
SEORANG gadis bertubuh mungil dengan membawa beberapa berkas di tanganya berlari menuju lift yang hendak tertutup.
Tepat sebelum lift tersebut hendak tertutup,ia pun bergerak cepat menelusupkan tangannya ke celah pintu lift tersebut agar lift itu kembali terbuka.
Gadis tersebut segera membungkuk dan meminta maaf kepada seluruh orang yang berada di dalam kapsul lift tersebut,karena harus menghentikan lift itu yang akan tertutup.
Gadis tersebut berdiri tepat di depan pintu kapsul lift tersebut dengar rona wajah tak enak.
" Kebiasaan lo Mona,giliran lift mau tertutup lo dateng." Gerutu seorang gadis yang berdiri tepat di pojok kiri lift.
Mona menoleh ke arah suara tersebut dan di lihatnya Amel mendilak dengan merengut.
" Elo Mel,kirain siapa?protes aja loh." Balas Mona dengan menatap kembali ke arah pintu lift tersebut.
" Lo mau kemana ?" Tanyanya menatap lurus pintu lift tersebut,beberapa orang menghalangi jarak mereka.
" Gue mau ke ruangan Bos lah,masa ke kantin sepagi ini." Balas Amel cuek.
Gadis itu menyeringah heran saat mendengar sahabatnya hendak ke ruangan sang bos.
Sepagi ini ke ruangan bos,ada apa ?
pikir Mona dengan melirikan bola matanya ke atas.
Tinggg....
Lift terbuka di lantai dua dan beberapa orang keluar gadis berambut panjang tersebut bergeser mundur lebih ke dalam lift kapsul tersebut.
Kapsul lift tersebut berjalan kembali,Mona pun segera menggeser posisi berdirinya ke arah Amel yang berada di pojokan lift.
" Elo ada apa ke ruangan pak Banny?Emang dia udah dateng jam segini?" Tanya Mona dengan terheran-heran.
" Tadi pak Banny datang pagi banget Mon,gue aja heran dia datang sepagi itu,masa bawahannya kalah sama atasannya,dia aja yang bos datang pagi,lahh kita bawahan datangnya telat.Memalukan." Terang Amel pelan.
Seorang pria meliriknya dengan penuh arti seperti ada yang benar dalam ucapannya gadis bertubuh sintal tersebut.
" Lo nyindir gue ?" Tanya Mona mendelik.
" Kok lo baper,emang gue ada bawa-bawa nama lo ?" Tanya Amel dengan mendekap berkas-berkas tersebut.
" Jujur aja." Sela Mona dengan merengut.
" Enggak salah sih.. Hee..hee..hee..." Balas Amel terkekeh.
" Gue emang sering kesiangan.Yaa maklum lah kita berangkat pake kendaraan umum Mel,mau gak mau harus nunggu kendaraan nya lewat dulu,emang sanggup kita jalan kaki dari rumah ke kantor,gilla aja." Ucap Mona melirik sahabatnya tersebut.
" Haa...haa... gue tiap hari jalan kaki,ogahh !" Tambah Amel semangat.
" Oya Mon,hari ini akan ada meeting ?" Ucap Amel mengalihkan pembicaraan.
Mona menatap heran ke arah sahabatnya tersebut yang bisa mengetahui agendanya hari ini.
" Kok lo tahu ?" Tanya Mona heran.
" Tadi bu Silvi nyuruh gue kasih berkas-berkas bekas pekerjaan Manda,sekalian pak Banny mau ada ngasih arahan sama gue." Jawab Amel jelas.
" Bus Silvi ngasih tahu lo,tumben dia ?" Tanya nya dengan semakin terheran-heran.
" Terus ngapain juga pak Banny ngasih arahan sama lo,emangnya elo.....?" Tanya Mona menggantung setelah Amel memotong perkataanya.
" Yaa kan secara posisi si Manda udah gue gantiin !" Terang Amel dengan bangga.
Mona menyeringah kaget matanya yang belo semakin membulat.
" Seriuss ?? " Serunya menatap tak percaya.
" Masa gue bohong sih,Beneran Mon." Balas Amel datar.
" Trus si Tamara sendirian dong di lantai dasar ?" Sela Mona pelan.
" Yaah mau gimana lagi untuk sementara gue handle dulu pekerjaan si Manda." Ucap Amel seraya menatap seorang pria yang keluar di lantai tiga.
" Memangnya bagian HRD gak mencari lagi staff yang baru ?" Tanya Mona menatap heran.
" Yaa lagi di info kan mungkin." Sela Amel acuh.
" Kasian dong Tamara kesepian di bawah."
" Takdir dia,lagian kalau yang gantiin posisi si Manda itu Tamara, bu silvi bisa-bisa penuaannya makin akut,wkwkwkwk " Seloroh Amel dengan tertawa lebar.
Mona segera menyikut tubuh sintal sahabatnya tersebut agar memelankan volume suara tertawanya yang cukup keras.Amel menutup spontan mulutnya.
Dan gadis tersebut pun hanya menggeleng melihat sikap konyol sahabatnya tersebut.
Tinggg.....
Lift kembali terbuka di lantai empat,tiga orang pria dengan stelan jas hitam keluar dengan menggelengkan kepalanya setelah mendengar tertawa keras Amel yang menganggu pendengarannya mereka.
" By the way, ada acara meeting apa sih hari ini ?" Tanya Amel dengan penasaran.
" Biasalah,kemaren si Tora ada salah penginfutan data ke uangan jadi takutnya kena defisit anggaran Mel." Jelas Mona menggeser posisi berdirinya lebih ke depan.
__ADS_1
" Kok bisa ?" Tanya Amel dengan menatap serius.
" Si Tora sepertinya lagi lelah dalam menyelesaikan pekerjaan nya itu sehingga dia ngeinfut dua kali data keuangan nya." Jelas Mona dengan cuek.
" Bisa fatal lah itu Mon." Sela gadis tersebut menatap khawatir.
" Makanya,untungnya gue cek kembali, kalau tidak ?tuh pak bos bisa-bisa mecat Tora tanpa ampun lagi.Ngeri kan anak orang di pecat-pecatin mulu." Imbuh Mona dengan wajah was-was.
" Itu lah,gue juga ngerasa ragu buat ambil posisi si Manda." Sela Amel menatap resah.
" Yang penting lo teliti dan fokus." Ucap Mona seraya melangkah keluar begitu pintu lift tersebut terbuka.
" Iya sih." Balas Amel menimpali.
" Nanti siang gue ada pertemuan tuh dengan investor barunya pak Banny." Ucap Mona menoleh Amel.
" Oya ?Boskul lagi naik daun yah,banyak tuh perusahaan yang lain pada ingin berjoin dengan perusahan kita." Ucap Amel berjalan pelan.
" Gak salah kan jika mantannya aja pengen balik lagi." Celetuk Mona dengan menatap sebal.
" Apa hubungannya sama mantanya ?" Tanya Amel sesaat berpikir,namun tak lama kemudian ia terlihat menyeringah lucu ke arah Mona.
" Ciee..,cemburu ya ??" Ucap Amel dengan menggoda.
" Yee siapa juga yang cemburu ?" Mona mendelik dengan raut wajah memerah.
" Padahal bos kita tuh udah kaya ya ? tapi tetep saja masih perlu duit." Ucap Amel seraya berjalan di sampingnya Mona.
" Ayam doang yang gak butuh duit." Balas Mona pelan.
Amel terkekeh melihat sikap Mona yang masih terlihat kesal nama mantan bosnya di sebut.
Gadis bertubuh sintal itu terdiam lalu ia menatap gamang ke arah Mona.
" Lo mau kemana sih sebenarnya?kok malah linglung gitu ?" Tanya Mona menatap sahabatnya yang terlihat ragu setelah berada di depan pintu kaca yang bertuiskan Direktur Utama.
" Gue deg-degan Mon,takut di apa-apain ama boskul." Ucap Amel dengan bersikap kepedean.
Mona mendecih lalu tersenyum sinis.
" Siapa pula yang mau ngapa-ngapain lo,baru nyolek aja lo udah banting tuh orang yang nyolek lo,heee...hee.." Ucap Mona terkekeh.
" Shitt,,lo tega ngatain gue gendut ?" Mata bulet Amel mendilak sebal ke arah Mona.
Mona hanya terlihat menahan tawanya saat melihat reaksi wajah sahabatnya tersebut.
" Temenin yah!" Pinta Amel mengiba.
" Gue udah kesiangan,nanti bos minta laporan hari ini,soalnya gue belum ada cek lagi." Ucap Mona seraya membuka pintu ruanganyan tersebut.
" Bye....," Seru Mona pelan dengan ekspresi wajah meledek sahabatnya tersebut.
Gadis bertubuh sintal tersebut menarik napas panjang lalu di hembuskan nya pelan-pelan,dengan perasaan gamang ia pun mengetuk pintu yang bertuliskan Direktur Utama.
*********
Mona menatap lega saat mendapati dompetnya yang tertinggal kemarin dan dompet tersebut masih teronggok manis di laci meja kerjanya,rupa-rupanya ia memang lupa untuk menyimpan kembali dompet tersebut ke dalam tasnya setelah membayar belanjaan on line dirinya.
" Sykurlah dompet gue gak ilang,kalau ilang ribet gue ngurus-ngurusnya."
Ucap gadis tersebut dengan menghela napas lega setelah di cek isi dompet tersebut masih lengkap.
Beberapa saat kemudian pintu ruanganya ada yang mengetuk keras lalu gadis tersebutpun menoleh ke arah pintu tersebut.
" Masuk !" Serunya pelan.
Seorang gadis menyembul dari balik pintu dengan tersenyum ngembang.
" Ada apa lo Mel ?" Tanya Mona menyeringah dengan menatapnya curiga ke arah sikap sahabatnya yang terlihat cengengesan.
" Mon !! akhirnya gue resmi mengantikan posisinya si Manda,dan posisi ini bukan bersifat sementara lagi,fix gue resmi menggantikan posisi ratu nyamuk itu." Jelas gadis tersebut dengan rona penuh bahagia.
" Oyaa ??,syukurlah gue seneng denger kabar ini,sekian lama lo kerja akhirnya mendapat kedudukan setingkat lebih baik." Ucap Mona ikut tersenyum bahagia.
" Di balik sikap arogan gue ada hikmahnya juga yaa wkwkw..." Ucap gadis tersebut terkekeh.
" Tapi bukan berati lo harus terus arogan Mel,lo harus bisa jaga emosi lo,kali ini saja TUHAN lagi berpihak dengan lo." Jelas Mona menatap dalam sahabatnya.
" Oya Mon, Lo di panggil ama boskul tuh.!" Ucap Amel seraya melirik ke arah ruangan sang Direktur.
" Gue ?" Tanyanya degan jari telunjuknya mengarah ke dirinya sendiri.
" Yaa siapa lagi lah Mon,lo lah !! kan lo sekertarisnya dia,pasti lah bosku manggil lo,masa manggi si Tamara." Ucap Amel mendelik kesal.
" Udah ah gue turun dulu ya,langsung beroprasi ni gue." Ucap Amel seraya melangkah menuju pintu.
" Ok,tar malam kita makan-makan ya,rayain dong jabatan baru lo itu." Ucap Mona seraya merapihkan beberapa dokumen penting untuk di serahkan kepada sang atasan nya tersebut.
" Ok bos." Jawab Amel seraya mengacukan jempolnya tanda setuju.
Mona sebelum melangkah ke luar ia pun sesaat menoleh ke arah ruangan kaca tersebut,di lihatnya sang bosnya Banny sedang mengamati lembaran kertas di atas meja.
__ADS_1
Gadis tersebut berjalan keluar ruangannya lalu segera menuju ke ruangan atasanya tersebut.
Setelah mengetuk pintu gadis tersebut pun di persilahkan masuk lalu perlahan berjalan menuju meja kerja sang Direktur.
" Maaf pak,bapak manggil saya ?" Tanyanya menatap ragu.
" Ya.Hari ini ada agenda apa saja ?" Tanya pria tersebut dengan acuh.
" Di jam sembilan nanti ada meeting untuk pembahasan mengenai permasalahan keuangan yang kemarin pak,dan di jam sepuluh nanti bapak akan ada pertemuan dengan pimpinan utama perusahan Tiga Raksa mengenai masalah investor.Dan setelah jam istirahat nanti,bapak kembali ada pertemuan dengan pak Zeanu." Jelas gadis tersebut secara detail.
Pria dingin itu sejenak menatap lekat ke arah sekertarisnya tersebut ketika nama Zeanu ikut di sebutnya dalama deretan schedulenya.
" Pertemuan hal apa dengan Zeanu ?" Tanyanya dengan menatap dingin.
" Mengenai perencanaan pembagunan anak cabang yang baru lagi pak,hari ini skesta nya akan di serahkan sama bapak dari pihak pak Zeanu." Jelas kembali Mona dengan terlihat tenang.
" Ok !" Jawab pendek,lalu tatatapannya di alihkan ke tangan gadis tersebut yang terlihat ada sebuah cincin manis melingkar di jari manisnya.
Entah kenapa ada perasaan bahagia menyelinap dalam hatinya ketika ia melihat gadis tersebut memakai cincin pemberiannya itu.
" Ada lagi ?" Tanya pria tersebut dengan menatap datar wajah sekertarisnya itu yang pagi ini wajahnya terlihat lebih fress-an.
" Tidak ada pak,agenda hari ini tidak terlalu padat." Jawab Mona membalas tatapan pria dingin tersebut dengan lembut.
" Ok, ya sudah sekarang tolong kamu siapkan untuk acara meeting nya." Ucap pria tersebut pelan.
" Baik pak." Jawab Mona dengan singkat.
Tepat saat sekertarisnya itu hendak membalikan badannya untuk melangkah suara berat itu menahannya.
" Mona !!" Panggil Pria tersebut dengan perasaan ragu.
Mona terhenti lalu menoleh kembali ke arah pria tersebut.
" Iya pak ?" Tanya gadis tersebut menatap resah.
Sesaat pria tampan itu terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu hal.
" Ada apa pak ?" Tanya Mona mengulang pertanyaanya dengan berbagai perasaan,ia menatap atasannya tersebut dengan hati-hati.
" Hmm...,Tolong kamu buatkan kopi buat saya.!" Ucap Pria tersebut dengan tatapan sedikit gengsi.
" Kopi ??" Tanya gadis itu menatap dengan heran.
Tumben sekali pak bos ini ingin di buatkan kopi sama sekertarisnya,biasanya juga dia langsung meminta sang Ob lisa untuk membuatkannya.Pikir Mona masih menatap panjang sang bosnya tersebut.
" Kamu tahu kopi kan ?? " Tanya pria tersebut mulai menampakan sikap juteknya.
Mona mengangguk dengan tersenyum pasi.
" Ya ya...,saya tau kopi kok pak !" Jawab Mona dengan terbata lalu tersenyum enteng.
" Sekarang ya ! dan ingat jangan terlalu manis." Ucap pria tersebut menatap ragu sang sekertarisnya tersebut.
Entah kenapa rasa-rasanya ia ingin selalu di temani oleh sang sekertarisnya tersebut,perasaannya menjadi aneh saat dirinya mulai caper terhadap gadis sederhana tersebut.
" Baik pak." Jawab Mona mengangguk.
Mona berjalan kembali menuju pintu ruangan tersebut lalu ia pun menghilang di balik pintu tersebut.
Banny menarik napas entah kenapa perasaannya menjadi canggung terhadap gadis lugu itu setadinya sebelum ia meminta di buatkan secangkir kopi ia ingin mengajak sekertatrisnya itu untuk sarapan pagi,tapi entah kenapa nyalinya menghilang saat melihat tatapan lembut sang sekertarisnya itu mampu mengacaukan niatnya tersebut.
Ia sadar betul jika perasaan nya sudah terarah kepada sosok gadis sederhana itu.
Banny menatap resah ke arah pintu ruanganya ia berharap sekertarisnya itu segera muncul kembali dengan membawakan kopi panas untuk dirinya seraya menunggu meeting di mulai,ada waktu beberapa menit yang tersisa,dan itu tak ada salahnya di pergunakan untuk ngopi seraya ngobrol bersama sekertarisnya tersebut,yaa harapannya seperti itu yang tergambar dalam pola pikirannya.Pria tampan itu mengangguk-ngangguk dengan tersenyum penuh arti.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya terdengar suara pintu di ketuk seseorang,mata elang pria tampan tersebut dengan semeringah menatap ke arah pintu tersebut.
Entah kenapa jika kehadiran gadis sederhana itu akhir-akhir ini membuat dirinya merasa bersemangat.
" Masuk !" Serunya pelan lalu ia pun berpura-pura mengecek beberapa berkas laporan yang ada di hadapan nya tersebut.
Seorang gadis dengan menggunakan seragam kemeja biru muda dengan paduan rok berwarna biru tua menyembul dari balik pintu tersebut dengan raut wajahnya terlihat tegang.
" Maaf pak,ini kopi pesanannya bapak." Ucap wanita itu dengan penuh hormat.
Banny menoleh ke arah suara wanita tersebut dan seketika raut wajahnya berubah kecewa setelah melihat orang yang mengantarkan kopi pesanan nya tersebut bukan sekertarisnya.
Mata elangnya menyipit dan menatap tajam ke arah Ob tersebut.
" Saya menyuruh sekertaris saya yang buatin kopi, kenapa kamu yang antar ?" Tanya Banny dengan menatap dingin.
" Maaf pak,tadi bu Mona menyuruh saya untuk mengantarkan kopinya,karena bu Mona tadi ada urusan sebentar." Jelas wanita ob tersebut dengan raut wajah cemas,ia takut jika dirinya akan di marahi oleh sang atasan nya tersebut.
" Ada urusan??,Kemana dia ?" Tanya Banny dengan menatap sang OB yang sedang memindahkan secangkir kopi tersebut dari nampan ke mejanya.
" Maaf pak saya kurang tahu,soalnya tadi pas lagi bikin teh ada yang menelponnya." Jelas wanita ob tersebut dengan membungkuk penuh hormat lalu wanita ob tersebut pun berpamitan.
Banny terdiam lalu menatap kosong secangkir kopi panas tersebut yang aromanya mulai menyeruak keseluruh isi ruangan.
Pria tampan tersebut menekan pelan rahang pipinya dengan pikiran mulai tak karuan,tepatnya ia merasa kecewa atas sikap sekertarisnya itu yang mengabaikan perintahnya tersebut.
__ADS_1
Banny hanya bisa menggeleng pelan saat dirinya menyadari jika isi pikirannya mulai di penuhi dengan perasaan yang tak biasa terhadap sosok sekertarisnya tersebut.