
MOBIL Banny melaju cepat menyusuri jalanan yang cukup lengang,untung saja ini hari sabtu jalanan tidak terlalu rame hingga ia dapat melesat memburu waktu secepat mungkin setelah pikirannya di hantui dengan berbagai prasangka yang menakutkan,akan sikap nekatnya seorang perempuan yang kini telah menjadi mantan kekasihnya tersebut.
Perasaanya mulai tak tenang dengan keadaan Kinaya yang ingin mengakhiri hidupnya jika ia tak ingin menemuinya.
Dengan raut wajah yang gusar ia melaju menjalankan kemudinya dengan kecepatan di atas rata-rata 80 kilo perjam.
Mona yang berada di dalam mobil tersebut cukup meradang menikmati kecepatan tinggi laju kendaraan bosnya tersebut hingga membawa dirinya di posisi yang sangat menegangkan.
Mona membantin dan bertanya-tanya akan sikap brtutal bosnya itu yang tidak memikirkan akan keselamatan dirinya.
Kekhawatiran bosnya itu di rasa sangat berelebihan,ia pun berspekulasi tentang kemungkinan jika bos nya itu masih mencintai Kinaya,sehingga ia sangat mengkhawatirkan ke adaan sang mantan.
Cukup gila memang perempuan itu berkeinginan akan mengakhiri hidupnya hanya gegara Banny menolak bertemu dengan nya.Yang benar saja ? mungkin sudah tidak waras di rasa perempuan itu hingga nekat melakukan hal setolol ini,pikir Mona meracau pikirannya mengumpat habis perempuan itu.Entah kenapa pikirian nya menjadi kacau hingga tak bisa kendalikan lagi.
Mobil mewahnya Banny memasuki sebuah parkiran gedung afartemen,ia memutuskan untuk langsung menuju tempat yang paling tinggi di atas gedung afartemen tersebut ia berharap Kinaya belum melakukan hal tolol itu.
Cekiiiiittttt......
Mobil mewah itu berdecit saat Banny mengeremnya dengan kasar hingga Mona yang berada di dalam mobil tersebut merasa shok sekaligus ketakutan dengan sikap arogan bosnya itu.
Mobil mewah itu terhenti dengan posisi pas di tengah-tengah atap gedung tersebut membuat Mona jatungnya hendak copot di buatnya,belum lagi ia masih shok dengan kemudi gilanya sang bosnya tersebut.
Mimpi apa ia semalam hingga harus mengalam pengalaman segila ini.
Tubuh Mona tersandar lemas di sandaran kursi mobil mewah itu,seraya mengelus dadanya Mona menarik napas panjang lalu di keluarinya pelan-pelan dan di ulangnya hingga beberapa kali.
Matanya masih menatap tak percaya setelah melihat aksi gilanya sang bos itu yang membawa kendaraan nya seperti sedang keraksukan mahluk astral.
" Gilla,,ini bukan hanya sekedar mantan nya saja yang bisa mati,gue juga bisa mati konyol,untung saja dia pandai bawa mobil , kalau tidak besok gue tinggal nama.Gilla ngerem mobil sekasar ini,mana di atap gedung lagi."
Guman Mona berperang dalam batinnya seraya membagikan pandangan nya kesekeliling tempat tersebut,ia sadar betul jika kini ia sedang berada di atap gedung dengan ketinggian kurang lebih 200 meter sontak membuatnya tangannya terasa berkeringat dan kedua kakinya bergetar setelah melihat gunung tinggi menjulang di kanan kiri penglihatan nya tersebut.
Banny melepaskan safety beltnya dengan cepat lalu ia pun memuka pintu mobilnya dengan sedikit kasar, tak sedikit pun memperdulikan keadaan Mona yang masih memasang wajah shok berat.
Dengan raut wajah panik Banny segera berjalan mencoba mencari keberadaan Kinaya.
Mona hanya menyimak dari dalam mobil dengan perasaan campur aduk.
Mona hanya bisa mengelus dadanya dengan terus menatap langkah bosnya yang menjauh darinya.Ia tetap tak habis pikir jika bosnya itu masih peduli terhadap mantan nya, bahkan sepertinya masih menyimpan perasaan yang dalam terhadap perempuan itu sehingga pria dingin berwajah tampan itu rela memburu waktu karena ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap perempuan itu.
Banny berlari mengitari seluruh tempat puncak gedung tersebut matanya di edarkan keseluruh atap gedung tersebut lalu pandangan nya pun tertuju pada sosok perempuan yang tengah berdiri menatap jauh ke arah bawah sana.
Dengan perasaan gamang akhirnya Banny pun berlari mengahampiri perempuan tersebut.
" Kinaya." Panggilnya dengan terlihat ngos-ngosan.
Seorang perempuan itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya lalu menatap dengan sorot mata nanar.
" Apa yang akan kamu lakukan ?" Tanya Banny menatap tajam perempuan itu.
" Aku akan mengakhiri hidup ku." Balasnya dengan raut wajah sedih.
" Kamu jangan gilla." Ucap lagi Banny dengan suara mulai meninggi.
" Kamu yang membuat aku gilla!" Balas perempuan itu histeris dan mencoba berjalan mundur.
Banny melihat sikap perempuan itu tercekat lalu menatap panik ke arahnya,terlebih kaki perempuan itu hanya tinggal beberapa langkah bisa sampai di tepi bibir gedung itu.
" Kinaya,hentikan,Kamu jangan stupid.!!" Pekik Banny menyergahnya.
Kinaya tidak mengindahkan seruan Banny itu,ia dengan sengaja berajalan terus melambat hingga semakin dekat ke tepi bibir gedung tersebut.
" Ok,Ok !!! kamu boleh berbicara apa pun itu aku akan mendengarkan nya,tapi tolong jangan kamu lakukan hal yang bodoh seperti ini." Sergah lagi Banny terlihat dengan panik,wajah dingin itu berubah cemas saat melihat sikap nekad sang mantannya.
Kinaya menghentikan langkahnya lalu terdiam wajahnya cukup terlihat semeringah setelah ia mendengar bujukan dari Banny.
Ujung sudut bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman licik,akhirnya ia bisa mendapatkan kembali perhatian nya seorang Banny, lalu ia pun menoleh dengan perasaan meng iba.
" Kamu mau mendengarkan ucapan ku ?" Tanya lagi perempuan itu dengan menatap penuh kepalsuan.
" Ok,kemarilah kamu jangan melakukan hal konyol seperti itu." Ucap lagi Banny dengan mengulurkan tangannya agar Kinaya perempuan yang ingin mengakhiri hidupnya tersebut,ia pun menggapai tangannya.
Kinaya menatap sedikit manja masih terdiam pura-pura mengabaikan permintaan Banny,dia ingin Banny memohon-mohon kepadanya.
" Ayolah,kita bicarakan semua ini dengan baik-baik." Ajak Banny mencoba membujuk Kinaya untuk mengurungkan ke inginan nya untuk mengakhiri hidupnya dengan loncat dari ketinggian.
" Yakin kamu tidak akan membuat aku kecewa ?" Tanya lagi Kinaya dengan sengaja mengeluarkan air mata buayanya.
__ADS_1
Banny terdiam ia menatapi perempuan itu dari ujung kaki hingga kepala.
Sebegitu cintanya perempuan ini terhadap dirinya.
" Ok !!" Balas Banny mengangguk.
Kinaya tersenyum lembut lalu perlahan ia berjalan mendekati Banny dan dengan tanpa ragu lagi ia pun masuk kedalam pelukan pria yang sedang mencemaskan keadaan nya itu.
Banny terdiam ia merasa gamang dengan pelukan seorang perempuan yang pernah di cintai dengan segenap hatinya itu.
" Makasih Banny,kamu masih peduli sama aku." Ujar Kinaya memeluknya erat.
Entah kenapa Banny merasa bimbang untuk membalas pelukan nya itu,pelukan yang pernah membuatnya hangat,pelukan nya yang pernah ia merasa nyaman,tapi semua itu hanya lah tinggal sebuah kenangan yang tak mungkin ia rasakan kembali.
" Aku masih mecintaimu Ban." Rengek Kinaya dengan membenamkan kepalanya di dada yang bidang itu.
Banny masih terdiam membiarkan perempuan cantik itu memeluknya dengan erat.
Banny menarik napas lalu mengalihkan pandanganya ke arah yang lain dan......
Tapppp......
Pandangan itu membentur seseorang yang sedang berdiri menatapnya dengan berbagai perasaan di benaknya.
Ia adalah Mona yang sedari tadi diam-diam mengawasi keadaan mereka hingga adengan berpelukan dengan sorot mata pilu.
Raut wajah Banny berubah entah kenapa ia merasa tidak enak hati setelah melihat tatapan sekertarisnya itu sedikit membuatnya berbeda.
Mona terdiam lalu membuang jauh wajahnya lalu melangkah berjalan menjauh dari tempat Banny beserta sang mantan nya itu yang larut dalam pelukan rindunya.
Mona berjalan dengan perasaan benar-benar hancur,entahlah ia merasa cemburu bahkan ada yang terluka di ruang hatinya ketika melihat adengan mesra bosnya bosnya tersebut.
Yaa..,sejauh ini ia telah menyimpan dalam perasaan nya terhadap pria yang menjadi atasan di perusahannya itu,meski ia memang sekedar menjadi pacar palsunya sang bos tapi tidak menutup kemungkinan jika perasaan cinta itu mulai tertuang di dalam hati nya.
Apa ia boleh berharap jika akhir dari hubungan sandiwara nya ini akan menjadi sebuah hubungan yang sesungguhnya ?
Mona menggeleng pelan lalu mengalihkan pandanganya lepas jauh menatap jauh ke ujung langit sana.
Matanya terpejam rapat lalu bayangan mereka itu kembali menerawang dalam pikirannya saat perempuan itu begitu bahagia memeluk pria dingin yang tengah hadir dalam relung hatinya.
Dasar bodoh ! dari awal seharusnya gue tidak melibatkan perasaan gue dalam sandiwara ini,dan akan seperti ini kan kejadiannya jika bos gue lebih memilih mantan nya kembali.
Rutuk hati Mona menatap langit itu dengan mata mulai berkaca-kaca.
Seperti ini lah kiranya jika ia harus mencintai seseorang dalam sepihak,dan inilah rasa yang selalu ia takutkan ketika ia harus mengalami perasaan cintanya yang hanya bertepuk sebelah tangan.
Mona menghirup napas panjang,lalu menghembuskan nya perlahan.Ia rasa harus memperbaiki niatnya kembali atas perjodohan ini dan ia harus bisa berhenti berharap yang lebih jika bosnya itu akan mencintainya dalam kebenaran yang nyata.
Ia rasa itu tidak mungkin baginya.
Ia harus bisa menjaga perasaanya agar insiden yang beberapa hari yang lalu yang menangis semalaman menangisi cinta sepihaknya tidak ter ulang kembali.
Cinta sepihak saja membuatnya merasa patah hati,dan patah hati itu sangat menyakitkan baginya,di tambah dengan permasalah orang tua kandungnya yang belum menemukan titik terang akan bagaimana kelanjutan nya itu telah membuatnya mengeluarkan air mata kesedihan dengan cuma-cuma,lalu bagaimana nanti jika ia masih bertahan dengan cinta sepihaknya pasti akan ada banyak air mata kedepannya.
Benar-benar ya ?kalau di pikirkan kehidupan nya sekarang sangat menyedihkan.Pikir Mona seraya menyeka pipinya yang tak terasa sudah basah dengan air mata.
Perasaan yang menggebu-gebu untuk hari esok lamaran tiba-tiba menguap entah kemana,ia merasa usahanya selama ini untuk membalas budi kebaikan seseorang hanya sia-sia saja,baginya itu hanya membuatnya menderita.Ingin rasanya ia membatalkan rencana nya untuk hari esok tapi....
Mona menatap jauh ke arah bosnya serta Kinaya yang sudah mulai dekat kembali.
Tapi pikiran Mona selalu terpaku dengan kebaikan yang telah pak Wiguna beri kepadanya.
Benar kata kedua sahabatnya jika ia menerima lamaran ini hanya akan membuatnya semakin menderita.
Tapi ya sudahlah semua ini ia serahkan kepada sang pecipta,ia yakin jika dalam permasalahan ini akan ada campur tangan TUHAN di dalam nya.Pikir Mona dengan tertunduk.
**********
Dengan gamang Banny menyeka air mata yang masih tersisa di pipi Kinaya.Sementara Kinaya ia tersenyum puas dalam hatinya karena ia sudah mampu menarik perhatian kembali sang mantannya itu.
" Jadi mau kamu apa ?" Tanya Banny dengan menatap dingin.
Kinaya terdiam dengan masih berpura-pura menyeka air matanya.
" Aku mau kamu batalkan lamaran sandiwara kamu itu." Terang Kinaya menatap manja ke arah Banny.
Sejenak Banny terdiam menatap gamang ke dalam wajah perempuan cantik yang pernah begitu sempurna di matanya itu.
__ADS_1
" Aku tidak bisa Kinaya.Aku sudah di jodohkan dengan Mona oleh papah ku,dan aku tidak bisa menolaknya." Jelas Banny dengan suara berat.
" Kenapa kamu tidak bisa menolak perjodohan itu,sementara kamu dengan berani menolak permintaan aku untuk kembali kepadamu." Sela Kinaya mengengam erat tangan Banny.
" Maaf Kinaya.Aku tidak ingin melihat papah ku sedih,dan aku hanya ingin membuat dia bahagia." Ucap Banny dengan memalingkan wajahnya.
" Lalu aku,aku masih mencintai mu Banny,apa kamu tidak merasakan hal itu ?" Sela Kinaya seraya menarik kembali wajah Banny untuk menghadapnya kembali.
" Kinaya,papah ku sudah kecewa terhadap kamu,dan tak mungkin kita akan bersama karena restu itu sudah tidak ada lagi." Jelas Banny dengan penuh penekanan.
" Bujuk kembali papah mu buat menerima aku kembali,tolong katakan sama papah mu agar aku di berikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya ini Ban." Kinaya berusaha menyakinkan perasaan nya Banny.
" Aku tau kamu tidak mencitai perempuan itu kan ?perempuan yang menjadi pacar settingan mu itu,karena aku tahu kamu masih mencintai aku.Aku yakin itu." Ucap Kinaya dengan terus mencoba meluluhkan hatinya Banny yang sudah mengeras.
Kinaya menagkup kedua pipi nya Banny dengan lembut ia berusaha menarik wajah Banny agar tetap menatap wajahnya.
" Banny,aku tak bisa hidup tanpa kamu." Rengeknya lirih seraya merapatkan tubuhnya ke arah tubuh pria tersebut.
wajahnya perlahan mendongkak lalu menatap penuh iba.
Banny terdiam lalu membalas tatapan perempuan berparas cantik itu dengan perasaan dingin.
Mereka salin bertatapan sejenak dengan jarak yang semakin mendekat perlahan napas mereka mulai saling memburu.
Kinaya semakin mendekat hanya tinggal beberapa centi saja posisi wajah mereka saling berdekatan,namun entah kenapa Banny merasakan penolakan dalam hati kecilnya untuk tidak melakukan hal yang pernah ia lakukan dengan sekertarisnya itu,paras wajah Mona pun muncul di benakanya mengaligkan pikirannya dan menari-nari di pelupuk matanya.
Lalu dengan repleks tangan Banny menahan jarak itu dan mencekal erat kedua tangan Kinaya yang masih menarik wajahnya untuk melakukan sesuatu.
Perlahan Banny mendorong tubuh ramping itu agar tidak terlalu mendekat dengan tubuhnya.
" Maaf Kinaya,aku tidak bisa." Sergah Banny menolak halus keinginan hasrat perempuan tersebut.
Lalu di turunkannya kedua tangan Kinaya yang masih menangkup wajahnya itu secara perlahan.
" Kenapa ?" Tanya Kinaya mendesis dan menatap penuh rayuan.dengan sengaja ia menggerakan bibir nya yang bergincu merah muda itu menganga menahan sesuatu yang ia rasakan.
Banny menatap dalam ke wajah prempuan yang pernah membuatnya stengah gila karena memikirkan nya.
" Jangan pernah berharap sesuatu apapun lagi dari ku ." Pinta Banny dengan setengah berbisik.
" Kamu tidak mencintaiku lagi ?" Tanya Kinaya menatap nanar.
" Semua rasa itu telah berakhir,mengertilah." Terang Zeanu dengan sorot mata yang membeku.
" Jadi kamu tidak mencintaiku lagi ?" Tanyanya dengan merengek halus.
Banny menghela lalu membalikan badan nya memunggungi Kinaya.
" Cukup aku pernah mersakan sesakit itu yang kamu berikan jujur aku tidak ingin mengulang rasa sakit itu." Balasnya dengan suara berat,ada rasa yang tak bisa ia jelaskan hanya dengan kata-kata.
Jika luka itu sudah mengeras tentu saja ada hal yang harus bisa melunakannya,dan ia sendiri pun entah harus dengan apa untuk melunakan rasa sakit itu.
Tak bisa di bayangkan memang ketika ia dulu sedang sayang-sayangnya terhadap seorang perempuan yang bernama Kinaya,namun perempuan itu tinggalkan dirinya begitu saja dan memilih cinta nya seorang pria yang kaya raya namun pada kenyataan cinta nya lah yang lebih besar dari cinta yang Kinaya kejar.
Rasa sakit itu membekas hingga saat ini.
" Dari itu berikan aku kesempatan Banny." Rengek Kinaya seraya memeluk kembali punggung tubuh tinggi menjulang tersebut.
Banny menarik napas semakin panjang wajahnya menengadah ke langit sana,berat rasanya ia harus mengubur dalam perasaan nya itu,tapi ia harus tetap berjalan meninggalkan luka itu yang telah membekas.
" Kinaya,aku tidak mungkin akan memperjuangkan kembali perasaan itu."
" Banny,aku tau apa yang akan kamu lakukan dengan perempuan itu hanya settingan saja,maka aku akan menunggu kamu hingga sandiwara itu usai." Bujuk Kinaya dengan cepat membalikan tubuh pria berwajah dingin itu agar menghadapnya kembali.
Banny menatap kembali paras cantik perempuan itu.
" Aku pastikan,aku akan menebus semua kesalahan itu." Terangnya dengan menatap sendu.
Banny terdiam hanya menatap dingin ke wajah perempuan yang dulu pernah memenagkan hatinya.
" Baiklah.. !" Akhirnya kesepakatan pun keluar dari mulut pria berwajah dingin itu.
" Kau mau kembali pada ku lagi ?" Tanya Kinaya dengan semeringah.
" Aku tidak bisa memastikan,tapi aku akan mencoba nya,jadi saat ini biarkan aku melakukan apa yang menjadi tugasku untuk membahagiakan papahku." Jelas Banny dengan wajah tanpa ekspresi.
" Aku tau,kamu masih menyimpan rasa itu,dan aku yakin kamu masih mencintaiku." Imbuh Kinaya seraya memeluk kembali pria berparas tampan itu.
__ADS_1
Banny hanya terdiam dengan membalas gamang pelukan perempuan tersebut.