
Hari-hari Vera kembali seperti dulu lagi, sudah empat bulan sejak kejadian waktu itu. Kini Dion semakin over protektif kepada istrinya, dia tidak mengizinkan Vera untuk pergi sendirian, apa lagi mengingat Vera yang kini tengah mengandung anaknya.
Ya...sekarang Vera tengah hamil 3 bulan. Semenjak mengetahui istrinya hamil, Dion kini berubah menjadi suami yang super protektif dan juga cerewet.
Walau Vera tidak suka dengan sikap Dion yang over protektif tapi dia tidak begitu mempermasalahkannya karena dia tau itu demi kebaikannya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Vera sambil mengusap rambut suaminya yang kini tengah berada dalam pangkuannya.
"Nggak ada, aku cuma bahagia sayang bisa hidup bersama kamu, penantian ku selama ini membuahkan hasil," ucap Dion sambil memainkan rambut istrinya yang sudah terlihat lebih panjang.
"Terimakasih kamu sudah setia menungguku selama ini."
"Kebahagian ku sekarang semakin lengkap, aku sudah nggak sabar menanti kelahiran anak kita," ucap Dion sambil mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.
"Aku juga sudah nggak sabar ingin melihat anak kita lahir ke dunia."
Veon dan Serly berjalan menghampiri Vera dan Dion yang tengah duduk di teras belakang.
"Mama," panggil Veon sambil berjalan mendekati Mama dan Papa nya.
Dion bangun dan duduk di samping istrinya. Vera membawa Veon kedalam pangkuannya.
"Anak kesayangan Mama," ucap Vera sambil mencium kening Veon.
"Sayang, ayo sini sama Papa, kasian adik yang ada di perut Mama," ucap Dion sambil membawa Veon ke pangkuannya.
"Sayang kapan kamu akan check up kandungan kamu?" Tanya Serly sambil duduk di samping Vera.
"Nanti siang Ma," sahut Vera.
"Sekarang apa yang kamu rasakan sayang? apa kamu merasa mual atau pusing?" Tanya Serly cemas.
Setelah mengetahui Vera hamil, Serly juga selalu menjaga keadaan Vera. Bahkan setiap pagi dia selalu membuatkan sarapan yang bergizi dan juga segelas susu untuk Vera.
"Nggak kok Ma, Vera baik-baik saja, Vera nggak pernah merasa mual," sahut Vera dengan senyuman di wajahnya.
"Alhamdulillah, anak kamu nggak rewel sayang, ya sudah Mama tinggal dulu." Serly berdiri lalu melangkah pergi.
Vera bahagia kini dia memiliki keluarga yang lengkap, suami yang sangat mencintainya, ibu mertua yang sangat memperdulikannya dan Veon, anak yang membuat hari-harinya semakin indah.
Tantri sudah mengikhlaskan anaknya untuk dirawat Vera, dia tau kalau anaknya tidak bisa lepas dari Vera, dia juga menyadari jika kasih sayang Vera tulus kepada anaknya, bahkan kasih sayang Vera melebihi kasih sayangnya kepada anaknya.
"Sayang, kamu makan apa? biasanya orang yang lagi hamil sering minta ini itu," tanya Dion.
"Em...sebenarnya aku ingin makan nasi goreng buatan Neti."
"Memangnya kamu pernah memakan nasi goreng buatan Neti?" Tanya Dion penasaran.
"Ya, dulu waktu aku main ke rumah Neti dia membuatkan aku nasi goreng, rasanya enak banget," ucap Vera sambil membayangkan rasa lezat dari nasi goreng buatan Neti.
"Tapi sayang sekarangkan Neti lagi kerja di butik."
"Tapi aku pengen makan nasi goreng buatan Neti, apa kamu mau anak kita nanti ileran?" ucap Vera dengan wajah cemberut.
"Ya nggaklah sayang, ya udah sekarang kita berangkat ke butik," ajak Dion.
__ADS_1
"Makasih ya sayang," ucap Vera sambil mencium kilas bibir Dion.
"Lagi dong sayang," pinta Dion.
"Apanya?" tanya Vera bingung.
"Kiss lagi dong."
"Nggak, malu ada Veon," tolak Vera.
"Sayang, sekarang Veon pejamkan mata ya nanti Papa kasih hadiah," bujuk Dion.
Vera hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah suaminya.
"Hadiahnya apa, Pa?"
"Apa aja yang Veon mau."
Veon menganggukkan kepalanya lalu mulai memejamkan matanya.
"Sayang, sekarang Veon udah tutup mata kamu mau kan memberikan yang aku minta," ucap Dion dengan senyuman di wajahnya.
Dion mendekatkan wajah ke wajah Vera, dia memegang dagu Vera dan mencium bibirnya dengan memberikan sedikit pangutan.
"Makasih sayang," ucap Dion sambil mengakhiri ciumannya.
"Ayo kita berangkat ke butik," ucap Vera lalu berdiri.
Dion berdiri lalu mengendong Veon.
"Veon minta hadiahnya dong, Pa," tagih Veon.
"Veon mau mobil-mobilan yang besar."
"Baiklah, sebelum kita ke butik, kita mampir dulu ke toko mainan dulu," ucap Dion lalu memeluk erat Veon.
Mereka berjalan keluar dan masuk kedalam mobil. Dion melajukan mobilnya, dia lalu memberhentikan mobilnya didepan toko mainan.
"Sekarang kamu pilih mau mainan yang mana," ucap Vera.
Veon melihat semua mainan yang ada di toko itu. Dia begitu tertarik pada mobil-mobilnya yang sangat besar dan bisa ia naiki.
"Ma, yang ini," ucap Veon sambil menunjuk kearah mobil-mobilan yang ada di hadapannya.
Vera berjalan menuju kasir, setelah selesai membayar Vera meminta pelayan toko untuk mengantar mobil-mobilan itu ke rumah.
"Mbak tolong nanti mobil-mobilan ini diantar ke alamat ini ya," ucap Vera sambil memberikan alamat kepada pelayan toko.
"Baik, Bu," ucap pelayan toko itu.
Mereka pun keluar dari toko dan masuk kedalam mobil. Dion melajukan mobilnya menuju butik, sesampainya di butik. Vera keluar dari mobil dan masuk kedalam butik.
"Hai Vera, apa kabar?" Sapa Neti sambil memeluk Vera.
"Baik."
__ADS_1
"Sayang, ada perlu apa kamu kemari?" Tanya Mila penasaran.
"Ma, Vera boleh pinjam Neti sebentar nggak? Vera mau minta tolong sama Neti," pinta Vera.
"Kamu mau minta tolong apa sama aku?" Tanya Neti penasaran.
Vera sebenarnya tidak ingin merepotkan Neti dengan membuatkannya nasi goreng, tapi dia tidak bisa menolak keinginannya yang begitu berhasrat untuk memakan nasi goreng buatan Neti.
"Aku ingin makan nasi goreng buatan kamu dan aku maunya kamu memasaknya di rumah kamu," sahut Vera dengan meyenggir kuda memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.
"Sayang, kamu ini nyidamnya kok yang aneh-aneh," ucap Mila heran.
"Inikan keinginan anak Vera,Ma," ucap Vera dengan wajah yang cemberut.
"Ya sudah jangan lama-lama, nanti takutnya banyak pelanggan yang datang," ucap Mila cemas, tentu saja dia tidak akan bisa melayani para pelanggan sendirian.
"Siap, Ma."
"Saya permisi dulu ya, Bu," pamit Neti.
"Masakan nasi goreng yang enak untuk Vera," pinta Mila.
Neti menganggukkan kepalanya. Merekapun keluar dari butik.
"Rumah kamu dimana, Net?" Tanya Dion sambil fokus menyetir.
"Nanti ada perempatan belok kiri," sahut Neti.
Dion mengikuti petunjuk dari Neti.
"Pak berhenti disini," ucap Neti.
Dion memberhentikan mobilnya..
"Rumah kamu yang mana?" Tanya Dion penasaran, karena yang ada hanya gang sempit dan toko yang berjejer di pinggir jalan.
"Rumah saya masuk gang itu Pak, jadi mobilnya di parkir disini saja, karena mobilnya nggak bisa masuk kedalam," ucap Neti.
Mereka keluar dari mobil dan berjalan menelusuri gang sempit, sampailah mereka di rumah Neti.
"Maaf Pak rumah saya jelek," ucap Neti lalu membuka pintu rumahnya.
Dion hanya tersenyum sambil menatap setiap sudut rumah Neti yang tampak bersih dan barang-barang tertata dengan rapi.
"Mari silahkan masuk," ucap Neti.
Mereka masuk ke dalam rumah Neti. Dion tidak menyangka rumah Neti sesederhana ini, dia bangga kepada istrinya yang mau berteman dengan siapa saja walau orang itu berasal dari keluarga yang sederhana.
"Maaf Pak, kalau rumahnya tidak membuat anda nyaman," ucap Neti merasa tidak enak hati.
"Ah...nggak apa-apa, kamu santai saja, nggak perlu sungkan seperti itu," ucap Dion.
"Ayo Net kita ke dapur, biarkan Dion sama Veon menunggu disini," ucap Vera yang sudah tidak sabar ingin makan nasi goreng buatan Neti.
Neti menganggukkan kepalanya lalu melangkah menuju dapur.
__ADS_1
"Kamu tunggu disini ya sayang," ucap Vera dengan senyuman di wajahnya.
šššš