
Alex dan Chelsea keluar dari dalam kamar mandi, mereka baru selesai mandi bersama, dan pastinya bukan hanya ritual mandi yang mereka lakukan, karena Chelsea keluar dari kamar mandi dengan terus menggerutu, tapi Alex malah tersenyum puas.
“Terus saja ketawa, kamu jahat banget sih sama aku. Apa yang semalam belum puas, hingga pagi ini pun kamu masih saja membuatku kesakitan,” keluhnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Alex yang baru selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu meletakkan handuk itu ke bahunya, “jangan marah gitu, nanti muka kamu jadi jelek lo kalau marah-marah terus.” Pria itu lalu menarik tangan Chelsea dan membawanya menuju meja rias.
Alex lalu mendudukkan Chelsea di kursi depan meja rias, dia lalu mulai mengambil alih handuk yang berada di tangan Chelsea dan mulai mengeringkan rambut wanita itu, “habis ini mau jalan-jalan kemana? Aku akan mengantar kemanapun kamu mau pergi.”
Chelsea menghela nafas panjang, dia juga tidak bisa marah lama-lama dengan pria yang saat ini sedang mengeringkan rambutnya dengan lembut, “bagaimana kalau ke Pantai Kuta,” ucapnya.
Alex menganggukkan kepalanya, “kalau begitu aku akan bersiap-siap dulu.”
Setelah selesai mengeringkan rambut Chelsea, Alex segera berjalan menuju lemari pakaian. Pria itu memilih untuk menggunakan kaos dan juga celana pendek berbahan kain, serta jaket berwarna putih juga, tidak lupa kaca yang selalu dipakai oleh Alex kemanapun dia pergi. Sedangkan Chelsea memilih untuk mengenakan kaos yang senada dengan Alex, yaitu putih, tapi dipadukan dengan celana jeans panjang, tak lupa Chelsea memakai topi kebanggaannya.
Setelah selesai bersiap-siap, mereka keluar dari kamar hotel itu. Tapi, terlebih dahulu Alex mengajak Chelsea untuk sarapan di restoran, karena selama mereka di Bali beberapa hari ini, mereka selalu sarapan di dalam kamar.
Alex menyuruh Chelsea untuk duduk, sedangkan dirinya mengambil makanan untuknya dan juga Chelsea. Setelah itu, Alex kembali dengan membawa nampan yang berisi dua piring makanan dan dua gelas minuman. Mereka pun mulai menyantap makanan itu, Alex senang melihat Chelsea yang selalu makan dengan lahapnya.
“Sayang, kamu belum hamil saja, makan mu sudah sebanyak ini, apalagi setelah kamu hamil nanti,” candanya.
“Ya mau gimana lagi, aku juga tidak tahu kenapa aku selalu merasa lapar.” Chelsea kembali memasukkan satu suap makanan ke mulutnya.
“Apa kamu tidak takut gemuk nanti? Biasanya cewek sangat takut kalau berat badan mereka naik.”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “bukannya aku tidak takut gemuk, tapi kan aku selalu mengimbanginya dengan berolahraga.”
Alex mengernyitkan dahinya, “olah raga? Kapan kamu berolahraga? Aku tidak pernah melihat kamu berolahraga?” tanyanya.
“Masa kamu tidak tahu, kamu kan tiap malam selalu mengajak aku untuk berolah raga malam, bahkan sampai seluruh tubuhku penuh dengan peluh. Belum lagi di pagi hari? Itu kan namanya juga berolahraga.” Chelsea berbicara sambil tersenyum dan menatap Alex yang menggelengkan kepalanya.
“Dasar!”
“Tapi benarkan, setelah melakukan itu, tubuhku terasa lebih ringan, dan keringat mengucur deras, selain itu juga nikmat.”
“Astaga sayang, sejak kapan kamu bicara begitu blak-blakan seperti ini di depan aku?” tanya Alex heran.
Chelsea yang sudah selesai makan, mengambil segelas jus jeruk yang dibeli oleh Alex, lalu dia mulai meneguknya beberapa kali, setelah itu meletakkan kembali gelas itu ke atas meja, “aku kan belajar dari kamu sayang,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Alex tidak mau berdebat dengan Chelsea, kalau tidak dia hentikan segera, mungkin perdebatan itu akan semakin panjang dan tidak akan menemukan titik temunya, “kamu sudah selesai makannya?” tanyanya.
Chelsea menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali mengambil jus jeruk yang tadi dia minum dan meminumnya lagi sampai habis tak tersisa.
“Ya, sudah, ayo kita ke Pantai Kuta sekarang.”
Alex dan Chelsea lalu beranjak dari duduknya. Alex lalu menyatukan jemarinya ke jemari Chelsea.
“Romantis sekali.” Chelsea lalu mempererat genggaman jemari tangan Alex.
__ADS_1
Alex mencubit hidung mancung Chelsea, lalu dia mengajak Chelsea keluar dari restoran itu. Chelsea dan Alex berjalan beriringan, sejak tadi Chelsea sering kali memperhatikan tangannya yang tengah di genggam oleh Alex, sejak mereka keluar dari restoran, sampai masuk ke dalam taksi.
Alex memiringkan wajahnya menatap Chelsea, “apa yang kamu lihat sayang?” tanyanya penasaran.
“Itu.” Chelsea menunjuk tangannya yang masih digenggam erat oleh Alex, “sampai kapan kamu akan terus menggenggam tangan aku? kita sekarang bahkan sudah berada di dalam taksi, jadi kamu tidak perlu takut aku akan kabur meninggalkan kamu,” godanya.
Alex mengangkat tangannya yang masih menggenggam tangan Chelsea, lalu mengecupnya, “aku tidak akan pernah melepas genggaman tangan ini, aku bukan hanya takut kehilangan kamu, tapi aku takut tidak akan pernah melihat kamu lagi, saat aku melepas genggaman tangan ini.”
“Lex...”
“Aku sangat mencintaimu, aku benar-benar takut kehilangan kamu, jadi aku mohon, jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan aku.” Chelsea hanya mampu menganggukkan kepalanya, dia bahkan sudah tidak sanggup untuk berkata-kata. Alex adalah anugerah yang Tuhan berikan untuknya, melimpahkan kasih sayang dan perhatian yang tulus untuknya.
**
Mereka kini tengah berdiri di pinggir Pantai Kuta Bali, melihat ombak yang bergulung-gulung, serta mendengar suara gemuruh ombak yang berderu-deru. Tapi, saat mereka tengah menikmati pemandangan indah Pantai Kuta Bali, Chelsea seakan melihat sosok wanita yang sangat dikenalnya.
Alex menepuk bahu Chelsea, “sayang, apa yang kamu lihat? Jangan bilang kamu sedang melihat para pria yang hanya menggunakan dalaman itu?” di samping Chelsea dan Alex memang berdiri empat orang pria yang hendak melakukan surfing dan hanya menggunakan dalaman saja.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “sayang, lihatlah wanita yang sedang duduk sendirian itu, bukankah itu Vika?”
Alex mengikuti arah ekor mata Chelsea, “benar sayang, itu memang Vika, tapi apa yang sedang Vika lakukan disini sendirian?” tanyanya yang juga penasaran.
“Aku juga tidak tahu, bagaimana kalau kita hampiri dia, kamu mau kan?” tanya Chelsea sambil menatap kedua mata Alex.
Alex menganggukkan kepalanya, dia lalu mengajak Chelsea untuk menghampiri Vika. Saat mereka sedang melangkah mendekati Vika, mereka melihat ada seorang pria yang juga tengah berjalan mendekati wanita itu.
“Aku juga tidak tahu, tapi kita harus mencari tahu. Aku sangat penasaran siapa pria tampan itu.” Chelsea tersenyum sambil menatap Alex.
Alex memelototkan kedua matanya, “kamu jangan macam-macam ya, sekarang juga aku bisa bunuh pria itu,” ancamnya.
Chelsea tertawa, “sayang, kenapa kamu seserius itu, aku hanya bercanda kali, kamu saja sudah cukup buat aku, aku juga tidak tertarik sama pria manapun, meskipun ketampanannya melebihi suamiku yang tampan ini,” godanya.
**
Saat ini Alex dan Chelsea sedang duduk berhadap-hadapan dengan Vika dan juga pria asing itu, hanya meja berbentuk persegi yang menjadi penghalang mereka. Setelah menghampiri Vika, Chelsea mengajak mereka ke sebuah restoran.
“Sekarang jelaskan sama aku, siapa pria yang duduk di samping kamu ini?” Chelsea bertanya dengan kedua lengannya yang dia lipat di depan dadanya.
“Dia...” Vika menatap ke arah pria yang duduk di sampingnya, “dia...pacar aku,” imbuhnya.
Chelsea dan Alex membulatkan kedua matanya, “Vik, apa kamu serius? Atau kamu hanya ingin membuat alasan agar aku dan Alex memberikan kabar ini kepada Betrand, dengan begitu Betrand akan berhenti untuk mengejar kamu?” tanya Chelsea terkejut.
Vika hanya diam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Chelsea. Pria yang duduk di samping Vika pun mulai angkat bicara.
“You wanna know who I am? I’m his cousin Vika, my name is Leonardo, just call me Leo,” ucap Leo memperkenalkan diri.
Leo adalah warga negara Inggris, dia selama ini tinggal di Inggris bersama dengan keluarganya. Om Vika menikah dengan wanita berkebangsaan Inggris dan menetap di Inggris.
__ADS_1
“Maaf, Leo tidak lancar berbahasa Indonesia,” ucap Vika.
“Tapi kenapa tadi kamu mengaku kalau dia pacar kamu? Apa kamu memang sengaja?”
Vika menganggukkan kepalanya, “aku berkata seperti itu agar kalian tidak membahas soal Betrand lagi.”
“Vik, apa alasan kamu tidak mau menerima Betrand lagi? Kamu kan tahu, dia sebentar lagi akan bercerai dengan istrinya,” ucap Alex.
“Aku tidak mau dituduh menjadi orang ketiga dari hancurnya pernikahan Betrand. Sejak awal aku sudah berusaha untuk mengikhlaskan dia, dan menerima semuanya.”
“Vik, kamu pernah bilang sama aku, kalau kamu belum bisa melupakan Betrand selama ini, itu sebabnya aku mau membantu Betrand untuk membujuk kamu, tapi...kenapa sekarang kamu berubah pikiran?” tanya Chelsea.
Vika menghela nafas panjang, “Betrand sudah menikah dengan wanita itu hampir satu tahun, itu berarti sudah begitu banyak kenangan dan kejadian yang telah mereka lalui bersama, entah itu suka maupun duka. Aku tidak mau menghancurkan perasaan istrinya, karena aku juga mengalami betapa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang sangat kita sayangi.”
“Vik, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini, tapi kamu harus mengetahui satu hal tentang Betrand. Aku tahu, kamu pasti berpikir Betrand dan istrinya selama ini hidup dalam kebahagiaan, dan mereka selama ini menghabiskan waktu bersama.” Alex menggelengkan kepalanya, “semua yang kamu pikirkan tentang Betrand itu salah besar, selama ini Betrand masih tetap bertahan dengan wanita itu hanya demi kamu, bahkan selama pernikahannya, dia satu kali pun belum pernah menyentuh istrinya, dan karena sikap Betrand yang seperti itu, istrinya selalu mengatur hidup Betrand dan melarangnya untuk melakukan apa yang disukainya.”
Vika dan Chelsea sama-sama membulatkan kedua matanya, mereka benar-benar terkejut dengan apa yang Alex katakan. Bagaimana bisa Betrand bisa menjalani hidup seperti itu selama hampir satu tahun.
“Yang membuat Betrand masih tetap bertahan dengan hidupnya, itu hanya kamu, Vik. Kamu adalah penyemangat hidup Betrand. Dia benar-benar sangat mencintai kamu, aku akui keputusannya waktu itu salah, tapi dia sudah menyesali semuanya,” sambung Alex lagi.
“Tapi sayang, kenapa Betrand hanya diam saja saat aku bertanya, apa dia sudah tidur dengan istrinya?” tanya Chelsea penasaran.
“Betrand merasa malu jika harus menceritakan semua itu sama kamu sayang, hanya aku yang tahu semua tentang Betrand, dia hanya menceritakan semua itu padaku, bahkan kedua orang tuanya pun tidak tahu, dan istrinya juga tidak mungkin mengatakan itu kepada kedua orang tuanya dan mertuanya, jika dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri.”
“Lex, kamu mengatakan semua itu hanya untuk membujukku kan, agar aku mau menerima Betrand lagi?”
Alex menggelengkan kepalanya, “aku menceritakan semua itu, hanya agar kamu tidak menuduh Betrand yang bukan-bukan. Dia adalah sahabat terbaikku, aku tidak suka ada orang yang menjelek-jeleknya, padahal dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang dia.”
Alex lalu beranjak dari duduknya, “Vik, semua keputusan tetap ada pada diri kamu, aku maupun Chelsea juga tidak bisa memaksa kamu untuk kembali lagi bersama dengan Betrand. Tapi, kamu harus ingat satu hal, Betrand tidak akan pernah menyerah untuk bisa mendapatkan kamu lagi. Meskipun kamu lari ke ujung dunia sekalipun, dia akan bisa menemukan kamu. Kamu tahu kenapa? karena hati kalian terhubung, kalian sudah ditakdirkan untuk tetap bersama.”
“Lex, aku...”
Alex menyuruh Chelsea untuk berdiri, wanita itu pun menurutinya, “maaf, Vik. Aku dan Chelsea berada disini untuk berbulan madu, jadi aku dan Chelsea sementara ini akan menjauh dari masalah kamu dan Betrand. Aku hanya bisa memberikan kamu informasi itu tentang Betrand, selanjutkan kamu urus sendiri.” Pria itu lalu menggandeng tangan Chelsea, “kami harus pergi dulu.” pamitnya lalu mengajak Chelsea melangkah meninggalkan Vika dan juga Leo.
“Sayang, apa kamu tadi tidak merasa kata-kata kamu itu sangat kasar kepada Vika?”
Alex menggelengkan kepalanya, “jika aku tidak berkata seperti itu, sampai kapanpun Vika tidak akan pernah sadar, hanya Betrand yang mencintainya dengan tulus.” Pria itu lalu menghentikan langkahnya, dia lalu menangkup kedua pipi Chelsea dengan kedua telapak tangannya, “aku tidak ingin kamu membahas masalah Vika lagi, aku ingin hanya ada kita berdua disini.”
Chelsea menganggukkan kepalanya, “siap,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
~oOo~
__ADS_1