
SEKITAR JAM lima pagi Mona masih belum berhasil memejamkan matanya,isi kepalanya masih di penuhi hal-hal yang tidak karuan.
Amel keluar dari kamarnya dengan menguap penuh,di lihatnya Mona masih terjaga,sementara Tamara tertidur pulas di sampingnya.
" Mon,elo udah bangun aja sih?" tanya Amel seraya menyimpan kain handuk di kedua pundaknya.
" Gue belum bisa tidur." balas Mona dengan datar,suaranya sedikit serak.
Amel menggeleng mendengar ucapan Mona,sepertinya Mona benar-benar terguncang dengan permasalahan yang tengah di hadapinya tersebut.
" Terus hari ini lo kekantor ?" tanya Amel duduk di samping Mona.
" Sepertinya gue hari ini lagi gak enak badan." balas Mona pelan.
" Sebaiknya elo istirahat aja,wajah elo kuyu banget,lo menangis semalam ?" tanya Amel dengan nada iba.
Mona tidak menjawab ia hanya tertunduk dengan mata mulai berkaca-,kaca kembali.
Amel menarik napas berat melihat ke adaan sahabatnya tersebut,sepertinya dia salah ngasih pertanyaan.
Tamara terbangun ketika mendengar obrolan mereka,dengan mengucek-ngucek kedua matanya Tamara merubah posisinya menjadi duduk di samping Mona.
" Mon,dari dulu gue selalu wanti-wanti sama elo,jangan terlalu dalam melibatkan perasaan lo dalam drama cinta lo ini,tapi nyatanya elo terjebak dalam perasaan lo sendiri,dari awal perasaan elo itu hanya sandiwara aja,segala sesuatu hal yang di awali dengan sandiwara maka akan berujung sia-sia." ucap Amelia pilu.
" Tapi perasaan itu tidak bisa di terka juga Mel,jika sandiwara itu justru melahirkan sebuah perasaan mau gimana,kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya perasaan itu ?" Tamara menimpali dengan raut wajah masih terkantuk-kantuk.
Amelia mengangkat bahunya tinggi,ia memaklumi jika perasaan sahabatnya itu sudah terlanjur dalam.
" Tapi sudah terlalu sering laki-laki es balok itu membuat lo menangis,so jika gue di posisi lo gua tidak akan menangisinya lagi dan belajar untuk melupakan,harga diri kita tak hanya sekedar balas budi saja Mon,elo tidak segila ini membalas budi terhadap orang yang pernah nyelamatin hidup lo di masa lalu,lo berhak bahagia juga." ucap kembali Amelia dengan sedikit nada berbeda.
" Apa yang di katakan Amel benar,gue setuju.Ada hal yang harus elo pertahankan yaitu harga diri lo,jika sekarang boskul emang akan menceraikan lo,maka lo harus siap dengan segala konsekwensinya dan itu elo harus terima,jangan terlalu di perbudak cinta hidup harus realistis aja." Tamara menimpali dengan berusaha menguatkan.
Mona membagikan pandangannya ke arah kedua sahabatnya.
Sosok kedua sahabat itu selalu menguatkan dirinya,mereka tak ingin melihat dirinya menangis untuk kesekian kalinya,mereka pun terus menyemangati dirinya, jika hidup akan terus berlanjut meski perceraian akan terjadi.
" jadi ???" ucap Mona mengambang wajahnya kian tertekan.
" Jadi sebaiknya elo ikutin saja kemauan Banny,tak perlu elo mempertahan perasaan mu itu,apapun perasaanya,karena percuma elo mencari kebenaran karena tidak akan bisa merubah keputusannya Banny." ucap Amelia tandas.
Mona menoleh ke arah Tamara,yang di toleh hanya mengangguk meyakinkan sekaligus menguatkan.
Mona menghela napas berat,sesungguhnya kedua sahabatnya itu begitu peduli terhadapnya dan Mona sangat mengenal mereka,tidak mungkinan mereka akan menjerumuskan dirinya.
" Gue yakin ada hal yang terbaik buat elo jalani kedepannya nanti,meski tidak dengan laki-laki itu." ujar Amelia kembali.Entah kenapa kali ini Amelia merasa jika dirinya sudah ke habisan sabar menghadapi sikap Banny dalam memperlakukan sahabatnya tersebut.
" Sepertinya gue perlu memikirkan hal itu." ujar Mona menunduk dengan menelan ludah,tanpa melihat ke arah keduanya.
Amelia dan Tamara saling berpandangan,sepertinya Mona membutuhkan waktu untuk memulihkan hatinya.
" Mon,mungkin ini jalannya elo emang harus berpisah dengan laki-laki itu." ucap Amelia seraya menepuk-nepuk pundak Mona untuk berusaha terus mensuportnya.
Mona menarik bibirnya dengan tipis.
" Kenapa lo begitu yakin jika mas Banny bukan yang terbaik ?" tanya pelan.
Amelia menggeleng gusar.
" Mon,harus berapa kali lagi gue katakan jika Banny sering membuat lo nangis,bahkan lebih dari itu,apa perlu gue reviu ulang sikap dan tingak dia sama elo? Ahh Sudahlah berhentilah bersikap bodoh demi cinta Mona,logika lo dimana." ujar Amelia benar-benar gusar.
Dari awal Amelia memang meragukan akan hubungan Mona dengan atasanya tersebut,namun karena dia begitu menjaga perasaan Mona sehingga mau tak mau ia pun hanya bisa mendukung serta mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya tersebut.
" Mel !" sergah Tamara mengingatkan Amelia untuk tetap menjaga ucapannya.
__ADS_1
Kali ini tak ada canda tawa yang terlihat di tengah-tengah kebersamaan mereka,raut wajah mereka terlihat lebih serius bahkan lebih dari itu,mereka larut dalam iba tangisnya Mona.
" Baiklah,sebaiknya lupakan apa yang tidak perlu di perjuangkan,kita kembali kepada pekerjaan kita,urusan kita,hobi kita yang menyenangkan,bahkan sesuatu hal yang membuat kita merasa happy,kita sudah lama gak heaven-heaven,Bukankah hal itu mengasikkan ??" Tamara mencoba menghibur Mona,ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan supaya Amelia tidak terlalu bersikap tegas ke pada Mona.
Amelia membenarkan rambutnya dengan perasaan yang masih gusar,di rasanya Mona terlalu baper sehingga terlihat lebih tolol karena sebuah perasaan cinta,tapi dia sangat memaklumi sikap polosnya sahabatnya tersebut.
Mona mengangkat wajahnya secara perlahan.
" Gue belum bisa mempercayai semua ini seutuhnya Mel,Tam." desisnya pelan.
" Atau jangan-jangan elo di jebak orang ?" ucap Tamara tiba-tiba berucap seperti itu.
" Di jebak ???" tanya Mona kebingungan.
" Yaa gue setuju apa yang di bilang Tamara." sahut Mona dengan suara masih malas.
" Ayolah Mon semangatlah,gue tahu elo hanya sebagai korban disini,kita disini sangat mempercayai elo seratus persen,jika elo gak mungkin bersikap konyol kaya gitu,mungkin saja ada orang yang menjebak lo dan menyebarkan foto-foto lo tersebut." Tamara tiba-tiba berbicara seperti itu hingga membuat Mona menoleh ke arahnya dengan otaknya berputar.
Mona berpikir keras,apa mungkin ada orang berniat jahat ingin menjebaknya,lalu siapa ???
Aras ???
Apa tujuan dia menjebak dirinya ???
Lalu darimana Aras tau nomor WA Banny suaminya,sedangkan Banny tidak menaruh respek sedikitpun terhadap Asistennya tersebut,bodohnya dirinya tidak sempat sedikitpun bertanya perihal ini kepada Banny.
Mona memandangi wajah kedua sahabatnya dengan berbagai analisa di kepalanya.
" Mon,gue rasa seperti itu,apa yang elo lakukan gue tahu betul akan tingkah laku lo,karena gue jauh mengenal elo,dan elo itu tidak segatel cewek-cewek seperti di luaran sana yang hoby cari perhatian para jantan." Amelia menimpali dengan nada suara masih gusar.
" Lalu siapa yang telah menjebak gue ? " tanya Mona dengan perasaan sedih.
Kepala Mona terasa semakin pusing,benarkah ada seseorang yang tengah menjebaknya ? Sengaja ingin membuat hubungannya dengan Banny berakhir? Tetapi,untuk apa ?
Yang mengundang ia untuk hadir di pesta tersebut adalah Santana salah satu staf kepercayaanya,lalu ada hubungan apa antara Santana dengan orang yang menjebaknya ??
Apa semua ini dia yang menjebaknya,karena selama ini hubungan antara pria itu dengan suaminya cukup tidak baik.
Mona berusaha berpikir keras menerka siapa dalang di balik semua ini,tapi rasanya percuma mencari tahu juga mungkin kebenaran itu tidak akan merubah keputusan Banny dalam menceraikannya.
Untuk sekarang ini urusan itu menjadi tidak penting,Mona mencari jalan untuk menjelaskan perkara ini kepada Pak Wiguna maupun Neneknya,ia bertanggung jawab atas perpisahan ini.
" ### Sudahlah,waktu gue udah habis,nanti gue telat lagi ke kantor,hari ini di kantor ada meeting." ujar Amelia seraya beranjak.
" Meeting bareng mas Banny ?" tanya Mona menyela.
" Siapa lagi ??,makanya si Tamara nginep di gue,dia ga mau telat pengen berangkat bareng gue." jelas Amel.
Mona hanya membulatkan mulutnya tanpa ekspresi.
" Lo jika mau rebahan,istirahat,anggap aja ini kontrakan lo sendiri,gue bebasin." ujar Amel seraya mengeloyor ke kamar mandi,Mona hanya terdiam menatap punggung sahabatnya tersebut yang hilang di balik pintu kamar mandi.
Banny meremas tulang leher belakangnya sementara netranya masih fokus ke layar laptopnya,wajahnya terlihat kaku sehingga tak ada garis senyuman yang membingkai wajahnya,sementara pak Hendra tengah menjelaskan beberapa pembahasan mengenai permasalahan beberapa kinerja di perusahaanya.
Amelia yang duduk bersebrangan dengan Bosnya tersebut setidaknya ia menangkap jelas gelagat kurang bergairah bosnya tersebut,nampaknya Banny terlihat tidak begitu bersemangat dalam mempimpin meeting kali ini,sehingga ia menyerahkan sepenuhnya kepada pak Hendra selaku Menejer perusahaan nya tersebut.
Amel melirik ke arah wanita cantik yang duduk tak jauh dari bosnya tersebut,wajah sekertaris muda itu terlihat begitu frees dan dandanannya kali ini memang terlihat sedikit lebih menarik,Amelia melengos mencoba mengalihkan pandangannya namun lagi-lagi otaknya bekerja cepat jika wanita yang tengah duduk di samping bosnya itu terlihat sedikit berbeda dari cara bersikapnya.
Amelia mencium aroma-aroma yang tak biasa terhadap sekertaris cantik tersebut.
Tak berapa lama pak Hendra mengakhiri meetingnya lalu menyodorkan beberapa map ke hadapan Banny.
Banny yang sedari tadi hanya sibuk dengan pikirannya sendiri menerima map tersebut dengan tak berselera.
__ADS_1
Menyadari ada yang sikap berbeda dari bosnya Arnetta sekertaris cantik itu menghampirinya dan memandangnya dengan sorot mata yany begitu teduh,Amelia memperhatikan sikap mereka secara diam-diam.
" Mas,mas Banny baik-baik saja ?" tanya Arneta penuh perhatian.
" Aku baik-baik saja." balas Banny dingin.
" Hmm,aku buatkan kopi panas ke sukaan mas ya." tawar Arnetta menatap cemerlang.
Amelia menoleh secara refleks ke arah mereka,dari ujung kursinya ia melihat jika sikap gadis cantik itu benar-benar sedikit menganggu pikirannya.
Amelia menggeleng seraya merapihkan beberapa map yang ada di hadapannya.
" Tidak makasih." jawab Banny singkat seraya bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan dengan di ikuti Arnetta yang sudah siap membuntutinya.
Arneta berusaha mengejar langkah atasanya tersebut dengan sesekali berbicara kepadanya.
Amelia menghela napas panjang,entah kenapa jika perasaannya mengatakan lain tentang gadis cantik tersebut,seolah-olah wanita cantik itu sedang memanfaatkan kesempatan emas ini.
" Mbak Amel ! ." panggil pak Hendra menegur pelan Amelia yang tengah melamun.
Amelia tersentak ketika suara bas pria itu mengejutkannya.
" Iya pak," sahut Amelia sedikit kaget.
" Kamu masih betah disini ? Meeting sudah selesai loh," goda pak Hendra ketika melihat raut wajah Amelia yang terkaget-kaget.
" Maaf pak,saya barusan sedikit melamun." timpal Amelia tersenyum pasi.
" Sepertinya hari ini saya rasa banyak ke anehan di kantor ini." seloroh pak Hendra seraya membenarkan kancing tangan bajunya.
" Maksud bapak ? " tanya Amelia tak mengerti.
" Apa mbak Amel tidak memperhatikan jika pak Banny sedari meeting tadi sama sekali tidak memperhatikan saya berbicara,dia sibuk dengan laptopnya,dan wajahnya terlihat suntuk sekali." jelas pak Hendra kecewa.
Amelia terdiam menatap dengan berbagai perasaan.
" Dan saya lihat-lihat bu Arnetta,sekertaris pak Banny itu, terlihat sangat cantik pagi ini,tak biasa dia dandan secantik itu." ujar pak Hendra setengah berbisik lalu di akhiri dengan terkekeh-kekeh.
" Ah bapak ini merhatiin aja kalau ada yang cantik." goda Amelia mendilak ke arah pak Hendra.
" Saya hanya memperhatikan saja mbak Amel,terus mbak Amel sendiri kenapa dari tadi saya lihat melamun terus,macam gak fokus gitu." pak Hendra berbalik nanya kepada Amel.
" Iya pak,hmm maklum lah pak,anak muda masalah pribadi." ujar Amelia lantas cengar-cengir.
" Makanya solusinya hanya satu." balas pak Hendra tersenyum.
" Apa tuh pak ?" tanya Amelia penasaran.
" Cepet-cepet nikah." celoteh pak Hendra asal.
" Yahh bapak,justru itu yang sedang saya hindari." sergah Amel melengos.
" Loh kenapa ?" tanya pria yang umurnya tak lagi muda itu penasaran.
" Belum mapan saja hatinya untuk berumah tangga." jawab Amelia santai.
" Yaa nunggu mapan mau sampai kapan,kan seiring berjalannya kehidupan maka hati akan mapan dengan sendirinya, justru itu jika kita sudah berumah tangga semua akan menjadi dewasa pada waktunya." ujar pak Hendra memberi pandangan.
" Umur seseorang tidak bisa di katakan dewasa setelah menikah,ada kalanya mereka bertingkah seenaknya ketika sudah berumah tangga,mereka beranggapan jika sudah berumah tangga mereka merasa paling sudah dewasa sehingga selalu bersikap seenaknya,dan memutuskan segala perkara dengan begitu mudahnya." bantah Amelia lantang.
" Itu tergantung opini masing masing." balas kembali pak Hendra tersenyum.
" Tapi pak,ketika kita telah berumah tangga,urusan kita akan semakin rumit pak,jadi saya rasa perlu hati yang mantap ketika akan membina rumah tangga itu,soalnya kita membinanya tak hanya sehari dua hari pak,tapi selamanya,dan hati loh pak jaminannya,bukan BPKB kendaraan." ujar Amel seraya mengurai tawa kecil.
__ADS_1
Pak Hendra tertawa mendengar perkataan Amel,ia merasa cukup tergugu akan sikap salah satu stafnya tersebut,ia pun ikut tertawa atas lelucon di akhir kalimatnya.
" Hahahaa....,mba Amel ini bisa saja,yaa kalau BPKB kendaraan jaminannya rugi dong,gak bisa balik lagi kalau ada apa-apa dalam rumah tangganya." gelak pak Hendra menimpali,Amel ikut terkekeh mendengarnya.