Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Aku sangat membencimu!


__ADS_3

Zaki mengajak Chelsea dan Eric untuk mampir ke restoran. Sejak tadi siang dia belum makan apa-apa, perutnya sejak tadi sudah membuat gaduh dan minta segera untuk diisi. Zaki memulai memesan makanan untuk Chelsea dan juga Eric.


“Ini kakak yang traktir ya.”


“Kamu tenang saja, aku yang traktir.”


“Tumben kamu mau mentraktir aku sama Eric, apa kamu sedang merayakan sesuatu?” tanya Chelsea penasaran.


“Tidak ada, ya tidak apa-apa sekali-kali aku mentraktir bocah tengil itu.” Zaki menatap Eric yang tengah sibuk dengan benda pipih di tangannya, “sampai kapan dia akan tinggal di rumah kamu?” tanyanya kemudian.


“Sampai dia lulus kuliah.”


Zaki mengernyitkan dahinya, “maksudnya?” tanyanya bingung.


“Eric akan kuliah disini.”


Tak berselang lama makanan dan minuman yang mereka pesan sudah datang, pelayan restoran itu menata makanan dan minuman itu dengan rapi di atas meja, sebelum pamit undur diri. Zaki menghentikan perbincangan mereka dan mulai menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja.


Sesekali Zaki melirik ke arah Chelsea yang tengah menikmati makanannya, pria itu lalu mengambil ponselnya, dia mulai mengetikkan sesuatu dan mengirimnya ke nomor Chelsea.


Merasa ada getaran di saku celananya, Chelsea langsung menaruh sendok ke atas piring dan mengambil ponselnya, dia melihat pesan yang baru saja masuk. Dahi Chelsea mengernyit saat membaca pesan itu.


Aku tadi sebenarnya tau apa yang kamu bicarakan dengan Eric


Chelsea menatap Zaki yang saat ini sudah kembali menikmati makanannya, ‘apa-apaan dia, jadi tadi dia hanya pura-pura?’ gumamnya dalam hati.


Chelsea lalu mengetikkan balasan untuk Zaki


Jadi kamu membodohi aku! kenapa kamu tadi berpura-pura seperti itu?


Zaki membaca pesan balasan dari Chelsea, dia hanya tersenyum sambil melirik ke arah Chelsea yang saat ini masih betah menatapnya berlama-lama.


“Kalian sedang apa sih? Aku lihat sejak tadi kalian saling sibuk dengan ponsel kalian sendiri.” Eric melihat ada yang aneh dengan tingkah Zaki dan juga Chelsea, bukannya menghabiskan makanan mereka, mereka malah sibuk saling mengetik pesan.


“Kamu tidak perlu tau!” Chelsea lalu menghabiskan makanan yang hanya tinggal beberapa suap saja, “aku mau ke toilet sebentar.” Wanita itu lalu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya pergi.


Kini hanya tinggal Zaki dan Eric. Eric yang sudah selesai dengan makanannya, kini dia mulai menyeruput jus jeruk yang dia pesan tadi.


“Apa Kak Zaki tertarik dengan Kak Chelsea?” Eric meletakkan kembali jus jeruk itu ke atas meja, “aku tau kalau kakak tadi hanya berpura-pura tidak mengerti apa yang aku bicarakan dengan Kak Chelsea,” tebaknya.


Zaki menepiskan senyumannya, “lalu kamu mau apa?” tantang nya.

__ADS_1


Eric mengernyitkan dahinya, “maksud kakak?” tanyanya bingung.


“Kalau memang benar aku tadi hanya berpura-pura, kamu mau apa? lagian aku juga sudah memberitahu Chelsea kalau tadi aku hanya berpura-pura.”


“Kenapa kakak melakukan semua itu? Apa kakak memang ingin mendapat perhatian dari Kak Chelsea? Atau jangan-jangan selama ini cinta kakak bertepuk sebelah tangan?” sindir Eric sambil menyungingkan senyumannya.


“Kalau kamu tidak tau apa-apa jangan sok tau dan ikut campur urusan aku sama Chelsea!” Zaki berbicara dengan dingin.


Sudah lebih dari 20 menit, Chelsea tidak juga kembali. Zaki dan Eric merasa sangat khawatir, mereka akhirnya memutuskan untuk menyusul Chelsea ke toilet wanita. Saat melewati lorong, mereka mendengar suara Chelsea yang terdengar begitu ketakutan.


Zaki membulatkan kedua matanya saat melihat Chelsea sedang berada di kukungan tubuh Alex. Dengan cepat Zaki menarik tangan Alex dan melayangkan pukulan keras ke wajah pria itu. Eric memeluk Chelsea yang saat itu tengah menangis tersedu-sedu.


“Kakak tidak apa-apa?” tanya Eric cemas.


“Aku tidak apa-apa, aku hanya...” tangisan Chelsea mulai sesenggukkan, dia tidak bisa menceritakan semuanya kepada Eric. Selama ini Eric tidak mengetahui tentang masa lalunya.


Zaki mencengkram kerah kemeja Alex dengan kuat, “apa yang kamu lakukan sama Chelsea, kenapa dia sampai menangis seperti itu?” terlihat jelas kemarahan di kedua mata Zaki, cengkraman tangannya yang kuat semakin memperlihatkan akan kemarahannya.


“Tunggu...tunggu, kalian salah paham. Aku tadi hanya ingin meminta maaf pada Chelsea, aku mengakui semua kesalahan aku dulu. Aku ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan sama Chelsea,” jelas Alex.


“Aku tidak butuh pertanggung jawaban kamu, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!” teriak Chelsea di sela tangisannya.


“Selamanya aku tidak akan pernah memaafkan kamu, aku menyesal karena aku pernah mencintaimu dulu, pria brengsek! aku sangat membencimu, aku tidak ingin melihat kamu lagi!”


“Kamu dengar itu! Chelsea sangat membencimu, dia tidak ingin lagi melihat wajahmu, sebaiknya kamu segera enyah dari hadapan aku, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau kamu tidak akan bisa keluar dari restoran ini!” ancam Zaki dengan sorot mata yang tajam.


Chelsea memegang pergelangan tangan Zaki, “Zak, lepaskan dia, jangan kotori tangan kamu dengan darah kotornya.”


Zaki menghempaskan tubuh Alex, hingga pria itu jatuh tersungkur, “jika bukan karena Chelsea, aku pasti sudah menghajar kamu habis-habisan!”


“Aku mau pulang, kita pergi dari sini.” Chelsea menghapus air matanya, “soal kejadian ini, jangan sampai Kak Veon tau, aku mohon,” pintanya.


“Tapi, kakak kamu harus tau, jika pria brengsek ini masih mengganggumu!”


Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku tidak ingin menambah masalah Kak Veon, aku mohon.” Wanita itu meminta dengan mengatupkan kedua telapak tangannya.


Zaki menghela nafas dengan kasar, “kali ini aku akan diam, tapi jika dia!” menunjuk ke arah Alex yang terkulai di lantai, “mengganggu kamu lagi, maka aku akan menghabisinya!” ancamnya.


Eric mengajak Chelsea untuk pergi, sedangkan Zaki memberi peringatan kepada Alex. Tapi Alex sama sekali tidak takut dengan ancaman Zaki. Dia akan terus menemui wanita itu, karena selama ini dia terus mencari keberadaannya.


“Sayang, aku akan terus muncul di hadapan kamu. Aku sudah menyesali semuanya, sekarang aku sudah menyadari, betapa aku sangat mencintai kamu.” Alex menatap kepergian Chelsea yang sudah tidak terlihat lagi, “aku memang terlambat menyadari, tapi aku benar-benar mencintaimu!” teriaknya.

__ADS_1


***


 


Chelsea berlari menaiki tangga menuju kamarnya, dia bahkan tidak menghiraukan Kania yang sejak tadi memanggilnya.


“Zak, ada apa dengan Kania?” tanya Veon penasaran.


“Tadi ada seorang pria yang mengganggu Kak Chelsea,” sahut Eric.


“Apa? siapa pria itu?” tanya Kania penasaran.


“Bukan siapa-siapa, dia hanya orang iseng.” Zaki menatap Veon yang saat ini menatapnya dengan tatapan serius, “saya minta maaf, karena saya telah gagal menjaga Nona Chelsea,” ucapnya sambil menundukkan wajahnya.


Veon meminta Kania, Eca, dan Eric untuk pergi. Tapi Kania menolak, dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan adik iparnya itu. Eca menarik tangan Eric dan membawanya pergi dari tempat itu.


“Apa pria itu Alex?” Zaki menganggukkan kepalanya, “untuk apa dia mencari Chelsea lagi?” tanyanya kemudian.


“Yang saya dengar dari mulut Alex tadi, dia ingin meminta maaf sama Nona Chelsea, dia ingin bertanggung jawab dengan semua perbuatannya dulu.”


“Aku sudah menebak ini pasti akan terjadi, saat Chelsea kembali lagi kesini.”


Kania tidak mengerti dengan arah pembicaraan kedua pria itu, “sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?” tanyanya penasaran.


“Sayang, kamu tidak perlu tau, ingat kamu sedang hamil, aku tidak ingin kamu terlalu banyak berpikir. Lebih baik kamu menjaga kondisi tubuh kamu saja, aku tidak ingin sampai terjadi apa-apa dengan anak kita. Biar aku sama Zaki yang mengurus semuanya, kamu tenang saja.” Veon lalu mengecup punggung tangan Kania.


“Tuan, apa saya boleh menemui Nona Chelsea?” tanya Zaki memberanikan diri.


Veon menganggukkan kepalanya, dia justru merasa senang jika ada yang mau menemani Chelsea saat ini. Apalagi Veon sudah sangat mengenal Zaki, selain itu Zaki tau semua tentang Chelsea.


“Terima kasih.” Zaki lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Chelsea. Dia ingin sekali menghibur wanita itu, dan menghapus semua air mata yang telah dia keluarkan hanya untuk menangisi laki-laki brengsek itu.


Zaki mengetuk pintu kamar Chelsea, “apa aku boleh masuk?” tanyanya.


“Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan siapapun!”


“Chel, tolong izinkan aku untuk menjadi tempat bersandar kamu. Bukankah kita teman? Sesama teman itu harus saling membantu.”


Mendengar kata teman keluar dari mulut Zaki, membuat hati Chelsea semakin terasa sakit. Jadi selama ini Zaki benar-benar hanya menganggapnya teman, “jadi itu alasan kamu kenapa tadi kamu berpura-pura tidak mengerti tentang apa yang aku bicarakan dengan Eric. Berpura-pura tidak bisa berbahasa Inggris, dan itu hanya untuk membuat aku agar tidak malu di depan Eric yang sudah mengira kamu merasa cemburu. Bagaimana bisa kamu merasa cemburu, di saat hubungan kita hanya sebatas teman.” Wanita itu berucap dengan lirih, posisinya tubuhnya masih duduk sambil menekuk kedua lututnya, dia memeluk erat kedua lututnya itu.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2