
KEDUA sahabatnya masih melongo menatap tak percaya kearah Mona,mereka belum sepenuhnya percaya dengan apa yang telah di katakan Mona sang sahabatnya.
Nyaris mereka terlihat kesulitan untuk menelan air liur mereka.
Mulut gadis bertubuh sintal itu masih menganga dengan ekspresi shok.
" Mon lo gak lagi main sinetron kan ?" Tanya Amel dengan menatapnya shok.
Mona menggeleng dengan pasrah.
" Ini kenyataan Mel." Jelas Mona dengan menatap yakin.
" Kok rasa-rasanya kaya sinetron ya,sekian lama gak bertemu sekali ketemu bawa kakak cowok ganteng lagi,itu mah gue juga mau." Ucap Amel dengan melengos.
" Beruntungnya lo dapet dua cowok ganteng sekaligus meski lo gak jadi sama Zeanu,tapi seenganya lo bisa jadi adiknya." Ucap Tamara menggeleng-geleng.
" Gue masih gak percaya Tam." Sela Amel menoleh gadis bertubuh jangkis.
" Abang ketemu gede dong yah ?" Sela Amel melirik penuh arti.
" Itu lah takdir,gak ada yang tau kan?dan takdir gue juga gak ada yang tau jika nanti gue bisa berjodoh sama kakak nya si Mona,hehe....hehehe..." Ucap Tamara tersenyum lebar.
Amel membuang muka dengan ekspresi menyeringah sebal.
" Bullshit,gak usah ngarep deh sebelum lo juga gue dulu kali." Sela Amel melirik tak pasti.Tamara merespon ucapan Amel dengan melirik tajam.
" Diet dulu baru boleh berharap." Tamara menimpali seraya menahan tawanya.
" Jadi lo ngatain gue gendut. ?" Amel mendilak dengan kesal.
" Yang ngatain lo gendut siapa?gue kan cuman nyuruh diet gak ngatain lo gendut,baper banget." Balas Tamara tersenyum kecut.
" Yaa sama aja, itu namanya ngatain secara gak langsung Tamara." Amel mulai ngegas.
" Udah deh ! lo berdua pasti ujung-ujungnya berantem,gue balik kantor dulu ya !ini pak Banny udah miscall gue mulu."Ucap Mona seraya menatap layar ponselnya.
" Ciee,boskull sepertinya kangen nih miscall mulu sekertaris nya deh." Ucap Tamara menggoda.
" Ada apa emang ?" Tanya Amel menatap Mona yang sedang merapihkan blezzernya.
" Udah masuk jam kantor kali Mel,gak lihat ini jam berapa ?" Tanya Mona seraya menyodorkan jam di tangannya.
" Oalah cepet amat sih,belum juga ilang kekagetan gue,ini harus di bahas yaa gue masih penasaran ama alur cerita ini." Ucap Amel seraya menyesap habis jus alpukat kesukaannya tersebut.
" Bahas apa ? " Tanya Mona menoleh Amel.
" Kakak sambung lo itu hii hiii hiii... " Ucap Amel seraya tersenyum penuh arti.
Mona menggeleng lalu beranjak dari hadapan kedua sahabatnya yang masih dalam kepenasarannya masing-masing.
" Gue duluan yah !" Pinta Mona seraya melangkah.
Kedua sahabatnya hanya mengangguk seraya tersenyum- senyum penuh arti.
********
Pria bernama Banny pratama wiguna tengah menatap panjang ke luar jendela gedung kantornya ia membagikan pandanganya ke seluruh pelosok tempat yang ada di bawah sana.
Pikirannya jauh menerawang ke hal perasaanya yang mulai meresahkan jiwanya.
Pria tampan berwajah tenang yang tiada lain adalah sahabatnya itu semakin intens melakukan pertemuan dengan sekertarisnya tersebut sehingga membuat perasaan nya mulai tak tenang.
Apa sebenarnya yang telah terjadi di antara mereka berdua ? sehingga mereka begitu merahasiakan darinya.
Adakah mereka menjalin hubungan spesial tanpa sepengetahuannya ?
Pria berwajah dingin itu menggeleng pelan.
Pertanyaan demi pertanyaan terus mengitari isi kepalanya.
Seharusnya tak mestinya ia peduli akan masalah mereka,namun entah kenapa perasaan nya tak bisa lepas begitu saja.Ia merasa ada sesuatu hal yang sedang mereka tutupi dari dirinya.
Entahlah.....
Pria tampan itu menarik napas lalu membuang lepas perasaannya ke atas langit sana.
Dirinya telah merasa jatuh semakin dalam ke perasaanya yang rumit.
Terperangkap dalam sebuah kenangan manis yang telah hancur dan hati kecilnya pun mulai menuju ke pemilik hati yang lain.
Banny menatap resah ke luaran sana satu yang menjadi kelemahan-nya ialah ia tak bisa ia lepas begitu saja dari bayang-banyang cinta masa lalu,meski itu sudah terlewati dalam waktu tahunan,namun sepertinya terlalu indah untuk di lupakan sebuah kenangan bersama seorang mantan,tapi ia juga tidak bisa menolak jua, jika rasa cemburu mulai hinggap di hatinya ketika ia harus melihat sekertarisnya dekat dengan sahabatnya sendiri.
Jangankan untuk melihat secara langsung membayangkan nya saja ia sudah merasa cemburu dan tak rela.
Lalu apa yang masih di pertahankan dari perasaanya untuk seorang Kinaya ?
Apa mungkin karena dia cinta pertamanya ?
Ah tidak sesederhana itu alesannya,karena alasan utama dari perasaanya itu,dia terlalu dalam mencintai seseorang.
Jika dia harus berspekulasi dengan pikirannya justru hati kecilnya bertolak belakang dengan pikirannya,jika sang hati telah lama menghapus sebuah nama di hatinya,bahkan ketika ia menutup mata pun yang muncul adalah banyangan seorang gadis centil yang energik dengan terulas senyuman manisnya.Kedua lensung pipinya yang terlihat sangat menggodanya kian tersirat dalam benaknya.
Dia yang sejernih bibir merah,mencerahkan hari-harinya yang telah lama kelabu.
Dia,sosok yang telah mampu menggerakan garis bibirnya tersebut hingga membentuk sebuah lengkungan yang manis.
Tok...Tok...Tok....
Suara ketukan di pintu terdengar begitu nyaring sehingga mengalihkan lamunan panjang pria tersebut,lalu pria itu pun membalikan badanya dan menatap lurus sang pintu.
__ADS_1
" Masuk !" Pintanya dengan suara berat.
Daun pintu tersebut perlahan terdorong lalu seorang gadis muda pun menyembul dari balik pintu tersebut.
" Maaf pak,bapak tadi manggil saya ?"Tanya gadis itu dengan sopan.
Banny menatap lurus ke arah gadis tersebut yang tak lain sekertarisnya sendiri Mona.
" Ya !" Jawabnya singkat lalu ia berjalan menuju ke kursinya.
" Ini berkas-berkas laporan dari bu Silvi tolong kamu cek kembali,karena tadi ada selisih penghitungan,jadi kamu harus cek kembali biar laporan ke uanganya menjadi singkron jangan sampe ada kesalah pahaman dalam masalah admin,karena itu bisa fatal buat sebuah perusahaan." Titahnya dengan duduk di kursi kebesarananya.
" Baik pak." Jawab sekertarisnya itu singkat.
Dengan sigap sekertarisnya itu segera menuju meja sang bosnya yang sudah tersedia beberapa berkas di hadapannya.
Lalu pria tersebut segera menyodorkan laptonya ke hadapan sekertarisnya tersebut.
Dengan tak menunggu lama,sekertarsinya pun segera duduk di hadapan sang bos dengan tangannya mulai meraih beberapa lembaran berkas-berkas tesebut.
Dengan piawai ia segera meneliti lembaran demi lembaran berkas-berkas tersebut lalu pandanganya sesekali mengarah ke layar laptop milik sang bosnya itu.
Gadis tersebut berusaha mengusir perasaan nervousnya dengan berusaha untuk tenang,agar mempermudah ia dalam mengecek ulang data-data yang terlampir di lembaran berkas tersebut dengan data yang ada di laptop sang bosnya.
Mata pria tampan itu menatap dalam ke arah gadis yang tengah sibuk mengecek ulang berkas-berkas laporannya dengan wajah tegang.
Ia menatap dengan penuh seksama ke setiap garis wajah gadis tersebut. Entah apa yang ada dalam benaknya sekarang sehingga dengan waktu sedetik pun matanya tak mau beralih dari titik pandanganya tersebut.
Wajah gadis itu memang tak begitu cantik,dilihat matanya biasa saja,di lihat hidung dan pipinya juga biasa saja,namun entah kenapa ada sesuatu hal yang menarik dalam dirinya sang gadis tersebut sehingga ia terlihat beda dengan gadis-gadis di luaran sana.Lalu bagian apa itu ?
Banny sendiri pun tidak memahaminya,namun yang jelas ia selalu merasa nyaman jika berada di dekat gadis tersebut.
" Sudah ketemu ?" Tanya nya dengan menatap dingin.
" Ini lagi di cari." Ucap Mona sedikit acuh.
Pria tampan berwajah dingin tersebut terus memperhatikannya sehingga bola matanya mendarat di jari-jemari gadis tersebut yang sedari tengah serius mengecek berkas-berkasnya tersebut dengan lincah.
Banny si pria tampan berwajah dingin itu menatap heran ke arah salah satu jari tangan si sekertarisnya itu yang tidak mengenakan cincin pemberiannya.
" Tunggu !!" Sergahnya menahan gerakan tangan sekertarisnya tersebut.
Mona mendongkak lalu menatap ke arah wajah bosnya dengan perasaan resah.
" Kenapa cincin-nya gak di pakai ?" Tanya Banny menatap kaku.
" Cincin ??" Tanya Mona mengernyit lalu menyipitkan kedua matanya ke arah sang bosnya.
Pria yang sedang menatap dirinya itu menghela pelan lalu raut wajahnya berubah seketika menjadi semakin dingin.
Gadis itu terdiam lalu menatap dengan berbagai perasaan ke arah jari tangannya.
" Kenapa kamu lepas ?kamu tidak suka dengan sandiwara ini ?" Tanya pria itu menatap dalam sang sekertarisnya.
" Maaf pak,bukannya saya tidak suka memakai cincin dari bapak,cuman saya pikir ini hanya formalitas saja jadi tidak terlalu penting juga saya pake." Ucap Mona singkat.
Pria yang ada di hadapanya itu tercekat lalu menatap beku ke arah gadis tersebut.
Sesaat Banny pun mengalihkan tatapannya, berusaha mengalihkan perasaan dan pikirannya ke sisi yang lain agar ucapan sekertarisnya itu tidak mengena di hatinya.
" Jadi kamu anggap ini hanya lelucon saja." Tanyanya dengan menyringah sinis.
" Orang lain tidak akan memperhatikan sedetail itu kepada saya pake atau enggaknya sebuah cincin pak." Balas gadis tersebut dengan mengabaikan tatapan pria tampan di hadapannya.
Baginya membalas tatapan pria tampan berwajah dingin itu akan menjadi sebuah boomerang banginya.
Di abaikan sayang,tak di abaikan tergoda dengan pesona tatapannya.
" Jika kamu tidak memakainya nanti orang lain akan curiga tentang hubungan kita selama ini Mona." Sela Banny menatapnya tajam.
Gadis itu sejenak menghentikan pemeriksaanya dan akhirnya ia pun memberanikan diri menatap balik wajah tampan bosnya tersebut,dan dengan sangat jelas ia pun dapat melihat si pemilik ketampanannya tersebut hingga terlihat mempesona.
" Sial !! gue selalu tak bisa mengelak dari persaan diri gue sendiri."
Gumannya dalam hati membatin.
Bola mata pria tersebut melebar dengan ekspresi yang sulit ia tebak.Seolah-olah pria tesebut sedang mengartikan bahasa batin gadis tersebut.
" Bapak hanya mementingkan perasaan orang lain tapi tidak dengan perasaan saya sendiri." Balasnya singkat.
Gadis tersebut segera menunduk.
Alis mata pria tampan tsrsebut mengkerut lalu menatapnya dengan perasaan remeh.
" Perasaan kamu?memangnya ada apa dengan perasaan kamu ?" Tanya laki-laki itu dengan repleks mencondongkan tubuhnya ke arah gadis tersebut dengan kedua tangan menumpu di atas meja.
Wajah gadis itu memerah saat pria yang sebagai bosnya itu mengambil posisi tubuhnya mendekat ke arah dirinya.
Mona terdiam ia berusaha menelan air liurnya sekuat mungkin agar bisa membasahi tenggorokannya yang terasa mengering.
Tatapan pria tersebut tak bisa lagi di hindari melesat bagai busur panah yang menusuk tepat kedalam sanubarinya.
Setiap kali pria dingin itu menanatapnya seketika adrenalinya memacu jantungnya berdekup kencang,dan seakan-akan aliran darahnya terhenti seketika.
Selebay itu kah perasaan yang sedang ia hadapi sehingga tak bisa di gambarkan dengan ekspresi mana pun.Dan tak bisa di hindari lagi jika perasaan nya itu sudah tumbuh di dalam hatinya dan tak bisa lagi ia singkirkan dengan cara apapun.
Dia tidak bisa menyembunyikannya lagi,oh kiranya gadis tersebut telah jatuh cinta di hati yang rumit.
Yaa....,an sag gadis tersebut pun telah jatuh ke dalam jeratan cintanya sang pria tampan berwajah dingin.
__ADS_1
" Kenapa perasaan kamu ?" Tanya Banny mengulang dan dengan sengaja ia menatap gadis tersebut semakin intens.
Mona menggerecep saat ia sadar jika pria di hadapannya tesebut mulai menaruh kembali perasaan semunya.
Perasaan yang hanya bersifat patamorgana saja bagi dirinya.
" Tidak apa-apa !" Balas Mona singkat.Lalu ia kembali melajutkan pekerjaanya dan memilih mengabaikan perasaanya yang mulai meracau.
" Saya ingin kamu pake terus !,jangan pernah di lepas lagi." Ucap pria tersebut dengan masih menatapnya dalam.
Tatapan nya itu seolah-olah ingin menyampaikan suatu perasaan yang tak mampu ia ungkapkan.
Mona tertunduk lalu mencoba fokus kembali ke pekerjaanya.
" Maaf pak,ini berkas laporannya ada yang double,sehingga penginputan datanya di lakukan dua kali." Ucap Mona menyodorkan selembar kertas ke hadapan pria tersebut.
Ia berharap cara itu bisa mengalihkan perhatian sang bosnya untuk tidak fokus menatap dirinya.
Banny tidak langsung menerima lembaran kertas tersebut dengan sengaja ia membiarkan tangan gadis tersebut masih mengantung di udara,justru ia semakin melepaskan tatapan yang sulit di artikan oleh gadis tersebut.
Mona menatap risih setelah reaksi sang bosnya itu yang mengabaikan ucapannya dengan menatapnya semakin jauh ke dalam wajahnya.
Ah....,rasanya keinginan untuk bisa menghilang sangat di perlukan oleh gadis tersebut agar bisa luput dari tatapan yang mulai melumerkan perasaanya.
Jelas saja ia tak sanggup rasanya jika harus di pandangi lama seperti itu dengan pesona yang membuat ia semakin candu.
" Saya belum selesai bicara." Ucap pria tersebut menatap semakin lekat lalu perlahan tangan pria tersebut menarik lembaran kertas tersebut dengan lembut.
Sontak Mona menunduk dalam setelah melihat sikap sang bosnya yang mulai aneh tersebut.
" Ya,saya akan pakai lagi cincinya." Ucapnya lirih.
Mona menghela lalu sesaat ia mencuri pandangan ke arah pria tersebut yang tengah mengecek lembaran tersebut dengan cermat.
Banny mengangguk pelan dirinya merasa kagum akan kinerja sang sekertarisnya tersebut dalam mengecek semua data laporan ke uanganya.
Tak salah rasanya ia melibatkan gadis sederahana itu dalam perusahannya menjadi sekertaris dirinya.
Padahal sebelumnya sudah ada pengecekan oleh dirinya dan nyaris ia tidak menemukan kendala apapun tapi nyatanya data keuangan tersebut terhitung ada yang terhitung dua kali.
" Siapa yang membuat laporan ini ?" Tanya Banny dengan masih menatap berkas laporan ke uanganya tersebut.
" Itu Tora pak,dia bagian admin dan hasil penghitungan datanya di serahkan terhadap bu silvi."
" Kenapa bisa ada pengecekan dua kali seperti ini,memangnya bu Silvi tidak menghitung ulang ?,jika hal ini tidak jeli dalam perhitungan bisa terjadi kredibilitas dalam perusahan ini,itu di sisi kekurangan dalam salah perhitungan,kalau kelebihan hitungan dapat mengakibatkan profit,berapa banyak yang harus di keluarkan oleh perusahaan jika salah perhitungan dalam ke uangan ?,jadi tolong kemenejemenan nya harus terkonsep.
Karena ini adalah perusahan besar bukan perusahan abal-balan." Jelas pria tersebut lugas.
" Mungkin Tora lupa atau dia tidak sengaja membuat laporan datanya ke audit dua kali pak." Balas Mona dengan ragu.
" Tidak ada alasan apapun dalam mengaudit data-data keuangan karena salah sekecil apapun dalam perhitungan dapat mengakibatkan deprisiasi aset perusahaan dan itu tidak bisa di tolerin,karena itu bisa fatal akibatnya.Jadi kamu tolong beri tahu Tora agar lebih teliti dalam menyelesaikan pekerjaanya sebelum akhirnya saya yang menegurnya." Imbulnya kembali dengan menghempaskan berkas tersebut ke atas meja.
" Nanti saya akan sampaikan." Ucap Mona dengan cepat.
Pikiran gadis tersebut entah kenapa langsung teringat akan permasalahan nya tentang Manda,ia tak mau jika Tora harus bernasib sama dengan perempuan tersebut.
" Oya pak,saya boleh nanya sesuatu ?" Tanya Mona dengan ragu.
" Ada apa ? " Tanya pria tersebut menatap kaku.
" Mnnn...,ini masalah Manda."
" Kenapa ?" Tanyanya pendek.
" Jadi benar bapak memberhentikan dia ?"
" Ya.Karena dia sudah lancang ikut campur akan urusan pribadi saya." Jawab Banny dengan datar.
" Hmmm,tapi tidak ada cara lain pak,selain memberhentikan dia pak ?" Tanya Mona dengan resah.
Banny menggeleng lalu menyandarkan punggunya di sandaran kursinya.
" Dia bisa membahayakan rencana kita Mona,jadi lebih baik saya memecatnya." Ucap Pria tersebut dengan tegas.
Mona hanya meng Oh saja tanpa berbicara lagi.
" Hallo Banny !" Tiba-tiba sapa seorang perempuan menyela di antara mereka.
Mona dan Banny secara bersamaan menatap ke arah suara tersebut.
Seorang perempuan cantik tengah berdiri di ambang pintu dan tersenyum manis ke arah pria tersebut,yang tak lain Kinaya.Lalu ia pun melenggang berjalan mendekati pria tampan tersebut.
Mona memalingkan wajahnya ke arah yang lain,perasaany mulai sebal melihat kehadiran perempuan yang pintar berekting.
Banny menatap heran atas kehadiran Kinaya yang secara tiba-tiba kekantornya tersebut.
" Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu ?" Tanya pria tersebut menatap keberatan.
" Sorry ya !,habisnya pintunya terbuka jadi aku masuk saja,aku tidak ganggu kamu kan ?" Tanya Kinaya seraya mendekati èpria tersebut.
Mona mengalihkan pandanganya ke sisi yang lain untuk mengabaikan kehadiran seorang perempuan yang mampu membuatnya cemburu.
Banny mengangkat bahu acuh saat Kinaya bertanya kepada dirinya.
" Kamu sibuk ?" Tanya Kinaya berdiri di samping Banny yang masih duduk.
Belum saja Banny menjawab pertanyaan Kinaya,gadis yang ada di hadapannya tersebut segera beranjak dari tempat duduknya dan segera berpamitan untuk keluar dari ruangan bosnya.
" Kalau begitu saya permisi dulu pak.!" Pinta Mona pelan.
__ADS_1
Perempuan di samping pria tampan tersebut melirik judes ke arah sekertarisnya Banny.lirikannya terlihat begitu sangat tajam ke arah gadis itu.