CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 87


__ADS_3

SATU permasalahan sudah teratasi dan seorang Mona mampu menyelamatkan nasib para pegawai clening service dari ketegasan serta ketidakperasaanya sang bos.


Mona menarik napas panjang lalu menatap frustasi ke layar laptopnya.


Pekerjaan yang telah banyak menguras adrenalinnya,tak hanya dalam urusan pekerjaannya saja Mona pun di paksa untuk memacu kembali adrenalinnya dalam menghadapi sikap diktaktornya dan sikap dinginnya sang bos.


Yaa Mona memang harus kuat dan siap menghadapi beberapa sikap ajaibnya seorang Banny.Pria berusia 33 tahun itu menjabat sebagai Direktur Utama di perusahaannya yang kini namanya mulai di perhitungkan di mata perusahaan lainya yang ternama di negeri ini.


Di bawah kepeminpinan seorang Banny,perusahaannya kini semakin berperforma dan berkompeten.


Di tambah dengan memiliki faras yang tampan menawan Banny Pratama Wiguna di sejajarakan dengan para aktor korea sekelas lee min ho,bagi setiap perempuan yang melihatnya pasti akan jatuh hati di buatnya tanpa harus berkenalan terlebih dahulu,selain itu ia berkarisma tinggi dengan memiliki dua bola mata kelereng yang tajam,sehingga di kala sedang marah iris matanya itu terlihat sangat memancar.


Rahang yang tegas serta mempunyai bentuk tubuh yang atletis serta sepasang dua kaki yang jenjang yang sering di jadikan tolak ukur kesempurnaan seorang model pria tertampan sedunia.


Mungkin TUHAN sedang tersenyum ketika menciptakan seorang Banny pratama wiguna putra tunggal dari seorang pemilik pengusaha kaya raya di salah satu kota ternama di INDONESIA.


Mona tersenyum tipis ketika membayangkan akan sosok bosnya itu,meksi ia berusaha memungkiri tapi kenyataanya bosnya itu telah mencuri seluruh perasaannya itu.


*********


SEBUAH bunyi nada pesan singkat masuk ke ponselnya Mona, sehingga mengalihkan konsentrasinya dari layar laptop. Lalu Mona menoleh dengan penasaran ke arah layar ponselnya yang menyala,ia pun mengambil ponsel itu yang terletak tak jauh dari laptopnya.


Mona perlahan megusap layar ponselnya itu dan membuka kunci pada layarnya.


Amel:" Gue udah di kantin bareng Tamara."


Mona menoleh ke arah jam yang berada di tangannya,dan benar saja ternyata waktu sudah menunjukan jam 12:10 menit.


" Cepet banget udah jam makan siang saja,waktu lama-lama bertupar semakin cepat,tanda mau akhir jaman kali ya?" Gumannya seraya merapihkan peralatan kerjannya.


Sebelum beranjak dari tempat duduknya ia pun menoleh sejenak ke arah ruangan Sang bos itu yang terlihat sepi,


Mungkin bosnya sudah keluar atau mungkin saja ia sedang ke toilet.


Pikir Mona dengan santai lalu ia pun hanya mengangkat bahu dengan acuh,dan tak lama kemudian ia pun segera bergegas pergi menuju kantin di lantai tiga.


Setibanya di kantin Mona menyapu pandangannya keseluruh pelosok ruangam,ia mencoba mencari dua sosok manusia ceriwis sahabatnya itu, dan Mona pun tak berapa lama menemukan dua sosok ceriwis itu dengan seperti biasa duduk di pojokan ruangan kantin dengan asyik bercanda seraya menikmati santapan siangnya.


" Suara kalian sampe kedengeran ke lantai 5 loh." Seloroh Mona setibanya di hadapan mereka.


" Itu suara Amel pasti Mon." Sela Tamara menunjuk Amel.


" Di kira mulut gue Toa." Sela Amel merengut.


" Lama amat sih." Ucap Amel melirik Mona.


" Kerjaan gue ngantri panjang.Kalau gak lo Wa mungkin gue gak makan siang." Balas Mona seraya menyimpan ponselnya di meja.


Lalu iapun menarik salah satu kursi dan duduk di samping Tamara.


" Semangat beb,duitnya juga kan gedean lo di banding kita jadi resiko lo ." Tamara menyela.


" Tumben omongan lo bener." Ucap Amel seraya menyuapkan lagi nasi ramesnya itu.


" Tadi pagi aja gue habis ngurusin nasib orang,hampir anak-anak Cs di berhentikan paksa oleh boskul." Ucap Mona seraya membagikan pandangananya ke arah kedua sahabatnya dengan tatapan lelah.


" Kok bisa ada masalah apa emangnya ?" Tanya Amel sedikit terkejut.


" Gara-gara ruangan boskul belum di bersihkan,yaa tau lah boskul tuh kaya gimana orangnya?terlalu ferfectionist" Ucap Mona seraya memanggil si ibu kantin dengan lambaian tangannya.Tak lama si ibu kantin pun datang menghampiri dengan tersenyum hangat.


" Apa Bu Mona?Pasti Bu Mona mau pesan soto pedas tanpa kol." Ucap si ibu kantin itu yang sudah hapal dengan makanan favoritnya Mona.


" Kok ibu tau see kesukaan saya ?" Tanya Mona dengan tersenyum penuh kagum.


" Yaelahh,anak Tk juga tahu jika tiap hari lo pesan itu itu aja.Pasti akan tahu lahh." Guman Amel seraya menyuapkan lagi makananya dengan terpaksa.


" Sama lemon teanya juga ya bu." Tambah lagi Mona tersenyum lembut.


" Baik bu Mon,di tunggu ya !" Ucap bu kantin tersenyum.


" Eh Mon,terus gimana jadinya nasib anak-anak Cs itu ?"Tanya Amel menatap penasaran.


" Bersyukurnya mereka masih bisa gue selametin dengan ngebujuk boskul untuk tidak memecat mereka." Jelas Mona dengan tersenyum bangga.


" Memangnya keputusan boskul gak bisa di negoh?secara gitu tu orang yang punya kendali di perusahaan ini." Tanya Amel melirik Mona.


" Mona gitu loh,buktinya anak Cs masih bisa kerja lagi. ?" Ucap Mona dengan menyombongkan dirinya.


" Sombong amat !!" Sela Amel mendegus.


Mona terseyum geli melihat ekspresi temannya yang satu ini.


" Tapi,gue gak bisa mempertahankan pak Butong." Ucapnya lirih.


" Loh apa hubungannya dengan pak Butong,dia kan bagian teknisi." Sela Amel kembali penasaran.


" Emang pak Butong lupa menyalakan lampu ruangan pak Banny sehingga pak Butong kena sp juga?" Tanya Tamara dengan polosnya.


Amel menggeleng lalu menatap kembali Mona.


" Bukan gitu Tam,kemren pak Butong ia lupa untuk tetap mengoprasikan lift,kan gue sama pak Banny secara lembur jadi dari pihak teknisi lupa untuk tetap mengoprasikan liftnya.Alhasil pak Butong kena pecat." Jelas Mona dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


Semangkok soto lengkap dengan segelas lemon tea mendarat di meja,bu kantin meletakanya di hadapan Mona lalu mempersilahkan untuk menyantapnya,Mona mengangguk pelan ke arah bu kantin itu.


" Kok bisa ?sepatal itu Mon?" Tanya Amel dengan wajah terkejut.


" Seharusnya pak Butong menugaskan salah satu staffnya untuk ikut lembur bareng bos gue,eh mungkin dia lupa kali ya?atau gimana gitu,gue juga gak ngerti." Jelas lagi Mona dengan menatap penuh empati.


" Kasian ya pak Butong,gak bisa naik lift lagi." Sela Tamara seraya menyesap habis jusnya.


" Bukan gak bisa naik lift lagi Tam,tapi gak bisa kerja lagi." Sela Amel membenarkan dengan nada cukup tinggi.


" Untung gue sabar Tam,ngadepin lo." Guman lagi Amel melirik jutek ke arah Tamara yang cuek-cuek saja dengan memasang wajah tanpa beban.


" Yaa beralasan juga see Mel atas pemecatannya pak Banny,karena pak Butong sudah melalaikan perintah boskul,Dan itu menyebabkan gue sama boskul kejebak di lantai 5,dan harus turun lewat tangga darurat,lo berdua bisa ngebayangin kan nasib gua malam itu." Jelas Mona dengan wajah prihatin.


" Apa ??lo berdua turun lewat tangga darurat ?" Pekik Amel shok.


" Yaa,gue turun lewat mana lagi,lift sudah mati,mau gak mau gue turun lewat tangga darurat.Penuh perjuangan banget gue lewatnya,kaki gue aja sekarang masih berasa sakit." Ucap Mona merengut.


Amel dan Tamara saling menatap penuh curiga.


" Tapi,gue yakin pasti ada something antara lo sama boskul pada saat itu,secarakan cuman lo berdua yanga ada di tangga darurat." Ucap Tamara dengan mengerling genit matanya ke arah Mona.


" Dasar otak mesum !!" Sela Mona mendilak kesal saat ia paham dari maksud omongannya itu.Tamara tersenyum dan menatapnya penuh menggoda.


" Lo berdua gak ngapa-ngapain kan disana ?tahunya besok-besok lo mual-mual lagi." Sela lagi Amel tak kalah mesum akan pikirannya.


" Lo berdua sama aja ya!di kira di tangga darurat itu ada hotel mewah bisa mesum disana,otak kalian gak beres." Ucap Mona yang terlihat kesal menatap kedua sahabatnya yang menuding dirinya melakukah hal yang aneh dengan sang bosnya itu.


Amel dan Tamara saling tertawa kecil menatap geli ke arah Mona yang mulai kesal dengan selera bercanda kedua sahabatnya itu.


Salah satu kebiasaan buruk kedua sahabatnya itu memang selalu berbicara tanpa di pikir terlebih dahulu,mereka tidak suka menggunakan otaknya dan itu hanya berpungsi sebagai pajangan di kepalanya,pikir Mona menatap kedua sahabatnya dengan jengkel.


" Lo berdua ngapain ayo ?" Goda lagi Amel dengan menelusuri wajah kakunya Mona dengan penuh curiga.


" Stop deh kalian jangan konyol,gue sama boskul masih waras, paham !" Ucap Mona seraya menggertak kedua sahabatnya itu yang terlihat kesenangan setelah berhasil membuatnya kesal.


Amel dan Tamara hanya saling cekikikan merasa puas melihat ekspresi jengkelnya Mona.


" Colek dikit gak apalah !" Tambah lagi Amel kian menggodanya.Bola mata Mona membulat tajam seolah-olah akan menerkamnya Amel.


" Ok ok,lo gak usah ngegas donk kalau gak merasa,iya gak Tam ?" Tanya Amel seraya mengedipkan satu matanya ke arah Tamara.


" Ho'oh !" Jawab Tamara singkat.


" Dasar kalian bedebah !!" Ucap Mona dengan nada bercanda.


" Haa...haa...,so ekting loh." Ucap Amel mlengos.


" Oh ya Mon,gue rasa yang membocorkan masalah sandiwara lo itu kayanya si Zeanu deh." Tamara menyela dengan cepat.


" Udah gue bilangin Tam." Sela Amel menatap kecut Tamara.


Persahabatany yang unik memang terkadang sosok merekalah yang membuat persahabatan antara Mona dengan Kedua sahabatnya itu lebih berwarna.


Amel yang sering bersikap konyol namun mudah emosi menjadikan persahabatan itu semakin lebih hidup.


Dan Tamara si sosok polos yang sering ngeselin menambah kian semakin seru akan persahabatannya itu.


" Kapan lo bilangnya ?" Tanya heran Tamara menyela, matanya mendilak ke arah Amel.


" Tadi pagi." Balas Amel pendek.


" Kok tadi pagi gue gak liat kalian ngobrol ?" Tanya Tamara dengan penasaran.


" Yaa lo gak bakalan liat lah,elo nya ke toilet." Sela Amel dengan ekspresi wajah sabar.


" Tapi Zeanu tahu kalau lo sedang bersandiwara dengan pak Banny ?" Tanya Amel menatap lurus Mona.


" Ya kan secara mereka berdua sahabatan,pasti pak Banny ada cerita masalah ini sama Zeanu." Jelas Mona cukup membuat yakin akan perkiraanya Amel yang mencurigai Zeanu.


" Bisa jadi kan Zeanu yang melakukan hal ini." tungkas Tamara pasti.


" Eh,sekarang gue tanya,kenapa lo berdua begitu yakin jika Zeanu melakukan hal ini,tau darimana masalah ini ada sangkut pautnya juga dengan Zeanu ?" Tanya Mona membagikan pandangannya dengan seksama.


Tamara dan Amel menjawab kompak nama masing-masing yang di sebut,Amel menyebutnya Tamara,dan Tamara pun menyebutnya Amel.


" Amel!" Jawab Tamara dengan menunjuk Amel.


" Tamara !" Jawab lagi Amel tak kalah lurus telunjuknya menunjuk Tamara.


Mona mengernyit dengan frustasi melihat kekonyolan kedua sahabatnya itu.


" Kok gue sih ?Kan lo yang punya feelling,dan bilang gitu sama gue." Sela Amel segera menyanggah.


" Bukannya lo yang duluan bilang ke gue ?" Sela lagi Tamara tak mau kalah.


Mona menggeleng frustasi lelah rasanya melihat kelakuan kedua sahabatnya itu yang hanya menambah kian rumit urusannya.


" Lo kalian berdua bisa gak sih gak saling lempar gitu?" Tanya Mona dengan menahan kesabarannya.


" Tapi gue rasa sih gitu Mon." Jawaban mereka kompak.

__ADS_1


Amel dan Tamara saling bertatapan seterusnya mereka pun saling cengengesan.


" Dasar manusia-manusia gak jelas." Rutuk Mona dengan ekspresi sebal.


" Kita sehati ya Tam." Ucap Amel menoleh Tamara.


" Ho'oh." Jawab Tamara seraya membenarkan poni pendeknya itu.


Sejenak Mona menatap dalam ke arah kedua sahabatnya itu lalu mencoba berpikir.


Apa mungkin iya seorang seperti Zeanu yang ia kenal sangat baik memberi tahu kebohongan antara dirinya dengan sang Ditektur perusahaan itu,dan mengatakannya kepada Kinaya mantan kekasih sang Direktur tampan itu.


Tapi tujuan Zeanu apa ?pikiran Mona kian bercabang.


Akan tetapi Zeanu memang kenal dengan Kinaya.Lantas, apa mungkin mereka bekerja sama dalam hal ini?lalu untuk apa Zeanu melakukannya?


Pertanyaan itu mengitari kepalanya,ia tak ingin berburuk sangka kepada Zeanu,karena ia melihat akan sosok Zeanu yang selintas sangat ramah dan hangat jauh dari kata sifat curang ataupun penghianat,pikirannya kian terus berkecambuk dalam benaknya.


" Mon.Soto lo tuh keburu dingin,di anggurin aja.Soto aja di anggurin dingin apa lagi hati" Ujar Tamara membuyarkan semua pikiran Mona seraya menggodanya.


" Curhat,curhat.Pengalaman pribadi rupanya." Sela Amel menyindir Tamara.


" Kok lo jadi ngelamun gitu sih Mon?menurut lo gimana ?kira-kira si cowok tanpa nama itu ada kemungkinan seperti itu gak?" Tanya Amel penasaran.


Mona memonyongkan bibir mungilnya dua centi lebih maju.


" Zeanu sih emang saling kenal dengan Kinaya,mantan kekasihnya pak Banny." Ucap Mona dengan nada resah.


" Nah loh.Kalau mereka saling kenal,berarti feelling gue selama ini benar." Ujar Amel dengan terlihat sangat yakin.


" Tapi untungnya Zeanu apa melakukan semua ini ?" Tanya Mona menatap tak percaya.


" Yaa,untungnya ada lah,bisa ngedeketin lo secara doi kan ada hati juga sama lo." Jawab Amel dengan sikap so tahunya itu.


" Gue setuju ama omongan si Amel !" Tamara menyela dengan ekspresi wajah polosnya itu.


Mona kembali membagikan pandangannya ke arah kedua sahabatnya itu dengan penuh bimbang.


Apa iya itu semua Zeanu yang melakukannya ?


Tapi hal itu bisa iya juga terjadi,secara Zeanu memang ada perasaan lain terhadap dirinya.


Mona menghela dengan resah.


" Udah sejam kita ngebahas masalah ini,tapi lo belum percaya juga." Sela Amel saraya menoleh jam yang ada di tangannya.


" Tapi kan kita gak semudah itu nuduh orang Mel." Sergah Mona tetap membela Zeanu.


" Kalau bukan dari Zeanu lantas dari mana mantannya boskul itu mengetahuinya?" Tanya Amel dengan bingung.


" Tapi kalau mantan pak Banny itu sudah mengetahui hal ini memangya ada pengaruhnya buruk terhadap lamaran lo itu ?lamaran akan tetap terjadi kan?" Tanya Tamara menimpali.


" Yaa adalah Tam,kalau dia ngebongkar permasalahan ini, yaa nantinya berantakan semuanyalah,termasuk neneknya Mona akan shok dengarnya." Jawab Amel sengit.


Apa yang dikatakan Amel memang benar ia pun menatap dalam ke wajah sahabatnya itu dengan berbagai perasaan.


Mona hapal betul akan sikap kerasnya seorang Amelia,dia adalah salah satu sahabatnya yang selalu ada paling depan jika sesuatu hal menimpanya.


" Tapi Mel,semua ini kan hanya sandiwara saja,gue rasa gue tak perlu sangat khawatir dengan permasalahan ini,toh gue berjuan juga ujung-ujungnya gue akan di tinggalkan juga sama pak Banny,karena gue tau pak Banny ngelakuin ini semua hanya semata-mata demi bokapnya." Jelas Mona menatap datar ke arah kedua sahabatnya itu.


Matanya mulai terlihat memerah.


" Gue paling tidak suka jika gue liat lo sedih." Ucap Amel membuang wajahnya.


" Sebenarnya status lo sama pak Banny itu cuman settingan,terus settingan ini akan berapa lama ?" Tanya Tamara menatap penasaran.


Amel melengos ia sengaja tidak ingin melihat wajah Mona yang mulai terlihat menahan sesuatu yang berat di dalam dadanya.


" Tiga bulan !" Jawab lirih Mona.


" 100 hari dong,dan itu artinya cinta 100 hari saja." Tamara menyela dengan polos.


Mona mengangguk lalu menatap jauh ke luaran ruang kantin itu.


" Gue saranin,perasaan lo jangan sampe ikut baper." Ucap Amel menoleh Mona dengan penuh penekanan.


" Sebelum lo ngomong gue udah mencoba hal itu,tapi......" Ucapan Mona menggantung lalu menatap dalam wajah kedua sahabatnya.


" Lalu apa ?" Tanya Amel dengan menahan napas,apa yang akan di ucapkan Mona serasa sedang mengancam pernapasannya itu.


" Jangan bilang lo cinta beneran sama manusia gurun salju itu." Sela Tamara memicingkan kedua matanya.


Sejenak Mona menatap penuh arti ke arah kedua sahabatnya itu yang membuat mereka harap-harap cemas dengan ucapan Mona yang menggantung.


Amel menatap semakin tegang sementara Tamara menanti dengan ekspresi wajahnya yang inosen.


" Gue...,gue bener-bener jatuh cinta sama bos gue." Jawab Mona singkat dan padat.


GUBRAG !!!!


Amel serasa ingin menjatuhkan diri dari lantai 3 kelantai lantai ground floor,dan Tamara hanya melongo seraya bibirnya menganga lebar.

__ADS_1


Benar saja yang menjadi ketakutan kedua sahabatnya terjadi jika Mona sudah terjebak dalam perasaannya sendiri mencintai pria dingin berwajah tampan itu.


__ADS_2