
MONA terlihat menggigil kedinginan wajahnya terlihat mulai pucat Banny yang memperhatikan sedari tadi mulai merasa tidak enak hati dengan kondisi Mona saat ini.
" Bi Yayah,tolong temenin Mona ke kamar tamu dan siapkan handuk serta baju buat dia ganti." Ucap Banny kepada bi Yayah yang baru datang menghampirinya.
" Iya aden.Tapi den maaf di kamar tamu tidak ada baju untuk perempuan.Ada juga daster bibi,tapi kayanya kebesaran gimana atuh ?" Tanya si bibi dengan bingung.
" Kalo gitu pakai baju kemeja saya saja dulu bi, jangan lupa buatkan susu hangat buat dia!" Perintah Banny seraya menoleh Mona yang masih kedinginan.
" Baik den.!" Balas bi yayah penuh hormat.
" Ayo atuh neng ikut bibi !." Ajak si bibi seraya mengapih Mona yang terlihat semakin kedinginan.
Mona mengikuti ajakan bi Yayah dengan pasrah.
Beberapa menit kemudian Mona sudah membersihkan badannya serta mengganti pakaianya yang basah.Untuk sementara pakaian yang di gunakannya memakai baju kemeja miliknya Banny dengan perpaduan celana pendek.
" Gimana neng badannya sudah angetan sekarang ?" Tanya bi yayah dengan membawakan sepiring makanan serta segelas susu hangat.
" Sudah mendingan bi,makasih banyak ya bi." Ucap Mona dengan tersenyum tipis.
" Sama-sama." Jawab si bibi tak kalah ramah.
" Oya.Neng teh calonnya den Banny yah ?" Tanya bi Yayah dengan penuh ke ingin tahuan.Lalu ia pun duduk di ujung sopa yang tersedia di ruangan kamar tamu itu.
Mona terdiam saat bi Yayah bertanya perihal hubungan dirinya dengan sang majikan.
" Hmmm..,Do'ain saja ya bi." Balas Mona tersenyum dengan penuh arti.
" Atuh pasti neng.Bibi kasian juga sama den Banny tuh." Ucap bi yayah dengan ragu.Sepertinya ia mulai takut akan keceplosan bicaranya itu.
" Kasian kenapa bi ?' Tanya Mona penasaran.
" Kasian saja neng,den Banny dulu pernah trauma dengan perempuan,di hianati gitu neng.Makanya sekarang den Banny sangat pemilih dalam urusan perempuan memang dulu den Banny penggangguran.Karena ia bercita-ciita ingin mengejar mimipinya jadi seorang Arsitek,tapinya teh tidak sesuai dengan harapan malah jadinya menggantikan Bapak tuan jadi Direktur di perusahaan." Jelas si bibi dengan jujur tanpa rekayasa.
" Hmmm...,bi !" Ucapannya menggantung.
" Kenapa neng Mona ?" Tanya si bibi menatap penasaran kedalam wajah Mona.
" Memangnya setelah pak Banny trauma,pak Banny tidak punya pacar lagi ?" Tanya Mona dengan ragu.
" Setahu bibi sih baru neng Mona doang yang di bawa kerumah ini,setelah neng Kinaya putus sama den Banny" Jelas bi yayah dengan wajah serius.
" Bibi kenal juga sama Kinaya ?" Tanya Mona kian penasaran dengan Kinaya mantan sang bosnya itu.
__ADS_1
" Kenal atuh neng !,neng Kinaya mah cantik orangnya terus tinggi gitu kaya model luna maya." Jelas bi Yayah dengan barbar.
Rupanya kenal juga bi Yayah dengan artis papan atas sekelas Luna maya.
Mona tersenyum lucu melihat kepolosan sang pembantu rumah tangga sang bosnya itu.
" Tapi sayang hatinya tidak secantik wajahnya." Ucap bi Yayah menyela dengan polos.
" Ahh sudah lah nanti kedengeran den Banny gak enak ngebahas masalah pribadinya." Ucap si bibi menghentikan obrolannya.
" Oya neng Mona istirahat saja dulu ya,bibi juga mau beristirahat." Ucap bi Yayah seraya berdiri dan berpamitan untuk keluar dari ruangan kamar.
" Makasih ya bi." Ucap Mona tersenyum lembut.
" Iya neng sama-sama." Jawab si bibi dengan sangat baik.
Moma memandangi langkah bi Yayah yang menuju keluar kamar,lalu ia pum menghela napas panjang seraya menatap segelas susu hangat beserta makanan yang tersaji di meja.
Mona berharap jika perasaannya kepada sang bosnya itu hanya sebatas sandiwara saja.Tapi nyatanya ia sendiri mulai merasakan sesuatu perasaan yang tak biasa terhadap sang bosnya itu,batinnya menolak untuk jatuh cinta terhadap sang bosnya karena ia paham jika Banny sering bersikap dingin serta jutek terhadap dirinya.
Secepat itukan perasaan yang mulai tumbuh dalam hatinya.
Tapi jauh dari lubuk hati yang terdalam tidak menutup kemungkinan jika dia memang mempunyai rasa itu terhadap seorang Banny.
" Yaa TUHAN nenek pasti cemas nungguin gue pulang dan pastinya nenek pasti ngecek kamar gue,terus gue belum pulang juga." Guman Mona seraya terus mengusap-ngusap rambutnya dengan handuk kecil.
KREEKK....
Suara pintu terdengar seperti ada yang membuka mata belonya Mona melotot ke arah pintu yang mulai tergerak terbuka.Tak lama Banny menyembul dari balik pintu itu dengan menatap lurus dirinya.
Sontak Mona menatap kaget ke arah Banny yang berani mendatangi kamarnya,dengan cepat ia segera membetulkan kancing bajunya yang sedikit terbuka namun sayang Banny sudah terlebih dahulu menatap ke arahnya.
Banny terpaku menatap ke arah Mona yang tengah sibuk membetulkan baju kemejanya milik dia yang terlihat kebesaran di badannya Mona.
Rambut yang masih basah terurai memanjang sementara kaki jenjangnya terlihat sangat mulus hingga lutut.
Mona berusaha menutupinya dengan kemeja bajunya yang terlihat di tarik hingga turun ke bawah.
Tatapan Banny seakan-akan sedang menelanjangi dirinya yang memang bagi seorang Banny keseksian seorang perempuan dapat di lihat ketika rambutnya basah dan memakai baju kemeja yang kebesaran.
Mona semakin tidak nyaman akan tatapan sang Bosnya itu yang seakan-akan sedang menatapnya dengan penuh gairah.
" Maaf pak.Kenapa bapak tidak ketuk pintu dulu." Ucap Mona dengan merengut mata belonya terlihat melirik manja ke arah Banny yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
" Sorry !!" Ucap Banny seraya mengalihkan pandangannya ke tempat lain,Banny berusaha menenangkan perasaanya ketika oyak nakalnya yang mulai menghasutnya untuk mempergunakan kesempatan ini untuk berbuat di luar akal sehatnya.
Mona berusaha terus menutupi bagian setengah pahanya yang sedikit terbuka.
" Saya tunggu di d bawah." Ucap Banny dengan membelakangi Mona.
Mona terdiam ia mencoba untuk tidak berpikir yang macam-macam akan sikap sang bosnya itu yang susah di tebak.
Namun prasangka buruknya itu di patahkanya oleh sikap Banny yang tak ingin melihat keadaan Mona dalam keadaan yang cukup menggoda bagi pikiran nakalnya.
Maka Banny pun memilih berbicara dengan cara membelakangi dirinya tanpa mau menatap Mona walaupun memang di dalam hatinya tergodan dan penasaran untuk terus melihatnya.
" Baik pak." Jawab Mona singkat tak lama Banny keluar kembali tanpa menoleh lagi Mona.
Mona menarik napas lega akhirnya Banny keluar dari kamar itu ia percaya jika seorang Banny memang memiliki atitude yang baik sehingga bisa menghargai dirinya dalam keadaan berpakaian seperti itu.
Mona tersenyum kecil entah kenapa ia merasa bangga atas perlakuan sang bosnya itu, ia yakin jika bosnya itu bukanlah sosok lelaki yang berotak mesum sebagai mana sifat laki-laki lain pada umumny.
Kebanyakan lelaki pada umumnya jika melihat seorang perempuan dengan berbusana seksi seperti itu lantas mereka selalu mempergunakan kesempatan itu dengan leluasa melepaskan h****t untuk hal yang yak senonoh.Tapi nyatanya itu tidak berlaku di dirinya seorang Banny.
Hujan belum reda namun pada akhirnya Mona dan Banny terpaksa menempuhnya untuk pulang.
Banny mau tak mau harus mengantar Mona pulang karena dia takut jika sang nenek akan merasa cemas terhadap keadaan Mona.
Mobil Banny berhenti di depan pelataran rumah Mona dengan cepat Mona segera melepas sabuk pengamannya dan berniat segera turun dari mobil.
" Mona !!" Panggil Banny dengan cepat.
Mona menahan keinginanya untuk membuka pintu mobil, lalu ia menoleh ke arah Banny yang menahannya.
" Sorry udah bikin kamu kehujanan !" Ucap Banny menatap dalam Mona.
Sejenak Mona terdiam tak langsung menbalas permohonan maaf Banny.Ia merasa cukup heran ketika sang bosnya yang super jutek dan kaku itu bisa meminta maaf kepada dirinya.
" Tidak apa-apa pak ." Jawab Mona singkat.
Rupanya Mona sudah tidak mau ambil pusing dengan sikap sang bosnya itu yang membiarkan dia kehujanan,padahal pas kejadiannya Mona merasa kesal dan sebal terhadap bosnya itu namun entah kenapa ia tidak ingin mempersalahkannya kembali.
Banny terdiam ia menatap lembut ke arah Mona dengan tatapan berbagai perasaan ia memang menyukainya tapi entah kenapa ia merasa ada sesuatu hal yang masih menganjal perasaannya untuk mengakui perasaan itu. Entahlah sepertinya ia butuh waktu serta proses untuk menyakinkan perasaanya itu.
Mona mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan sang bosnya yang semakin meraja lela anehnya yang di rasa olehnya.Lalu ia pun perlahan turun dari mobik bosnya dan melangkah menuju rumahnya, sementara itu Banny masih memperhatikannya dari dalam mobil.
Entah kenapa perasaannya tertahan di dalam hatinya ketika rasa trauma hadir membayangi perasaanya.
__ADS_1