CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 127


__ADS_3

SIANG ini Mona bersama kedua sahabatnya memilih untuk makan siang di luar kantor dan pilihan mereka jatuh di sebuah kafe yang menyatu dengan restoran,mereka pun lantas memilih tempat duduk yang nyaman untuk tak sekedar makan siang saja melainkan untuk nongki bersama,lalu selanjutnya mereka pun memesan makanan sesuai dengan menu favorit masing-masing.


" Gimana acara pertemuan kemaren Mon ?" Tanya seorang gadis dengan perawakan cukup berisi membuka obrolan sebelum pesanan mereka tersedia.


Mona masih mengaduk-ngaduk jus alpukat dengan pipet minumannya,sepertinya ia belum bersedia menjawab pertanyaan Amel.


" So tanggal berapa elo nikah ?" Tanya lagi Amel dengan tak sabar.


" Dua pekan lagi,tepatnya awal bulan besok." Jawab Mona dengan tak berselera.


" Dan hal ini Mama elo tau ?" Tanya Amel menatap lurus.


Mona terdiam ia hanya memaju mundurkan bibirnya dengan cantik.


" Mau nikah aja masih bete." Sela Tamara menimpali yang sedari tadi sibuk dengan poni pendeknya.


" Gue rasa nyokap tidak perlu tahu gue maried,lagian batas pernikahan gue cuman 30 hari saja,jadi hal ini sepertinya nyokap gak perlu tahu juga Mel." Ucap Mona berusaha untuk tidak ambil pusing.


Amel menatap wajah itu dengan sorot mata yang berbeda.


" Tapi menurut saran gue,alangkah baiknya jika nyokap elo itu harus tahu akan permasalahan ini Mon,dan walaupun ujungnya elo di cerai juga ama tuh bos itu akan menjadi urusan belakangan,kan nanti elo bisa cari alasan yang lain.Yaa setidaknya nyokap elo tahu lo maried, meskipun nyokap lo harus kecewa di ending pernikahan elo nanti." Imbuh Amel menatap dalam sahabatnya itu.


Mona menatap tidak yakin ke arah Amel dan perasaanya terasa gamang dengan saran yang di usulkan sahabatnya itu.


" Gue sih setuju apa yang di bilang Amel." Sela Tamara dengan menyesap minuman segarnya.


Mona melirik pasrah ke arahTamara yang mendukung penuh atas saran dari Amel.


Amel melakukan hal yang sama melirik dengan perasaan keki kearah Tamara.


" Gue sih berharap bos gue itu ngencel niatnya untuk nyereiin elo,dan elo pun bisa hidup bahagia dengan tuh bos." Ujar gadis berponi pendek itu dengan sangat antusias.


" Gue rasa pak Banny tidak akan ngerubah pikirannya bahkan sampai mengencel niatnya untuk nyerei in gue.Karena gue tahu sikap dia sangat konsekwen dan kompeten." Jelas Mona dengan perasaan berat.


" Kan belum di jalani Mon." Sela Amel mulai gencar memberikan pembelaan terhadap pria tampan itu.


" Gak semudah itu juga Mel,karena gue rasa pak Banny emang gak bakalan suka sama gue." Ucap Mona dengan perasaan fesimis.


" Siapa bilang,takdir itu gak ada yang mengetahuinya sekalipun itu tukang ramal." Sela Tamara dengan bersemangat.


Amel dan Mona saling bertatapan satu sama lain.


" Elo kan suka ngeramal Mel,coba lo tebak ending dari pernikahan si Mona ?" Tanya Tamara menoleh ke arah Amel yang duduk tak jauh darinya.


" Gila aja gue harus ngeramal takdir orang,kalau pun gue suka nebak itu hanya kebetulan doang Tam,gue hanya nebak doang kalau bener ya sukur kalau salah yaahh itu hanya kesalahan gue aja,wkwkkw " Amel terkekeh tersenyum hambar.


" Tapi kan biasanya insting elo itu tajam,kaya..... ??" Ucapan Tamara menggantung sebelum akhirnya Amel segera menyela dengan wajah menyerigai sebal.


" Jangan bilang gue kaya binatang pelacak."


" Hihi...hiihi... sensi deh elo,belum juga gue kelar ngomong." Ucap Tamara tersenyum lebar melihat sikap Amel yang bersikap sentimen kepadanya.


" Oya,kalian tahu gak Arnetta itu siapa ? " Mona menyela dengan membagikan pandangannya ke arah Amel dan Tamara.


" Sepupu pak Banny gue rasa." Jawab Tamara dengan enteng.


" Jika itu cewek masih ada ikatan sodara dengan boskul,maka elo wajib bernapas lega." Ucap Amel menatap intens Mona.


" Emang selama ini si Mona asma ?bengek gitu !ampe gak bisa napas lega." Seloroh Tamara dengan polos.


" Kumat nih." Guman Amel mlengos seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Lah kan barusan elo bilang,si Mona wajib napas lega,itu artinya jika selama ini elo bengek dong Mon." Sergah Tamara dengan sikap ngeyelnya.


" Terserah elo deh !ngeladenin elo tar ceritanya gak kelar-kelar." Cetus Amel mulai jengkel.


Gadis berponi pendek itu tersenyum tanpa berdosa.


Seorang pelayan datang membawakan beberapa pesanan mereka dan sejenak obrolan mereka pun terhenti saat pria pramusaji itu memindahkan makanan tersebut dan meletakanya ke atas meja sebelum akhirnya mempersilahkan mereka untuk menikmati pesannya tersebut.


" Silahkan mbak ! Oya,mbak-mbaknya ada pesanan tambahan lagi ?" Tanya pria pramusaji itu dengan ramah.


Mona menggeleng dengan tersenyum lembut.


" Ada mas." Tamara menyela dengan cepat.


" Iya mbak,mbak mau pesan apa lagi. ?" Tanya kembali pramusaji dengan semangat.


" Aku pesan cinta paket rindu dengan varian setia." Ucap gadis itu tersenyum menggoda pria pramusaji itu yang berpenampilan rapih dan maskulin.


Sontak Mona beserta Amel melirik ke arah Tamara dengan raut wajah enggak banget.


Wajah pria pramusaji itu memerah menahan malu saat dirinya di gombali oleh seorang Tamara.


Amel melengos dengan perasaan sedikit enggan melihat kekonyolaan sahabat itu sementara Mona hanya menggeleng dengan tersenyum geli melihat salah satu sahabatnya itu bertingkah layaknya sang gombalis.


" Mbak nya bisa saja." Ucap pria pramusaji itu dengan mesem sendiri.


Lalu pria pramusaji tersebut pamit undur diri dari hadapan Mona beserta kedua sahabatnya itu.


" Efek lama ngejomblo kaya gini,akutt !!" Guman Amel terkekeh.


" Jadi Arnetta itu siapa ?" Tanya Amel kembali ke topik pembahasan.


" Mel,elo masih ingat dengan pak Mulya ?,Dosen sekaligus teman dekatnya pak Wiguna ?" Tanya Mona sejenak menatap lurus ke arah Amel.


Sejenak gadis itu memasang serius raut wajahnya dan menaikan kedua alisnya tinggi-tinggi.


" Yang mana sih ?" Tanya Amel mencoba mengingat kemnali sebuah nama yang di maksud oleh Mona ketika ia masih kuliah dulu.


" Pak Mulya Mel,yang mapel Administrasi yang terkenal dengan disiplinya itu loh,jika ada siswa atau siswinya yang telat dalam mapelnya itu bisa di perpanjang waktu belajar kita." Jelas Mona memberi gambaran tentang sosok pak Mulya.

__ADS_1


Amel terlihat berusaha keras mengingat hal itu dan


sejurus kemudian wajah bulat itu seperti menemukan secercah harapan dalam ingatannya atas sosok nama tersebut.


" Memory lo berapa giga sih,ampe setahun gitu mengingatnya ?" Sela Tamara seraya menyuapkan makanannya.


" Wajar lah Tam,secara gue kelar kuliah udah lima tahun yang lalu jadi agak-agak ngebleng gitu memori gue." Sahut Amel terlihat kesal dengan ledekannya Tamara.


" Gimana elo udah ingat sama pak Mulya ? " Tanya lagi Mona.


" Ya,ya.Gue ingat." Balas Amel dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


" Kalau gak salah kita sering so cari muka kan jika giliran mapel nya dia,haa...haaa,secara bapak itu dekat dengan pak Wiguna,ngerinya beliau ngadu yang tidak-tidak tentang kita sama tuh rektor alhasil beasiswa elo melayang nanti." Ujar Amel tersenyum lebar jika mengingat akan masa-masa kuliah mereka yang terbilang penuh cerita suka dan duka, meski terkadang alurnya lebih banyak menyedihkannya.


" Lalu apa hubungannya dengan Arnetta ? " Sejurus kemudian gadis itu bertanya dengan penuh telisik.


" Arnneta adalah putri bungsu dari pak Mulya." Balas Mona dengan penuh penekanan.


" Waduh !!" Jawab Amel dan Tamara kompak.


" Gaswat,apa mereka diam-diam akan di jodohkan juga ?" Tamara menyela dengan ucapan polosnya.


" Tamara,sudah jelas pak Banny akan di jodohkan dengan Mona,masa iya dalam perjodohan ada poligaminya." Bantah Amel menatap sewot.


" Lalu ?kok bisa Arnetta kerja di kantor pak Banny,pasti ada apa-apanya dong ?" Tanya Tamara dengan raut wajah penuh ancaman.


" Hmm...,kalau gue lihat dari gensturnya tuh cewek,gue rasa tuh cewek baru kelar wisuda deh jadi untuk sementara mungkin ia di tawarin kerja dulu di kantor bos gue,secara pak Wiguna kan orangnya sangat arif banget." Jelas Amel mengemukakan instingnya.


" Insting elo benar,100 buat elo." Ucap Mona membenarkan ucapannya sahabatnya itu.


" Kok elo bisa tahu sih Mel ?" Tanya Tamara menatap aneh.


" Gue rasa insting gue seperti itu." Balas Amel menoleh Tamara.


" Tapi menurut gue sih meski mereka tidak di jodohkan,tapi tidak menutup kemungkinan jika kehadiran tuh cewek bisa membuat pak Bos berpaling,soalnya gue lihat Arnetta gak jelek-jelek amat,good looking dan smart gitu orangnya, gue yakin jika mereka sering ketemu secara intens benar adanya pepatah orang jawa itu bilang." Ucap Tamara bersikap so bijak.


Amel dan Mona memperlambat kunyaahannya dan mengerutkan dahinya menatap heran ke arah Tamara yang memberi pernyataan cukup memaksa Mona dan Amel berpikir keras.


" Maksud elo ?" Tanya Amel menoleh Tamara dengan wajah sarkastik.


" Trisno jalaran suko kuliner." Ucap Tamara cengengesan.


Wajah Amel menatap enggan dengan ekpresi cemooh.


" Elo mending buka lagi deh tuh kamus bahasa jawa.Malu-maluin orang jawa aja loh,ngaku orang jawa tapi ngomong jawa aja blepotan.Yang bener itu Tresno jalaran soko kulino TAMARA !!!,cinta karena terbiasa." Jelas Amel dengan penuh penekanan.


" Nah itu elo paham." Balas Tamara dengan polos.


" Ambeyen lama-lama gue ngomong sama elo." Guman Amel dengan memotong steak di hadapannya dengan perasaan emosi hingga steak tersebut terpotong kecil-kecil.imbas dari pelampiasan kekesalannya terhadap sahabatnya itu.


Dosa apa coba steak daging itu hingga menjadi sasaran amukan kekesalan gadis berwajah bulat.


Mona masih mengunyah ,diam-diam ia membenarkan apa yang di ucapan Tamara dan itu cukup masuk di akal baginya.


" Apa itu bisa terjadi ?" Tanya Mona mulai terlihat ragu.


" Buktinya elo sering intens ketemu tuh bos,lama-lama suka juga kan,yaah apa bedanya dengan Arnetta,apa lagi staff admin tentunya pak Banny akan selalu sering berdiskusi dengan tuh cewek atas pembahasan ke uangan perusahaan ini,iya kan." Tamara menambahkan lagi dengan penuh ke yakinan.


Amel terdiam memutar paksa otaknya untuk mengukur ke jeniusan seorang Tamara yang kadar kepinterannya selalu muncul secara dadakan.


" Ada manfaatnya juga kali ini elo makan steak." Sela Amel melirik cemooh kearah Tamara yang sibuk memotong-motong steak tersebut dengan ukuran maksimal.


" Maksudnya ?? " Tamara kembali lemot.


" Otak lo kini terkoneski dengan sempurna,biasanya kalau gue bahas sesuatu otak elo kemana-mana gak beraturan dan sekarang elo makan steak setidaknya isi kepala lo berkerja dengan sempurna,haa... haa.." Ucap Amel dengan di iringi tertawa lebar.


Tamara merengut mendengar ucapannya Amel.


" Makannya elo sering-sering ajak gue makan enak,pasti otak gue gampang koneknya." Ucap Tamara membalas olokannya Amel.


" Modus luh." Ucap Amel mendengus sebal.


Mona tertawa ringan saat melihat kedua sahabtanya itu yang mempunyai dua sisi yang berbeda namun tetap solid.


" Ah sudahlah,gue yakin jika Arnetta usianya lebih jauh dari pak bos,kalau gue lihat mereka malah seperti adik kakak,gak pantas jadi sepasang kekasih." Ujar Amel mencoba mematahkan asumsinya Tamara yang berkeyakinan jika Banny akan suka terhadap Arnetta.


" Tapi kan cinta gak pandang usia Mel." Tamara membatah dengan santai.


" Jadi elo ngedukung tuh cewek untuk jadian ama pak bos,sebenarnya elo di pihak siapa sih ?" Tanya Amel sewot dan mendelik ke arah Tamara yang terkadang sikapnya selalu berubah nyebelin.


" Gue cuman wanti-wanti saja Mel,jangan sampai Mona terlena dan masa bodoh dengan kehadiran tuh cewek." Terang Tamara semakin santai,padahal ekspresi Amel sudah keluar dari jalur santainya.


" Yaa sudah I don't care lah,mau ngapain juga tuh cewek,gue kan gak ada sangkut paut dengan perasaan mereka." Ucap Amel dengan menyuapkan potongan steak itu secara kasar ke mulutnya.


" Yaa,kalau memang pak Banny suka sama tuh cewek gue bisa apa,itu takdirnya Arnetta." Ucap Mona dengan mengangkat pundaknya acuh.


" Salah satu cara bisa move on dari perasaan seseorang ya itu dengan cara jatuh cinta,itu kan kata elo ?" Tanya Amel menoleh Mona.


Mona tersenyum tipis namun air mukanya tak bisa di bohongi jika perasaanya mulai di liputi perasaan resah.Lalu ia pun melanjutkan makannya tanpa menghiraukan ekspersi kedua sahabatnya yang mulai prihatin melihat kepura-purannya tersebut.


Amel menoleh ke arah Tamara dengan penuh isyarat namun yang di toleh ikut acuh dan tidak meresponnya membuat gadis bertubuh sintal itu semakin jengkel.


" Hai,Mona,!!" Tiba-tiba suara hangat menyapa di balik mereka.


Dengan bersaaman Mona beserta kedua sahabatnya itu menoleh ke arah sumber suara tersebut.


Seorang pria dengan raut wajah berkarismatik tersenyum hangat ke arah mereka.


" Kas !!" Mona nampak terkejut dengan kehadiran pria itu yang secara tiba-tiba sudah berada di belakangnya,entah datang darimana pria itu sudah ada berdiri di belakangnya.


" Aihh pucuk di cinta ulam pun tiba." Seloroh Tamara menatap penuh arti ke arah pria tersebut.

__ADS_1


" Gak sia-sia lo Mon move on dari boskul,jika model ginian bakal jadi peggantinya." Ucap Tamara setengah berbisik.


Amel melirik ke arah sikap Tamara yang terlihat semeringah atas kehadiran pria berkarismatik tersebut.


" Dasar,jiwa jomblo lo meronta-ronta." Guman Amel tak kalah sengit.


" Kas,lagi ngapain disini ?" Tanya Mona terlihat canggung. Belum sempat pria itu menjawab gadis berwajah bulat itu segera memotong dengan melirik genit.


" Ya makan lah Mon,masa iya ngejim." Ujar Amel menyela dengan berguman pelan,namun setidaknya gumannya teresebut cukup terdengar jelas oleh teliga pria tersebut.


Pria itu tersenyum ringan saat mendengar celotehan dari sahabatnya Mona.


" Kebetulan aku habis ngopi bersama beberapa kolega saya di lantai atas,jadi gak sengaja pas mau pulang aku lihat kamu di sini,lagi pada maksi ya ?" Tanya pria itu menatap hangat.


" Iya pak,nih piring kita sudah kinclong semua,gak mungkin kita habis cuci piring." Sela Amel menimpali dengan sedikit lelucon.


Mona melirik dengan penuh isyarat agar Amel menjaga sikap dan ucapannya itu.


" Boleh saya gabung ?" Tanya pria itu menatap satu persatu ke arah ketiga gadis itu.


" Oh tentu pak,silahkan !!." Ucap Tamara tersenyum semanis mungkin.


Pria itu tersenyum melengkungkan garis bibirnya dengan semakin terlihat mempesona.Dan itu sukses membuat Amel beserta Tamara berdehem menahan tawanya.


Mona menoleh ke arah kedua sahabatnya dengan tatapan tak nyaman.


Mona sendiri ia mencoba berusha mengatur irama detak jantungnya yang entah kenapa berdetak lebih kencang sesaat melihat senyuman menawan sang pria tersebut.Pria berkarismatik yang berkulitkan sawo matang itu cukup menawan di hati sang gadis bermata belo itu.


" Kamu sudah selesai makannya ?" Tanya Angkasa seraya menoleh ke arah piring Mona yang sudah kosong.


" Mona sepertinya kelaparan." Amel memotong cepat kalimat pria itu dengan menahan senyumannya.


Mona mendelik ke arah Amel dan membulatkan matanya dengan sempurna.


" Hmmm.....," Angkasa menahan ucapannya lalu menoleh ke arah kedua sahabatnya yang masing-masing sedang menatap kehadiran dirinya dengan tatapan penuh pesona.


Amel menangkap sekilas sikap canggung pria tersebut atas kehadirannya,lalu tanpa berpikir panjang gadis sintal itu memahami akan maksud dari kode tak nyata si pria berkarismatik tersebut.


" Hmm pak Angkasa mau pesan makan?mumpung kita belum udahan nih," Amel semakin gencar menggoda pria itu yang terlihat semakin salah tingkah menatap ke arah sahabatnya.


" Tidak,saya sudah kenyang nanti saya tidak bisa pulang jika perut saya kekenyangan." Tungkas pria itu menatap Amel dan tersenyum manis.


"OH TUHAN !! mahluk ciptaan-Mu ini sungguh menawan senyumannya begitu seksi,serasa gue lihat duplikatnya Adipati dolken."


Guman gadis berwajah bulat itu membatin,hal yang sama sedang dirasakan oleh gadis berponi pendek.


" Mon,sepertinya gue kebelet nih,gue ke toilet dulu yahh." Tiba-tiba Amel pamitan untuk ke toilet secara mendadak.


" Gue rasa,gue kebelet juga deh Mel." Tambah Tamara melakukan hal yang sama dengan tersenyum penuh menggoda.


Amel menoleh ke arah Tamara dengan menatap penuh arti lalu mereka pun berjalan beriringan meninggalkan Mona bersama Angkasa berpura-pura ke toilet.


Mona beserta Angkasa menatap heran atas sikap kedua sahabatnya itu yang selalu kumat kekonyolannya jika dirinya berada dekat dengan seorang cowok.Mona paham akan sikap kedua sahabatnya itu yang mengerti akan kehadiran Angkasa di tengah-tengah mereka.


Angkasa menoleh ke arah Mona dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Ada apa dengan kedua sahabat kamu itu ?" Tanyanya dengan lembut.


" Hemm,mereka memang seperti itu,jika kebelet selalu kompak,naluri mereka kuat." Ucap Mona tersenyum canggung.


Angkasa tersenyum ringan ke arah ekspersi wajah gadis itu yang terlihat menahan malu.


" Oya Mon,kamu belum balik kantor ?" Tanya pria itu basa basi.


" Sepuluh menit lagi aku balik kantor." Balas Mona dengan menyesap abis jul apukatnya.


" Hmm,Mon kamu suka baca buku gak? " Tanya pria itu menatap lurus Mona.


" Baca buku ? " Tanya gadis itu sedikit menyeringah.


" Yap,novel atau semisal cerita lainnya gitu?." Jelas Angkasa dengan tatapannya lekat di wajah gadis itu.


" Suka,kadang kalau lagi suntuk suka baca-baca,tapi itu juga ceritanya yang fun gitu biar suntuknya ilang.Memangnya kenapa? " Tanya Mona menatap dengan ragu.


" Engga,kalau kamu suka baca aku mau ajak kamu ke acara sebuah bazar buku, dan di sana ada banyak buku menarik yang bisa kamu baca,dari bacaan komik hingga buku-buku politik ada disitu,yaa siapa tahu ada buku yang kamu suka.Disana juga akan ada seminar mengenai bedah buku dari seorang penulis ternama yaitu Asma nadia,kamu tahu siapa Asma nadia ?" Tanya Angkasa menatap sekilas wajah gadis manis tersebut.


" Tentu,dan aku adalah salah satu penikmat buku-buku cerita karya dia,karena semua ceritanya selalu memberikan motifasi serta inspiratif." Jelas Mona mulai terkoneksi akan kesukaan dirinya yang sama dengan pria itu.


" Yaa,ada banyak cerita yang sudah di tuangkan dalam sebuah film karya nya dan itu tak hanya satu saja melainkan sudah banyak,salah satunya yang paling aku suka Love sparkling korea." Jelas pria itu dengan lugas sedangkan Mona menyimak dengan seksama.


" Ada satu lagi yang paling hits,yaitu Surga yang tak di rindukan." Sela Mona menimpali dengan perasaan senang saat tahu jika pria itu satu prekuensi dengan dirinya akan kesamaan hobby membaca dan noton film.


" Ya ya,itu aku pernah nonton juga filmya,bagus." Balas Angkasa dengan sangat antusias.


" Kamu suka baca ya ? " Tanya Mona memastikan.


" Yap,aku suka sekali membaca karena dengan membaca wawasan kita menjadi luas." Jelas Angkasa dengan tersenyum manis yang sukses membuat hati gadis itu berdebar tak karuan.


Entah kenapa Mona merasa dirinya nyambung dengan pria itu,dan ada banyak kemiripan dalam sebuah hobby,bahkan Angkasa termasuk tifekal pria yang tak jauh akan sikapnya dengan Zeanu.


" Oh !" Ucap Mona ekspresif dalam menanggapi perkataan pria itu,justru ada yang lebih membuatnya tertarik dari sosok pria tersebut.Adalah cara pembawaan nya yang tenang,hangat serta ramah memperlakukan dirinya layaknya mahluk hidup,tidak seperti Banny yang selalu memperlakukan dirinya layaknya benda mati.


" Gimana kamu berminat ?" Tanya Pria itu dengan antusias.


" Kapan itu ?" Tanya Mona mulai tertarik.


Kenapa tidak,kapan lagi bisa jalan bersama dengan seorang pria yang memiliki wajah sangat karismatik tersebut,dan hal ini kesempatan dia untuk bisa mengubur dalam perasaannya terhadap seorang Banny.


Bukankah dia layak untuk bahagia dengan perasaan yang di milikinya.


" Sabtu besok,jika kamu bersedia aku jemput ke rumah kamu,gimana?" Ujar pria itu tak henti-hentinya mengulas senyuman seksinya.

__ADS_1


" Hmmm....,nanti aku kabarin lag,soalnya aku tidak tahu sabtu besok ada acara atau tidak." Ucap Mona seraya tersenyum tipis.


" Ok,aku tunggu kabar baiknya." Balas pria itu dengan tersenyum penuh arti.


__ADS_2