Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Gadis dibawah umur


__ADS_3

Veon dan Kania kini sudah berdiri di depan pintu kediaman keluarga Sanjaya. Pria itu sudah mengatakan apa saja yang harus di katakan oleh gadis itu saat nanti kedua orangtuanya bertanya kepadanya.


“Kamu harus ingat, kalau sekarang kamu adalah kekasihku, calon istri aku, jadi aku harap kamu bisa menjaga sikap kamu!” Kania hanya mampu menganggukkan kepalanya, dia juga tidak mungkin menolak atau bahkan melarikan diri.


Veon membuka pintu rumahnya, dia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan di ikuti oleh Kania di belakangnya. Sedangkan Zaki menunggu mereka di dalam mobil.


Chelsea yang baru saja keluar dari mobil melihat Zaki di dalam mobil, gadis itu lalu menghampiri mobil kakaknya itu. Dia lalu mengetuk pintu mobil. Zaki menurunkan kaca jendela mobil.


“Kenapa kamu di sini? Apa kamu tidak ingin masuk ke dalam?”


“Kakak kamu meminta aku untuk menunggu di sini. Lebih baik kamu masuk ke dalam, aku tidak mau nanti ada yang melihat kita dan menggosip yang tidak-tidak lagi.”


Zaki dan Chelsea adalah teman sewaktu SMA. Zaki adalah kakak kelas Chelsea, mereka juga sempat berpacaran meskipun hanya berjalan selama satu tahun. Hubungan mereka berakhir saat Zaki lulus sekolah dan memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.


Setelah sekian tahun tidak bertemu, mereka dipertemukan kembali, tapi Zaki baru tau kalau tempat dia bekerja adalah perusahaan keluarga Chelsea. Bahkan sampai sekarang Veon tidak tau tentang kisah hubungan mereka dulu.


“Kenapa? Apa diam-diam kamu masih menyimpan perasaan untuk aku?” goda Chelsea sambil tersenyum.


Zaki hanya diam, dia hendak menutup jendela mobil, tapi Chelsea menghalanginya, “bukan aku yang mengakhiri hubungan kita dulu, tapi kamu yang melarikan diri dan meninggalkan aku!” serunya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Zaki yang terus menatap wanita itu sampai masuk ke dalam rumahnya.


Zaki menghela nafas panjang, “aku memang masih sangat mencintai kamu, aku tau semua itu salah aku. Tapi kini aku sadar, aku tidak layak bersanding dengan mu.”


***


Saat ini kedua tangan Kania mulai mengeluarkan keringat dingin. Dirinya kini tengah duduk berhadap-hadapan dengan kedua orang tua Veon. Apa lagi sejak tadi Vera menatap Kania dengan penuh keheranan.


“Ma, Pa, dia adalah Kania, dia calon istri Veon,” ucap Veon sambil menggenggam tangan Kania. Veon bisa merasakan dinginnya tangannya Kania saat ini. Kania membulatkan kedua matanya saat Veon menggenggam tangannya.


“Apa Papa tidak salah mendengar, dia calon istri kamu?” tanya Dion memastikan.


“Iya, Pa, dia calon istri Veon.” Veon menatap Kania sambil tersenyum.


“Kalau boleh tante tau, berapa usia kamu sekarang?” tanya Vera sambil terus menatap Kania.


Kania terlihat sangat gugup, “18 tahun, tante,” ucapnya.


Vera dan Dion saling menatap. “Sayang, apa kamu yakin ingin menikah dengannya? Usia dia saja bahkan lebih muda dari usia adik kamu,” tanya Vera.


“Apa dia akan sanggup menjalankan tugas nya sebagai seorang istri?” tanya Dion tidak yakin dengan pilihan putranya itu.

__ADS_1


Veon menampakkan senyuman di wajahnya, dia merasa sangat puas. Usahanya kali ini pasti akan berhasil, apalagi melihat ekspresi wajah kedua orangtuanya yang sepertinya tidak setuju dengan wanita pilihannya.


“Veon yakin, Ma, Pa, karena hanya Kania yang Veon cintai,” ucap Veon sambil terus menggenggam tangan Kania.


Kania semakin membulatkan kedua matanya, dia terus menatap wajah Veon yang kini tengah tersenyum menatapnya, apa dia tadi bilang kalau dia mencintai ku? Pikirnya.


“Tapi sayang...jarak usia kalian sangat jauh, apa kalian akan benar-benar sanggup saling memahami satu sama lain?” tanya Vera cemas.


“Ma, Kania ini gadis yang sangat baik, dia mau menerima Veon apa adanya, meskipun usia kita terpaut 9 tahun,” ucap Veon.


“Om...mau tanya sama kamu, sejak kapan kamu mengenal Veon? Kalian sudah berapa lama berhubungan?” tanya Dion.


Kania menelan ludah, dia bingung harus menjawab apa, karena Veon sama sekali tidak membicarakan soal itu, “em...kami sudah berhubungan selama...”


“Kita sudah berhubungan selama tiga tahun, Pa,” ucap Veon memotong ucapan Kania.


“Apa! Tiga tahun! Berarti selama ini kamu berhubungan dengan gadis di bawah umur!” seru Dion terkejut.


“Em...itu...itu...tidak ada larangan kan Pa untuk Veon berhubungan dengan gadis di bawah umur,” ucap Veon sedikit gugup.


“Tapi Papa tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu!” seru Dion.


Vera mencoba untuk menenangkan suaminya, “Pa, Papa harus tenang, ingat penyakit Papa,” ucapnya sambil mengusap lengan suaminya. 


“Ma, Papa kenapa?” tanyanya cemas.


“Sayang, lebih baik kamu ajak Papa kamu ke kamar,” ucap Vera sambil membantu suami berdiri.


Chelsea membantu papanya berjalan menuju kamar, tapi sesaat dia sempat menatap Kania yang duduk di samping kakaknya, siapa dia? Pikirnya.


Vera kembali mendudukkan tubuhnya di sofa, “sayang, apa kamu tidak bisa merubah keputusan kamu?” tanyanya.


“Kenapa, Ma. Apa Mama tidak setuju dengan pilihan Veon, Veon sudah mau menuruti permintaan Mama dan Papa untuk menikah, tapi sekarang kalian malah menentang pilihan Veon.” Padahal dalam hati pria itu dia tersenyum puas.


“Kania, apa kamu yakin ingin menikah dengan Veon?” tanya Vera dengan nada serius.


Kania menatap Veon, pemuda itu menganggukkan kepalanya pelan, “em...iya, Tante. Kania yakin,” ucapnya.


Vera menghela nafas panjang, dia lalu menatap Veon dan Kania secara bergantian, “kalau itu keputusan kamu, Mama akan berusaha untuk membujuk papa kamu,” ucapnya.

__ADS_1


Veon dan Kania membulatkan kedua matanya dengan sempurna.


“Maksud Mama apa?” tanya Veon terkejut.


“Mama merestui kalian, Mama akan berusaha untuk membujuk papa kamu agar merestui hubungan kalian.” Vera meminta Kania untuk duduk di sampingnya, dengan tubuh yang sedikit gemetar, wanita itu beranjak dari duduknya dan beralih duduk di samping Vera.


Veon mengepalkan kedua tangannya, ‘kenapa semua menjadi seperti ini?’ umpatnya dalam hati.


“Kamu sangat cantik,” puji Vera sambil menyentuh lengan Kania.


Kania menepiskan senyumannya, “terima kasih, tante,” ucapnya.


Kania terlihat sangat gugup, dia bingung harus berbuat apa, kenapa rencananya menjadi seperti ini. Apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Kania menatap Veon yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan dinginnya, bahkan tidak ada senyuman di wajah pria itu.


Veon mengajak Kania untuk pulang, tapi Vera melarangnya, “tapi, Ma. Veon kan harus kembali ke kantor,” ucapnya.


“Kalau kamu mau kembali ke kantor, biar Kania di sini. Mama ingin membujuk papa kamu, dengan Kania ada di sini, papa kamu bisa merubah pemikirannya,” ucap Vera sambil menatap Kania yang kini menundukkan kepalanya.


“Terserah Mama, tapi Veon ingin bicara sebentar dengan Kania,” pinta Veon lalu menarik tangan Kania dan membawanya menaiki tangga.


Kania merasakan sakit di pergelangan tangannya, “lepas!” serunya.


Veon membawa Kania ke dalam kamarnya, dia lalu mencengkram kedua lengan gadis itu, “kenapa kamu tidak menolak saat Mama meminta kamu untuk tinggal, apa kamu berharap akan menjadi menantu di rumah ini?” tanyanya dengan sorot mata yang tajam.


“Aku tidak pernah mempunyai keinginan untuk menjadi menantu di rumah ini! Bukankah kamu yang membawa aku ke dalam masalah kamu, hah!” Kini kedua sudut mata Kania mulai dipenuhi air mata.


Veon menghempaskan tubuh Kania hingga gadis itu terjatuh di lantai, “ingat kata-kata aku ini. Walaupun aku akhirnya harus menikah denganmu, jangan harap aku akan memperlakukanmu sebagai istri aku!” serunya.


Kania mencoba untuk berdiri, dia tersenyum sinis, “aku sama sekali tidak mengharapkan itu! Aku bahkan sama sekali tidak tertarik dengan semua rencana bodoh mu ini, jika bukan karena permintaan Papa, aku tidak sudi ada di sini bersama dengan mu!” serunya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Air mata yang coba Kania tahan akhirnya mengalir membasahi kedua pipinya. Dengan cepat gadis itu mengusap air matanya saat melihat Veon sudah berdiri di sampingnya.


“Aku akan menjemputmu setelah aku pulang dari kantor.” Veon menaikkan jari telunjuknya tepat di depan kedua mata Kania, “selama aku tidak ada di sini, kamu jangan bicara macam-macam sama Mama dan Papa, sebisa mungkin kamu alihkan pembicaraan mereka jika itu membahas soal hubungan kita, ingat itu baik-baik!” serunya.


Kania hanya mampu menganggukkan kepalanya, mereka lalu menuruni tangga. Veon meninggalkan Kania di rumahnya, dia keluar dari rumah dengan perasaan kesal. Dia masuk ke dalam mobil dengan membanting pintu mobilnya.


Zaki mengernyitkan dahinya, “ada apa, tuan? Apa semua berjalan lancar?” tanyanya.


“Awalnya semuanya berjalan lancar, Mama dan Papa menentang pilihan aku, tapi tidak tau kenapa tiba-tiba Mama merubah keputusannya.”


“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”

__ADS_1


Veon menghela nafas berat, “aku hanya berharap Papa tidak merubah keputusannya, tapi jika Papa mendengarkan bujukan Mama, dengan terpaksa aku harus menikah dengan Kania,” ucapnya.


~oOo~


__ADS_2