CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 124


__ADS_3

MONA menarik pelan gagang pintu rumahnya lalu perlahan ia mendorongnya dengan sangat hati-hati,waktu sudah menunjukan pukul 21: 10 menit dan itu artinya sang nenek sudah tertidur pulas.Mona melangkah menuju ruangan tengah dan bermaksud untuk memasuki kamarnya.


Sesaat pandangannya terhenyak ketika melihat sang nenek masih terjaga di depan layar televisi.


" Nenek !" Pekiknya cukup keras hingga sampai ke pendengaran-nya sang nenek.


" Mona,kamu baru pulang sayang ?" Tanya sang nenek menoleh dengan terkesiap setelah mendengar panggilan cucu terkasihnya secara tiba-tiba.


" Kok nenek belum tidur ?" Tanya Mona menghampiri sang nenek lalu duduk di sampingnya.


" Kenapa kamu jam segini baru pulang ?" Tanya balik Sang nenek justru balik bertanya.


" Yaa TUHAN,maaf kan Mona ya nek!Mona lupa memberi tahu nenek, jika Mona tadi ada undangan makan malam dengan kolega barunya pak Banny." Ucap Mona dengan wajah penuh sesal.


" Kenapa bisa lupa ?kan kamu bisa telepon nenek atau kirim pesan!biasanya kamu kalau pulang terlambat selalu bilang sama nenek,sekarang kok enggak?,nenek cemas nunggu kamu pulang." Jelas sang nenek dengan raut wajah kesal.


" Mona salah,Mona minta maaf ya !" Ucap Mona dengan mengiba.


" Yaa sudah,lain kali jangan di ulang lagi seperti ini untung saja nenek gak jantungan Mona." Ucap sang nenek setengah menggerutu.


" Iya,iya Mona minta maaf." Ucap sang cucu memeluk hangat perempuan tua itu.


" Gimana pekerjaaan mu sayang ?" Tanya sang nenek mengusap lembut kepala cucu terkasihnya.


" Hmm alhamdulillah nek lancar,malah pekerjaan di kantor semakin hari semakin numpuk,di tambah sekarang pak Banny melakukan bisnis baru membuka peluang untuk para investor untuk beinvestasi di perusahaanya itu,dan tugas Mona setiap hari semakin bejubel nek." Terang gadis itu seraya menyandarakan kepalanya di pundak sang nenek.


" Bagus dong,nanti nya kan itu buat modal hidup kalian setelah menikah." Jelas sang nenek dengan raut wajah bahagia.


Tepat ketika kata menikah itu mendarat di indra pendengarannya hati gadis itu terasa berdebar keras.


" Menikah ??" Pekiknya tertahan.Lalu gadis itu mengangkat kembali kepalanya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sopa tersebut.


" Kenapa sayang,kok wajahnya berubah berat gitu ? " Tanya perempuan tua itu dengan penuh selidik.


" Tidak apa-apa nek,justru Mona di ingatkan sama nenek jika besok akan ada pertemuan dua keluarga besar untuk membahas tanggal dan hari pernikahan Mona dengan Banny." Jelas Mona dengan tersenyum ringan


Meski ia tersenyum namun sorot matanya penuh dengan kebimbangan.


" Itu kabar baik,dan sebaiknya kamu kasih tahu mama kamu,biar mama kamu ikut bahagia atas pernikahan kamu ini ." Ucap sang nenek terlihat sangat antusias,terlihat dari raut wajahnya yang begitu semeringah.


Mona terdiam dan menatap resah ke arah neneknya tersebut,ia hanya mendesah berat berkali-kali.


" Kok kamu malah bingung gitu ?ayo tunggu apa lagi kamu telpon mama kamu dan katakan kabar baik ini ! lagian kan sekarang kalian sudah baikan jadi jangan membuat jarak lagi.Dan ini saatnya kamu bahagia dengan laki-laki yang mencintai kamu dengan di saksikan oleh mama kamu,meski pun papah kamu belum tahu bagaimana keadaanya." Jelas perempuan tua itu dengan wajah sendu.


Mona kian tercenung mendengar pernyataan sang neneknya itu.


Laki-laki yang mencintainya ?????


Gadis itu terdiam lalu menundukan kepalanya semakin dalam,lipatan bibirnya kian merapat.


Seandainya perempuan hangat yang sangat menyayanginya ini tahu akan bagaimana kondisi yang sebenarnya,mungkin perempuan yang paling di kasihinya ini akan kecewa,jika tahu pernikahan ini hanyalah sandiwara.


Namun sampai kapan dia harus menyembunyikan permaslaahan ini ?


Awal atau akhir ini akan di ketahui oleh orang-orang yang mengasihinya termasuk sang nenek.


Mona menghela,lagi-lagi ia mendesah dengan perasaan berat.


Ini bukan masalah mudah atau tidaknya permintaan restu kepada sang ibu,tapi ini adalah lebih kesebuah keberanian diri dalam mengatakan hal ke jujurannya selama ini.


Tidak mungkin banginya harus meminta restu menikah hanya untuk 30 hari saja,tentu saja ini bukan lah permainan waktu ia di masa anak-anak yang bisa seenaknya melakukan sebuah permainan pernikahan, lalu setelah itu mereka teriak selesai ketika jam permainan sudah habis.Gadis itu kian tertekan wajahnya kian di rundung kegelisahan.


" Ada apa sayang ?" Tanya sang nenek menatap resah sang cucu.


" Apakah ada sesuatu hal yang kamu sembunyikan dari nenek?" Tanya lagi perempuan tua itu kian penasaran.


Mona mengangkat pelan wajahnya lalu menatap dengan nanar ke arah wajah sang nenek.

__ADS_1


Mona menatap dalam dengan mata mulai berkaca-kaca,ia ingin melepaskan semua beban ini dengan berterus terang kepada perempuan yang selalu mengerrtikan dirinya.


Sesaat Mona mengalihkan pandangannya ke arah layar teleivisi,dan perlahan ia menggerakan sudut bibirnya tersenyum getir.


Sang nenek menangkap jelas akan sikap kegelisahan yang sedang di alami oleh sang cucunya.


" Berbicaralah,jangan pernah takut nenek akan memarahimu." Ucap sang nenek dengan suara pelan.


Mona kembali menatap wajah perempuan itu dengan seksama,lelehan air bening itu terlihat mulai penggenang membentuk anak sungai di peleupuk matanya.


Tangan yang kulitnya keriput itu nampak meraih pundak sang cucu lalu di elusnya dengan penuh rasa kasih sayang.


" Nenek tahu jika permasalahan kamu sekarang ini sedang rumit." Selanya lagi dengan suara kian parau.


Ahh nenek hanya menduga jika dirinya masih canggung,dan lebih tepatnya enggan untuk meminta restu atas pernikahannya itu terhadap sang ibu.Mona menggeleng dengan perasaan kian gamang.


Semoga saja ada kekuatan besar untuk dirinya dalam mengatakan semua kebenaran ini.


" Nek." Panggil Mona dengan suara gamang.


Bola mata perempuan renta itu membulat dengan mengukir senyuman tulus.


" Nek,sebenarnya......," Ucap Mona menggantung lalu ia terlihat menahan air matanya yang hendak meluncur bebas ke pipinya.


" Ada apa sayang?" Tanya perempuan tua itu dengan rasa sabar,dirinya merasa cemas melihat cucu terkasihnya harus menahan kesedihan atas beban yang sedang di rasakannya.


" Sebenarnya,Mona dan Banny tidak saling mencintai." Tuturnya dengan terbata-bata.Namun cukup menggoyahkan perasaan kaget di hati perempuan renta itu.


Sontak raut wajah hangat itu terkesiap dan menatap shok.


Sejenak perempuan yang tak muda lagi itu ternganga-nganga mendengar penuturan dari sang cucu.


" Lalu,apa arti pernikahan ini jika kalian tidak saling mencintai ?bukankah kalian selama ini berpacaran ?" Tanya sang nenek dengan raut wajah penuh kebingungan.


Mona kembali menarik napas panjang,rasanya tidak mungkin ia harus mengatakan yang sebenarnya jika pernikahan itu hanya sandiwara saja.


Mona menghela ia berharap ke jujurannya ini tidak akan merubah pikiran sang neneknya yang lantas akan menjodohkan dirinya dengan seorang pria pilihannya yang sebagaimana dulu pernah di gadang-gadangkan untuk di jodohkan dengan dirinya.


" Nek,Mona dan Banny hanya di jodohkan dan semua ini kita hanya melakukan apa yang menjadi kemauan dari orang tuanya Banny." Jelas Mona dengan menatap pasrah.


" Tapi Banny mencintai kamu ?" Tanya sang nenek dengan perasaan khawatir,berusaha berharap jika Banny mencintai cucuknya.


Mona terdiam lalu meremas jarinya dengan perasaan yang sulit di gambarkan.


" Entahlah nek,kita melakukan ini sama-sama terpaksa,karena kita tak ingin membuat orang tua Banny kecewa,Banny maupun Mona melakukan hal yang sama." Ucap Mona dengan suara kian serak.


" Apa alasan kalian melakukan hal ini ?" Tanya sang nenek menatap tajam.


" Untuk Mona pribadi,Mona melakukan semua ini hanya untuk membalas budi." Ucapnya dengan ragu.


" Balas budi ? " Tanya sang nenek menatap tak mengerti.


" Nenek masih ingat pak Wiguna ? " Sejurus kemudian gadis itu bertanya sesuatu hal kepada neneknya.


Lalu sesaat perempuan renta itu mencoba mengingat sosok seorang pria bernama Wiguna dari ingatan lamanya.


" Wiguna ???" Pekiknya dengan perasaan bingung.


Yaa....,ingatannya mulai menelisir kembali ke beberapa tahun silam,ketika sang cucu masih mengenyam pendidikan sebagai seorang mahasiswi.Dan pada saat itu Mona meminta dirinya untuk tinggal jauh darinya,yaitu di ibu kota tepatnya untuk kuliah.


Sebagai seorang nenek yang ingin melihat sang cucunya bahagia,mau tidak mau ia mengijinkan Mona seorang diri tinggal di ibu kota tersebut.


Mona memang gadis yang mandiri semenjak perpisahan yang terjadi di kedua orang tuanya, menjadikan Mona terlahir sebagai sosok perempuan yang mandiri dan tegar,gigih dalam memperjuangkan segala sesuatu yang di inginkannya.


Mona yang nekad kuliah dengan biaya sendiri mau tak mau ia harus bekerja keras untuk membiayai hidupnya di ibu kota yang tak mudah begitu saja ia jalani dan di saat itulah sosok lelaki bernama Wiguna hadir menolong dirinya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.


Pria itu adalah rektor sekaligus pemilik Univertas tempat Mona kuliah,dan dengan hati yang tulus pria itu memberikan beasiswa dengan cuma-cuma kepada sang cucunya itu hingga selesai kuliah tidak di kenakan biaya sepeser apapun selama cucunya kuliah.

__ADS_1


Perempuan renta itu menghela setelah ingat betul siapa akan sosok Wiguna itu.


" Yaa nenek masih mengingatnya." Jawabnya dengan suara kian serak.Perasaan yang ada di hatinya setara dengan apa yang di rasakan sang cucu,balas budi adalah hal yang tak bisa kita lupakan dengan begitu saja dari kehidupan kita.Terlebih kepada orang yang sudah jelas menolong kita dalam kondisi yang sesulit itu.


" Dan sekarang lah Mona membalas kebaikan beliau dengan cara menerima perjodohannya ini nek." Sela Mona tersenyum getir.


" Lalu kamu akan mengorbankan perasaan kamu itu jika benar Banny memang tidak mencintai kamu ? " Ucap sang nenek dengan terselip perasaan cemas yang kian mendalam.


" Semua ini apa beda dengan perjodohan yang akan nenek lakukan terhadap cucu teman nenek,namun perjodohan kali ini sangat beralasan nek." Ungkap Mona dengan menatap sembilu.


Perempuan yang tak muda lagi itu terdiam,perasaanya terasa tercabik-cabik setelah mendengaran penuturan cucunya tersebut yang akan merelakan perasaanya untuk membalas budinya.


Ia menyesal telah meminta Mona untuk segera menikah dan berniat akan menjodohkan cucunya jika tak mampu mendapatkan pendamping hidupnya,namun dengan kejadian seperti ini niat itu di pikirkannya kembali,cinta memang tak bisa di paksakan sekalipun itu dengan sebuah perjodohan.


" Maaf kan nenek Mona,selama ini nenek selalu egois kepada kamu,dan meminta kamu untuk segera menikah,jika akhirnya justru kamu akan tertekan dengan perjodohan ini." Ucap sang nenek dengan nada penuh sesal.


" Mona lah yang harusnya meminta maaf,Mona belum bisa mendapatkan pasangan yang bisa menerima diri Mona apa adanya,dan itu bisa membuat nenek bahagia." Sela Mona menatap lembut.


" Mona sayang." Ucap perempuan itu dengan segera mendekap gadis mungil itu dengan iba.


Di peluknya dengan erat tubuh sang cucunya itu dengan berbagai perasaan.


Perempuan yang semakin memasuki usia senja itu tidak bisa membayangkan jika Mona akan menikah dengan pria yang akan di jodohkan olehnya tanpa saling mencintai.


Mona menangis merasakan dekapan itu seolah-olah semakin membuat leluasa ia menumpahkan air matanya.


" Mona,jika kamu merasa tertekan dengan perjodohan ini,sebaiknya kamu mundur balas budi tak harus seperti ini,mengorbankan sepenuhnya perasaan kamu untuk hidup dengan orang yang tak mencintaimu." Ujar perempuan setengah tua itu mengelus lembut kepala cucu terkasihnya yang terbenam di pelukannya.


" Banny melakukan itu semua,ia tidak ingin membuat kecewa papahnya nek,karena hanya pak Wigunalah orang tua satu-satunya Banny kini,jadi ia pun menerima perjodohan ini atas dasar itu." Jelas lagi Mona.


" Tapi bagai mana dengan kalian yang tak pernah mencintai ?" Tanya perempuan itu menatap berat.


" Entahlah nek,hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan semua ini." Ucap Mona masih dalam kondisi terisak.


" Mona." Panggil sang nenek mendorong pelan tubuh gadis itu lalu di tatapnya dengan lembut.


" Apakah kamu mencintai Banny ? "


Mona terdiam lalu menyeka air matanya dengan gelisah.


" Jawab sayang,apakah kamu mencintai Banny ?"


Gadis itu sesaat hanya terdiam lalu sejurus kemudian mengangguk pelan.


Sang nenek menarik napas panjang,perjodohan ini telah melahirkan perasaan rasa suka cucunya terhadap pria itu.


" Tapi Mona yakin jika Banny tidak akan pernah suka sama Mona nek." Selanya dengan menyeka pelan air matanya.


" Kenapa ? "


" Perbedaan di antara kita terlalu jauh,Banny adalah seorang pemilik satu-satunya perusahan tempat Mona bekerja,dia anak tunggal dari seorang presiden Direktur perusahaan tempat Mona bekerja nek,perempuan seperti Mona tak selevel tentunya dengan nya." Ucap Mona kian tertunduk pasrah.


" Tapi tidak seperti itu Mona,jika Banny bisa menerima kamu apa adanya,maka nenek yakin perjodohan ini tidak hanya sekedar perjodohan tapi sebuah takdir untuk kalian jalani lewat perjodohan ini." Jelas sang nenek berusaha membesarkan hati cucu terkasihnya.


" Mona tidak yakin akan hal itu,karena terlalu banyak kekurangan yang ada pada diri Mona." Sela kembali gadis itu kian minder.


" Tidak sayang,buat nenek kamu seperti sebuah berlian yang sangat berharga,kamu mempunyai kelebihan yang tak pernah orang lain milki,kamu berdoa lah jika kamu memang mencintai pria itu.Karena hati semua orang tidak ada yang tahu,termasuk hati Banny." Tegas peremuan setengah tua itu memberi keyakinan yang kuat kepada cucunya untuk memperjuangkan perasaanya.


" Nenek tidak kecewakan atas perjodohan ini ?" Tanya Mona menatap dalam.


" Tidak sayang,karena nenek memaklumi perasaan kamu yang serbasalah dalam menerima keputusan ini,nenek yakin kamu mempertimbangkan hal ini dengan susah payah pastinya.Tak mudah kamu menerima perjodohan dari orang yang telah banyak membantu dalam kehidupannmu." Jelas sang nenek penuh bijak.


" Nenek terimakasih banyak atas pengertiannya,sejak awal Mona ingin cerita hal ini,namun rasanya perasaan Mona berat dan takut jika nenek akan marah dan menjodohkan Mona dengan cucu teman nenek itu." Ucap Mona tersenyum pasi.


" Tidak sayang,nenek berhenti menjodohkan kamu,nenek tidak mau melihat kamu tertekan dengan apa yang menjadi ke inginan nenek,tentu hal ini menyadarkan nenek agar lebih bisa merasakan perasaan kamu.Maafkan nenek yah." Ucap sang nenek seraya merangkul kembali sang cucu.


Mona hanya mengangguk pelan,setidaknya bebanya mulai berkurang untuk menahan ketidaknyamanan ini,yaa ketika sang nenek sudah mengetahui maka jika terjadi perpisahan antara dirinya dengan Banny,ia kan lebih kuat dan tegar karena ada hati yang selalu menguatkan jiwanya.

__ADS_1


__ADS_2