CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 111


__ADS_3

SEBUAH nada pesan singkat masuk ke gawainya Mona yang tergeletak tak jauh dari laptopnya.Mona menoleh lalu mengambil ponsel tersebut dan membuka notifikasi pesan pada layar ponsel.


Zeanu mengirimnya pesan singkat melalui Wa.


Mona menatapnya dengan penasaran akan isi pesan tersebut.


Zeanu : Siang Mon,gue tunggu lo lima menit lagi ya di caffe sebrang kantor lo ." Bunyi pesan singkat itu tertulis sangat singkat dan jelas.


Kedua alis gadis tersebut terlihat mengerut hingga kedua ujungnya nyaris bertemu,sesaat gadis itu terlihat memikirkan sesuatu,sepertinya siang nanti tidak ada hal yang penting atau keperluan lain nya selain makan bersama dengan kedua sahabatnya tersebut.


Mona pun hanya bisa menjawab "Ok."


Mona mengkunci layar ponsel tersebut dan menatap kembali ke arah layar laptopnya.


Begitu banyak masalah yang sedang ia hadapi saat ini,jika dulu ia di pusingkan dengan masalah finansialnya kini ia di buat lebih pusing dengan perasaannya.


Mona menghela lalu mencoba untuk tetap tenang meski di dalam perasaanya bergemuruh tak karuan.


Beberapa lembar kertas laporan yang berserakan di meja kerjanya di rapihkan nya lalu di simpan tertata di samping laptopnya, dengan perasaan malas ia pun segera beranjak dari kursi duduknya berniat untuk segera menemui Zeanu.


Tiba-tiba pintu ruangan nya terbuka dan seorang gadis menyembul dari balik pintu tersebut dengan menyeringah dengan ekspresi wajah kocak.Mata belo Mona membulat dan menatap tegang ke arah gadis tersebut.


" Lo Mel,bikin gue kaget aja,kirain siapa ?" Ucap Mona dengan menarik napas lega,setelah tau sahabatnya yang masuk ke ruangannya tersebut.


" Ada apa sih?kok lo panik gitu !" Tanya Amel dengan menatap heran ke arah wajah Mona yang sedang gelisah berat.


" Gak ada apa-apa." Jawab Mona pelan.


" Serius ??." Ucap Mona menatap penuh selidik.


" Gue sih gak yakin jika lo baik-baik saja.Cerita lah jika lo ada masalah. ?" Tanya gadis itu menatap penuh curiga ke arah Mona.


" Lo ada apa kesini ?" Tanya Mona mengalihkan pembicaraan.


" Jawab dulu pertanyaan gue, bukan malah balik nanya gue." Guman Amel dengan merutuk kesal.


" Gue gak ada apa-apa Mel,serius." Ucap Mona berusaha menyakinkan sahabatnya itu.


" Kalau lo gak ada apa-apa,gak mungkin muka lo sepanik itu ketika gue dateng,hayo loh !lo pikir gue siapa gitu ya? " Ucap Amel mencandai Mona.


Mona mendilak dengan perasaan sebal.


" Gue itu kenal lo bukan baru sehari-dua hari Mon,gue udah karatan kali kenal ama lo itu." Terang Amel seraya menyimpan sebuah map di atas meja kerjanya Mona.


" Lebay loh." Ucap Mona seraya melengos.


" Serius,jadi gue tahu jika lo ada masalah atau enggaknya." Jelas Amel berdiri di hadapan gadis tersebut dengan menatap penuh kecurigaan.


" Kenapa sih si mel ,lo bisa tahu jika gue lagi mumet begini ?"


Mona membatin dengan menatap dalam sahabatnya tersebut.


" Eh apa itu ?" Tanya Mona mengalihkan kembali pertanyaan nya setelah melihat map di atas mejanya tersebut.


" Itu laporan gue." Jawab Amel datar.


" Langsung kasih sama pak Banny saja Mel." Ucap Mona seraya mengambil kembali map tersebut.


Amel melongo melihat penolakan dari sahabatnya tersebut.


" Lah lo kan sekertarisnya pak Banny,masa gue ujug-ujug ngasih map ini ke dia,tar gue kena komplen dia lagi,dikira gue caper gitu sama tuh bos." Jelas Amel dengan raut wajah gusar.


" Tapi kali ini lo mending kasih langsung saja deh sama pak bos." Ucap lagi Mona dengan menatap malaa ke arah sahabatnya tersebut.


" Heemmm...." Bola mata Amel melirik dengan berbagai perasaan terhadap Mona.


" Gue yakin.Pasti lo ada masalah sama bos lo,benarkan?" Tanya Amel menatap pasti ke arah sahabatnya yang sibuk menutupi perasaanya tersebut,Amel merasa yakin jika sahabatnya tersebut sedang ada sesuatu hal yang di sembunyikan darinya.


Mona menarik napas panjang lalu tatapannya mengiyakan semua apa yang di ucapkan sahabatnya tersebut dan sorot matanya terlihat mulai nanar.


" Gue itu kenal lo bukan sehari dua hari Mon." Ucap Amel menatapnya dengan seksama.


Mona mengangguk lalu tersenyum hambar.


" Ada masalah apa ?" Tanya Amel menatap dalam sahabatnya tersebut.


" Nanti gue cerita,sekarang gue udah d tungguin Zeanu di caffe sebrang kantor kita." Jelas Mona seraya menyerahkan kembali map tersebut ke tangan Amel.


Gadis bertubuh sintal itu mengernyitkan kedua alisnya dengan menatap heran sekaligus terheran-heran atas sikap galau sahabatnya itu.


" Hah,di tungguin si cowok tanpa nama ?mau ngapain dia ?" Tanya Amel seraya melangkah mengikuti langkah Mona yang beranjak keluar ruangannya.


" Biasa,ngebahas masalah nyokap gue." Balas Mona menoleh Amel yang berjalan di belakangnya.


" Urusan nya penting banget yaa ?" Tanya Amel dengan mengekor sahabatnya tersebut.


" Nyokap gue ingin ketemu gue,soalnya nyokap masih kepikiran atas masalah ini." Jelas Mona pelan.


" Dan lo belum bisa maafin nyokap lo ?" Tanya Amel menatap ragu.

__ADS_1


" Tepatnya seperti itu,because ada hal yang belum bisa gue terima atas perlakuan nyokap gue ke gue ." Jelas Mona dengan suara berat.Raut wajahnya tergurat kesedihan yang teramat dalam.Amel menatap dengan sendu ke arah sahabatnya tersebut.


" Gue paham,tapi gak bagus juga jika lo terlalu lama bersi tegang sama nyokap lo itu.Ingat apa pun itu kesalahannya dia tetap orang tua lo Mon,perempuan yang membuat lo ada." Ucap Amel berusaha melunakan hati sahabatnya itu dengan caranya.


Mona menarik napas panjang lalu menatap gamang ke arah sahabatnya tersebut.


" Itu sih terserah lo,gue sebagai sahabat pasti akan mengingatkan lo dalam hal kebaikan,karena bagaimana pun juga ia adalah nyokap lo,yang pernah merawat lo sebelum pada akhirnya dia ninggalin lo,lagian dia ninggalin lo juga pasti ada alasan yang kuat,dan bisa jadi itu dalam kondisi tertekan.Kita sebagai anak tidak bisa menyalahkan sepenuhnya sama mereka,karena ini adalah sebuah takdir atas kehidupan lo." Tungkas Amel dengan mengangkat tinggi bahunya.


Sesaat gadis tersebut terdiam mencoba mencerna apa yang di ucapkan sahabatnya baiknya itu,dan ia pun mengangguk pelan,Mona paham betul apa yang telah di sampaikan sahabatnya itu terasa ada benarnya.


Mona tersenyum tipis ke arah gadis bertubuh sintal itu meski penampilan nya terlihat cuek dan arogan namun Amel adalah sosok sahabat yang selalu peduli terhadap dirinya bahkan ia selalu mensuport dirinya dengan sepenuhnya.


" Maksih ya Mel,lo selalu peduli dan ngingetin gue terus." Ucap Mona seraya menutup kembali pintu ruangan nya tersebut dengan rapat.


" Gue tahu betul kehidupan lo dulu seperti apa,jadi gue akan selalu ada buat lo Mon." Ucap Amel dengan tersenyum penuh arti.


" Ahh lo bikin gue terharu aja." Ucap Mona seraya merangkul tubuh sintal tersebut.


" Alah cengeng lo." Ucap Amel dengan menggedikan tubuhnya dengan enteng.


" Eh gue udah telat nih!Mel gue pergi dulu yah,takut nya Zeanu udah lama nungguin gue lagi." Pekik Mona seraya menoleh jam yang ada di tangannya.


" Terus ini laporannya Mon ?" Tanya Amel dengan menatap bingung map tersebut.


" Kan udah gue bilang,elo langsung kasih sama bos aja,ada kok dia di ruanganya." Ucap Mona seraya bergegas melangkah menuju dalam kapsul lift tersebut yang terbuka.Amel hanya melongo dan menatap bingung ketika sahabatnya tersebut menghilang tertelan pintu lift tersebut.


" Dasar emang ni orang,masa gue harus kasih langsung ke bos kul sih,tengang gue kalau masuk ruangan boskul." Gumannya pelan dan menatap pintu lift tersebut dengan perasaan jengkel.


Tepat gadis itu selesai berguman seorang pria tampan menyembul dari balik pintu yang bertuliskan Direktur Utama,Amel pun menoleh dengan perasaan sangat was-was.


Dan pria tersebut menatap heran atas keberadaan dirinya yang berada di lorong ruangannya tersebut.Wajah pria tampan tersebut menatap penuh wibawa ke arah Amel yang masih berdiri dengan perasaan yang di liputi ketegangan.


" Siang pak Banny !" Sapa gadis tersebut dengan penuh hormat sekaligus segan.


Pria dingin itu mengangguk pelan dengan tanpa ekspresi.


" Mmmm.....,baru saja saya mau ke ruangan bapak." Ucap Amel tersenyum tak pasti setelah tatapan pria tersebut semakin kaku ke arahnya,tepatnya ketika bosnya tersebut mengetahui dirinya sedang berdiri di depan pintu ruangannya.


" Ada apa ?" Tanya pria itu menatap dingin.


" In...,ini pak laporan yang bapak minta dari bu Silvi." Jelas Amel gugup lalu ia pun menyodorkan map berwarna coklat tersebut kehadapan pria tersebut.


Wajah pria tersebut menyeringah heran lalu menatap gadis tersebut dengan kaku.


" Kenapa kamu yang menyerahkan laporan itu,memangnya kamu tidak di beri tahu,jika seluruh laporan kegiayatan perusahaan ini di serahkan terlebih dahulu kepada sekertaris saya ? lalu apa gunanya sekertaris saya jika laporannya kamu buat langsung di serahkan ke saya." Tanya pria itu dengan menatap datar gadis tersebut.


" Mampus kan gue,kena kan gue sama omongan pedasnya,Mona lo dasar emang yaa.....!! bikin jantung gue copot."


Rutuknya dalam batin gadis itu mengumpat sahabatnya tersebut.


pria yang ada di hadapannya itu menyipitkan matanya seolah-olah ia memahami isi gumanan hatinya.


" Mohon maaf pak,sebelumnya tadi saya sempat bertemu dengan bu Mona depan ruanganya,namun karena dia kebetulan hendak pergi,jadi dia menyuruh saya untuk memberikan langsung laporan ini kepada bapak." Jelas Amel dengan perasaan takut bercampur was-was setelah melihat bola mata elangnya Banny menatap tajam seperti hendak menerkamnya.


" Memangnya sekertaris saya akan pergi kemana ?" Tanya lagi pria itu menatap semakin galak.


" Hmmm....,anu pak,bu Mona pergi keluar sebenar ada hal penting baginya" Balas Amel dengan terbata-bata,meski dia sering bersikap kasar dan tegas,namun jika berhadapan langsung dengan pria jutek ini tetap saja nyalinya berubah ciut.


" Saya tanya dia pergi keluar kemana ?" Tanya Banny menyipitkan matanya dengan sinis,layaknya seorang intel yang sedang mengintrogasi seorang mafia.


" Hmmm...." Amel terlihat gelisah jari tangannya terlihat meremas pelan rok span pendeknya.


Tatapan Banny semakin memancarkan ketajamannya sehingga Amel tidak bisa menghindar dari tatapan elang bosnya tersebut.


" Hmmm....,bu Mona lagi keluar,tapi saya kurang tahu percis keluarnya kemana nya pak.Tapi bu Mona hanya bilang jika dia akan bertemu dengan pak Zeanu.....,Opss !!!" Ucap Amel dengan polos lalu ia pun dengan repleks menutup mulutnya, dengan bola mata melotot sempurna.


Wajah tampan Banny seketika berubah ketika mendengar ucapan gadis tersebut yang tak tidak sengaja keceplosan.


Tubuh gadis itu bergetar,perasaannya kian di landa ketakutan,ia pun hanya bisa tertunduk menyesali ucapannya yang sudah terlepas begitu saja mengatakan tentang keberadaan sahabatnya tersebut.Akan tetapi di tengah rasa ke takutkanya sekilas ia menangkap jelas perubahan raut wajah sang bosnya tersebut, dan entah kenapa otak nakalnya seketika muncul untuk membuat bosnya itu semakin cemburu.


Gadis bertubuh sintal itu melirik kecil ke arah raut wajah bosnya yang mendadak berubah cemburu setelah tahu sekertarisnya itu pergi dengan pria lain.


Ada ke inginan dirinya untuk membuat bosnya semakin cemburu.


" Dia tidak bilang sama kamu,jika dia ada perlu apa dengan Zeanu ?" Tanya pria tersebut menatap penuh tanya.


" Oh,kalau masalah itu saya kurang tahu pak,tapi bu Mona bilang mereka udah janjian sebelum nya pak." Ucap Amel dengan mengompori pria tersebut.


Wajah tampan itu semakin berubah aneh,ia trlihat sedang memendam perasaan yang sulit di terka.


Banny melipat kuat bibirnya dengan menatap gadis itu dengan berbagai perasaan.


" Maaf pak,saya permisi dulu." Pamit Amel dengan segera melangkah menuju pintu lift tersebut.Sementara Banny terlihat menahan kekesalan yang tertahan di dadanya.


Entahlah ia merasa terbakar dengan perasaan nya sendiri.Kali ini ia benar-benar cemburu atas sikap Mona yang pergi menemui Zeanu sahabatnya tanpa sepengetahuan nya.


**********


Zeanu menatap kosong ke arah luar pelataran caffe ia menanti kedatangan Mona dengan perasaan gusar,lalu ia pun kembali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan nya tersebut.

__ADS_1


Selang beberapa menit.......


" Sorry Zean,lo udah nunggu lama ya ?" Tiba-tiba seorang gadis tersenyum ramah seraya menghampirimya.


Zeanu menoleh ke arah pemilik suara itu.


" Lumayan,gue pikir lo gak akan datang lagi,setelah kemarin lo ngebatalin pulang bareng gue." Ucap pria tersebut menatap semeringah.Sikapnya yang hangat itu selalu membuat gadis tersebut merasa nyaman di setiap pertemuannya.


" Sorry yah Zean,gue gak bermaksud untuk mempermainkan perasaan lo,tapi gue ada pekerjaan penting bareng pak Banny." Ucap gadis tersebut menarik salah satu kursi dan duduk di hadapan Zeanu.


" Gue yakin jika bos lo itu menambahkan kembali waktu pekerjaan lo,agar lo tidak jadi pulang bareng gue." Ucap Zeanu menatap datar gadis tersebut.


" Lo jangan berpikiran buruk seperti itu,gue memang lembur,sedikit ada tambahan pekerjaan." Jelas Mona menyakinkan Zeanu.


" Memanya tidak ada staff yang lain untuk menyeleseikan pekerajaan itu semua ?" Tanya Zeanu sedikit melengos.


" Ini masalah pekerjaan bisnis barunya pak Banny Zean." Ucap Mona dengan menatap serius.


" Yaa sudahlah,mau di apain lagi,Banny memang tidak suka jika kita bekerja dengan setengah-setengah." Sambung pria tersebut dengan mengangkat tinggi bahunya.


" Sebaiknya kita gak usah bahas masalah pak Banny deh,gue lagi jenuh nih." Ucap Mona dengan terlihat suntuk.


Zeanu menatap dengan perasaan lain,entah kenapa perasaan nya berubah iba terhahadap gadis yang ada di hadapannya tersebut.


" Mon,lo baik-baik saja ?" Tanya Zeanu menyimak wajah gadis tersebut dengan seksama.


" Gue baik-baik saja kok Zean !" Jawab Mona dengan suara pelan.


" Sepertinya elo cape ya dengan sandiwara ini ?" Tanya Zeanu menatap dalam.


Mona terkesiap lalu menatap pria hangat itu dengan berbagai perasaan.


" Gue tahu,jika elo merasa capek dengan semua ini." Tungkas Zeanu menatap lekat ke arah wajah Mona yang mulai terlihat menahan sesuatu.


" Mon," Ucap pria itu dengan menatap lembut lalu di raihnya tangan gadis itu yang bertumpu di atas meja,perlahan di usapnya dengan lembut tangan gadis itu dengan perasaan halus.


Mona terdiam membiarkan pria tersebut mengusap lembut tangannya,entah kenapa ia merasakan sebuah ketenangan yang begitu dalam setiap kehadiran pria tersebut yang menguatkan dirinya.


Gadis itu tersenyum pasi ke arah Zeanu lalu menunduk dalam.


" Jika apa yang elo lakukan tak sebanding dengan apa yang lo yakini,lebih baik elo mundur dari hubungan sandiwara ini,jangan menyiksa diri lo sendiri." Ucap Zeanu dengan lirih.


Mona menggigit kuat bibir bawahnya dengan perasaan yang berat,ia berusaha menahan sesak yang kian menghimpit perasaanya.


Kenapa Zeanu begitu peduli terhadap dirinya?


Kenapa Zeanu bersikap seperti itu di saat hubungan dirinya berubah menjadi hubungan persaudaraan.Mona menggeleng lalu membuang jauh pandangannya,berusaha untuk terjebak dalam perasaan-nya itu,dan ia pun sekuat tenaga mengalihkan perasaan itu yang membuatnya semakin tertekan.


" Gue tidak bisa menghindar dari lingkaran perjodohan ini Zean,karena......" Ucapan nya menggantung.


" Karena balas budi ???" Sela Zeanu dengan cepat memotong kalimatnya.


Mona menoleh pria tersebut dengan berbagai perasaan perlahan ia mengangguk dengan perasaan berat.


" Mon,kan gue pernah bilang sama lo,jika membalas kebaikan seseorang itu bisa dengan cara yang lain,tidak dengan seperti ini." Jelas Zeanu menatap nanar ke arah wajah gadis tersebut.


Mona menggeleng lalu menatap dengan perasaan sembilu.


" Semua orang belum tentu bisa memahami permasalahan ini Zean,gue tidak bisa menjelaskan secara detail bagaimana baiknya seorang pak Wiguna yang telah banyak menyelamatkan kehidupan gue,di saat gue terpuruk tak ada satu pun yang peduli akan kehidupan gue,termasuk kedua orang tua gue Zean,dan hal itu pastinya lo tidak akan pernah merasakan apa yang gue rasakan di saat itu." Jelas Mona dengan suara bergetar.


Zeanu menghela,sepenuhnya ia paham dengan apa yang di rasakan gadis tersebut.


" Itu lah sebabnya gue belum bisa menerima kehadiran nyokap gue dalam kehidupan gue sekarang." Jelasnya dengan suara semakin parau.


Zeanu menarik napas panjang dirinya tahu arah pembicaraan ini akan bermuara kemana,dan pasti akan berujung pada kesalahan yang telah di perbuat oleh orang tuanya gadis tersebut.


" Jadi elo menyalahkan sepenuhnya kejadian ini di kesalahan nyokap lo ?" Tanya Zeanu gamang.


" Yah,jika gue tidak di tinggal nyokap gue,mungkin hidup gue tidak akan sepahit ini,dan gue juga tidak harus balas budi seperti ini kepada orang lain." Ujar Mona dengan mata mulai memerah.


" Mona,pliss lo jangan menyalahkan sepenuhnya akan kesalahan ini kepada nyokap lo,semua ini adalag takdir dari TUHAN Mon lo harus percaya itu." Ungkap Zeanu mencoba membuka hatinya Mona yang tertutup oleh rasa kebenciannya terhadap orang tua kandungnya.


" Berdamailah dengan perasaan lo itu,jika semua yang telah rerjadi adalah garis kehidupan lo dan takdir lo,jadi bukan semata-mata kesalahan nyokap lo saja." Ucap Zeanu tetap berusaha keras agar Mona mau memafkan kembali kesalahan orang tuanya Mona.


Mona terdiam saat buliran bening itu mulai menganak sungai di pelupuk matanya.


" Amarah seorang anak kepada orang tuanya akan menjadi sebuah penyesalan." Ucap lagi Zeanu dengan lirih.


Mona terkesiap lalu menatap penuh rasa di lema ke arah wajah pria tersebut.


" Dan gue kasih tau, jangan sampai lo menyesal dengan amarah itu,karena penyesalan adalah laksana neraka." Terang Zeanu menatap lurus.


Mona menatap semakin dalam pria yang tengah membangunkan dirinya dari sikap ke egoisannya tersebut,perlahan tapi pasti kata-kata yang di ucapkan pria tersebut menggetarkan perasaannya.


" Nanti malam,Anniversary nyokap lo dengan bokap gue,lo tidak perlu minta maaf yang penting lo hadir, dan ini akan menjadi sebuah kado yang terindah atas hari Anniversary nya orang tua kita Mon,karena gue yakin kehadiran lo akan menjadi hal terindah dalam pernikahan orang tua lo mau pun gue." Jelas Zeanu menatap penuh harapan jika Mona bisa hadir dalam balutan kebahagian di tengah-tengah keluarganya.


Mona tertegun menatap dengan berbagai perasaan,hatinya seketika luluh lantah dengan apa yang telah di ucapkan pria tersebut.


Mona menatap dalam pria yang ada di hadapan nya itu,yang telah mampu membuka mata hatinya yang sekian lama tertutup,ia sadar jika ke egoisannya selama ini menutup hatinya untuk memaafkan kesalahan orang tuanya,semua ini pastinya bukanlah kemauan sang ibu nya jika ia terluka atau pun menderita,ini lebih ke fakta kehidupan nya jika semua ini adalah sebuah takdir yang TUHAN gariskan dalam kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2