
Zaki yang melihat Chelsea menangis di bangku taman di samping rumahnya, akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri wanita itu, “kenapa kamu menangis? Apa ada sesuatu yang terjadi?” pria itu lalu duduk di samping wanita itu.
Chelsea menghapus air matanya, dia lalu menggelengkan kepalanya, “aku tidak apa-apa. Kenapa kamu jam segini sudah pulang? Di mana Kak Veon? Apa dia sudah sangat merindukan istrinya, hingga membuatnya pulang secepat ini,” ledeknya.
“Jangan suka mengalihkan pembicaraan. Kenapa kamu menangis?” tanya Zaki lagi.
Chelsea menghela nafas panjang, dia lalu mendongakkan wajahnya menatap langit yang berwarna jingga, dan matahari mulai tenggelam dalam peraduan, “Zak, apa pendapat kamu tentang pernikahan?” tanyanya tanpa menatap lawan bicaranya.
“Kenapa kamu menanyakan itu?”
“Apakah pernikahan akan berjalan dengan lancar jika tidak ada cinta di dalamnya?”
Zaki mengernyitkan dahinya, dia tidak tahu apa yang wanita itu katakan. Tapi jika di dengar dari apa yang dia katakan, pernikahan tanpa cinta...apa jangan-jangan Chelsea sudah tau tentang pernikahan kakaknya yang hanyalah sandiwara? Pikirnya.
“Chel, apa maksud kamu, apa kamu sudah...”
Chelsea mengalihkan tatapannya, dia tatap kedua mata Zaki, “apa kamu mau menikah dengan wanita yang sama sekali tidak mencintai kamu?”
Zaki terlihat semakin bingung dengan arah pembicaraan wanita itu, “sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? Pernikahan tanpa cinta, apa maksudnya? Siapa yang kamu maksud? Atau jangan-jangan kamu yang...”
Chelsea mengangguk pelan, “aku akan menikah,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Kedua mata Zaki membulat dengan sempurna, “maksud kamu? Kamu benar-benar akan menikah?” tanyanya memastikan.
“Apa aku mempunyai pilihan lain, selain memintanya untuk menikahi aku?”
Zaki semakin terlihat kesal, karena setiap apa yang dia tanyakan selalu wanita itu jawab dengan pertanyaan, “katakan apa yang terjadi, kenapa kamu tidak mempunyai pilihan, siapa lelaki itu? Apa aku mengenalnya? Apa dia lelaki yang aku lihat waktu itu? Apa dia mengancam kamu? Apa laki-laki itu adalah Alex?”
__ADS_1
Chelsea membulatkan kedua matanya, apa Zaki sudah tau tentang Alex? Pikirnya. Tapi wanita itu tidak akan menyinggung soal Alex jika tebakkan benar, maka masalah akan semakin kacau. Chelsea memilih untuk mengalihkan pembicaraan soal Alex. Wanita itu seakan sudah tidak sanggup lagi menahan beban berat dalam hidupnya, “Zak, jika aku menceritakan semua ini sama kamu, apa kamu akan merahasiakan semua ini dari siapapun?”
Zaki mengangguk, “aku janji,” ucapnya.
“Tapi setelah kamu mendengar semua ini, aku mohon jangan pernah kamu menjauhi aku,” pinta Chelsea dengan kedua mata sendunya.
Zaki mengusap air mata yang berhasil lolos dari kedua sudut mata wanita itu dengan kedua ibu jarinya, ‘aku tidak akan menjauhi kamu, bagaimana aku bisa menjauhi kamu, jika hati ini masih milikmu.’
“Zak, kenapa kamu diam saja, apa kamu akan menjauhi aku? apa kamu akan membenciku?”
Zaki menggelengkan kepalanya, “itu tidak akan terjadi, aku janji,” ucapnya.
“Zak, selama ini aku menyembunyikan rahasia dari keluarga aku. apa kamu tau di malam aku tidak pulang ke rumah?” Zaki menganggukkan kepalanya, “pada malam itu aku melakukan kesalahan besar, kesalahan yang aku sesali seumur hidup aku,” imbuhnya.
“Maksud kamu?”
Zaki menatap lekat kedua mata wanita itu, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Selama ini dia mengenal Chelsea sebagai wanita baik-baik, dia tidak pernah menyentuh ataupun meminum minuman seperti itu. Tapi setelah mendengar apa yang wanita itu katakan, dia benar-benar sangat terkejut.
“Dan kamu tau apa yang terjadi di saat aku mabuk dan tidak sadarkan diri?” wanita itu meraup wajahnya dengan kasar, dia lalu mengepalkan kedua tangannya, “si brengsek itu...dengan teganya dia memanfaatkan ketidaksadaran aku. dia...dia...” Chelsea menghentikan ucapannya, air mata kini kembali mengalir membasahi kedua pipinya, “Zak, aku sudah kotor, aku kotor, Zak,” ucapnya sambil meremas baju bagian bawahnya.
Kedua mata Zaki membulat dengan sempurna, dia mulai mencerna setiap kata-kata yang wanita itu ucapkan. Kotor? Apa maksudnya Chelsea sudah...Zaki mencengkeram erat kedua lengan wanita itu, tapi tidak menyakitinya, “katakan siapa dia yang berani melakukan itu sama kamu, katakan!” Zaki meninggikan suaranya, rahangnya mengeras menatap kedua mata wanita itu yang terlihat sudah digenangi air mata.
Guratan tipis terlihat berbekas di dahi Zaki, menandakan jika pria itu kini sedang marah. Bagaimana bisa wanita yang sangat dicintainya di perlakukan seperti itu, meskipun dirinya sudah tak berhubungan dengan wanita itu, dia tetap merasa tidak terima.
“Katakan! Kenapa kamu diam?” tanyanya kembali.
“Zak, aku tidak bisa memberitahumu siapa dia, karena dia akan...dia akan...” suara Chelsea seakan tercekat di tenggorokan, dia tidak sanggup untuk mengatakan semuanya.
__ADS_1
Zaki mengguncang tubuh Chelsea saat wanita itu tak meneruskan kata-katanya, “apa kamu mencoba untuk melindungi pria brengsek itu!” serunya yang sudah tidak bisa menahan gejolak amarah dalam dirinya yang seakan membuat darahnya semakin mendidih dan siap meluap kapan saja.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku tidak bermaksud untuk melindunginya, tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakannya. Jika aku mengatakan semuanya, dia akan menyebar luaskan video yang dia rekam saat dia...” wanita itu tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Tapi Zaki tau apa yang ingin wanita itu katakan, pria itu melepaskan cengkraman tangannya, dia lalu menarik wanita ke dalam pelukannya, “jangan menikah dengannya, aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan pria brengsek itu!”
Chelsea melepaskan pelukannya, dia lalu menggelengkan kepalanya, “aku tidak bisa Zak. Aku harus menikah dengannya, dia lah yang telah merenggut kesucian aku, jadi aku akan menikah dengannya. Jika aku tidak menikah dengannya, siapa yang akan mau menikah dengan wanita kotor seperti ku? Siapa?” saat ini wajah wanita itu sudah berhamburan dengan air mata yang sejak tadi terus mengalir tiada henti, isakan tangisannya semakin terdengar jelas.
“Katakan, siapa yang mau menikah dengan wanita kotor sepertiku? Siapa?” tanyanya lagi di sela isak tangisnya yang semakin pecah. Tak ada jawaban dari Zaki, wanita itu beranjak dari duduknya, “aku menceritakan semua ini karena aku percaya sama kamu. Jika sampai kamu membocorkan rahasia aku sama siapapun itu, aku tidak akan pernah memaafkan kamu.”
Chelsea berlalu pergi meninggalkan Zaki yang masih diam seribu bahasa. Pria itu mengepalkan kedua tangannya, dia berjanji akan mencari tahu siapa lelaki yang sudah menghancurkan masa depan wanita yang sangat dia cintai selama ini. Walaupun dia harus mencari ke ujung dunia pun tetap akan dia cari sampai dapat.
“Aku akan melindungi kamu, aku tidak akan membiarkan si brengsek itu menyakiti kamu, tidak akan! Meskipun nyawaku taruhanya.”
Chelsea masuk ke dalam rumah dengan masih berderai air mata. Kania yang baru dari dapur tidak sengaja berpapasan dengan adik iparnya itu. Dahi Kania mengerut saat melihat adik iparnya itu menangis sesenggukan saat menaiki anak tangga. Kania akhirnya memutuskan untuk mengejar adik iparnya itu.
Kania mengetuk pintu kamar Chelsea, tapi setelah beberapa menit tidak ada sahutan dari dalam. Kania mencoba untuk membuka pintu itu, tapi ternyata pintu di kunci dari dalam, “apa yang harus aku lakukan? Apa aku perlu menghubungi Veon? Tapi apa yang harus aku katakan nanti?” wanita terlihat sangat bingung.
“Aku harus memberitahu dia, bagaimanapun dia itu adiknya.” Akhirnya Kania mengambil benda pipih dari saku celananya, dia lalu segera menghubungi Veon. Tak butuh waktu lama panggilan itu mulai tersambung, dia bisa mendengar sahutan dari benda pipih di tangannya, tapi sahutan itu terdengar sangat dingin.
“Kamu menelponku hanya untuk diam seperti ini! Apa kamu sama sekali tidak memiliki pekerjaan selain mengganggu pekerjaan aku!” Veon mulai meninggikan suaranya saat tidak ada jawaban dari Kania.
“Sepertinya aku salah menelpon seseorang, maaf sudah mengganggu pekerjaan kamu!” seru Kania yang tidak kalah dingin, dia lalu mematikan panggilan itu, “dasar! Aku menyesal telah menghubunginya. Terserah! Aku tidak mau ikut campur dengan urusan siapapun di rumah ini!” wanita itu lalu pergi dari depan pintu kamar Chelsea, “untuk apa aku ikut campur dengan urusan keluarga ini, apalagi setelah perlakukan Veon terhadapku yang begitu kasar dan dingin.”
Kania lebih memilih untuk kembali ke dalam kamarnya, karena dia tidak tau apa yang harus dia lakukan di rumah itu. Semua orang di dalam rumah itu memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Kania sebenarnya ingin sekali membantu merawat papa mertuanya, tapi dia takut, dia takut Veon akan berpikiran jika dirinya sedang mencoba mendekati keluarganya hanya untuk mencari perhatiannya.
~oOo~
__ADS_1