
WAJAH gadis bermata belo itu terlihat tertekuk tujuh kali lipat tekukan sehingga rona wajahnya terlihat memerah memendam kekesalannya.
Sesekali gadis itu melempar kertas yang sudah di remasnya dengan perasaan gemas,entah kenapa perasaannya berubah sebal jika mengingat kejadian tadi di ruang pertemuan tersebut di saat bosnya begitu cemas mendegar kabar tentang Kinaya.
Mona menarik napas lalu sesaat terdiam merasakan perasaan yang memanas di dalam hatinya.
Kenapa dirinya merasa cemburu jika Banny dekat dengan perempuan lain termasuk Arnetta,gadis yang tak kalah cantik dari mantan kekasih sang bosnya tersebut membuat ia semakin speechles.
Usia gadis itu telihat lebih muda lima tahun darinya,namun sikap dan penampilannya menggambarkan jika gadis itu seperti mempunyai wawasan yang tinggi,dari cara berinteraksi dengan dirinya saja gadis itu memang bukan gadis biasa.Rasanya angan-angannya semakin jauh untuk bisa mendapatkan cintanya seorang Banny.
Yaa sosok seorang pria tampan dan gagah menawan itu terbayang jelas di pelupuk matanya.
Garis wajah yang tegas bulu-bulu tipis menghiasi dagunya yang putih dan bersih,demi apapun gadis bermata belo itu telah jatuh cinta di buatnya.
Mona menggeleng menatap bisu kilasan bayangan sosok pria dingin berwajah tampan tersehut.
" Kreezzzz !!!"
Lagi-lagi Mona terlihat menahan kekesalan dengan perasaannya sendiri,benar-benar terjebak dalam cinta sandiwaranya tersebut.
Sejenak ia terbuai dalam bayang-bayang nyata perasaannya,sehingga ia tak menyadari jika kedua sahabatnya sedari tadi memperhatikan dirinya dengan berbagai ekspresi.
" Mon,hello.....!!" Panngil Amel berdiri di samping gadis itu yang tengah melamun, Amel pun mengibas-ngibaskan tangannya tepat di hadapan wajah Mona.
" Astagfirullahh !!" Mona terhenyak dan menatap kaget ke arah Amelia dan Tamara yang memasang wajah tanpa dosa.
" Gitu amat kagetnya,liat muka gue, menakutkan apa ?" Seloroh Amelia melengos.
" Lo ngagetin gue banget." Ucap Mona seraya mengelus dadanya perlahan.
" Emang muka gue sangar yaa ?" Tanya Amelia seraya meraba-raba mukanya,ekpsresi wajahnya terlihat enggak banget.
" Gue kaget aja tiba-tiba elo berdua udah ada di hadapan gue." Sela Mona seraya melirik Amelia kesal.
" Elo ngelamunin apaan sih?dari tadi gue masuk ama Tamara aja elo kagak tau,terus gue perhatikan dari tadi elo itu melongo aja kaya kambing ompong." Tanya Amel seraya duduk di ujung meja kerja Mona.
" Kita hadir aja ampe kaga engeuh,iya ga?" Sela Tamara menimpali seraya ikut duduk di hadapan Mona.
" Kok kalian gak pada maksi,malah ke ruangan gue ? " Tanya Mona menatap layar laptopnya.
" Lah elo ngapain juga jam makan siang masih di ruangan elo,emang lo gak lapar ?" Tanya Amelia dengan memainkan bolpoin milik Mona.
" Gue lagi males maksi nih." Jawab Mona pendek.
" Diet ? " Tanya Tamara pelan.
" Alah badan udah kaya tusuk gigi aja so soan mau diet,apa yang mau di dietin Mon ?" Tanya Amelia melirik Mona.
Mona terdiam lalu melipat bibirnya dalam-dalam,Tamara tertawa kecil mendengar ucapan Amelia yang suka ceplas-ceplos mencandai sahabatnya itu.
" Yang seharusnya males maksi itu si Amel bukannya elo kali." Tamara menambahkan.
" Dalam kamus gua gak ada kata malas makan.Karena makan itu wajib bagi gue amunisi buat perut biar gak oleng menghadapi kenyaataan,apa lagi kenyataan yang cuman klise doank,perlu ekstra kan kita ngadepinnya." Terang gadis berbadan sintal itu melirik ke arah Mona yang masih terdiam.
" Elo nyindir gue ? " Tanya Mona mendongkak.
" Siapa yang nyindir elo sih?sensi banget deh.Emang elo kesindir apa ?" Tanya Amelia mendorong kecil pundak Mona.
Dengan kesal Mona melengos lalu membuang tatapannya dengan sebal.
" Makanya kalau berdiri itu jangan di tengah-tengah, kesindir kan jadinya." Ucap Tamara dengan polos.
" Itu kesenggol Tamara,eeuh gue jambak juga loh." Sela Amelia menarik ujung rambut gadis berwajah polos tersebut.
Tamara hanya tersenyum lebar seraya merapihkan kembali rambut yang di tarik Amelia.
" Mon kita ke kantin yuk,sambil maksi kita cerita-cerita deh,cacing gue udah demo di dalam nih.Yukk !!" Ajak Amelia seraya bangkit dari duduknya.
" Gue temenin kalian aja yah." Ujar gadis itu dengan wajah tak bersemangat.
Kedua sahabatnya saling bertatapan dengan heran dengan sikap Mona yang sedikit berbeda hari ini.
" Ada apa sih ? Dari pagi gue perhatikan wajah elo kaya banyak beban gitu deh." Ucap Amel berjalan ke arah pintu mengikuti langkah kedua sahabatnya.
" Hari ini banyak kejadian yang aneh dan itu menguras energi positif gue." Jawab Mona seraya menutup kembali ruangannya.
" Elo hamil ?" Tanya Tamara polos tanpa ekpresi.
Mona menoleh dengan perasaan keki terhadap salah satu sahabatnya itu yang selalu bersikap telmi.
" Elo sama si Amel sama aja,nanya gue hamil mulu,nikah aja belum masa udah hamil,lagian boro-boro nikah pacar aja kagak ada." Gerutu Mona terlihat jengkel.
Mona menekan tanda panah yang berada di dinding lift tersebut.
Kedua sahabatnya cekikikan mendengar gerutuaanya Mona,sekan-akan mereka sedang melihat neneknya mereka sedang mengomel-ngomel.
" Hihii....,tapi emang sih dari tadi pagi si Mona ngomongnya gak jauh dari kata sensitif sama positif.Dua kata itu kan ada hubungannya dengan kehamilan." Ucap Amelia dengan tersenyum-senyum lucu melihat sikap anehnya Mona yang memang hari ini terlihat sensi.
" Elo berdua emang sentimen sama gue?gak liat kenyataan,masa gue hamil,siapa yang ngamilin gue,tiang listrik,puass loh." Ucap Mona dengan merengut.
Kedua sahabatnya tertawa lebar saat melihat ekpsresi wajah Mona kian asam melibihi dari si asam jawa.
" Bercanda dong Mon,sensi amat deh,tar kalo sering-sering sensi garis dua loh." Canda Amelia kian nakal.
" AMELLL !!" Pekik Mona seraya merapatkan garis giginya dengan kuat-kuat.
Kedua sahabatnya saling tertawa lebar merasa puas melihat sahabatnya itu merasa jengkel.
Ting......
Suara dentingan litf terdengar nyaring Amel dan Tamara pun memelankan suara gelak tawanya yang sedari tadi begitu lucu melihat ekspresi wajah Mona yang kian cemberut.
Tepat pintu lift itu terbuka gelak tawa mereka terhenti saat itu juga setelah mengetahui orang yang berada di dalam kapsul lift tersebut.
Sosok pria bersetelan jas hitam itu berdiri tegap dengan menatap lurus ke arah mereka dengan menatap dingin, seorang gadis cantik ikut berdiri di sampingnya.
" Siang pak Banny." Sapa Amelia dengan cepat serta langsung membungkuk kan badannya dengan penuh hormat.Begitupun Tamara dan Mona ikut melakukan hal yang sama.
" Siang Amel." Jawab pria itu dengan kaku,hanya sepatah kata itu saja yang terlontar dari mulutnya dan pria itu pun keluar dari kapsul lift tersebut dengan di ikuti oleh Arnetta gadis yang sedari tadi berdiri tak jauh dari pria tersebut.
Amelia dan Tamara melongo ke arah gadis tersebut dan menatap dengan penuh tanda tanya.Sementara Mona hanya terdiam lalu memilih berpura-pura tak melihatnya,Mona segera masuk kedalam kapsul lift tersebut tanpa memperdulikan kedua sahabatnya yang masih memandangi langkah bosnya dengan gadis asing itu berjalan menjauh darinya.Mona menggeleng pelan dengan ekpresi wajah sangar datar.
__ADS_1
" Pak Banny tau juga nama gue,barusan dia jawab sapaan gue,biasanya kan kalau di sapa cuman manggut doang." Bisik Amelia menatap shok ke arah Tamara.
" Yaa masa sekian lama lo kerja disini gak di kenali bos juga ,payah." Balas Tamara cuek.
" Elo berdua jadi ke kantin gak ?" Tanya Mona dengan mimik wajah kesal.
" Iya,iya,sabar dong jangan marah-marah gitu sih." Sela Amelia seraya berjalan masuk ke dalalam kapsul lift tersebut.
" Mon,itu cewek yang bareng boskul siapa ?baru gue lihat deh perasaan,kira-kira siaapanya pak Banny ya ?" Tanya Tamara dengan raut wajah terlihat sangat penasaran.
" Gue gak tahu ?" Balas Mona acuh seraya menekan tombol di angka tiga.
" Kok elo gak tau?lo kan sekertarisnya pak Banny,kok sampe gak tahu gitu,gak up date." Paksa Tamara nyerocos.
" Terus kalau gue sekertarisnya gue mesti tahu juga masalah pribadinya dia apa ?"Ucap Mona dengan ketus.
Tamara menoleh ke arah Amelia dengan mengangkat tinggi pundaknya.
" Gue tau kenapa lo hari ini bawaannya sensi." Ujar Amel seraya melipatkan tangannya di dada.
" Hamil ?"lagi-lagi Tamara belum bisa konek hingga membuat Mona semakin gusar.
" Bodo amat." Ucap Mona seraya menekan tombol penahan pintu lift tersebut,lalu ia melangkah keluar dengan perasaan jengkel.
" Mon,elo cemburu ya ?" Tanya Amel seraya mengejar langkah cepat Mona yang berjalan keluar dari kapsul lift tersebut.
Mona melambatkan langkahnya dan menoleh ke arah Amelia dengan reaksi yang sulit di ekpsresikan.
" Elo jangan so tahu deh." Cetusnya pelan.
" Kalau gue so tahu,si Tamara so tempe dong haa...haa..." Amelia tertawa terbahak.
" Gak lucu." Balas Mona kian jutek.
" Mon,elo kayanya lapar juga ya ?jalan nya kok cepat amat,gue yakin sepertinya elo butuh makan siang banyak ya,buat tambahan amunisi elo,biar kuat menghadapi patah hati ini hehe... hehee." Amel terkekeh dengan memasang wajah menyebalkan.
Mona menarik napas lalu melirikan bola matanya ke atas.
" Kalian berdua bisa gak sih gak pada nyebelin ?" Tanya Mona mulai habis kesabarannya.
" Elo lagi kesel ? " Tanya Tamara berjalan cepat di samping Mona.
" Gak gue lagi fashion show.Yaa kesell lahh Tam,gak liat muka gue di tekuk begini." Ucap Mona benar-benar marah.
" Jujur aja sih Mon,kali ini elo benar-benar cemburu kan ?,gak usah di tutup-tutupin deh perasaan lo itu." Balas Amelia dengan melenggang santai.
" Terus kalau gue cemburu kalian mau apa ? " Tanya Mona melotot ke arah kedua sahabatnya dengan keki.
" Nah gitu dong,langsung ngomong aja sih gak usah muter-muter pake uring-uringan lagi,buang-buang energi lo aja. " Guman Amelia semakin puas melihat kekesalan sahabatnya itu.
" Kita gak muter-muter deh Mel,cuman turun dua lantai aja." Sela Tamara denga enteng.
" Terserah lohh." Cetus Amel dengan sewot.
Bibir Mona tergerak membentuk lengkungan melihat sikap konyol kedua sahabatnya itu,meski sering membuatnya jengkel namun mereka adalah pelengkap keceriannya.
" Gue pesen makan dulu." Ucap Amelia seraya berjalan menuju ke arah kasir kantin tersebut.
" Gado-gado karetnya satu,apaan tuh ?" Tanya Amelia mengerutkan dahinya.
" Kalau karet dua kan pedes Mel,kalau karet yang satu berarti gak pedes." Jawab Tamara dengan santuy.
Wajah Amel berubah gak banget setelah mendengar penjelasan dari Tamara.
" Emang ni anak kelakuannya ajaib banget deh." Guman Amelia seraya melangkah kembali.
" Elo mau pesen apa Mon ?" Seru Amel.
" Gue jus jambu aja." Jawab Mona singkat.
Amel hanya mengacungkan jari jempolnya ke atas.
Mona menarik salah satu kursi dengan kasar lalu menghempaskan p****tnya ke kursi tersebut dengan pasrah.
Tangan kirinya di gunakan untuk menopang dagunya dan menatap ke arah Tamara dengan lesu yang ikut duduk di hadapannya.
" Mon elo serius gak tahu tentang cewek yang bareng pak Banny tadi ?" Tanya Tamara masih penasaran dengan sosok gadis cantik tersebut.
" Dia Arnetta." Jawab Mona pendek.
" Nah itu elo tahu namanya,terus,terus dia siapa nya pak Banny ? " Tanya lagi Tamara semakin penasaran.
" Gue gak tahu Arnetta siapa-siapa nya pak Banny,lagian mana berani gue nanya masalah hubungan nya apa gadis itu dengan bos,mau gue di ceramahin tujuh hari tujuh malam ama tuh bos." Jelas Mona dengan perasaan resah.
" Hihiii....hiiihiii,tujuh hari tujuh malam,kalah dong hajatan emak gue." Ucap Tamara tertawa geli.
Mona hanya menggeleng melihat kepolosannya Tamara yang terkadang membuat dia merasa lucu kadang merasa keki juga.
" Tuh udah gue pesenin gado-gado karet satu,buk verra ampe ketawa-ketawa gue bilang gado-gado buat si Tamara karet satu." Ucap Amel sambil duduk di samping Mona yang terlihat kurang bersemangat.
" Mel,si Mona udah kenalan ternyata sama cewek tadi itu." Sela Tamara melirik Mona.
" Siapa,siapa ? " Tanya Amel antusias.
" Arnetta namanya. " Jawab Tamara bantu jawab.
" Terus ada hubungan apa dengan boskul ?" Tanya Amel semakin antusias.
Mona mengangkat tinggi pundanknya dengan raut wajah tanpa ekspresi.
" Gue gak tahu." Cetusnya pelan.
" Gak tahu,apa emang gak mau tahu." Ucap Amelia menatap selidik ke arah wajah Mona yang terlihat menahan kekiannya.Mona melirik sebal,belum tuntas rasanya kejengkelan-nya sang Amel berhasil meng top up kembali kejengkelannya tersebut.
" Yaa TUHAN hari ini,hari kutukan gue kali yah.Pyuhhh..." Rutuk Mona dengan menatap jengkel kedua sahantanya itu.Amelia tertawa kecil seraya menutup mulutnya.
" Sabar ya Mon." Tamara nyeletuk.
Mona melengos dengan perasaan mulai geram.
" Gue sabar banget ngadepin tingkah elo berdua dari jaman firaun ampe jaman android sekarang ini,kurang cukup apa gue." Jelas Mona dengan gaya hiperbola.
__ADS_1
" Elo lebay Mon,nenek lo aja belum lahir ketika firaun menjabat,apa lagi elo." Sela Tamara menyanggah ucapan hiperbola Mona.
" Eh gue yakin jika elo emang sedang cemburu sama boskul." Amel meyela dan berbicara ke topik pembicaraan yang semula seraya menarik pipet minumannya.
Mona terdiam ia hanya memajukan bibirnya dengan melirik berbagai perasaan ke arah si pemilik insting kuat yaitu Amelia.
" Apa Arnetta pacar barunya pak bos ya ?"Tanya Tamara dengan berpikir keras,Mona melirik ke arah Tamara dengan raut wajah datar namun terlihat gak setuju.
" Yahhhh kemungkinan besar itu bisa jadi,toh pak Banny kan pria tampan,tajir,pengusaha muda,wajar jika ia memiliki pacar baru,lagian doi kan singgle juga." Ucap Amelia dengan sengaja memancing reaski marahnya Mona.
" Tapi dia kan tunangan gue." Tiba-tiba saja Mona menyela secara spontan dan mengatakan dirinya adalah tunangan bosnya tersebut.
Amelia dan Tamara terkejut mendengar celotehan sahabatnya itu.
Kedua sahabatnya saling bertatapan dengan begitu shoknya satu sama lain,dan mereka pun menahan tawa yang membuat Mona terlihat semakin keheranan.
Mona baru ter-repleksi setelah bicara,ia baru sadar jika dirinya mengaku sebagai tunangan bosnya tersebut.
" Elo gak salah ngomong ?sejak kapan pak Banny tunangan lo ?" Tanya Amel mendecih dengan sinis.
" Tapi,tapi kan cincin ini milik dia kan Mel?" Ucap Mona dengan menunjukan cincin di jari manisnya.
" Cincin itu cuman formalitas doang Mona,kan elo berdua hanya bersandiwara.Itu artinya perasaan tuh bos belum tentu ada terhadap kamu Mon.
Mona,Mona lo lama-lama baper juga ya ?" Ucap Amelia seraya menggeleng-geleng.
Mona terdiam lalu menatap dalam kedua sahabatnya,ada perasan bergelenjer di dalam hatinya apa yang di ucapkan Amel 100% benar,dan ia sadar semua ini hanya tipuan belaka.
" Salah yah jika gue berharap perasaan pak Banny akan berubah cinta sama gue ?" Tanya Mona dengan suara lirih.
Sontak Amelia dan Tamara terenyuh dengan pertanyaan yang terlontar dari ucapannya sahabatnya itu,di tolehnya kedua mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca.
Seketika hening lalu masing-masing merasakan kegundahan yang terpendam dalam hati mereka.
" Salah ya jika gue menyimpan perasaan lain terhadap pak Banny." Tanya lagi Mona dengan nada bicara kian tertekan.
Amelia menoleh Tamara dengan perasaan tak menentu.
" Gue paling benci kalau situasi sudah melo begini,dan ujung-ujungnya gue yakin elo akan mewek tentang perasaan elo terhadap tuh bos." Ucap Amelia seraya melengos kesal,entah kenapa ia paling tidak bisa melihat sahabatnya itu bersedih.
" Ceria lagi dong,kalau melo gini gue jujur gak suka,gelaiii..." Ucap Tamara dengan bersikap alay.Amel melirik sinis ke arah Tamara yang ucapannya mengikuti gaya salah satu penyanyi religi terkenal.
" Ini kan yang selalu gue takutkan hasil dari sandiwara lo ini,gue yakin 100% elo udah suka sama tuh bos,iyakan Mon ?" Tanya Amelia dengan menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi dengan melepas perasaan sesaknya.
" Permisi !! Mba Amel ini mie gorengnya dan ini gado-gado yang berkaret satu hihiii..." Ucap ibu kantin tersebut dengan terlihat cekikikian menyodorkan pesanan mereka.
" Makasih ya bu." Balas Amelia singkat.
" Mbak Mona gak makan ? " Tanya bu kantin menatap Mona.
" Enggak bu,saya lagi gak lapar." Balas Mona dengan pelan.
" Kalau lagi patah hati gak butuh nasi bu,tapi butuh sandaran." Ucap Amelia nyeletuk seraya mengaduk mie gorenganya tersebut.
" Oalah patah hati mah paling menyakitkan atuh Mba Mona." Sela si ibu kantin menatap serius.
" Bu vera pernah patah hati ya ?" Tanya Tamara polos.
" Yaa atuh ibu juga pernah muda masa ujug-ujug tua begini,gak adil dong TUHAN sama saya." Ucap ibu kantin itu tersenyum tipis.
" Tapi patah hati belum seberapa di banding patah tulang,kalau patah hati kita masih bisa lari kemana-mana,coba patah tulang di jamin gak bisa ngemol and ngerumpi kaya gini,iyaa kan ?" Ujar Tamara panjang lebar.
Amel mendegus keki mendengar ucapannya Tamara yang kepolosannya itu tak kenal waktu dan ke adaan.
" Mbak Tamara bisa saja,tapi ia juga sih.Ya sudah ibu tinggal dulu ya." Ucap ibu kantin itu seraya menggeloyor meninggalkan mereka.
" Elo beneran gak makan ? " Tanya lagi Amelia menoleh Mona.
Mona menggeleng pelan dengan menatap tak selera.
" Oya Mon,pas di loby tadi gue bertemu dengan cowok yang nolongin Kinaya kemarin." Ucap Amelia mengalihkan pembicaraan.
" Angkasa langit biru ?" Sela Tamara seraya mengunyah makanannya dengan serius.
" Kok elo masih ingat aja namanya Tam,biasanya elo kalau ngapalin nama cowok suka ngebleng." Imbuh Amelia pelan.
" Nama cowok kemaren itu Gampang banget ngapalinnya,soalnya kan nama tuh cowok dekat dengan nama langit,teman langit yaa Angkasa." Ucap Tamara dengan gaya ciri khas membenarkan poni pendeknya.
" Cowok ganteng emang gampang di ingat." Imbuh Amelia dengan mengangguk-ngangguk.
" Tapi kok elo bisa kenal sih sama tuh cowok.Mon gimana ceritanya ?" Tanya Amel penasaran.
" Angkasa pernah nolongin gue di mini market gara-gara dompet gue ketinggalan,dan dia dengan baik hati ngebayarin semua belanjanjaan gue." Jelas Mona dengan datar.
" Enak bener,di bayarin ama cowok ganteng." Seloroh Tamara dengan asyik menikmati gado-gadonya.
" Gue gantii kali Tam,mana ada orang di kota segede gini mau ngebayarin belanjaan gue secara cuma-cuma,dikira itu bansos apa ?" Terang Mona mulai terlihat ceria.
" Terus elo minta nomor teleponnya dong ?" Tanya Amelia antusias.
" Minta lah,kan sekalian mau minta nomor rekeningnya juga buat ganti duit nya itu."
" Tapi kalau di lihat-lihat tuh cowok oke juga loh Mon." Ucap Amelia dengan tersenyum penuh arti.
" Dia kan Direktur perusahaan PT Angkasa yang sedang berinvestasi di perusahaan bos kita ini." Jelas Mona seraya menyesap jus jambunya.
" Wooowww !! Amaging !!, Gue yakin jika tuh cowok nembak gue,gue gak bakalan nolak." Ucap Amelia dengan berdecap kagum atas multitalenta yang di miliki oleh pria tersebut.
" Gue aja tadi yang lihat sekilas terspesona loh,gimana kalau dia nembak gue anugrahh itu Mel." Sela lagi Tamara dengan tak kalah antusias.
" Hmmm...,ada kesempatan buat elo Mon." Ucap Amel tersenyum penuh arti.
" Kok ke gua ?kalian gak usah halu jika pak Angkasa bakalan ngelirik gue." Ucap Mona mengerucutkan bibir mungilnya.
" Lah kalau jodoh kenapa enggak, iya gak bebs ?" Sela Amelia dengan cepat melirik Tamara.Semoga saja Tamara mendukung perkataanya,Tamarapun mengangguk semangat.
" Elo berdua kadang-kadang gak peka yah,urusan gue sama pak Banny aja gak tahu kelarnya kapan,ini lagi udah berhalu-haluan tingkat nasional lagi dengan cowok sekelas Angkasa." Ucap Mona menatap sebal ke arah kedua sahabatnya tersebut.
" Kan kata elo obat yang paling ampuh ketika patah hati maka jatuh cinta lagi.Jadi apa salahnya elo jatuh cinta lagi sama cowok ganteng itu." Ucap Amelia membujuk sahabatnya tersebut.
Mona membulatkan matanya menatap jengkel ke arah kedua sahabatnya itu yang selalu memutar balikan ucapannya.Mona mengela lalu menggeleng dengan perasaan yang tak bisa ia gambarkan lagi,dan kedua sahabatnya hanya bisa terkekeh melihat reaksi dari Mona.
__ADS_1