
Chelsea terlihat sangat bingung, apa aku harus menceritakan semuanya kepada Zaki? Tapi jika aku menceritakan semuanya, apa yang akan dia pikirkan tentang aku? Dia pasti tidak mau berteman dengan ku lagi, dia pasti sangat jijik saat melihat ku. Pikirnya.
Zaki menyentuh lengan Chelsea, “kamu, apa?” tanyanya saat Chelsea tiba-tiba menghentikan ucapannya.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “tidak ada. Em...aku tidak jadi pergi ke rumah teman aku, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?” tawarnya.
Zaki nampak tengah berfikir, dia tau jika ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan darinya, tapi dia juga tidak bisa memaksa wanita itu untuk menceritakan semua masalahnya. Pria itu akhirnya menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali melajukan mobilnya.
“Kita mau kemana?”
“Bagaimana kalau ke taman saja. Tempat dimana dulu kita sering menghabiskan waktu bersama.”
Zaki mengalihkan pandangannya menatap Chelsea yang kini tengah menatapnya dengan senyuman di wajahnya, dia lalu kembali menatap ke depan, “apa kamu selama ini masih mengharapkan aku?” tanyanya.
Chelsea tertawa, “PD banget kamu jadi cowok.” wanita itu lalu menatap keluar jendela, “tempat itu tempat favorit aku dari dulu, makanya aku mengajak kamu ke sana. Dan soal hubungan kita, aku sudah melupakannya, lagian itu hanya masa lalu,” imbuhnya.
Zaki menepiskan senyumannya, meskipun hatinya sakit saat mendengar apa yang wanita itu katakan, masa lalu, “benar, semua itu hanyalah masa lalu. Kita harus terus menatap ke depan jika ingin maju,” ucapnya.
“Itu kamu tau.”
Zaki menghentikan mobilnya di sebuah taman yang sangat familiar untuknya. Dia masih ingat semuanya, di taman itu lah pertama kali dia menyatakan cintanya kepada Chelsea, dan menghabiskan waktu bersama dengan wanita itu.
“Kok bengong, kamu tidak ingin turun.” Chelsea lalu membuka pintu dan keluar dari mobil. Begitu pula dengan Zaki, “tidak ada yang berubah dari tempat ini,” ucapnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman.
Zaki melangkahkan kakinya menuju bangku taman yang berada di bawah pohon rindang. Chelsea mengikutinya dari belakang, dia lalu mendudukkan tubuhnya di samping pria itu. Chelsea merasa bebannya sedikit berkurang saat bersama dengan Zaki, meskipun dia tidak jadi menceritakan apa yang kini tengah dia alami.
***
__ADS_1
Veon pergi ke kantor di antar oleh supir pribadinya, itu pun tanpa pengawalan dari Zaki. Karena pernikahan dirinya dengan Kania sudah di tentukan, Veon menyuruh Kania untuk sementara tinggal bersama dengan papanya. Tapi pria itu mempunyai syarat yang harus wanita itu patuhi. Tentu saja jika syarat yang tidak mungkin bisa wanita itu penuhi jika dia sampai berani untuk melanggarnya.
Kania mendengus kesal saat dia sudah berada di dalam mobil bersama dengan Veon. Pria itu meminta supir pribadinya untuk mengantarkannya ke rumah Kania.
“Ingat dengan syarat yang aku katakan tadi.”
Kania mengangguk mengerti, “aku tidak akan melanggarnya, kamu tenang saja,” ucapnya.
“Syukur kalau kamu tau diri. Di sini bukan aku yang membutuhkan kamu, tapi kamu yang membutuhkan aku. Aku bisa saja mencari wanita lain untuk menjadi istri aku, tapi apa kamu sanggup mengembalikan semua uang yang sudah aku berikan kepada papa kamu? Jika kamu sanggup, maka aku akan melepaskan kamu saat ini juga,” tantang Veon sambil menatap Kania dengan sorot mata yang tajam.
Kania menggelengkan kepalanya, “sampai kapan pun aku tidak akan bisa membayar semua hutang-hutang Papa aku,” ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
“Satu lagi yang perlu kamu ingat, meskipun kita sudah menikah, jangan harap aku akan memperlakukan kamu sebagai istri aku. Kamu tetap akan bekerja sebagai pelayan di rumah aku, karena itu perjanjian awal kita.” Kania mengangguk mengerti.
Sebelum membuka pintu, Kania menatap wajah Veon, “apa kamu tidak ikut masuk?” tanyanya.
“Cepat turun! Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk mengobrol bersama dengan keluarga kamu!”
Sombong! Kania lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Setelah Kania turun, Veon meminta supir pribadinya untuk kembali melajukan mobilnya. Sedangkan Kania masuk ke halaman rumahnya melewati gerbang rumahnya, dia lalu melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Kania memegang handle pintu itu lalu menariknya turun, pintu itu pun terbuka, wanita itu lalu masuk dan kembali menutup pintu itu.
“Apa Papa tidak ada di rumah, kenapa rumah ini sangat sepi?” Kania lalu memanggil asisten rumah tangganya, “Papa kemana, Bik?” tanyanya.
“Tuan pergi ke kantor, Non. Katanya setelah itu beliau akan pergi dan akan kembali nanti malam. Apa Non akan menginap di sini?” tanya wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Kania menganggukkan kepalanya, “Kania akan menginap di sini beberapa hari. Kalau begitu bibik boleh kembali bekerja. Kania juga ingin pergi ka kamar,” ucapnya. Wanita paruh baya itu mengangguk lalu melangkah pergi.
Kania melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya. Wanita itu sangat merindukan suasana kamar yang sudah dia tinggalkan selama beberapa hari ini. Dia lalu berjalan menuju jendela dan menyibakkan tirai jendela kamarnya. Dari jendela itu dia bisa melihat pemandangan yang begitu indah.
“Pa, apa Kania harus melakukan semua ini? Apa Kania harus merelakan impian serta kebebasan Kania?”
Wanita itu sudah tidak sanggup menahan air mata yang sudah memenuhi kedua sudut matanya. Di dalam kamar itu dia ingin meluapkan semua kesedihannya. Tinggal menghitung hari pernikahannya akan di resmikan. Seluruh keluarga Veon sudah mengurus semuanya, dia hanya tinggal datang bersama dengan papanya ke tempat acara pernikahannya di gelar.
“Apa aku harus bahagia dengan pernikahan itu? Jika yang berada di posisi aku saat ini adalah wanita lain, mungkin dia akan sangat bahagia, karena dia bisa menikah dengan seorang CEO muda yang berparas tampan. Wanita mana yang tidak akan tertarik dengan ketampanannya. Selain itu dia juga kaya, pengusaha sukses lagi.” Wanita itu menghela nafas berat, “tapi bagi aku, ini adalah awal dari kehancuran hidupku. Aku harus merelakan semuanya, aku harus menjual harga diriku hanya untuk membayar hutang-hutang Papa aku. Ma...Kania sangat merindukan Mama, andai Mama masih ada di sini, apa Mama juga akan membiarkan aku mengalami semua ini?”
***
Setelah dari taman dan menghabiskan waktu bersama dengan Zaki, Chelsea minta diantar kembali ke rumahnya. Wanita itu tengah berfikir bagaimana cara dirinya bisa lepas dari pengawasan Zaki, karena sejak tadi Alex terus menghubunginya.
“Apa yang harus aku lakukan? Si brengsek itu sudah mulai mengancamku, apa aku selamanya akan hidup seperti ini?”
Chelsea nampak tengah mondar-mandir di dalam kamarnya. Sesekali dia melihat keluar dari jendela kamarnya, dari situ dia bisa melihat apa yang Zaki lakukan. Wanita itu melihat Zaki tengah berbicara dengan seseorang di telfon.
“Apa dia sedang berbicara dengan kakak? Semoga saja kakak menyuruhnya untuk kembali ke kantor.” Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman saat dirinya melihat Zaki masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.
Chelsea menghela nafas lega, dia lalu bersiap-siap keluar dari kamarnya. Dia tidak ingin membuat Alex lebih murka lagi, jika sampai itu terjadi, dia tidak tau apa yang akan di lakukan pria itu. Wanita itu terlihat begitu takut akan ancaman pria itu, apalagi Alex selalu mengancamnya dengan video adegan panasnya dengan pria itu.
Andai aku punya cara lain untuk lepas dari belenggu rantai ini, maka apapun itu akan aku lakukan, pikirnya.
~oOo~
__ADS_1