
Sesampainya di rumah utama, kedatangan Veon dan Kania di sambut oleh Chelsea yang sejak tadi sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kakak iparnya itu. Chelsea memeluk Kania dengan sangat erat.
“Kamu sungguh membuatku khawatir.” Chelsea melepaskan pelukannya, dia lalu menatap kakaknya yang berdiri di samping Kania, “lihatlah penampilan Kak Veon sekarang, karena terlalu memikirkan kamu, dia sampai tidak memperdulikan dirinya sendiri,” ucapnya.
Sejak kemarin Kania memang merasa ada yang berbeda dari Veon, tapi dia tidak menyadari bagian mana yang berbeda.
Kania melihat gaya rambut suaminya yang sedikit berbeda, dia lalu tersenyum, “tenang saja, aku akan mengembalikan penampilan kakak kamu seperti dulu lagi, yang tampan dan gagah tentunya,” godanya.
“Harus, aku tidak suka dengan penampilan kakak yang sekarang, kurang macho, sekarang malah kayak preman gitu,” ledek Chelsea sambil mengerucutkan bibirnya.
Tatapan mata Chelsea beralih menatap Zaki, tapi tatapan itu juga menangkap sosok yang berada di samping Zaki, “siapa gadis itu?” tanyanya kemudian.
Kania meminta Eca untuk mendekat, “dia sahabat aku, dia yang sudah menolong aku selama ini.”
Eca memperkenalkan dirinya kepada Chelsea, mereka saling menjabat tangan. Chelsea menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumah.
“Mama di rumah tidak?” tanya Veon sambil terus melangkah masuk.
“Mama sedang mengantar Papa untuk pergi check up, kondisi Papa sempat menurun kemarin.”
Veon menghentikan langkahnya, dia terlihat sangat terkejut, “kenapa kamu tidak memberitahu kakak, lalu bagaimana kondisi Papa sekarang?” pria itu terlihat sangat cemas.
Mendengar kondisi Papanya yang tiba-tiba menurun, membuat Veon takut, rasa takut akan kehilangan itu kembali muncul lagi. Setelah sekian tahun lamanya, baru sekarang dia kembali merasakan perasaan seperti itu lagi. Meskipun Dion sering berkata sesuatu yang sangat menyakiti hati Veon, tapi Veon tetap menyayangi pria paruh baya itu.
Jika dia bisa memilih akan lahir dari rahim siapa, maka dia akan memilih lahir dari rahim Vera, dan ayahnya tetap Dion. Karena bagi Veon, Papanya itu adalah sosok yang sangat kuat, dia berjuang sendirian demi kebahagiaan keluarganya, apalagi setelah kedua orang tua Dion meninggal.
Mana kala waktu itu perusahaannya sedang berada di ujung tanduk. Tapi Dion tetap berusaha untuk bangkit dari keterpurukan itu, dia tidak membiarkan keluarganya menderita. Demi kebahagian istri dan kedua anaknya, Dion rela melakukan apapun. Tapi entah mengapa setelah Dion sakit, sikapnya berubah menjadi keras terhadap kedua anaknya, dan yang sering menjadi imbas kekesalannya adalah Veon.
Sebenarnya maksud Dion baik, dia ingin mendidik anaknya agar tidak menjadi pria yang lemah. Dan usahanya itu berhasil, Veon tumbuh menjadi pria yang sangat tegas. Tapi cara yang Dion lakukan salah, hingga membuat Veon tumbuh menjadi pria yang dingin dan keras kepala.
“Papa baik-baik saja, kakak tidak perlu khawatir. Mama selalu menjaga Papa dengan baik.”
“Mama memang selalu menjaga Papa dengan baik, tapi selama ini Papa juga yang telah menyakiti hati Mama.” Mengingat masa lalu Mama dan Papanya, membuat Veon merasa kehadiran dirinya juga yang telah membuat Vera merasakan sakit selama ini. Menjadi anak dari sahabat yang telah mengkhianatinya, yang telah mengambil orang yang sangat disayanginya, membuat Veon semakin bersalah.
“Maksud kakak apa?” selama ini Chelsea tidak mengetahui tentang cerita masa lalu kedua orang tuanya. Yang mengetahui semua itu hanya Veon, karena Vera hanya menceritakan itu kepada Veon, itu pun karena pria itu terus mendesak Vera untuk menceritakan tentang masa lalunya dan juga Mama kandung Veon.
“Bukan apa-apa.” Veon lalu mengajak Kania untuk beristirahat di dalam kamar, selagi menunggu kepulangan kedua orang tuanya.
Zaki memutar tubuhnya untuk keluar dari rumah itu, Chelsea melihat Eca yang mengikuti Zaki, “apa hubungan Zaki dengan gadis muda itu?” wanita itu memutuskan untuk lebih memilih mengikuti Zaki dan Eca secara diam-diam, “kenapa aku malah seperti maling gini sih!” gerutunya.
“Kak, tunggu!” teriak Eca sambil menarik lengan Zaki.
Zaki menghentikan langkahnya, “ada apa? kenapa kamu terus mengikuti ku?” tanyanya kesal.
“Aku tidak kenal sama siapapun disini, ini kan rumah begitu asing untukku, temani aku ya,” pinta Eca dengan wajah sok imut.
Zaki bisa melihat sejak tadi Chelsea mengamatinya, ‘sedang apa dia di sana?’ tanyanya dalam hati sambil melihat Chelsea yang sedang berpura-pura melihat bunga-bunga yang ada di taman itu.
“Bukannya tadi kamu sudah berkenalan dengan Chelsea, lebih baik kamu mengobrol saja sama dia.” Kedua mata Zaki menatap ke arah Chelsea.
Eca mengikuti kemana arah mata itu menatap, dia melihat Chelsea yang saat ini juga tengah menatap ke arah mereka, “tapi aku merasa kakak itu tidak suka denganku,” ucapnya.
__ADS_1
“Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?”
“Aku juga tidak tahu, atau mungkin itu hanya perasaan aku saja.”
“Kalau kamu sudah mengenal Chelsea, kamu akan suka dengannya. Dia itu gadis yang baik, dia juga mudah bergaul dengan siapapun.”
“Apa kamu sudah lama mengenal dia? Sepertinya kamu tahu betul tentang dirinya.”
Zaki tersenyum, “bahkan lebih dari itu, hanya saja dia sedikit berubah sekarang, dia seakan ingin menjauhiku.”
Eca mengernyitkan dahinya, “apa maksud kamu?” tanyanya bingung.
“Em...” Zaki mengusap-usap tengkuknya, “bukan apa-apa, lupakan saja.” Pria itu lalu mendudukkan tubuhnya di bangku taman.
“Aku lebih senang berada di dekat kamu, jadi aku lebih baik duduk disini saja.” Eca lalu mendudukkan tubuhnya di samping Zaki, “kalau aku boleh tau, apa kakak sudah mempunyai kekasih?” tanyanya penasaran.
“Kamu tidak perlu tau.” Zaki menjawab dengan nada dingin.
“Kenapa sikap kamu tidak jauh beda dengan suami Kania sih, sama-sama dingin!”
“Lebih baik kamu pergi dari sini, aku sedang ingin sendiri.”
Eca menggelengkan kepalanya, “aku tetap akan duduk disini, aku tidak akan pergi kemana-mana!” gadis itu lalu melipat kedua lengannya di dada.
“Kalau begitu aku yang pergi!” Zaki beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Eca. Pria itu sengaja ingin menghampiri Chelsea yang sejak tadi duduk di ayunan. Dia sangat merindukan sosok wanita itu.
“Kenapa kamu duduk disini sendirian?” Zaki berdiri di depan Chelsea.
“Bukan urusan kamu! Kenapa kamu malah datang kesini? apa kamu tidak ingin menemani kekasihmu?” sindir Chelsea.
“Siapa? Aku!” sambil menunjuk dirinya sendiri, “apa dia sudah gila? Untuk apa aku tidak menyukainya, padahal ini adalah pertemuan pertama aku dengannya!” serunya kesal.
“Bukan hanya dia, aku melihatnya juga seperti itu. Sepertinya kamu memang tidak suka dengan Eca.”
Chelsea mulai mengelak, “tidak ada alasan aku untuk membencinya, apalagi dia kan sahabatnya Kania.”
Zaki tersenyum, “yakin tidak ada alasan apapun?” godanya.
“Tidak ada apa-apa.” Chelsea merasa ada getaran di saku celananya, dia lalu mengambil ponsel itu, dan melihat siapa yang menelponnya, “Eric!” dia lalu menjawab panggilan itu, “halo, Ric, ada apa?” sahutnya.
Mendengar nama Eric, membuat Zaki kesal, ‘untuk apa si bocah tengil itu menelpon Chelsea?’ tanyanya dalam hati.
“Baiklah, aku akan berangkat sekarang juga.” Chelsea lalu mengakhiri panggilan telepon itu, “Zak, aku harus pergi sekarang.” Wanita itu lalu beranjak dari duduknya.
“Kamu mau kemana?”
“Aku akan menjemput Eric, dia tadi aku tinggal di salon, dan aku lupa menjemputnya,” ucap Chelsea sambil menyengir kuda.
“Aku ikut.” Zaki lalu beranjak dari duduknya, ‘aku tidak akan membiarkan kamu berduaan dengan bocah tengil itu,’ gumamnya dalam hati.
“Lalu bagaimana dengan Eca, apa kamu akan meninggalkan dia sendirian?”
__ADS_1
Zaki menarik tangan Chelsea dan membawanya ke dalam mobil. Zaki lalu melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang rumah utama.
“Zak, kamu tega meninggalkan kekasih kamu sendirian.”
“Kita mau kemana?” Zaki tidak ingin menanggapi perkataan Chelsea.
“Ke salon langganan aku.”
“Untuk apa si bocah tengil itu ke salon?”
Chelsea mengernyitkan dahinya, “si bocah tengil? Jadi kamu memanggil Eric bocah tengil?” tanyanya sambil tertawa, “tapi kenapa kamu memanggil Eric seperti itu?” tanyanya lagi.
“Kamu tidak perlu tau.”
Sesampainya di salon, ternyata Eric sudah menunggu di depan salon. Eric langsung masuk ke dalam mobil itu.
“Wah, Eric, wajah kamu semakin terlihat tampan,” puji Chelsea saat melihat perubahan penampilan Eric.
“Thank you, sister is also beautiful (terimakasih, kakak juga cantik),” puji Eric balik.
“I’ve always been beautiful (aku dari dulu sudah cantik),” ucap Chelsea dengan senyuman di wajahnya.
Zaki mendengus kesal, “kalian bisa berbicara dengan bahasa yang mudah aku pahami tidak sih!” serunya.
“Eric, it looks like someone’s upset (Eric, sepertinya ada yang sedang kesal),” sindir Chelsea.
“Someone seems jealous,” tebak Eric.
Chelsea mengernyitkan dahinya, “siapa?” tanyanya bingung.
“Siapa lagi kalau bukan dia.” Eric menunjuk ke arah Zaki.
“Tidak mungkin, kamu pasti salah. Dia tidak mungkin ce...”
Zaki menatap Chelsea sekilas, lalu kembali fokus menatap ke depan, “kenapa? apa kalian sedang membicarakan aku dengan bahasa kalian itu?” tanyanya penasaran.
“Siapa juga yang sedang membicarakan kamu, jangan ke GR an kamu.” Chelsea menatap keluar jendela.
‘Sepertinya Kak Chelsea menaruh hati pada pria itu, tapi kenapa aku merasa justru Kak Chelsea yang seakan menjauh dari pria itu,’ gumam Eric dalam hati.
~oOo~
Erico Samuel
Samuel ( si bocah bau kencur )
Jesica Fernandes ( istri Samuel )
__ADS_1