
" ELO yakin tidak memberi kabar yang fake !!" tanya Mona menatap dalam Tamara.
" Buat apa gue ngasih kabar yang fake Mon,bu Silvi gak mungkin sebercanda itu sama gue,jangan kan bercanda senyum ama gue aja kalau ada perlunya,apa lagi bercanda,tau kan bu Silvi macam mana orangnya." balas Tamara meyakinkan Mona.
Mona menatap ke arah Amelia,gadis bertubuh padat itu mengangkat kedua pundaknya dengan acuh.
" Mungkin ada kesalahan yang tak bisa pak Bos maafin sehingga tuh sekertaris di pecat,tau sendiri bos lo itu peminpin perusahaan berdarah dingin,baginya kesalahan yang di buat anak buahnya itu selalu di ganjar dengan sebuah pemecatan.SADIS emang !!" Amel bersungut.
" Mungkin ada masalah pribadi di antara mereka." ujar Mona menduga.
" Hem,semenjak kasus perselingkuhan elo mencuat ke publik,sekertaris bapake itu makin gencar mendekati bapake,bahkan ia tampil bak pahlawan ke siangan." ucap Tamara bergosip,ekspresi wajahnya terlihat begitu memukau.
" Kasus perselingkuhan gue ??,kapan gue berselingkuh ? Yang ada gue itu di fitnah selingkuh." Mona menegaskan.Jelas saja pernyataan Tamara merupakan pencemaran nama baiknya.
" Yaa maksud gue, ketika pak Bos bermasalah dengan elo,tuh cewek kerap kali memanfaatkan situasi yang menurut gue itu gak banget." kembali Tamara meneruskan ceritanya.
" Maksudnya ? " Mona mengernyit tajam, kedua alisnya terlihat saling bertautan.
" Yaa gitu lah Mon,Sekertaris so cantik itu sering diam-diam ke ruangan pas bos . Bikinin kopi lah,teh lah,kadang suka bawain makanan lah,pokoknya dia caper banget dah." tutur Tamara nyerocos dengan raut wajah terlihat kesal.
" Lah kan tugas dia emang nyiapin keperluan sang Direktur Tam." sela Amelia.
" Keperluan pekerjaan gue tau,bukan pekerjaan pelayan,setahu gue masalah bikinin atau nyiapin makanan itu yaa tugasnya bagiannya OB lah,masa kerjaanya sekertaris gitu amat." sanggah Tamara mendelik.
" Mungkin pekerjaan tuh cewek emang merangkap jadi OB juga." sela Amelia terkekeh.
" Yaa elah,mana yang OB sama mana yang caper itu jelas keliatannya Mel." balas Tamara tak mau kalah.
" Tapi elo kok tau sekertaris itu bersikap selebay itu sama bos lo." tanya Amelia memancing.
Pertanyaan Amelia cukup menjebak gadis bertubuh ramping tersebut.
" Ya,yaa gue suka kebetulan lihat aja Mel,lagian dulu juga bukannya kita suka mergokin mereka makan siang bersama." ujar Tamara seraya melirik Mona dengan penuh isyarat.
Mona mendengar pernyataan Tamara cukup merasa tak nyaman atas kesaksiannya tentang Banny dengan sekertaris cantiknya tersebut.Tanpa mereka memberi tahu dirinya sudah paham jika Banny kerap keluar makan bersama Arnetta dan itu hanya sebatas pekerjaan,dalih yang selalu menjadi pengakuan Banny terhadapnya.
Ahhh.....
Mona menggeleng.
" Sudahlah,gue tidak mau membahas tentang mereka,bagi gue mereka sudah jadi masa lalu gue." ujar Mona sedikit ketus.
Amel menghentikan kunyaahaanya lalu menatap wajah sahabatnya itu dengan seksama.
" Jadi elo udah fixs bakalan pisah ama tuh bos?" tanya Amelia mantap.
Mona hanya mengangguk namun dengan pasti.
" Tapi, gue masih penasaran dengan seseorang di balik kerusuhan ini,gue yakin jika semua ini adalah rencana seseorang untuk memisahkan elo dengan bos kul." ujar Amel.
" Gue tidak peduli,jika pada akhirnya gue emang harus berpisahh,yaa gue harus bisa menjalaninya,toh kita menikah juga bukan karena saling mencintai,gue menikah karena sebuah keterpaksaan." lirih Mona menatap lepas.
" Tapi tidak dengan perasaan elo kan ?" sela Amelia berkilah dan itu membuat Mona membisu seketika.
Memang bukan salah siapa-siapa jika dirinya menghadirkan perasaanya dalam perjodohan ini.
Mona tersenyum getir namun ia berusaha untuk tetap tenang.
" Cinta itu tidak ada keterpaksaan,jika pun ada,gue yakin itu bukan sedang membangun rumah tangga,melainkan rumah duka." tukas Mona tersenyum hambar.
" Deuh bahasa lo." sela Tamara menggeleng pilu.
" Tapi benarkan,kita ini ingin membangun rumah tangga yang bahagia dan langgeng,tapi jika kita terpaksa menjalaninya apa itu namanya rumah tangga,gue rasa kita tidak akan pernah bahagia jika ada dalam keterpaksaan." imbuh Mona tersenyum terpaksa.
" Sebenarnya pak bos itu cinta gak sih sama elo?,buktinya saja ketika sandiwara lo mau berakhir dia justru malah meminta pernikahan itu menjadi pernikahan yang sesungguhnya,tapi sekarang dia membabi buta mengusir elo bahkan menalak elo hanya gara-gara foto ecek ecek itu.Herann gue mah." ujar Tamara seraya mendengus.
Bibir Mona mengerucut tajam,ia tak tahu harus menjelaskan apa lagi tentang perkara hidupnya ke pada kedua sahabatnya tersebut.
" Gue yakin jika elo bisa jalanai semua ini,karena cinta elo itu bukan hanya seorang Banny doang saja Mon." ucap Amelia memberikan suport.
Mona hanya terdiam dengan tersenyum penuh kegetiran yang berusaha ia sembunyikan.
" Permisi !!"
Sapa seorang pria menyapa mereka.
Secara bersamaan kedua sahabat Mona menoleh ke arah suara pria tersebut,tak berbeda halnya dengan Mona,ia pun ikut mendongkak dan menatap ke arah pria yang berdiri tepat di sampingnya.
" Apa aku ganggu kalian ??" tanya seorang pria itu menyela di tengah obrolan mereka.
Kedua sahabat Mona sedikit terpaku dengan kedatang seorang pria yang tak asing lagi bagi mereka.
" Eh mas langit biru." desis Tamara melongo.
" Angkasa Tam." sela Amel membenarkan ucapan Tamara.
" Sama aja lah,sama-sama posisinya di atas." guman Tamara nyeleneh.
Sadar dirinya di perhatikan secara seksama,pria tersebutpun merasa tak nyaman atas pandangan mereka yang begitu panjang.
" Sepertinya obrolan kalian begitu seru." imbuh Angkasa tersenyum ramah,ia berusaha untuk basa-basi meski terlihat sedikit kaku.
" Hooh,kita lagi reunian,apa masnya mau gabung ? Silahkan,silahkan !" tawar Tamara terlihat agresip,ia mempersilahkan Angkasa untuk duduk di tengah-tengah mereka.
Sret.... !!
__ADS_1
Secara bersamaan kaki Mona mendarat di ujung kakinya Tamara.
" Aww !!" Tamara memekik,merasakan injakan kaki Mona cukup kuat.
Tamara menduga jika kaki Mona tengah menginjak kakinya dengan sengaja.
" Kaki gue kenapa di injak ?" tanya Tamara meringis polos.
" Jaga sikap elo " ujar Mona setengah berbisik,bola matanya membulat.
" Tapi....," ucapan Tamara menggantung,entah kenapa kakinya mulai terasa sakit.
" Kok kamu disini kas, lagi ada acara ?" tanya Mona menatap kesekelilingnya,berharap Angkasa sedang mengadakan acara bersama teman-temannya.
" Aku kesini sengaja mencari kamu,siapa tahu aku bisa ketemu lagi disini." ucap Angkasa jujur.
Mona terkejut mendengar pengakuan pria tampan tersebut.
" Cari aku ??" seru Mona seraya menunjuk dirinya sendiri.
Mona melirik ke arah kedua sabatnya,yang dilirik terlihat menahan senyuman yang engga banget.
" Oh my god !! Bisa gitu yaa ?" desis Tamara shok seraya masih meringis.
Amel hanya memperhatikan dengan penuh antusias atas kehadiran pria tersebut.
" Iya aku nyari kamu,gak boleh ya jika aku nyari kamu?" tanya Angkasa menatap lembut.
Mona kembali menatap kedua sahabatnya yang ikut saling bertatapan satu sama lain,ada ekspersi yang tak biasa terpancar dari raut wajah keduanya.
" Tapi ada perlu apa ya ? " tanya Mona was-was.
Sebelum menjawab Angkasa membagikan pandangannya ke arah kedua sahabat Mona.
Paham dengan sikap pria itu kedua sahabat Mona terlihat bersiap-siap untuk segera pergi dari tempat tersebut.
" Ok,sepertinya kalian mau bicara penting ya ?? Mon kalau gitu kita pamit pulang dulu ya." ujar Amelia seraya merapihkan beberapa benda miliknya.
" Loh Mel,katanya lo pada mau nginap di rumah nenek gue,lagian ini udah malam juga Mel ngeri gimana-gimana di jalan." sanggah Mona cemas.
" Jalanan masih rame,bencong pun baru pada keluar " ujar Amel berseloroh,Angkasa tersenyum mendengar ucapan salah satu sahabat Mona yang di rasa cukup lucu baginya.
" Lagian besok gue kerja juga Mon,kesini karena gue kangen elo aja." sambung Tamara.
" Lo kan bisa izin sehari Tam," pinta Mona terlihat merengek.
" Cari perkara dia,kalau nasib gue sama kaya sekertaris pak bos gimana,lo mau nanggung kebutuhan gue sehari-hari." celoteh Tamara dengan nada bicara penuh penekanan.
" Alah lebay banget sih loh,masih banyak tempat kerjaan yang membutuhkan tenanga kita,hidup mati kita bukan perusaahan yang nangggung." sergah Amel ketus.
" Kebetulan di perusahaanku juga lagi membutuhkan beberapa staff untuk di bagian office." ujar Angkasa menatap satu persatu gadis tersebut.
Kedua wajah gadis itu berubah ekspresi menatap cemerlang ke arah pria tersebut.
" Nahh,pucuk di daun ulat pun tiba." desis Tamara histeris.
" Pucuk di cinta ulam pun tiba Tam." Amel membenarkan perkataan Tamara.
" Sama aja kan artiannya... Hehe hee " Tamara terlihat terkekeh.
" Gimana sama,kosakatanya aja udah beda." balas lagi Amel kesal,kelucuan Tamara selalu membuatnya sentimen.
Angkasa menggeleng melihat tingkah kedua gadis tersebut.
" Memangnya kamu lagi butuh sttaf buat ofice kamu Kas ?" tanya Mona menimpali.
" Iya,kebetulan aku menambah perusahaan baru,jadi butuh beberapa staf untuk di perusahaan yang baru." jawab Angkasa begitu tenang.
" Gue rasa elo lebih membutuhkannya Mon." ucap Amelia tersenyum penuh arti.
Mona terlihat salah tingkah ketika Amel menunjuk dirinya untuk bekerja di tempat perusahaanya Angkasa.
Tamara terlihat ikut tersenyum-senyum dengan sikap polosnya yang menyesatkan.
" Gue sih yes !" selorohnya dengan ekspresi penuh arti.
Mona mendelik ke arah kedua sahabatnya untuk tidak bersikap berlebihan.
" Kalian bertiga pun boleh." tambah Angkasa menimpali,ia tidak ingin memperlihatkan jika ia memiliki maksud tertentu kepada Mona,ia sengaja berbicara seperti itu agar Mona tidak curiga kepada dirinya.
" Kalau kita bertiga sama-sama kerja di perusahaan masnya,nanti kita kerjaannya malah ngegosip mulu mas,tahu sendiri mulut kita gada remnya,alias blong." sela Tamara dengan tersenyum penuh canda.
" Yang penting kerjaan beres,simple kan ?" balas Angkasa tersenyum bijak.
Tamara terlihat tertawa-tawa mendengar ucapan pria berparas tampan tersebut.
" Tapi ini seriuskan,ada lowongan pekerjaan?" tanya Amelia menegaskan.
" Tentu saja." balas Angkasa pasti.
" Tapi aku sudah janji Mel,bahwa aku akan bekerja di perusahaan teman kuliahku dulu." Mona menolak dengan hati-hati.
" Itu kan bisa di cansel Mon." kilah Tamara dengan enteng.
Mona melirik tajam ke arah Tamara.
__ADS_1
" Nanti bisa lo atur lah." Amel menimpali,sepertinya mereka berdua memberi harapan baru terhadap Mona untuk bisa dekat dengan pria santun tersebut.
" Yaa udah,kalau gitu kita pamit dulu ya !" ujar Amel seraya merapihkan tasnya lalu memberi kode penuh isyarat ke arah Tamara,tak butuh waktu yang lama Tamara memahami isyaratnya Amelia.
" Kalian udah gak kangen gue lagi " tanya Mona memelas.
" Gampang,elo atur lagi pertemuannya yaa,di tempat ini lagi juga bolehh." balas Amel tersenyum seraya melirik penuh arti ke arah Angkasa yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arah Mona.
Dengan tersenyum terpaksa Mona tak mampu menahan ke inginan kedua sahabatnya untuk pulang.
Setelah kedua sahabatnya berpamitan kini tinggalah dirinya bersama Angkasa yang masih duduk dengan makanan sisa-sisa kedua sahabatnya Mona.
" Kamu mau pesan makanan ?" tanya Mona terlihat salah tingkah.
" Tidak usah,aku sudah makan." jawab Angkasa mengelus perutnya.
" Jadi ? " tanya Mona menggantung.
" Jadi aku kesini sengaja untuk cari kamu ada hal penting yang mau aku tanyakan sama kamu." ujar Angkasa to the point.
Mona menatap heran akan perkataanya Angkasa.
" Tentang apa ?" tanya Mona terlihat tegang.
Angkasa tertawa kecil setelah melihat ekspresi wajah Mona yang begitu kaku dan tegang.
Mona mengernyit melihat sikap pria itu yang tiba-tiba menertawakannya.
" Kok kamu malah tertawa ? Ada yang lucu ?" tanya Mona mendilak.
" Habisnya wajah kamu tegang banget,seolah-olah aku ini akan mengintrogasi kamu." ujar Angkasa tertawa kecil.
Pyuhhh.....
Mona terlihat menarik napas panjang,ia berusaha untuk sedikit rileks dengan mencoba tersenyum simpul.
Hal yang sama di ulang kembali olehnya,ia pastikan jika dirinya lebih tenang dan santai.
" Ada apa ?" tanya Mona pelan.
" Tapi sebelumnya aku minta maaf jika pertanyaanku sedikit ikut campur dalam urusan pribadi kamu." tutur Angkasa sopan.
" Urusan pribadi ku ?" tanya Mona mengernyit.
Kembali pernyataan pria itu membuatnya semakin deg-degan sekaligus penasaran.
Angkasa menarik napas panjang dengan sikap penuh drama.
Mona menyeringai lucu melihat sikap pria tersebut.
" Mona, " Panggil Angkasa lirih.
Mona semakin resah,baginya ini seperti sedang di interviw oleh seorang atasan.
" Aku tidak sengaja melihat di beberapa media sosial tentang berita perselingkuhan kamu dengan seorang pengusaha muda ternama,apakah semua itu benar ?" tanya Angkasa langsung ke topik pembicaraan.
Benar saja,balon hijau itu meletus,dan membuat hati Mina seketika kacau.
Mona tercekat ,namun ia terlihat menarik napas lebih dalam,pertanyaan pria itu mampu membuat dadanya bergemuruh hebat.
Mona terdiam menundukan kepalanya kian dalam.
Melihat reaksi Mona seperti itu,sontak membuat hati Angkasa di landa resah,rasa tidak enak hati mulai menyergap perasaanya.Namun jujur saja dirinya bukanlah tipe laki-laki yang pandai berbasa basi,bahkan membiarkan hal kecil itu menggangu pikirannya.
" So sory jika pertanyaanku tidak berkenan di hatimu." ucap Angkasa terbata.
" Tidak,aku tidak keberatan,sama sekali tidak." balas Mona tegas,ia sadar tak ada alasan untuk dirinya diam tanpa bicara demi menyangkut nama baik dirinya,kini saatnya ia harus buka suara perihal permasalah yang nyaris membuat karirnya hancur atas fitnah tersebut.
" Apa yang beredar di media sosial itu tidalah benar,aku tidak melakukan hal bodoh seperti itu,foto-foto yang beredar di media sosial sekarang ini,itu hanya lah tipuan belaka,apa yang ada di foto-foto itu hanya insiden kecil yang telah di besar-besarkan sedemikian rupa oleh seseorang untuk membuat reputasiku hancur." balas Mona lantang,tak ada kesedihan yang membentang di wajahnya,ia berani untuk berkata benar.Meyakinkan orang lain jika dirinya tidak pernah melakukan hal itu.
Mendengar penjelasan Mona Angkasa merasa sesak,ia percaya jika Mona tidak mungkin melakukan hal seperti itu.
" Apakah ada seseorang yang sedang memiftnahmu ?" tanya Angkasa penuh rasa penasaran.
" Sepertinya begitu,apa yang terjadi pada malam pesta itu semua hanya insiden kecil,namun ada seseorang yang mengambil kejadian itu dengan menggiring sebuah opini,sehingga membuat kejadian itu seperti adegan yang di sengaja." jelas Mona lugas.
Angkasa mengangguk pelan,sepertinya ia memahami dari apa yang di sampaikan Mona kepada dirinya.
" Aku yakin jika semua ini hanya kesalah pahaman saja,media sosial memang kejam." imbuh Angkasa meyayangkan jika apa yang menimpa Mona begitu sangat merugikan.
" Sudahlah,,aku mohon jangan membahas itu lagi." pinta Mona lirih.
" Maafkan aku Mona,aku hanya ingin klarifikasi dari kamu agar aku tidak salah paham dan memandang kamu salah.
Mona terhenyu,ia cukup tersentuh dengan ucapannya Angkasa,andai saja Banny bersikap seperti itu dan bersedia mendengar penjelasanya mungkin kata talak itu tidak akan terucap begitu saja dari mulutnya.
Mona tertunduk entah kenapa ucapan Angkasa mengundang kembali air matanya yang telah mengering.
" Semua orang menuduhku berselingkuh,dan mereka percaya jika foto-foto tersebut benar adanya,padahal apa yang mereka lihat tidak lah benar." ucap Mona begitu lirih.Ada sebuah perasaan yang begitu tertekan.
" Dan termasuk suami kamu ?" tanya Angkasa pilu.
Mona memaksakan diri untuk menatap wajah pria tersebut dengan batin terasa tercabik-cabik.
Tak hanya kali ini saja sosok Angkasa peduli terhadap dirinya,jauh sebelum kejadian ini,sosok Angkasalah yang menenangkan hatinya dikala rapuh.
__ADS_1
Mona mengulas senyuman yang begitu pahit.