
" Bu, ingat Allah tidak akan memberikan hambanya cobaan diambang batas kemampuannya menghadapi cobaan itu" sahut ayah Arman lagi bijak, membuat Bu Dewi pun mengucap istighfar karena terlalu larut dalam ketakutannya.
Ditengah rasa cemas dan khawatir ayah Arman dan Bu Dewi, didalam ruangan ICU tempat Desi dirawat terlihat beberapa dokter yang mulai bertindak memeriksa nyonya muda mereka, untuk mengetahui apa yang terjadi pada nyonya Desi sehingga mereka bisa mengetahui tindakan apa yang selanjutnya mereka ambil.
Dreet dreet dreet
Ditengah rasa hening terdengar bunyi ponsel yang membuat tiga orang yang menunggu didepan ruang ICU tempat Desi dirawat teralihkan pada tas Desi yang dari tadi dibawa oleh Bu Dewi.
dengan segera Bu Dewi membuka tas milik putrinya dan mengambil ponsel Desi yang berbunyi guna melihat siapa yang menelpon.
Setelah melihat id si penelpon Bu Dewi dengan segera mengangkatnya.
* Assalamualaikum Desi? Kamu dimana nak! Hari sudah sore apa kamu masih bekerja* ucap suara seorang wanita disebrang sana dengan nada khawatir
* Walaikumsalam, maaf Lena ini aku Dewi ibunya Desi!* Jawab Bu Dewi pada si penelpon yang ia ketahui bibi dari suami anaknya.
* Mbak Dewi, maaf aku kira tadi yang angkat Desi! Aku hanya khawatir padanya jadi sengaja menelponnya. Tapi sepertinya aku salah Desi lagi berkunjung ke rumah kalian aku jadi merasa tenang* sahut bibi Lena merasa tidak enak
Dewi yang mendengar perkataan Lena malah merasa bersalah karena terlalu panik dan khawatir pada putrinya ia sampai lupa mengabari suami putrinya juga keluarga BRAMANTYO yang lain.
* Tidak pa-pa Lena, oh ya kebetulan kamu menelpon aku minta tolong beritahu Raka jika saat ini Desi sedang dirawat di rumah sakit*ucap Bu Dewi dengan nada rendah tapi masih bisa didengar oleh Dela
* Apa? Desi masuk rumah sakit! Desi sakit apa mbak?* Sahut bibi Lena beruntutan
* Kami juga belum tahu! Saat ini dokter masih menanganinya*
* Kalau gitu mbak kirim alamat rumah sakitnya kami akan segera kesana* timpal Lena dengan nada khawatir
Bu Dewi disebrang sana mengangguk saja dan mengirim alamat RS. Tempat putrinya dirawat.yg tidak lain milik keluarga BRAMANTYO.
Sedangkan dikediaman Desi.
" Kamu kenapa Lena, apa yang Desi katakan sehingga kamu jadi panik seperti itu" tanya paman Frans pada istrinya saat ini mereka sedang berada dikamar tamu yang sudah disiapkan oleh kepala pelayan sesuai perintah Desi.
" Kita harus segera kerumah sakit mas? Tadi yang angkat telepon aku mbak Dewi ibunya Desi" jawab bibi Lena
" Loh memang Desi kemana"
" Desi masuk rumah sakit, mas"
" Apa"
" Udah ayo cepat mas, malah bengong" kesal Lena.
Mereka berdua pun bergegas keluar dari kamar, saat berjalan melewati ruang keluarga mereka melihat Jessi dan nyonya Maria sedang duduk bersama sedang menonton TV dengan Santai! Lena pun berjalan mendekat ia ingin memberi tahu keadaan Desi pada Maria biar bagaimanapun ia adalah ibu mertua Desi mengingat Raka sedang dinas keluar negeri jadi tidak mungkin untuk bisa datang melihat kondisi istrinya.
" Mbak, Desi masuk rumah sakit kita harus segera kesana" ucap Lena panik
Sejenak terlihat raut terkejut diwajah wanita paruh baya itu tapi tidak lama ekspresi wajahnya kembali angkuh dan sombong, sedang Jessi hanya dia dan mendengarkan.
" Bisa juga wanita mandul itu sakit, sekalian aja mati sana" sarkas Maria lantang membuat Lena menggeleng tidak percaya sedang Frans semakin geram dengan tingkah istri kakaknya itu.
" Astagfirullah halazim mbak, istighfar apa yang mbak katakan Desi itu menantu mbak juga dan.."
" Alah tidak usah ceramah kamu, jika ingin pergi ya pergi saja sana tidak perlu memaksa ku untuk ikut" seru nyonya Maria memotong ucapan bibi Lena
" Sudahlah tidak perlu meladeninya,kita pergi berdua saja" sahut Frans menarik tangan istrinya keluar ia tidak ingin lepas kendali juga dan malah bersikap kasar pada almarhum istri Kakaknya.
Sedangkan Jessi yang mendengar perdebatan kedua wanita paruh baya itu mengumpat dalam hati.
' sial kenapa wanita ****** itu malah masuk rumah sakit, bagaimana aku harus menjalankan rencanaku ah' geramnya karena Rencana yang sudah ia susun harus ditunda mendengar jika Desi masuk rumah sakit itu berarti istri pertaman suaminya itu tidak akan pulang dalam beberapa hari.
***
" Tuan"
__ADS_1
" Ada apa"sahut Raka
Thom tampak terdiam sejenak,ia bingung harus menjelaskan bagaimana karena ia yakin jika tuannya mendengar kabar ini pasti pria itu tidak akan tinggal diam.
" Saya mendapat informasi jika nyonya Desi dilarikan ke Rumah sakit tuan" ucapnya dengan sekali tarikan nafas
Deg
Saat itu juga jantung Raka berdetak kencang setelah mendengar perkataan asistennya itu.
" Apa? Bagaimana bisa! Apa saja yang dilakukan oleh anak buahmu itu hah, untuk menjaga satu wanita saja mereka tidak becus" sarkas Raka dengan suara tinggi memenuhi ruangan itu.
" Maaf tuan" jawab thom,Karena menurutnya saat ini menjelaskan juga tidak akan ada gunanya melihat aura tidak bersahabat yang sudah dikeluarkan tuan mudanya membuat thom sangat paham sekarang bukan waktunya ia menjelaskan.
" siapkan pesawat pribadi siang ini aku akan kembali,kamu tinggallah disini dan urus sesuai rencana Setelah keadaannya membaik" ucap Raka dengan tegas
"Semuanya sudah saya siapkan tuan, tinggal menunggu tuan" sahut thom cepat
Ia sudah mempersiapkan semuanya setelah mendapatkan informasi terkait apa yang menimpa nyonya mudanya, thom dengan segera menyiapkan segalanya sebelum menemui tuan mudanya karena ia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi dan apa yang ia perkirakan tidak melesat.
Raka yang mendengar itu lantas langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan diikuti oleh thom,bukan Raka tidak ingin menggunakan transportasi umum tapi hari sudah sore dan tidak ada pesawat menujuh Jakarta jika ingin maka harus menunggu sampai besok pagi.dan ia sudah tidak ada waktu untuk menunggu ia harus memastikan keadaan istrinya baik-baik saja.
***
" Mbak Dewi?"
Panggil bibi Lena yang terlihat berjalan terburu-buru menujuh ruang IGD tempat Desi dirawat, setelah sampai kerumah sakit ia langsung keluar dari mobil dan meninggalkan suaminya yang sedang memarkirkan mobilnya.
" Lena" sahut Bu Dewi
" Mbak bagaimana keadaan Desi" tanyanya dengan nada khawatir
" Mbak juga belum tahu Len, dokter masih menanganinya! Kita tunggu saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan Desi" timpal Bu Dewi dengan nada sedih
" Kamu datang sendiri Lena" tanya ayah Arman mengalihkan pembicaraan saat melihat Bu Dewi yang kembali murung, dan untungnya Bi Leni yang cepat tangkap pun menjawab pertanyaan itu.
" Aku datang bersama mas Frans,tadi aku meninggalkannya saat ia memarkir mobilnya! mungkin sebentar lagi dia akan menyusul" sahutnya.
Dan benar saja tidak lama terlihat paman Frans berjalan mendekat ke arah mereka,dan setelah bertegur sapa sebentar karena sudah lama tidak bertemu mereka pun duduk menunggu didepan ruang IGD.
" Lena dimana Raka, apa dia tidak datang?" Tanya Bu Dewi tiba-tiba karena teringat ia sudah berpesan pada Lena untuk memberitahu menantunya itu.
" Oh itu mbak, Raka sedang dinas keluar negeri! Jadi aku belum memberitahukannya" timpalnya
Yang diangguki paham oleh Bu Dewi mengingat menantunya itu seorang pengusaha sukses pasti pekerjaannya Sangat banyak, sesaat keadaan kembali hening sampai saat pintu ruangan IGD terbuka mengalihkan semua perhatian orang yang ada di depan ruangan.
beberapa suster berlalu lalang keluar masuk ruangan dimana Desi dirawat terlihat wajah tegang dan panik tergambar jelas diwajah para perawat itu membuat jantung Bu Dewi berdetak tidak karuan begitupun ayah Arman, Bi Lena dan paman Frans. Sedang asisten Kevin sudah kembali kekantor sesaat setelah sampai di rumah sakit karena pekerjaan dikantor yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
" Suster ada apa ini?" Tanya Bu Dewi menahan salah satu perawat yang berjalan keluar dari ruangan
" Keadaan pasien kritis,ia kehilangan banyak darah kami butuh kantong darah 0 rhesus negatif untuk transfusi darah secepatnya tapi dirumah sakit hanya tersisa 2 kantong sedang kami butuh 3 Kanton, untuk mencari dirumah sakit lain pasti membutuhkan waktu yang lama sementara pasien harus segera mendapatkan transfusi darah secepatnya! apa keluarganya ada yang memiliki golongan darah yang sama." ucap perawat itu panjang lebar membuat tubuh Bu Dewi hampir jatuh jika tidak ditahan oleh suaminya.
" Ambil darah saya sus, golongan darah saya sama dengan Putri saya" sahut ayah Arman
" Yah, tapi ayah memiliki penyakit jantung tidak mungkin bisa melakukan donor darah" timpal Bu Dewi karena ia tahu orang yang menderita penyakit tertentu seperti jantung, kanker, dll tidak dapat menjadi pendonor darah.
Mendengar hal itu membuat ayah Arman pun menjadi sedih, apa yang harus mereka lakukan sementara golongan dara Bu Dewi adalah 0 rhesus positif berbeda dengan Desi.
" Sus golongan darah saya sama dengan kakak saya, saya yang akan mendonorkan nya" ucap Ardi yang baru tiba memecah keheningan didepan ruang IGD tempat Desi dirawat.
" Ardi" panggil Bu Dewi saat melihat kedatangan putra bungsunya, yang tadi ia beri kabar jika mereka akan pulang telat karena Desi masuk rumah sakit. Bu Dewi tidak menyangka jika putra bungsunya itu malah ikut menyusul kerumah sakit.
" Ibu dan ayah tidak perlu khawatir aku akan melakukan apapun agar mbak Desi bisa segera sembuh" ucapnya dengan nada tegas.
Bu Dewi yang mendengar perkataan putranya itu mengangguk dengan perasaan lega, karena Desi bisa mendapatkan pendonor darah secepatnya.
__ADS_1
" Kalau begitu anda bisa segera keruang UTD untuk pengambilan darah" ucap suster itu yang diangguki oleh Ardi.
UTD (Unit Transfusi Darah) yang selanjutnya disingkat, adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan donor darah, penyediaan darah, dan pendistribusian darah.
" Bu,yah aku pergi sebentar" pamitnya pada kedua orang tuanya.kemudian berjalan mengikuti suster keruang UTD.
***
Ditempat lain tepatnya diBandara Soekarno Hatta, terlihat pria dengan garis wajah tegas dan garam berjalan keluar dari pesawat pribadinya, ekspresi wajah dingin menatap tajam kearah depan dimana para bodyguard sedang menunggu kedatangannya.
" Selamat datang tuan muda"
Sambut para bodyguard itu yang hanya dibalas deheman oleh Raka, dengan segera ia berjalan kearah mobil untuk segera kerumah sakit dimana istrinya berada.
" Kerumah sakit dijalan xx sekarang" perintahnya saat melihat sopir ingin bertanya.
" Baik tuan muda"setelah itu mobil pun berjalan meninggalkan bandara disusul mobil hitam lain yang mengikuti dibelakang yang diisi oleh beberapa bodyguard Raka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next Sampai sini dulu ya gays π₯°π
Jangan lupa Like dan Votenya βΊοΈππ
__ADS_1