
Veon melihat Kania tengah duduk di sofa, sejak kejadian di kantor waktu itu, Kania tidak akan berbicara dengan Veon, sebelum pria itu mengajaknya bicara terlebih dulu. Tapi Veon sama sekali juga tidak mengajak Kania bicara, walaupun dalam keadaan mendesak sekalipun.
‘Sekarang kita lihat, siapa yang paling betah untuk terus diam seperti ini,’ gumam Kania dalam hati. Wanita itu tau jika sejak tadi Veon sedang sibuk mencari sesuatu, tapi pria itu tetap bersikukuh untuk tidak bertanya kepada Kania dimana letak barang yang sedang dia cari.
‘Ais...dimana wanita itu meletakkan dasi yang biasa aku pakai? Mana sudah siang gini.’ Veon terus menggerutu dalam hati sambil terus mencari dasi yang dia cari di dalam laci lemarinya.
Kania beranjak dari duduknya, dia lalu keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi, ‘memang enak aku cuekin, cari saja sampai gempor itu tangan,’ gumamnya dalam hati.
Wanita itu lalu melangkahkan kakinya menuju meja makan, “pagi Ma, Pa,” sapanya sambil menarik salah satu kursi meja makan lalu dia duduki.
“Pagi sayang, dimana suami kamu?” tanya Vera sambil mengambilkan makanan untuk suaminya.
“Em...Kak Veon sedang mencari sesuatu di kamar, Ma. Tapi Kania tidak tahu apa yang sedang dia cari.” Kania lalu mengambil makanan lalu dia letakkan di atas piring.
Veon berjalan menuju meja makan dengan muka ditekuk, dia lalu menarik salah satu kursi di samping Kania lalu dia duduki, pria itu bahkan tidak menyapa kedua orangtuanya.
“Sayang, kenapa pagi-pagi muka kamu sudah kusut kayak gitu?” tanya Vera penasaran.
“Mama tau dimana dasi yang biasa Veon pakai? Hari ini Veon ingin memakai itu untuk menghadiri rapat penting.” Veon melirik ke arah Kania yang saat ini tengah menahan tawanya, ‘lihatlah dia, apa dia sekarang sedang menertawakan aku!’ serunya dalam hati.
“Dasi yang mana sayang, Mama tidak melihatnya. Kenapa kamu tidak menanyakan sama istri kamu?” Vera menatap ke arah Kania, “sayang, kenapa kamu tidak membantu suami kamu untuk mencari dasi yang dia cari?” tanyanya kemudian.
“Kania kan tidak tau, Ma, apa yang Kak Veon cari. Kak Veon juga tidak memberi tahu Kania, mengajak Kania bicara pun juga tidak,” keluh Kania sambil tersenyum mengejek Veon.
Veon memberikan tatapan dingin ke arah Kania, sorot matanya penuh dengan amarah, ‘apa sekarang dia sedang mengadu ke Mama tentang sikap aku padanya! Dasar pengadu!’ umpatnya dalam hati.
Vera menghela nafas, “apa yang terjadi sama kalian, apa kalian sedang bertengkar?” tanyanya.
Dion tersenyum, “biarkan saja, Ma. Pertengkaran dalam rumah tangga itu kan biasa. Mereka akan semakin membutuhkan satu sama lain jika mereka terus bertengkar seperti itu, karena dalam rumah tangga tidak mungkin mereka bisa melakukan apa-apa sendiri. Seperti sekarang ini, mencari letak dasi saja Veon tidak tau, dia membutuhkan istrinya untuk membantunya mencari dasi itu,” ucapnya.
“Veon tidak butuh bantuan orang lain, selama ini Veon bisa melakukan apapun sendiri!” Veon lalu beranjak dari duduknya, “Veon mau berangkat sekarang,” pamitnya.
“Kamu tidak sarapan dulu, lalu dasi yang kamu cari?” tanya Vera.
“Veon bisa makan di kantor, Ma. Soal dasi, Veon bisa menyuruh Zaki untuk membelinya, jadi Veon tidak membutuhkan bantuan Kania!” seru Veon dengan nada meninggi. Pria itu lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Vera hendak beranjak dari duduknya tapi dilarang oleh suaminya, “biarkan dia pergi, sepertinya suasana hatinya sedang jelek. Kalau Mama terus memaksanya, dia akan semakin membangkang,” ucap Dion.
“Tapi, Pa, akhir-akhir ini Veon tidak sempat makan pagi. Mama takut dia nanti jatuh sakit,” ucap Vera cemas.
Dion menatap Kania, “biarkan istrinya yang mengurus Veon, sekarang Veon sudah bukan tanggung jawab kita lagi, tapi istrinya,” ucapnya.
Kania membulatkan kedua matanya, ‘kenapa harus aku?’ gerutunya dalam hati.
“Sayang, setelah selesai sarapan, kamu bawakan makanan untuk suami kamu ya, Mama takut suami kamu itu terlambat untuk makan,” pinta Vera.
Kania tidak mempunyai pilihan lain selain mengangguk kan kepalanya, jika dia mempunyai keberanian untuk menolak, maka secepat kilat dia akan menolaknya secara terang-terangan. Tapi dirinya hanyalah menantu di rumah itu, istri yang sama sekali tidak dianggap maupun diharapkan oleh suaminya.
Kania kini sedang berada di dalam mobil, dia diantarkan oleh supir keluarga Veon untuk ke kantor Veon. Seperti yang sudah dititahkan oleh sang mertua, Kania mau tidak mau harus mengantarkan bekal makan siang untuk Veon.
Sesampainya di kantor, Kania tidak langsung masuk ke ruangan Veon. Dia memilih menunggu di lobby kantor itu, menunggu seseorang yang sudah dia hubungi sebelum dirinya sampai di kantor itu.
Zaki melangkahkan kakinya mendekati Kania, “kenapa kamu menunggu disini? Kenapa tidak menunggu di ruangan suami kamu?” tanyanya setelah berdiri di depan Kania.
“Aku malas bertemu dengannya.” Kania mengambil paper bag yang dia letak kan di sampingnya, “lebih baik kamu yang memberikan ini sama bos kamu itu,” ucapnya sambil memberikan paper bag itu kepada Zaki.
Zaki tidak mau menerima paper bag itu, “aku tidak akan memberikan itu sama Tuan Veon, bukankah Nyonya Vera yang meminta kamu untuk memberikan itu kepada Tuan Veon, jadi harus kamu sendiri yang memberikannya,” ucapnya sambil melipat kedua lengannya di dada.
Zaki menggelengkan kepalanya, “Tuan Veon sedang meeting, mungkin setengah jam lagi dia selesai. Jadi lebih baik kamu menunggu di ruangannya, jangan mempermalukan diri kamu sendiri dengan menunggu di sini,” ucapnya.
Kania menatap ke sekeliling, banyak mata yang saat ini tengah menatap ke arah mereka. Kania lupa jika semua karyawan di kantor itu tahu jika dirinya adalah istri dari Bos mereka. Kania menghela nafas panjang, mau tidak mau dirinya harus menuruti apa kata Zaki.
“Bukankah kamu menganggap aku sebagai adik kamu, tapi kenapa kamu tidak mau membantuku?” Kania berjalan sambil terus mendengus kesal.
Zaki hanya menggelengkan kepalanya, ‘aku melakukan ini agar kamu dan Tuan Veon bisa dekat, dengan begitu kalian akan menyadari jika kalian saling membutuhkan satu sama lain,’ gumamnya dalam hati.
Zaki meninggalkan Kania di ruangan Veon, sedangkan dirinya kembali ke ruang meeting. Zaki meminta izin keluar sebentar kepada Veon, di saat meeting baru saja dimulai.
“Kenapa kamu lama sekali?” Veon memberikan berkas-berkas yang baru mereka bahas kepada Zaki, “kamu selesaikan semuanya,” perintahnya.
Zaki menganggukkan kepalanya, dia pun memulai meeting itu, menjelaskan apa saja yang perlu dibahas dalam meeting itu, dan apa saja yang harus dilakukan.
__ADS_1
Sedangkan Kania terlihat bingung harus melakukan apa di ruangan Veon yang terlihat sangat luas itu. Wanita itu mulai melihat-lihat apa saja yang berada di ruangan itu.
“Ternyata di ruangan ini ada kamarnya juga.” Kania lalu melangkah menuju rak buku yang letaknya tak jauh dari meja kerja Veon, “dia ternyata suka membaca buku juga. Koleksi bukunya banyak juga.”
Kania lalu duduk di kursi meja kerja Veon, tatapannya kini beralih ke arah bingkai foto yang berada di atas meja kerja Veon, “foto siapa ini?” wanita itu mengambil bingkai foto itu, “siapa wanita ini? Apa dia kekasihnya Veon?”
Entah mengapa saat melihat foto itu, hati Kania seakan tertusuk benda tajam, sakit...itu yang saat ini Kania rasakan, tapi wanita itu mencoba untuk mengelak, “aku tidak peduli siapa wanita ini, jika dia memang kekasih Veon, mungkin itu kesempatan aku untuk bisa lepas dari pria itu.” Wanita itu lalu kembali meletakkan bingkai foto itu ke tempat semula.
Setelah meeting selesai, Zaki memberi tahu Veon jika saat ini Kania sedang menunggu di ruangannya. Veon pun bergegas menuju ruangannya. Kania terkejut saat melihat Veon masuk ke dalam ruangan itu.
“Untuk apa kamu datang kesini?” Veon lupa jika dirinya tidak akan berbicara dengan Kania apapun situasinya.
Kania hanya diam, dia lalu beranjak dari duduknya. Wanita itu mengambil paper bag yang dia letak kan di atas meja. Dengan langkah santai, Kania berjalan mendekati Veon, dia lalu memberikan paper bag itu kepada Veon.
Veon mengepalkan kedua tangannya, ‘sialan! Apa dia akan terus diam seperti itu?’ umpatnya dalam hati.
Kania hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, tapi dengan cepat Veon menarik tangan Kania, hingga tubuh wanita itu kini berada dalam pelukan pria itu.
Kedua mata Kania membulat dengan sempurna, “apa yang kamu lakukan?” wanita itu lalu mendorong tubuh pria itu.
Veon mencengkeram erat lengan Kania, “aku tanya sama kamu, kenapa kamu datang ke kantor aku? bukankah aku sudah melarang kamu untuk datang ke sini lagi!” suaranya semakin meninggi.
“Lepas! Kamu menyakiti aku, sakit!” teriak Kania saat Veon semakin mencengkram erat lengan tangannya.
“Aku ke sini juga bukan karena kemauan aku, tapi aku tidak bisa menolak permintaan Mama kamu untuk mengantarkan bekal makan siang untuk kamu. Apa kamu tidak menyadari jika Mama kamu sangat mengkhawatirkan kamu!”
Veon lalu mengendorkan cengkraman tangannya, tapi dia tidak melepaskan Kania, “apa kamu yang memasak makanan itu?” tanyanya dengan suara yang mulai tenang.
Kania mengernyitkan dahinya, ‘memangnya kenapa kalau itu masakan aku, bukankah dia juga pernah memakan masakkan aku. atau jangan-jangan masakkan aku waktu itu tidak enak ya, jadi dia tidak suka kalau aku yang memasak makanan itu. Lebih baik aku bilang saja kalau itu masakan Mama, dengan begitu dia pasti akan memakannya,’ gumamnya dalam hati.
Veon menatap tajam ke arah kedua mata Kania, “kenapa kamu diam saja? Apa kamu sekarang berubah jadi bisu?” suaranya kini mulai kembali meninggi.
Kania menggelengkan kepalanya, “itu bukan masakan aku, tapi Mama kamu yang memasaknya, Mama kamu ingin kamu memakan makanan itu sampai habis. Jika kamu sayang sama Mama kamu, kamu seharusnya menghargai niat baik Mama kamu itu,” ucapnya.
‘Padahal aku berharap itu masakan dia, tapi ternyata bukan.’ Veon lalu melepaskan cengkraman tangannya, “katakan sama Mama, lain kali tidak usah mengirimi aku bekal makan siang seperti ini. Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini!” usirnya.
__ADS_1
‘Aku juga tidak ingin membuatkan kamu bekal makan siang lagi, apa lagi jika kamu sama sekali tidak bisa menghargai niat baik aku,’ gumam Kania dalam hati. Kania lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
~oOo~