharu.Untuk menenangkan perasaanya Mona membawa gelas berisi air itu ke bibirnya,tenggorokannya terasa kering setelah mendengar pernyataan pria itu yang mampu membuatnya begitu terharu.
Meneguknya beberapa kali sebelum meletakannya kembali di atas meja.
Zeanu hanya bisa mendesah berat berkali kali,ia sudah menebak jika Mona sudah kehilangan harapan untuk bisa bersama kembali dengan Banny sahabatnya tersebut.
Padahal seusai Mona bercerita akan permasalahan dirinya dengan sahabatnya itu,ia berupaya keras ingin menyatukan kembali sahabatnya itu dengan gadis yang begitu sangat ia cintai.
" Zean,makasih banyak atas kebaikan lo selama ini sama gue.Gue merasa lo begitu sangat perhatian terhadap gue." Mona menoleh pria itu dengan perasaan berat.Menyelengi dengan sebuah senyuman pahit.
" Jujur saja Mon,meski gue tidak bisa memiliki lo,tapi setidaknya gue masih mampu memberikan perasaan terbaik gue ini terhadap elo,memperjuangkan akan kebahagiaan elo" Jelas Zeanu dengan suara bergetar.
Mona hanya mampu tersenyum getir merasakan ucapan pria berwajah tenang itu begitu dalam di hatinya.Entah apa yang harus ia lakukan untuk membalas kebaikan dari seorang Zeanu terhadap dirinya.
" Gue minta maaf Zean atas perasaan ini." Lirihnya pelan.Perasaan gadis itu kian terasa bersalah membalas perasaan pria itu hanya dengan sebuah kata MAAF,maaf tidak mampu membalasnya dengan perasaan yang sama.
" Lo tidak perlu meminta maaf,dalam hal ini elo tidak bersalah atas perasaan gue ini." Ucap Zeanu tersenyum dengan begitu menenangkan.
" Jika memang Banny benar-benar menyayangi lo tentu nya dia akan tetap datang kepada elo,dan menyatakan kembali akan perasaanya Mon." Tungkas Zeanu dengan menatap penuh keyakinan berusaha memberi harapan yang pasti.
Mona menggeleng dengan perasaan tidak yakin.
" Gue terlalu munafik." Ucapnya kembali dengan perasaan yang sulit di artikan.
Zeanu menatap dengan pebagai perasaan,tak sampai hati rasanya jika dia harus melihat gadis itu menjatuhkan air matanya kembali hanya untuk seorang Banny yang memiliki ke angkuhan yang sekokoh itu.Entah kenapa Zeanu merasakan bagaimana dirinya berada di posisi gadis itu saat ini.
Zeanu menyugar rambutnya lalu menoleh ke arah wajah gadis itu yang matanya mulai terlihat sembab.
" Ini sudah malam,sebaiknya lo pulang,nanti Banny semakin berpikiran buruk terhadap elo!" Ajak Zeanu mengingatkan Mona untuk segera pulang.
" Dia tidak sepeduli itu akan keadaan gue." Balas Mona dengan enggan.
" Lo harus tetap pulang Mona." Bujuk kembali Zeanu tetap berusaha melunakan perasaannya Mona.
" Entah kenapa,rasanya gue malas sekali untuk pulang,dan pastinya gue hanya akan berdebat kembali dengan nya Zean." Balas Mona pelan.
Zeanu menghela menatap gadis itu dengan seksama.
" Banny hanya butuh penjelasan,tapi terkadang egonya yang terlalu besar hingga menyingkirkan perasaan dia yang sesungguhnya." Kembali Zeanu memberikan pembelaan terhadap sahabatnya itu.
" Gue lelah Zean." Ucap Mona dengan perasaan getir.
Gadis itu meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menutup seluruh wajahnya dengan perasaan yang begitu dalam.
Zeanu menatap iba terhadap gadis itu, merasakan apa yang sedang di rasakannya.Tangannya gamang untuk mendekap hangat pundak mungilnya Mona.Setidaknya dia mampu memberikan setitik ruang ketegaran terhadap wanita yang paling di cintainya tersebut.Namun perasaan ragu terus menyelimutinya.Ingin rasanya dia mendekap gadis itu dan memberikan sebagian ruang dadanya hanya untuk sekedar menyandarkan perasaannya dan menumpahkan tangisan yang mampu mengurangi beban berat di hatinya.
Tangan Zeanu tergantung di udara keinginannya untuk mengelus lembut rambut gadis itu tertahan dengan perasaanya sendiri.Ingin rasanya dia berusaha untuk menenangkan kekalutan yang sedang di alaminya oleh Mona.
Namun lagi-lagi Zeanu mengurungkan ke inginannya, di hempaskannya tangannya ke udara keraguann itu menghalanginya untuk bisa menenangkan perasaan gadis itu.
" Percayalah semua akan baik baik saja Mon !" Bisik Zeanu pelan.
" Gue tidak yakin !" Sela Mona dengan mengusap lembut wajahnya lalu menoleh ke arah Zeanu yang masih tetap menemaninya.
" Beberapa hari lagi gue akan bercerai,dan Banny pun sudah mempersiapkan hal itu.Itu artinya gue akan menyandang seorang janda.Lalu bagaimana dengan perasaan Mama jika mengetahui hal ini,meski nenek tahu akan hal ini,tentunya akan menjadi beban untuknya hikss." Ungkap Mona dengan terisak lembut.Nyaris dia tak sanggup menahan tangisan yang semakin menyesakannya.
Zeanu menghela napas,tak kuasa rasanya harus menatap wajah gadis itu dalam keadaan terguncang.
Masih segar Ingatannya akan ucapan sahabatnya tersebut dan dia tahu betul siapa Banny itu,Banny adalah sosok pria yang tidak pernah bisa bermain- main dengan perkataanya tersebut.
Tak hanya sekedar perasaanya,Banny mampu melakukan hal yang terburuk jika benar benar telah memutuskan sesuatu.Tak terkecuali dalam hal pekerjaan.Dengan begitu angkuhnya dia membatalkan seluruh kontrak kerjanya dengan seorang Investor yang telah bersaing ketat dengan dirinya memperebutkan gadis seorang Mona.
Dan untuk hal ini pun Zeanu harap harap cemas akan keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat lagi untuk menceraikan Mona.
" Semoga saja TUHAN menggerakan hati Banny untuk tidak menceraikan lo Mon." Sambung Zeanu berharap lebih Banny mengurungkan niatnya.
Mona tersenyum getir berusaha mengaamiinkan harapan terbesarnya.
" Tak ada yang tak mungkin bagi-NYA untuk mempersatukan hati hambanya." Tungkas Zeanu tersenyum.
Mona membalasnya dengan anggukan namun matanya tetap basah dengan air mata.
__ADS_1