CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 122


__ADS_3

MONA berjalan terpogoh-pogoh setelah keluar dari kapsul lift tersebut,lalu pandangannya di edarkan-nya keseluruh parkiran basment tersebut.


Sebuah mobil sport berwarna metalik dengan plat polisi B Tripel two BNY terparkir di camp VIP.


Dan dengan tidak menunggu lama gadis itu pun perlahan berjalan mendekati mobil sport mewah tersebut.Setelah berada di samping mobil sport mewah itu,ia pun menarik pelan pintu mobil sisi sebelah kiri dan merunduk pelan.


" Maaf pak !saya sedikit terlambat." Ucap Mona penuh homat meminta maaf atas keterlambatanya itu.


" Sudah biasa !" Balas pria itu dengan jutek.


Banny yang sedari tadi menunggu dirinya di dalam mobil menoleh kesal ke arah Mona yang baru tiba.


Gadis tersebut pun segera masuk dengan perasaan canggung ketika hendak duduk di sebelah pria tersebut.


" Kenapa bisa lama ?" Pria itu bertanya ketus.


" Tadi saya bersiap-siap dulu kan pak,bukannya bapak yang menyuruh saya siap-siap?." Balas Mona menarik pelan pintu mobil tersebut.


Banny terdiam setelah Mona menjelaskannya,setelah ia melihat Mona sudah duduk dengan nyaman sesaat pria dingin itu menoleh ke arah Mona yang terlihat penampilannya sedikit frees-an ketimbang beberapa jam yang lalu yang wajah terlihat sembab membuat penglihatannya terasa pedih.


Lalu pria itu menekan tombol merah untuk menyalakan mesin mobilnya lalu perlahan mobil sport berwarna metalik tersebut melaju keluar parkiran basment.


Sejenak hening....


Saling terdiam menatap sepi ke arah jalanan.


Pria itu pun sama memilih untuk diam tidak mengajak bicara gadis yang sedang duduk di sampingnya.


Sudah sekitar lima belas menit gadis itu duduk di samping pria tampan itu dengan perasaan yang tak menentu,meski dia sudah berniat untuk melenyapkan perasaan cinta sepihaknya,tapi ia rasa semua itu tak semudah membalikan telapak tangan,kenapa ?


Karena akan seterusnya ia lebih sering bersama dan melihat wajah pria tampan itu serta berinteraksi secara intens dengan dirinya.


30 hari bukanlah waktu yang sebentar untuk menjadi istri seorang Banny pratama wiguna.


Entah kenapa tiba-tiba Mona menyesali telah melakukan sandiwara tersebut dan sekaligus menerima perjodohan dari seseorang yang telah banyak memberi jasa kepadanya.


Jarak raga dirinya dengan pria itu memang dekat,tapi secara hati jarak mereka sungguh jauh,terlebih lagi dengan jelas Banny sekarang lagi dekat dengan seorang perempuan yang indentitasnya masih misteri.


Mona tidak ingin berharap apapun lagi dari pria tersebut selain menjauhkan harapan itu.


" Mona !" Panggil suara bariton itu membuyarkan pikirannya,sesaat Mona menggeser bola matanya lalu melirik kecil ke arah suara yang memanggilnya.


" Iya pak." Balas Mona pelan.


" Jadwal besok ada apa saja ?" Tanya Banny dengan tetap fokus ke laju kendaraanya.


Sejenak Mona mengingat kembali untuk jadwal hari esok yang telah ia atur secara terperinci.


" Memangnya kamu tidak di catat di note kamu ?" Tanya lagi Banny mulai taksabar.


" Besok pagi ada meeting dengan para staff perusahaan dan ada beberapa penijauan ulang barang-barang yang tiba dua hari lalu di kantor." Jelas Mona dengan cepat.


" Selanjutnya ? " Tanya pria itu sesaat menoleh.


" Dan untuk jadwal lanjutannya akan ada beberapa time untuk pertemuan dengan beberapa suplayer beserta custumer." Jelas lagi Mona dengan sigap.


Pria itu menganggukan kepalanya tanda memahami.


Sekertarisnya ini memang cukup di andalkan dalam mengatur semua jadwal kerja dirinya yang begitu padat.


Terkadang dirinya saja suka tidak ingat akan jadwal sebuah pertemuan atau pun jadwal meeting hingga ke hal acara dadakan sekli pun ia selalu mengandalkan sekertarisnya yang menghandle,dan luar biasanya gadis setara Mona mampu melaksanakan semua pekerjaan itu dengan sempurna.


Nyaris semua pekerjaanya terhandle kan oleh gadis manis tersebut.


" Ada lagi ?" Toleh Banny sesaat.Mona menggeleng di rasa hanya itu yang dia ingat.


" Kalau begitu tolong kamu kosong kan jadwal untuk besok kecuali dua itu,meeting dan peninjauan." Ucap Banny singkat.


" Haah !!"


Suara hentakan napas gadis itu tertahan.


Mona terhenyak dan seketika menoleh heran ke arah pria yang jalan pikirannya selalu sulit di tebak.


Panjang lebar dirinya mejelaskan secara rinci akan jadwal esok pagi lalu dengan entengnya pria itu menyuruh mengosongkan semua jadwalnya.


Padahal ia sudah bersusah payah setengah mati mengatur sekejul sang bosnya tersebut yang selalu padat,dan hal itu merupakan rutinitas setiap harinya.


Terkecuali hari Minggu ia dapat bernapas lega terbebas dari susunan sekejul bosnya tersebut.


" memangnya pak Banny ada acara pribadi ?" Akhirnya Mona memberanikan diri untuk bertanya.


Pria itu tak langsung menjawab membiarkan sekertarsinya menunggu jawaban darinya.


Gadis itu memicingkan matanya dan menatap ragu setelah melihat reaksi si pria itu hanya terdiam tanpa di mengerti.


Mona sejenak berpikir keras,dan entah kenapa pikurannya itu pun langsung tertuju kepada sosok Arnetta.


Jangan bilang kalau pria yang sedang duduk di sampingnya itu akan jalan bareng dengan gadis itu.


Entah kenapa halusinasinya bekerja dengan cepat saat bosnya meminta dirinya untuk mengosongkan jadwalnya untuk hal yang lain, padahal kenyataanya Mona belum tahu pasti bosnya itu akan melakukan apa,namun hebatnya pikirannya sudah di dahului oleh hal negatif.


Dan pikirannya tepat mengarah kepada sosok gadis cantik yang bernama Arnetta,bisa jadi kan mereka akan mengadakan some thing spesial ??


Semacam Dinner atau ngedate gitu ???? pikiran gadis itu kian meracau,menerka-nerka apa yang akan di lakukannya bosnya tersebut.


Mona menghela dengan kasar,hembusan napasnya menyerupai seorang perempuan yang tengah siap-siap untuk melakukan pembukaan di saat proses persalinan.


Pria itu menoleh dengan ekspresi aneh di saat melihat gadis yang duduk di sampingnya itu terlihat gelisah.


" Besok papah meminta kita untuk mengadakan pertemuan keluarga besar untuk menentukan tanggal pernikahan kita,jadi kalau bisa besok kamu tolong kosongkan semua jadwal saya." Ucap Banny dengan ekspresi datar.


Gleekkkk.....


Mona menelan air liurnya dengan perasaan shok lalu menoleh canggung ke arah bosnya tersebut.


Apakah dia tidak salah dengar dengan ucapan bosnya tersebut?


Perlahan gadis itu mengorek lubang telinganya dengan ujung jari telunjuknya dengan sesekali kedua alisnya naik turun bak jalanan menuju puncak.


" Besok saya ingin kita kelihatan lebih formal,keluarga besarmu harus terlibat." Pinta Banny dengan dingin.


Bola mata Mona membulat saat bosnya itu dengan enteng meminta keluarga besarnya ikut hadir dalam penghitungan tanggal serta hari pernikahannya.


" Gawaatt !! yang benar saja ?? cuman sandiwara begini saja harus melibatkan keluarga besar,lalu apa kabaranya hati gua ?benar-benar tidak punya perasaan bos gue ini.Dikira gue gampang apa mengakhiri sandiwara ini dengan hanya bilang bye,.Lalu gimana perasaan nenek,nyokap gue jika mereka mengetahui pernikahan gue ini cuman sandiwara doang."

__ADS_1


Mona membatin dengan perasaan yang kian kacau.


" Kamu tidak usah membatin." Ucap Banny ketus.


Mona menoleh sebal ke arah pria yang berada di sampingnya tersebut,pria ini selalu dapat menebak isi hatinya dikala ia sedang mengumpatnya.


Ia merutuk dalam hatinya jika pria tampan ini begitu mudahnya mempermainkan perasaanya.


" Tapi pak,ini hanya sandiwara saja,kenapa kita harus melibatkan keluarga besar,apakah ini sama saja kita akan mempermainkan perasaan mereka juga ?" Ucap Mona menanyakan hal yang menjadi kegelisahan hatinya.


" Lalu mau kamu?,kita menikah diam-diam begitu ?kamu gila apa ?" Ucap Banny menoleh dengan tatapan sinis.


Pria itu mempertanyakan kewarasan gadis tersebut,Mona menggeleng dirasanya apa yang di ucapkan pria itu mulai terdengar kasar di telinganya.


" Kamu tidak terpikirkan jika kita menikah diam-diam,apakah papah akan percaya dengan pernikah kita ini ?sudahlah !! kamu gak usah banyak protes !lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan dengan atas apa yang saya perintahkan." Terang pria tampan itu menatap dingin ke arah laju kendaraanya tersebut.


Nyessss.....


Sesuatu yang tajam menembus perasaanya sehingga Mona tercenung menatap dengan perasaan sembilu,sepertinya ia masih cukup waras menghadapi sikap ajaib bosnya tersebut.


" Baik pak." Hanya itu yang terucap dari mulut sang gadis itu.


Sesaat hening......


Hanya ada suara deru mesin dari kendaraan tersebut yang melaju cepat membelah waktu yang kian gelap.


Tepat pukul tujuh malam Banny beserta Mona tiba di sebuah pelataran Hotel mewah,yang sebelumya alamat hotel tersebut di share lokasi oleh pihak Angkasa.


Sepertinya acara ini bukan acara makan malam biasa,melihat dari deretan mobil-mobil yang terpakir di tempat itu rata-rata mobil klas eropa semua.


Mona tak banyak protes lagi ketika Banny melangkah berjalan mendahuluinya.Namun sesaat tubuh pria itu berhenti menoleh ke arah gadis tersebut yang berjalan cukup tertinggal jauh darinya.


Banny menoleh ke arah gadis tersebut,dengan perasaan sedikit terpaksa ia menunggu hingga Mona menghampirnya tepat di sampingnya.


" Berjalan lah dengan cepat jangan lambat seperti itu." Bisiknya dengan suara baritonya yang mendekat ke telinga gadis tersebut.


Mona tersenyum kaku lalu mengangguk pelan.


Lalu pria itu melangkah sedikit melambat dan berjalan dengan penuh wibawa.


Entah kekuatan apa yang mendorong tangan gadis itu secara refleks mengandeng tangan pria berbadan tegap tersebut.


Pria itu tak menanggapinya justru sesuatu hal yang tak pernah terbayangkan olehnya terjadi.


Banny menurunkan tangan gadis tersebut lalu menyisipkan jari jemarinya di jari tangan gadis tersebut.


Sontak gadis manis itu melongo melihat sikap ajaib bosnya tersebut yang mulai bereaksi.


Pria itu menoleh ke arah dirinya dengan tatapan yang sama sekali sulit di artikan.


Mona menunduk di samping pria tampan itu,merasakan pipinya memanas hingga memerah,dan jantungnya sudah tak bisa berkompromi lagi langsung berdegup kencang dua kali lipat lebih hebat,jari jemari yang kokoh itu menggengamnya dengan erat.


Ini lah......!!!


Ini lah......!!!


Yaa seperti ini lah sikap yang selalu melelehkan perasaan nya itu,perlakuan pria tampan ini selalu menjadi sebuah kejutan yang memperdayainya.


Meskipun sosok pria yang ada di sampingnya ini selalu menyebalkan dan sering membuat dia kesal hingga ketaraf perasaan dongkol,tapi bukan berarti ia melupakan fakta bahwa pria yang ada di sampingnya itu adalah pria yang mampu menarik segala perhatian dan seluruh hatinya.


Seorang pria dengan mengenakan stelan jas formal necis terlihat menyambut hangat kedatangan Banny dan Mona.Wajahnya yang berkarismatik terlihat tersenyum hangat menyambut kehadiran tamu kehormatannya tersebut.


" Selamat malam pak Banny !" Sapa pria berwajah karismatik itu menyalami sekaligus merangkul hangat Banny.


" Selamat malam juga pak Angkasa." Balas Banny dengan menerima sambutan hangat tersebut.


Kedua pria yang sama-sama memiliki luxs menarik itu melepaskan rangkulannya.


" Hai Mon,selamat malam !" Sapa kembali Angkasa menatap lembut gadis yang berada di belakang Banny.


" Malam pak Angkasa." Balas gadis itu manggut dengan penuh hormat.


" Ayo silahkan! semua tamu sudah hadir,saya hanya menunggu kehadiran pak Banny beserta sekertaris." Ucap Angkasa dengan menunjukan para tamu yang sudah hadir dengan tatapan yang di bagikannya.


" Oh,sepertinya saya terlambat." Ucap Banny tersenyum tipis.


" Tidak juga,kebetulan ini kan hanya acara makan malam bersama saja,jadi mereka bebas langsung menikmati semua hidangan ini." Jelas pria itu dengan semeringah.


Lalu mereka pun langsung di ajak duduk di meja yang sudah di siapkan oleh Angkasa.


Dengan spontan Angkasa menarik salah satu kursi spesial untuk gadis yang tak jauh dari bosnya tersebut.Banny menoleh sesaat atas sikap spontan Angkasa itu dan setidaknya sikap itu mulai menganggu ketidaknyamanannya.


" Kenapa Angkasa begitu perhatian kepada Mona ??"


Tanya dalam hati pria itu seraya memalingkan cepat wajahnya.


" Terimaksih pak Angkasa ! " Ucap Mon dengan rasa haru,entah kenapa kehadirannya di rasa spesial bagi pria tampan yang berkarismatik itu.


Meski ia membandingkan taraf ke tampanannya tentu lah ketampanan seorang Banny tidak ada duanya.Wajah tampan hidung mancung serta alis tebal dengan dagu runcing berlapis bulu-bulu halus yang tubuh di atas kulitnya yang putih,jika ia membuang habis bulu-bulu tipis di jambangnya tersebut maka wajahnya akan lebih mirip seorang oppa korea.Lebih tepatnya Lee min ho.


Tapi mungkin ini adalah Lee min ho versi timur tengahnya.


Mona tersenyum,ia selalu tak bisa bernapas jika memperhatikan tekstur wajah bosnya tersebut memang ketampanannya tiada duanya.


Berbeda dengan seorang Angkasa,meski tidak terlalu tampan tapi pria ini mempunyai gambaran wajah yang berkarismatik tinggi,jika bibirnya tersenyum mengukir sembuah senyuman yang khas di raut wajah nya tersebut.


Jelas wajah pria ini menunjukan gambaran wajah asli INDONESIA,warna kulitnya yang sedikit gelap namun bukan berati hitam lebih ke warna eksotis,dan tepatnya warna sawo matang.


Namun satu hal yang tak bisa di pungkiri perempuan mana pun jika daya karismatik salah satu pria ini memang tterlihat sangat kental sehingga perempuan mana pun yang menatapnya akan terhipnotis dengan daya tariknya tersebut,begitu pun Mona,ia tidak menutup kemungkinan jika perhatiannya mulai teralihkan atas sikap serta perhatiaanya pria tersebut.


Saat mata Mona melakukan scanning,ternyata di sana telah hadir para tamu dengan berpenampilan yang WAH,dan dia pun dapat menyimpulkan jika acara ini bukan acara makan malam biasa,acara makam ini memang spesial dengan di hadiri orang-orang yang berperan penting dalam setiap perusahannya masing-masing.


Mona melirik ke arah bosnya tersebut yang sedang asik mengobrol bersama Angkasa dengan topik pembicaran yang tak jauh dari masalah pekerjaan.


" Semoga saja pak Banny suka dengan hidangan yang saya siapkan." Ucap Angkasa mengalihkan topik pembicaraanya.


" Ini sudah sangat istimewa buat saya pak Angkasa,pastinya tamu yang semua hadir di acara ini sangat menikmati hidangan yang di suguhkan oleh pak Angkasa." Tungkas Banny tersenyum.


Angkasa mengangguk pelan dengan tersenyum simpul saat mendengar sanjungan dari koleganya tersebut.


" Dan saya rasa,tamu yang hadir di acara ini bukanlah tamu sembarangan pak,pastinya ini adalah tamu-tamu yang terhormat." Ucap Banny menyanjung kembali.


" Ah pak Banny nih bisa saja,mereka yang hadir sebagian besar patner kerja saya dan beberapa pihak keluarga besar saya, yang ikut serta merasa bahagia atas kerja samanya perusahaan saya dengan beberapa perusahan besar di kota besar ini,termasuk perusahaanya pak Banny." Ujar Angkasa dengan tak lupa menggeserkan bola matanya menatap Mona yang sedari tadi menatap dirinya dengan begitu lekat.


" Bagi saya ini sangat istimewa atas kerja samanya bagi perusahan saya pribadi." Balas Banny tersenyum simpul.Angkasa mengangguk-anggukan kepalanya dengan terus tersenyum hangat.

__ADS_1


" Gimana Mon,kamu suka dengan makanan ini ?" Tanya Angkasa menoleh ke arah Mona dengan menatap penuh arti sekaligus menatap penuh perhatian.


Mona mengangguk dengan membalas senyuman canggung atas sikap pria tersebut.


" Nikmatin yaa makananya !" Ucap Angkasa tersenyum penuh arti.


Banny menoleh ke arah gadis tersebut yang duduk tak jauh darinya, ada sesuatu yang meresahkan pikirannya saat sikap Angkasa di rasa aneh terhadap sekertarisnya itu.


Entah kenapa perasanya seperti ada yang janggal setelah melihat dengan jelas jika sikap hangat Angkasa terhadap sekertarisnya itu mengundang perasaan cemburu di hatinya.


" Ngomong-ngomong kamu sudah berapa lama bekerja bersama pak Banny ini ?" Tanya Angkasa menatap dalam wajah Gadis tersebut.


Sesaat Mona melirik kaku ke arah bosnya tersebut yang secara tidak sengaja sedang menatap ke arah dirinya.


Wajah pria itu menatap dengan dingin seakan-akan sedang mengusir jauh perasaan suntuknya.


" Hmmm,lumayan pak,saya cukup lama bekerja dengan pak Banny." Jawabnya dengan segan.


" Pak Banny ini sangat beruntung loh bisa memiliki sekertaris seperti Mona ini,saya bisa melihat ada banyak kelebihan yang di miliki sekertaris anda ini,dan saya yakin jika perusahaan bapak akan lebih sukses lagi dengan campur tangan dingin sekertaris bapak ini." Ucap Angkasa menyanjung tinggi sekertarisnya itu secara langsung di hadapan bosnya sendiri.


Sontak raut wajah Banny terlihat memias setelah Angkasa memuji penuh arti sekertarisnya tersebut.


Mona tersenyum canggung dengan perasaannya kian tak menentu.


" Ah,pak Angkasa ini terlalu berlebihan dalam menilai tentang diri saya.Lagian bapak kan baru mengenal saya,masa iya dalam waktu yang sesingkat ini bapak sudah bisa menilai tentang saya.Saya rasa bapak terlalu berlebihan dalam menilai diri saya." Ucap Mona dengan berbicara apa adanya.


Angkasa tersenyum lembut,entah kenapa ia merasa senang ketika melihat senyuman manis dari raut wajah gadis itu yang menampilkan kedua lesung pipinya yang semakin kian menambah pesona kesederhanaan gadis tersebut.


Banny memalingkan wajahnya dengan perasaan tidak suka setelah melihat sikap aneh yang di tunjukan Angkasa terhadap sekertarisnya tersebut.


Mona kembali menyuapkan makananya ke mulutnya dengan ekpresi cuek.


Sementara Banny terlihat kehilangan seleranya ketika perlakuan pria itu merusak suasana hatinya.


" Tapi aku yakin,jika kamu adalah sosok perempuan yang multitalent dan mempunyai sikap idealis." Sanjung lagi Angkasa kian terus mengombali gadis tersebut.


Mona tesipu dengan tersenyum yang mengembang,entah kenapa pikiran nakalnya muncul seketika jika moment ini di rasa sangat pas untuk membuat bosnya merasa cemburu terhadap dirinya.


Kenapa tidak,jika bosnya bisa membuatnya jengkel hingga menangis bombay apa salahnya jika ia membalas perlakuannya itu dengan imbas.


Mona merasa senang atas pujian yang di layangkan pria berkarismatik itu kepada dirinya.


Siapa sih yang tidak bahagia jika pria sekelas Angkasa saja bisa perhatian kepada dirinya,meski sikapnya terlihat di jaga namun dirinya yakin jika pria yang ada di hadapannya itu mulai menaruh perhatian terhadap dirinya.


Bukan masalah geer atau kepedean semata namun dirinya merasa jika tak hanya satu dua orang pria yang memperlakukan seperti ini di awal pertemuannya dengan beberapa pria, jika hal ini tidak ada sesuatu hal yang lain di rasanya oleh pria tersebut.


*Mengerti lahh ya para pembaca setia hehe....*


Meski itu hanya sebuah ke kaguman semata,namun Mona yakin jika perasaan seseorang tidak ada yang bisa menebaknya.


" Pak Angkasa ini terlalu banyak memuji." Ucap Mona dengan tersipu-sipu hingga membuat Banny melihatnya kesal.


" Tapi itu benarkan ?dan jika memuji benar adanya itu adalah sebuah pengakuan bukan hanya pujian semata,dan saya tak hanya sekedar memuji saja." Balas pria itu melepaskan senyuman penuh pesonanya.


" Tapi saya tidak suka dengan pujian ?" Ucap Mona pelan.


" Loh kenapa ?bukannya semua orang senang jika mendapat pujian ?" Tanya Angkasa menyeringah aneh.


" Karena buat saya pujian itu adalah teror yang tak nampak." Terang gadis itu dengan kesekian kalinya ia tersenyum sangat manis sehingga membuat Angkasa kian simpatik penuh terhadap gadis itu.


" Kok teror ??" Tanya Angkasa kian penasaran akan kepintaran Mona dalam berkata.


" Yaa,karena kita tidak pernah tahu di balik pujian seseorang itu ada maksud apa kepada kita." Jelas gadis itu dengan melirik genit ke arah Angkasa.


" Ahh kamu bisa saja Mona,tapi satu hal yang harus kamu ketahui jika pujian saya ini sangat tulus,tak ada konteks apapun ." Ucap Angkasa dengan penekanan yang sangat berbeda.


Meski ucapan itu terdengar biasa saja,namun beda halnya bagi pendengaran pria tampan tersebut jika ucapan Angkasa itu membuatnya terasa haredang.


" Ehem !." Banny mendehem keras menghentikan tatapan pria itu yang masih lekat di wajah sekertarisnya tersebut.


" Yang pasti Mona ini orangnya sangat profesional dan kompeten." Sela Banny menoleh gadis tersebut dengan tak kalah tinggi menyanjungnya.


Mona menyeringah dengan menatap ekspresi penuh ke arah wajah bosnya tersebut.Tenyu saja ekspresi yang sulit Mona artikan.


" Itulah,setidaknya saya merasa respek dengan sekertaris pak Banny ini." Ucap Angkasa to the point.Pria itu benar-benar membuat isi kepalanya terasa mendidih.


Rasanya ini sebuah ungkapan sebuah kejujuran yang mulai mengarah ke hal perasaan pribadinya dan ia merasa cukup peka dengan sikap Angkasa terhadap sekertarisnya itu.


" Jujur saja,tipekal perempuan seperti ini yang paling saya idamkan." Ucap pria itu tandas dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Mona.


Seketika pria dingin berwajah tampan itu terkesiap menatap cemburu ke arah pria berwajah berkarismatik itu.


Sementara gadis yang tengah dipuji itu tersenyum dengan sejuta ekpsresi bahagia yang membuat kian meradang wajah pria tampan berwajah dingin tersebut.


" Yeesss !!!"


Sorak batin gadis itu terlihat bahagia setelah melihat reaksi wajah tampan itu kian membeku setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh pria yang tak kalah berkarismatik dari bbosnya tersebut.


Rahang pria tampan itu menonjolkan sebuah tekanan yang kuat hingga sudut pipinya menyembul tegas.


Namun bukanlah seorang Banny jika mempertunjukan kecemburuannya secara frontal,ia lebih memilih bersikap elegan dalam menyikapinya seraya tersenyum penuh ironi.


Ada sebuah ancaman yang sedang mengintai perasaanya.


Seperti ada sebuah ancaman yang secara terang-terangan akan menggeser perlahan posisi dirinya dari hati gadis tersebut.


Jika awalnya hanya Zeanu yang menjadi saingan terberatnya dalam mendapatkan tempat di hati seorang Mona,justru kini lawannya itu datang dari pihak sang investor perusahannya tersebut.


Banny menatap gamang ke arah Angkasa yang terus memuji sekertarisnya tersebut dengan cara berterus terang di hadapannya.


Gadis itu sesekali tersenyum manis ke arah pria tersebut seolah-olah menikmati pujian tersebut dengan raut wajah yang memerah.


" Sorry pak,saya boleh numpang ke kamar kecil ?" Pinta Banny dengan ekspresi kian tak menentu.


" Oh silahkan pak,silahkan !! pak Bany bisa minta tolong ke security yang berdiri di ujung ruangan sana untuk mengantarkan bapak ke kamar kecil." Ucap Angkasa menunjuk salah satu security yang sedang berdiri di ujung sudut ruangan tersebut.


" Baik pak,terimakasih." Ucap Banny mengangguk seraya berdiri dari duduknya.


" Ok.Mona saya tinggal dulu." Pamit Banny menoleh gadis tersebut dengan perasaan sedikit kesal.


" Baik pak." Ucap Mona pelan dan sedikit abai.


Banny melangkah dengan perasaan jengkel menuju kamar kecil yang di tunjukan oleh Angkasa tersebut.


Angkasa kembali menatap lurus ke arah gadis yang ada di hadapannya tersebut.Ada sesuatu hal yang sedang menggoda pikirannya akan daya tarik seorang Mona di matanya.

__ADS_1


Meski memang tak secantik perempuan-perempuan yang ada di sekelilingnya namun gadis ini mampu menarik segala perhatiannya.


__ADS_2