CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 141


__ADS_3

MOBIL metalic itu melaju cepat membelah jalanan pria pemilik wajah dingin itu menatap lurus ke arah kemudinya tanpa memperdulikan seorang gadis yang tengah duduk dengan menemani nya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Mereka hanya sibuk dengan hati dan pikiran masing-masing.


Banny sibuk dengan perasaan yang mulai gelisah akan kondisi papahnya tersebut,ragu jika sang Ayah mendengar semua pembicaraannya tadi pagi bersama Mona.Ia pun berusaha untuk berpikir positif tanpa mengurangi perasaan nya tersebut.


" Kita langsung ke afartemen." Banny akhirnya memecah kesunyian,membuyarkan lamunan gadis tersebut.


Mona terdiam,namun tak lama ia membuka suaranya.


" Nanti sore saya akan bertemu dengan kedua sahabat saya." Ucap Mona dengan menoleh pria tampan itu dengan perasaan ragu.


" Untuk apa ? " Tanya pria itu dengan tanpa menoleh.


" Ada hal yang mau di bicarakan !" Jawab Mona singkat.


" Oya ?bertemu dengan sahabat kamu apa dengan Angkasa ?" Ujar pria itu tersenyum sinis,sesaat menoleh lalu kembali menatap lurus jalanan.


Mona terhenyak kaget mendengar pertanyaan-nya tersebut dengan bernadakan kecurigaan terhadap dirinya yang akan bertemu dengan Angkasa.


Mona menoleh dengan perasaan yang heran ke arah pria dingin itu yang menatap laju kemudinya dengan perasaan dingin.


" Kenapa bapak bertanya seperti itu ?? " Tanya Mona menatap dingin.Pria tampan itu hanya mengangkat tinggi bahunya dengan raut wajah tanpa ekspresi.


" Aku sudah beberapa hari ini tak bertemu dengan sahabatku jadi wajar bila saya ingin bertemu mereka." Ujar Mona mulai terlihat hilang mood ketika bosnya mulai mencurigai dirinya.


" Wajar sih,tapi bisa jadi kamu melakukan hal yang lain setelah bertemu dengan sahabat kamu itu ?" Terang pria itu tetap dengan perasaan curiganya.


Mata belo gadis itu menyipit,sejak kapan pria dingin berwajah tampan ini bersikap posesif seperti ini,bukannya ia berhak melakukan apapun tanpa harus di batasi selama ia menjadi istri bosnya tersebut ?


lalu kenapa tiba-tiba pria ini berubah sikap kepadanya seolah-olah ia mencurigai sesuatu hal darinya ?Mona menggeleng di rasa bosnya tersebut terlalu lebay dalam bersikap yang membuatnya merasa cemburu secara tidak langsung.


" Saya menikah dengan bapak bukan berarti saya harus di larang bertemu dengan siapapun,termasuk kedua sahabatku dan tak terkecuali pak Angkasa." Terang gadis itu dengan penuh penekanan ia merasa tidak suka jika dirinya mulai di curigai sikapnya.


" Aku tidak melarang,apa ada aku melarang kamu untuk bertemu dengan siapapun setelah menikah ?aku hanya bertanya ?aku rasa.Aku wajar jika bertanya hal itu." Jelas Banny membela diri.


" Saya rasa itu bukan bertanya,tetapi bapak sedang mencurigai saya.!" Jelas Mona dengan tandas.


Deekkkk...


Pernyataan gadis itu mampu menohok perasaanya,bahwa sesungguhnya ia mulai respek dengan gadis itu,perlahan Banny menepikan mobilnya lalu terdiam sesaat,Mona menatap heran ke arah sikap bosnya yang memilih untuk berhentikan sejenak laju kendaraannya tersebut.


" Mona.Apa sebelumnya Angkasa sering menghubungi kamu ?" Tanya nya dengan menatap tajam,bola matanya yang tajam itu membidik sempurna ke wajah gadis tersebut.


Deeekkk......


Gadis itu terdiam ,sesaat pria tampan itu bertanya perihal pria yang menghubunginya semalam,namun ada angin apa tiba-tiba saja pria tampan yang kini duduk di sampingnya tersebut bertanya di luar perkiraanya.


Mona perlahan menolehkan kepalanya ke arah bosnya tersebut dan membalas tatapan pria itu yang sedari tadi masih terus memandang lurus ke arah dirinya.


" Kenapa bapak bertanya akan hal itu ?" Tanya kembali gadis itu dengan perasaan kian tak berarah.


" Saya sedang bertanya sama kamu,kenapa kamu malah balik bertanya,jawab pertanyaanku dan jangan bertele-tele !" Ujar Banny dengan ekpresi wajah dua kali lipat lebih tajam dari biasanya.


Mona terdiam menatap dengan berbagai perasaanya,di rasanya pikirannya mulai kacau setelah sikap ajaib bosnya tersebut mulai kumat.


" Tidak !" Jawab gadis itu dengan singkat.


Pria tampan itu mengela kasar seolah-olah ia kurang puas dengan jawaban sekertarisnya tersebut.


" Lalu kenapa semalam dia menghubungi mu ?" Tanya lagi Banny dengan penuh selidik.


Mona bingung harus menjawab apa.Apa mungkin ia harus jujur tentang perasaan pria itu terhadap dirinya,lalu apa untungnya bagi bosnya tersebut mengetahui jika pria itu tengah mendekatinya.


Mona terdiam sekiranya ia sedang mempertimbangkan perasaanya tentang pria berkarismatik itu yang mulai menambah deretan panjang permasalahannya.


Namun entah kenapa pikiran nakalnya selalu muncul di saat reaksi pria itu berlebihan jika ia sedang dekat dengan seorang pria,tak terkecuali ketika ia tengah dekat dengan Zeanu,dan sikap yang sama di lakukan pria tampan itu,seolah-olah ia cemburu terahadap dirinya.


Mona sesaat tersenyum culas hati kecilnya berguman, apa salahnya jika ia mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi antara dirinya dengan pria berkarismatik tersebut,dan ia ingin melihat lebih jauh seperti apa responnya ketika ia menceritakan siapa sesungguhnya Angkasa.


Yaa siapa tahu hal ini bisa membuat bosnya kian cemburu,dan ia yakin jika bosnya tersebut memang ada perasaan spesial untuk dirinya,namun ya itulah doi terlalu banyak main gengsi.Bibir gadis itu menyunggingkan senyuman tipis yang berhasil menarik antensinya pria tampan itu sehingga memunculkan perasaan heran di benaknya.


" Kenapa kamu tersenyum-senyum ?" Tanya pria itu datar.


" Terkadang takdir TUHAN itu selalu terencana dengan indah." Ucap Mona menatap pria itu dengan penuh arti,Banny mengernyit dengan penuturan sekertarisnya itu yang mendadak so puitis.


" Heuhh.. " Banny mendecih dengan nyaris tak terdengar.


" Ternyata pria yang akan di jodohkan nenek itu adalah pak Angkasa." Ucap Mona dengan tandas,senyumannya penuh kemenangan.


Sontak pria tampan itu terhenyak mendengar penuturan sekertarisnya tersebut.


" Maksud kamu ??" Banny mengernyit dengan perasaan tak tenang.

__ADS_1


" Bapak masih ingat ?waktu itu saya pernah akan di jodohkan dengan seseorang oleh nenek saya ?dan ternyata pria itu adalah pak Angkasa." Jelasnya lagi dengan tersenyum penuh arti.


Raut wajah pria itu berubah gelisah,ada perasaan yang tak biasa ia rasakan saat ini.


Kenapa ini bisa terjadi ?


Kebetulan atau kah memang ini sudah terencana ?


Ahh rasanya perasaanya terasa sesak, dan seketika saja rongga dadanya terasa terhimpit sesuatu yang begitu padat, dan sejadi jadi pandangan nya mendadak berkunang-kunang seolah-olah ia sedang mengalami tekanan jantung.


" Dan yang lebih mengejutkan lagi,saya di pertemukan dengan pak Angkasa di situasi yang tepat." Ucap gadis itu melirik kembali ke arah wajah pria itu yang kian terlihat gusar.


Banny menoleh gadis itu tanpa ekpresi seolah-olah ia tak ingin mendengarkan sesuatu hal tengtang pria itu yang menyebabkan perasaanya tidak berfungsi.


Rasanya ia tidak kuat harus merasakan kecemburuannya yang kian merongrong jiwanya.


" Jadi kamu bersedia di jodohkan dengan Angkasa ?" Tanya pria itu menatap ragu,untuk bertanya hal ini pun rasanya ia memerlukan kekuatan yang luar biasa.


" Kenapa tidak ??" Balasnya singkat.


Banny tercekat seolah sebuah batu menyumbat ke kerongkongannya,sehingga terasa ia merasa sulit untuk berkomentar lagi.


Banny tertunduk menatapi dirinya perasaanya kian meracau,perlahan ia menarik napas laju menjalankan kembali kemudi kendaraannya tanpa memperdulikan gadis tersebut.


Mona diam-diam melirik kearah pria itu dengan perasaan puas,apa yang menjadi perkiraanya di rasa benar jika bos tampan nya ini cemburu terhadap dirinya dan itu artinya bila pria dingin berwajah tampan ini memiliki rasa yang sama terhadap dirinya.


**********


Kedua sahabat Mona yakni Amel dan Tamara sudah menanti Mona di beberapa menit yang lalu,mereka tak sabar ingin segera mendengar seluruh cerita sahabatnya tersebut tentang pengalaman pertamanya menjadi istri seorang Banny setelah dua hari usia pernikahan sahabatnya itu.


" Mel !" Sapa Mona setibanya di hadapan kedua sahabatnya,kedua sahabatnya menoleh secara bersamaan.


" Hallo Nyonya Banny pratama wiguna !" Panggil Tamara dengan tersenyum semeringah.


" Panggil gue Mona." Ucap Mona tersenyum kecut saat salah satu sahabatnya mencandai dirinya.


Tamara tersenyum lebar melihat raut wajahnya yang memerah pertanda jengkel.


" Mon,lo darimana aja sih ?gue pikir elo sudah lupa jalan ke cafe ini ?" Ucap Amel menyela dengan wajah sedikit kesal.


" Kalian sudah lama ya nungguin gue ?" Tanya Mona seraya duduk di atara kedua sahabatnya tersebut.


" Dari tadi gue nungguin elo ampe kekerigan begini." Ucap Tamara dengan membenarkan poni pendeknya.


" Kenapa kalian gak pada pesan minuman aja sih,masih kaku aja." Ucap Mona mendilak ke arah kedua sahabatnya tersebut.


" Yaa jika masih ada keturunan ikan cupangnya ya kaya gitu,gak bisa jauh dari air." Tamara menyela dengan wajah polosnya dan kembali membuat Amel melengos mendengar Tamara meledeknya.


" Oya,gimana,gimana Mon,malam pertama lo dengan pak Banny ?" Tanya Amel antusias.


Raut wajah gadis itu berubah total saat Amel mempertanyakan tentang dirinya bersama bosnya tersebut.


" Heuh Malam pertama." Mona mendecih dengan terkekeh namun terdengar sinis.


Kedua sahabatnya saling berpandangan satu sama lain dengan wajah penuh ekspresi,seolah-olah mereka mengerti akan ke adaan hati sahabatnya itu.


" Andai kalian saling mencintai,mungkin elo sudah tak perawan lagi." Ucap Amel dengan sangat barbar.


Mona tersentak lalu membulatkan matanya dengan sempurna.


Tamara tak kalah cepat mencolek tubuh gadis sintal itu dengan segera ikut menimpali.


" Elo gak usah barbar gitu deh,di dengar orang tak enak pula dengarnya." Ucap Tamara mendelik.


" Ops !!" Amel menutup mulutnya dengan repleks.


" Mel,Tam !" Panggil Mona dengan membagikan pandangannya.


" Elo ada masalah ?" Tanya Amel langsung memotong kalimat Mona dengan cepat.


Mona mengangguk lalu perlahan raut wajahnya terlihat murung.


" Elo di apain sama boskul ?" Tanya Tamara dengan tak sabar.


" Jangan bilang tuh bos ngapa-ngapain elo ?apa elo tidur sekamar dengan tuh bos ?" Ucap lagi Amel memberondong dengan berbagai pertanyaan.


" Elo berdua masih ingat pelaturan yang di buat perusahaan teruntuk para staff yang berpacaran atau menikah ?" Tanya Mona menatap dengan penuh seksama ke arah kedua sahabatnya tersebut.


Amel dan Tamara kembali saling berpandangan dengan perasaan yang tak menentu dan raut wajahnya ikut berubah cemas.


" Di mutasi !!" Jawab Tamara dengan singkat.


" Itu artinya elo akan di mutasi juga ?" Tanya Amel memperjelas dengan raut wajah tercengang.

__ADS_1


Mona terdiam pandangannya mulai berubah nanar ke arah kedua sahabatnya tersebut.


Dan gadis itu pun mengangguk pelan dengan raut wajah yang sulit di artikan.


" Ini lah hal yang paling gue takutkan di balik sandiwara lo ini,dan pastinya hal ini akan merugikan diri lo sendiri Mon.!!" Amel menyela dengan perasaan iba dan menatap dengan seksama ke arah sahabatnya tersebut,seketika suasana yang hangat berubah sendu dan padangan itu tetumpu semua kepada gadis itu.


" Tak hanya kebahagiaan elo yang hilang,tapi elo juga akan kehilangan pekerjaan elo,sementara bos elo sama sekali ga rugi." Ujarnya Amel kian menatap kecewa.


Mona terdiam menatap tanpa ekspresi.


" Tapi pak Banny akan membicarakan kembali permasalahan ini dengan papahnya Mel." Sela Mona dengan datar.


" Ini adalah pelaturan perusahaan Mona,sekalipun sang Direktur yang melakukan hal itu, tetap dia harus konsekwen serta profesional.Karena jika pak Banny tidak mematuhi pelaturan perusahan tentu staff yang lain akan melakukan hal yang sama,jadi jatuhnya memberi contoh yang tidak elok." Jelas Amel dengan tegas.


Mona terdiam membenarkan apa yang di ucapkan sahabatnya itu.


" Gue dari awal pernah hilang jika sandiwara ini akan banyak mengorbankan perasaan dan kehidupan elo." Jelas Amel dengan rasa yang tertahan.


" Tapi pak Banny adalah pimpinan perusahaan ini Mel,itu artinya jika pimpinan perusahan mah bebas." Tamara menyela.


" Meski pak Banny seorang pimpinan ia harus menjaga reputasinya,agar para staff patuh dalam pelaturan yang berlaku.


Tamara menghela lalu menatap penuh perasaan sedih.


" Dan pak Wiguna menginginkan gue untuk tidak bekerja lagi di perusahaan nya itu ." Jelas Mona dengan menatap dingin kedua sahabatnya.


" Nah loh !!" Pekik Amel dengan intonasi berat.


" Terus elo gimana ?gak mungkin elo nganggur setelah cerai nanti,elo kerja dimana ?? " Ucap Amel bertanya dengan perasaan resah.


Sesaat sebelum gadis itu menjawab ia menghela napas panjang merasakan perasaan nya kian terasa berat.


" Pak Wiguna menyuruh gue jadi ibu rumah tangga,mengurus pak Banny serta segala keperluannya." Ucapnya pelan.


" Oh my god !!" Pekik Amel nyaris tertahan.


" Itu artinya sandiwara elo akan ada part ke dua." Ucap Tamara menatap lurus sahabatnya itu.


" Gue rasa sandiwara elo bakal di perpanjang,elo merasa gak jika pak Wiguna ini emang berharap banyak jika elo dengan putranya itu bakalan langgeng,tapi sayang semua itu hanya semu,kepalsuan yang sewaktu-waktu akan membuat beliu Anpal." Ujar Amel menatap seksama kedua sahabatnya itu.


" Ucapan elo serem banget sih Mel." Tamara menyela dengan wajah penuh beban.


" Itu kenyaataan Tam,dan gue yakin jika nanti suatu saat pak wiguna tahu seperti apa sebenarnya kisah cinta putranya dengan sahabat kita maka bisa di pastikan beliau akan kena serangan jantung akut dan pastinya pak Wiguna pingsang dalam kekecewaan terhadap putranya yang selama ini telah memberikan kebahagiaan yang semu,dan justru itu bos kita secara gak langsung sedang mengantarkan kondisi bokapnya ke permasalahan yang sangat amat rumit,bisa jadi kesehatan nya pak Wiguna akan menjadi taruhannya." Jelas Amel menatap pasti Mona yang tertegun dengan raut wajah cukup tegang.


" Sumpah !! ucapan elo itu horor banget Mel,gue gak bisa bayangakan jika itu terjadi." Tamara menyela dengan bergidik.


Mona terdiam berpikir panjang atas pernyataan sahabatnya itu,apa yang di katakan salah satu sahabatnya adalah sebuah fakta yang tak terelakan lagi,jika bosnya menikahi dirinya hanya untuk membuat sang Ayahnya bahagia di usianya yang tak muda lagi serta kesehatannya yang sering terganggu.


Entah kenapa perasaan itu kian terasa berat permasalahan yang di sedang di hadapinya saat ini,jika di ingat-ingat memang benar adanya jika Ayah dari suaminya itu memiki riwayat buruk perihal penyakit jantungnya dan dari itu ia tidak bisa gegabah dalam memutuskan permasalahan ini.


" Kok beban gue semakin berat si Mel ?" Tanya Mona dengan wajah terlihat frustasi.


" Salah satu cara agar pernikahan elo berjalan lama,lo harus membuat boskul jatuh cinta terhadap lo." Tandas Mona dengan ekspresi serius.


Mona terhenyak mendengar usulan salah satu sahabatnya itu.


" Gilaa lo ya !!! yang benar saja gue bikin tuh orang jatuh cinta sama gue ??,harus dengan cara apa agar gue bisa membuat tuh orang jatuh cinta sama guee?judes,jutek,dingin jaya gitu,yang ada gue makan ati harus ngemis-ngemis perasaan gue sama tuh bos." Ujar Mona dengan wajah kian gusar.


" Mel,ide lo gak ada yang lain ya,selain bikin si Mona makin stress ?,gue rasa ide lo itu terlalu ektrim,udah jelas boskul itu gak cinta sama si Mona,elo suruh si Mona untuk menarik simpatinya pak Banny,gue rasa itu ide yang tak mungkin,IMPOSIBLE !!" Ucap Tamara menimpali.


" Tapi itu jalan satu-satunya buat nyelamatin bokapnya boskul,kan gak lucu jika tiba-tiba di media sosial atau di media elektronik tersebar berita,seorang pengusaha kaya raya meninggal terkena serangan jantung akibat mengetahui putranya bersandiwara menikah selama ini.Gak lucu kan dengernya dan nama elo plus foto lo terpampang di seluruh dunia permediaan." Ungkap Amel dengan raut wajah kian menakutkan,ekpresinya penuh ancaman.


" Sumpah omongan elo bikin gue merinding." Imbuh Tamara dengan membulatkan bola matanya dengan sempurna.


" Gue rasa pemberitaan lo itu terlalu hiperbola !!" Mona menyela dengan penuh intonasi.


" Ini bukan hiperbola Mon,ini adalah sebuah gambaran jika hal itu terjadi urusan kian rumit dan panjang." Amel melengos dengan perasaan kian gusar.


Mona dan Tamara saling berpandangan satu sama lain tatapan mereka terasa kian gamang,dan apa yang di ucapan Amel itu di rasa benar.


Mona terdiam lalu menghembuskan napas panjang.


" Gue pikir setelah gue nikah sama tuh bos dan akhir bulan cerai,permasalahan akan kelar begitu saja,tapi justru ini adalah awal kehidupan gue yang sesungguhnya untuk mendapatkan hati seorang Direktur perusahaan gue sekaligus mempertahankan pernikahan yang semu ini demi menyelamatkan nyawa seseorang yang menyayangi gue lebih dari orang tua gue sendiri." Ujar gadis itu dengan tersenyum getir.


Hal yang sama di rasakan oleh kedua sahabatnya,dengan cepat gadis bertubuh sintal itu segera merangkul hangat pundak Mona yang mungil,ia mencoba menguatkan tubuh gadis itu yang sedang ringkih.


" Dan membuat seorang pak Banny jatuh cinta sama gue itu hal yang mustahil Mel,gue sadar betul jika gue ini bukanlah tife cewek yang di idam-idamkan nya,gue juga gak seperti seorang Kinaya mau pun bukan seperti seorang Arnetta." Ucapnya dengan lirih.


Suaranya kian terdengar parau dah hal itu berhasil membuat kedua sahabatnya saling berpandangan dengan raut wajah ikut merasa sedih,mereka ikut merasakan dengan apa yang sedang Mona rasakan.


" Maafin gue Mon,gue gak bisa bantu secara total dalam permasalahan lo ini,gue hanya bisa berdo'a jika TUHAN akan mengubah semua kegelisahan elo ini kelak menjadi sebuah kebahagiaan." Ucap Amel seraya mengelus pundak sahabatnya itu.


Mona terdiam dengan tersenyum pahit,rasanya pengorbanannya kian teruji dengan masalah berat ini.

__ADS_1


Dengan bersamaan matanya mulai terlihat berkaca-kaca pernikahann ini yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaanya kini justru malah menjadi sumber kesedihannya.


Meluluhkan hati seorang Banny bukanlah hal yang mudah,terlebih pria itu memiliki ke pribadian yang ajaib,semenjak ia mengenal sosok seorang Banny semenjak itulah ia sering mengeluarkan air matanya dengan cuma-cuma hanya untuk menangisi perasaanya yang sepihak.


__ADS_2