Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Apa kamu tuli?


__ADS_3

Hari pernikahan yang ditentukan tinggal satu hari lagi. Veon terlihat sangat gusar, sebenarnya dia tidak ingin melakukan pernikahan itu.


“Tuan, sudahlah, anda jangan terlalu memikirkan soal pernikahan itu. Lebih baik anda ambil sisi positifnya, bukankah anda melakukan ini demi papa anda. Anda juga sudah melihat, jika keadaan papa anda semakin hari semakin membaik setelah anda memutuskan untuk menikah,” ucap Zaki sambil berdiri di depan meja kerja Veon.


“Ya, kamu benar, Zak. Aku melakukan semua ini demi Papa, aku tidak ingin kehilangan Papa hanya karena keegoisan aku. selain itu Kania juga tidak menyukai aku, dia hanyalah wanita yang telah papanya gunakan untuk menebus semua hutang-hutangnya. Aku anggap ini sebagai bisnis,” ucap Veon sambil memainkan pena di tangannya.


“Saya juga yakin, kalau Nona Kania tidak akan menuntut apa-apa pada anda, dia tidak akan berani meminta haknya.”


Veon mengernyitkan dahinya saat mendengar Zaki memanggil Kania dengan sebutan nona, tapi dia tidak ingin ambil pusing, toh itu juga tidak berarti apa-apa untuknya, “apa kamu sudah memberikan gaun pengantin yang kemarin aku berikan kepadamu kepada Kania?” tanyanya.


Zaki menganggukkan kepalanya, “sudah tuan,” ucapnya.


***


Kania yang sedang berada di dalam kamar, menatap paper bag yang diberikan oleh Zaki kemarin. Wanita itu bahkan belum membuka dan melihat isi paper bag itu. Kania mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, “pernikahan aku tinggal satu hari lagi, apa yang harus aku lakukan?”


Terdengar suara pintu diketuk, “masuk,” sahut Kania.


Pintu terbuka dengan perlahan, Papa Kania masuk ke dalam kamar Kania, dia melihat paper bag itu masih belum di buka, “sayang, kenapa kamu belum mencoba gaun pengantin kamu?” tanyanya sambil membuka paper bag itu.


Pak Zaiz mengeluarkan gaun pengantin itu dari dalam paper bag, “sayang, lihatlah...gaun pengantin ini sangat cantik, ini pasti akan terlihat semakin cantik saat kamu memakainya,” ucapnya.


Kania terlihat tidak bersemangat saat melihat gaun pengantin itu, gaun itu memang sangat cantik, tapi pasti bukan Veon yang memilih gaun itu, mana mungkin dia mau memikirkan hal seperti itu. Pikirnya.


“Sayang, kamu coba pakai gaun ini, kamu pasti terlihat sangat cantik.”


“Nanti saja, Pa. Kania sedang tidak ingin,” tolak Kania.

__ADS_1


Pak Zaiz duduk di samping putrinya, “ada apa, apa ada masalah?” tanyanya.


Kania menggelengkan kepalanya, “Kania hanya capek, Pa. Kania ingin istirahat, tolong tinggalkan Kania sendiri,” ucapnya.


“Baiklah, beristirahatlah.” Pak Zaiz beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu, pria paruh baya itu sekilas menatap putrinya yang menundukkan kepalanya, “maafin Papa sayang,” ucapnya pelan lalu keluar dari kamar Kania.


Kania menyentuh gaun pengantin yang berada di atas ranjangnya, “cantik, gaun ini sangat cantik.” Wanita itu lalu mengambil gaun pengantin itu lalu mencobanya. Ternyata gaun pengantin itu begitu pas dengan bentuk tubuh Kania.


Kania berdiri di depan cermin besar yang berada di kamarnya, sehingga tampak seluruh tubuh Kania yang terbalut gaun pengantin itu, “gaun ini sangat cocok dengan tubuhku, bagaimana Veon memilih gaun ini? Tapi mungkin mamanya yang memilih gaun ini,” gerutunya.


Gaun pengantin yang Veon kirim berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga yang berkilauan di bagian dada, bahkan gaun itu memperlihatkan keindahan kedua pundak Kania yang putih mulus tanpa noda sedikitpun.


Setelah puas menatap dirinya dari balik cermin, dia lalu melepaskan gaun indah itu dan menggantinya dengan pakaian yang tadi dia kenakan. Kania melipat kembali gaun pengantin itu dan memasukkannya ke dalam paper bag.


Kania mendengar suara dering ponselnya, dia lalu mengambil ponselnya dari atas meja, “untuk apa dia menelponku,” gerutunya saat melihat ternyata Veon yang menelponnya, “halo,” sahutnya.


“Apa kamu sudah menerima gaun yang aku kirim?”


“Apa kamu tuli? Atau kamu bisu, hingga tidak bisa menjawab pertanyaan aku!” seru Veon.


Kania mendengus kesal, “aku sudah menerimanya,” ucapnya.


“Apa kamu sudah mencobanya?”


“Hem...”


Veon terlihat sangat kesal saat mendengar jawaban yang begitu acuh dari Kania, jika saat ini wanita itu berada di depannya, dia akan memaki nya sepuasnya. Dia juga bisa memaki wanita itu lewat panggilan itu, tapi Veon tidak akan merasa puas, akhirnya Veon memutuskan untuk mengakhiri panggilannya, dia tidak ingin semakin emosi hanya gara-gara Kania.

__ADS_1


***


Pagi ini Kania terlihat sangat enggan untuk membuka kedua matanya, karena hari ini adalah hari dimana dirinya harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia cintai. Tapi suara ketukan di pintu yang terus menerus membuatnya mau tidak mau harus membuka kedua matanya dan beranjak turun dari ranjang.


Kedua mata Kania membulat dengan sempurna, dia terkejut saat membuka pintu kamarnya, karena dia melihat ada tiga wanita yang berdiri di depan pintu kamarnya. Siapa mereka? Tanyanya dalam hati.


“Selamat pagi Nona Kania...” sapa ketiga wanita itu.


“Pagi, siapa kalian? Dan sedang apa kalian berdiri di depan kamar aku?” tanya Kania masih terlihat sangat terkejut.


“Kami ditugaskan Papa anda untuk membantu anda berhias untuk hari pernikahan anda hari ini,” ucap salah satu wanita yang berdiri di depan Kania mewakili kedua temannya.


Kania mengangguk mengerti, jadi Papa yang menyuruh mereka. Papa tahu saja kalau aku tidak bisa berdandan. Jika tidak ada mereka, mungkin aku akan merasa malu nanti dengan penampilan aku, “baiklah, kalian boleh masuk, aku juga tidak bisa berhias sendiri,” ucapnya lalu kembali masuk ke dalam kamarnya dan diikuti ketiga wanita itu.


“Kalian semua tunggu di sini, aku mau mandi dulu.” ketiga wanita itu mengangguk mengerti.


***


 


Akhirnya Kania selesai berdandan, dia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin yang dikirim oleh Veon. Kania bahkan tidak menyangka dirinya akan terlihat secantik ini, dia memang jarang sekali berdandan, hingga dia merasa kagum saat melihat wajahnya yang dipoles oleh make up.


Setelah selesai berdandan, Kania lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Dengan perlahan dia menuruni anak tangga satu persatu, itu dikarenakan Kania saat ini tengah menggunakan high heels yang sangat tidak nyaman untuknya. Saat ini tubuh Kania sedikit gemetar, pikirannya kemana-mana. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya di acara pernikahannya. Dia bahkan masih tidak percaya jika hari ini dia akan benar-benar menikah.


Awal dimana dirinya akan menjadi istri Veon, tapi bukan dalam istri yang sebenarnya, tapi hanya ikatan yang tertulis di atas kertas, meskipun janji ikrar yang akan Veon ucapkan adalah janji ikrar suci yang disaksikan keluarga dan semua para tamu undangan. Tapi Kania tahu, bagi pria itu janji itu bahkan tidak berarti apa-apa.


~oOo~

__ADS_1


 


 


__ADS_2