
Dengan perlahan Chelsea menurunkan tangan Alex dari tubuhnya, dengan penuh hati-hati wanita itu mencoba turun dari ranjang. Memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.
“Dimana Alex menyimpan ponselku.”
Chelsea menggeledah pakaian Alex yang berserakan di lantai, tapi dia sama sekali tidak menemukan ponselnya. Dengan langkah pasti Chelsea keluar dari kamar itu, bagaimanapun caranya dia harus menemukan ponselnya, dia harus segera memberitahu Zaki maupun Veon tentang keberadaannya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sekarang saja aku tidak tau dimana aku.” Chelsea mendudukkan tubuhnya di sofa, “aku membencimu Alex, sangat membencimu. Aku tidak sudi menikah denganmu, lebih baik aku mati.”
Chelsea mengambil ponsel Alex yang tergeletak di atas meja, “ternyata dia ceroboh juga, bisa-bisanya dia meninggalkan ponselku disini.” Wanita itu lalu menelpon ke nomor ponselnya sendiri, dia ingin tau dimana Alex menyembunyikan ponselnya.
Chelsea beranjak dari duduknya saat mendengar suara dering ponselnya, dia membuka laci lemari yang berada di ruang tamu, “ini dia ponselku,” ucapnya lalu mengambil ponselnya dari dalam laci.
“Aku harus segera menghubungi Zaki.” Chelsea pun mulai menghubungi nomor Zaki, “ayo angkat.”
Chelsea menggigit ujung kuku ibu jarinya, “Zak, kamu lagi ngapain sih!” wanita itu lalu menghubungi nomor Zaki lagi, “halo,” sahutnya saat panggilan itu mulai tersambung.
“Chelsea, kenapa kamu menghubungiku? Aku dengar dari Kania, katanya kamu menginap di rumah sahabat kamu. Tapi tidak seperti biasanya kamu menginap di rumah orang lain.”
“Zak, dengerin aku, apa kamu bisa me...”
Chelsea membulatkan kedua matanya saat Alex mengambil ponselnya, “berikan ponselku!”
Alex mematikan ponsel Chelsea, “apa yang kamu lakukan? Apa kamu berniat untuk pergi dari tempat ini?”
“Alex, biarkan aku pergi, aku akan memaafkan semua kesalahan kamu, tapi aku mohon, lepaskan aku.” Chelsea berucap dengan mengatupkan kedua telapak tangannya.
Alex mencengkram kedua lengan Chelsea, “apa kamu ingin mempermainkan aku? bukankah tadi kamu berjanji akan menikah denganku? Apa kamu sudah membohongi aku, hah!” teriaknya.
Chelsea merasakan sakit di kedua lengannya, Alex mencengkram lengan Chelsea dengan sangat kuat, “Lex, sakit,” pekiknya.
“Jika kamu tidak mengikuti apa yang aku mau, maka aku akan membuat keluarga kamu hancur!”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “jangan lakukan itu, aku mohon.”
“Kenapa kamu tidak mau menikah denganku? Aku sudah menyesali semua kesalahan aku, aku ingin menebus semua kesalahan aku, beri aku kesempatan sekali lagi, hem.” Alex mengendorkan cengkraman tangannya tapi dia tidak melepaskan Chelsea.
“Aku tidak bisa, aku sudah tidak mencintai kamu lagi. Aku bisa memaafkan semua kesalahan kamu, tapi aku tidak bisa...”
“Jika aku tidak bisa memiliki kamu, maka siapapun juga tidak boleh memiliki kamu.” Alex lalu menarik tangan Chelsea dan memasukkannya ke dalam kamar. Pria itu lalu mengunci wanita itu di dalam kamar, dia tidak memperdulikan teriakan wanita itu.
“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Selama ini aku berusaha untuk berubah, meninggalkan semua kebiasaan buruk ku, hanya demi kamu. Tapi...apa ini yang aku dapatkan sekarang?”
Chelsea terus menggedor-gedor pintu kamar itu, dia bahkan terus memohon kepada Alex untuk melepaskannya, tapi Alex sama sekali tidak mengindahkan terikannya.
***
“Ada apa dengan Chelsea, kenapa nomornya tidak aktif?”
Veon mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya, “ada apa?” tanyanya saat melihat wajah Zaki yang terlihat begitu gelisah.
“Tadi Nona Chelsea menelepon saya, tapi ada yang aneh, dia tiba-tiba mengakhiri panggilannya, dan sekarang ponselnya tidak bisa di hubungi.”
“Dia menginap di rumah sahabatnya, nanti dia juga akan pulang. Lebih baik kamu fokus dengan Alex, bagaimana perkembangan pengintaian kamu di rumah Alex?”
Zaki mencoba untuk percaya dengan apa yang Veon katakan, “tidak ada yang mencurigakan, sepertinya Alex tidak pernah keluar dari rumah, karena saya tidak melihat dia keluar dari rumah.”
Veon menyungingkan senyumannya, “mungkin sekarang dia sudah mulai menyerah.”
“Semoga saja, Tuan.”
Veon lalu mengambil kunci mobilnya dari atas meja, “aku akan pulang lebih dulu, hari ini adalah jadwal Kania untuk check up kandungan.” Pria itu lalu beranjak dari duduknya, “aku serahkan semuanya sama kamu.”
__ADS_1
Zaki menganggukkan kepalanya, hari ini mungkin dia akan menghabiskan waktunya di kantor, tapi hatinya masih merasa tidak tenang.
“Semoga Chelsea baik-baik saja, semoga ini hanya ketakutan aku yang sama sekali tidak mendasar.”
Zaki mulai menyelesaikan pekerjaan yang belum sempat diselesaikan oleh Veon, meneliti kembali berkas-berkas yang diberikan oleh sekretaris Veon. Waktu terus berlalu, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.
Zaki keluar dari ruangan itu, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Chelsea, wanita yang sangat dia rindukan. Sejak kemarin dia belum bertemu dengan Chelsea, rasa rindunya sudah menggebu-gebu.
Zaki melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih cepat dari biasanya. Dalam perjalanan dia terus mencoba untuk menghubungi Chelsea, tapi ponsel wanita itu masih belum bisa di hubungi. Zaki semakin terlihat cemas, dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah, dia berpapasan dengan Eca yang saat itu habis keluar dari arah dapur. Zaki memanggil Eca, dan melangkahkan kakinya untuk mendekati gadis itu, “apa Chelsea sudah pulang?” tanyanya kemudian.
Eca menggelengkan kepalanya, “sepertinya belum, memangnya ada apa?” tanyanya penasaran.
“Bukan apa-apa.” Zaki lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu, dia terus mencoba untuk menghubungi ponsel Chelsea, tapi hasilnya tetap nihil.
“Chelsea, dimana kamu, apa kamu baik-baik saja sekarang?” Zaki teringat dengan Vika, sahabat yang begitu dekat dengan Chelsea, “apa aku masih menyimpan nomornya?” pria itu lalu mencoba mencari kontak Vika di kontak ponselnya, “ini dia,” ucapnya saat menemukan kontak ponsel Vika.
Zaki mencoba untuk menghubungi Vika, dia ingin tau, apa gadis itu tau tentang keberadaan Chelsea, “halo,” sahutnya saat panggilan itu mulai tersambung.
“Halo, maaf, ini siapa ya?”
“Saya minta maaf, karena malam-malam begini saya menelpon anda. Saya adalah sahabat Chelsea, apa Chelsea masih berada di rumah anda?”
Vika mengernyitkan dahinya, “maaf, Chelsea tidak ada di rumah saya. Saya memang bertemu dengan Chelsea, kemarin siang, tapi dia tidak bersama dengan saya.”
“Apa kamu tau dimana dia sekarang?”
Vika teringat akan Alex, Alex adalah orang yang terakhir bersama dengan sahabatnya itu, “terakhir aku lihat Chelsea bersama dengan Alex.”
Mendengar nama Alex di sebut, membuat Zaki membulatkan kedua matanya, dia terlihat semakin cemas, tapi dia mencoba untuk tetap tenang, dia tidak ingin melakukan tindakan yang gegabah.
“Apa anda mempunyai nomor kontak Alex? Saya sudah mencoba untuk menghubungi Chelsea, tapi ponselnya tidak aktif.”
‘Apa sampai sekarang Chelsea belum pulang? Apa jangan-jangan...Alex kembali menyakitinya lagi?’ gumam Vika dalam hati.
“Ya, aku akan memberikan nomor kontak Alex, saya akan mengirimnya ke ponsel anda sekarang.” Vika lalu mengakhiri panggilan itu, dia bergegas mengirimkan kontak ponsel Alex ke nomor ponsel Zaki.
“Chelsea, maafkan aku, aku tidak menyangka Alex tega melakukan semua itu sama kamu. Selama ini aku kira Alex benar-benar tulus mencintai kamu, tapi ternyata...”
**
Setelah mendapatkan nomor kontak Alex, Zaki langsung menghubungi nomor itu. Nomor itu bisa dihubungi, tapi tidak ada tanda-tanda panggilan itu akan terjawab. Zaki tidak pantang menyerah, bagaimanapun caranya, dia akan menemukan Chelsea.
Zaki masuk ke dalam mobilnya, dia ingin pergi ke rumah Alex, siapa tau dia telah melewatkan sesuatu yang mungkin akan menjadi petunjuk dirinya untuk menemukan Chelsea. Sesampainya di rumah Alex, dia lalu keluar dari mobilnya.
Zaki melihat rumah Alex tampak sepi, “apa dia tidak ada di rumah? Lalu kemana dia membawa Chelsea pergi?” zaki meraup wajahnya gusar, “Chelsea, dimana kamu sekarang, apa kamu baik-baik saja? Maafkan aku, karena aku telah gagal melindungi kamu.”
Zaki merasakan getaran di saku celananya, dia lalu mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya, “Alex!” pria itu lalu menjawab panggilan itu, “dimana kamu sekarang!” teriaknya.
“Maaf, ini siapa ya?”
“Katakan dimana kamu membawa Chelsea? Apa dia baik-baik saja? Awas saja kalau kamu sampai menyakitinya, aku tidak akan membiarkan kamu hidup!”
Alex menyungingkan senyumannya, “apa ini pesuruh Veon?” pria itu lalu tertawa, “apa kamu sangat mencemaskan kekasihku sekarang?”
“Katakan dimana Chelsea sekarang!” teriak Zaki.
“Chelsea...dia sedang tertidur karena kelelahan, kami baru saja melewati malam yang indah. Apa kamu ingin aku membangunkannya?”
Zaki mengepalkan tangannya, emosinya semakin meluap, bisa-bisanya dia lengah dan membiarkan Chelsea berada di tangan Alex, “jangan pernah kamu menyentuh Chelsea, jika kamu menyentuh tubuhnya sedikitpun, maka aku akan mematahkan kedua tangan kamu!”
__ADS_1
Alex tertawa sarkas, “jangankan menyentuh tubuhnya, aku bahkan sudah menikmati tubuh itu. Apa kamu tau, Chelsea bahkan menikmati setiap permainan yang aku lakukan, dia begitu menikmatinya dan meminta lagi-lagi dan lagi.”
“Brengsek! Katakan dimana kamu sekarang!”
“Apa aku bodoh dengan gampangnya akan memberitahu dimana aku sekarang? Nikmatilah penderitaan kamu, aku akan kembali bersenang-senang dengan kekasihku.” Alex lalu mengakhiri panggilan itu, “apa pria itu menyukai Chelsea?”
Alex menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, “aku tidak akan pernah melepaskan Chelsea, dia hanya akan menjadi milikku selamanya. Jika dia tidak ingin menikah denganku, aku hanya mempunyai satu cara, agar dia mau menikah denganku.”
Alex menatap pintu kamar Chelsea, “apa dia sudah tidur? Kenapa tidak ada lagi suara teriakan dari dalam kamar itu?” pria itu lalu menghela nafas panjang, “aku akan membiarkannya, lebih baik aku tidur, menghadapi Chelsea sungguh sangat melelahkan, dia sudah banyak berubah. Dia bukan lagi Chelsea yang penurut, yang selalu menuruti setiap perkataan aku.”
Alex lebih memilih untuk tidur di sofa, dia tidak ingin pergi dari tempat itu, karena dari tempatnya sekarang, dia bisa mengawasi Chelsea, karena kamar Chelsea tepat berada tak jauh dari tempat Alex duduk.
Chelsea ternyata dia belum tidur, dia saat ini sedang terkulai lemas di lantai dengan kedua lututnya yang di tekuk. Air mata terus mengalir dari kedua sudut matanya, kedua matanya tampak memerah karena terus menerus menangis. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, bagaimanapun Alex tidak akan pernah melepaskan dirinya semudah itu.
“Aku harus menyusun rencana, tapi apa?”
Chelsea mencoba untuk bangkit, meskipun harga dirinya telah hancur, tapi dia tetap tidak akan pernah menyerah, ada seseorang yang sedang menunggunya saat ini. Demi pria itu, dia bahkan rela melewati maut sekalipun.
“Aku harus memulihkan tenaga ku, tenaga ku terkuras untuk menangis. Aku harus kuat, aku akan membuat Alex membayar semua perbuatannya.”
Chelsea lalu melangkahkan kakinya menuju ranjang, dia lalu merebahkan tubuhnya di ranjang itu. Dia harus segera tidur, agar tenaga kembali pulih. Dia akan melawan Alex, tapi dia juga membutuhkan rencana yang matang.
***
Keesokan harinya, Alex membuka pintu kamar Chelsea, dia ingin tau keadaan wanita itu. Alex masuk ke dalam kamar itu, melihat Chelsea yang masih terlelap dalam tidurnya. Pria itu tidak ingin membangunkan wanita itu, dia memilih untuk keluar dari kamar itu, dan menutup kembali pintu itu.
Chelsea membuka kedua matanya, dia sebenarnya hanya berpura-pura tidur, “sekarang aku akan menjalankan rencanaku. Pertama-tama aku akan membuat Alex untuk kembali percaya sama aku, dengan begitu aku akan lebih mudah untuk mengendalikan dia.”
Setelah selesai membersihkan dirinya, Chelsea meminta Alex untuk membukakan pintu kamarnya, dan kali ini Alex menurutinya. Alex mengajak Chelsea untuk sarapan pagi, dan Chelsea mengikuti apa kemauan Alex.
“Sayang, mulai sekarang kita akan tinggal di rumah ini untuk selama-lamanya, kita akan membangun keluarga kecil kita disini, dengan anak-anak kita.” Terlihat senyuman merekah dari kedua sudut bibir Alex.
“Apa kamu benar-benar sudah berubah? Apa kamu bukan Alex yang dulu lagi?”
Alex menggenggam tangan Chelsea lalu menganggukkan kepalanya, “aku sudah berubah, beri aku satu kesempatan lagi untuk membahagiakan kamu,” pintanya.
“Aku tidak bisa langsung mempercayai ucapan kamu, aku perlu bukti.”
“Aku akan buktikan sama kamu, kalau aku sudah berubah. Apa yang bisa aku lakukan untuk membuktikan semua itu?”
Chelsea menatap Alex dengan tatapan tajamnya, “jangan pernah lagi memaksakan kehendakmu kepadaku, karena aku tidak suka itu.”
Alex menganggukkan kepalanya, “aku tidak akan pernah melakukan itu lagi. Malam itu aku terbawa emosi, jadi aku tidak bisa mengendalikan diriku, maafkan aku.”
“Setelah ini aku ingin kamu mengantarku pulang, keluargaku pasti sudah sangat mengkhawatirkan aku.”
Alex menggelengkan kepalanya, “kalau yang satu itu, aku tidak bisa. aku tidak mungkin melepaskan kamu, karena aku takut kamu akan pergi meninggalkan aku lagi.”
“Bukankah kamu ingin menikah denganku? Kalau kamu memperlakukan aku seperti ini, lalu apa yang akan keluargaku pikirkan tentang kamu? Mereka pasti tidak akan merestui pernikahan kita, karena kamu telah menyiksa putri mereka satu-satunya.”
Chelsea bisa melihat kebimbangan dari kedua mata Alex, dia yakin jika saat ini Alex tengah mempertimbangkan permintaannya.
“Jika aku membiarkan kamu pulang, apa kamu bisa menjamin kamu tidak akan pergi meninggalkan aku, kan?”
Chelsea terpaksa harus menganggukkan kepalanya, “aku tidak akan pergi kemana-mana, karena aku sudah tidak mempunyai tempat untuk bersembunyi.”
Alex menggenggam tangan Chelsea, “baiklah, aku akan memberikanmu waktu satu bulan untuk menenangkan diri. Setelah satu bulan itu habis, aku akan datang ke rumahmu untuk melamar kamu, jika perlu, aku akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada kedua orang tuamu,” ancamnya.
Chelsea mengangguk mengerti, hanya dengan menuruti permintaan Alex, dia akan bisa terlepas dari Alex, bahkan rela bersandiwara sampai sejauh ini. Setelah ini dia akan kembali menyusun rencana untuk menghancurkan kehidupan Alex.
“Habiskan dulu makananmu kamu, setelah itu aku akan mengantar kamu pulang ke rumah kamu.”
__ADS_1
~oOo~